WARNINGS: OOC, may contain crack pair(s), baka!Miku, cool!Kaito, kuudere!Kaito
Main pairing for this chapter: Shion Kaito X Hatsune Miku
Slight pairing(s) for this chapter: PikoMiki (Utatane Piko X Furukawa Miki)
"Uwaaah! Aku nggak boleh lesu begini!" Miku menggelengkan kepalanya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan tangan kanannya dengan erat. "Besok!" Mata turquoise-nya tampak berapi-api. "Besok adalah hari dimulainya perang!"
.
.
.
-Keesokan harinya, di depan gerbang VocaUtau Gakuen-
"Fufu," Miku tertawa kecil, merasa dirinya sudah menjadi pemenang. Apalagi, ia juga sudah membuat (membeli, lebih tepatnya) coklat untuk Mikuo, jadi ia tidak galau lagi. "Aku yang pertama! Sesuai namaku(1)!" serunya riang. "Miku, kau memang awesome!"
Saat ini, sekolah masih sepi. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Berbeda dengan di Indonesia, di Jepang, sekolah dimulai pukul delapan atau sembilan.
Sembari melangkahkan kakinya menuju gedung sekolah, Miku terus berpikir. "Sebaiknya, aku letakkan coklatnya di mana, ya?" gumamnya pelan sembari melihat-lihat ke sekelilingnya. "Kalau di kotak sepatunya… Itu, sih, sudah kuno! Jadul! Nggak zaman lagi!"
"… Kau kenapa, sih? Bicara sendiri seperti orang gila begitu."
"Kyaaa!?" Miku menjerit kaget saat menyadari ada seseorang yang berdiri di belakangnya saat ini. Ia menoleh ke belakangnya denga horor dan mendapati seseorang gadis berambut pirang panjang sedang menatapnya dengan aneh. "Li-Lily-chan!?"
"Nggak usah lebay begitu," Lily men-death glare Miku, kesal dengan ekspresi wajah Miku (yang seperti saat sedang melihat hantu) yang diberikan padanya. "Dan tolong berhenti menatapku seperti itu. Aku bukan hantu."
"A-ahaha! Ma-maaf, Lily-chan!" ujar Miku sambil tertawa garing, masih agak kaget. "Lily-chan datang pagi sekali, ya~" katanya lagi, berusaha menceriakan wajah Lily yang seram.
"Aku memang selalu datang jam segini, kok," respon Lily dengan wajah stoic-nya. "Daripada kau. Tumben-tumbennya, kau yang biasanya datang paling akhir, sekarang datang paling awal," dan dengan kalimat terakhir itu, gadis berambut pirang itu berjalan memasuki gedung sekolah, meninggalkan Miku yang kini sedang mengorek tanah di dekat pohon.
"Lily-chan kejam…" gumam Miku pelan. Ia bisa mati kalau mengatakan itu terang-terangan di depan Lily.
"Ohayō, Miku-chan!"
Miku langsung kembali bersemangat begitu mendengar suara yang selalu ceria itu. Dengan slow motion, ia berdiri dan kemudian berlari memeluk sahabatnya itu. "Iroha-chaaan!"
"Miku-chaaan!"
"Iroha-chaaaaan!"
"Miku-chaaaaaan!"
Layaknya bintang film Bollywood, setelah berlari-lari lebay dengan slow motion dan efek "cling-cling" yang menyilaukan mata, mereka langsung berpelukan dengan erat.
"… Baka…" gumam Miki dan Gumi (yang datang bersama Iroha) pelan, sweatdropped.
"Oh, ohayō, Miki-chan, Gumi-chan!" sapa Miku riang setelah melepaskan pelukannya dari Iroha.
"Ohayō," respon Miki dan Gumi berbarengan.
Kemudian, Miku lihat, wajah Miki merona merah. Lalu, gadis berambut oranye itu menghampirinya dan memanggilnya dengan suara pelan, "A-ano, Miku-senpai…" ia menundukkan kepalanya, seperti mau menyembunyikan wajahnya yang memerah, "P-Piko―U-Utatane-kun sudah datang, b-belum? A-aku mau memberi c-c-coklat untuk… nya…"
Mendengar itu, Gumi tersenyum lebar. "Eh? Kau naksir anak baru itu, Miki?" tanyanya, yang kemudian terjawab dengan wajah Miki yang semakin memerah. Gumi lalu tertawa riang. "Yatta! Tebakanku benar!" ia menoleh pada Miku dan menepuk pundaknya, "Miku-chan, jangan lupa janjinya, ya! Traktir aku carrot cake di Vocaloid Café! Ehehe!"
Miku menggembungkan kedua pipinya dengan kesal. Kesal karena kalah taruhan dengan Gumi, bukan karena Miki ― juniornya yang manis ― naksir seorang murid laki-laki yang bahkan lebih cantik dari kebanyakan perempuan. Beberapa hari sebelumnya, Miku bertaruh bahwa Miki akan memberi coklat pada Len, sementara Gumi bertaruh bahwa Miki akan memberi coklat pada Piko. Miku menatap Miki dengan kesal. "Miki-chan, kenapa nggak untuk Len saja? Aku jadi kalah, nih!"
Miki cuma bisa memiringkan kepalanya, bingung.
"Ah? Hari ini tanggal 14―Valentine, ya?" tanya Iroha tiba-tiba.
"Iya!" Gumi mengangguk. "Kau mau memberi apa ke siapa?" tanyanya antusias, bersiap "menjodohkan" temannya itu dengan gebetannya.
"Kemarin, kenapa Iroha-senpai nggak ikut membuat coklat di rumah Miku-senpai? Seru, lho!" timpal Miki riang.
"Aku lupa kalau hari ini Valentine," Iroha menjawab dengan polosnya, sukses membuat yang lainnya jawsdropped. "Sudahlah, toh, aku juga nggak terlalu tertarik dengan hal itu, kok! Ahaha!" tawanya dengan riang yang kemudian berjalan memasuki gedung sekolah.
"… I-Iroha-chan itu…" Miku hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.
.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul 7.50 pagi (yang berarti sepuluh menit lagi bel tanda dimulainya jam pelajaran akan berbunyi), tapi koridor sekolah masih ramai dipenuhi siswi yang berteriak girang dari tingkat SMP dan SMA. Ya, apa lagi kalau bukan karena hari Valentine ini?
Hari ini, seperti biasanya (namun lebih ramai), empat orang laki-laki tampan berjalan di koridor ― dan mereka selalu disambut dengan "sapaan selamat pagi" yang meriah dari para siswi. Empat orang laki-laki yang ternyata akrab dan berteman baik ini dikenal dengan nama Fantasy Airly (entah siapa yang menamainya begitu) ini terdiri dari seorang siswa SMP, dua orang siswa SMA, dan seorang guru.
"Kaito-samaaa!"
"Kyaaa! Len-kyuuun!"
"Gaku-senpaaai! Daisukiiii!"
"Kiyo-senseeei! Kyaaaaa!"
Jeritan-jeritan para siswi khas NaCl (norak, alay, centil, lebay) langsung menggema begitu idola sekolah mereka berjalan di koridor. Beberapa dari mereka melambaikan tangan, ada juga yang memotret para Fantasy Airly dengan kamera di telepon genggam mereka.
"Ohayō, minna!" Len menyapa riang dengan senyum khasnya yang manis sambil melambaikan tangannya ― dan sukses mendapat sambutan jeritan histeris dari para siswi yang kemudian langsung melambaikan tangan mereka dengan semakin menggebu-gebu.
"Huh! Menyebalkan!" Rin, yang ternyata berjalan di belakang adik kembarnya itu dan hanya dianggap angin lalu oleh para siswi, menggerutu kesal. Selalu saja begini.
"Ohayō gozaimasu, minna-san," sapa Kiyoteru dengan sebuah senyum kecil yang lembut tersungging di bibirnya. Siswi-siswi pun melting dibuatnya.
Sementara Gakupo cuma tersenyum kecil, tidak menyapa siswi-siswi itu, tapi sukses membuat mereka menjerit semakin histeris.
"Kyaaa! Len!"
"Kiyo-sensei makin ganteng, deeeh!"
"Gakun, aishiteruuu!"
"Uwaaa! Kaito-samaaaa! Lihat sini, dooong!"
"Kyaaa! Dasar Pangeran Es!"
Si Pangeran Es, Shion Kaito, terus berjalan dengan cuek dan dinginnya, tidak balas menyapa siswi-siswi itu maupun tersenyum sedikit pun. Tubuhnya tinggi tegap dengan tangan kiri dimasukkan ke dalam saku celana dan tangan kanan menenteng tas sekolahnya. Rambutnya berwarna biru, dengan mata berwarna sapphire blue yang tajam dan terus menatap lurus ke depan. Sehelai syal biru selalu mengalungi lehernya. Dengan warna biru dan syal itu, ditambah dengan sifat dinginnya, wajar saja ia dijuluki Pangeran Es.
"Uuukh―A-ano, permisi!"
Di tengah-tengah kerumunan para siswi, kalian bisa melihat seorang siswi berkuncir dua yang sedang melompat-lompat seperti kelinci. Ia yang mau melihat wajah sang Pangeran Es, dihalangi (terhalang) oleh para siswi yang sedang sibuk ber"kya kya kya" ria. "P-permisiiii…" sahutnya pelan, agak mendorong siswi-siswi lain agar ia bisa maju.
"Hatsune, hati-hati, dong! Jangan menginjak kakiku!" seru seorang siswi berkuncir side tail yang kesal karena Miku mengganggunya yang sedang ingin memfoto Len.
"Ma-maaf!" respon Miku dengan panik seraya menghindari diri dari para siswi yang saling mendorong. Ia berusaha menerobos kerumunan itu untuk dapat melihat Kaito-senpai-nya meski hanya sekilas. "P-permi―"
Duk!
"U-uwaaa!"
Brugh!
Entah karena ceroboh atau karena terlalu panik, tanpa sengaja, Miku tersandung kakinya sendiri dan terjatuh dengan wajah mendarat di lantai terlebih dahulu. Tepat di depan Kaito-senpai.
Para Fantasy Airly berhenti berjalan. Para siswi juga berhenti menjerit histeris. Suasana yang tadinya ramai dan heboh menjadi hening seketika. Saking heningnya, suara angin yang bertiup pun bisa terdengar.
Siiiiing
Para siswi menatap Miku dengan tatapan yang sangat merendahkannya dan seolah-olah mengatakan "Dasar bodoh!". Wajah Rin memucat saat melihat senior kesayangannya terjatuh dengan tidak elitnya, tidak jauh di depannya. Beda dengan Gumi, Miki, Iroha, dan Meiko yang wajahnya memerah menahan malu. Sementara Luka dan Lily, dengan cuek dan tidak berperasaannya, meninggalkan kerumunan itu.
"U-uukh…" Miku merintih pelan dengan wajah memerah, entah menahan malu, tangis, atau sakit karena terbentur lantai akibat terjatuh. "I-itaaai…" Ia mengelus-elus hidungnya. Matanya berkaca-kaca dan tampak setitik air mata di ujungnya.
"Bodohnya, bisa terjatuh di depan Kaito-sama!"
"Memalukan sekali!"
"Dasar payah!"
Komentar-komentar tajam yang menyakitkan hati itu membuat Miku semakin ingin menangis. Dengan susah payah, Miku berusaha berdiri, namun gagal karena ia kemudian terjatuh terduduk. Dibendungnya air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya, juga rasa sakit di hidungnya. Ia tidak ingin terlihat semakin memalukan dan menyedihkan di hadapan Kaito-senpai yang disukainya!
Tep
Tiba-tiba, merasa ada seseorang yang sedang berdiri (atau berlutut?) di hadapannya saat ini, Miku mendongakkan kepalanya.
Siswa berambut biru itu mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Miku berdiri. Matanya yang seindah batu safir menatapnya dengan lembut. "Daijōbu?"
"E-eeeeh!?" Melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini, wajah Miku memerah. Seketika itu juga, rasa sakitnya menghilang begitu saja.
Saat ini, di hadapan Miku, sedang berlutut seorang Shion Kaito sambil mengulurkan tangan kanannya. Wajah tampannya begitu dekat dengan wajah Miku (setidaknya, bagi gadis itu sendiri), membuat wajah Miku merona merah.
Dengan senyum lebar dan hati berbunga-bunga, Miku menerima uluran tangan sang pangeran dengan perlahan. "I-iya, terima kasih…"
"Aah… Hidup ini memang indah… Seperti dunia dongeng…"
Itulah yang Miku pikirkan. Yah, setidaknya sampai―
"Kyaaa! Kai-sama curaaang!"
―sampai salah satu siswi NaCl yang merupakan fans si Pangeran Es menjerit dengan lebaynya.
"Eh?" Miku dan Kaito menoleh pada kerumunan itu.
"Kaito-sama curang! Aku kan juga mau ditolong Kaito-sama!"
"Iya! Jangan cuma baik dengan perempuan itu saja, dong!"
Sedetik kemudian, tampak Kaito yang berlari dengan panik, disusul dengan siswi-siswi tadi ― juga Len, Kiyoteru, dan Gakupo. Dan di tempat terjatuhnya Miku tadi, tampak Miku yang sekarat diinjak-injak siswi-siswi tak berperasaan itu.
"M-Miku!" Meiko buru-buru menghampiri Miku yang terkapar tak berdaya dengan panik.
"Miku-chan!" Dengan panik, Gumi mengguncang-guncangkan tubuh Miku. "Jangan mati, Miku-chan!"
"U-uuh… Gu-Gumi… chan…" Miku berujar pelan dengan suara lemah. "A-aku―Uhuk!"
"Miku-senpai!" Air mata mulai mengalir membasahi pipi Miki dan Rin.
"Miku-chan, bertahanlah!" seru Iroha, menggenggam tanan kanan Miku dengan kedua tangannya.
"Ma-maaf…" ucap Miku dengan suara yang semakin memelan dan serak. "Aku―Tolong s-sampaikan pada Kuo-kun… k-kalau aku… menyayanginya…"
"Jangan bicara seperti itu, Miku!" seru Meiko, berusaha menyemangati Miku. "Kau―"
"Maaf…"
"Mikuuu!"
Dengan ucapan terakhir itu, Miku memejamkan kedua matanya untuk selama―
Bletak!
"Aduh!" Miku menjerit kesakitan. Ia pun bangkit dari kubur―Maksudnya, dari "mati suri"nya.
"Hmph, dasar lebay."
Dengan kesal, Miku mengelus-elus kepalanya dan menatap gadis berambut pink panjang yang barusan menjitaknya. "Luka-chaaan!"
"Salah sendiri," respon Luka dengan cueknya. "Ayo, Lily. Nanti belnya keburu bunyi. Kau juga, Meiko," ujarnya seraya menggandeng tangan Lily dan menoleh sebentar pada Meiko, lalu berjalan menuju kelasnya. Miku benar-benar tidak diacuhkannya.
"Ah, iya!" Meiko pun berdiri dan berlari-lari kecil menyusul Luka dan Lily. "Tungu aku!"
"Hiks… Jitakan Luka-chan terasa lebih sakit daripada benturan akibat terjatuh tadi…"
.
.
.
Saat pulang sekolah yang selalu dinantikan para siswa pun tiba. Tepat ketika bel terakhir tanda sekolah telah usai berbunyi, para siswa segera merapikan buku-buku mereka dan kemudian berhamburan keluar kelas. Oh, tidak lupa memberi salam pada wali kelas masing-masing.
Bukannya senang seperti biasanya, Miku malah tampak semakin lesu. Ia memang sudah memberikan coklat yang dibelinya pada Mikuo saat jam istirahat tadi, tapi bukan itu masalahnya. Masalah sebenarnya adalah karena Miku belum berhasil memberikan coklat yang dibuatnya sepenuh hati dengan perasaan cintanya pada Kaito.
"Miku… bego…" gumam Miku pelan, menidurkan kepalanya dengan lesu di atas meja. "Hiks… Coklatnyaaa… Maaf…"
"Miku-chan, ayo pulang~" ujar Gumi dan Iroha seraya menggoyang-goyangkan tubuh gadis berkuncir dua itu.
"Hiks…" Miku, dengan wajah madesunya, menoleh pada dua sahabat baiknya itu dan berkata, "Kalian pulang saja duluan. Aku nanti mau ke perpustakaan dulu…"
Gumi dan Iroha saling bertatapan. Mereka tahu, Miku sedang berbohong. Si rambut teal itu sebenarnya masih sangat sedih karena tidak bisa memberikan coklatnya kepada Kaito.
"… Baiklah," respon Gumi kemudian. "Jangan lama-lama, ya, Miku-chan."
"Kalau ada masalah, ceritakan saja pada kami, Miku-chan!" Iroha tersenyum kecil, berusaha meyakinkan Miku.
"… Ya…" Miku mengangguk pelan. Poninya yang mulai panjang menutupi matanya, sehingga ekspresi wajahnya tidak terlalu terlihat.
Gumi dan Iroha memandang Miku dengan cemas, sebelum akhirnya mereka keluar kelas, meninggalkan Miku sendirian.
Setelah Miku mendengar bunyi langkah kaki yang diikuti suara blam! yang menandakan bahwa Gumi dan Iroha telah berada di luar kelas, ia menghela napas berat. Lalu, ia mengeluarkan coklat berbentuk hati buatannya itu dan memandanginya dengan sedih. "Kaito-senpai…"
Miku sudah menyukai Kaito sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di VocaUtau Gakuen ini di bulan April tahun lalu, ketika ia masih merupakan murid baru. Pertemuan pertama mereka seperti dalam kisah romantis picisan (Miku yang datang terlambat di upacara penerimaan murid baru, berlari menuju sekolah dan tidak sengaja menabrak Kaito yang saat itu merupakan siswa kelas 2. Miku terjatuh, dan Kaito mengulurkan tangannya untuk menolongnya ― sama seperti kejadian tadi pagi), namun sangat berkesan bagi gadis itu. Seketika itu juga, Miku jatuh cinta padanya dan berniat untuk memberikan coklat kepadanya di hari Valentine tahun depan (hari ini). Gumi bahkan mengatakan bahwa mereka terlihat serasi.
Hari ini adalah hari Valentine pertama dan terakhir bagi Miku untuk memberikan coklat kepada Kaito. Dua bulan lagi, bulan April, Kaito akan lulus dan melanjutkan belajar ke kuliah, entah di mana, Miku tidak tahu. Karena itu, Miku juga ingin menyatakan perasaannya pada Kaito di hari ini juga.
Apa harus berakhir seperti ini? Setelah bersusah-payah membuat coklat ini (sampai dimarahi Luka berkali-kali), lalu pada akhirnya tidak berhasil memberikannya? Miku sudah mencoba untuk memberikan coklatnya pada Kaito saat jam istirahat, setelah ia memberikan coklat pada Mikuo, tapi kelas Kaito ramai dikerumuni para siswi. Miku jadi tidak bisa masuk meski ia sudah berusaha menerobos kerumunan itu ― ia malah terus terdorong keluar (siswi-siswi itu benar-benar ganas).
Miku tidak mau berakhir seperti ini… Di saat ia sudah mengumpulkan keberanian…
Sekali lagi, Miku menghela napas barat, kali ini lebih panjang. Sebuah senyum sedih tersungging di bibirnya.
Ah, sudahlah, ia tidak mau tahu lagi. Mungkin, ia memang tidak ditakdirkan untuk bersama dengan Kaito. Lagipula, masih ada perempuan lain yang jauh lebih cantik dan baik dan dewasa (seperti Luka-chan) yang lebih pantas untuk Kaito-senpai, bukan perempuan yang ceroboh dan kekanakan seperti dirinya.
Tek!
Dengan berat hati, Miku mematahkan sebagian kecil coklat rasa mint itu dan kemudian memakannya, masih dengan wajah muram. "Enak…" gumamnya pelan, menundukkan kepalanya. Meski ia sudah berusaha menahannya, air matanya yang sudah tak terbendung lagi, akhirnya tumpah membasahi pipinya. "U-uuh―Tapi… pahit…" Tubuhnya gemetar. Air matanya perlahan jatuh menetes membasahi roknya. "K-Kaito… senpai… Hiks…" Tek!, ia mematahkan sebagian lagi, lalu memakannya lagi. Tek!, lalu lagi, tek!, dan lagi.
Tek!
Miku berkedip bingung saat ia melihat ada sebuah tangan yang tiba-tiba ikut mematahkan coklatnya di hadapannya. Ia menghapus air matanya, lalu mendongakkan kepalanya, melihat siapa si pemilik tangan itu.
"Kau makan coklat, kok, nggak bagi-bagi, sih?" tanya siswa si pemilik tangan itu dengan nada bercanda seraya memasukkan coklat yang baru saja ia patahkan ke dalam mulutnya. "Kau yang tadi pagi, kan?"
Wajah Miku merona merah. "K-Kaito-senpai!? S-sejak kapan!?"
Kaito tersenyum lembut (ekspresi wajah yang jaraaaaaang sekali ia perlihatkan) pada Miku, sukses membuat jantungnya berdebar tak karuan. "Coklatnya… enak, lho."
Sebuah senyum mulai terbentuk di bibir mungil Miku. "B-benarkah?" Suaranya mulai terdengar ceria kembali.
Kaito mengangguk pelan, masih tersenyum. "Coklatnya… boleh untukku?" tanyanya kemudian, menunjuk selembar kertas bertuliskan To: Shion Kaito-senpai yang ditempel di kotak coklat berwarna putih itu.
Wajah Miku semakin memerah. "T-tentu saja!" jawabnya semangat, tersenyum lebar. "I-ini untuk―Aah! Tunggu!" Miku hendak memberikan coklatnya pada laki-laki itu, namun ia segera menarik kembali begitu ia menyadari sesuatu. "T-tidak―C-coklatnya―A-aku sudah memakan sebagian coklatnya! A-aku tidak bisa memberikan coklat yang sudah kumakan ini ke Kaito-senpai! L-lagipula, b-bentuknya sudah jadi jelek begini!"
Kaito tertawa kecil, membuat Miku kaget (karena Kaito selalu terlihat nyaris tidak pernah tertawa) dan bingung. "Bentuknya tidak penting," ucapnya. "Yang penting adalah perasaanmu saat membuat coklat ini untukku, bukan?"
Wajah Miku merona merah saat mendengar apa yang Kaito katakan itu.
"Jadi," Kaito tersenyum lembut, menatap Miku, "boleh untukku?"
Miku menundukkan kepalanya lagi, tapi Kaito bisa melihat daun telinga Miku yang memerah. Kemudian, dengan malu-malu, Miku memberikan coklat yang sedang dipegangnya itu kepada Kaito. "U-untuk… Kaito-senpai…"
Senyum Kaito tampak melebar. Ia menerima coklat itu sambil berkata, "Terima kasih," dan kembali melahapnya. Manis.
Miku mendongakkan kembali kepalanya, tersenyum manis masih dengan wajah yang merona merah. "Aku… Aku senang, Kaito-senpai mau memakan coklat buatanku…"
"Hn," respon Kaito, kembali ke sifat dinginnya, namun tampak sedikit rona merah yang samar di pipinya. "Aku mau coklat hanya darimu."
Miku tersentak kaget. "E-eh? A-apa maksud Kaito-senpai?"
Kaito membuka mulutnya, terdiam sebentar (seperti sedang mencari kata-kata yang tepat), lalu berujar, "Tahun depan," ia mengalihkan pandangannya dari Miku, tidak membiarkan perempuan itu melihat wajahnya yang memerah, "kau mau membuat coklat untukku lagi, tidak?"
"E-eh? T-tapi tahun depan kan―"
"Maksudkusebagaipacarku."
"… He?" Miku berkedip, memandang pemuda tampan itu dengan tidak percaya. Miku… tidak salah dengar, kan? "K-Kaito-senpai?" Ia mencoba menatap Kaito, tapi Kaito langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Miku mengikutinya, dan Kaito memalingkan wajahnya lagi (ia benar-benar tidak mau Miku melihat wajahnya yang sekarang sudah semerah rambut adik kembarnya itu). Miku terkikik geli melihat tingkah laku Kaito yang menurutnya manis itu. Ia tersenyum lebar dan menjawab dengan riang, dengan perasaan berdebar-debar yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata, "Ya! Tentu saja!"
Dalam hati, Miku berjanji, di hari Valentine tahun depan, ia akan membuat coklat yang lebih enak untuk Kaito-senpai. Di tahun berikutnya juga. Dan tahun berikutnya lagi. Dan terus.
-KaiMiku: Owari-
Met valentain dei! 8D *apaan tuh*
Jujur, saya sendiri mau ketawa melihat BaKaito jadi cool gitu =w= *dilempar es batu*
Sebenarnya, saya mau bikin pairing di chapter ini jadi "Baka Konbi" (Baka Combination), dengan BaKaito dan baka!Miku *dihajar kedua pihak*, tapi entah kenapa, jadi melenceng dari rencana awal dengan cool!Kaito begini DX *terus apa*
Chapter depan, LenRin, lho! 8D
Jangan ganti-ganti channel (?) kalau ingin tahu kisahnya, ya XD *apa sih* *kicked*
Keterangan
(1): Hatsu dari Hatsune artinya "pertama".
