Catatan Penulis:
Pertama-tama, terimakasih banyak untuk Ellechi – komentator pertama cerita ini! Dan terimakasih banyak juga untuk Mena, kurok1n, dan Fhyka RanGranger untuk komentar-komentar selanjutnya pada bab lalu.
Emm, Beberapa peringatan:
1. Rating cerita ini mungkin akan menanjak, dengan alasan kekerasan dan kematian anak-anak. Tergantung kemana arah cerita ini menggelinding . . . .
2. Cerita ini hanya akan di-update ketika aku punya cukup waktu, di luar tugas-tugasku sebagai guru; jadi tidak akan ada ritme update tertentu, seperti yang kubuktikan hari ini.
3. Spoiler untuk seluruh buku Harry Potter, Lord of the Rings, and Silmarillion (paling tidak), mulai bab ini.
4. Peringatan ini tidak akan diulangi, jadi kalian tidak akan melihat catatan penulis sepanjang ini lagi. :nyengir:
Dan dari bab ini sampai yang terakhir (sebelum Epilog), akan ada dua bagian cerita: yang pertama adalah Dunia Sihir (terutama Hogwarts) dan yang kedua adalah apa yang terjadi pada Harry setelah ia menghilang. Pemisah kedua bagian ini adalah satu tanda bintang (*). Sayangnya, hal ini tidak akan banyak menambah jumlah kata per-babnya. :nyengir malu: Dan cerita ini mungkin akan lebih pendek dari yang anda sekalian duga (Maaf!)
Semoga bab yang ini tidak lebih buruk daripada yang sebelumnya! (Kalau ada ide, kritik, dll, silakan klik tombol Review di bawah sana . . . . Trims.)
Selamat menikmati!
Rey
Ringkasan Bab: Albus Dumbledore mulai keteteran dan menyesal. Di sisi lain, tiga tahun lalu, Harry terselamatkan.
Jumlah Kata di Dalam Bab Ini (menurut MS Word): 1,151
Yang Tak Terlihat
Bab 1: Yang Tak Terduga
Albus Dumbledore duduk di kursinya yang biasa di Aula Besar, berusaha menampilkan wajah ceria demi para staf dan muridnya. Namun sayang, hal ini tidak sepenuhnya membuahkan efek yang ia inginkan.
Hari ini Harry Potter, yang digelari "penyelamat" oleh Dunia Sihir, seharusnya ada di sini, menghadiri hari pertamanya sebagai pelajar penyihir di Sekolah Sihir Hogwarts. Seharusnya, karena tiga tahun lalu ia menghilang tanpa jejak, dan tidak satupun upaya berbagai macam orang (dengan berbagai macam motif) dapat melacak keberadaannya. Alat-alat pendeteksi di kantor Albus sendiri, yang digunakannya untuk memonitor Privet Drive Nomor Empat dan Harry Potter, berhenti bekerja pada saat itu juga. (Sebagian malah pecah atau menghilang sama sekali.) Mau tak mau, setelah tiga tahun tanpa hasil, Kementerian Sihir menyatakan Harry Potter telah meninggal; dan pengumuman itu baru disebarkan lewat Wizarding Wireless kemarin. Karena itulah hari ini, tanggal 1 September tiga tahun setelah Harry Potter hilang, suasana di Aula Besar lebih nampak dan terasa seperti pemakaman daripada acara penyambutan murid-murid lama dan seleksi murid-murid baru.
Albus tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika Kementerian Sihir tahu dimana Harry Potter ditempatkan, karena perisai pertahanan yang ditempatkannya di sana runtuh seiring menghilangnya Harry, para Auror dan Unspeakable berdatangan ke Privet Drive Nomor Empat, menanyai Vernon, Petunia dan Dudley Dursley tentang kerabat penyihir mereka yang tinggal di sana. Dan hasilnya jauh dari baik bagi reputasi Albus: Harry Potter tumbuh dan hidup terlantar di rumah kerabatnya, di ambang kekurangan gizi dan jelas kekurangan kasih sayang. Setelahnya, tidak butuh waktu lama bagi berita tak menyenangkan ini untuk masuk Daily Prophet, dan orang-orang berbondong-bondong mengirimkan Howler kepada Albus tentangnya. Hanya dua hari kemudian, Albus sendiri dicopot dari kedudukan-kedudukannya di ICF dan Wizengamot, dan sekarang ia hanya Kepala Sekolah Hogwarts biasa. Sulit sekali baginya untuk menghadapi hari ini, dengan segala yang telah terjadi; apalagi sekarang muncul tanda-tanda bahwa Tom Riddle, yang sekarang menamakan dirinya sendiri Lord Voldemort, kembali beraktivitas . . . . Dunia Sihir membutuhkan Harry Potter. Albus Dumbledore, terutama, membutuhkan anak laki-laki tersebut. Rencana-rencananya akan hancur lebur tanpa Harry Potter, dan ia tidak bisa memimpin perlawanan terhadap Tom Riddle sendirian.
Pandangannya menggelincir dari meja Slytherin ke Hufflepuff ke Ravenclaw, dan berakhir di meja Griffindor. Ronald Weasley, anak laki-laki termuda keluarga Weasley, duduk dengan canggung di antara kedua kakak kembarnya, Frederic dan George Weasley. Di seberangnya, murid-murid tahun pertama Griffindor yang lain duduk dengan diam. Seharusnya ada lima, bukan empat murid laki-laki tahun pertama yang tidur di Menara Griffindor malam ini . . . . Dan Hermione Granger yang malang, seorang murid kelahiran Muggle, duduk di ujung meja karena diusir teman-teman seasramanya; ia tidak tahu sebelumnya bahwa Harry Potter telah dinyatakan meninggal oleh Kementerian Sihir kemarin, dan keceplosan mengatakan bahwa ia ingin sekali bertemu dengan sang penyelamat Dunia Sihir itu sendiri. (Bagaimana ia bisa tahu? Ah, tapi itulah Dunia Sihir. Albus tidak bisa mengubahnya; tidak mungkin lagi, sekarang.)
Mata di balik kacamata bulan separuhnya kemudian merayap naik ke langit-langit sihir yang menaungi Aula Besar. Tidak, ia tidak berani menatap rekan-rekan kerjanya sendiri; tidak hari ini, dan mungkin tidak sampai ia berhasil menemukan Harry dan mengetahui apakah anak laki-laki malang itu masih hidup atau tidak. Ia terutama tidak bisa menatap lurus mata Severus Snape, yang sepuluh tahun lalu ia janjikan keselamatan Lily Evans dan anak tunggalnya. (Sekarang Albus gagal juga menyelamatkan anak Lily, setelah pengorbanan besar ibunya, yang juga merupakan harapan terakhir bagi Severus untuk melihat kembali sebagian dari Lily di alam nyata.) Sisanya . . . . Tatapan tajam mereka membor sisi-sisi kepala dan lehernya, memberitahunya seberapa kecewa dan marahnya mereka, tanpa diminta. Namun yang benar-benar memiliki hak untuk mengatakan, "Sudah kubilang," kepadanya adalah Minerva McGonagall, yang sepuluh tahun lalu bersikeras bahwa tidak baik bagi Harry Potter untuk ditempatkan di rumah kerabatnya.
Kalau Albus berani menggunakan Pemutar Waktu untuk memperbaiki masa lalu, ia akan melakukannya. Sayang, hari ini ia betul-betul merasa tidak pantas menjadi seorang Griffindor.
Hal pertama yang Harry tangkap begitu ia sadar kembali adalah aroma lezat beragam jenis makanan, dan juga klentingan alat-alat makan yang menyertai obrolan santai bervolume rendah. Dari arah kesibukan itu, dan juga dari langit-langit rendah bertirai yang menaunginya sekarang, Harry menduga ia sedang terbaring meringkuk di bawah sebuah meja saji. – Tapi dimana? Dan bagaimana ia bisa sampai ke sini? Rumah Paman Vernon tidak bisa memuat orang sebanyak ini, ditambah lagi dengan meja-meja dan benda-benda lain. Lalu bagaimana ia bisa berada di sini, kalau begitu? Apakah Bibi Petunia sudah muak dengannya dan membuangnya di suatu tempat, seperti yang sering bibinya itu ancamkan? Tapi, kalau begitu, seharusnya Harry berada di pinggir jalan atau di depan pintu sebuah panti asuhan sekarang, kan?
Mungkin ia sedang berada di dalam sebuah panti asuhan sekarang?
Hmm, rasanya tidak. Udara yang ia hirup terasa sangat segar, dan bahkan sedikit asin. (Yah, adilnya sih, dimanapun juga akan terasa lebih segar daripada lemarinya, yang sudah sebulan ini tak pernah dianginkan.)
Makanan . . . . Minuman . . . . Seseorang baru saja datang ke meja tempatnya bersembunyi, dan menuangkan apa yang kedengarannya seperti minuman ke dalam sebuah gelas kecil. Harry hanya bisa melihat sepasang kaki bersandal saja, dari bawah sini. – Bisakah ia melompat keluar dan meraih teko air di atas kepalanya dalam waktu beberapa detik? Mungkin ada makanan juga di atas sana . . . .
Ia bangkit duduk, merenggangkan otot-otot kakunya dengan hati-hati sekali. Orang yang tadi menghampiri mejanya sudah pergi. Waktunya beraksi—
"Iy!" – Sepasang tangan kurus namun kuat meraihnya dari sisi lain meja, dan menariknya masuk ke dalam pelukan seorang laki-laki, yang tertawa kecil melihat ketakutannya. Orang itu berpakaian aneh, seperti taplak-taplak meja yang dijahit menjadi satu; namun perhatian Harry tertuju hanya pada wajah laki-laki tersebut. Orang itu bercahaya! Dan bukan karena penerangan lampu . . . . Orang itu seakan-akan lampu yang ditutupi selembar tudung tipis; tapi tidak ada tudung di mata biru pucatnya, dan mata Harry sakit menatapnya. Tapi ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari orang itu . . . yang kaget melihatnya seolah tidak berharap menemukan seorang bocah laki-laki kerempeng di bawah meja.
Sesaat lewat, dan orang itu masih menatapnya lurus-lurus. Harry tidak bisa menahannya lagi; ia merengek dan mencoba menggulung diri sebagai bentuk pertahanannya yang biasa. Namun, yang membuatnya terlalu kaget untuk melawan, laki-laki itu malah merebahkan kepala Harry, dengan lembut dan hati-hati sekali, di pundak bertaplak-mejanya. Orang itu kemudian bangkit berdiri dari lantai di samping meja, dengan gemulai seakan seorang penari balet di televisi, dan berjalan pergi dengan Harry terkulai gemetaran di pundaknya. Dengung percakapan dan klentingan alat-alat makan berhenti seketika, semua mata di tempat itu tertuju pada Harry, dan Harry sendiri berharap ia bisa menghilang lagi sekarang.
Laki-laki yang menggendongnya membuainya pelan sambil berjalan, membelai rambut acak-acakannya, dan menggumamkan sebuah untaian nada lembut manis yang kedengaran seperti lagu penidur. Harry tidak perduli bahwa bingkai reyot kacamatanya menusuk sisi wajahnya dan pundak si penggendong; ia tidak lagi perduli kalau orang itu membawanya keluar dari tempat ramai tadi, ke dalam sebuah ruangan yang terasa seperti lorong menuju area tempat tinggal . . . karena ia tertidur lelap dengan cepat, tanpa mimpi.
