Terima kasih atas review-review-nya. Saia tidak menyangka masih ada yang berbaik hati untuk membaca fic ini. huhu...
Lightning Feathers D. Kiryu, ojou-chan, vvvv, Dee, Aizawa Ayumu Oz Vessalius, De Alice Kurosaki, Kurosaki Kuchiki, Michi-chan Phantomhive626, Just Ana, Wi3nter, mamoru okta-chan lemonberry.
Kalau ada miss-typo atau semacamnya, suman. Saia bukan tipe orang yang teliti. JUJUR!
Wokeh! Ini sudah update. Mind to RnR again? ^^ ah, pertambahan disclaimer untuk chap 2 ini.
Disclaimer :: ROOKiEZ is PUNK'D
Chapter 2: Song for…
.
Ichigo kemudian sampai disebuah kota yang dapat dibilang cukup ramai, tapi tidak terlalu ramai. Entah apa tujuannya datang ke tempat ini. Ini bukanlah Karakura, ini didaerah yang cukup jauh dari Karakura tapi tidak tau apa namanya. Begitu keluar dari stasiun, dia pergi kesebuah tempat. Dia habiskan waktunya di kota tersebut dan saat matahari mulai terbenam, dia kembali lagi ke Karakura. Tidak ada yang dilakukannya disana. Belanja? Tidak, dia bukan pria seperti itu. Dia berjalan, terkadang mampir kesebuah café untuk sekedar duduk sambil minum dengan tenang. Rasanya, dia ingin refreshing sejenak karena dia terlalu banyak pikiran belakangan ini.
Saat dalam perjalanan menuju rumahnya, ponselnya berbunyi. Dia meraihnya dan melihat siapa yang menelfon-nya.
"Ginjou?"
"Apa?" tanyanya menjawab panggilan dari Ginjou.
"Jangan dingin begitu, oi. Oke, langsung saja. Ichigo, mengenai rencana kita malam ini…maafkan kami, kami tidak dapat melakukannya sekarang…" ucap Ginjou
"Apa?" nada bicara Ichigo seperti tidak percaya.
"Kami masih membutuhkan banyak waktu untuk proses itu. Kira-kira, besok lusa mungkin…" jawab Ginjou.
"Besok lusa?" Ichigo kembali bertanya.
"Ya. Sekali lagi, maafkan kami…" Ginjou memutuskan pembicaraan sebelum Ichigo berkata sepatah kata pun.
Ichigo memasukkan ponselnya kedalam kantung celana dan kemudian, dia kepalkan kedua tangannya dengan gigi menggeretak.
"Cih…" umpatnya.
~ Kurosaki's Recidence, 19.30 ~
"Tadaima…" kata Ichigo sudah sampai dirumah.
"Okaerinasai. Onii-chan, malam ini mau makan apa?" tanya Yuzu menghampiri Ichigo dan langsung bertanya to the point.
"Makan? Hmm, Yuzu, malam ini kau mau membuatkan aku…kare yang pedas?" tanya Ichigo berfikir sejenak.
"Kare pedas? Onii-chan lagi ngidam?" heran Yuzu.
"Apa? Jelas tidak! Hanya saja, aku lagi pengen makan yang pedes-pedes…"
"Baiklah. Kebetulan ada daging di kulkas, sebentar lagi mungkin siap…"
"Oh, ya. Mana Karin?" tanya Ichigo menyadari adiknya yang satu lagi tidak ada.
"Oh? Karin-chan ada di kamarnya. Mungkin sedang tidur-tiduran…"
"Oh."
~ Ichigo's room ~
Setelah selesai makan malam, Ichigo masuk kedalam kamarnya dan mengatakan pada Yuzu bahwa dirinya akan terus ada didalam kamar sampai esok. Dia juga minta agar tidak diganggu. Didalam kamar, dia memanjat jendela kamarnya untuk duduk diatas atap, tempat favoritnya saat ingin menyendiri. Dia duduk diatap dengan wajah tanpa ekspresi, melihat lurus kedepan sana. Malam ini cuaca cukup dingin, tiap dia bernafas, dia dapat melihat nafas putihnya sendiri. Di malam ini, dia termenung, memikirkan sesuatu.
Ichigo's P.o.V
Duduk diatas atap rumah sambil memandangi bulan indah malam ini sangatlah membuat perasaan begitu tenang. Sudah hampir satu tahun kita tak bertemu, terpisah begitu saja. Kupandangi bulan sempurna malam ini, dengan semilir angin yang bertiup. Aah, perasaanku begitu tenang, kau tahu? Di malam yang sepi dan tenang ini, kupejamkan mataku sejenak, mencoba merasakan angin ini.
Aah, entah kenapa aku selalu ingat kejadian bersamamu. Hari-hariku yang awalnya biasa saja mendadak jadi dipenuhi dengan senyumanmu. 3 tahun kita bersama? Tidak, kita hanya bersama selama satu tahun. Itu satu tahun yang sangat berharga dan berlalu dengan cepat tanpa terasa. Banyak kejadian yang terjadi selama satu tahun aku bersamamu. Baik senang, sedih, marah, dan sebagainya. Obrolan ringan kita, wajah-wajah bodoh kita yang tanpa sadar saling kita perlihatkan, membuat suasana diantara kita terasa begitu menyenangkan.
Lalu, saat kita berpisah saat itu, aku tidak dapat mengatakan kata-kata 'Selamat tinggal' padamu. Mulutku tak dapat mengeluarkan kata-kata itu begitu melihat wajahmu yang menatap lembut diriku.
Aah, jika keinginanku bisa terkabul atau paling tidak didengar oleh bulan malam ini, aku ingin membuat bunga-bunga bermekaran lagi. Karena bersama merekalah aku merasa bisa mengusir kesedihanmu saat itu, saat kita berpisah saat itu. Aku tahu kau wanita yang kuat dan tak mudah memasang wajah sedih sesakit apapun situasi tersebut. Tapi, saat itu…saat kita berpisah, aku dapat melihat jelas dari kedua mata violetmu itu bahwa kau menahan tangis, menahan air mata. Kau mencoba kuat tapi kau tak dapat membohongiku dengan kata-kata dinginmu itu.
Seiring waktu berlalu dengan kepergianmu, rangkaian kesedihan dan penyesal selalu membayangiku. Aku sedih harus berpisah denganmu, aku menyesal kenapa aku tidak dapat mengatakan 'Selamat tinggal' padamu saat itu.
Seiring waktu berlalu dengan kepergianmu, tanganku secara insting menulis sesuatu dimeja belajarku beberapa bulan setelah kau pergi, setelah aku mulai merasakan kesepian akan kepergianmu. Apa yang kutulis? Konyol sekali. Aku menulis sebuah lagu. Entah mengapa, begitu kubaca kembali lirik lagu yang kubuat itu, itu benar-benar mirip dengan kita. Aku…tidak memiliki suara yang bagus jika harus bernyanyi. Tapi, aku ingin sekali menyanyikan lagu ini…berkali-kali, berulang kali, sampai suaraku serak walau aku tahu bahwa lagu ini takkan sampai padamu, tapi aku tetap ingin menyanyikannya untukmu.
Dibawah langit yang terang oleh bintang-bintang dan diterangi oleh sinar bulan malam ini, inilah permohonan yang kukatakan dengan nada bergetar, 'Kuharap kau akan bahagia'. Tak peduli dimana pun kau berada, aku ingin kau tetap bahagia. Tidak seperti diriku, tanpa ada dirimu disampingku, hidupku selalu ada yang kurang dan sampai malam ini.
Apakah ini hanya perasaanku saja? Tapi, aku merasa…kepergianmu itu memberikan luka yang dalam dihatiku ini. Dan luka ini takkan pernah hilang, kupikir begitu. Aku merasa, dalam diriku hujan terus turun, tak pernah membiarkan matahari untuk terbit didalam diriku ini. Tentu hujan yang kumaksud…adalah kesedihan.
Jika kita bertemu suatu saat nanti, ditempat yang sama saat kita berpisah…aku bersumpah akan membuatmu bahagia. Selalu.
End Ichigo's P.o.V
"Aah, celaka. Pikiranku entah kemana-mana, begitu juga dengan ucapanku…" katanya mengelus-elus rambut belakangnya.
"Kurasa aku mulai gila, pikiranku melenceng kemana-mana. Sejak kapan aku menjadi sensitif dan senti-mentil begini?" tanyanya pada diri sendiri.
Dia lalu melihat tangan kanannya. "Dulu…dengan tangan inilah aku menolongmu. Dan dengan tangan ini pula…aku melepaskanmu…" ucapnya dengan wajah murung.
Besoknya, matahari sudah terbit. Sepercik cahaya-nya mengenai mata Ichigo yang tengah tertidur. Dia pun bangun dan kemudian mengucek-kucek matanya dan juga merenggangkan otot-otot-nya itu.
"Sial, semalam tidur terlalu larut…" gerutunya dengan rambut berantakan setelah bangun tidur. Dia lalu meninggalkan tempat tidurnya, menuju kamar mandi untuk siap-siap menuju kesekolah.
"Ah, ohayou, onii-chan!" sapa Yuzu ceria. "Nggh, ohayo…" balas Ichigo.
Setelah bersiap-siap dan sudah sarapan, dia berjalan menuju sekolahnya. Begitu sampai dikelas, Mizuiro menyapanya seperti biasa.
"Selamat pagi, Ichigo…" sapa Mizuiro. "Osh!"
"Kau sudah menyelesaikan tugasmu?" tanya Mizuiro melepaskan head-phone-nya. "Tugas?" heran Ichigo menaruh tas diatas mejanya.
"Jangan bilang kau lupa, Ichigo. Hari ini ada tugas untuk membawakan lagu ciptaan kita sendiri, bukan? Sudah kukirimkan pesan padamu sebagai pengingat, kan?" ucap Mizuiro dengan nada menggerutu. Ichigo membulatkan matanya, terkejut dengan info ini. Sial, pikirannya terlalu penuh dengan ucapan Ginjou hingga membuatnya lupa dengan tugas sekolah. Dia langsung ingat memang ada tugas kesenian dimana masing-masing siswa membuat sebuah lagu dan membawakannya didepan kelas.
"Brengsek!" umpat Ichigo.
"Kau belum buat?" tanya Mizuiro. Dia teringat, secarik kertas tempat dia menulis lagu beberapa bulan lagu dia bawa. Benar, bagaimana jika ini saja yang dia bawakan? Pikirnya begitu.
"Bu-Bu-Buat, kok. Haha…" jawab Ichigo dengan tawa garing. "Begitu? Baguslah. Boleh kulihat?" tanya Mizuiro sambil tersenyum.
"Jangan!" Ichigo langsung menaikkan volumenya. Mizuiro pun terkejut. "Ah, maaf. Hanya saja…ini belum sempurna. Hahaha…"
Dia was-was. Walau lirik lagu sudah ada, bagaimana dengan nadanya? Dia tidak tahu nadanya. Dia akan membawakannya dengan sebuah gitar. Dia memang cukup pandai dalam memainkan gitar, tapi jika mendadak seperti ini…seseorang seperti dia juga akan luntur kemampuannya itu.
~ Time to study ~
"Sudah kerjakan tugasnya?" tanya guru bersangkutan. "Sudah!" seru satu kelas. "Ayo, akan kupanggil satu-satu, ya…" katanya mengeluarkan daftar nama siswa.
Setelah cukup lama, akhirnya tiba giliran Ichigo untuk tampil. Perasaannya benar-benar tidak tenang. Dia tidak memiliki suara yang bagus untuk bernyanyi. Dia hanya pandai dalam memainkan gitar sementara untuk suara…dia menilainya sangatlah jelek. Dia duduk dibangku dengan gitar diatas kakinya.
Awalnya dia panik dan perasaannya tidak tenang. Tapi, begitu dia melihat lirik lagu yang sama persis dengan keadaan dirinya dengan Rukia, mendadak perasaannya langsung tenang. Dia mulai memetik senar gitar itu, membuat suara yang sangat merdu keluar dari gitar itu. Dia mulai membuka mulutnya, mulai bernyanyi. Awalnya, suasana kelas sedikit gaduh. Tapi, saat mendengar suara Ichigo, kelas langsung hening. Mereka mendengarkan dengan seksama lagu yang dibawakan oleh Ichigo, merasakan lagu tersebut.
Kimi no emi de michita everyday
San-nen no tsukihi wa hayasugite
Nandemone kaiwa to crazy face
Itsumademo yuugure no eki de
Wakare oshinde ienai jyane
Futari toki no yurusu made
Toshi wo kasanete AI wo growin' growin'
Tsuzuki hazu dattano ni
Moshi negai kanau nara
Mou ichido hana sakasete
Ima nara kimi no kanashimi mo kiito
Uketomerareru kara
Kurayami no blind day and day
Ashimoto sura mienakute
Kanashimi to koukai no kusari wa
Mogaku hodo karamaru dake
Konomamajya itsuka sid and nancy
Mekedasene ruupu like a fuckin' junky
Soredemo kono magatta love song
Korekara no mirai wo takusou
Chikara naku tomo
Koekarete temo
Todokanakutomo
Kono uta wo utauyo
Moshi negai kanau nara
Mou ichido hana sakasete
Itsushika kitto kanashimi no hibi no
Imi mo wakaru kara
Hoshi kagayaku sora no shita
Tsukiakari terasarete
Furueta moji de kakitsuketa negai
"I wish you will be happy"
Fukaku mune ni kizami komarete itsumade dattemo kieru kotonai PAIN
Taiyou sura oikakushite mada yamukotonaku furitsuzukeru RAIN
Kumomakara koboreta
Hitosuji no hikari wo taguri yosete
Asu wo tsunagu
Moshi negai kanau nara
Mou ichido hana sakasete
Imma narra kimi no kanashimi mo kitto
Uketomerareru kara
Hoshi kagayaku sora no shita
Mou nidoto karenai hana
Sakaseru asu wo
Koko ni chikau kara
"I promise I make you happy"
Ichigo menyanyikan lagu tersebut benar-benar dengan penuh perasaan dan emosional yang terkontrol. Seluruh perasaannya seolah mengalir seiring dengan petikan gitar dan lagu yang dibawakannya itu. Dengan suara yang -sulit dijelaskan-, Ichigo benar-benar terlihat keren didepan sana.
Setelah selesai membawakan lagu yang penuh emosional itu, satu kelas berdiri sambil tepuk tangan dengan meriah. Beberapa siswi wanita dikelas itu bahkan ada yang sampai mengalirkan air matanya. Suara tepuk tangan juga terdengar dari luar kelas. Ichigo menyadari bahwa yang mendengarkan lagu-nya bukan siswa kelasnya saja, siswa kelas lain pun mendengarnya.
"Keren sekali, Kurosaki!"
"Lagumu benar-benar menggugah hati, Kurosaki!"
"Perasaanmu tersampaikan, Kurosaki!"
Sorakan-sorakan itu terdengar. Ichigo sedikit malu begitu dipuji seperti itu. Kemudian, guru yang bersangkutan bertanya judul lagu tersebut pada Ichigo.
"Apa judul lagu ini, Kurosaki?" tanyanya. Ichigo terdiam. Dia belum menemukan judul lagu yang tepat untuk lirik lagu ini. Setelah mengingat sesuatu, dia tersenyum tipis.
"Judulnya…Song For…" jawab Ichigo mantap.
"Ho? Untuk siapa lagu ini? Kekasihmu? Aku merasakan perasaanmu yang mengaliri lagu itu, Kurosaki. Aku juga dapat merasakan emosi-mu saat menyanyikan lagu ini tadi…" kata guru itu.
"Tidak. Bukan kekasihku. Lagu ini…kutujukan untuk…dia…" ucap Ichigo menjelaskan.
"Dia?"
Guru itu masih keheranan, tapi Ichigo hanya memasang senyum tipis diwajahnya.
Jam pulang sekolah, Ichigo berjalan sendirian menuju rumahnya sambil memandangi secarik kertas yang ada ditangannya. Dia tersenyum kecil membaca kertas itu.
"Aku tidak menyangka, hanya mengingatmu saja dapat membuat perasaanku langsung tenang…" kata Ichigo.
~ Skip time, langsung besok lusa ~
Malam ini, sudah dipastikan Ichigo akan melakukan proses pengembalian kekuatan shinigaminya. Dia menuju Xcution base camp dengan waktu menunjukkan pukul 23.00.
"Maaf kami mengundur waktu sampai selama ini, Ichigo…" kata Ginjou ramah.
"Tak perlu sok ramah! Aku tak butuh keramahan bualanmu itu…" cetus Ichigo dingin.
"Tak perlu sok ramah. Mana Chado? Dia saksi, bukan?" tanya Ichigo dingin.
"Aku ada dibelakangmu, Ichigo…"
"Huo! Ka-kau mengagetkanku saja! Ginjou, lain kali, gunakanlah lampu sesuai standar, jangan ngirit banget!" gerutu Ichigo.
"Baiklah, kalian semua sudah siap?" tanya Ginjou mengacuhkan usulan Ichigo dan justru bicara pada teman-temannya.
"Oi!" Ichigo tidak terima dirinya diacuhkan seperti ini.
"Apa, sih, cerewet sekali kau, Ichigo? Cepat siap-siap!" kesal seorang wanita berambut pendek sambil bertolak satu pinggang (Di chapter 434 diketahui namanya adalah Jackie). Ichigo hanya memasang wajah kesalnya.
"Kau sudah siap, Ichigo?" tanya Ginjou menoleh padanya.
"Ya."
Drap, drap, drap!
"Ginjou-san!" pelayan tua dengan tergesa-gesa menghampiri Ginjou dkk.
"Ada apa?"
"Riruka-san tidak ada!" katanya dramatis. Mata Ginjou dan kedua temannya membulat. "Apa? Kau yakin?" tanya Ginjou memastikan, dia begitu was-was mengetahui Riruka tidak ada.
"1000%..." jawab pelayan tua itu.
"Kenapa? Apa ada hubungannya dengan kekuatanku jika wanita itu tidak ada?" tanya Ichigo tidak mengerti.
"Jelas. Jika salah satu dari kami tidak ada…kekuatanmu takkan kembali…" jawab Ginjou. Ichigo membulatkan matanya.
"Apa! Kenapa seperti itu?"
"Kami harus menggabungkan kekuatan agar kekuatanmu kembali. Tanpa Riruka, kekuatanmu takkan kembali…" jelas Ginjou.
Ichigo langsung bergegas keluar. "Mau apa kau, Ichigo?" tanya Ginjou dengan nada tinggi.
"Tentu mencarinya, bukan! Apa yang kalian lakukan? Cepat cari dia juga! Hanya tinggal satu jam kurang sebelum tengah malam!" perintah Ichigo yang langsung saja lari. Terlihat dia harus segera mencari Riruka, sebelum tengah malam.
.
.
"Huh! Menyebalkan!" gerutu seorang wanita menendang kerikil kecil dipinggir danau. Wanita berambut panjang diikat dua, memakai topi unik, berjalan sendirian.
"Kenapa semuanya hanya karena demi wanita itu? Dasar pria! Semuanya sama saja!" lanjutnya.
"Jika sudah mencintai seorang wanita, dipikirannya hanya akan ada wanita itu saja!"
Dia lalu melihat kearah danau didepannya. Danau malam ini cukup indah karena bulan purnama terpantul di air. Dia lalu duduk dipinggir danau, memeluk kakinya.
"Hanya demi gadis itu…dia sampai seperti ini, menyebalkan!"
"Dia…tidak memikirkan perasaanku apa?" tanyanya pelan dan terdengar sedih.
Suasana hening sejenak. Riruka tetap diam dengan mata menatap lurus kearah danau.
"Riruka!" seorang pria memanggil namanya saat suasana hening. Riruka menoleh dan kaget karena pria yang sedang dia omeli secara tidak langsung tadi ada dibelakangnya.
"I…Ichigo…" kata Riruka terbata-bata.
"Apa yang kau lakukan disini? Cepat kembali ke base camp!" ucap Ichigo menggerutu dengan keringat yang mengalir, tanda dia berlari sejak tadi mencari Riruka. Alis Riruka langsung berkerut marah dan langsung berdiri menghadap Ichigo. Tidak pas didepan Ichigo, agak jaga jarak. Karena bagaimana pun juga, Riruka tidak sanggup menahan wajah merahnya jika dia mendekati Ichigo.
"Aku tidak mau!" tolak Riruka.
"Apa?"
"Aku tidak mau ikut untuk mengembalikan kekuatanmu, aku tidak mau kau kembali menjadi shinigami, kau mengerti itu!" cetus Riruka sinis bin sewot.
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu apa tujuan utamamu mendapatkan kembali kekuatanmu. Kau hanya ingin bertemu dengan wanita shinigami itu!"
"Wanita shinigami? Rukia maksudmu?"
"Aku tidak peduli siapa namanya! Tujuan utamamu untuk bertarung itu hanyalah tipuan! Kau hanya ingin kembali bersama dengan wanita itu!" ujar Riruka bernada tinggi dan bersila dada.
"Bicara apa kau? Tujuan utamaku mendapatkan kembali kekuatanku adalah untuk bertarung. Masalah aku mau bertemu dengan Rukia atau tidak adalah masalah yang gampang!" jelas Ichigo.
"Pembohong! Kau hanya ingin memanfaatkan kekuatan kami untuk bertemu gadis itu! Semuanya hanya demi gadis itu! Kau egois!" kesal Riruka yang tanpa sadar mengalirkan air mata, mengeluarkan seluruh emosi-nya. Hal itu membuat Ichigo terkejut. Wanita yang dia kenal baru-baru ini menangis dihadapannya. Padahal Riruka terlihat wanita yang sangat kuat dan sulit menangis.
"Demi gadis itu, kau rela mengorbankan kami. Demi gadis itu, kau rela menukar kehidupanmu yang sekarang. Apa begitu penting wanita itu untukmu?" tanya Riruka menatap wajah Ichigo dengan uraian air mata. Ichigo terdiam.
"Begitu banyak wanita nyata yang dapat kau lihat saat menjadi manusia, kenapa kau justru memilih wanita yang tidak nyata…bahkan dimatamu saat ini? Kau bahkan tidak tahu dia sekarang ada dimana!" Riruka menundukkan kepalanya, mencengkram rok-nya.
"Kau tidak mengerti itu…Ichigo?"
Ichigo mengerutkan alisnya sedih. Ternyata, tanpa sadar dia telah membuat wanita ini menangis.
"Aku melihatmu di sekolah kemarin lusa. Lagu yang kau bawakan itu…untuk kekasihmu itu, bukan? Untuk wanita shinigami itu, bukan?" tanya Riruka dengan nada bergetar.
"Aku memperhatikan dengan seksama tiap bait yang kau lantunkan. Lagu itu…adalah curahan perasaanmu untuk dirinya? Apa secinta itu kau dengannya?"
Ichigo tetap terdiam. Dia mencoba membiarkan Riruka mengeluarkan seluruh emosinya, agar dia dapat bicara dengan wanita itu.
"Kau…kenapa menangis? Kau…tidak suka jika aku kembali bersama dengan Rukia?" tanya Ichigo pelan. Riruka tidak menjawab dan justru air matanya makin mengalir deras.
"Kau tidak tahu…jika aku…"
"Rukia adalah wanita yang sangat berarti bagiku. Dia segalanya bagiku, anggap saja seperti itu. Tapi, tujuanku untuk mendapatkan kembali kekuatanku adalah untuk bertarung…" ucap Ichigo menjelaskan.
"Aku tidak percaya! Kau hanya ingin bersama dengannya lagi, bersama wanita itu!" kata Riruka menyeka air mata namun tetap menunduk.
"Keras kepala." umpat Ichigo pelan sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Tadi…kau tanya, aku bahkan tidak tahu dimana Rukia berada. Tentu aku tahu dia ada dimana…" ujar Ichigo. Riruka menaikkan sedikit kepalanya, melirik keatas lewat celah rambutnya.
"Dia ada disini…" Ichigo menepuk kecil dadanya. "He?"
"Dia memang tidak ada disampingku, karena dia ada di hatiku..." jawab Ichigo sambil tersenyum tipis.
"Bualan! Kau penipu! Tidak ada seorang pun yang bisa merasakan orang di hatinya! Apalagi pria seperti dirimu!" Riruka tetap menyangkal. Dia tidak dapat mengendalikan emosinya.
"Hh, keras kepala sekali. Cukup bicaranya. Sekarang, kau mau menolongku atau tidak? Ginjou mengatakan, tanpa kau, kekuatanku takkan kembali. Kau mau menolong…atau tidak?" tanya Ichigo memastikan dengan nada tegas. Kali ini, Riruka yang terdiam.
"Oi!" Ichigo memanggil.
"Sebelumnya…jawab dulu pertanyaanku…"
"Apa?"
"Kau…menyukai gadis itu?" tanya Riruka menatap mata Ichigo dengan matanya yang berkaca-kaca. Ichigo sedikit membulatkan matanya, terkejut dengan pertanyaan Riruka. Dia terdiam, tidak dapat langsung menjawab pertanyaan yang diberikan Riruka secara mendadak ini. Sementara Ichigo sedang berduaan dengan Riruka, seseorang tengah memperhatikan mereka berdua dari ketinggian. Wajahnya tidak dapat terlihat karena gelap.
Kali ini tidak ada preview-nya. Karena bingung gimana nulisnya…^^b
Karena review yang masuk lebih dari 10 untuk chapter 1, fic ini takkan di delete *mudah-mudahan*. Makasih buat yang udah review, dan ayo review lagi untuk chapter 2 ini. Maaf Rukia-nya belum dimunculin. Tapi, dikit-dikit udah, kan? Fooosfosfosfosfos…
Akhirnya saia bisa menuangkan lagu Song For...di fic ini! YAAA! Ini adalah lagu yang amat-sangat-kelewat-paling sedih dan full 100% ICHIRUKI. Setuju dengan pendapat saia, hu?
MARI REVIEW!
