Sosok itu masih tercengan melihat aku dan Hinata berada dalam posisi yang tumpang tindih. Matanya terbelalak dengan tidak percaya.
Kegelapan ruangan disertai hujan deras makin membuat suasana semakin mencekam.
Tak kusangka…
Neji Hyuuga….asisten ayahku…..
Berada disini!
Lampion Edo
By: Ozora Daichi
Waktu berpendar mengelilingi dunia
Dan Lampion yang menerangi kegelapan kota Edo menjadi saksi atas segalanya
Naruto©Masashi Kishimoto
Chapter 2
'AWAL'
"Aku sebal~~~!"Suara Naruto yang menyiratkan nada jengkel kembali terdengar ditelingaku. Tangannya tampak sibuk mengusap-usap kepalanya yang terbentur tembok semalam.
Aku tidak menhiraukan keluhan Naruto. Pikiranku terpacu pada kejadian tadi malam dan ekspresi Neji yang kulihat sekilas.
:::FlashBack:::
"Hinata-san….."
"…!Ini tidak seperti yang kau pikir..dia ini…!"
"Hinata-san…."suaranya yang memanggilku dengan nada yang dingin memmbuat tubuhku bergidik ngeri. Ia berjalan mendekati ku dan Naruto. Langkahnya terdengar berat. Naruto yang melihatnya saja sudah berkeringat dingin.
"Kenapa…."
"…."
"Kenapa kau sama kecebong aneh?"Lanjutnya sambil menendang Naruto agar menjauh dari Hinata. Tentu saja Naruto yang tiba-tiba mendapat serangan dari Neji terlempar sampai membentur dinding.
"….."
"Yahh…lain kali kau tidak boleh bersama kecebong itu ya…aku tidak suka anggota klan Hyuuga malah bermain kecebong…."Ungkapnya sambil membangkitkanku.
Aku menatap matanya. Wajahnya tidak terlalu jelas…tapi sorot mata itu…sorot mata yang menyiratkan amarah….
"Ada apa,Hinata-san..?"
Aku segera tersadar oleh lamunan. Mungkin aku salah lihat…
"Tidak ada….."Jawabku dengan singkat. Raut wajahnya berubah…ia menundukan kepalanya secara singkat berjalan keluar kamar.
"Oyasuminasai Hinata-san…."
…..
….
…
:::Flashback Off:::
Aku menghela nafas sekali lagi. Cuaca kota Edo diminggu siang ini panas. Tak ada awan di langit….sambil memainkan kipasku aku menoleh ke arah Naruto yang masih mengoceh soal kejadian tadi malam.
"Naruto!"
"hm?"
"Kau mengenal Neji-san?wajahmu tampak pucat ketika ia melihat kita…"Kataku dengan tatapan menyelidik. Naruto menoleh kearahku sesaat lalu mengalihkan pandangan.
"Ya….si..Neji itu asisten ayahku ….sekitar 2 tahun yang lalu ia membantu menangani kasus pembunuhan…."Jawabnya dengan santai.
"Apa?" Seruku dengan tidak percaya. Aku tidak tahu kalau Neji pernah menangani kasus…..
"Itu benar….setelah kasus itu selesai…ia pergi…kudengar ia pergi ke Tokyo…tak ada kabarnya setelah meninggalkan kediaman kami…karena itulah aku terkejut ketika melihatnya di sini…kupikir dia sudah mati…." Lanjutnya yang sukses membuatku melempar kipas dengan kasar kearahnya.
"Kau benar-benar tidak sopan..!"Sengutku dengan kesal.
Ia terdiam…mengusap-usap jidatnya yang kena lemparan kipas.
"Tapi…dia tidak akan membocorkan keberadaanku pada orang lain kan?"Tanya Naruto dengan nada khawatir.
"Kurasa tidak….tampaknya ia mengerti situasi masalah ini…jadi..tak mungkin ia membocorkan semudah itu…" Jawabku dengan yakin."Tapi…sebenarnya kenapa kau harus bersembunyi…kau dikejar-kejar seseorang..?"
Pertanyaanku yang terakhir membuat ia membeku. Terdiam seribu bahasa…tapi sorot matanya menyiratkan keterkejutan.
Angin semilir mengisi keheningan ruangan….Ia masih tidak membuka mulut…
"Baiklah…kalau tidak mau kasih tahu tak apa-apa…aku…."
Kata-kataku terhenti ketika melihatnya mendekat kearahku. Wajahnya yang tertimpa cahaya matahari membuatku terhanyut kedalamnya. Tapi aku segera mengalihkan pikiran itu jauh-jauh.
"Kau harus janji…agar tidak boleh membocorkannya ya..!"Katanya dengan pelan. Dengan cepat ia membisikan semuanya ditelingaku.
"Kau sudah menemukannya..?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh pria dengan tudung jaket hitam. Wajahnya terlihat samar- samar. Namun senyum penuh kelicikan terpampang jelas dihadapan mata.
"Maafkan aku..tuan….saya belum berhasil…."Jawab suara kecil dengan penuh ketakutan.
"Ck…..seperti yang kuduga….sulit ditangkap…."Desis pemuda bertudung hitam itu dengan menggigit jari-jarinya sendiri.
"Apa jangan-jangan dia sudah keluar dari kota Edo?"Tanyanya lagi dengan sorot mata membunuh.
" mungkin…!Ia pasti masih berada disini….!"Seru sang lawan bicara dengan tegas. Ia segera berlari menuju keluar ruangan. Tapi sebelum sampai kedepan pintu ia sudah dicegat oleh pemuda bertudung hitam itu.
"Istirahatlah….kali ini giliranku….biar aku yang mencarinya…."Katanya dengan tenang. Mendorong orang itu. Lalu pergi sendiri meninggalkan orang yang menjadi lawan bicaranya tadi.
"Jadi selama ini kau dikejar-kejar olehnya?"Tanyaku dengan tidak percaya. Naruto hanya mengangguk setuju.
"Ya… …si Sasuke,teman kecilku itu mengejar-ngejar diriku karena ia ingin menghentikanku dari pekejaan sebagai pencuri ini…yah..begitulah…"Jelasnya sambil mengipas-ngipas dirinya sendiri.
"Tentu saja..!Ia melakukan seperti itu..!Meski kau melakukan pencurian dengan alasan 'untuk membantu orang miskin'…!dia teman semasa kecilmu !dia hanya ingin agar kau tidak terlibat masalah..!"Sahutku sambil menatap matanya dalam-dalam.
Ia terdiam mendengar kata-kataku….terdiam membisu….
"Makanya….berhentilah jadi pencuri dan kembalilah pada keluargamu…kita lupakan masalah ini dan jalani hidup masing-masing…"Ucapku sambil berdiri, mengulurkan tanganku padanya.
"Enak saja! Aku tak akan berhenti. Aku harus membantu mereka…"Jawab Naruto sambil menepis uluran tanganku.
"Bodoh.!kau kan bisa melakukannya dengan bantuan keluargamu….caramu ini salah tahu! Seperti mencuci pakaian dengan Lumpur..!"Bentakku dengan kesal. Ia hanya menjulurkan lidah padaku.
"Bilang saja kau mau ikut…"Ledeknya yang membuatku memulai pertengkaran dengannya.
Hari-hari yang selalu kosong mulai terisi olehnya
Seolah ia adalah matahari dan aku adalah tanamannya
Jiwa yang rapuh terisi oleh kebaikannya.
Dan lampion yang padam itu terus menjadi saksi…..
"Hinata-sama…..!"
Suara salah seorang pelayan dari luar kamar membuatku dan Naruto terkejut. Tanpa aba-aba lagi…Naruto langsung nyungsep dalam lemari.
" apa?"tanyaku dengan sedikit gugup. Aku berusaha menjaga sikap.
"….anda dipanggil oleh Nyonya besar dan Neji-sama….mereka bilang ada yang harus disampaikan….."Ujar pelayan itu.
JDEEER….!
Bagaikan petir menyambarku. Aku terkejut bukan main….jangan-jangan Neji telah…..
"Nona Hinata?"Tanya pelayan itu sekali lagi.
Aku segera tersadar dan lalu membuka pintu geser itu.
"….aku akan segera kesana…" Jawabku dengan tegas. Pelayan itu membungkuk hormat padaku dan mengikutiku ke ruang keluarga.
"Hinata…"Desis Naruto dengan pelan. Lemari itu gelap. Naruto hanya terdiam memikirkan Hinata.
"Apa yang harus kulakukan?apa Neji benar-benar….."
Pemikiran Naruto segera terhenti ketika menyadari ada seseorang yang memasuki ruangan itu. Dengan was-was Naruto segera mengintipnya lewat lubang kunci lemari…
"…..!"
Pelayan
Melihat sosok itu membuat Naruto pucat pasi. Pelayan itu tampak sedang membereskan kamar hinata dan menutup jendela.
"semoga gak buka lemari-jangan buka lemari-jangan buka lemari….!"
Naruto menatap tegang pelayan itu dari lubang kuncinya…pikirannya jadi panik.
Bertahan disini…
Atau kabur dan membunuh pelayan itu
Bertahan?
Bunuh?
Bertahan?
Bunuh?
Bertahan?
Pelayan itu terdiam sesaat…lalu segera meninggalkan kamar itu…..
"Fuuuhh…"Hela Naruto dengan lega. Ia bersyukur Dewi Fortuna rupanya masih berpihak padanya…
"Jadi…..apa yang ingin dibicarakan…?"Tanya Hinata ketika sudah sampai di ruang keluarga….matanya menatap Neji dengan was-was.
"….nilaimu mulai merosot…"jelas ibu Hinata dengan jelas. Hinata lega karena yang dibicarakan bukan Naruto…
"Hinata?"
"Ah...…"Kataku sambil menunduk"saya akan berusaha lebih giat lagi.."
"Baguslah kalau begitu..kau harus bela…"
"Maaf mengganggu..."Suara pelayan itu memotong pembicaraan. Seisi ruangan terdiam.
"Ada apa…?" Tanya ibu Hinata dengan nyaring. Matanya menatap pintu dengan sedikit risih.
"Saya merasa ada orang asing di kamar Hinata-sama…..saya ingin memeriksanya…."Lanjut sang pelayan dengan nada penuh hormat.
Sejenak kulihat wajah ibuku. Raut wajahnya yang tidak bisa diperkirakan menguatkan perkiraanku bahwa ibu sedang dalam keadaan bimbang.
"Baiklah…."jawab ibu dengan kalem"Aku,Hinata,Neji juga akan ikut memeriksa…."
"Ekh…?"Teriakku dengan nyaring. Seketika Ibu dan Neji menjadi terdiam.
….
"Akh….boleh saja…ayo kita segera kesana…."Kataku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Jangan menyembunyikan sesuatu dari ibumu,Hinata…!"ucap Neji dengan ketus. Disambut anggukan ibu.
Aku hanya menundukan kepala..menahan malu atas apa yang kukatakan barusan…..
"…."ujarku sambil menunduk.
Ibu dan Neji tak berbicara lagi. Mereka berdua berjalan di depanku…aku ikut dibelakang mereka sambil terus memikirkan Naruto
Naruto…
To Be Continued
Author : CUT..!
Bagaimana minna-san?ancur?bagus?kurang memuaskan?
Terima kasih telah sudi meriview fic ini…^^
Review?
