Kimi o Mamotte, Kimi o Aishite
Disclaimer :
Naruto©Masashi Kishimoto
Kimi o Mamotte, Kimi o Aishite©Viryn Vessalius Hawkeye
Genre : Romance
Main Chara : Sakura Haruno (16), Kakashi Hatake (21), dll
Pairing : KakaSaku
Warning : Typoo, OOC, dan kekurangan lainnya.
(Judul diambil dari soundtrack Bleach : Kimi o Mamotte, Kimi o Aishite - Sambomaster, cerita punyaku .b)
Chapter #2
Sakura mengayuh sepedanya kencang. Kilauan mentari kini menghiasi langit pukul 06.50 pagi itu. Keringat terlihat membasahi parasnya yang cantik, nampaknya dia sangat tergesa-gesa. Tentu saja tergesa-gesa, pasalnya 10 menit lagi gerbang sekolahnya akan segera ditutup. Sedangkan posisinya sekarang masih sangat jauh dari lokasi sekolahnya.
"Uwgh, Sensei menyebalkan! Kenapa hari ini dia tidak menjemputku sih? Tahu begini aku kan tidak akan menunggunya, arghhh, aku telat gara-gara dia kan?" Sakura mengumpat disela-sela kegiatan mengayuh sepedanya.
Yah, sebenarnya bukan salah Senseinya dia telat sekarang. Senseinya yang menurutnya tampan itu sudah mengingatkannya berulang-ulang kali bahwa dirinya beberapa hari kedepan tidak bisa mengantar-jemputnya. Dirinya sendiri yang lupa kalau hari ini Senseinya itu tidak bisa menjemputnya dan pergi bersama kesekolah. Biasalah kalau wanita sedang masanya, harus ada pelampiasan dari kekesalannya itu kan? Dan Senseinya yang notabene orang terdekatnya saat ini tentu saja akan menjadi 'korbannya'.
Bel pertama telah berbunyi 15 menit yang lalu di Konoha Gakuen. Seorang gadis berambut pirang panjang terlihat gelisah, sesekali pandangannya melihat ke bawah, ke arah gerbang sekolahnya yang luas itu.
"Ck, mana si jidat lebar itu sih? Sudah tahu ini pelajarannya Oro-sensei si garang. Kenapa dia berani-beraninya datang terlambat? Bisa mati kau Sakura" gadis itu mendumel.
"Sa-sabar I-Ino-chan, k-kau sudah coba sms atau telpon dia?" gadis yang duduk disebelah gadis pirang-Ino itu mencoba menenangkan sahabatnya.
"Sudah berkali-kali aku mencoba menelponnya, tapi tidak ada respon sama sekali dari dia. Ah, dia akan benar-benar celaka hari ini," gadis disebelahnya hanya meringis.
"Mu-mungkin Sakura-chan punya alasan. Se-semoga saja Orochimaru sensei mengerti. Kita berdoa saja."
"Hinata, aku harap si pinky jidat lebar itu memiliki alasan yang bagus. Tapi aku rasa dia tidak bisa diharapkan. Ah~ aku bisa gila memikirkannya."
"A-Aku mengerti, Ino-chan sangat perhatian yah. Beruntung sekali memiliki sahabat seperti Ino-chan. Hehehe" gadis berambut indigo itu tersenyum.
"Sudahlah tidak us-"
Pletak
"ah.. Awwwwhhh! Apa-apaan sih? Siapa yang melempar benda i...ni?" kata-kata Ino terputus dan frekuensi suara yang tadinya keras berangsur-angsur merendah.
"Nona Yamanaka, bisakah anda diam? Atau anda ingin saya memberikan anda sebuah pelajaran hm?"
"Er~ eto... Gomen Orochimaru sensei. Aku akan diam."
"Baguslah, duduk dan perhatikan dengan baik. Jika terdengar satu suara pun dari bangkumu maka-"
Braaaak
Pintu yang didepannya bertuliskan kelas 3-1 itu terbuka secara paksa. Membuat Orochimaru, guru aljabar di Konoha Gakuen membelalakan matanya. Seluruh murid dikelas itu pun langsung melihat 'TKP'.
"Kyaaaaa~ Naruto, dasar bodoh! Aku jadi terjatuh kan? Dan.. OH TUHAN.. Lihat karena ulahmu pintu kelas kita rusak seperti itu. Pokonya kau yang harus bertanggung jawab, aku tidak mau peduli."
"APA? Tidak, kau yang menubruk pintu itu kan? Itu karena kekuatanmu yang mengerikan itu Sakura-chan, bukan salahku."
"Aku katamu? Mengerikan? Kau-"
"Naruto Uzumaki dan Sakura Haruno" suara itu membuat bulu kuduk semua anak kelas 3-1 merinding.
"Ya, Orochi sensei?" ucap Sakura dan Naruto anak berambut durian itu serempak.
"KELUAR SEKARANG JUGA! BERDIRI DIDEPAN KELAS SAMPAI PELAJARAN INI SELESAI. SETELAH ITU KALIAN HARUS LARI 3 KELILING DI LAPANGAN UTAMA, LALU PULANG SEKOLAH KALIAN HARUS MEMBERSIHKAN TOILET." murka Orochimaru kepada kedua bocah malang itu.
"BA-BAIK SENSEI." dan mereka berdua keluar kelas secepat kilat.
"Hahahaha. Bodoh, bisa-bisanya kau terlambat eh! Kau kan paling rajin biasanya, hahaha. Coba kau lihat wajahmu tadi saat Orochimaru memarahi kalian. Kau dan Naruto terlihat sangat konyol. Hahahaha~"
"Hentikan pig, tertawalah sepuasmu! Kau benar-benar menyebalkan. Kau tidak tahu apa aku sangat capek dengan hukuman si ular itu. Belum lagi nanti pulang sekolah harus membersihkan toilet. Arggghhh!" Sakura frustasi dan menyeruput vanilla latenya.
"Hahaha, marah nih yeeeh~ Kau juga sih, sudah tahu kan Kakashi sensei sedang sibuk belakangan ini, bukannya dia sedang ditugaskan ke Oto ya oleh Tsunade-sama? Makanya jangan terlalu bergantung padanya. Dasar pinky."
"Huh." Sakura hanya mendelik.
Ino masih saja tertawa terbahak-bahak disela-sela acara istirahatnya. Sakura, obyek yang ditertawakan hanya mengerucutkan bibirnya dan mengumpat didalam hati.
"Na-naruto-kun?" suara lembut Hinata mengentikkan 'ritual' Ino.
"Ya? Kenapa Hinata-chan?"
"Ano~ K-kau ti-tidak apa-apa kan?"
"Hm... Tidak ko, tidak usah khawatir yah hime sayang~ Aku kan kuat." balas Naruto sambil merangkul pinggang Hinata, kekasihnya.
"EKHEEEEM. Dilarang bermesraan dilingkungan sekolah TUAN UZUMAKI." Ino menginterupsi.
"Na-naruto-kun, jangan seperti itu... Aku ma-malu" wajah Hinata kini sudah memerah.
"Sirik saja kau~ Sana bermesraan sama si Sai." Naruto menjulurkan lidahnya.
"Bakaaa~ Dasar Naruto baka... Awas kau kalau sampai ember sama Sai!" Ino meberikan deathglare pada Naruto.
"Haaaah, kalian bisanya ribut saja! Bisa tenang sedikit tidak sih?" ucap Sakura.
"Sabar Sakura, kau ini marah-marah terus."
"Hu'um, dia sedang datang bulan tuh Ino. Makanya begitu." Naruto manggut-manggut.
"Ck, urusai."
"Ah, Sakura-chan aku baru ingat."
"Apa Baka Naruto?" Sakura menjawab ketus.
"Mmm, hari ini tepat tahun ke 3 dia pergi kan?" ucap Naruto ragu.
"..."
"Naruto..." Ino menyiku kecil lengan Naruto yang duduk disebelahnya.
"Sakura? Ah, maaf aku..."
"Hhh, tentu saja aku ingat. Hari ini antar aku lagi ya Naruto, Ino, Hinata." mereka bertiga mengangguk.
Skip Time
At Otogakure
Kakashi's POV
Hah, menyebalkan. Selama satu minggu aku ditugaskan mengajar di Oto. Yang benar saja, aku tidak bisa bertemu dengan Sakuraku. Rasanya duniaku sunyi tanpanya, hahaha. Menggelikkan...
Tanpa kusadari aku sudah hampir sampai di tempat tujuanku. Otogakure University of Art, aku sangat merindukan tempat dulu aku menuntut ilmu itu. Tempat itu memberi aku banyak kenangan. Aku membelokkan kemudi mobilku kearah kanan dan 'yap' akhirnya aku sampai.
Parkirannya bertambah luas saja. Aku melangkahkan kakiku lebih dalam ke gedung yang didominasi warna silver itu. Langkahku terhenti saat aku mendapati sosok seorang pria berambut hitam panjang dan mengenakan seragam Otogakure University of Art yang sedang berdiri tegak menatap satu-satunya pohon sakura di taman itu. Aku mengenalnya, sangat mengenalnya.
"Itachi!" sapaku sambil berjalan mendekati sosok juniorku itu.
Wajah tampannya menoleh padaku diikuti dengan senyuman manisnya.
Kakashi's POV End
"Ah, Kakashi senpai. Kau datang juga akhirnya, apa kabar?" tanya pria itu lembut.
"Aku baik-baik saja. Hah, Hari ini kau sudah menanyakan hal yang sama padaku sebanyak 3 kali setiap kita bertemu tuan Uchiha. Dan untuk yang ketiga kalinya juga aku menjawab hal yang sama." jawab Kakashi panjang lebar, dan memutar kedua bola matanya.
"Hahahaha. Tidak ada salahnya kan senpai?" kekehnya.
"Kau itu tidak pernah berubah Itachi."
"Hm... Kakashi senpai." panggil Itachi.
"Ya?"
"Kau tahu ini tanggal berapa?" tanya Itachi, pandangannya kini beralih kepada pohon sakura lagi.
"23 Juli."
"Betul, dan kau tahu ada apa ditanggal itu?"
"Tentu saja Itachi. Kau tidak pergi hari ini?"
"Hh, tidak senpai. Hari ini aku ada ujian kalkulus, kau tahu dosen itu dari dulu tidak pernah mengadakan ujian susulan? Apapun alasannya. Menjengkelkan sekali bukan? Kadang aku berfikir, kenapa kita harus mempelajari kalkulus? Toh Universitas ini kan Universitas seni. Ck."
"Yaaaah, kau benar Itachi. Mau bagaimana lagi, Danzo-sama kan memang seperti itu." Kakashi tersenyum pahit seraya menepuk bahu kouhainya itu.
"Sakura... Bagaimana keadaannya?" tanya Itachi.
"Dia baik-baik saja, sangat sulit menaklukkannya kalau kau mau tahu."
"Hahahaha, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Apa aku boleh bertemu dengannya senpai?"
"Hm, tergantung kepentinganmu Itachi."
"Waah..."
"Hahaha, bercanda. Tentu saja boleh."
"Yah kau overprotective sekali senpai." Itachi menyipitkan matanya, berakting jengkel.
"Hey, hey. Aku kan hanya bercanda. Ah, Itachi aku sampai lupa. Sudah jam 11.30. Aku harus segera mengisi jam mata kuliah kelas seni lukis. Jaa~ aku pergi." Kakashi setengah berlari menuju kelas seni lukis.
"Yo~ nanti kita sambung lagi senpai."
Itachi Uchiha, pria berambut hitam panjang itu menerawang jauh. Sorot mata onyxnya menyiratkan rasa kerinduan, kesepian dan kesunyian. Ia tatap sekali lagi pohon sakura didepannya.
"Pohon yang terlihat kuat dan tegar, namun ternyata dia sangat lemah. Sepertimu Sasuke... Maaf hari ini aku tidak bisa mengunjungimu lagi." dan sosoknya pun pergi dari taman kecil yang ada di Universitas terkenal itu.
to be continued...
Makasih buat yang udah mampir untuk baca atau bahkan repot mereview -_- Mungkin fic ini masih jauh dari kata sempurna, :DDDa tapi saya sangat mengharapkan kritik dan saran. Apapun saya terima ^^a
Dan salam kenal untuk semua author penghuni fandom Naruto.
Keep writing~
Review ?
