Half

Summary:

{Dia, bukan shinobi. Pekerjaannya, seorang Demon Hunter. Rasnya, Demi-Devil. Mimpinya, menemukan dan membuat keluarga yang bahagia. Namanya, Uzumaki Naruto Sparda. Kegiatan barunya, mencari dan memburu Evil Lord serta menjinakkan Spirit.}

Disclaimer:

{Naruto. DMC. Dan Date a Live. Merupakan milik penulis dan penciptanya masing-masing. Saya hanya meminjam karakter dan beberapa hal untuk kepentingan cerita saya.}

{Chapter 2 – Guard the Haters}


Dua Sins bergerak dalam kecepatan tinggi bagi mata manusia normal, tapi dalam pandangan Naruto, kecepatan mereka paling jauh sebanding dengan sepeda. Dia membidik keduanya tepat di bagian dada.

Bang. Bang. Bang. Bang.

Satu Sins menjadikan rekannya sebagai tameng dari serangan Naruto, menyebabkan itu berubah jadi pasir setelah terkena peluru dibalut api biru. Menggeram, Sins tersebut melesat seraya mengayunkan sabitnya ke arah pinggul Naruto. Naruto mengangkat sebelah alisnya, menangkap ujung sabit disamping darah mengucur dari beberapa jarinya yang terpotong. Dia memandangi Miku, menekan pelatuk Blaze dan menembak Sins yang mengakibatkan lukanya di bagian jantung, tak peduli dengan tatapan sedikit takut yang dilempar Shido.

"Apa kau bisa membuat mereka bingung sebentar?"

Miku mengeluarkan dengusan, membawa dirinya beberapa meter ke atas lalu mengaktifkan Angel-nya menuju Sins yang tersisa.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Berpikir untuk menyerang, tapi niat para Sins sia-sia ketika mereka terjebak ke dalam pusaran gelombang sonik. Mereka membunyikan suara bising menyerupai teriakan, entah karena merasa sakit atau menahan rasa kesal.

"A-Ano."

Naruto menatap Shido, sebelah alisnya naik.

"Ya?"

"J-jarimu apa tak masalah seperti itu?"

Naruto menampilkan kedua tangannya pada Shido.

"Memangnya kenapa dengan jariku?"

"…Hah?"

Shido kebingungan, melihat jari tangan Naruto utuh tanpa ada satupun yang terpotong. Padahal dia cukup yakin beberapa jari tangan Naruto lepas dari tempatnya barusan.

Menaikkan bahu, Naruto berkata dalam batin.

'Matatabi, terima kasih atas bantuannya. Tapi untuk sekarang biarkan aku yang mengurus sisanya.'

"Oke, Naru-chan."

Tail dan Blaze menghilang ditelan semburan api. Naruto langsung menarik Yamato dari sarung pedangnya, melempar tatapan tidak suka pada para Sins sebelum lenyap bersama blur biru, mengagetkan Shido.

'D-Dia… Bukan manusia?!'

Setelah berhadapan dengan hal-hal supernatural, contohnya Spirit atau Wizard DEM, Shido beranggapan kalau sesuatu yang aneh dan tak dapat dijelaskan logika bukanlah "manusia". Dan, melihat apa yang Naruto bisa lakukan, sudah cukup membuktikan kebenarannya.

Meskipun begitu, bukan berarti Naruto adalah musuhnya, disamping baru bertemu dengannya, Naruto menolong dirinya yang bahkan bisa dibilang orang asing. Jadi, tak ada alasan bagi Shido untuk membencinya.

Miku kebingungan, memandang blur biru asing yang muncul di sekitar pusaran hasil kemampuan Angel-nya dalam arah berlawanan tiap detiknya. Blur tersebut menghilang dan menampilkan Naruto, yang berdiri lima langkah dari "penjara" para Sins, lengannya menyentuh gagang Yamato. Perlahan dia menyarungkan Yamato ke dalam sarung pedangnya, kemudian makhluk-makhluk Hell itu terbelah ke bagian-bagian paling kecil, terakhir berganti wujud menjadi tumpukan pasir.

Menatap barrier dengan tajam, Naruto melihat itu hancur layaknya kaca pecah. Dia kemudian lenyap dari tempatnya, disusul Miku yang terbang ke kediamannya. Shido menutup mata dan menghembuskan nafas.

"Terima kasih banyak. Jika tidak ada kau, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada kita."

Shido mengedipkan matanya, menyadari kalau hanya dia seorang yang ada di sana. Pertanda kalau Naruto dan Miku meninggalkannya ketika dia menutup mata.

(0) Skip (0)

"Naruto benar-benar punya banyak hal yang harus dijelaskan."

Mana bergumam selagi bergerak menuju pintu shelter, yang baru saja dari Fraxinus dan menemukan fakta bahwa kakaknya bertemu [Diva] dan setelah itu dia tiba-tiba terlibat peristiwa "mistis". Shido menceritakan kalau dia diserang kumpulan makhluk berpenampilan grim reaper dan harimau berkulit bayangan. Tapi untungnya, Shido diselamatkan oleh seseorang yang "mungkin" Mana kenal.

"Rambutnya kuning. Matanya biru. Tingginya melebihiku. Dan yang paling mencolok adalah kumis seperti sehabis dicakar kucing di pipinya."

Yah, Mana tahu persis pemilik ciri-ciri tersebut.

"Naruto!"

Keluar dari barisan kerumunan, Naruto beralih ke Mana lalu mendekatinya. Dia menampilkan senyuman.

"Sudah menunggu lama?"

Kedua lengan Mana terlipat sehingga menyerupai huruf "x", dan kakinya mengetuk aspal yang Kami-sama tahu berapa kali. Ekspresinya mengatakan "kau dalam masalah besar Uzumaki Naruto".

"Selain daripada kau menyimpan kekuatan hampir mirip Spirit seperti, aku tidak tahu, menembakkan peluru dibalut api warna tak lazim? Dan untuk pertanyaanmu, yah, aku sudah menunggu lama."

"Oh, ini tidak cukup bagus Naruto-san," kata Nanabi khawatir.

'Yah, aku juga merasakan itu.'

"Boleh aku membunuhnya, Keturunan Sparda?" tanya Shukaku berharap.

'Tidak.'

"Aww…."

'Saran, semuanya?'

"Jujur, mungkin?" balas Gyuki.

'Kau dengar kata hatiku.'

"Aku akan jelaskan semuanya." Naruto mengatakan itu dengan muka serius. "Tapi sebelumnya, bisa kau pertemukan aku dengan orang yang memberitahumu hal ini?"

(0) Skip (0)

Berada di kediaman Itsuka, Naruto menatap penuh minat sejumlah makanan yang tersaji di meja di hadapannya; Oyakodon. Gyudon. Dan beberapa tempura serta teh oolong.

"W-Wow, aku tidak tahu makanan mana yang harus aku coba dulu."

Shido tertawa.

"Jangan sungkan. Habiskanlah."

"Itadakimasu!"

Selagi Naruto makan, dia cukup sadar kalau dirinya sedang diawasi oleh enam orang wanita-Mana tidak termasuk tentu saja- di sekitar Shido. Wanita ini ialah Yatogami Tohka, Yoshino, Itsuka Kotori, Yamai Kaguya, Yamai Yuzuru, dan terakhir Murasame Reine. Keenamnya memandang Naruto dengan ekspresi berbeda, ada yang penasaran(T), bingung dan sedikit takut(Y), penasaran serta siaga(Y & K), waspada(K), lalu "sedikit" tertarik(R).

Kotori angkat bicara. "Maaf jika kau agak tersinggung… Tapi siapa kau ini?"

Melewatkan pandangan tercengang ketika melihat jumlah piring yang menumpuk, Naruto hanya mengayunkan tangannya secara santai.

"Aku tidak tersinggung kok. Mengenai pertanyaanmu, apa kau familiar dengan ras Devil?"

Kotori melotot. "Ras Devil?! H-Hal itu… Kau bercanda… Bukan?"

Naruto mengangkat bahu, "Percaya atau tidak, mereka itu nyata."

Tohka melirik ke arah Reine, mata kristalnya memancarkan kepolosan.

"Devil itu apa?"

"Devil. Adalah sebutan untuk makhluk yang menghuni tempat mengerikan yang disebut sebagai Hell. Dalam kepercayaan umum, Devil merupakan monster jahat yang selalu berusaha menarik manusia dari jalan benar ke jalan jahat," tutur Reine.

Dalam sekejap para Spirit mengeluarkan Angel masing-masing, mereka memandang Naruto dengan pandangan membunuh. Shido dan Mana langsung menghalangi jalur mereka.

"Naruto tidak seburuk itu, minna-san. Dia berbeda."

"Hanya karena Naruto Devil bukan berarti dia orang jahat. Buktinya saja dia menolongku dari rasnya sendiri."

Shido dan Mana berusaha memberikan alasan agar para Spirit menurunkan niat menyerang mereka. Beruntung, mereka paham dan menghilangkan Angel dari eksistensi. Tapi, bukan berarti mereka menurunkan kewaspadaan pada Naruto.

"Sebetulnya," semua orang beralih kepada Naruto, "aku bukan sepenuhnya Devil. Aku ini Demi-Devil. Manusia dengan darah Devil."

Kaguya mengelus dagunya, "Manusia dengan darah Devil… Aku tidak paham, maksudnya apa?"

"Memiliki wujud manusia tapi dengan kelebihan Devil, seperti peningkatan kekuatan fisik, kecepatan, kegesitan, kepintaran, lima sampai sepuluh kali lipat dari manusia biasa," timpal Reine.

Naruto mengacungkan ibu jarinya kepada Reine.

"Persis seperti yang dikatakan wanita menawan ini."

"Mulai Dante Sindrom-nya," kata Son Goku terkekeh.

Shido berkedip, merobek kertas kecil dan diam-diam menulis perkataan Naruto barusan.

'Jika apa yang aku pikirkan benar, aku harus belajar darinya.'

"Jadi… artinya Naruto-san bukan orang jahat, 'kan?" tanya Yoshino gugup.

Naruto tersenyum lembut pada Yoshino. "Begitulah. Lagipula, aku menghabiskan seumur hidupku untuk memburu Demon yang kabur ke dunia manusia."

"…Pernah sekolah?"

Kotori bertanya, merasa ada yang tidak beres dengan penjelasan Naruto.

Naruto menggaruk rambutnya gugup. "Mengingat garis keturunanku yang, yah, agak spesial, aku jauh lebih mudah mempelajari bahasa asing serta menyerap pelajaran rumit semacam fisika atau matematika. Tapi karena hal itu juga, aku sering diburu oleh manusia maupun Demon lain yang menginginkan 'kelebihan'ku ini, sebab itu pula aku tak punya waktu untuk ke sekolah."

"…"

"…"

"…"

Naruto mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diterimanya.

"Semua? Hello?"

"…"

"…"

"…"

"…"

"Huwaaaaa!"

Naruto dikejutkan dengan Tohka, Kaguya, dan Yoshino, yang menangis tiba-tiba setelah mendengar ceritanya. Meskipun ditahan, baik Kotori maupun Yuzuru tidak jauh berbeda dengan ketiga Spirit sebelumnya. Bahkan Reine berulang kali menyeka air mata di sekitar kelopaknya, hal yang sama pun terjadi pada Shido dan Mana.

"E-Eh?"

(1) Two Minutes Later (1)

Setelah adegan "drama"nya berakhir, pandangan para Spirit kepada Naruto berubah seratus delapan puluh derajat. Lalu, ketika Kotori membahas perihal mengenai [Diva], Naruto langsung angkat tangan.

"Soal [Diva] ini biar aku seorang yang urus."

"Oh?" Kotori menaikkan alisnya. "Bisa kau beritahu kami alasannya, Naruto?"

Naruto melipat kedua lengannya, "Keberadaannya sudah diketahui oleh Lesser Demon, tepatnya Sins dan Shadow, jadi cepat atau lambat mereka akan menyerang dia kembali. Untuk mencegah hal itu, aku akan menjaganya sampai aku menemukan dan membasmi High Demon yang mengincarnya."

Shido perlahan berkeringat, "Tunggu sebentar, maksudmu apa yang kau lawan beberapa jam yang lalu itu hanya lah Lesser saja? Dan di atas itu, masih ada tingkat High yang mungkin–"

"–jauh lebih kuat dan mengerikan dari mereka?" Naruto mengangguk. "Yep."

Tohka dengan semangat mengacungkan tinjunya ke langit.

"Yosh! Kalau begitu aku akan ikut membantu menjaganya. Boleh kan, Naruto?"

Yoshino perlahan menaikkan tangannya dengan malu-malu.

"A-Aku juga."

"Kukuku, kalau yang lain ikut jangan lupakan Yamai Kaguya."

"Setuju. Yamai Yuzuru juga."

Kaguya dan Yuzuru mengatakan itu secara bersamaan.

Naruto takkan terkejut jika dia tersenyum lebar saat ini.

"Terima kasih. Namun, sepertinya bantuan kalian tidak aku perlukan… Untuk sekarang itu pun."

""Eh?!/Kenapa?!""

Naruto menghembuskan nafas, sadar kalau ini akan menjadi penjelasan yang cukup panjang.

"Dengarkan aku baik-baik, para Demon, tidak peduli lemah atau kuat, selama mereka ada di dunia manusia. Mereka akan sepenuhnya kebal dengan semua senjata dunia tersebut, dari sihir ke peluru, takkan memberikan efek terhadap mereka. Perlu senjata atau kekuatan sejenis Demon untuk mengalahkan mereka. Dan, kalau pun aku berhasil membunuh mereka di dunia ini, mereka hanya akan beregenerasi di Hell, dan kembali lagi seakan tak pernah mati sebelumnya. Satu-satunya cara agar senjata kalian berfungsi dengan baik, adalah ketika kalian menyerang mereka di tempat kelahiran mereka. Mengerti?"

Semua orang-minus yang punya informasi-tertegun mendengar penjelasan Naruto. Berpikir bahwa dia sendirian melawan makhluk yang dapat menyerang balik terus-menerus, membuat perasaan ngeri hinggap di hati mereka.

"Kau masih bisa mempertahankan akal sehatmu disamping lawanmu dapat datang kapan saja dan dimana saja… Wow. Orang lain mungkin akan gila bila berada di posisimu." Kotori berkomentar sekaligus memuji Naruto.

Naruto mengangkat bahu.

"Sebagai orang yang mempunyai kesempatan lebih besar untuk menghabisi mereka, aku terbiasa dengan hal itu. Lagipula, pola serangan mereka selalu sama, jadi pengalamanku selama 75 tahun terbayar dengan bijak."

Para Bijuu-minus Nibi, Rokubi, dan Gobi-tertawa terbahak-bahak sampai berguling kesana kemari.

""APA?!""

Naruto memiringkan kepalanya ke samping.

"Kalian kenapa?"

Dengan gemetar Shido menunjuk Naruto.

"K-Kau 75 tahun?!"

Naruto mengangguk polos.

"Aku berhenti menua di umur 17 tahun. Ada masalah?"

(0) Skip (0)

Keesokan harinya, Izayoi Miku mengawali harinya dengan mendengarkan musik lewat DVD player. Karena sekolahnya dimulai pukul sembilan, dia memutuskan bermain-main sebentar di kediaman barunya. Bosan dengan lagu yang didengarnya, Miku memutuskan untuk menggantinya dengan lagu ciptaannya. Baru ingin memasukkan kaset, suara bel menghentikan aksinya.

"Tunggu sebentar!"

Membuka pintu, Miku kebingungan saat tidak ada siapapun di luar. Mendecih, dia menutup pintu dengan cara membantingnya.

"Hmph! Dasar orang iseng!"

Miku kembali ke ruang tamu, memasukkan kaset dan menekan tombol play. Dia duduk di sofa dengan remot di tangannya, tak menyadari kalau ada seseorang menempati tempat kosong di sampingnya.

"Apel ini enak juga, kau beli dimana?"

Miku tersenyum bangga.

"Oh, aku membelinya secara impor. Begitu pun dengan buah yang lainnya."

"Pantas rasanya manis-manis gimana gitu."

"Aku tahu, bukan? Kualitas 'luar' dan 'dalam' memang beda."

Saat lagu mulai terdengar, seseorang di samping Miku berkomentar.

"Lagu ini sangat bagus. Judulnya Monochrome Sky, apa aku benar?"

"Yep."

"Penuh energi dan membawa rasa keceriaan bagi pendengarnya. Pasti yang membuatnya menawan bila didengar dari suaranya yang imut."

Miku merona.

"K-Kau terlalu berlebihan."

"Aku serius. Ngomong-ngomong, bisa minta tolong ambilkan aku pisang di sebelahmu itu?"

"Oh, tentu saja."

Mengambil buah yang dibicarakan, Miku langsung memberikan empat buah pisang kepada Naruto. Naruto berseri.

"Terima kasih Miku. Oh ya, namaku Naruto."

"Sama-sama Naruto."

"…"

"…"

"…"

Miku berkedip sebanyak tujuh kali, dengan gerakan robot kekurangan oli dia menatap Naruto, yang baru menghabiskan pisangnya.

"Puah! Kenyangnya. Toilet di sebelah ma–"

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Teriakan Miku membuat Naruto terlempar dari tempatnya duduk, kemudian membawanya beserta bokongnya ke… tanduk rusa.

"WADAW!"

Dengan ekspresi seperti banteng yang ingin mengamuk, Miku menggeram.

"KENAPA KAU BISA TAHU ALAMAT RUMAHKU ORANG MESUM?!"

Meringis, Naruto mendarat ke lantai sebelum mencabut salah tanduk rusa yang menancap di bokong kirinya. Dia berjalan menghampiri Miku, tidak memedulikan darahnya yang berjatuhan hingga membentuk sungai di permukaan lantai.

"Itu gampang. Kau tahu, karena aku telah menyembuhkanmu dari luka bekas tebasan Sins. Aku jadi tahu 'aroma'mu dan viola aku menemukan tempat ini. Sekarang dengar penjelasan–"

"MANA SUDI AKU MENDENGAR PENJELASAN DARI PENGUNTIT SEPERTIMU!"

Naruto kebingungan.

"Aku bukan penguntit. Sampai dimana kita tadi? Oh ya, karena kau bertahan hidup dari penyerangan Lesser Demon, akan ada kemungkinan kalau mereka akan menyerang lagi. Oleh karena itu–"

Miku datang dari gudang dengan membawa "senjata".

"BERANI MELANJUTKAN AKAN AKU LEMPAR PERALATAN TAJAMKU INI!"

"–Terserah! Oleh karena itu aku akan mengawasimu dari–"

Pisau dapur mendarat di kening Naruto.

"–jauh dan mengambil tindakan bila mereka–"

Gunting menancap di mata kiri Naruto.

"–berani menarikmu ke Limbo{1}. Apa kau ada pertanyaan?"

{1. Limbo: adalah dunia 'tempur' Demon atau bisa dibilang versi 'gelap' dari dunia manusia. Itu dikendalikan oleh ras Demon dan dapat menampilkan "kebenaran" dunia.}

"KELUAR DARI RUMAHKU SEKARANG JUGA!"

Naruto berkedip(mata kanannya saja) dan mengangguk. Melihat dirinya lebih lama lagi, dia beralih pada Miku, kagum.

"Kau sering nonton happy tree friend?"

Pensil menembus mata kanan Naruto.

"Oi! Kenapa lampunya dimatikan?"


Membuka pintu utama, Shido sweat drop, melihat Naruto datang ke rumahnya dengan kondisi seperti korban mutilasi. Beruntung dia belum sarapan tadi pagi.

"Shido, boleh aku pinjam shower-nya sebentar?"

"Ya… Tentu saja. Silahkan masuk."

(0) Skip (0)

Siangnya, bagian terakhir Festival Tenguu akan segera diselenggarakan di Akademi All-Girl Rindouji. Saat ini, Shido bersama Tohka serta Naruto sedang berkeliling, dimana Shido tengah mencari tempat yang pas untuk persiapan event, hal ini dikarenakan dia yang mewakili Raizen High School di Festival. Sontak Shido menguap.

"Apakah kau baik-baik saja Shido?" Tohka bertanya prihatin.

"Sebagian besar, hanya kesulitan tidur sepanjang malam." Shido menguap lagi, menggosok matanya. "Tohka, kau tidak keberatan 'kan mengurus hal-hal bersama Naruto jika aku tertidur?"

"Un! Tidak masalah!"

Naruto mengamati dokumen di tangannya.

"Maid Cafe huh? Kedengarannya menarik. Jadi mulai besok aku bisa langsung bantu-bantu begitu?"

Shido mengangguk lemas.

"Reine-san sudah mengurus segala hal yang diperlukan, itu termasuk data penduduk dan identitasmu."

Mendengar suara berisik, ketiganya berbalik dan melihat pembukaan dari Rindouji, yang berupa sekelompok gadis yang bernyanyi di atas panggung.

Shido dan Naruto berkedip secara bersamaan, sampai Miku dan kelompoknya berbalik untuk menghadap semua orang.

"Harus kuakui… Seleranya tinggi soal fashion," komentar Naruto.

"Aku malah lebih takut kalau dia mengingat kita," kata Shido kering.

"Halo semuanya, selamat datang di pembukaan kami!"

Miku memperkenalkan dirinya dengan senyuman, dia kemudian melempar pandangan tajam terhadap Shido dan Naruto. Shido pura-pura cuek sementara Naruto melambaikan tangan.

"Sekarang, mari kita bernyanyi bersama!"


Di sebuah lokasi tidak diketahui, sebuah suara berbicara dengan nada dingin.

"Bahkan Spirit yang mengandalkan suara saja kita tidak bisa tangkap?!"

"Sebenarnya sudah berhasil," balas seseorang dengan raut muka datar, "hanya saja, pihak tak dikenal mengacaukan rencana kita."

"Ha! Sudah kubilang beberapa kali biarkan aku yang turun tangan untuk menangkap seluruh makhluk rendahan ini," ujar seseorang dengan nada angkuh.

"Lalu mengotori tangan kita sendiri? Itu bukan perbuatan bijak kau tahu. Akan lebih baik kita biarkan manusia bernama Wescott itu untuk menangkap mereka." Seseorang mengemukakan pendapat dengan senyum licik. "Dan setelah terkumpul, kita bunuh saja dia. Sederhana, bukan?Ngomong-ngomong, siapa pihak tak dikenal ini?"

"Dia manusia... Tapi di sisi lain dia Demon."

Seringai berkembang di muka seseorang bernada dingin.

"Benar-benar… Menarik."


TBC


Balas Review:

Dari dunia lain: MAKASIH BRO!

AbigailWilliam: Devil Bringer, bukan? Fufufu, tentu saja, tapi kelihatannya nanti di akhir Miku Arc.

KuroNeko69: Up selesai.

Dimas Kurosaki: Terima kasih Review-nya.

Oke, aku lanjut.

Kaze No Kuro: Up selesai

Sqdg Fatur: Naruto akan mendapat Devil Arms, tapi hanya satu saja. Untuk DA dari DMC 3. Karena nanti akan dapat... Spirit Arms?

Yap, skill Vergil jatuh pada Naruto.

pain overture: up selesai ^_^

kuramakyu2: Oke.

aminsetya1: Arigatou untuk review-nya.

Up cepat selesai.

deadly god: Ada alasan juga kenapa Naruto dibuat gak bodoh, tapi sebagai gantinya, dia polos(dalam beberapa hal).

NemesisRaven: Well, ini udh up cepat.