Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi

Story by shirayuki-su

Rate T (maybe)

Warning : Au, OOC, tipo dll

"My Limit"

Chapter 2

Naruro memandang dengan puas pada hasil karya nya. Dua tubuh yang saat ini telah dibalut dengan perban putih, pemiliki dari tubuh tersebut hanya bisa mengerang pelan saat Naruto melakukannya. Meskipun kedua makluk supernatural tersebut masih belum sadarkan diri.

"Ne kurama, apa aku pernah melakukan hal yang sama sebelumnya?. Entah kenapa aku merasa de javu disini"

"Otakmu memang selalu bergerak lambat bocah, apa kau tidak ingat saat misi dimana kau bersama team alis tebal"

"Ah aku ingat saat itu aku, lee, neji dan tenten membawa gadis kecil dan menyelamatkannya dari salah satu tujuh pedang dari kabut, tapi bukannya hal ini dan itu sedikit berbeda kurama"

"Aku tidak perduli itu sama atau tidak, yang terpenting kau melakukan hal yang sama. Yaitu menyelamatkan musuh bukan begitu"

"Mereka belum tentu musuh kau tahu" Naruto protes

"Terus apa sebutan mereka"

"Hanya seseorang yang penasaran, itu saja"

"Kau tidak perlu membela mereka Naruto, aku mau tidur jangan diganggu" Kurama membawa kesembilan ekor dan mulai mendengkur pelan. 'Sifatmu masih sama seperti dulu Naruto, tapi itu yang menjadikan sesuatu menarik'

"Kau memang rubah pemalas" Kata Naruto sambil membawa sebuah selimut, ia dengan lembut menutupi kedua malaikat jatuh yang saat ini berada diranjangnya pelan.

Naruto memutar lagi kejadian beberapa menit lalu, tentang dua gagak yang mengikutinya dan akhirnya berakhir seperti ini.

"Ok aku tidak tahu kalian siapa tapi bisa kalian keluar, ini sudah menjadi sesuatu hal yang tidak kusuka belakangan ini"

Dua sosok dengan keluar dari dalam kegelapan malam, sepasang sayap hitam mengepak dan beberapa bulu jatuh pelan. Mata Naruto menangkap dengan jelas dua gadis yang berperawakan berbeda dihadapannya, satu dengan tubuh seorang wanita dewasa dan satu lagi lebih seperti anak kecil.

"Jadi apa yang kalian inginkan dariku?" Naruto bertanya. Gadis bertubuh kecil terkikih pelan, membawa ia turun ketanah. Dia berambut pirang dengan gaya rambut twin tails, mata jernih biru hampir seperti Naruto. Gadis bernama Mittelt berpakaian gaun hitam gelap yang Naruto tahu gaya bernama Gothic Lolita.

"Inikah manusia rendahan yang dikatakan oleh Raynare, dia tidak tampak kuat. Apa dia mempunyai Sacred Gear?" kata gadis dengan rambut biru gelap yang mengingatkan Naruto pada Konan "Cepat bunuh dia Mittelt, aku merasa buang-buang waktu ikut dalam permainan ini"

"Ayolah Kalawarner, bukankah ini mengasikan mempermaikan mangsa sebelum menghabisinya. Dilihat lebih jelas dia imut juga bukan begitu Kalawarner" Mittelt berkata dengan senyum yang terus berkembang diwajahnya. Senyuman sadis.

'Ah sialan dia mengingatkanku pada Anko-chan'

"Hehe ayo kita bermain sedikit manusia" kata Mittelt sambil terkikih senang, aura pelan keluar dari tangan kanannya. Dalam sekejab sebuah tombak cahaya dengan ujung tajam berwarna merah muda berada disana. Naruto dapat melihat tombak tersebut lebih runcing dan tajam dari tombak miliki gagak sebelumnya. Kalawarner tersenyum melihat patnernya telah membuat senjata yang membuat fraksi malaikat jatuh ditakuti.

"Jika kau mau melakukannya, lakukan dengan cepat Mittelt" Naruto mendesah pelan dan melirik pada rubah dibahunya. Kurama hanya memberikan tatapan sekilas dan mendengus.

"Apa"

"Ayolah Kurama, bukankah kau ingin mengatakan sesuatu dalam situasi seperti ini. Seperti apa yang harus dilakukan melawan mereka atau hanya abaikan dan pulang? Berikan pendapatmu rubah pemalas" Kurama mengangkat bahu pelan

"Lakukan apa yang kau mau. Lakukan cepat agar aku bisa pulang dan tidur"

Naruto mendesah pasrah, patnernya memang selalu seperti ini. Jika sudah dalam mode pemalas, rubah sialan ini pasti akan mengabaikan apapun yang ia katakan.

"Ok kalian para malaikat jatuh. Dengarkan baik-baik, aku tidak mau berurusan dengan masalah dari ketiga fraksi yang kalian tahu apa. Dan tolong jangan libatkan aku kedalamnya. Jika kalian masih ingin bertarung denganku, aku tidak keberatan. Tapi aku peringatkan, bahwa itu akan menyakitkan" Naruto berkata. Mittelt dan Kalawarner melihat satu sama lain dan mulai tertawa.

"Ini sungguh menarik Mittelt, dia tidak menyadari posisinya dan masih bisa mengatakan hal seperti itu. Manusia dengan kebodohan seperti ini baru pertama kali aku lihat. Mittelt aku akan ikut bermain, ini pasti akan menjadi menarik"

"Aku tidak bodoh kau tahu. Aku hanya tidak ingin berurusan dengan sesuatu yang merepotkan, dan seperti yang dapat kalian lihat aku hanya ingin pulang dari sekolah" Naruto menunjuk pada seragam dan tas dipunggungnya "Jadi jika kalian tidak melakukan apa-apa dan membiarkan aku pulang, itu akan sangat membantu. Tapi jika tidak aku tidak mau membayangkannya"

Kedua malaikat jatuh itu terus menunjukan senyum mengejek, yang makin lama membuat Naruto kesal. Sepasang kepakan sayap keluar dari punggung kedua gadis tersebut.

"Bagus lebih banyak gagak yang mengaggu. Aku sudah memperingatkan kalian, jika kalian menyerang aku tidak akan segan untuk melawan balik" Mittelt melesat cepat kedepan bersamaan dengan kepakan sayapnya. Tombak ditangan ia luruskan kedepan, tepak mengarah pada bagian tengah tubuh Naruto.

"Bagaimana kau akan melawan balik manusia. Jika kau bisa lakukan sesukamu" Mittelt menusukan tombak ditangannya dengan cepat, Naruto dengan melompat kesamping untuk menghindar dari serangan tersebut. Tubuh Naruto dengan reflek menghindar dari setiap tusukan dari Mittelt.

"Oi oi bisa berhenti! Jika serangan tersebut kena baju aku harus bagaimana. Harga dari segaram Kuoh Academy mahal kau tahu, seragam yang aku pakai ini harus kubayar dari kerja paruh waktu" Naruto berteriak sambil terus menghindar dari tusukan gadis gagak kecil dihadapannya. Ia merasakan sebuah pergesakan udara disamping kirinya dan mendapati sebuah tombak cahaya lain berwarna kuning siap menusuknya dari samping. Naruto dengan cepat menguatkan kaki nya dan melompat kebelakang.

"Huh. Itu tadi nyaris saja mengenaiku" kata Naruto pelan "Apa kalian benar-benar berniat membunuhku?"

Naruto mendapati pertanyaannya tidak dijawab hanya mendengus pelan, mata shapire shinobi muda itu menganalisi dengan pelan kedua makhluk supernatural didepannya. Dari serangan dan kemampuan tubuh, Naruto dapat menyimpulkan bahwa keduanya petarung jarak dekat dengan beberapa serangan jarak menengah. Mengingat tombak yang menjadi senjata dapat dilemparkan. Serangan tersebut mengingatkan Naruto pada temannya tenten, meskipun keduanya belum semahir gadis dengan pakaian cina tersebut.

"Cepatlah mati manusia, jadi aku bisa pulang" Naruto mengerutkan dahi mendengar Kalawarner. Kedua malaikat jatuh itu kembali membawa tombak ditangan mereka dan terus menusukan pada Naruto.

"Hahaha dia sangat hebat dalam menghindar Kala. Ini akan mengasikan" kata Mittelt sambil melihat Naruto menunduk mengindar dari tusukan kearah kepalanya "Hehe tapi mau sampai kapan kau menghindar Onii-chan" Naruto menyadari tombak yang digunakan dalam pertarungan ini mulai bertambah, gadis kecil bernama Mittelt sekarang membawa tombak cahaya disetiap tanganya.

Naruto harus dipaksa terus menghindar dari serangan kedua makhluk dari fraksi malaikat jatuh tersebut. Pemuda bermarga Uzumaki itu merasa terbawa suasana dan mengingat saat Kakashi-sensei pertama kali menjadi ketua team 7. Shinobi bermasker itu terus menghindari serangan Naruto, yang membuat remaja tersebut frustasi. Meski kejadian ini dan itu berbeda, tapi cukup membuat Naruto mengingat lagi kenangan lama.

"Ini berakhir Manusia!" Kalawarner berteriak dengan membawa dua tombak ditangannya melesat kearah Naruto. dari arah samping Mittelt tersenyum dengan tombak yang mengacung. Kedua gadis gagak tersebut merasakan ujung dari senjata mereka menembus benda padat dan senyuman kemenangan dengan cepat tecipta di wajah keduannya. Tidak pernah ada sepengetahuan mereka ada manusia yang selamat dari serangan tombak cahaya malaikat jatuh.

JLEB

KRAK

Kedua malaikat jatuh itu bingung mendengar apa yang terjadi. Suara tersebut bukannya senjata yang menusuk daging manusia, dimana suara rasa sakit dan jeritan yang harusnya ada? Dan kenapa tidak ada darah yang keluar. Saat Mittelt dan Kalawarner melihat pada pemuda yang harusnya telah tertusuk senjata mereka, hanya rasa terkejut yang dapat mereka rasakan. Ditempat pemuda tersebut saat ini ada sebuah kayu balok dengan bentuk seperti boneka dengan tulisan "MELESET".

"Apa? Apa-apaan ini?" Mittelt bertanya dengan bingung. Melihat lagi sebuah balok kayu dihadapanya "Kala bukannya kau menusuknya? Bagaimana bisa kita meleset dan apa-apaan kayu ini?"

Kalawarner menarik tombak cahaya nya dan menghancurkan balok kayu tersebut. Meski ia memasang wajah datar, gadis itu sama terkejutnya seperti Mittelt. Ia melihat balok kayu yang telah hancur dengan tatapan bingung "Aku tidak tahu. Dan dimana manusia itu pergi?"

"Kalian benar-benar tidak menyadarinya ya. Sebelah sini" Mittelt dan Kalawarner menutar kepala dengan cepat kearah sumber suara dan mendapati Naruto duduk bersila dengan tas ransel dipangkuannya. Pemuda itu mengangkat dan memasukan tas nya kebahu, membersihkan debu dari bagian belakang tubuhnya. "Kawarimi no jutsu. Sesuatu yang dulu pernah aku pelajari, hehehe"

"T-tapi bagaimana kau melakukannya?"

"Kalian berdua hanya terlalu lambat" Kurama yang berada dibahu Naruto berkata, membuat kedua malaikat jatuh tersebut terkejut melihat seekor rubah bisa bicara "Naruto punya waktu untuk membuka tas nya, mengambil gulungan, membuatku membukanya, dan mengeluarkan balok kayu, menaruhnya ditempat. Setelah itu ia tinggal berpindah tempat"

"Tidak seperti Kawarimi yang sebenarnya, tapi ini cukup berhasil" Naruto berkata sambil memandang malaikat jatuh yang masih terkejut dan bingung didepannya "Jadi apa yang akan kalian lakukan sekarang?" mendengar itu Mittelt dan Kalawarner mengengam lebih erat tombak ditangan dengan marah. Beraninya manusia dihadapanya merendahkan mereka.

"Aku akan menghancurkanmu sampai kau harus memohon untuk dibunuh. Dan membuat mayatmu tidak bisa dikenali" Mittelt mengeram marah. Kedua malaikat jatuh itu dengan kecepatan yang berbeda dari sebelumnya melesat kearah Naruto.

"Kurasa tidak perlu" Mittelt dan Kalawarner terkejut mendapati Naruto telah dihilang dari pandangan mereka. Keduanya berhenti dengan cepat, mencari dimana manusia itu pergi. "Aku akan mencoba untuk tidak membunuh kalian berdua, karena aku juga tidak terlalu suka membunuh. Senseiku mengajarkanku bahwa membunuh dilakukan pada kondisi tertentu dan aku setuju akan hal itu. Dan lagi aku tidak mau jika harus melakukannya pada gadis seperti kalian. Konoha Senpuu!" Dua malaikat jatuh itu terkerjut mendengar suara dari belakang mereka. Sebelum sempat melihat pemuda berambut putih tersebut, mereka merasakan sebuah tendangan kuat yang membawa kedua nya melayang ke udara.

"Bagaimana bisa?" Kalawarner berkata lemah. Dia hanya bisa merasakan sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak dan perasaan melayang masih ia rasakan. Ia merusaha melihat pada rekan nya dan mendapati kondisi yang sama dengan dirinya. Mittelt dan Kalawarner merasakan cengkaraman kuat dileher belakangnya, dan semua yang mereka tahu menjadi kabur.

"Kage buyo"

Kalawarner dan Mittelt hanya bisa menjerit merasakan pandangan mereka kabur dan rasa sakit dipermukaan kulit mereka. Suara dari angin yang bergesek dan menyasat kulit, beserta dengan suara tulang yang retak terdengar keras. Debu tebal tercipta dari dampak serangan Naruto.

Dari debu tebal Naruto melangkah keluar tanpa luka berarti, ia mengibaskan tangannya membuat debu menghilang. Ditanah terlihat dua tubuh yang tergeletak didalam kawah besar. Sayap kedua malaikat jatuh itu patah dan tubuh mereka penuh luka sayatan, darah mengalir dari setiap luka sayatan disana.

"A-aku T-tidak bisa bergerak!" Mittelt mengeram sakit

"S-say-apku" Kalawarner berusaha melihat sayap patahnya, tapi tubuhnya menolak untuk bergerak. Rasa sakit yang ia rasakan benar-benar mematikan perintah otaknya. Dia tidak tahu apa yang terjadi, yang ia lihat adalah sesuatu yang kabur dan rasa sakit yang tak tertahankan. Mata Kalawarner bergerak melihat sosok pemuda yang bergerak kearah nya. Ia tahu sekarang bahwa pemuda berambut putih ini sangat kuat, dia dengan sedikit tenaga mengalahkan mereka berdua yang seorang malaikat jatuh. Saat rasa takut mulai memasuki dirinya, kesadaran Kalawarner pergi.

Naruto menguap pelan dan berjalan kekamar kosong lain diapartementnya. Ia memandang sekali lagi pada sosok Mittelt dan Kalawarner dan mematikan lampu kamar.

Dipagi hari berikutnya Naruto bangun dengan suara erangan sakit yang mengema dalam apartementnya. ia dengan cepat dapat mengetahui asal suara tersebut, Naruto dengan malas melangkahkan kaki kekamar sebelah. Dia mendapati kedua malaikat jatuh itu telah sadarkan diri, meskipun terlihat belum bisa bangun dari tempatnya. Tubuh mereka pasti masih merasakan rasa sakit dari dampak serangan Naruto malam lalu.

"Yo selamat pagi kalian" Naruto berkata diujung pintu. Kedua pasang mata dengan cepat memandangnya. Kedua nya berusaha memaksa tubuh mereka bergerak, tapi yang ada hanya rasa sakit dan nyeri disana. Naruto berjalan pelan dan duduk santai dikursi dalam ruangan, ia mengisaratkan dengan tangannya untuk tenang.

"Siapa kau sebernarnya?" Mittelt bertanya. Pertanyaan itu menjadi satu hal yang paling ingin diketahui oleh mereka berdua. Manusia berambut putih ini benar-benar aneh untuk dapat mengalahkan mereka berdua. Mereka seorang malaikat jatuh dikalahkan oleh manusia dengan mudahnya, dalam pikiran Mittelt ini bukan saat nya untuk bercanda. Karena ia tahu Naruto dapat membunuhnya saat itu.

"Aku Uzumaki Naruto, seorang remaja biasa yang normal. Kurang lebih seperti itu" Naruto berkata sembari melihat kearah suara berdering dalam ruangan, ia mengapai dan mematikan alarm diatas meja "Remaja normal yang sepertinya harus berangkat sekolah. Dan karena aku tidak ingin terlambat, dengarkan aku akan membiarkan kalian beristirahat disini sampai luka kalian sembuh. Jadi bersikap baiklah dan jangan merusak apapun diapartement ini" Kalawarner dan Mittelt hanya bisa mengangguk pelan, melihat itu Naruto tersenyum.

"Bagus kalau begitu. Aku harus mandi dan kesekolah" Naruto berjalan keluar dan kearah kamar mandi. Beberapa detik berikutnya kedua malaikat jatuh itu dapat mendengar suara air yang mengalir dan perlan berhenti dengan suara pintu terbuka.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang Kala?" Mittelt bertanya dengan cemas. Keadaan mereka berdua saat ini tidak memungkinkan untuk kabur. Mitterlt dan Kalawarner berada diposisi yang sulit, tertangkap musuh yang tidak diketahui. Mereka berdua sekarang paham betul bahwa Naruto kuat, meskipun masih ada rasa tidak percaya dalam diri mereka. Pemuda itu tidak memberikan perasaan energi atau kekuatan tertentu darinya. Tapi kehadiran nya benar-benar kuat, saat ia benar-benar berusaha merasakannya Naruto. mittelt seakan berdiri dihadapan batu besar yang tidak dapat dipindahkan, kehadirannya sangat kuat melebihi apa yang pernah dirasakannya.

Naruto berjalan kekamar yang sama dengan handuk melingkari pinggang, yang memperlihatkan seluruh kaki dari lutut. Tubuhnya masih sedikit basah, rambut nya turun karena berat air. Dia memiliki otot yang kuat dibagian-bagian tubuh nya. Proporsi tubuh Naruto sangat seimbang dengan sedikinya lemak dan lebih banyak otot. Kedua malaikat jatuh didalam ruangan hanya bisa menatap pemandangan dihadapanya dengan mata melebar. Tidak pernah dalam bayangan terliar dari Mittelt dan Kalawarner bahwa mereka harus melihat tubuh sempurna dari laki-laki yang telah mengalahkannya. Pikiran-pikiran tentang melarikan diri entah kenapa telah lenyap dari benak mereka, yang ada saat ini adalah hanya respon otomatis untuk terus melihat apa yang ada dihadapan mereka.

"Hei kenapa kalian berdua memerah, apa kalian sakit karena serangan kemarin?" Naruto bertanya sambil memandang kearah wajah kedua malaikat jatuh. Mittelt dengan cepat memalingkan wajahnya, sedangkan Kalawarner hanya terus menatap. Kalawarner dapat melihat otot perut dan lengan Naruto dari jarak dekat, ia terpukau dengan keindahan tubuh pemuda ini. Seakan tubuh nya dibuat oleh pemahat dengan bahan terbaik.

Naruto hanya memandang keduannya dengan bingung. Ia dengan cepat membuka lemari dan membawa seragam sekolah Kuoh Academy nya keluar dari ruangan. Mittelt dan Kalawarner hanya bisa memandang dimana Naruto tadi berada.

'Aku tidak mengerti wanita' pikir Naruto yang dengan cepat memakai seragam nya "Aku berangkat. Seperti yang kukatakan sebelumnya, jangan membuat masalah itu saja dan kurama ada disini jika kalian berbuat apa-apa" Naruto berkata dan pergi. Kedua makhluk supernatural mendengar suara pintu terbuka dan tertutup.

"Apa yang kalian lihat gagak?" Mittelt dan Kalawarner melirik pada rubah diujung pintu. Kurama memberikan seringai yang sangat jelas "Melihat sesuatu yang membuatmu bergairah?"

"D-diamlah!" Mittelt berteriak pelan. Dia benar-benar ingin membungkam perkataan rubah tersebut, tapi apa daya tubuh mereka tidak mau bergerak.

"Aku beritahu kalian benar-benar beruntung"

"Benarkah? Kenapa?"

"Kalian bisa mati, jika Naruto sedikit saja serius"

My limit

Naruto berjalan tanpa memperlihatkan ketertarikan pada sekitarnya. Sekolah tidak pernah menjadi sesuatu yang membuat Naruto tertarik, saat ia kecil sekolah sangat ia nantikan karena mungkin disana ia akan mendapatkan teman. Tapi seiring waktu dan Naruto mengetahui banyak rahasia mengenai dirinya sendiri, teman bisa ia dapatkan dimana saja. Naruto masih bisa tersenyum mengingat kejahilan yang pernah ia, kiba, shikamaru dan choji lakukan dulu di Academy. Sayangnya, Naruto sudah tidak bisa lagi melihat wajah mereka lagi. sejak ia pergi kedunia ini, Naruto tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia tidak memiliki chakra lagi, tidak ada jutsu dan banyak kemampuan yang tidak bisa ia gunakan, sekarang ia harus mengawasi teman-temannya untuk mendapatkan tempat yang damai.

"Naruto-kun" baru saja dibicarakan. Naruto berbalik mencari asal suara, ia berjalan kearah selokan dipinggir jalan dan melihat kedalam. Naruto melihat lebih, orang-orang disekitarnya tidak memberikan perhatian pada pemuda rambut putih tersebut. Dia melihat siput besar seukuran sama dengan kurama berwarna putih dengan enam ekor.

"Saiken, apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau bersama dengan Isobu?"

"Aku hanya ingin melihatmu dan mengetahui bagaimana kabarmu saat ini" Saiken berkata dengan suara khas nya. Naruto tersenyum, saiken bijuu berekor enam ini memang memiliki suara yang lembut diantara para bijuu. Dia memiliki kepribadian yang baik dengan sedikit pemalu didalamnya. Naruto berpikir lagi, membawa para bijuu kedunia ini bukanlah pilihan Naruto. tapi ini mungkin akan membantu para bijuu untuk dapat merasakan kehidupan jauh dari apa yang mereka rasakan didunia shinobi dulu.

"Kau bisa lihat sendiri. Aku baik-baik saja Dattebayo. Jadi dimana Isobu?"

"Si kura-kura Isobu ada didanau dekat dengan pantai. Aku sering melihatnya disiang dan sore hari, dia juga sering bersama dengan shukaku jika berada dipantai. Para bijuu merindukanmu Naruto, kau harusnya sesekali mengunjungi kami" Naruto tersenyum mendengarnya, ia membawa tangannya dan mengelus halus tubuh saikan lembut.

"Iya maaf. Aku juga merindukan kalian. Sebentar lagi mungkin aku harus akan menggumpulkan kalian semua" Naruto berdiri dan berkata "Sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang besar"

"Kau tahu dimana bisa menemukan kami" Kata Saiken, ia dengan cepat menghilang dari pandangan.

Naruto berbalik dan berjalan pergi, saat ini ia harus kesekolah. Selang beberapa menit ia sudah berada didepan kelasnya. Naruto berjalan masuk bersamaan dengan suara bel berbunyi, ia duduk dan menaruh tas ranselnya. Dia dapat mendengar suara bisik-bisik dari balik pungggunya, ia dapat mengenali suara Issei dan dua orang mesum lain disana. Saat sensei masuk ruangan, ia hanya memandang kedepan dan merasa pasti akan ada hal aneh sebentar lagi.

Hari ini berjalan normal seperti biasa. Naruto berada dikelas, melakukan makan siang dengan beberapa teman, ia bahkan memperhatikan pelajaran yang diajarkan. Saat suara bel pulang mengema berbunyi, Naruto beranjak dari kursinya dan pergi.

Langkah Naruto harus berhenti saat ia mendapati gadis kecil berambut puti dihadapanya. Mata shapire Naruto memandang pada mata hazel Koneko. Keduanya hanya saling memandang untuk beberapa waktu.

"Apa yang kau inginkan Koneko-chan?"

"Naruto-senpai, apa kau ada waktu"

"Aku punya banyak waktu, tapi jika ini masih menyangkut masalah kemarin dengan Rias. Aku tidak ingin ikut campur" kata Naruto sambil melangkah melewati Koneko

"T-tunggu senpai!" tangan kecil Koneko terulur dan mengengam baju Naruto, mengentikan pemuda itu dengan sekejab. "Ini bukan tentang Rias-Buchou, tapi aku yang ingin bicara pada Naruto-senpai"

Naruto berpaling dan melihat wajah serius dari Koneko. Ia mendesah pelan sambil mengaruk belakang kepalanya. "Ah baiklah, jadi apa yang ingin kau bicarakan Koneko-chan"

"T-tidak disini senpai, bisa ikuti aku" Naruto mengangguk dan mengikuti gadis kecil itu.

Angin berhembus pelan diatas atap bangunan sekolah saat ini. Hembusan tersebut membawa rambut putih Naruto bergerak liar, ia membawa tangannya kedepan untuk merasakan lebih pada angin yang berhembus. Disebelahnya Koneko berdiri dengan pasif, meski kedua matanya menyipit berusaha menghindari angin.

Koneko menghadap kedepan tanpa melihat kearah Naruto dan berkata "Naruto-senpai, bisa jelaskan apa senpai tahu apa itu chakra? Meski senpai tidak mengeluarkannya, tapi entah kenapa ada sisa-sisa chakra berasal dari senpai?"

'Ah jadi dia bisa merasakan chakra, dan ia pasti merasakan chakra kurama yang menempel padaku' pikir Naruto, ia memandang lebih pada Koneko dan mendapati bahwa Naruto merasakan sedikit kesamaan keberadaan antara Koneko dan Matatabi.

"Aku bisa saja menjelaskannya, tapi aku ingin apa yang kita bicarakan tidak sampai pada telinga Rias. Apa kau bisa melakukannya Koneko-chan"

"Hm" Koneko mengangguk pelan

"Sebenarnya ak-"

My Limit

"Tidak kusangka Koneko-chan punya rahasia seperti itu" Naruto berguman sambil terus berjalan kearah gerbang Kuoh Academy "Makhluk supernatural hampir semuanya aneh"

Dia berhenti saat melihat dua orang telah menunggunya didepan gerbang. Shitori Shona, ketua Osis Kuoh Academy dan wakil ketua Osis Shinra Tsubaki berjalan kearahnya. Sona memiliki tubuh ramping dengan rambut hitam pendek dan sebuah kacamata berbingkai diwajahnya. Dia berwajah cantik dengan raut yang selalu serius menurut Naruto. mata dengan warna ungu yang menatap tajam dan awas.

Sedangkan Tsubaki memiliki perawakan yang mampir sama dengan Sona dengan beberapa bagian yang sedikit berkembang. Rambut Tsubaki juga berwarna gelap panjang dengan warna rambut coklat dibinkai kacamata. Keduanya berhenti tepat dihadapan Naruto.

"Oh wao ketua osis Kuoh Academy ada keperluan apa dengan diriku?"

"Haruskah kau selalu memanggilku seperti itu setiap kita bertemu Uzumaki-san"

"Hehehe aku akan berhenti memanggilmu seperti itu jika kau memanggilku Naruto"

"Aku tidak bisa melakukannya Uzumaki-san"

"Kalau begitu kau akan terus aku panggil Ketua Osis Kuoh Aca-"

"Baiklah" Naruto menyeringai mendengar jawaban Sona. Selalu menyenangkan jika menyudutkan seseorang seperti ini "Baiklah, Naruto aku ingin berbicara tentang sesuatu padamu"

"Ok kau mendapatkannya Sona" kata Naruto

"Aku mendengar kau telah bertemu dengan Rias dan dengan anggota club-nya" Naruto mengangkat bahu pelan "Benarkah itu Naruto?"

"Ah selalu saja menjadi seperti ini. Dari apa yang kau katakan mengenai club, aku dapat mengasumsikan bahwa kau Shitori Sona tahu apa mereka benar tidak?"

"Itu Benar Naruto"

"Apa kau salah satu dari mereka?"

"Aku memiliki peerage ku sendiri. Kau tahu Tsubaki disini adalah Queen dari peerage milikku" Tsubaki membungkuk sopan pada Naruto, yang dibalas anggukan.

"Hallo Naruto-san, bagaimana kabarmu? Dan Seperti yang dikatakan Kaicho, aku salah satu dari peerage miliknya dengan kedudukan Queen"

"Selalu baik Tsubaki-chan. Jadi apa yang kalian inginkan dariku?" Naruto bertanya "Dan apa yang kalian maksud dengan Queen, aku tidak mengerti?"

"Rias tidak memberitahumu tentang setiap pieces dalam peerage?"

"Sona aku bukan bagian dari club miliknya, jadi aku rasa itu wajar"

"Kalau seperti itu masuk akal. Aku juga dapat mengatakan bahwa Rias telah menawarkanmu menjadi salah satu dari peerage-nya Naruto" Naruko mengagguk pelan

"Aku tidak ingin diubah jadi apapun. Menjadi manusia lebih baik kurasa. Dan lagi aku tidak ingin menjadi pelayan bagi siapapun, menjadi diri sendiri lebih baik. Itu prinsip Uzumaki Naruto" Sona mengerutkan dahi mendengar kata Naruto, ia menyilangkan kedua lengannya didada.

"Itu bukan pilihan yang pintar Naruto. aku dengar bahwa kau telah bertemu dengan malaikat jatuh, dan jika apa yang aku dengar benar. Bahwa kau telah menjadi daftar mereka, leb-" perkataan Sona berhenti melihat tangan Naruto terangkat.

"Berhenti disana. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri Sona, dan juga aku sudah bertemu dengan malaikat jatuh lagi"

"Maksudmu?"

"Malaikat jatuh. Aku sudah bertemu tiga sampai saat ini" Sona dan Tsubaki dengan cepat membuat wajah terkejut. Bagaimana seorang manusia seperti Naruto, masih bisa berkata dengan santainya dan bisa hidup untuk bercerita. Ini tidak masuk akal menerut kedua iblis keluarga Sitri tersebut.

"Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka kan? Apa yang terjadi sebenarnya?" Sona memberi pertanyaan bertubi-tubi sambil mendekatkan dirinya pada Naruto. Sona entah kenapa merasa khawatir kepada pemuda tersebut. Naruto mengangkat kedua tangannya nya mengisyaratkan untuk tenang pada Sona.

"Wow tenang Sona aku tidak apa-apa. Mereka hanya mengecek sesuatu tentang Sacred apalah dan aku bertemu tanpa sengaja. Dan yang lainnya datang padaku dengan niat menyerang, aku mengalahkannya dan masalah beres. Selesai" Tsubaki terdiam pada perkataan Naruto, sedangkan Sona harus dibuat terkejut. Kedua nya memiliki pertanyaan yang sama, Dia mengalahkan malaikat jatuh?

"Bagaimana kau mengalahkan mereka?"

"Aku lebih kuat dari yang terlihat. Ras kalian" Naruto mendekatkan diri pada Sona dan berkata "Iblis sepertinya berpikir manusia lebih lemah dari mereka, jauh lebih lemah. Itu yang menjadi dasar kalian melihat manusia, tapi aku berbeda dari kebanyakan manusia. Aku tidak ingin menjadi bagian dari peerage karena aku menjadi pelayan, itu salah satu alasanku dan alasan yang lainnya adalah karena aku lebih kuat dari Rias" Sona melihat tidak percaya pada Naruto "Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau percaya atau tidak, bukan urusanku"

"Kau tahu aku sulit untuk mempercayainya" Naruto hanya menatap malas pada Sona. Dan berpikir sejenak, ia tidak suka menunjukan kekuatannya dan jika Naruto menunjukannya banyak yang akan dengan jelas melihat. Sayang nya jika Naruto serius untuk menunjukan kekuatannya, ia mungkin harus menghancurkan sebuah Negara atau benua, dunia mungkin saja. Tergantung apa yang Naruto keluarkan.

"Ok jika kau tidak percaya Sona. Tapi dengarkan, aku sudah sangat lama tidak bertarung yang membuatku menjadi bersemangat. Jika kau bisa menenukan tempat yang dapat menangguk dampak dari serangan tanpa harus berpikir dua kali, aku akan menunjukannya pada peerage-mu perbedaan kita" Sona berpikir sejenak akan tawaran yang diberikan Naruto. ia masih belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan pemuda berambut putih tersebut. Disisilain ini akan tahu kekuatan Naruto dan mencari tahu kebenaran dari perkataan Rias tentang Naruto yang menghancurkan senjata berbasis cahaya dan mengalahkan malaikat jatuh. Selain itu juga, Sona dapat kesempatan untuk menunjukan Pawn terbarunya bagaimana bertarung.

"Aku akan melakukannya. Besok temui aku diruang Osis dan aku aka membawa semua peerage-ku. Bagaimana dengan sedikit taruhan Naruto?"

"Kaichou?" Tsubaki berteriak dengan terkejut. Tidak hanya membuat mereka harus bertarung melawan Naruto, tapi juga menjadikan hal tersebut sebuah taruhan.

"Taruhan? Ok aku tidak keberatan, apa taruhannya?"

"Jika aku menang, kau bergabung menjadi bagian dari peerage-ku. Dan jika kau menang, sebutkan apa yang kau inginkan. Bagaimana adil bukan" Naruto menyeringai mendengarnya. Ini akan menjadi sesuatu yang menyenangkan.

"Setuju!"

My Limit

Naruto pulang keaprtementnya yang tenang. Sampai suara benda jatuh dan suara teriakan terndengar mengema

"Apa yang kau lakukan rubah"

"Berhenti melempar padaku"

"Hehe hahahaha! Menariklah kalian, berikan pertunjukan pada tuanmu ini" Naruto kaget. Apa yang ia lewatkan?

"Aku pulang!" Naruto berkata. Dia berjalan ke arah sumber suara dan dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Mittelt dan Kalawarner berada dilantai dengan banyak barang-barang bertebaran dan ia dapat melihat kurama berada dilangit-langit ruangan, mengabaikan hokum gravitasi "Apa yang kalian lakukan?"

"Manusia perintahkan piaraanmu untuk tidak melemparkan benda padaku"

"Rubah jadian macam apa yang bisa mengangkat benda lebih dari beratnya dengan mudah" Mittelt berkata dengan nada protes. Naruto mendesah pelan, ia memadang kurama yang hanya memberikan nya seringai.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan kurama?"

"Aku hanya bersenang-senang"

"Terserah. Dengar kalian berdua" kedua malaikat jatuh dengan cepat memperhatikan Naruto "Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan saat ini. Tapi jika kalian ingin tinggal, kalian harus melakukan sesuatu"

Kalawarner mendengus dan melipat tangan didada besar miliknya "Seperti aku senang tinggal ditempat seperti ini. Setelah kita sembuh aku akan kembali pada pemimpin kami"

"Tapi jika seperti itu, kita harus kemana Kala?" Mittelt berkata menghiraukan Naruto yang saat ini menangis melihat keadaan rumahnya "Raynare tidak akan senang jika kita tertangkap dan jika kita pergi kepada nya, dia akan marah. Karena kita melanggar aturan. Apakah kita punya kesempatan untuk benar-benar kembali?" Kalawarner terdiam mendengar hal tersebut.

Perkataan Mittelt benar. Mereka telah gagal dalam misi yang diberikan dari Raynare dan mereka melanggar aturan yang ada dari seseorang yang lebih tinggi. Sekarang mereka terluka dan membutuhkan tempat untuk menyembuhkan diri. jika mereka ditemukan oleh Raynare, maka hukuman yang pasti akan didapatkan, atau lebih buruk lagi kematian.

"Jadi apa pilihan kalian berdua?" Mittelt melihat Kalawarner yang mengangguk setuju.

"Jika kau mengizinkan kami berdua akan tinggal disini mulai sekarang" Kalawarner berkata. Naruto berpikir sejenak dan melihat mereka berdua. Ia tidak masalah membiarkan mereka berdua tinggal, mereka juga bisa menggunakan kamar kosong. Kedua nya juga masih terluka dan meskipun dalam kondisi prima, mereka tidak bisa melukai dirinya.

"Ok kalian bisa tinggal. Tapi seperti yang kukatakan diawal, kalian harus melakukan sesuatu jika ingin tinggal disini?

"Apa yang kau pikirkan?"

"Menjadi Maid rumah ini"

"Diamlah rubah sialan! Dengar mungkin membersihkan rumah, atau pergi berbelanja. Dan jika dibutuhkan kami akan mencari pekerjaan untuk menambah pengeluaran. Lebih dari itu kami tidak akan melakukannya. Jadi jangan memikirkan hal bodoh" Mittelt berkata dengan anggukan keras, kalawarner disampingnya memberikan anggukan juga. Mereka tidak ingin jika harus melakukan hal yang tidak mereka inginkan.

"Jadi apa yang harus kami lakukan?"

"Aku tidak tahu. Kalian putusakan sendiri. Aku sekarang ingin istirahat. Besok aku akan bersenang-senang dengan beberapa iblis"

TBC

Nikmati saja cerita yang ada, entah itu baik atau buruk. Kalau mau komentar pada kolom review saja Ok.