REALIES
Apakah yang disebut Hanatarou sebagai 'Dia' tadi adalah orang ini?
Apakah orang ini adalah perwakilan dari bodyguard yang lagi-lagi dikirim oleh keluarganya untuk –apalah itu-, yang jelas Rukia tak akan menurutinya, ini terlalu berlebihan.
Ya! Pasti orang ini salah satu bodyguard dari keluarganya. Lihat saja posturnya!
.
.
Tanpa pikir panjang otak Rukia langsung menarik kesimpulan. Kesimpulan yang hanya berdasar pada penampilan fisik. Sungguh, itu bukan cara berfikir seorang Kuchiki.
Disc : BLEACH © TITE KUBO
WARNING! : AU, OOC, typo, susunan kalimat kacau, etc, etc.
REALIES
"Ehm... Ku ulangi, apa kau Kuchiki Rukia?" 'bodyguard' itu kembali mengeluarkan suaranya karena merasa sedari tadi si lawan bicara hanya bengong dihadapannya.
"Eh! Iya, aku Rukia," hei! Dia tidak sopan. Meski bertubuh besar bukankah seorang bodyguard harus sopan pada tuannya. Dia benar-benar seorang bodyguard kan? Batin Rukia mulai ragu dengan persepsinya sendiri.
"Bisa ikut aku sebentar? Kelas mu sudah selesai kan? Berarti kau bisa. Ayo," tanpa menunggu persetujuan dari Rukia, pria asing itu menarik tangannya dan menuntun –menggiringnya entah kemana.
Rukia sendiri? Jangan tanya. Dia bahkan tak sadar kalau kakinya sudah berjalan keluar bangunan sekolah. Matanya seolah kosong. Rukia adalah salah satu tipe manusia yang rada kurang tanggap bila dihadapkan dengan sesuatu yang terjadi secara mendadak.
Apalagi semenjak tiga tahun jauh dari 'rumah' keluarga besar Kuchiki, ia perlahan melupakan tata cara bersikap layaknya Kuchiki.
"He-hei! Siapa kau? Mau apa? Lepaskan aku!" Rukia menarik tangannya dari gengggaman pria asing itu, tentunya setelah berhasil menguasai dirinya sendiri. Dan sadarlah ia bahwa perilakunya sejak bertemu dengan pria ini benar-benar tidak menunjukkan bahwa ia seorang keturunan bangsawan.
Bagaimana mungkin dia bengong begitu lama. Bahkan sampai diseret oleh orang asing. Dia benar-benar tak pantas disebut Kuchiki.
Kakeknya pasti menangis kalau melihat kejadian tadi. Dan seketika Rukia sadar bahwa ia harus memasukkan jadwal 'Pelajaran Menjadi Seorang Kuchiki' di dalam agenda liburannya nanti.
Dan itu berarti ia akan menghabiskan banyak waktu di 'rumah' selama liburan nanti.
Menyenangkan sekali! Dan, konyol sekali!
"Baiklah," pria itu mangangkat kedua tangannya, "Tidak sopan memang berbicara pada seseorang tanpa memperkenalkan diri," nah dia tahu kalau dirinya memang tidak sopan. Dasar urakan. Rukia kembali membatin.
"Namaku Kurosaki Ichigo, senang bertemu denganmu, Kuchiki Rukia," pria itu membungkuk dengan sangat sopan di depan Rukia.
Sayang sekali sepertinya Rukia tidak terlalu senang bertemu pria ini.
"Mau apa kau? Kau pasti bodygurad baru yang di perintah kakek untuk membawaku pulang," tutur Rukia sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Ia membuang muka, "Aku me-no-lak."
Sayang sekali tanggapan dari sang pria rupanya jauh dari dugaan Rukia. Bukan, pria itu bukannya menggendong Rukia dan membawanya lari ke arah mobil mewah yang terparkir di depan pintu gerbanh sekolahnya.
Pria itu tertawa. Ya, tertawa sangat keras. Sesuatu yang tak kan pernah kau duga jika apa yang kau pikirkan sama dengan apa yang Rukia pikirkan.
"Kau lucu sekali nona," kata pria itu sambil sesekali menyeka air matanya, "Ayo ikut aku. Tidak enak bicara di tengah kerumunan seperti ini."
Rukia melihat sekelilingnya, dan sadarlah ia bahwa dia telah menjadi tontonan. Dan begitu pria asing itu kembali menarik tangannya, ia hanya pasrah.
Ini memalukan! Batinnya menyumpahi segala yang terjadi.
.
.
.
"Maaf...," suaranya hampir tertelan oleh rasa malu yang luar biasa. Sedangkan sang pria asing justru tertawa semakin kencang. "Aku kan, sudah minta maaf. Berhentilah tertawa," sungut Rukia dengan wajah memerah.
"Ehm! Baiklah," pria itu mencoba menegakkan posisi duduknya, "Kita mulai perkenalan dari awal. Namaku Kurosaki Ichigo."
"Ee... aku Kuchiki Rukia," dengan sedikit gugup Rukia meraih tangan besar yang mengajaknya berjabat tangan.
Bukan perbedaan ukuran tangan yang membuat Rukia gugup, tapi.. senyuman pria itu –Kurosaki Ichigo.
Koreksi! Setelah diperhatikan itu bukan senyuman tapi seringai.
"Ehm..," Rukia mencoba menarik kesadarannya agar tak tenggelam kedalam pesona –atau apa pun- yang dimiliki pria itu, "lantas... ada perlu apa Anda mencari saya, eh- Tuan Kurosaki?"
"Ichigo saja. Sebenarnya ini tentang 'insiden' kemarin," kata Ichigo sambil membuat tanda kutip di udara dengan kedua tangannya. "Kau tahu kan, sikapku kemarin benar-benar tidak sopan. Padahal kau sudah... menyelamatkanku," imbuhnya.
Kelopak mata Rukia berkedip beberapa kali. "Maksudnya?" tanyanya.
"Ya. Aku minta maaf atas sikapku yang tidak bertanggung jawab, meski sebenarnya aku tak bersalah secara langsung, atas cedera yang kau alami," Rukia kembali berkedip. "Jika kau memang mengalami cedera," imbuhnya cepat-cepat.
"Cedera?" tanya Rukia dengan suara yang mengindikasikan ketidak-tahuan.
"Ya. Insiden di city walk kemarin sore."
"Insiden di city walk kemarin so-" ucapan Rukia terputus. Mendadak semua peristiwa 'kecelakaan kecil' kemarin sore berputar di otaknya.
Tentang pengendara sepeda motor yang ngebut dari arah yang salah, dia yang tiba-tiba berlari dan menabrakan dirinya ke seorang pemuda yang hampir tertabrak.
Yang Rukia ingat saat menerjang pemuda itu hanyalah rambut orange yang bersinar terang. Sama seperti warna langit sore itu, orange –astaga!
"Kau!" bukan wajah Ichigo yang Rukia tunjuk, tapi warna orange di kepalanya.
"Ya, aku orang yanga kemarin," kata Ichigo sambil menggenggam jemari Rukia yang menunjuk kearahnya.
Rukia hanya menatap Ichigo. Tanpa berkedip.
"Baiklah, sebagai seorang pria sikapku kemarin memang sangat tidak terpuji. Jadi, sekarang kau boleh minta apa saja padaku sebagai balas budi. Bagaimana?" kata Ichigo dalam satu tarikan nafas.
"Tunggu! Tunggu!" Rukia menarik tangannya dari genggaman Ichigo lalu mengibaskan kedua tanggannya di udara. "Apa maksudmu dengan balas budi?"
"Ya begitulah," Ichigo mengangkat bahunya, "kau sudah menyelamatkanku. Jadi, aku harus berterimakasih. Seperti itulah," lanjutnya.
"Oh. Senang rasanya mendengar itu," Rukia menarik nafas, "tapi... kurasa tak perlu."
"Tidak bisa!" ucap Ichigo dengan nada lebih tinggi. "Setiap kebaikan harus dibalas, apalagi jika berhubungan dengan menyelamatkan nyawa seseorang."
"Aku senang dengan pemikiranmu itu," sedikit menggeser posisi duduknya agar lebih nyaman Rukia melanjutkan, "tapi sungguh! Aku tulus menolongmu. Aku tidak menginginkan apa-apa," Rukia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya bersamaan.
"Tapi aku tetap ingin berterimakasih padamu."
"Tidak perlu. Sungguh."
"Setidaknya biarkan aku ganti rugi atas luka-lukamu."
"Ide bagus. Tapi kau lihat, aku tak terluka. Mungkin sedikit nyeri dibeberapa tempat. Ku olesi salep atau sebangsanya nanti juga sembuh."
"Nyeri juga termasuk sakit. Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah sakit?"
"Sudah ku bilang tidak perlu, Tuan!"
"Tentu saja itu perlu."
"Tidak usah."
"Kau harus diperiksa oleh dokter!"
"Tidak perlu!"
"Bicara apa kau? Tentu saja perlu!"
"Tidak!"
"Perlu!"
"Tidak!"
"Perlu!"
Entah sejak kapan mereka sudah membugkuk dan saling melotot. Mereka mau adu urat atau ngapain sih? Untung saja ada meja yang membatasi mereka.
"Baiklah... terserah kau," akhirnya Ichigo menyerah dan menghempaskan tubuhnya ke kursi. "Tapi berjanjilah untuk tidak menyeret kejadian kemarin ke infotainment!"
"Tidak. Tenang saja. Aku tidak akan melaporkan insiden kemarin ke papara- APA?" wajah Rukia yang semula sudah kembali tenang setelah aksi adu-mata-melotot tadi kembali membuka matanya lebar-lebar.
"Apa maksudnya? Untuk apa aku menyeretnya ke infotainment?" ucap Rukia setelah berhasil menguasai eksprsinya sendiri.
"Yah... saipa tahu kau berencana menghancurkan image-ku dan membuatku kehilangan fans," kata Ichigo mengambil posisi santai dan menyandarkan punggungnya.
"Ha? Apa hubungannya kejadian kemarin dengan image-mu dan –apa kau bilang tadi?-, fans? Memangnya kau ini artis apa?" Rukia melipat tangannya dan ikut-ikutan bersandar.
Sungguh sangat cepat. Hanya setengah detik saja Ichigo menegakkan tubuhnya dan memandang Rukia, seolah Rukia baru saja mengakui bahwa dirinya adalah mata-mata CIA yang sedang menyamar, hanya untuk merespon kata-kata Rukia tadi.
"A-apa katamu? Coba ulangi?" Ichigo memasang tampang super shock.
"Aku bilang kau ini seperti artis saja! Kau kenapa sih? Wajahmu aneh!" Rukia otomatis sedikit memundurkan kursinya.
"Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?" masih shock ternyata.
"Kau, Kurosaki Ichigo," jawab Rukia enteng. "Kau sendiri yang memperkenalkan dirimu tadi."
"Jadi, sebelum berkenalan tadi, kau sama sekali tidak tahu siapa aku?"
"Tentu saja tidak. Lagi pula aku baru melihat wajahmu dengan jelas hari ini."
"Oh, astaga!" Ichigo tersenyum dengan sangat aneh. "Kupikir tak ada seorang pun remaja, khusunya perempuan, di negeri ini yang tak mengenalku. Ternya ada satu di sini," sambungnya.
"Kau ngomong apa sih?" Rukia mengambil gelas minumannya yang berisi jus jeruk.
"Apa kau tidak tahu tentang Black Devils?" Ichigo menopang dagunya di atas kedua punggung tangannya.
"Emm... kurasa tidak," ah... Rukia meresa seperti berenang di mata air ketika sensasi segar dari jus dinginnya memasuki tenggorokkannya. "Oh! Aku ingat! Tadi pagi teman-temanku membicarakannya," dia melanjutkan.
"Lalu?"
"Entahlah... ku pikir mereka grup band atau sejenisnya. Dan teman-temanku mengajakku untuk nonton konser, eh- apa tadi namanya? Black Devils?" Rukia meletakkan gelasnya yang masih terisi setengah.
Dan Ichigo kembali tertawa dengan sangat keras.
"Hey! Apa-apa'an kau! Setiap saat selalu tertawa nyaring. Kau gila ya?" Rukia menutup telinganya.
"Bagaimana aku tidak tertawa. Belum genap dua jam aku mengenalmu, kau sudah membuatku merasa sedang berhadapan dengan pelawak. Kau ini kampungan atau apa, he?"
Detik berikutnya Ichigo mengeram kesakitan dan mengucapkan sumpah serapah. Kaki, lebih tepatnya tulang keringnya, menjadi sasaran tendangan kaki kecil Rukia.
"Aku tidak kampungan," desis Rukia, "warna rambutmu itu yang norak!" Rukia menyipitkan matanya seolah rambut Ichigo tiba-tiba bersinar secerah matahari dipertengahan musim panas.
"Hey! Berhentilah menghina warna rambutku," kesal Ichigo, "warnanya memang seperti ini sejak aku lahir!" dia mulai menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.
"Ya... ya... ya... terserah," Rukia mengambil tas sekolahnya yang sejak tadi tergeletak di samping kursinya.
"Mau ke mana?"
"Ke mana? Tentu saja pulang," Rukia mulai beringsut untuk meninggalkan Ichigo. "Urusan kita sudah selesai kan?"
"Hmm... harusnya memang sudah selesai, tapi... mari kita lihat. Kau sudah menolongku, aku menawarimu balas budi, lalu kau menolaknya. Dan sepertinya itu tidak bisa dibilang impas," Ichigo kembali melipat tangannya. "Jadi, aku tak dapat melihat dari sisi mana urusan kita bisa dibilang selesai?"
"Akh!" Rukia kembali menghempaskan tubuhnya di kursi cafe yang didesain sedemikian rupa hingga terlihat begitu indah dan mewah. "Jadi, bagaimana caranya agar kau menaganggap semuanya impas, Tuan Kurosaki."
"Aku tidak tahu," jawab Ichigo enteng.
"Grr... kau ini... "
"Begini saja! Kau bilang kau tidak tahu apa itu Black Devils?"
"Memangnya kenapa kalau aku tidak tahu? Kau ingin memperkenalkannya denganku?"
"Yah, semacam itulah. Lihat ini," Ichigo menyodorkan selembar tiket berwarna emas.
"VIP," Rukia mengeja tulisan berwarna hitam yang ditulis besar dan miring dipojok tiket itu. "Tiket apa ini?"
"Tiket Black Devils. VIP! Kau harus datang ke sana!"
"Aku tidak mau," Rukia menyodorkan tiket itu kapada Ichigo.
"Hey! Itu tiket mahal dan sudah habis terjual. Aku memberikannya cuma-cuma padamu!" sungut Ichigo geram.
"Aku belum pernah datang ke sebuah konser."
"Apa hanya itu masalahnya?"
"Tidak. Aku hanya tidak mau kalau datang sendirian," Rukia memandangi gelasnya, es batu di dalamnya sudah larut. "Tadi kau bilang tiket ini sudah habis, jadi otomatis aku tidak mungkin datang dengan temanku. Mereka mana mungkin membeli tiket semahal ini."
"Hah... merepotkan. Kau bisa ajak mereka!" Ichigo mengibaskan tangan kanannya.
"Tapi tiketnya kan hanya satu?" Rukia memandangi tiket yang tergeletak di tengah meja.
"Itu tiket istimewa. Kau bisa mengajak beberapa temanmu."
"Sungguh?"
"Kau tidak percaya padaku?"
"Apa ada alasan untuk percaya padamu?"
"Terserah! Pokoknya kau harus datang, jika tidak..." Ichigo menggantungkan kalimatnya.
"Apa? Kau mau menguntitku lagi?" sergah Rukia.
"Mungkin."
"Terserah," Rukia bangkit dan mulai berjalan menjauhi Ichigo.
"Kau tidak ingin aku mengantarmu?" tawar Ichigo masih duduk di tempatnya.
"Tidak usah, rumahku dekat dari sini," Rukia asal menjawab
Dalam hatinya Rukia tahu, Kurosaki Ichigo bukanlah orang sembarangan. Sudah terlihat jelas dari setelan jas yang dia kenakan.
Mobil mewahnya, dan yang Rukia coba abaikan sedari tadi : cafe ini.
Ini bukan cafe biasa. Ini cafe elit.
Cafe ini adalah salah satu cafe milik keluarga temannya di Karakura. Jelas Rukia tahu orang-orang tipe seperti apa yang cukup punya 'kebanggaan', entah apa pun bentuknya, yang berani masuk ke cafe ini.
Jika memang Kurosaki Ichigo adalah orang yang mempunyai kehidupan yang luar biasa, maka ada baiknya Rukia tidak terlalu dekat dengan orang itu.
Tidak... bukannya Rukia pilih-pilih dalam berteman. Ada banyak kepalsuan di antara orang-orang seperti itu. Dan Rukia tak ingin tenggelam dalam hal abu-abu seperti itu.
Meski ia seorang bangsawan sekali pun.
.
.
.
Entah apa ini namanya. Rukia merasa sangat aneh.
Dia baru bertemu dengan orang asing itu, tapi sudah ngobrol layaknya teman lama. Sekali pun Rukia berusaha tak terhanyut dalam aliran arus menenangkan yang di buat orang itu, ia tetap saja terhanyut.
Lucu sekali!
Semuanya seperti mengalir begitu saja.
Sudahlah... toh itu hanya kebetulan. Bukankah begitu?
Paling tidak dia bisa membuat teman-temannya berteriak bahagia besok.
Sekarang yang dia inginkan hanya berlabuh di tempat tidurnya yang nyaman dan mulai menyelami alam mimpinya.
"Black Devils..." gumamnya sebelum benar-benar terlelap.
TBC
A/N: bagian penutupnya sepertinya kacau... uuh, aku bingung mau nulis apa dibagian terakhir itu. Mohon maklum ya, imajinasinya lagi seret. bahkan konfliknya belum muncul sedikit pun.
Sebenernya di chap ini sudah harus muncul sedikit narasi yang menunjuk ke konflik, tapi saya belum bisa buat cerita yang panjang. Keburu berasap nih kepala.
Oh iya, aku lupa jelasin. Chap kemarin pas bagian Rukia dan Momo di potret kenapa pake ucapan "AAAAA..." bukannya "Cheeeessseee" dan sebagainya. Itu karena pengalaman kecil author pas lagi iseng alias kurang kerjaan, dan lokasinya pun di city walk. Ide fic ini juga muncul saat lagi break dan nongkrong di sana. *Terimakasih city walk Ngarsopuro*#abaikan
Terimakasih untuk: Owwie Owl, corvusraven, aishiteru lovers, sarah1x, Shizuku Kamae, AkiHisa Pyon, Sora Yasu9a.
Aku bales lewat PM.
Dan terimakasih untuk para readers! 3
