Chapter 2
"Shadow Rally"
Di dalam sebuah ruangan luas yang bernuansa pastel, Narumi-sensei berdiri di dekat jendela. Kamar itu sampai sekarang masih belum berubah. Masih saja berkesan hangat dan nyaman.
"Aah, jadi begitu? Baguslah.." kata Narumi-sensei sambil menelepon. Dia memutar-mutar kabel telepon sampai berbentuk spiral(sudah dari sananya, sih…). "Oh, ya? Ahahahahaha..! Sudah kuduga, dia memang…"
Pembicaraannya teralih ketika dia melihat tiga orang anak berlari dengan tergesa-gesa. Itu… Ichigo-kun, kan? Kenapa dia dan Ayumu-kun…
"Narumi-sensei? Ada apa?" Suara dari seberang telepon menyadarkannya.
"Hm? Aah, maaf, aku tadi tidak memperhatikan. Apa tadi?"
"Kemana dia dibawa?" tanyaku keras.
"Ke belokan sebelah kanan ini!" jawabnya. Kami semua terengah-engah, aku tahu. Aku berbelok tajam ke arah gang itu. Tapi kemudian kami hanya terdiam. A…Apa maksudnya ini…?!
Beberapa meter dari kami, sebuah tembok bata berdiri dengan kokohnya. Buntu. Tidak ada jalan lain di sekitar situ.
"Jalan buntu…" Ayumu mendesah. Aku menggeram. Tiba-tiba aku mendapatkan sebuah ide. Aku berjalan mendekati tembok itu, dan menyentuh dindingnya yang dingin dengan salah satu telapak tanganku.
"Ichigo…?" Ayumu masih memandangku keheranan. Aku mengisyaratkan supaya dia diam, lalu mulai berkonsentrasi. Aku memejamkan mata. Beratus-ratus deretan angka dan huruf muncul di bayanganku yang gelap. Terus dan terus, mereka berjalan naik dengan cepat. Aku mulai berkeringat. Ternyata yang kali ini cukup sulit… mungkin ini berarti kalau aku kurang latihan selama ini…
Lalu muncul sebuah gelombang aneh merambat dari telapak tangan hingga ke ujung kaki dan kepalaku. Inilah tandanya. Tanganku mulai terhisap masuk ke dalam tembok bata itu.
"I-Ichigo…!!" Ayumu berlari dan hendak menarik tanganku, tapi aku mendorongnya.
"Jangan terlalu dekat!" kataku keras. "Aku hanya bisa membukanya untuk satu orang saja. Karena itu…"
"Tapi kalau begitu, kamu bisa..!" dia menggelengkan kepalanya keras. Sepertinya dia serius. "Ini aneh sekali.. Ichigo!!"
Setengah badanku sudah terserap masuk. Rasanya aneh. Setengah badanku merasa dingin, sementara yang lainnya biasa-biasa saja. Aku teringat sesuatu. Ada suatu hal penting yang kulupakan.
"Ayumu!" Dia menaikkan kepalanya. Aku memandangnya lekat-lekat. "Bagaimanapun juga, jangan beritahu siapapun tentang hal ini, khususnya guru! Aku tidak ingin kalau ini nantinya akan menghambat acara penting nanti malam, mengerti?"
"I..Ichigo…" Aku tersenyum sekilas padanya sebelum seluruh badanku terserap masuk. Begitu masuk, sayup-sayup aku mendengar suara Ayumu yang masih memanggil namaku. Aku berusaha mengacuhkannya, dan fokus pada apa yang ada di hadapanku sekarang. Aku merasa jatuh, seperti terjun dari perosotan raksasa yang panjang dan tidak berakhir. Yang ada di sekelilingku hanyalah kegelapan. Rentetan huruf-huruf aneh yang bersinar hijau membentuk spiral melingkari badanku, seolah-olah membuat sebuah jalur khusus untukku.
"Hmm…," seorang pria misterius melihat ke arah monitor yang bersinar kebiruan di hadapannya. Lampu di ruangan itu sengaja dimatikannya sehingga ruangan itu menjadi gelap. Kedua anting yang bergantung di telinganya berkilat keperakan.
Dia meletakkan jari telunjuknya di antara bibirnya. "Ternyata masalah tembok itu cukup rumit baginya. Aku penasaran… Untuk yang berikutnya ini, kira-kira sejauh apa yang bisa dia lakukan, yaa?"
Ayumu terdiam, memandangi telapak tangannya sendiri dengan serius. Bel masuk sekolah baru akan berbunyi beberapa menit lagi. Dia terduduk di kursinya, menunduk. Pikirannya berkecamuk. Yang kulakukan ini… benarkah…?
"Mana Ichigo? Tumben kamu tidak bersamanya seperti saat ini," sebuah suara mengejutkannya. Ayumu menoleh cepat. Noelle berdiri diam di sana. Mielle yang tadinya berdiri di belakangnya, melompat keluar dengan riang. "Wao!"
Ayumu memandang Noelle dengan sedikit berkeringat. Mata gadis itu yang berwarna abu-abu gelap, hanya menatapnya dengan dingin. Suasana tegang, kecuali Mielle yang terus-terusan bertanya, "Hah? Ada apa, sih? Ada apa, sih?" dengan wajah polosnya yang kadang-kadang bikin jengkel.
"Uh," Ayumu memalingkan mukanya. "Ini bukan urusanmu…"
"Heeh? Ada apa denganmu? Kamu kasar sekali!" Mielle mengomel meski tidak tahu apa yang terjadi.
"Aku melihatnya, apa yang terjadi antara Ichigo dan kamu di gang buntu sebelah situ." Kata Noelle lagi.
Ayumu terlihat terkejut, tapi dia hanya memejamkan matanya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya itu.
Sementara itu, Mielle meletakkan tangannya di pipinya yang memerah. "A..A.. Aku tidak tahu kalau kalian… homo…!!" Lalu dia menggelengkan kepalanya dengan keras. "Ini berita besar! Aku harus segera memberitahukannya pada seluruh--!!"
Tapi Noelle menarik kerah baju belakang saudaranya yang lemot itu sehingga dia tidak bisa bergerak kemana-mana. "Jadi," kata Noelle tanpa memperhatikan omelan saudara di belakangnya. "Apa yang akan kau lakukan?"
Ayumu memperhatikannya sebentar. Lalu dia mendesah putus asa. "Aku… tidak tahu. Kalau aku memberitahukan Narumi-sensei atau guru lainnya tentang hal ini… maka Ichigo pasti akan sangat marah.. Tapi kalau aku tidak mencari bantuan… Ichigo…"
Ayumu menunduk lagi.
Noelle memandangi temannya yang kadang-kadang merepotkan ini. Dia mendesah panjang. "Terserah kamu saja."
Ayumu menoleh dengan terkejut. Dia sempat berpikir bahwa Noelle mungkin akan mengatakan sesuatu yang dapat menyemangatinya, tapi sayangnya tidak. Sekarang gadis itu berjalan menjauh.
Noelle berhenti sebentar. "Apakah kamu akan meminta bantuan dan pergi kesana, meskipun itu juga berarti Ichigo mungkin akan membencimu karena melanggar perkataannya. Atau kamu hanya akan diam di sini, menunggu kabar yang tidak jelas dari Ichigo, mungkin dia bertahan mungkin tidak. Semuanya tergantung pada keputusanmu."
Ayumu tercengang sejenak. Noelle hanya menatapnya yang masih duduk di belakangnya. Sekarang ini, dalam benak Ayumu, hanya ada bayangan tentang Ichigo.
Dia ingat, ketika itu mereka masih kelas tiga di akademi itu. Mereka berdua sudah menjadi teman semenjak saat itu. Pertemuan pertama mereka mungkin tidak terasa spesial bagi Ichigo, tapi bagi Ayumu. Ayumu yang selalu minder dan tidak banyak bicara, belum mempunyai teman sebanyak sekarang ini. Dulu, yang disebutnya sebagai "teman" itu hanya akan berjalan bersamanya apabila mendekati masa-masa ujian. Mereka akan selalu bersikap baik dengannya, supaya Ayumu mau memberi mereka "bantuan" ketika ujian berlangsung.
"Ayumu-kun, sebentar lagi kan kita ujian. Nanti beritahu kita jawabannya ya… Kita kan teman!" kata salah seorang dari gerombolan anak-anak yang mengerumuni Ayumu.
Sejujurnya, Ayumu sangat benci dengan keadaan seperti ini. Dia tidak tahu akan berkata apa. Dia hanya menunduk. Sementara salah satu anak perempuan dari gerombolan itu mendekatinya, dengan tingkah yang dipalsukan. "Ayumu-kun, kamu tidak apa-apa?"
"A-ah… itu… Aku…" Ayumu menelan ludah. Dia benar-benar merasa bingung sekarang.
"Hoi kalian! Apa yang sedang kalian lakukan di situ?" Sebuah suara asing yang terkesan agak dingin tiba-tiba muncul. Gerombolan anak-anak itu langsung terkuak, membuat semacam jalan yang tidak terlihat. Ayumu dapat melihatnya, sosok anak laki-laki yang misterius itu. Beberapa anak berbisik-bisik, dan tidak sengaja didengar oleh Ayumu.
"Dia kan… Hyuuga Ichigo! Kudengar kemarin dia berhasil mengalahkan senior kita yang kelas 1 SMP.."
"Minami-senpai itu…?!" kata yang lain sedikit tidak percaya. "Padahal Minami-senpai kan anak berandal yang paling kuat di kelas 1…"
Dan sekarang, anak yang sedang mereka bicarakan itu berjalan dengan acuh di antara mereka, ke arah Ayumu yang berada di ujung. Lalu anak itu berhenti. Ayumu masih ingat ketika sepasang mata yang berlainan warna itu menatapnya. Warna merah menyala yang seolah akan membakar apapun yang ada di jalannya, dan warna coklat yang –entah bagaimana—menenangkan. Ayumu sendiri bingung akan apa yang dirasakannya saat itu.
Tiba-tiba anak itu berkata dengan dingin. "Ayo ikut aku."
Lalu anak itu berjalan pergi. Seperti ada sesuatu yang menghipnotisnya, Ayumu berjalan pelan mengikuti anak itu. Di belakang mereka, gerombolan anak-anak itu mulai bubar dengan jengkel.
Tapi Ayumu tidak bisa merasa lega sekarang, karena dia sedang dibawa oleh anak paling mengerikan dan terkejam yang terkenal itu! Akhirnya mereka berhenti di pinggiran sungai di dalam hutan barat yang juga terkenal angker itu.
"A…Anu… Sebenarnya ada apa memanggilku ke sini?" Ayumu memberanikan diri, meski sekarang kakinya bergetar.
Anak itu mengambil sesuatu dari sela-sela akar pohon, dan memberikan salah satunya pada Ayumu.
Ayumu hanya bengong saja sambil memegangi tongkat pancingnya dengan linglung. Lalu (akhirnya) dia tersadar akan apa yang dilakukannya saat ini. Dia berdiri, membuat tongkat pancingnya terjatuh. "A…Apa maksudmu dengan semua ini? Pertama kau memanggilku ke sini, lalu sekarang memancing… Apa tujuanmu…?"
Anak itu memandanginya. "Bukan apa-apa," jawabnya pada akhirnya. "Aku cuma berpikir, daripada kamu membuang-buang waktu dengan mereka, lebih baik kalau kau bersantai sejenak sebelum ujian atau otakmu yang encer itu akan membatu."
Mendengarnya, Ayumu tercengang. Anak itu berdiri, membereskan alat pancingnya dan Ayumu, menyimpannya lagi ke sela-sela akar pohon dan berjalan pergi, meninggalkan Ayumu yang masih terdiam di sana. Setelah beberapa langkah, dia menoleh, dan menatap Ayumu dengan sebelah matanya yang berwarna coklat.
"Sebetulnya ini tempat rahasiaku, tapi kamu boleh datang kesini kapan saja. Ah, alat pancing selalu kuletakkan di situ, kalau kamu mau pakai." Katanya datar. "Sudahan ya."
Pada detik itu juga, Ayumu yakin. Meskipun Ichigo, si anak misterius itu, tidak dapat mengatakannya dengan baik, tapi Ayumu tahu bahwa dia sengaja datang dan membawanya keluar agar dia tidak dimanfaatkan oleh anak-anak itu lebih jauh lagi. Saat itu, sepoi angin yang terasa menyenangkan, yang belum pernah dirasakannya sebelumnya, berhembus dengan lembut menyapu rambut dan bayangan anak itu.
Keesokan harinya, seusai ujian, Ayumu berdiri di depan pintu kelas Ichigo, yang kebetulan bersebelahan dengan kelasnya, dengan sembunyi-sembunyi. Hari ini dia telah berhasil mengalahkan anak-anak itu dengan tidak memberikan contekan pada mereka. Sekarang mereka memusuhinya, tapi dia merasa benar-benar lega. Hari ini kedatangannya untuk mengucapkan terima kasih, tapi dia masih merasa canggung.
Tanpa disangkanya, Ichigo keluar dari kelasnya dan langsung berdiri berhadapan dengannya. Mereka sama-sama terkejut. Ichigo berdiri diam, Sementara Ayumu kelabakan sendiri. "A…Anu… Aku mau… kemarin…" Setelah beberapa saat, akhirnya Ayumu berhasil menguasai dirinya lagi. "Selamat pagi, Ichigo-kun."
Sejenak Ichigo memandangnya tidak percaya, tapi dia langsung mengubah ekspresinya. "Yo, pagi." Dia tersenyum simpul. Ichigo berjalan beberapa langkah melewati Ayumu. Ayumu sempat berpikir bahwa sia-sia saja kedatangannya ini. Tapi Ichigo berhenti.
"Aku mau pergi ke hutan lagi, kalau kamu mau tahu. Terserah, kamu mau ikut atau tidak."
Ayumu memejamkan matanya. Kata-kata yang dingin tapi membuatnya terasa hangat. Dia berputar sambil tersenyum lebar, mengikuti langkah kaki Ichigo. "Heeh? Padahal kan besok masih ujian. Kamu tidak pernah belajar, ya?"
"B'risik, ah." Jawab Ichigo merengut. "Rencanaku hari ini: ujian, ke hutan, tidur, bel masuk langsung balik ke sini, tidur di kelas, pulang ke hutan, dan seterusnya."
"Hehehe… Dasar Ichigo!"
Mereka bertatapan sejenak. Tapi kali ini tidak dipenuhi kecanggungan seperti dulu. Mereka tersenyum sambil menatap satu sama lain, dan berjalan pergi berdampingan. Sejak hari itu, kami…
Ayumu bangkit dari duduknya, membuat Noelle sedikit terkejut. "Noelle-san, Mielle-san! Bersediakah kalian membantuku untuk menolong Ichigo?"
Pandangan mata Ayumu berubah menjadi lebih keras. Noelle diam sejenak, lalu tersenyum.
"Tenang saja! Nogimai sisters siap membantumu!" Mielle mengacungkan kedua jarinya membentuk 'V'.
"Terima kasih." Ayumu tersenyum senang. Dia memandang keluar jendela, menerawang jauh. Tunggu Ichigo… Aku akan datang!
Di kegelapan, akhirnya kakiku menapak sebuah dataran yang keras dan licin. Aku berusaha mendaratkan tubuhku dengan baik supaya tidak menabraknya, dan membuat kakiku sakit. Tiba-tiba di sebelah kanan dan kiriku, obor yang semula padam dan tak terlihat karena gelap, menyala terang dengan apinya yang berwarna merah. "Uh!" Aku menyipitkan mataku yang silau. Setelah dapat membiasakan diri, aku dapat melihat sesosok laki-laki yang berusia sekitar 15-17 tahun, berdiri 10 meter dariku.
Bahkan dari jauhpun, aku bisa melihat seringainya yang menjengkelkan. "Selamat datang, Ichigo Hyuuga."
"Apa ini? Aku tidak tahu kalau aku begini terkenal." Ejekku. Lalu seorang lagi keluar dan berdiri berdampingan dengan lelaki sebelumnya. Dua wajah yang familiar. Aku pernah melihat mereka sebelumnya…
Aku mendengar suara aneh jauh dari belakang mereka, semakin mendekat. Terdengar seperti langkah-langkah kecil yang berjumlah sangat banyak. Aku memperhatikan dengan seksama. Ratusan boneka rusak berjalan aneh dan berhenti di belakang salah satu dari dua lelaki itu.
Salah satu dari mereka itu tersenyum lebar seperti kehilangan akal. "Bersiaplah, Hyuuga Ichigo!"
Aku mendecak, berusaha tidak terlihat gugup. Lalu aku memundurkan kaki kiriku, memasang ancang-ancang.
Sementara itu, di sebuah ruangan yang gelap, Melona merasakan sesuatu yang aneh. Dia menoleh ke belakang dengan raut wajah khawatir. "Kakak…"
To be continued
