The Royale Game!
Game over! Seperti itulah kalimat yang kamu temui ketika kamu kalah dalam sebuah permainan.
Kamu bisa mengulangnya lagi atau bahka berhenti bermain dan melanjutkan aktivitasmu.
Tapi TIDAK jika kamu bermain permainan ini, ketika kamu menemukan kata 'game over', maka semuanya berakhir. Termasuk HIDUPMU...
Di bunuh atau Membunuh!
Cast: All Member SJ with Hangeng and Kibum
(note : maaf jika typo bertebaran, dan penempatan kata yang tidak sesuai.
Menerima komentar dan saran)
Chapter 2
"seperti apa itu data online?" Ucap Kibum.
"eh?" Ryeowook terlihat berpikir mendengar perkataan Kibum.
Sementara Kibum menatap Ryeowook dengan penuh rasa penasaran.
"Aku hanya.."
"Hei kalian, apa kalian berdua ingin tidur disini? Aku akan mematikan lampunya." Ujar Heechul memotong perkataan Ryeowook, ia sudah meletakan tangannya tepat di atas tombol stop kontak siap mematikan lampu ruangan tersebut.
"oh? Tunggu dulu tunggu dulu." Ryeowook segera berlari menuju pintu yang terhubung pada ruangan lain dari toko tersebut, tentu dia akan segera pergi, Ryeowook sangat takut dengan kegelapan, bahkan ia bisa menangis keras karena gelap.
Kibum berjalan mengikuti Ryeowook, dan Heechul mulai mematikan lampu ruangan tersebut.
Kibum membanting tubuhnya pada sofa coklat tua di ruangan lain toko roti itu, sepertinya ini adalah sebuah ruang keluarga, atau sekedar ruang untuk bersantai melepas penat mereka setelah bekerja seharian di toko roti.
Tidak ada televisi disini hanya ada sebuah radio tua, sebuah ruangan dengan dua buah sofa panjang dengan salah satu meja kayu kecil yang berada di antara ujung sofa berwarna cokelat tua tersebut.
Ruangan yang terlihat tua dengan sebuah dekorasi tradisional yang begitu klasik.
Abad berapa ini? Mengapa ruangan ini begitu? ketinggalan zaman? Ya mungkin kalimat itulah yang tepat untuk di lontarkan.
Kibum terus saja memperhatikan Ryeowook yang sibuk dengan sebuah buku kecil di tangannya.
Kibum seperti ingin berucap namun entah mengapa rasanya seperti tertahan karena tidak mau mengganggu aktivitas yang sedang Ryeowook lakukan.
"Aku sudah selesai menggunakan kamar mandi." Ujar Heechul yang tiba-tiba saja datang hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, tanpa menoleh ia langsung saja menaiki satu persatu anak tangga yang tepat berada pada ujung ruangan itu.
Mendengar itu Ryeowook segera menutup buku catatan kecil di tangannya dan mulai bangun dari duduknya.
"Hei Ryeowook-ssi? Kau mau kemana?" Kibum segera bangun dari duduknya karena melihat Ryeowook yang tiba-tiba saja berdiri.
"Aku akan mandi, apa kau mau menggunakan kamar mandinya?" jawab Ryeowook bingung.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Ujar Kibum parau.
"oh? Tapi sekarang aku sangat lelah, besok akan aku jawab nde." Ryeowook tersenyum simpul dan meninggalkan Kibum.
Kibum hanya bisa kembali menghela napas,ia menatap kotak hitam yang masih ia pegang sedari tadi.
"Kau membuatku penasaran." Gerutu Kibum.
Kini Kibum mulai menaiki satu persatu anak tangga di ujung ruangan tersebut, tepat setelah ia menginjak anak tangga terakhir, terlihat ruangan diatas sini jauh berbeda dengan ruangan tadi,
Kibum melirik sekilas Heechul yang tengah bersandar pada sofa panjang berwarna putih dengan ekspresi serius menatap layar televisi di hadapannya.
Kibum mulai membuka sebuah pintu yang menuju arah ruangan lain.
Ruangan yang dipenuhi dengan rak penuh buku, sebuah tempat tidur dan satu lemari kecil, juga sebuah komputer yang berada tepat di pojok tempat tidur itu berada.
Kibum menarik sebuah kursi yang terletak tepat di hadapan meja komputernya
"Benda macam apa ini sebenernya?" lagi-lagi tak bosan-bosannya Kibum menatap kotak hitam di tangannya, ia terus saja memutar-mutar kotak tersebut dan menatapnya intens.
ia mulai menarik sebuah knop laci kecil pada meja tersebut dan meletakan kotak hitam itu di dalamnya.
"sudahlah aku lelah." Kibum kembali menutup laci kecil tersebut, kedua tangannya ia lipat di atas meja dan ia gunakan sebagai tempat menaruh kepalanya.
Sepertinya hari ini begitu melelahkan untuknya.
Puk~
Sebuah tepukan mendarat tepat pada bahu kibum, membuat Kibum dengan malas mengangkat wajahnya dan mencoba menoleh melihat sosok yang mengganggunya.
"hah? Siapa kau?" seketika kursi Kibum terpundur, matanya terbelalak pada sosok dihadapannya.
"aku tertarik padamu." Sosok pria di hadapan Kibum itu seketika saja menyeringai penuh maksud.
"Kenapa kau bisa ada disini." Kibum terbangun dari duduknya, ia terlihat kesal pada sosok pria di hadapannya yang tiba-tiba saja mengganggunya malam-malam.
Tapi? Bagaimana bisa sosok pria ini masuk? Kamar ini hanya punya dua ventilasi kecil tanpa jendela, dan satu-satunya jalan masuk adalah melalui pintu utama, bahkan sosok pria tersebut begitu asing bagi Kibum.
Kibum terlihat kesal sekaligus bingung, sekilas ia melirik pintu kamarnya, tertutup itulah yang terlihat.
Pria tersebut terus berjalan mendekati Kibum, sementara langkah mundur Kibum tertahan oleh tembok di belakangnya.
"hhm.. baumu begitu segar, sepertinya kau memang orang yang tepat" Sosok pria itu mendekatkan wajahnya pada leher kibum dan mencium bau aroma Kibum disana.
Kibum yang sudah tak mampu bergerak kearah manapun mencoba mendorong pria dihadapannya dengan tatapan geram, namun belum sempat ia berhasil mendorongnya dengan cepat tangan pria dihadapannya itu sudah berada pada leher kibum, mencengkramnya erat dan secara perlahan mengangkat tubuh kibum hanya dengan satu tangannya.
Kibum mengayunkan kakinya mencoba untuk menendang sosok dihadapannya, tapi semakin kakinya berayun cengkraman di lehernya semakin kuat.
Mata Kibum semakin menyernyit, ia merasakan rasa perih menjalar pada lehernya, rasanya seperti sebuah benda tajam menusuk sampai tulang lehernya.
"Kau sudah masuk dalam permainanku cepat atau lambat." Nada yang terdengar datar keluar dari mulut pria berbaju hitam dihadapan Kibum.
Tanpa sadar sebuah cairan merah menetes pada lantai, semakin banyak tetesan demi tetesan terjatuh dari leher Kibum, membuat mata Kibum semakin berat dan gelap..
Seoul, 2 Desember 2020 07.00 KST
"Kibum? Kibum? KIBUUUUM!"
"hah?" Kibum terbangun, matanya tertuju pada bayangan dirinya pada layar komputer yang tidak menyala di hadapannya.
"Kalau kau lebih memilih tidur di meja komputer seperti ini untuk apa aku menyediakan tempat tidur itu untukmu." Gerutu Heechul dengan nada sinis seperti biasanya.
Namun Kibum sepertinya tidak memperdulikan ocehan Heechul, ia sibuk mengatur napasnya, napas yang tersenggal seperti telah melakukan lari maraton dengan ribuan meter begitupun dengan keringat yang mengalir di keningnya.
'Mimpi?' ia terus menatap wajahnya pada layar komputer di hadapannya.
"hah!" Kursi yang Kibum duduki terpundur beberapa centi setelah ia merasa terkejut dengan sosok wajah yang tiba-tiba saja datang dari arah kanannya, wajah dari orang yang begitu ia kenal, ya Heechul Kim Heechul, mungkin ia seperti merasa terabaikan oleh Kibum.
"Hei, kau mendengarku tidak Kim Kibum?" Heechul menatap Kibum kesal.
"Kau seperti setan hyung." Celetuk Kibum.
"cepatlah mandi, Ryeowook sepertinya sudah kehabisan bahan untuk membuat kue, kau harus kepasar." Ucap Heechul sambil berlalu meninggalkan Kibum yang masih sibuk mengatur derap jantungnya.
Kibum melihat sekilas jam yang terletak di dinding kamarnya, ia segera bangun dari duduknya dan mengambil handung yang berada di dalam lemarinya.
Matanya mebelalak saat ia melihat cermin yang menempel pada pintu lemarinya.
"apa ini?" tanganya menyentuh sesuatu yang terdapat pada lehernya, sebuah luka, ya seperti sebuah luka tusukan yang sudah mengering.
Kibum kembali berpikir, ia teringat kejadian semalam dengan sosok pria yang tidak ia kenal.
"ini bukan mimpi? Lalu?" pikirnya
"KIBUUUM, CEPATLAAH" Lagi-lagi teriakan itu terdengar, Kibum bergegas meninggalkan kamarnya, karna jika tidak? Tamatlah harinya dengan celetukan pedas seorang Kim Heechul.
The Royale Game...
Mata Kibum menatap menyeluruh pemandangan di sekitarnya, tangannya ia masukan pada saku mantel biru tua miliknya.
Ia menghela napas berharap rasa dingin ini berubah sedikit menghangat.
Putih, beberapa sudah terlihat putih karena salju, beginilah rasanya setiap awal musim dingin.
Kibum terus saja berjalan sampai langkahnya terhenti pada salah satu toko yang cukup besar disana.
"Selamat pagi tuan muda." Sebuah sambutan hangat berbalut tawa terlontar pada seorang pria tua menyambut kedangan Kibum dari balik pintu.
Kibum hanya tersenyum simpul melihat tingkah orang tua tersebut, ya setiap Kibum datang dia selalu bertingkah seperti itu, memanggil Kibum tuan muda dan kemudian tertawa.
"kau butuh berapa karung lagi?" ucap seorang wanita tua yang tiba-tiba saja dating dari samping Kibum.
"Ryeowook bilang dia meminta 4 karung tepung terigu, 3 karung tepung beras dan 10 mentega." Kibum membaca catatan kecil di tangannya.
"baik, tunggu sebentar." Wanita tua bertubuh gempal itupun pergi meninggalkan Kibum.
Tempat ini memang selalu ia kunjungi hampir setiap saat, namun baginya tidak pernah bosan untuk melihat menyeluruh setiap sudut ruangan toko ini, meski setiap mata memandang kamu hanya akan disuguhi dengan bertong-tong tepung, beras dan semua perlengkapan memasak dan membuat kue.
Kibum terpaku tepat dihadapan jendela toko tersebut, matanya menyipit menegaskan sosok seseorang di luar jendela.
Kibum mulai mendekati jendela yang cukup besar di toko tersebut, mencoba mempertegas seseorang di ujung sana.
'dia?'
"semuanya sudah dikirim, tinggal pembayarannya." Sosok wanita tua itu menepuk bahu Kibum yang tengah sibuk menegaskan seseorang.
"ah? Baiklah semuanya berapa?" Kibum menoleh dan mulai merogoh uang di sakunya.
"semuanya 300 won." Ucap ibu tua.
Kibum segera menghitung uangnya dan pas semuanya adalah 300 won, Kibum memberikan uang di tangannya dan mulai kembali mengalihkan pandangannya kearah luar jendela.
'kemana dia?' Kibum terlihat bingung karena sosok yang ia lihat tadi menghilang begitu saja.
"masih ada yang harus di beli?" Kibum terkejut dengan tepukan pelan yang mendarat pada pundaknya.
"Tidak ahjuma, Gamsa nde." Kibum tersenyum simpul pada sosok ibu tua dihadapannya dan mulai keluar meninggalkan toko tersebut.
Ia masih menatap bingug sosok yang ia lihat, ia seperti mengenalnya namun entah dimana.
Dengan rasa penasarannya ia mencoba menghampiri tempat dimana ia melihat sosok pria tadi.
Terlihat disana adalah sebuah toko kecil dengan kaca yang cukup besar dan sebuah pintu kaca yng membuatnya bias terlihat jelas dari luar.
Kibum membuka pintu toko tersebu, matanya melihat menyeluruh kesetiap sudut ruangan seperti mencoba menemukan sesuatu atau seseorang mungkin.
"ada yang bias saya bantu tuan?" seorang pria berkacamata di balik sebuah rak kaca panjang terlihat tersenyum hangat kepada Kibum, Kibum pun membalas senyuman itu dan mulai menghampiri pria berkacamata tersebut.
Kibum terlihat sedikit terkejut melihat sesuatu yang terpajang di dalam rak kaca tersebut.
"itu adalah kotak yang berisi game online, kamu menyukai sebuah permainan yang menantang?" ucap pria berkacamata itu dengan nada yang lembut, dan tetap dengan senyum hangatnya.
"apa ini di jual?" ucap Kibum penasaran.
"Tentu, tapi sepertinya kamu sudah mempunyainya." Ujar pria berkacamata tersebut dan masih tetap dengan sebuah senyuman hangat terselip dari ucapannya.
Sementara Kibum terlihat bingung dengan ucapan pria di hadapannya.
"Aku pikir kau memang orang yang tepat." Pria berkacamata itu menatap Kibum intens, tapi masih dengan sebuah senyuman hangat.
'orang yang tepat?' kalimat itu seperti masih saja terngiang di kepalanya.
Kibum membungkuk sebentar dan langsung saja keluar dari toko tersebut tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
The Royale Game...
Kibum tergesa-gesa membuka sebuah pintu dan mulai memasuki ruangan di dalamnya.
"Ryeowook, jelaskan aku tentang game online itu sekarang." Kibum menatap Ryeowook dengan tatapan yang cukup mengerikan ketika ia sedang seserius itu.
"Game online? Tapi aku sedang bekerja sekarang." Ryeowook terlihat bingung dengan sikap Kibum dan tiba-tiba saja dating ke dapur dengan ekspresi seperti itu.
"Oh? Kibum kau sudah pulang? Tadi ada yang mencarimu." Heechul tiba-tiba saja datang membawa sebuah nampan kosong kedalam dapur tersebut dan kemudian kembali meninggalkan Kibum dan Ryeowook ketika nampan di tangannya terisi penuh oleh kue yng ia ambil disana.
"setelah ini aku berjanji akan menjelaskan game online itu padamu." Ryeowook melepas tangan Kibum dari nampan yang ia pegang.
TBC..
Di runggu reviewnya ya say :3
