.
Disclaimer : Masashi Kishimito
Warn : T rate/Typo/Complicated triangle love/Guest star
Pair : Slight hints
Genre : Romance/Adventure/Hurt-comfort
Story by Dargrin
.
Please do not copy-paste without my permission
.
Enjoy it
...
The Dark Knight And White Sorceres
CHAPTER 1
(Meet The Devil)
...
"Jadi anak-anak, itulah sejarah mengenai penyihir Ootsutsuki yang pernah hidup 500 tahun lalu dan pada hari kematiannya Ootsutsuki bersumpah akan lahir kembali setelah 500 tahun." Seorang wanita cantik bersurai hitam ombak, manik merah dan kulit sebening susu sedang berdiri di ruangan kelas, sedang memberikan penjelasan sejarah mengenai asal-usul penyihir yang sempat mengancam dunia.
"Sensei!" seorang gadis yang duduk paling depan mengangkat tangannya.
"Ya, Sakura? Ada pertanyaan?" guru cantik itu menunjuk gadis yang bernama Sakura tadi.
"Bukankah kejadiannya sudah lama sekali? Kenapa setiap tahun kami selalu mempelajari sejarah yang sama? Lagipula kisah itu hanya mitos, kan?" Sakura sedikit mengeluarkan uneg-unengnya dengan pelajaran yang sedang ia pelajari. Jujur saja dia sudah bosan karena hampir 3 tahun berturut-turut harus mempelajari kisah yang sama. Selain itu di jaman yang sudah modern seperti ini, mana ada yang namanya penyihir? Dia juga yakin penyihir itu tak akan mungkin hidup lagi.
"Sakura, saya tahu kau bosan dengan pelajaran ini. Begitu pun dengan saya... " wanita itu menghela napas berusaha untuk sabar. Entah sudah yang keberapa kalinya dia harus mengajar dan mengalami kejadian yang sama seperti ini. "Saya juga heran kenapa kepala sekolah memaksa harus memberikan pelajaran ini terus... " gumamnya sambil membalik lembar demi lembar buku sejarah mengenai penyihir Ootsutsuki yang sedang ia pegang.
"Sensei!" gadis yang bernama Sakura itu kembali mengacungkan tangannya.
"Ada apa lagi Sakura?" tanya sang guru dengan wajah gusar.
"Apa mungkin Ootsutsuki akan hidup kembali? Terus terang saja aku tidak yakin dengan sejarah itu. Rasanya seperti membaca sebuah dongeng tentang petualangan untuk menyelamatkan dunia!" celetuk gadis itu sambil setengah tertawa.
Guru cantik itu langsung memijit keningnya, dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Sakura. Ujung-ujungnya mata pelajaran yang ia ajarkan hanya menjadi bahan olokan para murid saja. Sepertinya habis jam pelajaran usai dia ingin cepat-cepat bertemu kepala sekolah dan mengusulkan pelajaran sejarah baru pada Sarutobi.
"Sejarah itu bukan hanya dongeng belaka." Tiba-tiba saja seorang pria yang sudah berusia sekitar 60 tahunan muncul dari ambang pintu kelas. Dia masuk ke dalam kelas bersama dengan dua orang pria lainnya.
"Sarutobi-sama." Guru wanita itu membungkuk hormat pada pria tersebut.
"Beri hormat pada Kepala sekolah!" Shino selaku ketua kelas secara reflek langsung memerintahkan pada seisi kelas untuk memberikan hormat pada pria tua yang ternyata adalah sang kepala sekolah.
"SELAMAT SIANG KEPALA SEKOLAH!" serentak para murid di dalam kelas memberikan hormat kepada Sarutobi.
"Ootsutsuki bukanlah legenda atau mitos saja. Dia benar-benar hidup pada jamannya, dan sumpahnya akan kembali setelah 500 tahun lagi diyakini akan benar-benar terjadi," ucap Sarutobi dengan serius. "Itulah kenapa kalian, semua yang ada di sini, selain diberikan pelajaran dasar, kalian juga dibekali ilmu lain. Semua itu untuk mempersiapkan diri kalian masing-masing akan kebangkitan si Ratu sihir." Mendadak saja suasana menjadi hening.
"Kepala sekolah, aku ingin tanya!" lagi-lagi Sakura mengacungkan tangannya.
"Ada apa Sakura?" tanya kepala sekolah sambil tersenyum.
"Apa ada bukti kalau Ootsutsuki pernah hidup?" tanya gadis itu dengan sedikit sarkastik.
"Sudah kuduga. Anak-anak seperti kalian pasti tak akan mudah percaya pada cerita seperti itu," ungkapnya yang sepertinya sudah menduga reaksi dari Sakura.
"Perlu kalian ketahui, satu-satunya saksi yang pernah hidup pada jaman Ootsutsuki masih hidup sampai sekarang." Mimik wajah sang kepala sekolah menjadi lebih serius, bahkan para guru yang mendengarkan berubah menjadi tegang, "saksi itu adalah iblis yang sudah berumur ratusan tahun dan sekarang tinggal di hutan terlarang yang ada di dekat sekolah kita," lanjutnya.
"Hahaha baiklah anak-anak jangan memandangku dengan wajah seperti itu!" tak berapa lama pria tua itu tertawa saat melihat wajah para murid yang begitu tegang menatapnya, nyaris tak berkedip.
"Hari ini akan ada inspeksi! Jadi kalian semua diminta untuk keluar dan tinggalkan tas kalian!" ucap salah seorang guru laki-laki yang sedang berdiri di sebelah kepala sekolah.
"Yaaaaaaaahhh... " Semua murid mengeluh begitu mengetahui hari ini ada razia.
"Ayo anak-anak, cepat keluar kelas!" sambil menepuk-nepuk kedua tangannya, guru wanita itu menyuruh semua murid yang ada di dalam untuk segera keluar agar razia dapat segera dilaksanakan.
"Baik, Kurenai-sensei... " Dengan lemas para murid itu keluar dari dalam kelas sambil bersunggut-sunggut. Tentu saja mereka menghkhawatirkan benda-benda yang tak seharusnya mereka bawa ke sekolah itu disita oleh para guru. Kurenai hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat reaksi para muridnya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan saya, Sarutobi-sama," ucap Kurenai karena merasa tertolong.
"Ah, tidak, tidak." Sang kepala sekolah menggeleng-gelengkan kepalanya, "apa yang kukatakan barusan itu benar adanya. Kau sendiri juga tahu hal itu, kan Kurenai? Hampir semua orang tua yang ada di kota ini juga sudah mengetahui keberadaan iblis itu," ucapnya dengan serius sambil melirik Kurenai.
...
Di luar kelas
Para murid semuanya berdiri di depan kelas sambil berharap-harap cemas agar barang bawaan mereka tidak disita para guru. Sebagian murid tampak mengintip dari balik jendela, sementara beberapa orang lainnya memilih cuek dan pasrah saja. Beberapa sisa murid lain malah ada yang turun ke bawah, entah itu ke kantin untuk jajan atau ke kamar kecil. Beberapa murid lain malah terlihat tengah asik ngobrol sama teman-temannya, termasuk Sakura yang saat ini sedang ngobrol dengan dua orang temannya. Mereka sedang membicarakan mengenai apa yang dikatakan kepala sekolah tadi, tentang iblis dan juga penyihir.
"Aku tidak percaya dengan yang dikatakan Kepala sekolah tadi," ucap gadis itu mengenai pendapatnya secara terang-terangan kepada dua orang temannya.
"Hee? Kau tidak mempercayainya, Sakura?" temannya yang berambut pirang membulatkan kedua matanya yang berwarna aquamarine.
"Tentu saja tidak sebelum aku melihatnya langsung!" cetus Sakura sedikit arrogant.
"Jangan bilang kalau kau berniat untuk... " Tenten, gadis bercepol dua itu menatap curiga pada Sakura. Dia tahu Sakura merupakan orang yang sangat rasional dan tak percaya mitos seperti itu. Ia menduga kalau temannya itu akan pergi ke hutan terlarang tersebut.
"Kita pergi ke hutan terlarang setelah pulang sekolah," balas Sakura cepat sambil menyeringai.
"Tidak, itu tidak boleh!" cegah Ino langsung menolak ide Sakura yang menurutnya berbahaya.
"Hmph, memangnya kenapa?" Sakura mendengus sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Hutan terlarang itu berbahaya, Sakura!" jawab Ino memberi peringatan pada Sakura.
"Oh, ya? Kata siapa hutan itu terlarang?" nada suara Sakura terdengar seperti sedang menantang ketimbang sebagai sebuah pertanyaan.
"Kata kedua orang tuaku. Sejak kecil mereka sudah menasehatiku untuk tidak pergi ke sana, karena hutan itu sangat berbahaya dan di sana ada—" gadis berambut pirang itu mulai menjelaskan, namun Sakura sudah terlanjur lebih cepat memotong penjelasannya.
"Di sana ada iblisnya? Begitu maksudmu?" sela Sakura cepat. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Ino padanya.
"Ih, Sakura. Kau menyebalkan!" Ino mendengus kesal karena pembicaraannya dipotong begitu saja, "pokoknya seperti itu! Jadi kau jangan pergi ke sana!" dengusnya.
"Ya, ampun Ino. Orang tuaku juga bicara seperti itu. Aku yakin kalau orang tua Tenten juga menceritakan hal yang sama, iya kan?" Sakura menatap Tenten yang langsung mengangguk.
"Semua orang tua di Kota ini juga menceritakan hal yang sama pada anak-anak mereka. Tapi apa kalian tidak berpikir? Mungkin saja cerita itu dibuat untuk menakut-nakuti anak mereka agar tidak main terlalu jauh?" Kelihatannya watak jelek sok tahunya Sakura mulai muncul.
"Dan cerita yang mirip dongeng itu sampai masuk menjadi pelajaran umum dan wajib di sekolah kita?" sembur Tenten sukses mematahkan semua analisa Sakura yang menganggap kalau cerita itu hanya dongeng pengantar tidur semata.
"Aku yakin cerita itu tak mungkin jadi pelajaran sejarah di sekolah tanpa sebab. Bagaimana kalau seandainya semua itu benar?" sambung Tenten malah jadi ikut memikirkan kebenaran sejarah tersebut.
"Kalian berdua apa-apaan sih! Sudahlah, hentikan semua omong-kosong ini!" Ino yang merasa jengah dengan pembicaraan kedua temannya meminta agar Sakura dan Tenten berhenti untuk membahas mengenai masalah itu lagi.
"Maka dari itu kita harus membuktikannya!" Sakura tetap ngotot untuk mencari kebenarannya tanpa mempedulikan perkataan Ino. "Bagaimana? Apa kalian setuju?" Sakura melirik kedua temannya.
"Aduh, Sakura. Kau ini sulit sekali dikasih pengertian, ya... " Ino menghela napas pasrah sambil memukul jidatnya sendiri.
"Bagaimana ini, Ino?" tanya Tenten sambil melirik teman pirangnya, meminta pendapat.
Keduanya hanya diam dan saling berpandangan. Sebenarnya mereka juga penasaran sama seperti Sakura, tapi ketakutan yang sudah ditanamkan bahwa hutan itu adalah tempat yang berbahaya menghalangi rasa keingintahuan mereka.
Melihat kedua temannya tak juga memberikan jawaban, Sakura mendengus. "Kalau kalian tak mau ikut juga tidak apa-apa. Aku akan pergi saja ke sana sendirian!" cetusnya.
"Eh? Mana bisa begitu? Baiklah, aku akan ikut!" kata Ino yang akhirnya mau ikut bersama Sakura, "lagipula aku mana mungkin membiarkanmu pergi ke tempat semacam itu sendirian!" ungkapnya yang peduli pada Sakura.
"Kalau begitu aku juga ikut!" sambar Tenten tak mau kalah.
"Nah, begitu dong!" Sakura tersenyum puas, "itu baru sahabatku!" ucapnya dengan senang.
"Jadi pulang sekolah nanti kita segera ke sana, dan hal ini hanya akan menjadi rahasia diantara kita bertiga saja, oke?" Tenten dan Ino mengangguk setuju.
Sepulang Sekolah seperti dengan apa yang sudah ketiganya sepakati. Mereka berkumpul di depan pintu gerbang sekolah, dan setelah itu dengan hati-hati Sakura, Ino dan Tenten pergi menyusup ke dalam semak-belukar bagian belakang sekolah yang merupakan jalan menuju ke hutan terlarang.
.
.
"Sakura, jalannya pelan-pelan sedikit!" gerutu Ino yang tertinggal di belakang bersama Tenten.
"Ah, kalian berdua ini lamban sekali!" dengus Sakura yang terpaksa harus berhenti dan menunggu kedua temannya yang masih bersusah-payah mendaki jalan terjal untuk menyusulnya.
"Kau saja yang jalannya terlalu cepat!" sambar Tenten yang merasa kesal, karena terkadang Sakura bisa menjadi sangat egois seperti sekarang ini.
"Kalian ini bagaimana? Sebentar lagi matahari akan tenggelam." Sakura memandang ke arah langit senja yang sedang menebarkan warnanya dengan begitu indah. Sebuah permata besar berwarna kemerahan sedang bersiap untuk turun dan digantikan dengan berlian malam.
"Kalau malam pasti akan sangat sulit mencarinya, jadi kita harus cepat," ucapnya yang kemudian lekas berbalik dan berlari kembali menelusuri semak-semak hutan. Ino dan Tenten yang sudah sampai di atas akhirnya ikut berlari mengejar Sakura.
.
.
Ketiga gadis itu menelusuri jalan setapak yang ada di hutan itu. Hembusan angin dingin mulai bertiup dan membelai kulit tipis mereka yang mulai merasa kedinginan.
"Sa-Sakura kita pulang saja sekarang," ucap Ino yang sudah gemetar dengan udara dingin yang menerpanya.
"Ino benar. Sebentar lagi malam dan udara di sini mulai terasa dingin," timpal Tenten sependapat dengan Ino. Kedua gadis itu berjalan di belakang Sakura sambil bergandengan tangan erat. Entah kenapa tiba-tiba saja firasat buruk menyelusup ke dalam benak mereka.
"Hah, baiklah... " Sakura mendesah kecewa. Sebenarnya dia masih ingin melanjutkan pencarian, tapi apa boleh buat. Sebentar lagi hari akan gelap dan udaranya pasti jadi lebih dingin daripada sekarang.
"Ayo kita pulang teman-te—" tepat ketika Sakura berbalik ke belakang, dia melihat sekelebatan bayangan besar melintas di atas kepalanya.
WUZZH!
Sekelebatan bayangan itu terlihat samar-samar. Bukan hanya Sakura yang melihatnya tapi Ino dan Tenten juga melihatnya. Tepat saat sosok tadi melintas, dedaunan di sekitarnya bergoyang karena terkena hembusan angin yang cukup besar.
"Ya-yang barusan itu tadi apa?" tanya Ino yang semakin menggigil karena hembusan angin tadi.
"Pastinya itu bukan burung. Karena tak ada burung yang sebesar itu," balas Tenten dengan perasaan takut.
"Sosok tadi pergi ke arah sana, ayo kita kita kejar!"
.
.
Sakura berlari secepat mungkin ke arah di mana sosok tadi terbang sambil berharap kalau sosok itu adalah sesuatu yang sedang dia cari saat ini. langkah kedua kakinya terus menelusuri jalan lurus ke depan dan menuntunnya ke sebuah telaga yang ada di hutan itu.
"A-aku tak percaya ini... " Manik emerald-nya menatap takjub dengan pemandangan yang ia lihat. Sungguh dia tak pernah menyangka kalau dibalik hutan yang konon katanya sangat berbahaya itu menyimpan sebuah keindahan alam yang luar biasa.
Sakura melangkah pelan masih dengan tatapan takjub. Tepat di depannya ada sebuah telaga berwarna biru yang mengeluarkan cahaya seperti berlian. Seakan-akan di dalam telaga itu terdapat ratusan bintang yang mengapung pada permukaan airnya. Di sekitar telaga itu terdapat semak-semak alami yang bercampur dengan bunga berwarna putih.
"Woaah... Indahnya... " Gumam Ino dengan tatapan mata berbinar, sementara Tenten sudah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan rasa takjubnya.
Tatapan Sakura mengabsen setiap keindahan alam yang terpampang di depannya. Sampai kedua bola matanya berhenti pada sesosok mahkluk yang sedang duduk di atas batu. Entah kenapa saat melihat sosok itu tubuhnya bergetar, ada rasa ngilu yang menusuk tulangnya. Sosok itu bukanlah sosok manusia karena perawakannya sangat tidak normal. Sosok itu berambut hitam tak beraturan sampai pada pundaknya, memiliki kulit tubuh yang sangat putih, kontras dengan suasana alam yang mulai menggelap. Pada belakang punggungnya jelas sekali terlihat ada sepasang sayap mirip kelelawar berwarna hitam, kedua tangannya juga memiliki cakar dan mata mahkluk itu berwarna merah menyala bagaikan api.
"Sa-Sakura... I-itu siapa?" Ino berbisik pelan pada Sakura. Tampaknya gadis itu juga menyadari keberadaan mahkluk tersebut.
"A-aku juga tidak tahu Ino... " balas Sakura dengan perasaan cemas.
"Lebih baik kita pergi dari sini," usul Tenten. Dengan langkah agak tergesa gadis itu lekas berbalik untuk cepat angkat kaki dari sana.
"Sakura, ayo pergi!" Ino menarik tangan Sakura yang masih tak bergeming.
"Hah!" Sakura tiba-tiba saja dibuat kaget karena sosok itu secara tak terduga menoleh ke arahnya. Mata merah sosok itu menatapnya dengan sangat tajam. Sosok itu kemudian berdiri dan mengembangkan sayapnya yang besar.
"Ga-gawat! Dia melihatku! Ayo cepat kita pergi!" panik akhirnya ketiga gadis itu berusaha untuk lari dari tempat tersebut.
TBC
A/N : Untuk yang menanyakan pair, saya akan sedikit menegaskan kalau kisah romance akan berputar disekitar SakuraSasukeHinata dan jadi jangan heran dengan slight pair yang ada. Semoga chapter satu ini suasana alurnya dapat lebih terasa.
