Kembali di publish, walau ga ada yang Review, tetap ganbatte!
Disclaimer : Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Warning : Maybe OOC, Typos, OC Gareeng, bahasa baku dan tidak baku (mungkin ada percakapan lu-gue).
Oh ya, Reiner dan Bertolt di flashback itu pas kira-kira mereka umur 9 tahunan. Flashback lain akan dijelaskan. Marcel itu siapa? Sinonimnya (?), ya, Berwick.
Chapter 2 : Terror... From Titan... Ymir?!
.
.
.
.
.
.
"Hutannya banyak banget!" ujar Reiner sambil mengusap lengannya yang kemarin disuntik.
"Namanya juga pedesaan!" ujar Bertolt sambil membatin, 'Reiner, kau itu seperti kacang lupa pete, (?)'. Bertolt, mabukkah kau?
"Ya, gapura desa sudah terlihat!" ujar Marcel.
"Berapa jauh lagi?" tanya Reiner.
"50... Km!" ujar Marcel membuat Reiner dan Bertolt terpeleset genangan air becek dan... (lanjutkan sendiri).
"Baka! Itu masih jauh!" sahut Reiner.
"Yang penting udah keliatan," ucap Marcel enteng.
"Ah! Ayo jalan terus!" timpal Bertolt sambil menarik kerah Marcel dan Reiner.
"Oy! Lepasin! Mentang-mentang tinggimu sama dengan tiang bendera desa, kau emang bisa nyeret kami?" sahut Reiner.
"Aku pasrah saja pada tiang bendera super raksasa ini," ucap Marcel.
"Lagian, aku lebih bero-" belum selesai Reiner bicara, Bertolt sudah melempar Reiner jauh-jauh ke angkasa.
"Tak kusangka, Reiner yang berotot dapat di lempar jauh-jauh oleh Bertolt yang kurus ke-" dan Marcel pun menyusul Reiner.
"Aku ndak kurus kering!" sahut Bertolt kesal.
"Ah!" Marcel langsung nyungsep ke tanah dengan posisi jongkok, sedangkan Reiner? Tengkurap.
"Duh... Keseleooo!" teriak Reiner.
"Hahaha, rasain berotot!" sahut Bertolt sambil tertawa keras-keras. Langsung Marcel menutup mulut Bertolt.
"Ada apa, Marcel?" tanya Reiner.
"Ada raksasa yang membuntuti kita!" jawab Marcel. Reiner merinding sambil pasang muka pucat. Bertolt pening tujuh keliling karena ia kira titan yang membuntuti mereka 7 meter (dan emang bener) dan abnormal.
"Mari lanjutkan perjalanan!" ucap Bertolt memecah keheningan dan menggelitik Marcel. Mereka segera melanjutkan perjalanan sambil menahan tawa.
Flashback off
"Aku masih inget soal tengkurep itu," ujar Reiner terkekeh.
"Ya, kakimu yang keseleo, bukan badanmu, selain itu, kau masih kecil entah kenapa sudah berotot," ucap Bertolt sambil tertawa pelan.
"Mungkin kau belum kenal ayahku ya?" tanya Reiner. Bertolt menggeleng.
"Akan kuceritakan," ujar Reiner lagi.
Flashback
"Ayah!" bocah pirang bernama Reiner Braun berlari ke tempat ayahnya berada untuk menemui ayahnya (tentunya).
"Ah, Reiner. Ada apa, Nak?" tanya Mr. Braun, ayah bocah berumur 7 tahun tersebut.
"Malam ini pulang kerumah ya!"
"Kenapa?"
"Aku akan masak makan malam, Yah! Pulang ya! Aku buatkan yang spesial untuk ayah!"
"Wah, yang benar? Kalau begitu, ayah janji akan pulang walau telat!"
"Braun! Sudah siap?" tanya seorang yang bersurai pirang kecoklatan bernama Pierre Braun.
"Paman!" sahut Reiner ingin memeluk. Pierre langsung menghindar.
"Pierre, dia itu keponakanmu, kau tidak boleh seperti itu," ujar Braun, ayah Reiner yang memeluk Reiner karena Reiner menangis.
"Cih, terserahlah," gumam Pierre tidak peduli.
"Braun! Ayo pergi! Reiner! Sampaikan salam khas ayah ke Bertolt!" sahut seorang berambut hitam yang bernama Mr. Hoover. Reiner dan ayahnya mengangguk bersama-sama. Lalu mereka pergi ke arah berlawanan.
Flashback off
"Lalu aku tidak menyadari itu pertemuan dan perbincangan terakhirku dengan ayahku... Ayahmu mengatakan kalau ayahku di makan raksasa 7 meter yang sifatnya kelewat abnormal. Sekarang, aku yakin kalau itu Titan Shifter seperti Eren,"
Flashback
Reiner kecil setia menunggu ayahnya di (semacam) trotoar desa. Ia selalu curi pandang kapan ayahnya datang.
"Pasukan Penyerang datang!" umum seseorang yang berada di dekat gapura desa. Reiner langsung tersenyum lebar. Ayahnya mungkin akan merasakan yang namanya sup ayam keasinan buatannya.
Ia segera mencari dimana ayahnya. Pamannya? Ah, dia tak peduli. Ia lalu menabrak seseorang.
"Maaf pak!" ucap Reiner. Orang itu terkejut, lalu raut wajahnya menjadi sedih.
"Reiner, tak usah minta maaf," ucap orang itu. Ternyata Mr. Hoover.
"Ayahnya Bertolt? Dimana ayah?" tanya Reiner penasaran.
"Ini Reiner," jawab Hoover sambil menyerahkan sesuatu ke Reiner. Reiner membukanya. Ia langsung histeris.
"Ayah! Ayah! Ayah! Ayah sudah janji kan!?" tangis Reiner. Ia tak kuasa menahan air mata. Air matanya tumpah begitu saja. Orang-orang menatapnya iba, kecuali pamannya.
"Ayah... Ayah..." tangis Reiner. Nafasnya sesak. Ia menatap apa yang ia pegang. Tangan ayahnya, hanya itu yang tersisa.
Reiner kecil pun pulang ke rumah dengan pundung. Ia membawa benda itu.
"Aku pulang," ujar Reiner sambil membuka pintu.
"Selamat datang, mana ayah?" tanya ibunya yang tengah mencuci piring.
"Di meja," jawab Reiner singkat. Mrs. Braun berbalik. Ia terkejut. Ia menemukan anak semata wayangnya tengah menangis sambil memasang muka pucat pasi.
"Di meja? Atau dimana?" tanya Mrs. Braun, mukanya memucat ketika ia membuka kain putih yang ada di atas meja.
"Ini... Tangan siapa, Rein?" tanya Mrs. Braun hampir meneteskan air mata.
"Ta-Tangan... Tangan Ayah!" jawab Reiner sambil menangis sejadi-jadinya.
"Ayaaaaaaaah!" teriak Mrs. Braun histeris. Ia banjir air mata.
Flashback off
"Begitulah, Titan yang ku rasa sama dengan titan yang memakan Marcel," ucap Reiner berlinang air mata.
"Ibu ku?" tanya Bertolt.
Reiner menggeleng, "Aku hanya tak ingin lebih banyak kesedihan merajalela, Bertl,"
"Lebih baik kita ingat saat kita berjalan baru 1/5 km dari situ ke desa," ucap Reiner. Bertolt mengangguk.
Flashback
"Lebih baik kita istirahat!" ucap Reiner.
"Tidak bisa! Ada raksasa mengejar kita!" sahut Marcel.
"Maka mari jalan cepat," ujar Reiner.
"Enggak ah. Nanti tambah capek," kata Bertolt. Marcel mengangguk setuju. Reiner hanya menghela nafas panjang.
"Aa!" sahut Marcel sambil berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Reiner dan Bertolt juga ikut menoleh ke belakang.
Ada...
To be Continued
Bisa ditebak bukan? Tapi, mungkin akan berubah apa yang dimaksud dengan objek itu.
Arigatou to read! RnR?
AK
