Sapphire itu menatap balik pada iris onxy di hadapannya, tidak peduli kini ia dipandang dengan tajam. Senyum menantang diberikan, bahkan gerakan ke kiri dan ke kanan pun ia lakukan, mengikuti pemilik iris onxy yang mulai menggeram kesal. Bahkan tatapan penuh keheranan terlihat diberikan oleh beberapa orang yang melihat mereka, walau sebagian lagi hanya melirik sekilas sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
"Apa yang kau lakukan, dobe!" suara berat itu terdengar dari pihak pria.
Terdiam, berpura-pura berpikir. "Menurutmu, Teme!" Senyumnya ceria seakan terbiasa dengan gertakan yang diberikan.
"Apa kau tidak sadar menghalangi jalanku." Desisnya tidak senang.
"Tidak," kembali tersenyum melihat bagaimana wajah itu kembali merenggut kesal. "Kau tidak lupa janjimu kan, Teme." Lanjutnya memberikan seringai, senyum menantang diberikan saat pria itu mendecih kesal. "Uchiha, tidak pernah melanggar janjinya. Kuharap kau masih ingat dengan itu." Berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Uchiha bungsu yang makin berkedut kesal, di balik wajah temboknya.
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre Romance.
Rating T
Pair ItaFemNaru
Warning-OOC, AU, Typo(s), dan segala bentuk keabsrudan lainnya yang murni keluar dari pemikiran saya.
Don't Like, Don't read
Senyum senantiasa terlihat di wajah pemilik iris sapphire itu, perlahan-lahan membuka tutup kotak bekal miliknya. Memperhatikan makanan yang terdapat di dalamnya, diiringi senyum yang semakin lebar. Tanda puas dengan hasil kerja kerasnya tadi pagi.
"Hmm," bergumam sesaat dan mengambil gulungan telur. "Mau sampai kapan, Itachi-nii. Menatapku?" Tanyanya mengulurkan telur yang ia ambil dengan sumpit ke wajah pria di hadapannya.
Iris onxy itu melebar, kala melihat telur gulung itu tepat berada di depannya, "kau tidak perlu melakukan ini, Naru." Ucapnya datar melihat wajah itu terdiam, sebelum akhirnya tersenyum.
"Makan dulu baru bicara, Itachi-nii." Sahutnya makin mendekatkan telur gulung ke mulut pria itu. "Kau tidak ingin fansmu curiga kan." Senyumnya manis.
Menghela napas panjang, sedikit memajukan wajahnya dan membuka mulutnya. Menerima suapan yang diberikan oleh Naruto ke padanya dengan tidak niat. Mengunyah perlahan, walau iris onxynya perlahan melirik pada sekumpulan gadis yang terlihat memberi wajah tidak rela di kejauhan. Para gadis yang membuatnya harus berurusan lagi dengan si bungsu Uzumaki yang kebetulan lewat dengan wajah penuh senyum-sepertinya membawakan bekal untuk Kyuubi yang sudah dulu menghilang.
"Bagaimana? Apa tidak enak?" pertanyaan itu kembali terlontar dari bibir gadis yang kini menatapnya tanpa pernah melepaskan senyum.
Kembali iri onxy miliknya melirik pada Naruto yang terlihat masih tersenyum. "Terlalu asin," akunya jujur seakan tidak peduli kalimat itu terdengar tidak sopan bagi orang yang baru saja menyelamatkan dirinya dari kumpulan gadis yang terus mengekorinya seharian ini.
Mengerjap sesaat, "oh, benarkah?" mengambil telur dari sumpit yang sama, dan menyuapkan pada diri sendiri. Mengunyah perlahan, "kurasa kau benar, Itachi-nii." Sahutnya masih senantiasa mengunyah diiringi dengan kening yang sedikit bertaut. "Ugh, untung saja Kyuu-nii tidak di sini. Kalau tidak habislah aku." Keluhnya meletakan sumpit di atas kotak bekal.
Kening bertaut terlihat di wajah Itachi, menatap heran akan kata yang keluar dari bibir gadis itu sekarang.
"Kau tahu Itachi-nii, apa yang akan di katakan Kyuu-nii." Menggembukan pipinya sebal. Seakan paham dengan ekspresi yang diberikan Itachi.
"Yack, asin sekali! Apa kau sudah tidak sabar ingin menikah, Naru" Menirukan gaya sang kakak yang mengkritiknya di lakukan Naruto.
Membuat Itachi terdiam, sebelum akhirnya memberikan kekehan kecil. Ekspresi dan gaya bicara yang dilakukan Naruto, terlihat sama persis dengan Kyuubi saat ia mengkritik Konan, saat itu. Membuat kekashi Pain saat itu langsung menggampar Kyuubi yang hanya akhirnya misuh-misuh.
"Tachi-nii?" kening itu sedikit bertaut, iris sapphirenya sedikit melirik ke kanan dan ke kiri, sebelum akhirnya beralih pada Itachi yang kembali menatapnya lembut. "Aku tidak melarangmu tertawa, tapi sebaiknya kau lihat situasi." Sahutnya memberikan kode ke sekeliling.
Mengerjap sesaat, mengikuti kode yang diberikan gadis itu dan menggerutu kesal. Melihat bagaimana wajah fansnya kini merona. Naruto sendiri hanya tersenyum, mengambil kotak bekalnya dan memberikan benda itu pada Itachi yang menatap heran padanya.
"Ku rasa Itachi-nii tidak ingin aku suapi lagi kan," jelasnya seakan melupakan bahwa Itachi baru saja mengatakan makanannya asin beberapa menit yang lalu. "Aku berani jamin, yang lainnya pasti tidak asin." Senyumnya manis.
Mengedipkan matanya bingung, "bukannya kau membuatkan bekal ini untuk Kyuu. Apa tidak masalah aku menghabiskannya?" herannya melihat Naruto yang tertawa. "Kau memberikannya padaku, bukan karena aku mengatai masakanmu asin kan?" Tanyanya sebelum akhirnya seulas senyum terlihat di wajahnya. "Atau karena takut Kyuubi akan mengkritik masakanmu?" terdengar sedikit geli, melihat wajah tersenyum itu sedikit cemberut. Sepertinya Itachi kembali melupakan fansnya masih memperhatikan mereka.
"Grr, kau menyebalkan Itachi-nii." Sungut Naruto sebelum akhirnya kembali tersenyum, "aku memang sengaja memasak untukmu." Lanjutnya memperhatikan Itachi yang berhenti menyuap makanannya, memandang ke arah dirinya dengan heran. "Bukan apa-apa, hanya sebagai permintaan maaf saja." Akunya jujur melihat pada Itachi yang kini bertaut bingung. Terkiki kecil, "sepertinya aku terlalu banyak bicara."
Sialnya bagi Itachi, setelah mengatakan itu, Naruto tidak lagi melanjutkan perkataannya. Gadis itu hanya tersenyum dan memilih menatap langit, sambil menggoyangkan kakinya yang sedikit bergantung saat ia duduk di bangku taman. Menyebalkan, sepertinya sifat gadis itu kembali lagi.
"Jelaskan!" perintahnya.
Menoleh dan tersenyum dilakukan Naruto, "apa?"
"Naru!" Serunya pelan, menuntut jawaban.
"Kau harus makan Itachi-nii." Sahut Naruto santai melirik pada kotak bekal yang tidak tersentuh.
Mendengus kesal, "haruskah?"
"Tentu kalau kau ingin jawaban dariku."
Kedua iris berbeda warna itu bertatapan dengan ekspresi yang berbeda. Naru dengan wajah penuh senyum dan Itachi dengan wajah datarnya. Gah, apa gadis itu lupa siapa orang yang di hadapannya. Ia adalah Uchiha, dan ia tidak pernah diperintah ingat itu kan.
"Kenapa? Apa Itachi-nii, tidak ingin makan?" memberikan wajah ceria melihat pria itu masih menatapnya. "Kalau gitu Naru pulang sekarang." Sahutnya santai terlihat ingin mengemasi barang-barangnya.
Sialan! Gadis ini serius rupanya.
"Apa kau memang seperti ini, Naru?" memberikan wajah datar menepis tangan Naruto yang hendak mengambil kotak bekalnya. Tidak peduli gadis itu meringis, mengelus tangannya yang sedikit sakit akan ulah Itachi yang memukulnya pelan. "Menyebalkan." Lanjutnya melihat ekspresi gadis itu berubah menjadi sedikit bertanya.
Terlihat sedikit berpikir sebelum akhirnya tersenyum, "terkadang." Jawabnya tidak peduli kedutan kekesalan di kepala Itachi bertambah mendengarnya.
Ingat kata-katanya tadi, Uchiha tidak pernah diperintah! Tapi, sepertinya Itachi harus melanggar itu semua. Bukannya apa, mengingat seperti apa sifat Naruto dari cerita adiknya. Membuatnya harus berpikir ulang, pasrah dan dengan berat hati ia melakukan itu semua. Memakan bekal yang dibuat oleh Naruto diiringi lirikan penuh ancaman pada Naruto yang masih tersenyum, walau diakui apa yang dikatakan Naruto itu benar. Bekal buatannya tidak benar-benar buruk rasanya, lupakan soal telur yang asin tadi. Hanya saja, bekal ini akan jauh lebih enak jika Naruto tidak menatapnya seperti ini.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" pertanyaan itu kembali keluar dari Itachi.
Berkedip sekali dan masih tersenyum, "oh, aku hanya berpikir saja." Jawab Naruto tetap setia melihat Itachi yang hampir menghabiskan bekalnya. "Bahwa Itachi-nii begitu tampan," pujinya melihat Itachi yang terbatuk kecil dan segera mengambil minuman di dekatnya.
Sepertinya Itachi tidak pernah menyangka bahwa, Naruto akan memujinya seperti itu. Ingat ini baru pertemuan mereka yang ketiga, dan lagi mengingat bagaimana sifat Naruto saat pertemuan mereka yang kedua, membuat sulung dari Uchiha ini merasa ngeri mendadak.
"Yah, walau tidak seganteng Kyuu-nii, sih." Lanjut Naruto tanpa rasa bersalah sudah membuat Itachi tersedak. Bahkan sudut siku-siku perlahan muncul di kepala pria itu. "Habisnya Itachi-nii, sudah ada keriputnya." Memberikan wajah penuh senyum tidak menyadari sudut siku-siku itu bertambah
"Ini tanda lahir, Naru. Tanda lahir!" seru Itachi memajukan wajahnya, ia selalu sensi jika ada yang menyebut dirinya keriput.
"Iya tanda lahir. Tanda lahir yang berbentuk keriputkan." Angguk Naruto paham.
"Naru!" mendesis menatap pada Naruto yang terdiam, dan kembali terkiki geli.
Sialan! Lagi-lagi ia dipermainkan oleh gadis ini.
'Ingat Itachi, dia adik temanmu. Dia perempuan.' Batin Itachi berusaha menyabarkan dirinya untuk kesekian kalinya.
"Oh, ya Itachi-nii. Naru mau bertanya." Seakan melupakan telah membuat Itachi kesal, kembali Naruto berkata. Bahkan kata boleh yang dulu ia ucapkan kini ia hilangkan, mungkin tidak ingin digoda Itachi seperti waktu itu. menatap pada Itachi yang menatap malas padanya. "Apa kau dan Kyuu-nii.." memberikan jeda terlihat ragu terdiam sesaat.
"Apa?" tanya Itachi melihat Naruto yang menggigit bibirnya gelisah, melihat kiri kanan.
"Itu.."
Menaikan alis heran, teringat suatu peristiwa. "Kau tidak bermaksud mengatakan kami berpacaran bukan." Sepertinya Itachi mulai kesal dengan Naruto yang dari tadi menggodanya.
Berkedip sekali dan tertawa, "tentu saja tidak." Menggerakan tangan kanannya memberikan gestur tidak. "Kenapa Itachi-nii berpikir begitu?" memiringkan kepala bingung, dan sebersit senyuman kembali muncul. Menepuk kedua tanganya bersamaan, "atau jangan-jangan memang iya."
"Naru!"
Kikikan kecil kembali terdengar dari Naruto, mendengar suara Itachi yang menggeram dan delikan mata yang terarah padanya.
'Ya, Tuhan! Sabar-sabar.' Bagaikan mantra kalimat itu terus Itachi ulang dalam hati.
"Jadi, apa Itachi-nii dan Kyuu-nii sudah berciuman." Satu kalimat keluar dari bibir mungil Naruto
Ctak!
Sepertinya bunyi kesabaran Itachi yang sudah habis, mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto yang menatap heran akan aksi Itachi. Tangan pria itu bergerak dengan cepat terarah pada belakang kepala gadis itu. Menyentuh helaian pirang yang tertata rapi, dan mengarahkan kepala gadis itu ke arahnya. Mempertemukan bibir mereka, dan dapat ia lihat iris sapphire itu melebar sempurna dengan aksi yang ia buat. Sebelum akhirnya, ia menutup mata, menyembunyikan onxy miliknya. Memperdalam ciuman mereka, hanya untuk sesaat kala, ia mendengar suara teriakan dari arah samping.
"ITACHI!" seruan kemarahan terdengar dari sosok pria tersebut.
Membuat Itachi menjauhkan tubuhnya dengan segera, menoleh mendapati pria yang beberapa menit lalu mereka bicarakan kini berdiri tidak jauh darinya dengan wajah penuh kemarahan. Mengedipkan mata sekali, berdiri.
Menoleh pada Naruto yang masih terlihat shock, "terima kasih untuk makan siang dan pencuci mulutnya." Tersenyum charming dan bergegas melarikan diri dari tempatnya, meninggalkan Naruto yang terlihat mulai bisa berkedip –sembuh dari shocknya.
"Gah! Keriput sialan!" seruan Kyuubi terdengar diikuti dirinya yang melewati Naruto, berniat mengejar Itachi yang berhasil kabur.
Bruk!
Suara dirinya yang terjatuh, saat adik kesayangannya menjengkal kakinya.
"Apa yang kau lakukan, Naru?!" serunya bangkit dari jatuhnya.
"Sakit?" sebuah pertanyaan diiringi wajah innosen, membuat Kyuubi berkedut kesal.
"Tentu saja!" menggeram kesal, "kau mau merasakannya?"
Berkedip sekali, menghela napas panjang." Berarti tadi aku benar-benar dicium, yah?" sebuah pertanyaan terlontar diiringi dengan tatapan kosong, tidak menyadari perempatan imajiner di kepala Kyuubi muncul melihat tingkah si bungsu. Antara kesal dan kasihan.
"Aduh, lucunya adikku ini." senyum terbaik diberikan oleh Kyuubi mencubit pipi si bungsu Uzumaki yang hanya mampu meringis merasakan sakit di pipi.
.
You Know
.
Onxy itu berkedip sekali, menatap pada si sulung Uchiha yang entah sejak kapan sudah pulang ke rumah. Memeluk bantalan sofa, membuatnya seperti bocah galau yang terlibat percintaan. Belum lagi tatapan mata kosong yang diberikan olehnya pada televisi yang kini di tonton. Sesekali tangan kanannya terlihat memegang bibirnya sendiri. Mendekat perlahan dan duduk di salah satu sofa ia lakukan. Menyesap jus tomat dengan perlahan walau sesekali onxy miliknya terarah pada si sulung.
"Kau kenapa?" pertanyaan itu terlontar diiringi oleh lirikan penuh minat, berpura-pura merasakan jus tomat miliknya.
Melirik sesaat di lakukan si sulung pada dirinya sebelum akhirnya, kembali menatap televisi. Terdiam sesaat dan membenamkan wajah di bantalan sofa yang kini ia peluk. Tidakkah tingkahnya itu membuat si bungsu mendadak ifell dengan perbuataannya.
"Tingkahmu itu, seakan kau habis berbuat sesuatu saja." Memberikan wajah ngeri pada si sulung yang tersentak. Ragu-ragu menoleh padanya yang ikut terdiam dengan perbuatannya. "Kau tidak melakukan sesuatu kan aniki?" menyipit curiga.
Menatap, dua iris yang hampir sama itu saling bertatapan serupa. Diiringi dengan wajah datar masing-masing.
"Tidak," sahutan singkat diberikan oleh si sulung. Perlahan berdiri berniat pergi dari ruang tengah.
Terlihat sedikit berpikir, mengingat tingkah si sulung yang dari tadi dilihatnya memegang bibir. "Apa Naru habis menciummu, aniki." Memberikan wajah menyeringai melirik pada Itachi yang berhenti pada langkah keempatnya.
Sepertinya Sasuke menebak cukup tepat, melihat bagaimana tubuh itu mendadak terdiam tidak bergerak. Menolehkan kepala ke arahnya setelah beberapa detik terlewati. Oh, lihatlah wajah datar si sulung saat menatapnya, ini sungguh menarik sekali. Mulut itu terlihat ragu untuk berbicara, hal yang sangat jarang ia dapati oleh pada diri anikinya.
"Naru tidak menciumku," terdengar juga suaranya setelah satu tegukan jus yang di lakukan si bungsu menunggu si sulung bicara.
Tatapan datar diberikan si bungsu yang terlihat meliriknya, sedikit bersimpati mungkin. Apa itu yang menyebabkan anikinya terlihat galau? Tapi tidak mungkin, anikinya kan tidak mungkin menyukai gadis aneh itu. Jadi mana mungkin anikinya galau hanya karena mengharapkan ciuman dengan bungsu Uzumaki itu. Sambil menyesap jusnya Sasukepun berpikir akan ke anehan yang terjadi pada diri sang kakak.
"Tapi, aku yang menciumnya." Lanjut si sulung berjalan pergi, tidak lagi dihiraukannya si bungsu yang langsung menyemburkan jusnya akan kalimat yang keluar dari mulutnya.
"A-apa? Kau apa?" Tanya ulang Sasuke memastikan pendengarannya, tidak peduli tingkahnya tidak mencerminkan seorang Uchiha.
Demi Tuhan! Yang di hadapannya ini kakaknya bukan? Bagaimana mungkin ia bisa berkata begitu. Ah, bukan-bukan. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu, ini Naru loh, Naru.
"Hei, Aniki! Kau tidak seriuskan?!" tanya dan harap Sasuke berteriak dari ruang tamu melotot horor pada Itachi yang hanya berjalan tegang terlihat tidak peduli.
Demi giginya Suigetsu! Ia bersedia menjadi pengikut Hidan-Senpai, jika Itachi mau mengatakan padanya bahwa ia tadi bercanda. Ah, bagaimanapun ia tidak rela. Terbayang di benaknya sekarang Naruto tersenyum manis.
"Sasuke!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nun jauh di sana, di kediaman Uzumaki.
Seorang pria terlihat menyeringai, memandang sebuah foto dirinya dengan sahabat-sahabat baiknya. Ruby miliknya terarah lurus tepat pada satu sosok yang memberikan wajah datar, dan tangan di saku celananya-pose memandang ke arah kamera. Tawa laknat keluar dari bibirnya, tidak peduli bisik-bisik para maid di rumahnya yang terlihat ngeri pada wajah tuan mudanya.
.
.
.
.
.
"Ini, tidak bisa dibiarkan"
Satu kata yang entah kenapa bisa dikeluarkan oleh dua orang yang sama di saat bersamaan. Kedua mata pria itu terlihat berubah tajam, remasan kuat dilakukan pada masing-masing benda berbeda yang berada di tangannya. Berbeda dengan kedua orang penyebab kekesalan pria itu yang kini terlihat bersin di tempatnya masing-masing. Iris berbeda warna itu terlihat bersamaan memandang langit, memperhatikan daun-daun yang bertiupan.
Menutup jendela dengan cepat dilakukan oleh Itachi, yang sedang duduk di ruang baca.
Berbanding terbalik dengan Naruto yang hanya bergumam lirih di kamarnya. "Sepertinya cuaca mulai dingin." Satu kata terucap dari bibir gadis itu yang sedang berbaring di kamarnya.
Yah, dingin! sedingin hati para saudaranya yang terlihat mulai kalut.
.
.
.
.
.
.
A/n:Untuk yang pada request sekuelnya, gie ucapain thanks. Apalagi sampai di folow and fav. aduh cinta deh ma kalian! Berhubung gie jarang buat sekuel, eh apa memang gak pernah yah *pose mikir. Jadi jika ada kesalahan tanda baca titik koma, kata-kata absurd, itu bukan kesalahan perangkat readers. Tapi mang Authornya aja yang tergesa-gesa nulisnya. Mumpung idenya langsung nongol saat gie mengetahui betapa kalian menyukai fict ini *kedip ganjen #plak.
.
Bales rev.
Ini beneran The End? Sebenarnya yah, tapi gak jadi deh. Bingung / Gak paham? Tenang, bukan hanya kalian, gie juga kok #plak. Manpulator? Gak, Naru money changer (?) #plak. SasuNaru? Jadi misteri aja, yah #kedipganjen. Sekuel / lanjutan? oke ini udah dilanjut *teriak pakai toa #plak.
.
Thanks for
namika ashara, luviz. hayate, Guest, sivanya anggarada, lutfisyahrizal, Mimo Rain, haruna aoi,
IchiOchaMocha, Kim Naru, anclyne, ringo usami, bloody rose. Yang pada Fav and follow
Oke, berhubung gie mesti siap2 maklum hari ini spesial bagi gie. So.. Bye2!
Ps: Berhubung gie paling susah dalam ngasih title. ini jadi chapter dua aja yah *kedip ganjen
.
.
Sigh,
Imygie_Chan
Pontianak, 19 April 2015
