chapter 2 : Simpati
Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto
Pair : NaruSaku
Warning : Typos, OOC/Gaje/abal-abal and any mores
don't like don't read
makasih banget atas kritik dan sarannya, dobe-chan gak akan marah dengan banyaknya kritik dan saran, karena semua itu benar-benar membantu banget buat saya yang masih dibilang awam bagi seorang penulis FF,
FF yang saya tulis ini memang terinspirasi dari drama korea DOTS, tapi jalan ceritanya sesuai dengan imajinasi dobe-chan :D, untuk typo emang masih bertebaran dimana-mana seperti kata 'Sakura nee' yg sebenarnya 'Sakura ne' (kelebihan satu huruf artinya jadi beda ya hehe maaf), kemudian penulisan ayah sakura 'Kizaki' yang sebenarnya 'Kizashi' (makasih banget udah diingetin T_T), dan untuk masalah update, dobe-chan ga bisa janji cepet, biarlah mengalir seperti alir saja gkgkgk.
kemungkinan masih banyak juga kekuranganya tapi itu untuk lain kali lagi ya karena Ini saya update chap ke-dua, hehe maaf lama, sebenarnya udah mau update minggu kemarin, tapi apalah daya kuota abis, jadi nunggu punya uang untuk beli lagi. Happy reading! :D :D :D
Seminggu setelah kejadian makan malam itu Sakura kembali di sibukan dengan pekerjaannya di UGD, tidak ada kelanjutan masalah perjodohan sialan itu, bahkan dia mencoba untuk bicara untuk menggagalkan perjodohan kepada kedua orang tuannya namun hasilnya nihil.
Pemuda yang di panggil Naruto pun tidak ada kabar sampai saat ini, seharusnnya Sakura senang walaupun perjodohan tidak bisa digagalkan, hidupnya normal-normal saja, tidak merasa tertekan ataupun mencoba menghindari sesuatu,
Tapi tidak sedikit juga dia bingung, secara, orang tuannya seperti mempermainkannya, menjodohkan dengan seseorang tapi sampai sekarang tidak ada kepastian, huh.. biarlah, mungkin ini cara pemuda itu untuk menghindari perjodohan ini, anggap saja acara perjodohan itu tidak pernah ada jadi dia sendiri tidak harus memikirkan hal lain selain fokus pada pekerjaannya sekarang.
Mengingat kembali saat ditinggal berdua di restoran tempo hari dan saat shapirre laki-laki itu menatapnya, Ugh, Sakura seperti terbius akan keindahan mata secerah langit laki-laki itu, Indah dan misterius, dua kata yang dapat diungkapkan oleh Sakura saat itu, hei hei hei, apa-apaan pikiran tadi? itu salah, bukankan pemuda itu dan dirinya tidak menginginkan perjodohan ini? entahlah hanya Tuhan yang tahu jawabannya, sekarang dia kembali dengan tugasnya di ruang UGD.
"Dr Haruno! ada pasien darurat yang akan segera datang lima menit lagi" seru seorang perawat menyeadarkannya ke dunia nyata
" baiklah, aku segera datang" Sakura segera bergegas menuju ke pintu UGD, disana sudah ada ambulan yang sedang mengeluarkan pasien darurat, seorang wanita yang mengalami kecelakann
"pasien mengalami benturan keras di kepala, kaki kanan patah dan retak di tulang rusuk" laporan dari salah satu perawat yang berada disamping Sakura
" hmm.. cepat bawa ke dalam" Sakura mengangguk kemudian berlari mendorong troli pasien kecelakaan menuju UGD
" dokter tekanan darah menurun dan oksigen juga menurun" tukas perawat Rin di depannya, Sakura dengan cekatan memasangkan oksigen ke pasien
TUTTTTTTT! suara mesin pendeteksi jantung menunjukan tidak adanya pergerakan garis zigzag
"tekanan darah terus menurun" ujar Rin
"ambilkan alat kenjut jantung" perintah Sakura, dengan sigap Rin membawa alat kejut jantung
"200 joule clear, shoot "Sakura langsung menempelkannya di dada pasien
TUT TUT TUT
" tekanan darah kembali normal" Rin dan Sakura mengusap peluh yang sudah membanjiri kening mereka
" kau menyelamatkan satu nyawa lagi dokter" ucap Rin sambil menepuk punggung Sakura dan dibalas anggukan dari Sakura, kemudian di bantu Rin, Sakura mulai membersihkan luka di beberapa tubuh wanita itu, menjahit luka pasien dan tidak lupa memberikan gip di kaki kanan pasien yang patah
" selesaikan sisanya, segera hubungi keluarganya dan pindahkan di ruang inap" perintah Sakura kepada Rin
" Ha'i dokter" jawab karin
Tadi itu adalah tugas terakhirnya malam ini, seperti biasa sebelum pulang dia menyelasaikan beberapa laporan untuk hari ini. Sakura berjalan melewati meja resepsionis UGD dimaana dia melihat beberapa temannya sedang bergosip, entah apa yang digosipkan temannya itu, dia tak mau tau, karena yang dia inginkan saat ini adalah pulang dan istirahat
" kalian bekerjalah yang profesional, jangan hanya bergosip terus" suara Sakura mengintrupsi semua teman-temanya yang sedang asik bergosip
"hehe Dr. Haruno, kami hanya berbincang masalah pekerjaan" Shion yang ketahuan sedang bergosip di meja resepsionis, mencari alasan lain dalam menjawab pertanyaan Sakura, secara Sakura ini kan kepala UGD, kalo ada pegawainya yang bergosip di saat jam kerja dia wajib menegurnya, walaupun sebenarnya dia juga tidak ingin mengganggu urusan orang lain, yah anggap saja formalitas, biar dianggap sebagai pimpinan yang tegas.
" selalu saja banyak alasan" Sakura mendengus, melirik jam tangannya sesaat, "baiklah minna, aku pulang dulu" seru Sakura kepada teman-temanya
" baiklah dokter kau sudah bekerja keras hari ini, hati-hati di jalan" Rin menanggapi dari meja resepsionis
"jaaa" sambung Sakura sambil berlalu
Hah, berjalan sambil menautkan tangannya keatas, kemudian menggerakan ke kanan dan ke kiri untuk merilekskan otot-otot tubuhnya, kerja yang cukup melelahkan tapi Sakura senang karena ini memang pekerjaan yang dia inginkan, berendam air hangat sesampainya dirumah sepertinya pilihan bagus saat ini, bergegas melangkahkan kakinya terus menuju pintu keluar rumah sakit agar segera sampai di rumah, hari ini dia tidak membawa mobil jadi dia memutuskan untuk naik taksi saja karna jarak halte untuk menaiki bus masih beberapa meter lagi dan ia sudah lelah untuk berjalan,
Kruyukk! ah ternyata dia baru ingat jika hari ini dia melewatkan makan sianngnya lagi, benar-benar lapar saat ini, mungkin mampir ke kedai sushi yang ada di depan rumah sakit ini dulu tidak masalah, toh masih jam 7 malam di Konoha, jalanan masih ramai, setelah itu baru pulang. berjalan terus berjalan,
Ckittttt
"astaga!" jerit Sakura, dia terkejut karena dengan tiba-tiba ada mobil sedan berwarna biru metalik berhenti di sampingnya, kaca mobilnya diturunkan, Sakura masih shock mencoba untuk menetralkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang, dengan hati-hati dia mencoba untuk menundukan diri dan melihat siapa gerangan yang ada didalam mobil.
"hei!" seru seseorang dari dari dalam mobil, Sakura reflek mundur beberapa langkah dan masih dalam keadaan menunduk "tunggu apalagi? cepat masuk bodoh" ujar pemuda yang berda dibalik kemudi
Twitctt
perempat siku muncul di kening Sakura setelah mengetahui siapa orang dibalik kemudi mobil berwarna biru metalik "kau pikir aku mau masuk hah?!" jengkel, ya Sakura emosi, dengan laki-laki blonde yang hampir membuatnya jantungan, dan apa katanya tadi? laki-laki yang tidak bertemu setelah satu minggu itu mengatainnya bodoh? what the hell, ingin sekali Sakura menonjok mukanya itu.
"baiklah, mungkin dengan cara ini kau mau masuk" dengan tenang Naruto membuka pintu mobilnya, keluar berjalan ke arah Sakura dan langsung merangkulkan lengannya ke bahu Sakura
GREP
"h-hei a-apa yang kau lakukan?" Sakura bingung akan perlakuan Naruto yang tiba-tiba, wah apa-apaan laki-laki ini? "kau mau menculikku hah?" mukanya merah padam menahan amarah, dia berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari dekapan Naruto, tetapi dia tidak bisa karena perbedaan kekuatan yang tidak sebanding apalagi memang sekarang fisiknya sudah lelah dan apa lagi ini, kenapa juga jantungnya tidak bisa terkontrol seperti ini, dia juga merasa ada sesuatu yang menggelitik di perutnya peasaan aneh yang begitu asing.
Naruto yang merasa Sakura masih berontak dalam dekapannya kemudian berujar "aku hanya menerima perintah untuk membawamu masuk ke mobil dan mengantarmu pulang" balas Naruto datar, membuka pintu mobilnya dan membawa masuk Sakura dengan paksa, Sakura yang tidak bisa berontak hanya pasrah menuruti apa yang diperbuat oleh Naruto
selama perjalanan hanya hening tidak ada yang memulai untuk bicara, Naruto masih dengan stay cool fokus untuk mengemudikan mobilnya sedangkan Sakura masih dengan pikirannya sendiri, menebak-nebak ada apa dengan Naruto yang tiba-tiba muncul setelah satu minggu tidak bertemu dan membawanya paksa seperti ini
Kruyukk!
Naruto menaikkan salah satu alisnya mendengar suara itu, acuh dan masih fokus untuk mengendarai mobilnya.
oh memalukan, tidak usah ditanya, semua orang juga akan tau suara itu berasal dari mana, Sakura masih berura-pura mengabaikan suara perutnya yang menjerit meminta untuk segera diisi, sedangkan tatapannya masih keluar jendela menahan malu.
Kruyukk Kruyukk!
Naruto mengangkat sudut bibirnya sedikit merasa geli dan melirik kearah gadis merah jambu disebelahnya.
'Oh perut sialan, tidak bisa diajak kerjasama saat ini, memalukannnn!'...teriak inner Sakura. Cukup. dia tidak akan mempermalukan dirinya lagi, akhirnya dia mengeluarkan suaranya "aku lapar" ujar Sakura lirih yang masih mampu didengar Naruto. "bisakah kita mampir dulu ke kedai atau restoran untuk makan?"
Naruto hanya melirik ke arah Sakura dan menganggukan kepalanya, kemudian menepikan mobilnya di sebuah restoran sushi. Naruto dan Sakura memasuki restoran tersebut. hanya Sakura saja yang memesan makan sedangkan Naruto hanya memesan capuccino. tidak ada pembicaraan ketika Sakura mulai asik dengan makanannya sedangkan Naruto sesekali menyesap capuccino pesanannya.
Saat pesanan diantarkan Naruto melihat jam di tangan kirinya yang menunjukan pukul 08.40 malam, dahinya mengernyit dan menatap Sakura "apa kau slalu makan malam terlambat?" Tanya Naruto memecah keheningan diantara keduannya
Sakura menatap Naruto heran, menelan makanan yang dikunyah "umm" mengangguk sekali "beginilah konsekuensi pekerjaanku, selapar apapun jika ada pasien darurat, mau bagaimana lagi?" jelasnya seraya mengedikan bahunya, Sakura mulai memakan makanannya lagi. hening. tidak ada pembicaraan lagi sampai Sakura menghabiskan makanannya. Dia menegakan duduknya dan menatap Naruto lurus
"apa?" karena merasa aneh dipandangi oleh Sakura
"kenapa kau tiba-tiba muncul dan memaksaku pergi serta menuruti kemauanmu?" inilah pertanyaan yang ingin ditanyakan sejak tadi
"hanya perintah orang tuamu dan nenekku" jawaban singkat yang keluar dari mulut Naruto membuat Sakura menatapnya aneh
"perintah?" beo Sakura
"hmm" anggukan Naruto
"kau bisa menolaknya jika kau tidak mau, akupun juga tidak menginginkannya" apa sih sebenarnya yang ada di kepala laki-laki blonde di depannya ini? orang tua bukan, asisten bukan, bodiguard juga bukan tapi setiap perkataannya tidak pernah bisa Sakura cerna, Perintah? memangnya dia seseorang yang hidup di dalam dunia militer yang harus patuh akan perintah, siapa dia berani seenaknya sendiri membawanya dengan alasan di perintah orang tuanya, ataukah dia ini suruhan yakuza yang diperintah untuk menculiknya? tidak, tidak,tidak mungkin, karena orangtuanya tidak akan melibatkan mafia semacam itu. Sakura menggelengkan kepalanya pelan
"kau sudah selesai, sebaiknya kita pergi, aku sudah membayarnya tadi" Naruto bangkit dari tempat duduknya dan melengganggang pergi, baru dua langkah, dia merasa Sakura tidak juga mengikuti, Naruto berhenti dan membalikan badannya "apa yang kau tunggu? kau tidak mau pulang?" masih bingung dengan tingkah Sakura yang masih tidak bergerak.
Sakura hanya mendongakan kepalanya, menatap pemuda didepanya dan bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa Naruto tidak menjawab pertanyaannya? kenapa malah menyuruhnya untuk segera pergi? kenapa selalu saja mengalihkan pembicaraan? itu tiga dari sekian banyak pertanyaan yang masih berputar-putar diotaknya, sebenarnya apa yang kedua orang tuanya inginkan, menjodohkan dirinya dengan laki-laki yang penuh dengan teka-teki seperti ini, apa tidak ada laki-laki lain yang lebih normal mungkin, yang bisa enak untuk diajak berbasa-basi, huh! Sakura mendengus sarkas, apa tadi yang telah dia pikirkan? entahlah dia sendiri juga tidak tahu
Naruto memutar bola matanya, 'apa lagi yang sedang ada dipikiran wanita di depannya ini?' Naruto menghampiri Sakura yang masih duduk, kemudian menarik tangannya, menyeretnya untuk segera keluar kedai dan segera mengantarnya pulang, dia sendiri sudah lelah, baru saja pulang tugas sore tadi, neneknya sudah menyuruhnya untuk menjemput gadis merah jambu ini, sepintar-pintarnya dia mengelak keinginan neneknya yang satu ini, bisa dipastikan dia tdak akan pernah bisa menolak.
Mencoba dengan meminta tugas-tugas sepele pun dia mau agar terhindar dengan gadis yang dijodohkannya seminggu yang lalu, walaupun dia sendiri tidak menyukai tugas sesepele sekalipun, tetap saja neneknya ini bersikeukuh mendekatkannya dengan gadis dokter itu. "cepat pulang, cepat untuk beristirahat juga bodoh" perkataan Naruto tadi sukses membuat Sakura tersadar
'lagi-lagi mengataiku bodoh' oke untuk kali ini saja dia menurut diseret oleh laki-laki di depannya ini. dia sudah lelah untuk berdebat dengan laki-laki misterius di depannya ini.
Tiga puluh menit perjalanan menggunakan mobil Naruto, Sakura tiba di depan rumahnya, keluar dari mobil Naruto tanpa mengucapkan terima kasih, melenggang begitu saja memasuki rumahnya, para maid yang mengetahui sang tuan rumah datang segera membungkukkan badannya
"Okaeri" ucapnya setelah membuka pintu rumahnya
"okaeri sayang" jawab ibu Sakura riang sambil menghampiri anaknya. Sakura yang merasa aneh dengan tindakkan ibunya ini bingung sendiri
"tumben ibu belum tidur? biasanya ibu sudah istirahat saat aku kembali?" ternyata Sakura melupakan satu hal, bahwa ibunya ini tentu bersikap diluar kebiasaannya karena laki-laki yang ada dibelakanngnya
"selamat malam oba-san" sapa Naruto ramah kepada ibu Sakura, lagi-lagi Sakura dibuat bingung oleh laki-laki yang sekarang berada di sebelahnya ini, apakah ini mimpi? kenapa dia berubah ramah begini dihadap orangtuanya, sedangkan dihadapannya dia selalu bersifat dingin dan misterius
"ara, selamat malam Naruto, trimakasih sudah mengantar Sakura pulang" sapa Mebuki mengabaikan pertanyaan Sakura. Seharian lelah bekerja, kemudian saat pulang diseret seenaknya oleh laki-laki disampingnya ini, setelah sampai rumah pertanyaannya diabaikan oleh ibunya sendiri, Sakura memutar bola matanya dan mendengus, merasa diacuhkan dia langsung saja pergi dari dua manusia yang menyebalkan itu
"Kau tidak mengucapkan terimakasih pada Naruto sayang?" tanya Mebuki yang melihat kepergian Sakura, Sakura hanya mengedikkan bahunya tanpa menoleh kearah dua orang dan tanpa mengucapkan sepatah katapun "anak itu, maafkan Sakura yang manja ya Naruto" Mebuki meminta maaf
"tidak apa-apa oba-san, sepertinya saya juga harus pamit untuk pulang" segera saja Naruto membungkuk untuk memberikan hormat
Keesokan paginya, Sakura sudah bersiap untuk berangkat bekerja, mengambil tas, jas dokter dan kunci mobilnya, dia berjalan mebuka pintu kamarnya, tepat saat dia berbalik setelah menutup pintunya dia dikagetkan oleh sesosok laki-laki yang mengantarkannya pulang tadi malam
"Kau" tunjuk Sakura tepan didepan hidung Naruto "apa yang kau lakukan di rumahku hah?"
Flashback
"tidak apa-apa oba-san, sepertinya saya juga harus pamit untuk pulang" segera saja Naruto membungkuk untuk memberikan hormat dan berbalik untuk meninggalkan rumah keluarga haruno
"tidakkah kau lebih baik menginap Naruto?" ucapan Mebuki membuat Naruto berbalik lagi
"maaf bibi, saya harus pulang, besok pagi saya harus datang lebih awal ke kantor" elak Naruto, mana mungkin dia mau menginap di rumah orang lain, apalagi orang asing ini mengingatkannya kepada kedua orangtuanya yang sudah tiada. Baper men….
"tapi kau sudah nampak lelah Naruto, menginaplah kau juga tidak akan terlambat jika berangkat dari sini" bujuk Mebuki, ini memang rencananya agar Naruto dan Sakura bisa lebih dekat lagi
Drrtt drtt
Naruto mengumpat dalam hati saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya, kenapa harus disaat seperti ini neneknya menelponnya "maaf saya harus mengangkat panggilan" mendapat balasan anggukan dari Mebuki Naruto berjalan sedikit menjauh untuk mendapatkan privasi
"moshi-moshi"
"NARUTO" SINGGG…, reflek Naruto untuk menjauhkan ponsel dari telinganya karena dia tidak ingin telinganya tuli mendadak aKibat suara neneknya yang bisa memecahkan gendang telinga, "kau harus menginap di rumah Sakura, atau kau tidak akan mendapatkan misi selama satu bulan" ultimatum dari neneknya segera saja membuat Naruto merasakan firasat buruk akan segera menimpanya
"baa-san kau tidak bisa menyalahgunakan wewenangmu"
"aku bisa melakukan apapun apalagi menyangkut tentangmu gaaki" tuh kan, firasat buruknya secepat itu menjadi kenyataan
"baa-san ak-"
"menginap atau tidak ada misi selama satu bulan?"
"baa-san-"
"dan tidak ada penolakan" tut tut tut, ucapan Tsunade yang mutlak mencegah Naruto untuk mebantahnya
Selalu saja seenaknya sendiri dan selalu saja Naruto tidak bisa membantah, mau membantah pun dia juga akan rugi sendiri. Di bebas tugaskan dari misi selama satu bulan, ugh…jangan sampai hal itu terjadi, dia bisa mati kebosanan dan neneknya semakin gencar mendekatkannya dengan Sakura, tidak tidak tidak, misi adalah hal yang selalu dia inginkan dari apapun karena dia adalah seeorang abdi Negara. (itu sih pemikiran Naruto saat ini dia belum tau pemikiran kedepannya akan lebih rumit lagi).
Naruto hanya memandang Sakura sekilas dan melenggang pergi meninggalkan Sakura beberapa langkah dibelakangnya, Sakura yang merasa aneh terus mengikuti Naruto dan mencoba menyamai langkah laki-laki itu.
"hei, aku tanya kepadamu tuan, sejak kapan kau di sini?"
Lagi-lagi Naruto mengabaikan Sakura yang semakin dongkol, Naruto hanya mengedikan bahunya acuh, terlalu malas menanggapi berbagai pertanyaan dipagi hari. Mereka berdua berjalan menuju lantai satu untuk sarapan.
"hei kenapa kau tidak menjawabnya?" astaga, Sakura lama-lama bisa gila dipagi yang indah ini jika berhadapan makhluk kuning berbentuk manusia di depannya "kau tuli? Atau kau bisu? Kenapa kau tidak menjawab brengsek!" habis sudah kesabaran Sakura, marah di pagi hari memang tidak baik untuk kesehatan, tapi apa boleh buat menghadapi makhluk astral didepannya ini tidak bisa menggunakan kesabaran.
Naruto berbalik mendekatkan wajanya ke wajah Sakura, dia juga merasa geli sendiri dengan tindaknnya ini "hei, jaga ucapanmu nona, tidak baik marah-marah dipagi hari, lihat" sengaja memberikan jeda dan tunjuk Naruto dengan dagunya "bahkan ada tambahan keriput dikening lebarmu itu" tandas Naruto
TWICHT
"hei, kau pikir dirimu siapa? Dasar makhluk kuning berwujud manusia" balas Sakura tak mau kalah
Naruto berbalik menghadap Sakura, kali ini tidak mendekatkan wajahnya "hati-hati nona, setelah mengataiku seperti itu kau bisa jatuh cinta denganku"
Blusss
melihat wajah Sakura yang tiba-tiba memerah Naruto menyeringai puas
"siapa juga yang akan jatuh cinta dengan makhluk seperti kau?" menjaga suaranya agar tetap tenang, karena setelah ucapan Naruto barusan dia merasa jantungnya berpacu diluar normal
"waktu bisa merubah perasaan seseorang, dan asal kau tau nona,-" Naruto sengaja memberikan jeda dan menyeringai lagi, "pesonaku melebihi artis papan atas di Konoha" tambah Naruto Percaya Diri, dia merasa tidak buruk juga melihat sisi pemarah dari perempuan yang telah dijodohkan dengannya ini (asal kalian tau aja, kalian ini mulai tertarik satu sama lain lho)
DEG
Sakura kicep dan tidak bisa lagi membalas ucapan Naruto. astaga apa mungkin yang dikatakan laki-laki ini? Sakura menggelengkan kepalanya, tidak, dia tidak boleh jatuh dalam pesonanya apalagi jatuh cinta dengan laki-laki misterius di depannya ini, TIDAKKKKK…..Sakura mencoba untuk membuka mulutnya lagi namun sapaan dari ibunya membuatnya mengurungkan niatnya
"ohayou Naruto, Sakura, kemarilah, bibi sudah menyiapkan banyak makanan disini" Mebuki tersenyum cerah saat melihat anaknya dan calon menantunya ini berjalan bersama untuk sarapan, apalagi melihat interaksi keduanya yang dibilang cukup dekat (padahal kalau dia tahu, interaksi itu hanya ada percekcokan semata nyonya Mebuki)
"ohayou bibi, paman" sapa Naruto ramah, dia berjalan dan mendudukan dirinya dikursi meja makan
Sakura yang masih belum tersadar dari lamunanya, masih berdiri mematung. Lagi-lagi dia bingung dengan laki-laki ini, dia bisa bersikap ramah dan berbicara normal di depan kedua orang tuanya, tapi saat didepannya hanya selalu menyulutkan emosinya, oh pintar sekali memainkan peran layaknya artis pemain film dorama batinnya.
"Sakura, cepatlah kemari untuk sarapan!" perintah Mebuki, dan apalagi itu, kenapa ibunya ikut-ikutan bersikap menyebalkan seperti itu, anaknya sendiri diketusin sedangkan anak orang lain malah dibaik-baikin, sebenarnya disini siapa sih yang anaknya.
" ohayou Ayah, ohayou Ibu" sapa Sakura kepada kedua orang tuanya, dia melirik sekilas Naruto dan mendudukan dirinya di samping Naruto.
Mebuki yang melihat dua orang berbeda jender didepannya semakin tersenyum ramah, oh sepertinya perjodohan ini akan berjalan lancar, ingatkan dia nanti untuk memberi kabar baik ini kepada Tsunade yang juga telah memuluskan rencana mereka tadi malam.
Entah kesialan atau keberuntungan, Sakura sendiri juga tidak tau, dia harus semobil lagi dengan laki-laki blonde di sebelahnya ini yang akan mengantarnya ke tempat kerja. Hanya hening yang meliputi mereka selama perjalanan empat puluh menit menuju tempat kerja Sakura, Naruto menghentikan mobilnya di depan pintu masuk Rumah Sakit.
Sebenarnya Sakura tidak pernah lupa untuk berterima kasih kepada siapaun yang membantunya walaupun itu hal sepele, tapi karena laki-laki di sebalahnya ini dimana dari pertemuan pertama sampai saat ini yang terkesan buruk, dia merasa enggan untuk berterima kasih, tapi kali ini mungkin dia harus berterimakasih karena Naruto mengantarnya tanpa paksaan, karena lebih tepatnya adalah paksaan dari ibu Sakura yang tiba-tiba memberikan pupye eyes no jutsunya kepada Naruto untuk mengantarnya.
"-ra, Woi! Sakura!" suara baritone yang sedikit meninggi menyentakan Sakura dari lamunanya
"tidak bisakah kau bicara lebih pelan Naruto'' sungut Sakura karena kaget
"kau sudah kupanggil lebih dari tiga kali nona" balas Naruto menjelaskan, Naruto melirik Sakura yang masih terdiam "apa kau sangat betah berada di dekatku sehingga kau enggan untuk keluar dari mobilku?" Tanya Naruto disertai seringainya
"ck, kau terlalu percaya diri tuan" Sakura sudah jengah dan tidak akan memulai pertengkaran lagi, sudah cukup paginya yang suci tercemar oleh laki-laki di sebalahnya ini, kemudian Sakura melepaskan seltbelnya. Saat akan membuka pintu mobilnya suara Naruto menginstrupsi lagi
"mana ponselmu?" Tanya Naruto dengan menengadahkan tangan kanannya
"Eh?" Sakura bingung dan mengernyitkan dahinya
"ck, ponsel nona pinky" Naruto mendecak "apa kau tak punya ponsel?" Naruto menjelaskan lagi, karena Sakura yang tak cepat menanggapinya
"kau pikir aku serendah itu hingga tak punya ponsel, huh" Sakura membuka tasnya untuk mengambil smartphonnya, dia bingung dengan reaksinya ini, saat ponsel masih di tangannya dia bertanya lagi "untuk apa kau menginginkan ponselku?"
Naruto menyambar ponsel Sakura sebagai balasnya, dia mengetikan nomernya sendiri di ponsel Sakura, dan munculah panggilan di ponselnya sendiri, kemudian dia mengetikan namanya di kontak ponsel Sakura "nih" Naruto memberikan ponsel Sakura kepada pemiliknya, "kadang merepotkan jika harus berurusan dengan orantua menyebalkan itu, mungkin dengan ini kita bisa saling menghubungi terlebih dahulu sebelum terjebak dalam hal menyulitkan, seperti kejadian tadi malam" jelasnya dan mendapatkan anggukan setuju dari Sakura (sebenarnya mungkin ini modus Naruto hehehe)
"arigatou" ujar Sakura lirih namun dapat didengar oleh Naruto, kemudian dia keluar dari mobil Naruto dengan cepat, Naruto yang mendengar ucapan Sakura tadi hanya tersenyum miring
Sakura berjalan menuju pintu masuk rumah sakit, karena penasaran dengan tindakan Naruto tadi ia mengambil kembali ponselnya mengernyit heran mendapati nama kontak di ponselnya [Capt. Naruto] kemudian mengirimi pesan singkat
[kau ingin main perang-perangan seperti anak kecil, eh? Dasar masa kecil kurang bahagia]
[kau tidak percaya? aku memang seorang kapten]
[tidak kusangka percaya dirimu setingkat dewa tuan kuning :P]
[memang kau pikir aku seperti apa?]
[jika kau menganggap dirimu layaknya seorang capten America, maka aku adalah wonder women]
[tapi sepertinya kau lebih mirip cat women]
[ck, aku tidak suka manusia kucing!]
[tapi kau lebih cocok dengan karakter itu *smirk*]
Ya ampun, bahkan berbicara melalui pesan singkat saja dia masih dengan sikap menyebalkan itu, ingin rasanya menonjok muka laki-laki blonde itu jika mengingat seringainya, shit.
Kali ini para teman-teman serta bawahan Naruto di buat bingung, pasalnya sejak tadi pagi lebih tepatnya saat Naruto memasuki kompi, mereka merasa kaptennya ini tidak lagi mengumbar aura hitam pekat yang biasa dikeluarkan selama sepekan ini, dimana aura itu bisa membuat siapapun merasa dibunuh secara tak kasat mata, akan tetapi kali ini Naruto mengeluarkan aura cerah yang lebih hangat. Ada apakah dengan sang kapten?
Naruto sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian latihan sambil bersiul, dia bersiap untuk latihan menembak dengan empat temannya yang juga anak buahnya di pasukakan khusus. Berjalan menuju tempat latihan, dia menemui seseorang yang berjaga di tempat latihan untuk meminta set perlengkapan latihan menembak
"oi kapten, apa kau sedang jatuh cinta?" Tanya seorang wanita bersurai pirang pendek yang telah melihat aura berbeda dari sang kapten
"Ck, penganggu" 'pengganggu suasana' lebih tepatnya
"kau akan latihan?" mendapat jawaban yang terkesan ketus, mencoba untuk bertanya lagi
"Hmm"
"apa ada Shikamaru disana?" wanita blonde itu mencoba untuk melongok ke dalam mencari seseorang. Wanita yang sedang berbicara kepada Naruto adalah Yamanaka Ino, dia seorang dokter sekaligus perwira tentara, dan kekasih dari wakil kapten pasukan khusus yaitu Nara Shikamaru.
"apa kau merindukannya?"
"mungkin"
"ck, dasar tsundere"
"terserah"
"kenapa kau tidak mencarinya di tempat yang tenang, bukankah kau tau kebiasannya?"
"aku baru saja pulang dari tugas dan sudah berkeliling ke tempat yang kau maksud, tapi dia tidak ada"
Sebelum Naruto mencoba menyuarakan pendapatnya lagi dia dan Ino mendengar suara lantang dari dalam tempat latian tembak
"Hah, kau memang menyebalkan Gaara, oe Shika kemarilah lawan kami kita bertarung dan menentukan siapa yang terbaik diantara kita" seru Kiba dengan suara yang lantang
"hoaamm, kau berisik sekali Kiba, merepotkan" walaupun dengan tampang mengantuk Shikamaru meladeni apa yang dikatakan oleh Kiba. Selain Shika dan Kiba, ada juga Gaara dan Neji yang sedang serius membidikan senjatanya saling bersaing untuk mendapatkan poin tertinggi
DOR DOR
"sepertinya aku sudah menemukan orang yang kucari kapten" Ino tersenyum riang mendengar suara Kiba memanggil nama kekasihnya, langsung saja ikut mengambil set perlengkapan alat tembak dan berjalan menuju tempat latihan tembak. Naruto yang juga memang akan berlatih menggeleng pelan dan berjalan dibelakang Ino
"yo kapten" seru Kiba saat menyadari ada dua orang lagi yang akan bergabung "Oe sikha, sepertinya kau kedatangan tamu" Kiba memberi tahu kedatangan Ino kepada Shikamaru
"SHIKA!" teriak Ino dan langsung menerjang Shikamaru untuk memeluknya, untung saja mereka sudah menggunakan peredam suara di telinganya, jadi teriakan Ino tidak begitu merusak gendang telinga.
"ck merepotkan" Shikamaru yang tadi sedang serius membidik untuk menembak, harus kecewa karna tembakannya jauh mengenai titik hitam di tengah gambar pusaran yang berjarak beberapa meter di depannya
"begitukah caramu menyambutku yang tidak kau temui selama seminggu, hah?, oh astaga benar-benar menyebalkan" Ino mengerucutkan bibirnya kesal dengan sikap Shikamaru yang selalu malas dan mengeluarkan kata merepotkan, padahal dia ini kan kekasihnya. Huh, menyebalkan
"kau ini mau apa?" Tanya Shikamaru cuek, Ino segera saja akan menjawab pertannyaan Shikamaru tapi Naruto lebih dulu berbicara
"wow, Shika tidak kusangka seorang jenius sepertimu tidak bisa menembak dengan benar" ejek Naruto yang sedang bersiap menembak dan DOR! Tembakan pertama langsung melubangi titik hitam yang ada di tengah-tengah pusaran
"huh, kau hanya sedang beruntung kapten, tak usah sombong" balas Shikamaru sarkas
"bilang saja kau memang belum bisa melebihi kaptenmu ini"
"bahkan kita semua tau kapten, siapa disini penembak jitu yang paling ahli" balas Shikamaru sambil melirik Gaara
Pertengkaran mulut antara keduanya itu semakin sengit, sampai menimbulkan perhatian dari keempat manusia lainnya, Neji dan Gaara hanya saling pandang, Ino masih mengerucutkan bibirnya karena kesal, sedangkan Kiba, tiba-tiba mendapat ilham untuk memanaskan pertengkaran antara kapten dan wakil kaptennya
"kenapa kalian tidak bertanding saja untuk menentukan siapa yang lebih baik" celetuk Kiba
"tidak masalah/siapa takut" jawab keduanya kompak menanggapi ucapan Kiba, Kiba yang sengaja berucap itu hanya menyeringai kecil dan membisikan sesuatu ke telinga Ino, Ino yang mengerti langsung menengahi
"peraturanya hanya sekali tembak, dan siapa yang tidak bisa menembak tetap sasaran akan memenuhi keinginanku dan apapun keputusanku kalian harus terima" ujar Ino singkat dan langsung mendapat tatapan tajam dari Shikamaru dan Naruto
"kenapa harus kau yang menentukan?" Tanya Naruto tak terima
"karena aku juri kalian saat ini" jawab Ino enteng "bagaimana? Apa kalian takut dengan tantangan dariku?" Tanya Ino meremehkan
"siapa takut"
"hah, merepotkan"
"baik, bersiaplah" 'untuk hukuman yang akan kalian terima dariku' lanjutnya dalam hati dan oh jangan lupakan seringai dari Ino tadi, Kiba yang tau akan apa yang telah direncanakan Ino tersenyum puas sedangkan Gaara dan Neji hanya mengikuti saja tanpa berkomentar.
Ino merasa diuntungkan dengan adanya pertandingan kecil ini berbekal informasi singkat yang dibisikan oleh Kiba, dia akan menyiksa kapten dan wakil kapten yang menyebalkan ini (hahaha ketawa iblis)
Shikamaru dan Naruto bersiap dengan senjata mereka masing-masing, keduanya sedang focus dan berkonsentrasi untuk membidikan sasarannya, Shikamaru yang tadinya bertampang malas saat ini sudah menampakan keseriusannya tidak ada tanda muka mengantuk dan malas, Naruto juga sama. Perlahan mereka menarik pelatuknya dan-
DOR!
DOR!
TBC
siapakah yang memenangkan pertandingan adu tembak, naruto ataukah shikamaru? jawabanya ada di chap selanjurtnya hehe ditunggu ya...
seperti biasa dobe-chan juga menunggu kritik dan saran dari para reader, biar semangat melanjutkan ceritanya, karena walaupun kadang malas tapi dobe-chan gak pengen buat cerita yang nantinya malah di tinggalin gitu aja tanpa diselesaikan dulu. ketemu lagi di chap selanjutnya bye-bye ;)
