Dan Tetsuna terhuyung mundur setelah mengintip lewat celah rak itu. Ia merasakan aura dingin tiba-tiba menghinggapi dirinya—

ketika manik azure itu dipertemukan dengan sepasang manik heterochrome bewarna merah dan emas.

An Angel

Author: karuna chan

Genre: romance, drama

Cast: Akashi S, Kuroko T(fem), Kagami T, Kiseki No Sedai

Tetsuna X Seijuurou

Cast kuroko no basuke belong to Tadatoshi Fujimaki, i just have the imagination and storyline.

Ini MUTLAK ff saya (sok Akashi:v), storyline basic on my imagination.

Review for my first KnB fanfic please^^

AkaxFem!Kuro/hanya kisah seorang gadis yang biasa-biasa saja. Namun, dirinya yang biasa-biasa saja itu terlihat luar biasa di mata sosok tuan muda kita, Akashi Seijurou./"Kau bisa mengubah Akashi menjadi seperti dulu lagi, Tetsuna"/"Malaikat itu benar-benar ada. Buktinya, Tuhan sudah mengirimkannya satu untukku.."

.

.

CHAPTER 2- Masquerade Ball

Serius, Tetsuna merasakan jantungnya akan copot saat itu juga. Mata itu, mata dwiwarna itu. Meski hanya menatapnya sekilas, ia bisa merasakan pandangan yang kian tajam menusuk dari netra itu. Hanya dengan melihat matanya, Tetsuna bisa merasakan aura yang kuat dari orang di seberang sana.

"Bukankah orang itu ada di balik rak ini?" pikirnya.

Tetsuna ingin melihat orang itu langsung. Dengan langkah ragu, ia berjalan menuju sisi seberang rak. Sebetulnya ia takut, namun rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.

Tinggal selangkah Tetsuna bisa memasuki sisi seberang rak, seseorang menepuk pundaknya.

Oh tidak.

Lehernya terasa kaku untuk sekadar menoleh ke belakang. Bagaimana kalau yang menepuknya ini 'orang seberang rak' itu?

"Unn, Tetsuna-chan?"

Dengan cepat Tetsuna menoleh, dan menghela napas selega-leganya ketika yang dilihatnya adalah seorang Momoi Satsuki.

"Doushitano? Kenapa wajahmu seperti habis melihat hantu?"

"Ini lebih seram dari hantu." batin Tetsuna.

"Daijobou, kau cepat sekali kembali," ujar Tetsuna.

"Oh, aku tidak makan, hanya membeli roti saja, kok. Jaa.. lebih baik kita cepat-cepat mengerjakan tugasmu itu," Momoi menggandeng tangan Tetsuna menuju tempatnya menaruh buku.

Tetsuna sempat menoleh ke belakang, memastikan keberadaan 'orang seberang', tapi ternyata di situ tak ada siapapun.

Glek.

"Jangan-jangan mata belang tadi itu benar hantu!" Tetsuna keburu nething yang tidak masuk akal.

Tetsuna sayang, untuk apa hantu membaca ensiklopedi tata surya?

.

.

Tetsuna menaruh tugasnya di meja Araki-sensei. Berterimakasihlah kepada Momoi yang dengan telaten mendampinginya mengerjakan tugas itu hingga dapat ia kumpulkan tepat waktu. Momoi memang bakat menjadi guru.

Gadis bersurai baby blue itu meregangkan tangannya. Saatnya pulang dan melanjutkan membaca novel sambil berbaring di kasurnya yang empuk, merilekskan tubuhnya yang terasa lelah ini. Oh, sungguh itu merupakan surga dunia bagi seorang Kuroko Tetsuna.

Ia berjalan cepat, ingin segera pulang dan merasakan surga dunia-nya.

Langkahnya yang tadinya cepat-cepat melambat ketika ia melihat banyak murid bergerombol di mading sekolah. Biasanya sih, ia tidak penasaran. Paling-paling pengumuman lomba, hasil try out kelas 3, atau nama-nama murid berprestasi.

"Whoa, aku tidak sabar menantikan hari Sabtu besok!'

"Iya,ya.. tahun lalu sekolah kita tidak mengadakan pesta ini. Aku belum pernah merasakannya, makanya aku bersemangat!"

"Aku harap bisa berdansa dengan salah satu anggota Kiseki no Sedai, ahh terutama Akashi-sama!"

Oh, Tetsuna ingat sekarang. Sabtu minggu ini adalah ulang tahun SMA Teiko. Dan obrolan para gadis yang berseliweran itu membuatnya penasaran, dan ia pun berjalan menuju mading.

Pesta macam apa yang dibuat tahun ini? Dan soal Kiseki no Sedai, Kagami pernah menceritakan padanya bahwa itu adalah julukan tim basket yang menurutnya sedikit—hiperbola, mungkin?

Yah, Tetsuna sadar tinggi badannya tidak seberapa dengan orang-orang di depannya. Ia berusaha berjinjit, namun usahanya tetap sia-sia. Ditambah, ia sedang berdesak-desakan dengan banyak orang. Biasanya dirinya dengan mudahnya terdorong ke depan. Namun, tidak kali ini. Tubuhnya yang mungil itu menjai sasaran empuk untuk disenggol dan—

"Hwaa!"

Benar kan.

Ada seseorang yang mengenggolnya keras. Tetsuna pasrah saja jika ia akan jatuh dan mungkin terinjak, namun—

Hap.

Tetsuna membuka matanya, kenapa tubuhnya tidak sakit? Sejak kapan lantai menjadi empuk?

"Ka..gami-kun?"

"Tetsuna! Kau kucari kemana-mana!"

Uh—oh.

Kagami menahan punggungnya sebelum terjatuh dan mengeluarkannya dari kerumunan menggila itu.

Tetsuna kembali berdiri, "Aku hanya ingin melihat apa yang ada di mading,"

"Ya ampun, tapi harusnya kau sadar dengan tubuhmu yang kecil itu. Untung aku datang, kalau tidak bagaimana, huh?"

"Kagamicchi, aku sudah melihat— are? Siapa gadis di sebelahmu itu?"

Kagami dan Tetsuna menoleh.

Tetsuna memperhatikan pemuda itu dari bawah ke atas. Tingginya sama dengan Kagami, surai blondenya tertata rapi, wajahnya pun mulus tanpa noda.

"Kise, perkenalkan ini Kuroko Tetsuna, teman masa kecilku dan Tetsuna, dia Kise Ryouta, salah satu anggota tim basket.."

"Soukaa.. doumo, Kuroko-cchi! Aku Kise Ryota, teman sekelas Kagamicchi-ssu! Posisiku di tim basket adalah small forward, hobiku karaoke, dan aku juga bekerja sebagai model-ssu! Yoroshiku!" Kise memperkenalkan dirinya dengan aura bling-bling.

Tetsuna tersenyum awkward. Apaan tadi? Kurokocchi? dan baru kali ini ia menemui orang yang menambahkan aksen aneh '-ssu' pada akhir kalimat.

"Jangan pikirkan panggilan yang si kuning ini berikan, dia memang aneh begini"

Dan Kise menjitak pelan dahi Kagami, "Kagamicchi hidoi-ssuu!"

"Ano.. Kise-san, tadi kau melihat mading kan? Memang ada pengumuman apa di mading itu?" tanya Tetsuna.

"Oh, itu lo Kurokocchi, sekolah kita sebentar lagi kan ultah—ssu! Makanya sekolah mengadakan acara. kamis pagi sampai sore ada classmeeting dan pameran! acara puncaknya di malam hari,diadakan pensi yang konsepnya adalah masquerade party! Wah, ini pasti menyenangkan sekali-ssu!" papar Kise dengan volume suara yang err.. mampu memekakkan telinga.

Tetsuna berpikir sejenak. Apa maksudnya dengan Marquez—Makarel—Masker party atau apalah itu?

Kagami yang menyadari banyak pertanyaan di benak Tetsuna pun menjelaskannya, "Masquerade party artinya pesta topeng. Jadi kita datang ke pesta itu dengan memakai topeng, bukan topeng seluruh wajah, tapi topeng mata yang hanya menutupi dahi sampai bagian atas pipi saja. Masquerade party identik dengan pesta dansa."

Ah.. sejujurnya Tetsuna benci dengan hal-hal semacam ini. Ia tidak pandai berdansa, bahkan ia tak punya gaun bagus untuk dipakai ke pesta itu.

"Wakatta, ayo pulang, Kagami-kun."

"Hn..sebentar, Tetsuna. Kise, si kepala merah itu bilang hari ini tidak ada latihan, kan?"

"Akashi-cchi memang bilang begitu. Tapi biasanya kalau sore ini tidak ada latihan, mungkin besok pagi—ah tidak, subuh-subuh biasanya ia akan mengadakan latihan mendadak-ssu!"

"Heh? Apa-apaan si mata belang itu!"

"Kagami-cchi, jaga bicaramu, jika Akashi-cchi ada di sekitar sini habislah riwayatmu-ssu!"

Tetsuna memerhatikan percakapan mereka dengan wajah triplek andalannya. Namun, tunggu.. dia menyadari sesuatu.

Akashi. Kepala merah. Mata belang.

Kagami meneguk ludah. Membayangkan Akashi yang akan menyiksanya dengan gunting merah sakti itu benar-benar membuatnya merinding.

"Ayo, Tetsuna!" ia pun cepat-cepat menarik tangan Tetsuna untuk pulang.

.

.

"Kagami-kun.."

Sambil memakan burgernya, Kagami menjawab, "Nani?"

Ngomong-ngomong, mereka sedang ada di Majiba sekarang. Yah, paling tidak 2 hari sekali mereka selalu ke sana setiap pulang sekolah. Tetsuna butuh asupan vanilla milkshake, dan Kagami memang penyuka berat junkfood.

"Akashi-san itu orangnya seperti apa?"

Kagami berhenti mengunyah burgernya dan menatap Tetsuna, "Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?"

Manik aquamarine Tetsuna mengalihkan pandangan ke jendela,"Hanya.. penasaran saja, kau pernah bercerita kalau dia itu kapten basket, kan?"

"Hn. Dia itu.. entahlah, aku bahkan mengira dia adalah jelmaan iblis. Akashi itu kapten yang sangat keras. Kau dengar kan dari Kise, mungkin besok dia akan seenak jidat mengadakan 'latihan neraka' mendadak bahkan di waktu matahari belum terbit. Jika kau menatap matanya yang belang itu, kau pasti akan langsung merinding. Ah, pokoknya jangan dekat-dekat dengannya, Tetsuna."

"Jadi.. si kepala merah yang kulihat waktu itu bermain basket dan pemilik mata heterokrom di perpus itu orang yang sama? Dan itu adalah Akashi-san.." batin Tetsuna menarik kesimpulan.

.

.

Hari-hari berjalan begitu cepat. Akhir-akhir ini, banyak sekali jamkos. Tentu saja karena guru dan siswa sibuk mempersiapkan acara hari jadi sekolah mereka. Hingga saat hari itu tiba, semua persiapan sudah matang.

Seperti yang dijelaskan Kise, untuk pagi sampai sore, diadakan pameran seperti bazaar dan juga lomba antar kelas. Tetsuna tidak ikut lomba apa pun. Sekarang saja, ia hanya membaca novel sambil berkeliling pameran ditemani Momoi.

"Nee, Tetsuna-chan! Bisakah kau menyimpan novelmu dan fokus melihat bazaar ini, huh?" Momoi merasa kesal karena Tetsuna sama sekali tidak melihat bazaar, hanya fokus pada novelnya, dan dirinya merasa diacuhkan.

"Hn.."

Dan sekali lagi, Momoi ingin sekali membakar novel milik sahabatnya itu.

"Tetsuna-chan, apa kau sudah menyiapkan dress untuk nanti malam?"

Tetsuna berhenti membaca novelnya dan terdiam sejenak, "Aku..entahlah"

Momoi mengerti. Sahabatnya pasti tidak punya dress yang cocok untuk ke pesta itu. Mungkin ada, tapi tidak cocok.

"Nanti sore ke rumahku." ujar Momoi.

"Untuk ap—"

"Tidak ada bantahan!" perintah Momoi.

Dan Tetsuna tahu jika Momoi sudah serius, maka ia harus menurutinya.

.

.

Tetsuna memencet bel rumah keluarga Momoi. Pukul 16.00. 3 jam lagi menuju pesta itu. Kagami mengatakan bawa jam setengah 7 nanti ia akan ke rumah Momoi untuk menjemput dirinya. Yaa, Kagami kan juga tidak punya pasangan untuk dibawa ke pesta itu. Akhirnya ia mengajak Tetsuna.

Setelah dipersilahkan masuk, Tetsuna langsung diajak Momoi ke kamarnya.

"Aku akan mendandanimu, Kuroko Tetsuna-san," kata Momoi dengan nada ceria.

Oke, Tetsuna sudah menduganya, "Momoi, tapi aku tak membawa dress, sepatu dan—"

"Semuanya sudah kusiapkan, nona.."

Tetsuna agak kesal dengan panggilan Momoi. Tapi paling tidak ia bersyukur sekali memiliki sahabat yang pengertian seperti seorang Momoi Satsuki.

.

.

"Tetsuna, cepat keluar! Lama sekali" Momoi berdiri di depan pintu kamarnya, menunggu Tetsuna memakai dressnya.

Ia sendiri sudah siap. Momoi mengenakan dress sepanjang mata kaki. Dress tanpa lengan itu terlihat cocok dipadu dengan high heels purih tulang. Rambut merah muda lembutnya dibuat gaya twisted ponytail. Sederhana namun elegan.

Krek.

Momoi menoleh ke arah sahabatnya itu.

Ia terkejut, namun kemudian tersenyum melihat sahabatnya itu.

"Kau sempurna, Tetsuna-chan.."

Tepat setelah itu, terdengar suara klakson mobil.

"Ah, itu pasti Kagamin!" Momoi menggandeng Tetsuna keluar rumah.

"Ta..Tapi, Momoi.." Rona merah begitu pekat menghiasi wajah manis Tetsuna yang telah di make-up.

Tapi Momoi tak memedulikan itu, saat sampai di depan pintu, ia segera membuka pintunya, "Kagaminn!"

Kagami mengenakan setelan jas dan celana hitam, dalaman kemeja putih, serta dasi hitam.

"Hai, Momo—" sapaan Kagami tercekat di tenggorokan ketika ia melihat sosok perempuan di belakang Momoi.

Seorang gadis yang memakai Dress lengan panjang selutut berwarna peach lembut. Gaun itu sangat simpel, namun terlihat sangat cocok dipakai oleh seseorang berambut baby blue yang dibuat ikal itu. Ia juga mengenakan high heels bewarna silver, senada dengan hiasan bunga yang ada di bagian pinggang gaunnya.

Dan sosok itu adalah teman masa kecilnya, Kuroko Tetsuna.

"Kagamin, aku tahu kau terpesona oleh Tetsuna, tapi bisakah kita berangkat sekarang?" ujar Momoi membuyarkan lamunan Kagami.

"Ah? Ha'i,ayo kita berangkat.."

.

.

Selama perjalanan, Kagami tidak fokus. Ia terus melirik ke kaca depan, dimana ia bisa melihat Tetsuna yang sesekali berbincang bersama Momoi. Sungguh, baru pertama kali ia menyadari teman masa kecilnya itu sungguh—

Cantik.

"Nee, aku juga sudah menyiapkan topengnya, tadaa!" Momoi memberikan sebuah topeng mata berwarna silver pada Tetsuna, dirinya sendiri memakai topeng biru muda.

"Kagamin, sudah bawa topeng? "

"Ah, iya sudah.."

Sesampainya di sekolah, mereka keluar dari mobil. Kini wajah mereka sudah tertutup topeng.

Mereka segera menuju aula, tempat pesta diselenggarakan.

"Nee, Tetsuna-chan, Kagamin, aku pergi dulu menemui Dai-chan. Jaa ne.." Momoi melambaikan tangan dan pergi menjauh dari mereka.

'Dai-chan' adalah Aomine Daiki, Momoi menceritakannya pada Tetsuna sebagai teman masa kecilnya. Sementara Kagami menceritakannya sebagai ace tim basket Teiko.

Suasana canggung menyelimuti Tetsuna dan Kagami. Tetsuna memang pada dasarnya pendiam, tapi Kagami? Entah kenapa ia malu duluan untuk berbicara—tidak, menatap tetsuna saja wajahnya terasa memanas. Detak jantungnya juga terasa tidak normal.

"Oh yaampun, apa yang terjadi padaku? Baru pertama kali aku merasa begini di dekat Tetsuna. Ayolah, Taiga.. bersikaplah biasa.." batin Kagami.

Mata dark redmiliknya mengedarkan pandangan, dan menemukan sebuah meja tempat berbagai snack dan minuman disediakan.

"Tet..suna, apa kau mau kuambilkan cocktail?" ujar Kagami tanpa menatap Tetsuna, tapi ia tahu jika gadis di sebelahnya itu mengangguk.

Oke, ini kesempatan Kagami untuk menjauh sebentar dari Tetsuna agar bisa menenangkan dirinya dulu.

Dan setelah itu, tampak kedua MC muncul di atas panggung, acara akan segera dimulai. Namun..

Grep!

Suasana yang tadinya meriah dan ramai oleh obrolan para siswa kini ramai oleh jeritan. Lampu-lampu yang menyinari aula pun padam, dan tempat itu menjadi gelap gulita.

Mati lampu.

Tetsuna meneguk salivanya. Ia takut gelap. Parahnya, Kagami sedang tidak ada di dekatnya.

"Kagami-kun.." Tetsuna berjalan tak tentu arah. Ia menyenggol banyak orang, tapi ia tak peduli. Rasa takut tetap saja menggerogotinya meski ia tahu di sini banyak orang.

Tanpa sadar, tangan mungilnya menggenggam telapak tangan sesorang. Entahlah, ia hanya menuruti instingnya, dan semoga saja benar ini Kagami.

Grep!

Dan lampu kembali menyala.

Pupil mata Tetsuna menyesuaikan cahaya. Pandangannya yang tadi kabur sedikit sedikit mulai jelas kembali.

Tunggu.

Orang di depannya ini memang mengenakan jas dan celana hitam, seperti Kagami. Tapi.. seingat Tetsuna, Kagami mengenakan dalaman putih. Dan.. orang di depannya ini mengenakan dalaman merah.

Tetsuna mendongak.

Tidak.

Ia merasa dejavu.

Iris azurenya kembali bertatapan dengan iris heterochrome merah dan emas—dan demi apa, jarak mereka dekat sekali.

Iya, sekarang ia telah bergandengan dengan Akashi Seijuurou.

Akashi hanya menatapnya datar, namun menusuk.

"Selamat malam, siswa-siswi SMA Teiko. Sebelumnya, kami selaku panitia meminta maaf karena listrik padam yang barusan terjadi ini diluar perkiraan. Untungnya, sekarang sudah kembali menyala! Oke langsung saja kita mulai acara puncak perayaan ulang tahun sekolah kita yang ke 20 tahun ini!" seorang MC membuka acara malam itu.

Acara pertama adalah sambutan dari direktur sekolah, setelah itu barulah pesta dansa.

Percaya atau tidak, Akashi dan Tetsuna sedari tadi tidak berbicara sama sekali. Hei, memang apa yang bisa dibicarakan oleh orang yang sama sekali tidak mengenal, huh?

"Baiklah, musik akan segera dinyalakan. Semua pasti sudah menemukan pasangan dansa masing-masing, bukan? So, let's enjoy the party!" setelah MC mengatakan itu, alunan musik pun terdengar.

Semuanya mulai berdansa, kecuali seorang berambut baby blue dan bersurai crimson yang masih 'diam-diaman'.

Meski begitu, Tetsuna mati-matian menahan jantungnya yang rasanya ingin melompat keluar. Ia harus bagaimana sekarang?

"Sampai kapan kita diam seperti ini?" terdengar suara baritone menggelitik telinga Tetsuna.

Dengan takut-takut, Tetsuna menoleh ke arah Akashi. Tetsuna bisa merasakan karisma orang di depannya ini begitu kuat. Napas Tetsuna tercekat ketika Akashi mengulurkan tangan padanya dan berkata—

"Berdansalah denganku."

.

.

TBC

Doumo, minna-san! Ada yang kangen? *kagak* *author pundung*

Maafkan jika chapter 2 ini ceritanya semakin gakjelas. Terimakasihh untuk para reader yang sudah review chapter 1^^ *terharu*

Dann untuk chapter 2 ini, review masih sangat dibutuhkan, don't be a silent reader please!

Regards, Karuna-chan3