.
.
.
"Jadi apa yang kita lakukan disini?" Nijimura melihat sekelilingnya. Orang-orang sibuk lalu lalang sambil bercengkrama ria. Ada yang datang bersama keluarga ada pula yang datang bersama pasangan. Antrian-antrian panjang menghiasi setiap wahana permainan. Musik pengiring yang ceria terdengar mengalun lembut melalui pengeras suara yang berada di sudut-sudut taman.
"Tentu saja bermain, adik kecil." Haizaki menjawab dengan wajah dan nada yang menurut pandangan Nijimura sangat menyebalkan.
Nijimura menendang tulang kering Haizaki. Haizaki kembali mengumpat.
"Tch. Apa aku perlu menendang bagian pentingmu itu lagi supaya kau berhenti memanggilku begitu, huh?"
Haizaki mendecih. Dia kembali berjalan dan meninggalkan Nijimura di belakang.
"O-oi, tunggu aku, bodoh!" Nijimura menyusul Haizaki dengan langkah-langkah kecil. Sulit sekali menyusul si bodoh itu dengan tubuh seperti ini, pikirnya.
Haizaki memperlambat jalannya. Memberi kesempatan bagi Nijimura untuk menyusulnya. Dalam hati ia masih penasaran kenapa kaptennya itu bisa berubah jadi anak kecil. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar itu kutukan?
"Cerah sekali." Ucapnya tanpa sadar saat melihat langit.
"Ya, hari ini cerah sekali." Nijimura menyilangkan tangannya di belakang kepala. "Kau sengaja mengajakku ke taman bermain ini supaya bisa berkencan denganku, 'kan, Shougo?"
Tepat sasaran.
Haizaki pura-pura tidak mendengar. Ia sibuk melihat-lihat wahana bermain yang penuh sesak oleh pengunjung lain. Pandangannya jatuh kepada kereta rangkai luncur yang kini tengah meliuk-liuk mengikuti jalur rel yang membentuk putaran 360˚ yang membuat penumpangnya berteriak histeris dan beberapa diantaranya memuntahkan isi perutnya setelah turun dari wahana tersebut.
"Bagaimana kalau kita naik roller coaster? Sepertinya menyenangkan." usulnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oi, jawab dulu pertanyaanku, bodoh. Lagipula bukannya tadi kau mau mengajakku makan?"
Haizaki menoleh melihat Nijimura yang bibirnya kini maju karena merasa diabaikan.
"Jangan besar kepala, bodoh. Taman bermain 'kan tempat yang biasanya disukai anak-anak. Jadi kupikir kau pasti menyukai tempat ini. Kita akan makan setelah bermain sebentar."
Lagipula sudah lama aku tidak pergi ke taman bermain.
Nijimura kesal sekaligus bingung. Kesal karena hari ini ia terus dipermainkan Haizaki dan bingung karena melihat tingkah kouhai-nya itu. Entah kenapa hari ini ia merasa Haizaki sedikit lebih lembut daripada biasanya. Sifat premannya sedikit hilang. Apa karena Nijimura sedang dalam wujud anak-anak atau karena hal lain, ia tidak tahu.
"Kau sepertinya senang sekali hari ini, Shougo. Aku senang melihatnya." Nijimura tersenyum.
Wajah Haizaki sedikit memerah mendengar perkataan Nijimura yang tiba-tiba. "Aku biasa saja."
"Sudahlah, kau jujur saja."
"Cih. Sudah kubilang aku biasa saja." Kilahnya. Tidak mungkin ia mengatakan hal-hal sejenis-tentu saja senang karena aku bisa berkencan denganmu, bodoh—atau yang lainnya, kan? Nijimura bisa besar kepala nantinya.
Nijimura ingin tertawa melihat tingkah Haizaki. Kouhai-nya yang satu ini selain masokis, juga dicurigai sebagai tsundere akut. Perkataan dengan tindakannya selalu berlawanan. Bibir mengatakan tidak tapi air muka menunjukkan ia menikmatinya.
"Sudahlah, ayo main. Kau tidak takut, 'kan, adik kecil?" Haizaki menghentikan pembicaraan. Bisa berbahaya kalau diteruskan. Nijimura sangat ahli dalam membaca pikirannya.
"Tch. Jangan pikir aku akan takut naik itu." Nijimura ikut melangkah ke wahana roller coaster. "Dan jangan memanggilku begitu lagi atau aku akan menjatuhkanmu dari kereta itu nantinya."
Mereka berdua kemudian ikut mengantri. Setelah tiba giliran mereka untuk naik, Nijimura dihentikan oleh petugas penjaga wahana. Ia dilarang naik karena tinggi tubuhnya tidak mencukupi. Kurang lima senti lagi dari batas yang diperbolehkan.
Nijimura menekuk mukanya.
Haizaki tertawa sepanjang perjalanan menuju tempat makan. Bahkan hingga mereka beristirahat di sebuah cafe, Haizaki masih tertawa. Bibir Nijimura semakin maju melihatnya.
"Mau sampai kapan kau tertawa, huh? Aku bersumpah akan menghajarmu saat aku kembali normal nanti."
Bahu Haizaki berguncang menahan tawa. Ia kembali teringat dengan peristiwa tadi. Beberapa wahana tidak bisa mereka naiki. Permasalahannya sama-Nijimura yang tidak cukup tinggi.
"Tadi itu benar-benar lucu, Shuuzo. Kau seharusnya lihat wajahmu saat petugas itu melarangmu masuk. Seandainya tadi aku bisa memotretmu bersama alat pengukur tinggi itu pasti akan sangat menyenangkan." Haizaki membuka kaleng sodanya dan meneguk isinya. Kerongkongannya terasa kering karena tertawa.
Nijimura menyendok es krim setelah menghabiskan makan siangnya. Jangan tanya kenapa kali ini dia tidak memesan kopi kesukaannya. Haizaki sudah lebih dulu memesankan es krim sebelum Nijimura sempat memesan.
Es krim lebih cocok untuk anak-anak. Kata si surai abu dengan wajah mengejek dan seringai andalannya.
Nijimura juga tidak mengerti kenapa ia menurut saja. Mungkin ini efek dari tubuh kecilnya.
Ia sibuk memakan wafer coklat yang menjadi penghias es krimnya saat tangan Haizaki tiba-tiba terulur ke arahnya dan mengusap sudut kanan bibirnya.
"Kau makan belepotan. Seperti anak-anak saja." Ucapnya sambil menjilat jari yang terkena es krim bekas mengusap sudut bibir si surai hitam. "Ah, aku lupa. Sekarang kau memang anak-anak."
Wajah si surai hitam sedikit bersemburat merah. Apa-apaan ini? Bukankah itu hal yang biasanya dia lakukan jika mereka makan berdua? Nijimura yang biasanya mengusap saus yang menempel di bibir Haizaki saat dia makan burger atau kentang goreng. Bukan malah sebaliknya.
Tapi berkat itu sekarang ia mengerti kenapa Haizaki selalu memerah saat dia melakukan hal itu. Sedikit perhatian kecil seperti membersihkan sisa makanan dari bibir terasa begitu manis dan menyenangkan. Nijimura kembali sibuk dengan es krimnya.
"Setelah ini mau main apa?"
"Apa saja asalkan aku bisa main." Nijimura masih kesal tidak bisa mencoba beberapa wahana ekstrim karena tinggi tubuhnya.
"Kalau begitu itu saja." Haizaki menunjuk wahana kuda yang berbaris tiga dengan beberapa dari mereka menarik kereta kencana dan berjalan berputar sambil naik turun.
Sebuah Carousel.
Di bawah meja kaki Nijimura menendang kaki Haizaki. "Jangan menganggap aku ini benar-benar anak-anak, bodoh. Kau tahu aku setahun lebih tua darimu."
Haizaki meringis sambil mengusap tulang keringnya yang dalam hari ini sudah beberapa kali ditendang oleh si monyong kecil di depannya ini.
"Lalu kau mau main apa? Hanya itu wahana yang tidak mempermasalahkan tinggi tubuh."
Nijimura meletakkan sendok es krimnya. Pandangan mata kemudian beralih melihat peta taman bermain yang ada di cafe tersebut. Mereka sudah mengelilingi setengah dari taman bermain. Tinggal wahana permainan air yang belum mereka jelajahi.
Dan Nijimura sedang tidak mau bermain air.
Pengunjung cafe mulai berkurang sedikit demi sedikit. Keduanya tidak terlalu memperhatikan. Sibuk dengan kegiatan masing-masing. Haizaki mencocol kentang gorengnya ke saus sambal sambil sesekali menonton pengunjung taman bermain yang lalu lalang; Nijimura sibuk dengan pikiran bagaimana cara dia kembali ke ukuran normalnya.
Langit mulai mendung. Awan hitam bergerak ditiup angin dan memayungi area taman bermain. Tidak mau terjebak hujan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Belum sempat keluar dari taman bermain, hujan terlebih dahulu turun hingga membuat Haizaki mengangkat Nijimura dan berlari membawanya berteduh ke sebuah tenda terdekat.
Haizaki mengumpat sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang basah. Begitu juga Nijimura, ikut menepuk-nepuk pakaiannya berharap bisa sedikit membuatnya kering.
"Kenapa kalian hanya berdiri di luar? Tidakkah kalian ingin mengetahui kenapa dia bisa berubah begitu?"
Sebuah suara mengejutkan mereka. Terdengar berasal dari dalam tenda tempat mereka berteduh. Haizaki dan Nijimura saling berpandangan.
Diam sejenak. Suara itu kembali terdengar menyuruh mereka memasuki tenda.
Penasaran, Haizaki melangkah masuk ke dalam tenda. Nijimura mengikuti setelah sebelumnya melihat papan bertulisan di pintu masuk tenda.
Madam Wieltz
Masuklah dan akan kuberitahu peruntunganmu
Suasana di dalam temaram. Beberapa lilin di tempatnya berpendar redup di sudut-sudut tenda. Manik-manik dirangkai seperti kalung panjang menjuntai di sisi lain tenda. Bau dupa bercampur aroma bunga menusuk hidung.
Lebih mirip tempat praktek dukun daripada peramal. Batin Haizaki.
Di tengah tenda duduk seorang wanita dengan rambut digerai menyamping dan jubah panjang serta bola kristal kaca terletak di meja. Tangannya dihiasi lukisan aneh yang menurut Nijimura lebih absurd daripada tatto di punggung Haizaki. Oh, jangan kaget kenapa Nijimura bisa tahu Haizaki memiliki tatto di punggungnya.
"Selamat datang, selamat datang. Aku Madam Wieltz." Wanita itu tersenyum. "Apa yang bisa kubantu untuk kalian?"
Nijimura duduk di kursi di depan meja bola kristal. "Tadi kau mengatakan kata-kata semacam 'berubah'. Aku tidak salah dengar, 'kan? Apa maksudmu dengan itu?"
"Apa tadi aku mengatakan itu? Aku tidak ingat." Dia tertawa kecil. Tawa yang cukup mengerikan.
"Tch. Jadi kau hanya membual?" Haizaki mendecih. Sebenarnya ia cukup berharap peramal itu tahu penyebab Nijimura mengecil.
"Tidak. Aku tidak membual. Aku tahu semuanya, Haizaki." Madam Wieltz tersenyum kembali. Membuat Haizaki bergidik. Darimana wanita ini tahu namanya?
"Darimana kau tahu nama si bodoh ini?"
"Sudah kukatakan aku tahu semuanya."
"Kalau begitu katakan kenapa aku bisa mengecil seperti ini dan bagaimana caraku bisa kembali ke tubuh normalku dan bagaimana kehidupan percintaan kami ke depannya." Nijimura memberondong si peramal dengan pertanyaan.
"Pertanyaan terakhir itu tidak ada hubungannya sama sekali." Protes Haizaki.
Peramal itu diam kemudian kedua tangannya menyentuh bola kristal. Menjelajahi setiap sisinya. Nijimura dan Haizaki menunggu jawaban.
Hening. Lima menit berlalu dan peramal itu masih diam tak berbicara. Sibuk berkomat-kamit menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Haizaki mulai kehilangan kesabarannya.
"Ayo pergi dari sini. Sudah kuduga tempat ini konyol. Buang-buang waktu saja." Dia kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Menyibakkan tirai dari manik-manik yang menjadi pengganti daun pintu.
"Oi." Nijimura menyusul. "Kau sendiri yang tadi duluan masuk kesana." Ucapnya saat mereka sampai di luar tenda.
"Aku pikir dia bisa membantu, ternyata hanya membual saja."
Hujan masih turun dengan lebatnya. Membuat keduanya memutuskan berlari pulang sambil berteduh dari satu tempat ke tempat lain daripada menunggu hujan reda.
Di dalam tenda bola kristal Madam Wieltz berpendar aneh memunculkan kilauan-kilauan cahaya yang tak biasa. Lonceng-lonceng kecil berdenting membuat suara berisik saat tertiup angin. Api dari lilin-lilin bergoyang kesana-kemari.
"Kutukan itu memang ada dan tidak ada cara khusus untuk kembali normal. Dia hanya butuh malam dan fajar. Dan kalian akan bersama selamanya."
.
.
.
Ceritanya makin gaje ya? ._.)a
Bomad dah
Anyway, Trims atas semangat yang sudah diberikan di chapter 1 hingga saya memutuskan untuk membuatnya jadi multichapt. Saya terharu sangat /susut ingus/ /dibuang/
See you in the next chapter, minna~
