Seorang gadis kecil bermata hijau seperti daun dan memiliki warna rambut seperti permen kapas, menatap malas anak-anak seusianya yang sedang asik bermain kembang api, mereka terlihat senang tapi tidak dengannya.

Seorang anak laki-laki yang seusia dengannya datang menghampiri dan duduk disampingnya.

"Kau terlihat sedih, ada apa?" tanya anak laki-laki berambut raven itu.

"Aku selalu main kembang api bersama abi dan ummi, sekarang tidak." jawabnya sendu.

"Jangan sedih, meski saat ini kau tidak lagi bersama abi dan ummi mu, kan ada aku dan anak-anak yang lain. Dan oh ya sepertinya kamu anak baru, namaku Sasuke." timpal anak laki-laki itu dengan ramah.

"Sakura Haruno." Sakura memperkenalkan dirinya.

Sasuke tersenyum sambil menatap ribuan bintang yang menghiasi langit Konoha malam ini sambil menikmati takbir yang terus bersahutan dari satu masjid ke masjid yang lain membuat hatinya terasa tenang. "Ini malam takbiran, kau harusnya merasa senang. Aku tahu kamu sedih tapi kamu tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Kamu harus semangat untuk hari esok. Kalau kau rindu, cukup kau do'akan mereka agar mereka bahagia selalu" ujar Sasuke.

Sakura hanya mampu terdiam memandangi wajah Sasuke yang terlihat damai. "Iya." Sakura ikut tersenyum. Wajah Sasuke merona melihat senyuman Sakura yang begitu manis.

"Kenapa wajah mu merah Sasuke?" Sasuke dengan cepat membuang muka karena malu. "Ti-tidak." Sakura tertawa geli membuat Sasuke kembali melihat kearah Sakura dengan tatapan bingung. "Sasuke-kun lucu." ucap Sakura senang.

"Sakura?" panggil Sasuke.

"Hm?" sahut Sakura.

"Mau ikut dengan ku? Ikut pawai." ujar Sasuke.

"Emmm mau." Sakura mengangguk antusias. Setelah Sakura mengangguk setuju, Sasuke terlebih dahulu masuk kedalam panti untuk meminta izin kepada ibu panti kalau dia mau mengajak Sakura keluar dan setelah di izinkan Sasuke meminta sebuah kerudung kepada ibu panti untuk Sakura.

"Untuk apa?" tanya Sakura tidak mengerti. "Karena kau akan semakin cantik kalau memakai kerudung." jawab Sasuke sambil memakaikan kerudung berwarna putih kepada Sakura.

Malam ini rombongan dari TPA Al-Hikmah mengadakan acara pawai yang di ikuti semua anggota TPA termasuk Sasuke sendiri dan khusus malam ini Sasuke mengajak Sakura.

Mereka berjalan bersama dan Sasuke membawa obor seperti hal nya anak yang lain dan Sakura berjalan disampingnya. Sakura terlihat sedikit takut melihat semua orang yang tampak ramai memenuhi jalanan yang berada didepan mushola dan karena dia takut terpisah dengan Sasuke akhirnya Sakura meraih lengan Sasuke dan memeluknya.

"Ada apa?" tanya Sasuke bingung.

"Aku takut kita terpisah." jawab Sakura. Sasuke tersenyum.

"Kita tidak akan pernah berpisah karena kalau kita berpisah pasti kita akan kembali bersama." timpal Sasuke penuh dengan penekanan dan makna, tanpa Sakura ketahui.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Nada Nada Cinta © Mitsuki HimeChan

Naruto © Masashi Kishimoto

Chapters 2

Rate . T

Pair . SasuSaraSaku

Genre . Family . Romance . Islami

Summary :

Dengan nada nada ini aku nyanyikan lantunan cinta untuk mu wahai kekasih hati.

Baturaja, 05 Juni 2016

Sumatra Selatan

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kita tidak akan pernah berpisah karena kalau kita berpisah pasti kita akan kembali bersama

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Teng! Teng! Teng! Tong! Tong! Tong!

Dum! Dum! Dum!

"Sahuurrr... Saahuuurr... Sahuuurrr..."

Suara belasan anak-anak terdengar nyaring dari luar rumah, mereka berkeliling didaerah distrik Suna yang memang ditempati oleh warga yang beragama Islam. Mereka terus berkeliling untuk membangunkan warga yang tidur untuk sahur dan setelah jam tiga mereka kembali ke mushola untuk sahur bersama.

Sakura sudah bangun sejak satu jam yang lalu karena dia terlebih dahulu sholat Tahajud bersama dengan Sarada lalu keduanya membuat makanan untuk sahur dan ini adalah sahur pertama mereka dibulan ramadan ditahun 2016.

Sarada tidak tahu harus berbuat apa, umminya terus mendiaminya sejak sore tadi membuatnya bingung. Apa ummi sudah lihat vidio klipnya? Apa ummi marah?. batin Sarada.

"Ayo makanannya sudah siap." kata Sakura datar dan menaruh dua piring diatas meja makan. Lalu keduanya membaca do'a makan sahur.

"Ummi marah ya." Sakura menghentikan gerakan tangannya yang sudah hampir memasukan nasi kedalam mulut.

"Tidak." Sakura menggeleng pelan sambil tersenyum yang dipaksakan membuat Sarada merasa semakin bersalah.

"Ummi..." Sakura menghela nafas dan melihat kedua onyx Sarada. "Habiskan makanan mu dan kita bicara." Sarada mengangguk dan mulai makan.

.

.

.

Setelah menjelaskan semuanya kepada Sakura, Sarada kembali terdiam menunggu jawaban dari Sakura.

"Kau suka saat bernyanyi bersama mereka?" tanya Sakura dan Sarada hanya mengangguk sebagai jawaban kalau dia memang menyukainya.

"Setelah ini mungkin kau akan sering tampil di tv bersama mereka, ummi tidak marah dan ummi tidak akan melarang mu untuk bisa akrab dengan Taka." karena Sasuke adalah abi mu dan ummi tidak boleh melarang kamu bertemu dengan abi mu dan mungkin hanya dengan cara ini kau bisa akrab dengan abi mu meski kalian tidak saling mengetahui. Lanjut Sakura didalam hatinya.

Kedua onyx milik Sarada berbinar mendengar perakataan Sakura barusan, benarkan ummi nya tidak marah? "Benarkah ummi?" Sakura mengangguk dan Sarada tersenyum lebar lalu menerjang Sakura dengan pelukan.

"Sarada sayaaaaaang ummi." seru Sarada senang.

"Tapi Taka tidak boleh kalau kamu putri ibu." kata Sakura lagi membuat Sarada terdiam.

"Kenapa mi?" tanya Sarada bingung.

"Lakukan saja."

"Tidak." Sarada menggelengkan kepala karena tidak suka. "Aku tidak mau jadi penyanyi kalau itu sama saja aku tidak mengakui ummi sebagai ummi ku." ujar Sarada sendu. Sakura tersenyum seraya mengelus pipi Sarada.

"Ummi mau seperti kejutan." kata Sakura membuat Sarada bingung.

"Kejutan?"

"Um." Sakura mengangguk. "Nanti kalau semua tahu ummi nya Sarada siapa, nanti ummi gak bisa kerja karena dikejar-kejar wartawan." Sarada ber 'o' ria kemudian mengangguk mengerti tanpa dia ketahui apa maksud sang ummi.

.

.

.

.

.

.

.

Sesuai dengan perkiraan Sakura, Sarada benar-benar terkenal karena dia sangat cantik dan imut, suara Sarada juga terdengar imut bagi banyak telinga diluar sana. Sarada'pun saat ini sudah resmi menjadi bagian dari Taka sejak beberapa hari yang lalu. Sakura senang melihat keakraban antara Sarada dan Sasuke. Sebenarnya Sasuke sudah berulang kali ingin bertemu dengan Sakura tapi Sakura selalu menolak dan akhirnya mereka tidak pernah bertemu. Mereka hanya saling bertegur sapa dengan cara saling mengirim pesan. Bahkan Sasuke tidak tahu nama ummi Sarada dan hanya mengenalnya dengan marga saja.

Sarada hari ini diajak main kerumah Himawari, disana ada Hinata yang baru saja mengajari Himawari mengerjakan Pr matematika. Naruto mendudukan dirinya di sofa tepat disamping Hinata. "Vidio klip kalian yang nada-nada cinta benar-benar buming." ujar Hinata.

"Ya dan kau tahu maskot nya siapa SasuSara. Beberapa hari ini kami sering diminta tampil diberbagai acara... Aku kasihan dengan Sarada, diakan sedang puasa." timpal Naruto lesu.

"Dan benar kata orang-orang, kalian terlihat seperti ayah dan anak." timpal Hinata melihat Sarada dan Sasuke bergantian.

"Kata ummi kalau puasa jangan malas jadi aku tidak merasa capek." kata Sarada menyahuti.

"Sarada, aku boleh tanya?" tanya Sasuke.

"Tanya apa paman?"

"Siapa nama ummi mu?" tanya Sasuke. Karena dia sendiri merasa heran kenapa ummi Sarada tidak mau bertemu dengannya.

Ummi cuma bilang tidak mau bertemukan? pikir Sarada.

"Sakura." jawab Sarada membuat Sasuke dan Naruto terdiam. Sakura? Tapi marga Sarada bukan Haruno, mungkin Sakura yang lain. Batin Sasuke.

"Aa begitu." Sasuke mengangguk.

"Sasuke." ucap Naruto pelan dan Sasuke menggeleng. "Dia Haruno dan bukan Sarotobi." jawab Sasuke.

Sarada mengeriyit aneh mendengar perkataaan Sasuke.

"Nah Sarada kamu istirahat dulu nanti sore kita harus menghadiri talkshow." ujar Naruto sambil tersenyum.

.

.

.

Sakura menghela nafas. Sarada benar-benar sibuk bahkan Taka sudah membuat single terbaru dan baru saja syuting beberapa hari yang lalu dan kembali buming. Sarada pergi dipagi hari dan pulang malam. Dan Sakura tidak bisa menemai Sarada karena dia tidak bisa bertemu dengan Sasuke. Biarlah Sasuke yang menjaga Sarada selama dia tidak bisa disamping Sarada.

Sarada pasti sudah berbuka saat ini, Sakura tersenyum sendu karena hari ini dia tidak bisa berbuka bersama dengan Sarada.

Dari pada tidak ada kerjaan, Sakura memilih untuk menonton tv dan melihat Sarada dengan Taka sedang berjalan dan duduk di sofa putih yang menghadap kamera.

"Waaaahh... Kalian berdua memang benar-benar mirip seperti ayah dan anak." kata pembawa acara.

"Sarada-chan apa kabar mu?"

"Alhamdullillah baik." jawab Sarada.

Sakura tersenyum.

"Nah bagaimana pendapat Sasuke-san dan Naruto-san tentang gosip akhir-akhir ini yang mengatakan Sasuke-san dan Sarada-chan ini sangat mirip?"

"Hmmm... Bagaimana ya aku juga tidak tahu harus berkata apa-apa, tapi aku senang karena mirip dengan Sarada." semua penonton yang hadir tersenyum geli melihat ekspresi Sasuke.

"Aku juga tidak tahu ya kenapa mereka sangat mirip tapi aku senang. Karena Sarada, Taka tidak hanya ada aku dan Sasuke. Disaat kami merasa bosan, Sarada selalu saja menghibur kami."

"Lalu bagaimana dengan pendapat Sarada-chan?"

"Sasuke-jii tampan!"

"Dari dulu Sasuke-san memang tampan Sarada-chan khihihi..."

"Sasuke-jii juga keren!"

Sakura terawa kecil melihat Sarada yang terus mengoceh mengenai Sasuke bahkan para penonton mulai tertawa geli melihat Sarada yang menurut mereka sangat menggemaskan.

Acara pun berlanjut hingga acara ditutup dengan Taka menyanyikan lagu terbaru mereka dengan judul "Indahnya Cinta-Mu" yang berisi pujian-pujian kepada Allah, suara Sarada terdengar merdu dan masuk dengan nada-nada piano yang dimainkan oleh Sasuke dan permainan gitar Naruto.

.

.

Sakura bersiap untuk menyambut kepulangan Sarada dan mobil Sasuke berhenti tepat didepan rumah. Sasuke membukakan pintu untuk Sarada keluar dari mobil. Sakura membuka pintu rumah lalu berdiri didepan pintu dengan wajah yang ditutupi cadar.

Sakura terus melihat kelantai, tak mau kalau Sasuke melihat kedua emerald miliknya.

"Ummi Sarada saya pamit pulang." ujar Sasuke dan Sakura mengangguk.

"Dadah paman." Sarada melambaikan tangannya begitu juga dengan Sasuke.

"Assalamu'alaikum."

"Waalaikum'salam."

"Ummi, aku capek sekali." kata Sarada manja. Sakura tersenyum dibalik cadar yang dia gunakan kemudian mengajak Sarada masuk.

"Sarada udah mandi?" tanya Sakura.

"Udah mi, tadi aku mandi dan buka dirumah Himawari." jawab Sarada.

.

.

.

.

15 Ramadan.

Sarada semakin sibuk karena tawaran job dari sana-sini bahkan saat Sasuke sedang tampil disebuah acara tausiyah di tv Sarada juga ikut di undang dan semua orang cukup kagum dengan Sarada yang mengetahui semua kisah 25 nabi bahkan kisah dari beberapa sahabat dan juga beberapa hadist Sarada tahu dan hapal membuat beberapa stasiun tv mengontrak Sarada dan Sasuke untuk mengisi acara tv sebelum berbuka. Mereka sering tampil di tv bersama, Sarada akan terlebih dulu bercerita tentang kisah salah satu dari nabi atau sahabat lalu Sasuke akan menjelaskan hikmah dari kisah itu.

Sakura'pun hanya bisa tersenyum bisa melihat keduanya dari tv.

.

.

Hari ini Sakura memutuskan untuk membeli beberapa jenis makanan untuk buka puasa karena hari ini Sarada bilang kalau dia akan pulang cepat dan Sasuke sudah janji kepadanya.

Sakura mendorong trolinya kearah tempat tomat. Sakura terus memilih-milih tomat yang bagus untuk Sarada karena Sarada sangat suka tomat seperti Sasuke. Sakura tersenyum sendu kemudian terus memilih tomat yang bagus.

"Sakura." panggil seorang wanita berkerudung hijau toska, lantas Sakura langsung menoleh kemudian kedua matanya terbelalak, melihat Mikoto berdiri disampingnya sambil memegang besi troli.

"Uchiha-sama, apa kabar?" sapa Sakura ramah sambil sesekali melihat lantai.

"Alhamdullillah baik, kabar mu?" jawab Mikoto.

"Baik." timpal Sakura.

"Sakura."

"Iya?"

"Bisa kita bicara?" pinta Mikoto. Sakura mengangguk.

.

.

Sakura segera menyelesaikan berbelanjanya dan keduanya kini sedang duduk berada ditaman yang tak jauh dari pusat perbelanjaan.

"Sakura, maafkan suamiku saat itu ya." kata Mikoto.

"Tidak apa, nyonya. Aku mengerti." sahut Sakura.

Mikoto tersenyum kecil, sifat Sakura tidak pernah berubah selalu rendah hati dan berbicara dengan lembut.

"Sakura, maukah kau kembali dengan Sasuke?" kedua mata Sakura terbelalak, dia kaget dengan permintaan Mikoto barusan dan sebisa mungkin Sakura menyembunyikan keterkagetannya.

"..."

"Sakura."

"Gomenasai Uchiha-sama, saya ini hanyalah wanita biasa dan tidak jelas. Aku tidak pantas untuk Sasuke-kun." jawab Sakura sambil menundukan kepala untuk menyembunyikan matanya yang mulai berair.

"Sasuke selalu mengurung diri dirumah, dia hanya keluar untuk makan dan kerja saja. Dia jarang berbicara dirumah bahkan dia menegur kami sesekali hanya untuk membuat kami senang. Dia membutuhkan mu Sakura, dia menolak semua lamaran karena dia mencintaimu." kata Mikoto menjelaskan semua hal yang Sasuke alami selama ini tanpa adanya Sakura.

"Aku bingung dan aku tidak tahu." sahut Sakura dan menghapus air matanya yang sudah mengalir dan biarlah Mikoto melihatnya, dia tidak peduli.

"Maaf nyonya, aku harus segera pulang, permisi. Assalamu'alaikum." kata Sakura cepat dan langsung pergi membawa semua belanjaan nya.

.

.

Sesampainya dirumah, Sakura hanya menaruh belanjaanya diatas meja makan lalu masuk kedalam kamar untuk menangis, melampiaskan setiap rasa sakit yang dia rasakan.

"Apa aku salah? Apa aku salah mencintai suamiku sendiri?!" Sakura terus menangis tersedu memeluk boneka kelinci yang Sasuke berikan padanya.

Fugaku Uchiha. Sakura masih ingat sekali. Pria itu melakukan berbagai cara untuk memisahkannya dengan Sasuke. Sakura tidak mau mengingat hal itu bahkan Sakura masih trauma jika harus bertemu dengan Fugaku, dia masih sangat takut, benar-benar takut dengan sosok mantan mentri pertahanan itu.

.

.

.

.

Itachi sedang duduk diteras rumah yang menghadap kolam ikan, Itachi menghela nafas saat awan-awan yang sejak tadi dia padangi mulai terpisah satu sama lain.

"Ayah." gumam Itachi saat melihat Fugaku berjalan kearahnya lalu duduk senyaman mungkin disampingnya.

"Hn." sahut Fugaku. Lama keduanya terdiam lalu Itachi mencoba untuk membuka suara. "Aku penasaran dengan Sarada, kenapa dia sangat mirip dengan Sasuke bahkan menurutku dia seperti Sasuke versi perempuan." Fugaku mengangguk pelan.

"Ayah juga tidak tahu tapi ayah sama penasarannya sama seperti mu." ujar Fugaku.

"Lalu dengan ibunya Sarada, aku penasaran kenapa dia tidak mau diliput media bahkan dia menutupi alamat rumahnya." ujar Itachi.

"Mungkin benar apa yang dikatakan Sarada, ibunya tidak mau diliput karena tidak mau terganggu saat berkerja." timpal Fugaku mencoba mengingat acara infotemen yang dia dan Mikoto tonton kemarin.

"Lain kali bagaimana kita undang Sarada dan ibunya kerumah, gimana yah?" ujar Itachi memberi saran.

"Boleh juga, nanti kita beritahu ibumu juga, mungkin dia setuju." timpal Fugaku.

"Apa mungkin Sarada itu memang anak Sasuke?" kata Itachi tiba-tiba membuat Fugaku menoleh kearahnya cepat. Itachi'pun membalas tatapan ayahnya. "Tidak menutup kemungkinan jika Sakura hamil saat meninggalkan rumah ini ayah." Fugaku terdiam seribu bahasa memikirkan setiap kata yang Itachi katakan dan Fugaku semakin merasa bersalah karena sudah mengusir menantu dan cucunya. Bayangan Sakura membesarkan Sarada sendirian dengan keadaan keuangan yang semakin menipis setiap harinya membuat Fugaku menitihkan air matanya.

"Jika diperhatikan lebih teliti mereka memang mirip wajar banyak orang mengatakan mereka seperti ayah dan anak dan semoga saja itu benar, karena dengan begitu kita bisa menemukan Sakura lebih cepat." kata Fugaku setelah lama teridam tak bersuara.

"Assalamu'alaikum."

"Waalaikum'salam." jawab Fugaku dan Itachi bersamaan.

"Itu ibumu, ayo kita bantu dia pasti baru pulang dari belanja."

"Iya ayah."

.

.

.

.

.

.

.

.

Disetiap do'a muuu, kau meminta aaaampuuuun...

Untukkuuuu...

Waaahai...

Muhammaad kuuu...

Mungkin hanya dengan nada naada cintaaa iiini...

Aku lantunkaaan...

Untuuuk mu...

Wahai ciiintakuuu...

Ya rosul, salam mu walaika...

Prok! Prok! Prok!

Sarada membungkukan badan setelah selesai menyanyikan lagu Nada Nada Cinta bersama Sasuke dan Naruto.

Studio satu Nami Entertaiment itu ramai dengan tepukan tangan dan juga teriakan kagum dari para Takari penggemar setia Taka band.

Sarada terus tersenyum kesetiap penonton dan terus menahan kepalanya yang terasa sakit tapi dia sudah tidak dapat menahannya lagi bahkan pandangannya mulai mengabur.

Bruuk...

"Kyaaaaa Sarada-chan!"

"Sarada-chan!"

.

.

.

.

.

.

Sakura mengatur nafasnya secara perlahan. Tiga jam menangis membuat matanya sembab dan mungkin puasanya saat ini sudah batal, ya mungkin.

Drrrrttt...

Sakura mengambil ponselnya yang bergetar dan melihat nama Sasuke dilayar ponsel touchscreen miliknya.

"Ya assalamu'alaikum?"

"Waalaikum'salam, ummi Sarada, Sarada jatuh pingsan dan saat ini ada di rumah sakit Konoha Hospital."

Sakura segera menutup telponnya, memakai kerudung dan mengambil dompet serta kunci mobilnya.

"Sarada" gumam Sakura panik.

.

.

Setelah bertanya kepada resepsionis dimana kamar Sarada. Sakura langsung berlari menuju lift dan pergi menuju lantai dua kamar nomor 209.

Dengan cukup keras, Sakura membuka pintu kamar tempat Sarada dirawat sehingga beberapa pria dan satu wanita terkejut bukan main.

Termasuk Sasuke yang tampak diam mematung berdiri disamping ranjang Sarada. Sakura lupa memakai cadar yang biasa dia gunakan jika bertemu dengan Sasuke.

Sakura langsung berlari menuju ranjang Sarada, tak peduli dengan Sasuke yang menatapnya sendu.

"Ummi." ucap Sarada pelan dan merentangkan kedua tangannya. Sakura menangis dan memeluk Sarada.

"Maafkan ummi sayang, kamu sakit ya? Mana yang sakit? Kamu udah buka?" pertanyaan Sakura yang beruntun membuat Sarada bingung mau menjawab yang mana dulu.

"Sakura." panggil Sasuke pelan.

Sakura tidak menoleh atau menyahut, dia langsung menggedong Sarada dan membawa infus Sarada.

"Sarada, akan aku rawat dirumah dan untuk sementara waktu, dia tidak akan bisa ambil job kerja." kata Sakura dan langsung pergi begitu saja.

"Ummi Sarada tunggu!" seru Hinata dan mengejar Sakura yang membawa Sarada pergi.

"Sasuke." panggil Naruto.

"Apa Sarada putriku Naruto?" tanya Sasuke dan Naruto tidak tahu harus menjawab apa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[Flashback]

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari ini Sasuke pulang dengan cepat dari tempat dia berkerja sambil membawa kantung berisi ayam goreng dan beberapa makanan sisa yang tadi dia ambil disaat dia mau mencuci piring. Entah kenapa orang-orang kaya yang makan di tempat dia berkerja sering tidak menghabiskan makanan dan ada yang masih untuk lalu dibuang saja.

Dari pada di buang lebih baik diambilkan dan untungnya itu adalah restoran halal. Sasuke benar-benar bersyukur karena hal itu.

Tok! Tok! Tok!

Cklek.

"Assalamu'alaikum."

"Waalaikum'salam." jawab Sakura dari dalam rumah. Sasuke menunjukan kantung plastik yang cukup besar dan mengundang senyuman manis Sakura untuk terukir.

"Ayo masuk Sasuke-kun." Sakura menyingkirkan badannya untuk mempersilahkan Sasuke masuk lalu menutup pintu setelah Sasuke masuk.

Di apartemen kecil dan murah inilah keduanya tinggal hanya ada satu ruangan berukuran 2,5 kali 3 meter dan kamar mandi bahkan mereka tidur pun didalam satu ruangan yang sama dan hanya dibatasi sebuah kertas kardus dan didalam ruangan ini mereka saling berbagi cerita, sholat bersama, belajar bersama, tapi meski'pun begitu baik Sasuke maupun Sakura tidak pernah bersentuhan. Mereka tetap bisa menjaga diri sendiri dengan baik dan hampir dua tahun mereka tinggal di apartemen ini. Bahkan Sakura selalu memakai kerudungnya saat Sasuke ada dirumah.

Dan untuk sekolah tentu mereka masih sekolah. Mereka sekolah di tempat yang sama lalu sepulang sekolah mereka pergi ketempat kerja yang berbeda dan harus ada dirumah saat jam 9 malam.

"Sasuke-kun, aku sudah siapkan menu berbuka dan sisa makanan ini untuk kita makan malam nanti dan ayamnya untuk nanti kita sahur saja." Sasuke mengangguk. Ia pun segera masuk kedalam kamar mandi setalah mengambil beberapa helai baju dari kardus.

Sementara itu Sakura menyiapkan dua cangkir berisi jus tomat dingin yang barusan dia beli dan dua roti melon. Beberapa menit lagi suara azan akan terdengar.

Hamdalah langsung terucap dari bibirnya setelah suara azan telah berkumandang dan Sasuke udah keluar dari kamar mandi lengkap dengan baju bersih.

"Ayo." ajak Sakura. Sasuke tersenyum dan mereka berbuka bersama hingga selesai.

"Sasuke-kun. Ada yang mau aku katakan." kata Sakura gugup.

"Apa?" tanya Sasuke.

"Beberapa hari ini aku sering mendengar gunjingan dari tetangga, kita hidup bersama tapi kita bukan saudara dan mereka terus menghina kita." kata Sakura menjelaskan tentang beberapa hal yang terjadi disekitar tempat mereka tinggal.

"Kita akan menikah." ujar Sasuke sambil tersenyum.

"Menikah?" beo Sakura tidak percaya.

"Apa kau mencintai aku Sakura?" Sakura mengangguk.

"Setelah sholat tarawih kita temui Sulaiman-san."

"Sasuke-kun serius?"

"Serius, tentu saja." Sasuke mengangguk dan membereskan cangkir yang mereka gunakan untuk minum.

"Tapi Sasu-"

"Jika kau memang mencintaiku, jangan ada keraguan karena aku juga mencintai mu tanpa ada keraguan." ujar Sasuke sambil membersihkan cangkir didalam kamar mandi lalu ditaruhnya di rak piring kecil didekat pintu kamar mandi.

"Kita sudah berjanji untuk menikah." lanjutnya.

"Tapi nanti saat kita dewasa." timpal Sakura.

"Dan kita sudah dewasa, sudahlah sekarang kita ambil air wudhu dan sholat magrib bersama. Dan sebelum pergi kemasjid kita kepasar dulu untuk membeli mukenah, sajadah dan Al-Qur'an yang nanti untuk maharnya." kata Sasuke dengan tulus.

"Tapi pakai uang ku karena akulah melamar mu." lanjutnya membuat Sakura tersenyum dengan mata berbinar. "Iya Sasuke-kun."

[Flasback Off[

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jika kau memang mencintaiku, jangan ada keraguan karena aku juga mencintai mu tanpa ada keraguan

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sakura!" seru Sasuke yang mengejar Sakura dari belakang.

"Ummi kenapa Sasuke-jii terus memanggil ummi?" tanya Sarada yang menaruh kepalannya dipundak Sakura untuk bisa melihat Sasuke yang terus memanggil nama umminya.

"Sakura!" tangan Sasuke berhasil menarik lengan Sakura hingga Sakura berbalik dan dipeluknya tak peduli puluhan pasangan mata yang melihat kearah mereka bahkan suara bising hilang begitu saja.

Beberapa orang yang sedang memainkan ponsel dengan segera mengabadikan momen itu menggunakan kamera dan beberapa orang yang tidak menyukai Sasuke segara mempostingnya di sosmed dan menempatkan beberapa hinaan seperti seorang pemuda berkacamata yang tampak menyeringai senang.

"Katanya muslim yang taat dan tidak menyentuh wanita yang tidak sah untuknya tapi hari ini dia memeluk seorang wanita berkerudung."

Itulah kata yang dia disematkan di foto yang dia posting di Ig.

Sedangkan seorang wanita berambut pendek malah setelah dia foto, dia mulai memvidiokan momen Sasuke memeluk Sakura.

"Paman." gumam Sarada tidak mengerti. Sasuke dan Sakura sama-sama menangis dalam diam.

"Jangan tinggalkan aku." suara Sasuke terdengar serak dan secara perlahan tubuh pria itu turun merosot dan bersujud didepan Sakura sambil memegang pergelangan kaki Sakura.

Naruto dan Hinata terdiam ditempat melihat kejadian itu.

"Tolong lepaskan aku Sasuke-kun." kata Sakura disela isak tangisnya.

"Aku mencintai mu Sakura. Maafkan aku pernah meninggalkan mu tapi sungguh Saku aku mencari mu setelah hari itu tapi aku tidak menemukan mu, kau kemana? Hiks... Hiks... Aku mencari mu kemana-mana Saku... Hiks aku mencintai mu." semua terdiam mendengar pernyataan Sasuke. Sasuke terlihat sangat rapuh dan beberapa orang yang mengaku fans Sasuke mulai menangis karena melihat begitu rapuh dan lemahnya idola mereka saat ini.

"Hiks.. Sudahlah Sasuke-kun aku tidak mau lagi melihat masa lalu itu." sahut Sakura sambil menghampus air matanya.

"Aku pergi." Sakura melepaskan kakinya dari tangan Sasuke dan pergi begitu saja. Sasuke bangkit dan berbalik melihat punggung Sakura dan Sarada yang melihatnya.

"Kita belum bercerai Sakura!" teriak Sasuke membuat semua orang terdiam dan kaget sekaligus. Sakura berhenti berjalan.

"Aku menolak semua perjodohan yang ayah ku lakukan karena aku mencintaimu Saku. Aku menjadi seperti ini agar kau melihat ku dan mau kembali padaku." ujar Sasuke setengah berteriak.

"Abi." suara Sarada mengintrupsi kegiatan keduanya dan Sakura terbelalak mendengar Sarada memanggil Sasuke dengan sebutan abi.

"Sasuke-jii, abi Sarada ya?" air mata Sakura semakin banyak mengalir dan sebelum Sasuke kembali mengejarnya, Sakura terlebih dahulu pergi meninggalkan rumah sakit.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya semua medsos dan acara infotement di tv-tv suwasta terus membicarakan Sasuke dan Sakura bahkan beberapa ada yang menghujat dan ada juga yang memberi semangat kepada Sasuke.

Sudah seharian ini Sasuke mengurung diri dikamar bahkan dia tidak ikut dalam sahur. Sementara itu Sakura dan Sarada saat ini tinggal bersama dengan kedua orang tua angkatnya karena tidak mau diganggu oleh para wartawan.

Rumah Sasuke dan gedung Nami Entertaiment dipenuhi wartawan sehingga keluarga Uchiha tidak bisa keluar untuk beraktivitas.

Itachi sendiri sudah khilaf melihat Sasuke yang terus mengurung diri dan Mikoto khawatir dengan keadaan putra bungsunya dan Fugaku semakin merasa bersalah. Saat ini mereka semua berada di ruangan keluarga sedangkan Haruna ada didalam kamar.

"Sudah cukup aku tidak bisa diam seperti ini!" ujar Itachi kesal dan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Sasuke.

"Suamiku." Izumi berjalan mengikuti suaminya yang terlihat marah. Fugaku dan Mikoto pun mengekor dari belakang.

Tok! Tok! Tok!

"Sasuke keluar! Sasuke!" teriak Itachi sambil mengetuk pintu kamar Sasuke dengan keras.

"Suamiku tenanglah." kata Izumi mencoba untuk menenangkan suaminya.

"Sasuke-kun ayo keluar dek jangan buat kakak mu marah." kata Izumi dengan lemah lembut.

"SASUKE!"

Braaak...

Dengan cukup Itachi menerjang pintu kamar Sasuke dengan sekali tendangan hingga pintu itu rusak. Itachi masuk kedalam kamar dan melihat Sasuke hanya duduk ditempat tidur sambil memegangi gelang perak berbandul bola-bola kecil yang pernah Sasuke berikan disaat ulang tahun Sakura yang ke tujuh belas.

Bugh!

Dengan sekali pukulan Sasuke tumbang ditempat tidurnya dan tidak membalas setiap pukulan dari Itachi.

"Itachi hentikan!" bentak Mikoto marah namun tidak dia pedulikan.

"Jika kau memang seorang pria temui dia dan minta maaf dan bawa dia kembali! Brengsek!"

Bugh!

Sasuke membalas pukulan Itachi. "Kau pikir siapa yang menyebabkan aku berpisah dengannya dan juga putriku?! Hah!" bentak Sasuke keras hingga keduanya terlibat perkelahian.

"Sasuke! Itachi!" teriak Fugaku dan mencoba untuk melerai perkelahian kedua anaknya. Tapi Sasuke menepis tangan ayahnya.

"KALIAN MEREBUT KEBAHAGIAN KU KALAU SAJA AKU TIDAK BERTEMU DENGAN KALIAN SAAT INI JUGA AKU PASTI SUDAH BAHAGIA BERSAMA ISTRI DAN ANAK KU!"

Bugh!

Itachi jatuh tersungkur didekat lemari dengan wajah yang sedikit terluka sedangkan wajah Sasuke sudah penuh luka lebam.

"Inikah Sasuke? Sasuke sang da'i muda? menjijikan. Berdakwah sana-sini, memberi orang lain motivasi. SEHARUSNYA KAU BERPIKIR! DAKWAHI LAH DIRIMU SENDIRI SEBELUM KAU MENDAKWAHI ORANG LAIN!" teriak Itachi kesal.

"KAU DA'I SASUKE! KAU HARUSNYA TAHU HARUS BERBUAT APA DAN BUKAN DIAM SEPERTI ORANG MATI! MENGURUNG DIRI! KAU PIKIR BISA MENYELESAIKAN MASALAH HAH!"

"Dia tidak akan mau kembali bersamaku, aku sudah meninggalkannya, aku hiks..." Sasuke meremas rambutnya dengan cukup keras.

"Sasuke sudahlah nak, kita bisa mencari jalan yang lain, jangan mengurung diri seperti ini. Ibu yakin, Sakura akan kembali bersama mu." ujar Mikoto berusaha menenangkan Sasuke.

"Ayah akan bersujud didepan nya jika perlu Sasuke, ayah akan mengusahakan semua cara untuk membuatnya kembali bersama mu. Jangan seperti ini nak." ujar Fugaku yang terlihat cemas dengan keadaan Sasuke.

"Semua cara? Hm ahahahahaaaaaaa... Semua cara mu membuatnya pergi dariku!" Sasuke menangis dan terduduk lemah ditepi ranjang.

"Kami bersama sejak usia kami tujuh tahun, kami selalu bersama, dia tidak mau kalau sampai aku pergi tanpa mengajaknya, aku mengajarinya banyak hal, aku melindungi dan menjaganya bahkan akulah orang pertama yang memintanya untuk berkerudung dan memberinya sebuah kerudung dan aku yang memakaikannya kerudung itu." ujar Sasuke menceritakan apa yang dia alami bersama Sakura saat masih kecil.

Sasuke berdiri dari duduknya dan melihat kearah jendela kamarnya yang tertutup rapat. "Kami tidak ingin berpisah, kami selalu menolak jika ada yang ingin mengadopsi kami secara terpisah dan pada akhirnya panti di gusur karena menempati lahan pemerintah, kami pergi dan hidup dijalanan selama beberapa hari dan dengan uang yang berhasil kami bawa dari panti dan kami cari sendiri, kami berhasil menyewa apartemen murah. Kami bahagia." Sasuke menghapus air matanya.

"LALU KALIAN DATANG DAN MEMISAHKAN KAMI!"

Traaakkk...

Sasuke memukul cermin yang berada disamping jendela hingga pecah dan tangannya berdarah. Tak beberapa lama tubuh Sasuke pun merosot kebawah dan jatuh pingsan.

.

.

.

.

.

Sakura mendesah lelah dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini, Sarada sudah melihat dan mendengar semuanya. Sarada bukan anak yang mudah dibohongi, dengan ponselnya dia miliki Sarada dapat mengetahui segalanya bahkan semua pemberitaan yang saat ini sedang hangat diperbincangan dia mengathuinya.

Rumah keluarga Sarutobi saat ini telah dikepung wartawan menyebabkan Asuma, Kurenai dan para pelayan harus mengurung diri dirumah.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk saja pintunya tidak dikunci." jawab Sakura setelah air matanya dihapus.

Cklek.

Pintu kamar terbuka dan sosok Kurenai muncul dari balik pintu, setelah dia masuk pintu kembali ditutup.

"Hei." sapa Kurenai dan duduk disamping Sakura lalu merangkul anak angkatnya itu dengan sayang.

"Ummi." Sakura tersenyum terpaksa.

"Apa itu cinta, Sakura?" tanya Kurenai sambil menatap jendela kamar Sakura yang tertutupi gorden. "Aku tidak tahu mi." Kurenai tersenyum tipis.

"Kalau kau tidak tahu apa itu cinta, lalu bagaimana kau bisa mencintai Sasuke?" Sakura terdiam memikirkan semua kata yang tepat untuk dijawab tapi saat ini, pikirannya sedang tidak fokus sama sekali untuk menjawab semua pertanyaan Kurenai.

"Sakura, cinta itu sangat suci. Cinta lahir dari hati manusia yang terdalam dan cinta itu tulus tanpa ada paksaan, seperti cintanya kita kepada Allah, cinta kita kepada Rosullulloh. Cinta kita tulus untuk mereka. Lalu cinta orang tua kepada anaknya dan begitu juga sebaliknya, cinta tanpa pamrih, cinta yang memang tulus, cinta kepada pasangan, dan terakhir cinta kita kepada sesama umat muslim.

Kalau kita mencintai Allah maka kita akan mencintai semuanya tapi cinta kita tulus dan tidak berlebih-lebihan. Kau mencintai Sasuke karena dia suamimu, begitu juga dengan Sasuke, dia mencintai mu karena kamu istrinya. Dia tidak menceraikan mu karena dia mencintai mu, dia membutuhkan mu.

Jangan egois hanya karena keluarganya tidak menerimamu, tunjukan kepada mereka bahwa kau pantas dan bukan dengan cara pergi meninggalkannya.

Memang rasanya sakit, sakit saat mereka menolakmu tapi Allah ada untuk membantumu. Sakura, aku sudah mendengar semuanya, Sasuke menolak semua lamaran yang datang padanya karena dia tidak ingin yang lain kecuali dirimu, dan kau tidak menerima lamaran dari beberapa pria juga karena mencintai Sasuke. Dan kau masih terikat dengannya, kau tidak mau berpisah dengannya tapi mulut mu berkata lain dengan apa yang hati mu katakan.

Kalau kau mencintainya maka kembalilah dan jika tidak pergi dari kehidupannya. Dan aku mohon padamu jangan egois, aku tahu kalian saling mencintai tapi kalian egois. Singkirkan ke egoisan kalian dan pikirkan Sarada. Dia juga butuh sosok abi." ujar Kurenai sambil memeluk Sakura yang menangis.

Tok! Tok! Tok!

"Ummi." panggil Sarada dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamar Sakura.

Cklek.

Sosok Sarada yang sedang digendong Konohamaru terlihat dari pintu yang terbuka. Konohamaru tersenyum canggung dan membawa Sarada masuk kedalam kamar.

Sarada turun dari gendongan Konohamaru dan menghampiri Sakura yang masih menangis.

Sakura menghapus air matanya dan hendak memeluk Sarada tapi Sarada menghindar.

"Aku gak mau lihat ummi nangis, kalau ummi sedih aku juga sedih dan kalau ummi memang tidak mau sama abi ya udah gak apa, aku gak akan maksa ummi." ujar Sarada sambil tersenyum getir. "Aku akan keluar dari Taka dan tidak akan pernah menemui ab, emm... Sasuk-jii." lanjutnya dan setelah mengatakan hal itu Sarada berlari keluar dari kamar Sakura.

"Sarada!" panggil Konohamaru dan mengejar Sarada.

"Hiks...apa...hiks..ap-pa ya..ng hiks..harus ku la-ku hiks kan..." Sakura semakin jadi menangis setelah mendengar semua perkataan Sarada.

"Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, Saku. Sudahlah." kata Kurenai dan mencoba untuk menenangkan Sakura.

"Pikirkan semua yang aku katakan tadi dan besok aku mau mendengar jawaban yang akurat." Sakura mengangguk mengerti dan menghampus air matanya dengan cepat. "Aku harus bicara dengan Sarada." Kurenai mengangguk. "Pergilah."

.

"Maru-jiiiii... Heeeee...hiks..hiks..Sara mau abiiii..." Konohamaru tidak tahu harus berbuat apa untuk menghibur Sarada, dia juga tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Sarada. Jadinya ia hanya memeluk Sarada dan membawa Sarada kehalaman belakang dan duduk digazebo.

"Hime sayang jangan nangis nanti gak imut lagi terus kalau nangis gimana mau nyanyi hm." kata Konohamaru seraya menghapus air mata dipipi keponakan kesayangannya itu. "Hiks...Sara gak mau nyanyi kalau itu bikin ummi nangis karena Sara sayang ummi, lagi pula Sara sudah puas sama abi walaupun cuma beberapa hari, Sara udah seneng kok." kata Sarada bohong. Konohamaru tersenyum sendu.

"Kalau Sara gak bisa ketemu abi lagi bagaimana?" tanya Konohamaru. "Kan Sara punya ponsel yang bagus jadi bisa lihat abi kapan saja tanpa harus ketemu." jawab Sarada polos dan tentu semua pembicaraan mereka didengar oleh Sakura dari balik pohon.

"Sara sayang sama abi?"

"Sayang."

"Sama ummi sayang gak?"

"Sayang juga."

"Kalau sayang Sarada harus bikin abi dan ummi bersama lagi."

"Memangnya aku bisa?"

"Bisa sayang."

Sarada menatap pamannya bingung tapi saat pamannya tersenyum, Sarada mulai meyakinkan diri untuk bisa menyatukan keduanya. Dia pasti bisa. Dan tanpa disangka Sakura hanya mampu terdiam mendengar pembicaraan adik dan juga putrinya. Sakura merasa bersalah karena telah memisahkan keduanya tapi bisa apa? Jika kondisi tidak memungkinkan mereka untuk bersama.

.

.

"Dia hanya kelelahan dan juga dihidrasi." ujar dokter yang memeriksa Sasuke. Tangan Sasuke yang terluka sudah di balut kain kasa.

"Terima kasih dokter." ujar Mikoto seraya membungkukkan badan dan dokter itu tersenyum kemudian pamit undur diri dari kediamanan Uchiha yang dikawal beberapa orang suruhan Fugaku karena dia tidak mau wartawan diluar sana mengganggu dokter pribadi keluarga mereka untuk mengorek informasi.

"Baiklah terima kasih dan kalau sudah dapat infonya segera hubungi aku." Itachi menutup telponya dan melihat ayahnya yang duduk disofa. Itachi mendekat dan duduk disamping Fugaku.

"Bagaimana?" tanya Fugaku. Itachi menghela nafas. "Satu jam yang kan mendatang kita sudah dapat infonya." Fugaku mengangguk sedangkan Mikoto duduk di pinggir kasur menunggu Sasuke siuman.

"Ayah membenci Sakura karena dia gadis miskin dan hanya sekolah di madrasah, sekolahnya dan juga Sasuke. Sekolah dengan jumlah murid hanya lima puluh orang. Ayah memindahkan Sasuke ke Konoha Gakuen sedangkan Sakura masih di madrasah, saat tidak ada Sasuke dirumah. Ayah sering meminta Sakura untuk meninggalkan Sasuke bahkan mengancamnya dan ayah'pun berinisiatif mengkuliahkan Sasuke keluar negeri agar menjauh dari Sakura dan itu berhasil dan disaat itulah ayah semakin sering mengancam Sakura.

Apa Sakura mau kembali setelah apa yang ayah lakukan padanya? Apa Sarada mau mengakuiku sebagai kakeknya?" ujar Fugaku sendu sambil memandangi langit-langit kamar Sasuke. "Ayah tidak tahu kalau hasil perbuatan ayah akan seperti ini." lanjutnya.

Itachi hanya mampu berdiam saja ditempat karena dia tidak tahu harus mengatakan apa, dia tahu perbuatan ayahnya itu salah dan itu tidak dibenarkan. Dulu ayahnya sangat menjunjung tinggi yang namanya kehormatan dan juga status sosial membuat ayah tinggi hati dan tidak ingin melihat orang yang ada dibawahnya.

"Setiap manusia pernah melakukan kesalahan dan kesalahan itu terkadang membuat mereka menyesal. Sakura wanita yang baik dan aku yakin dia akan memaafkan ayah." ujar Itachi.

"Ya mungkin saja." sahut Fugaku.

.

.

Setelah lima jam Sasuke tidak sadar diri akhirnya pria satu anak itu membuka kedua matanya. Mikoto langsung menanyakan mana yang sakit dan apa Sasuke lapar lalu Mikoto mengambil mangkuk bubur yang dibawa oleh pelayan dan meminta anak bungsunya itu untuk minum dan makan meski di tolak mentah-mentah oleh Sasuke tapi saat ibunya hampir menangis, Sasuke luluh.

"Besok kalau kau sudah merasa baikan, kita akan pergi ke kediaman keluarga Sarutobi." ujar Itachi setelah Sasuke makan dan meminum obatnya.

"Sarutobi?" Sasuke membeo tidak mengerti dengan maksud kakaknya.

"Sakura dia adopsi oleh keluarga Sarutobi lima tahun yang lalu dan kenapa selama ini kau tidak menemukan Sakura karena gadis itu tinggal di desa Ame selama hamil Sarada dan melahirkan Sarada." jawaban Itachi sukses membuat Sasuke bungkam.

Ratusan wanita hamil di luar sana sangat ingin ditemani suami mereka disaat-saat menegangkan seperti itu dan mendapat ucapan terima kasih karena telah melahirkan malaikat penyempurna sebuah pernikahan. Apa, Sakura juga mengharapkannya? Apa Sakura melahirkan Sarada seorang diri? Sasuke ingin menangis dan mengutuk dirinya sendiri.

Itachi menghela napas panjang lalu duduk disamping Sasuke dan menepuk bahu Sasuke pelan. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri dan kalau kau memang pria yang bertanggung jawab maka temui Sakura dan bertanggung jawablah." Sasuke tersenyum miris mendengar penuturan sang kakak.

Bersambung.