Bunuh diri merupakan penyelesaian permanen dari masalah yang hanya sementara - Anonim

.

.

.

Teriakan murid-murid perempuan memenuhi ruangan kelas mereka, dan dalam seketika suasana riuh. Laki-laki yang berjiwa mulia refleks melindungi temannya yang lebih lemah - beberapa dari mereka yang kurang tulus sekaligus curi kesempatan memegang bokong para siswi - Namun kebanyakan dari cowok-cowok itu, tentu saja, pengecut dan memilih kabur menyelamatkan diri.

Alasan dari seluruh skenario tersebut tak lain tak bukan sebab Heiwajima Shizuo, seorang murid pembuat onar kelas dua Akademi Raijin, baru saja sukses melempar kursi menuju udara kosong di depan jendela; tanpa alasan jelas yang mendasarinya.

Kishitani Shinra, seorang murid problematik lain - bukan pembuat onar sih, tetapi tidak ada pula siapapun yang mau mencoba bersosialisasi dengan cowok aneh nan mesum itu akibat rumor bahwa ia seringkali tertangkap basah 'menikmati' dirinya sendiri di kamar mandi lantai tiga, dengan sanggahan sedang bersama 'seorang wanita yang terlampau sempurna untuk bisa kau lihat' - memucat di bawah ketiak Shizuo, membatu saat bongkahan kayu tadi melesat lima senti di samping telinganya.

Shizuo bagai orang kalap.

"Shi-Shizuo-kun...!" Shinra gelagapan menghentikan Shizuo yang hendak mengambil amunisi baru, dalam paniknya menampar pipi si pemuda pirang. "Kuasai dirimu!"

Begitu ditampar, Shizuo bukannya berhenti, malah kemudian melepas pegangan Shinra. "Minggir! Lelaki itu-"

"-dia tidak bisa...!"

"Tapi-" Shizuo mengerjap tersadar. Berkedip beberapa kali, lalu menoleh ke kanan-kiri. Berusaha menyesuaikan diri dengan bermacam teriakan heboh dan gerombolan murid yang berdesakan kabur.

Kelas sudah kosong, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan pemuda bernetra krimson di sana.

"Kau... dia..." tangan kanan Shizuo menggenggam kerah pakaian pemuda yang lebih pendek, bergetar hebat. "Yang barusan itu apaan, hah?! Jawab aku!" Tidak mungkin ia keliru. Jelas-jelas tadi sosok itu mendekatinya dengan pisau. Jelas-jelas tadi sosok itu mau mencelakainya.

"Shizuo-kun, lepaskan aku dulu. Aku butuh kau untuk tenang," di luar dugaan Shinra tidak terdengar marah, sebaliknya nada yang ia pakai begitu tenang, seperti gaya bicara orang tua pada anak berumur lima tahun. Meskipun niatnya menenangkan, alangkah menyesalnya Shinra nanti jika ia tahu perilakunya tersebut justru membuat Shizuo semakin naik darah.

Pegangan di bahu Shinra mengendur ragu-ragu, Shizuo perlahan melangkah mundur. "B-baik." Bagaimanapun juga, ia tidak membiarkan dirinya lengah. Tak sampai sepersekian detik kemudian ia memotong kasar, "jelaskan."

Lelaki berkacamata itu menghela napas sambil memejamkan mata. "Nah," ucapnya, lalu menatap Shizuo lekat. Tak seperti biasa, ekspresinya kali ini jauh lebih serius. "Apa yang kau lihat tadi, bukan karena aku mengerjaimu. Mereka selalu ada, hanya saja cuma beberapa orang yang bisa melihat mereka. Tapi kau tidak perlu takut."

"Takut?! Aku punya alasan yang sangat bagus untuk marah!" Shizuo melimpahkan segala murka dan panik tadi ketika melihat sebilah mata pisau semakin mendekati dada kanannya kepada Shinra, yang sebaliknya justru membalas dengan cengiran canggung. Sial. "Dia mau membunuhku!"

Shinra sesaat terlihat terkejut, seakan apa yang baru diutarakan Shizuo barusan di luar ekspektasinya (tentu ini bikin Shizuo tambah curiga) kemudian ekspresinya melembut. "Ah, Shizuo... Kau belum tahu, ya. Sebenarnya-"

"HEIWAJIMA!"

Teriakan yang tidak kalah kencang dibandingkan keributan di kelas tadi terdengar mengaum dari arah pintu. Di sana, tiba-tiba sudah berdiri salah seorang guru mereka yang porsi tubuhnya bahkan lebih besar daripada Shizuo sendiri. Wajahnya memerah layaknya api. Dadanya naik-turun disertai hidung yang kembang-kempis.

Sesaat Shizuo dan Shinra terlonjak kaget bersamaan, lalu si pemuda pirang menguasai diri untuk menoleh malas-malasan kepada pemanggilnya tadi. "Ya... Sensei?"

Sang guru membuat gestur tajam yang mengisyaratkan anak didiknya tersebut untuk pergi bersamanya. Ketika berbicara, suaranya masih bergaung lantang seperti sebelumnya. "Ikut saya! Sekarang."

Masih setengah-hati pula, Shizuo yang enggan segera berputar dan mulai melangkahkan kakinya menuruti suruhan guru tersebut, tetapi tidak sebelum ia merasakan sikutannya pada pinggang yang diikuti bisikan cepat Shinra, "pergilah. Kuberi tahu nanti."

Tanpa diminta Shinra pun sudah pasti Shizuo akan mematuhi perintah sensei tadi, tetapi ia belum memercayai lelaki berkacamata itu. Lagipula, bisa dibilang 'kan ini pertama kalinya Shizuo berinteraksi sungguhan dengan Shinra; dan sudah berakhir buruk begini. Masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa Shinra tiba-tiba tertarik kepada Shizuo? Pesan apa yang Shinra maksud? Dan yang terpenting... siapa pemuda berambut gelap itu?

Shizuo tidak sudi membiarkan berbagai masalah ini lewat terlupakan begitu saja.

"Jangan coba-coba kabur."

Sensei berdeham keras di belakang punggung mereka. Nadanya mengancam. "Heiwajima?"

Satu desahan. Shinra berdecak pelan. "Temui aku di atap nanti. Aku janji."

Bahkan setelah ia diseret pergi menuju ruang guru untuk diinterogasi dan dihukum (atas kesalahan yang bukan, yah, sepenuhnya miliknya) benak Shizuo masih digenangi berbagai teka-teki merindu solusi.

Hampir sepenuhnya wajar dan sangat bisa dimaklumi bahwa menurut susunan prioritas Shizuo, hal pertama ia lakukan ketika pada akhirnya bertemu Shinra di atap, adalah mengecek keberadaan apapun yang menyerupai sosok pemuda berambut gelap - terutama sosok yang mirip dengan yang ia temui siang tadi.

"Shizuo-kun," Shinra berceletuk, membuyarkan observasi Shizuo. Laki-laki berkacamata itu melambaikan tangan geli di depan batang hidungnya, "ada apa? Jangan melamun begitu, seram tahu."

Shizuo tak acuh. Yang seram itu kau, ia berpesan lewat satu kerlingan mengancam.

Melirik kanan-kiri untuk memastikan bahwa mereka tidak dikuntit siapapun, apapun, kecuali hembusan semilir angin yang bertiup berhiaskan jingganya matahari. Hanya ia dan Shinra makhluk hidup yang terlihat berdiri di atap Akademi Raijin sore itu. Shizuo memejamkan mata pasrah, lalu kembali mengeluh.

"Diam saja deh," ia menggertak sambil meregangkan lengannya yang pegal sehabis menjalani dua jam hukuman beserta interogasi di ruang guru (atas kesalahan yang, sekali lagi, bukan sepenuhnya miliknya). Fokus Shizuo beralih selagi bertanya dengan gaya menantang, sebisa mungkin tidak tampak takut, "kenapa cowok psikopat itu tidak terlihat bersamamu, eh?"

Namun Shinra tidak langsung merespon. Sebaliknya, ia ganti berbicara soal hal lain, menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung dan mencondongkan tubuh sedikit ke depan sambil bersikap demikian, "ah, Izaya-kun, sekarang aku mengerti. Jaga perilakumu, dong... Aku sudah susah-susah mencari Shizuo-kun untukmu."

Shizuo terpaku sejenak, keheranan, sebelum pada akhirnya ia sadar bahwa Shinra tidak berbicara kepadanya, melainkan kepada 'sesuatu' di balik punggungnya.

"K-kau..."

"Ah benar, aku hampir lupa. Maaf, Shizuo-kun! Ya... kau benar kok. Aku ini bisa melihat apa yang tidak terlihat bagi kebanyakan orang. Aku bisa melihat orang-orang yang sudah mati," Shinra menjelaskan, seratus persen kasual, sampai-sampai Shizuo dirasuki nafsu untuk menampar wajah tenangnya itu. "Ah, tapi itu 'kan enggak penting! Yang jelas sekarang, kau, dan Izaya-kun-"

"Kau gila."

Shinra mendadak berhenti berceloteh. "Sori?"

Shizuo menggelengkan kepala pasrah, lalu menutup mata dengan telapak tangan. "Aku bilang, kau gila," sepotong tawa lemah terlepas darinya, "mungkin aku juga sudah gila karena mau mendengarkanmu."

"Lho, bukankah Shizuo-kun juga sudah merasakan kemampuan ini tadi siang?" Shinra mengerjap, bingung sungguhan, kemudian tiba-tiba tertawa kecil. "Ah... Izaya menyuruhku memegang tanganmu lagi supaya kau percaya."

Jadi menurutnya kemampuannya ini bisa ditransfer lewat sentuhan?

"Izaya-kun bilang-"

"Izaya, Izaya, Izaya, dia cuma fragmen imajinasi dari otakmu yang sinting itu, Kishitani!"

Shinra hanya terdiam selagi tantrum Shizuo mereda. Sedikit penyesalan. Tangan lelaki pirang itu mengepal, ia mendecih lalu baru akan berbalik pergi ketika suara Shinra menghentikan langkahnya.

"Izaya-kun bilang," kali ini suara Shinra lebih pelan, nyaris seperti bisikan, "kau monster tak berhati yang berani memanggilku sinting, tapi sebenarnya cuma seorang pengecut."

Shizuo naik darah. Secepat kilat ia berputar dan meremas erat pergelangan kurus cowok berkacamata di hadapannya yang lantas terkejut.

Dan,

Tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada sosok laki-laki bermata krimson maupun pantulan cahaya pada belati.

"Mana dia?!" Shizuo menggeram, "di mana Izaya?!"

"Halo, Shizu-chan. Aku senang kau sudah tahu namaku."

Shizuo mengerahkan segala harga dirinya untuk melawan refleks melompat kaget saat mendengar sebuah suara asing berbicara. Dari sudut matanya, ia menangkap seorang laki-laki seumuran mereka dan memakai seragam aneh, duduk dengan santainya di pinggir railing atap. Seperti tidak takut mati.

Pemuda itu memainkan belatinya dari posisi riskan tersebut, menyeringai. "Aku heran, kenapa orang yang sebegitu inginnya bunuh diri, masih punya rasa takut terhadap pisau ini?"