YOUR BODYGUARD

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Naruto x Hinata slight Kiba x Hinata, Naruto x Sakura

Genre: Romance/Fluff

A/N: Typo(s), OOC, Bold (Flashback) dan semua kesalahan yang tidak disengaja lainnya.

DON'T LIKE DON'T READ!

Nia Present

.

Hinata turun dari mobil sang Bodyguard, gadis itu melihat sang Bodyguard ikut turun. Hinata mengisyaratkan pada Naruto untuk mengikutinya masuk ke Rumah Sakit. Naruto menengadah memperhatikan Rumah Sakit di depannya, pemuda itu tersenyum lalu melangkahkan kaki, mengikuti sang Hime.

"Ohayou..." Sapa rekan-rekan sang itu dengan ramah.

"Ohayou mo minna..." Hinata balas menyapa, "tolong siapkan ruangan ya, aku sudah punya pasien pagi ini," bisik Hinata pada gadis berambut pirang dengan name tag Ino. Hinata pun berlalu, lalu diikuti Naruto. Hal itu jelas saja membuat rekan-rekan kerjanya melongo, seorang pemuda tampan baru saja berjalan melewati mereka.

"A-apa itu pasiennya? Keren sekali..." Ucap Ino tanpa sadar dengan wajah berbinar.

"Hu'uh, sexy juga..." Timpal temannya yang lain.

.

.

"Duduklah," perintah Hinata yang kini sudah memakai jas Dokternya, dan rambutnya yang panjang telah terikat rapi dengan ikat rambut berwarna biru cerah. "Di daerah mana lukamu?" Tanya Hinata yang kini melihat sang Bodyguard sudah duduk dengan manis di kasur pasien.

"Aku buka baju, tidak masalah'kan?" Tanya Naruto meminta ijin.

"Ya, bukalah," jawab Hinata santai, padahal yang terjadi berikutnya akan membuatnya susah bernafas karena melihat betapa bagusnya badan sang Pemuda.

Tanpa diperintah dua kali, Naruto langsung membuka kaosnya, lalu pemuda itu langsung sedikit berbalik, untuk memperlihatkan dimana letak lukanya. Dibawah pundak sebelah kiri.

Hinata yang sempat terpana dengan dada bidang di depannya langsung terkejut ketika melihat ada luka yang ditutupi kain kasa di bawah pundak sang Bodyguard. Hinata langsung memeriksanya.

"Luka apa ini?" Tanya Hinata yang baru melihat luka seperti ini.

"Luka tembak."

Tangan Hinata yang sedang membersihkan luka Naruto terhenti beberapa detik. "Memang seperti ini ya kerjanya seorang bodyguard?" Tanya Hinata lalu mulai menjahit luka Naruto.

Naruto tersenyum, seorang bodyguard? Ah, Kakashi-san tidak memberitahukan identitasnya ya. "Ya, seperti inilah pekerjaan seorang Bodyguard," jawab Naruto. "Bodyguard Negara," lanjutnya dalam hati. "Oh ya, boleh aku bertanya?"

"Ck, kau selalu saja bicara 'bolehkah aku bertanya?'" Ucap Hinata sebal. "Bertanya ya bertanya saja, gampang'kan?"

"Iya, iya, maaf Hime."

"Panggil aku Hinata saja, jangan Hime."

"Kenapa kau kabur dari pernikahanmu kemarin?" Tanya Naruto menghiraukan permintaan Hinata.

Hinata memasangkan kain kasa di luka Naruto yang sudah dijahit olehnya, "kau tahu darimana? Otousama bahkan sudah menyuruh semua media tidak menulis artikel soal batalnya pernikahanku. Kau tahu dari mana?" Tanya Hinata aneh, karena kaburnya dia dari pernikahan adalah rahasia tak ada satu media atau keluarganya yang membocorkan hal itu.

"Neji-san yang mengatakannya," ucap Naruto berbohong dan kembali mengenakan kaos merahnya.

Neji? Apa benar kakaknya mengatakan hal memalukan ini? Ah sudahlah, "lukamu harus dibersihkan setiap hari, dan jahitanmu bisa dibuka seminggu lagi," ucap Hinata lalu membersihkan tangannya, tidak menjawab pertanyaan sang Bodyguard. "Karena setiap hari kau bersamaku, aku yang akan membersihkan lukamu," lanjut Hinata lagi. "Aku harus bekerja, kau pulanglah, kau bisa ke sini lagi nanti sore, ok?"

Naruto tak menjawab, pemuda itu hanya fokus bagaimana Hinata dengan pakaian dokternya, bagaimana Hinata bicara panjang lebar menjelaskan obat untuknya dan bagaimana Hinata meninggalkannya. Gadis itu terlihat menghampiri pasien UGD yang baru saja tiba dengan mulut berdarah. Sikap sigapnya sang gadis menangani pasien tersebut, dan intruksi-intruksi gadis itu pada rekan-rekan kerjanya membuat Naruto tak bisa berpaling.

"Cantik Sekali..."

.

.

Mobil sedan Naruto berhenti di halaman rumahnya, pemuda itu terdiam ketika melihat seorang gadis sedang duduk ditangga teras rumahnya. Naruto melirik HP-nya, oh tidak... Ternyata ada 3 panggilan masuk sedari tadi ternyata. Membuka sabuk pengamannya, pemuda itu pun turun. Dia melihat sang gadis berdiri, menatapnya.

"Sakura-chan sudah lama di sini?" Tanya Naruto bingung.

Sakura melihat jam tangannya, lalu tersenyum kecut, "sepertinya begitu."

Naruto menghembuskan nafasnya, "ayo masuk, di sini dingin. Apa kau sudah makan malam?" Tanya Naruto sambil membuka kunci pintu rumahnya. Baru saja Naruto membuka pintu rumahnya, sebuah pelukan dirasakannya. Tangan sang gadis melingkar dipinggangnya.

.

.

"Bagaimana Nee rasanya dijaga oleh cowok gagah dan ganteng seharian ini?" Tanya Hanabi penasaran saat sang kakak telah selesai mengganti pakaian dengan piyama berwarna pink.

Hinata duduk di King Size-nya berhadapan dengan sang adik, gadis itu menopang dagu seolah-olah berpikir. " Bagaimana ya?"

"Ih.. Neechan ya, tinggal jawab saja kenapa susah sih?" Protes Hanabi dengan bibir dimanyunkan.

"Rasanya seperti punya ekor, kemana-mana diikuti terus," jawab Hinata.

"Memang selain ke Rumah Sakit, Nee pergi ke mana?"

"Tadi Neechan ada kunjungan ke rumah pasien, ya jadi dia ikut."

.

.

Naruto dan Sakura duduk di ruang makan, di depan mereka ada ramen yang telah Naruto buat 10 menit yang lalu. Suasana menjadi canggung, entah kenapa.

"Naruto..."

Naruto menatap mata hijau sang gadis dengan lekat, dia melihat ada kegelisahan di mata hijau itu. Ah, ini salahnya.

"Kurasa, kita lebih baik seperti dulu. Sahabat."

Naruto terdiam, dia sadar, semenjak status mereka berubah, tak ada yang berbeda dari perasaannya terhadap gadis yang merupakan sahabat kuliahnya itu. Naruto sangat tahu bagaimana perasaan Sakura terhadap Sasuke, dan begitupun sebaliknya.

"Maafkan aku, Naruto. Aku tidak tahu kenapa, tapi hubungan kita tidak jelas walaupun kita berpacaran. Maaf."

"Aku yang minta maaf, Sakura-chan. Maafkan aku."

Malam itupun status mereka berdua kembali seperti dulu. Sakura tidak ingin tersakiti karena perasaan Naruto, begitupun dengan Naruto, dia tidak mau menyakiti perasaan Sakura karena sikapnya yang tidak berubah. Mungkin dengan cara ini, hubungan mereka bisa normal seperti biasanya, walaupun kini tak ada Sasuke dan Shikamaru.

.

.

Hanabi berlari dengan tergesa-gesa menuju meja makan, wajahnya pucat, nafasnya terengah-engah.

"Hanabi-chan, kenapa?" Tanya Tenten sang kakak ipar.

"Hinata-Nee... Hinata-Nee tak ada di kamarnya," jawab Hanabi masih ngos-ngosan.

Spontan Hiashi dan Neji berlari ke lantai dua dimana kamar Hinata berada. Pagi ini Mansion Hyuuga benar-benar ramai karena sang puteri sulung tidak ada di kamarnya.

.

.

Naruto dengan motor gedenya, memperhatikan rambu lalu lintas. Dia menunggu lampu hijau menyala, namun HP-nya bergetar. Naruto pun meraih HP nya, dan mulai membaca pesan masuk.

' Cepatlah. Ada Masalah, Hinata-Hime menghilang. '

Baru saja selesai membaca pesan dari Neji, Naruto kembali merasakan motornya bergerak.

"Cepat jalan!"

Suara ini... Kebetulan sekali. Menutup kaca helm-nya, Naruto kembali melajukan motornya, tanpa melirik ke belakang dimana ada penumpang dadakan.

"Kali ini kau mau ke mana Nona Aneh?" Tanya Naruto dari balik helm-nya.

"Hah? Kau.. Tunggu dulu.." Ucap Hinata memotong kalimatnya sendiri, gadis itu langsung memperhatikan helm di depannya lalu melirik ke sisi motor yang dinaikinya. Motor Hitam ini... Helm dengan corak rubah orange ini... "Kau! Kau yang waktu itu'kan?" Tanya Hinata kaget sekaligus senang, entahlah kenapa dia bisa sesenang ini.

"Ke mana tujuanmu kali ini?"

"Rumah Sakit! Ah... jangan-jangan, nanti dia mencariku ke sana. Ke mana saja terserah kau mau membawaku ke mana. Ups!" Hinata spontan menutup mulutnya.

Naruto tersenyum mendengar jawaban sang gadis, terserah katanya? "Ng.. apa ini artinya kau menyerahkan dirimu padaku? Hei, aku tidak butuh tubuhmu untuk membayar ongkos naik motorku, Nona," goda Naruto pada Gadis di belakangnya.

"Hei! Bukan itu maksudku, enak saja kau bicara! Memangnya aku ini gadis murahan?!" Kata Hinata kesal, namun mendadak memeluk Naruto ketika Naruto menambah kecepatan. Tanpa gadis berambut lavender itu ketahui, sang pemuda tersenyum senang dibalik helm-nya.

.

.

"Sudah ketemu?" Tanya Hiashi yang menunda keberangkatannya ke kantor pemerintahan.

"Sudah Otousama, Hinata sedang bersama Naruto," jawab Neji yang baru saja mendapat photo dari Naruto, dimana terlihat diphoto itu Hinata sedang menikmati roti sandwich di bangku Taman Kota.

"Syukurlah, dia bikin khawatir saja."

.

.

Naruto yang sedang duduk di motornya yang terparkir di Taman, memasuki Hp-nya dalam sakunya. Dia baru saja mencuri gambar sang gadis yang sedang lahap memakan sandwich, dia mau main kabur-kaburan tanpa sarapan dulu ternyata.

"Hei kau!" teriak Hinata dari bangkunya pada Naruto yang belum mau membuka helm dan menjauhi motor gedenya. "Kau mau diam di sana saja?! Wajahmu banyak jerawatan ya, itu helm terus saja kau pakai!" Lanjut Hinata.

Naruto tersenyum, apa katanya? Banyak jerawatan? Dia hanya belum mau membuka identitasnya pada sang gadis, pemuda itu kembali menaiki motor, sebelum pergi dia melambaikan tangan pada Hinata.

Hinata sontak berdiri saat suara motor hitam Naruto pergi, "ah dia aneh sekali," ucap Hinata lalu kembali duduk. "Ya Ampun! Uangnya, aku belum mengganti uangnya, aduh..." lanjut sang gadis kesal.

.

.

Naruto membuka helm-nya, dia nyengir pada laki-laki di depannya, "maaf ya Iruka-san, aku merepotkanmu lagi hehehe," ucap Naruto sambil membuka jaket kulitnya, dan memberikannya pada Iruka.

"Tidak apa, Tuan Muda, ini memang tugas saya," jawab Iruka sopan lalu memberikan kunci mobil sedan Naruto.

"Ok, aku pergi dulu. Bye," ucap Naruto memasuki mobil dan pergi dalam beberapa detik.

Iruka hanya menggelengkan kepalanya saja.

.

.

"Ok, sekarang waktunya ke Rum- Naruto?" Ucap Hinata kaget, saat dia akan beranjak dari bangkunya. Gadis itu dikagetkan dengan adanya Naruto berdiri di sisi bangkunya. "Se-sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Hinata lagi yang tadinya kabur itu untuk menghindari sang Bodyguard.

"Mari saya antar anda ke Rumah Sakit, Ibu Dokter," ucap Naruto menghiraukan pertanyaan sang Gadis.

.

.

Hinata melepas sarung tangan operasinya, lalu gadis itu berjalan menuju toilet. Operasi hari ini benar-benar menegangkan, untung dia dan rekan-rekannya bisa menyelamatkan si pasien.

"Hinata-san!"

Hinata menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik, dia tersenyum ketika melihat dokter magang Rumah Sakit Konoha tersebut, namanya Sora. Pemuda berusia 20 tahun.

"Hinata-san keren sekali tadi," puji Sora berbinar. "Terima kasih sudah mau mengajakku di operasi tadi," ucap Sora sambil membungkukan badan.

"Ah, jangan seperti itu. Tegakan badanmu," ucap Hinata tidak enak. "Ayo kita bekerja sama, Sora-kun," kata Hinata menyemangati. "Aku ke toilet dulu ya, nanti kita ketemu di kantin," lanjut Hinata kembali melangkahkan kaki.

Hinata akhirnya sampai ke tempat yang ingin dia tuju, di sana dia bertemu dengan rekannya, seniornya dan saingannya atau lebih tepat yang tidak suka padanya.

"Hinata, apa Kapten Naruto itu pacarmu?" Tanya Ino tiba-tiba, dan membuat Hinata bingung.

"Sejak kapan kalian pacaran? Kenapa kau tidak bicara kalau pacarmu itu Kapten Angkatan Darat Divisi 01," kini sang Senior yang bicara, Shizune.

"Tidak mungkin cowok yang selalu mengantar dia itu seorang tentara, apalagi seorang Kapten Divisi 01, tidak mungkin," ucap Shion, gadis yang selalu saja tidak suka dengan apa yang dilakukan Hinata.

Hinata menghela nafas, "hah kalian ini malah menambah rasa pusingku saja, sudahlah aku mau masuk," ucap Hinata sambil menyenggol Shion, dan memasuki salah satu toilet.

.

.

Hinata tidak banyak bicara semenjak masuk ke dalam mobil, hal itu membuat Naruto penasaran. Pemuda itu menghentikan mobilnya, dan hal itu mengalihkan perhatian Hinata.

"Hei, kenapa berhenti?"

"Lukaku sakit, apa kau menjahitnya dengan benar kemarin?" Ucap Naruto bohong.

"Sakit? Masa sih? Ah, ayo kita balik lagi ke Rumah Sakit."

Naruto tersenyum sekilas, lalu kembali melajukan mobilnya dan memutar arah kembali ke Rumah Sakit Konoha.

.

.

Hinata berdiri di belakang sang Pemuda, Hinata membersihkan jahitan sang Bodyguard, "tidak infeksi kok, kenapa bisa sakit?" Tanya Hinata sambil meraih kain kasa yang baru.

"Tidak, ini sakit," balas Naruto manja.

" Naruto, sebenarnya kau ini siapa?" Tanya Hinata yang terus kepikiran dengan ucapan rekan-rekannya. Jujur, dia tidak nyaman dengan ini.

"Aku Bodyguard-mu, Hinata-Hime," jawab Naruto merasakan dengan hati-hatinya Hinata memasangkan kain kasa baru pada lukanya.

"Pekerjaan aslimu, pekerjaan aslimu apa Naruto?"

Naruto menatap Hinata yang kini duduk di depannya, pemuda itu mengeliminasi jarak antara dia dan Hinata, hal itu tentu saja membuat Hinata merona, tangan kanan Naruto meraih kaos dan Kemeja yang disimpan di sandaran kursi yang diduduki oleh Hinata. Naruto nyaris tertawa melihat ekspresi Hinata yang sudah merah padam.

'Aduuuh.. kenapa aku mengharapkan hal lain?' pikir hati Hinata yang nyaris tidak bisa bernafas beberapa detik yang lalu.

"Apa kau masih mau tahu identitasku, Hinata-Hime?"

Hinata mengangguk, dia melihat sang Bodyguard mlaii mengenakan kaos dan kemejanya. Pemuda itu kembali menatapnya, tepat pada mata lavendernya.

" Aku seorang Tentara, lukaku ini luka tembak saat aku tugas di Palestina. "

" Hanya Tentara? " Tanya Hinata memastikan lagi.

" Ya, Tentara, aku Kapten Divisi 01, dan saat ini aku sedang ber'libur' dari tugas Negaraku, sebagai gantinya aku menjagamu, Hinata-Hime."

.

.

To Be Continue

.

.

Fict ini saya murni hasil berimajinasi setelah selesai menonton K-Drama DOTS. Jika ada kesamaan dengan fict author lain yang sama-sama terinspirasi dari K-Drama DOTS, saya juga tidak mengerti. Tapi, yang jelas tidak ada tiru meniru disini.

Maaf untuk semua kekurangan fict ini, baik dalam narasi atau pun cara pengetikan.

Untuk yang sudah RnR terima kasih banyak...