Boys

(c) Hikari No Aoi

Disclaimer: Naruto Dkk Punyanya Masashi Kishimoto-san

Rated: T semi M mungkin?

Pair: Xhina Pokoknya :3 #Hinacent

.

Warn: DLDR! Typo, Crack, aneh dll! ini fiksi baru, Kalau mau kritik / saran silahkan yang berhubungan dengan fict ini ya ^^ Tolong jangan tanyakan fict yang lain dahulu karena saya masih berduka LCD laptop saya pecah :') (Semua data disana, ini hanya pinjam laptop temen) saya menulis karena saya suka dengan FFN apalagi pair SH :') saya masih berat hati hiatus luaamaaa :') jadilah fict ini sebagai pelipur lara saya :')

Untuk: Dyahtrimeylanie yang sudah mau review di ffn, teman-teman FB: yang belum bisa saya sebutkan satu persatu, dan semua SHL dimanapun kalian berada, terimakasih sudah mau dukung Hika! ^^ #bungkuk# semangat kalian yang selalu membara, dan kesabaran kalian yang tak pernah ada habisnya untuk menunggu fict update an Hika, membuat hika terharu :')

Sekali lagi terimakasih atas dukungannya! #bungkuk

Selamat malam minggu, dan selamat membaca! :D

.

.

.

Boys; Your Pen

.

.

.

Ten-Ten belum begitu tertarik dengan permainan yang saat ini sudah berlangsung selama lima belas menit. Atau lebih tepatnya, ia menahan diri untuk menikmati pertandingan tersebut. Karena jika ia terlena sedikit saja, maka sudah dipastikan bahwa hingga setengah permainan nanti ia hanya akan berkonsentrasi penuh pada team 11-2 dari pada mencari Hinata. Itu gawat.

Mengedarkan pandangan matanya keseluruh tempat duduk-bahkan lapangan, ia belum juga menemukan gadis bermata pucat tersebut. Apa Hinata harus antri lagi untuk membeli makanan dan minuman? Astaga… sekolah ini sepertinya butuh fasilitas tambahan.

Mengambil handphone warna putihnya dari dalam tas, gadis bertubuh kurus itu lalu mulai mengetik pesan untuk si sulung Hyuuga. Setidaknya, ia bisa mengetahui kabar dari Hinata, sehingga kalau ada apa-apa, ia bisa tahu lebih cepat.

'apakah kau tidak apa-apa, Hinata? Perlu kususul kah?'

Send.

Bunyi dari notifikasi pesan kemudian terdengar dari belakang. Kening Ten-Ten mengernyit. Kebetulan saja atau…

"Ma-maaf lama, Ten-Ten-san! Aku tadi k-ke toilet dulu." Kata gadis berambut indigo tersebut menyesal, kemudian ia menempatkan diri disamping Ten-Ten dan duduk disebelahnya.

"A-aku hanya membeli minuman jus jeruk, ti-tidak apa-apa kah?"

Mata madu Ten-Ten mengerjab beberapa kali. Kemudian tersenyum. "Oh, Yah… tentu."

"Pertandingannya sudah berjalan lama kah?"

"Tidak kok, baru lima belas menit. Sebentar Hinata, kamu tadi datang darimana?"

Hinta ganti mengernyit. "Ma-maksudnya?"

"Tadi aku mencarimu, tapi tidak kelihatan. Dan sekarang, tiba-tiba saja kamu sudah sampai."

Hinata paham sekarang. "Oh… a-aku lewat pintu belakang."

Ten-Ten menghela nafas. "Pantas."

Tersenyum kikuk, dan meminta maaf sekali lagi kakak Hanabi itu kemudian mengambil beberapa cemilan dan menawarkannya pada Ten-Ten. "Ma-maaf kalau mengagetkan."

Ten-Ten mengambil salah satu jajanan tersebut dan membukannya. "Tidak kok, aku tadi hanya penasaran. Ah ngomong-ngomong, kelas 11-12 sejauh ini sudah mencetak satu gol."

Hinata terkesiap dengan jawaban teman SMPnya barusan. Sedetik kemudian, Amethystnya mencari sosok pemuda berambut kuning yang saat ini tengah berusaha merebut bola dari lawan. "Me-mereka sekuat itukah?"

Ten-Ten membuka satu jus yang dibawakan Hinata, dan meneguknya beberapa kali. "Padahal masih pertandingan pembuka, tapi sepertinya 11-2 tidak main-main."

Naruto-kun…

"Santai saja, waktunya masih panjang." Kata Ten-Ten menenangkan. "Sudah sarapankah tadi?"

Hinata mengalihkan pandangan matanya, dan menatap Ten-Ten hangat. "Te-terimakasih."

"Huh? Untuk?"

"Me-mendukungku dan Naruto-kun," ujar Hinata tulus. "S-selama ini banyak yang menentang kami."

Ten-Ten terdiam selama beberapa saat setelah Hinata berkata demikian. Namun, ia kemudian menepuk pundak sahabatnya tersebut. "Sudah."

Hinata menunduk.

"Sudah jadi tugasku untuk selalu mendukung dan mengingatkanmu, kan?" ujar gadis bermata cokelat madu itu jujur. "Karena kita adalah teman."

"Te-Ten-Ten-san…"

Ten-Ten tersenyum. Lalu ia mengambil snack yang sudah ia buka dan memakannya. Perhatiannya kini sudah tak bisa lagi ia alihkan. "Yap, lebih baik kita lihat kemampuan pacar durenmu itu."

"Hm!" Hinata mengangguk. Dan melemparkan pandangan matanya kelapangan sepak bola-tempat Narutonya, tengah bersaing sengit dengan seorang pemuda berambut biru tua. Mereka berdua sama-sama kuat.

"Ck, si Sasuke itu ternyata lumayan juga." Decak Ten-Ten kesal. "Sebaiknya setelah ini kau lebih mengawasi latihan Narutomu, Hinata."

Hinata tertegun. "Sa…su?"

Melirik teman indigonya sebentar, Ten-Ten lalu melanjutkan aktivitas makan cemilannya sambil menonton pertandingan dengan khidmat. "Yap, dia dari kelas 11-12. Yang mengegolkan tadi juga dia, Sasuke Uchiha."

Mengambil pena berwarna hitam yang ada di saku celananya dengan buru-buru, Hinata kemudian menatap pena dan pemuda tersebut secara bergantian. Kalau diingat-ingat, tadi Hinata tidak begitu memperhatikan ciri fisik pemuda tersebut. Namun jika namanya adalah Sasuke… bukankah memang kemungknan besar dia pemiliknya, kan?

Karena kunjung tak ada balasan dari kalimat yang tadi ia ucapkan, Ten-Ten kemudian menoleh dan mendapati gadis pemalu tersebut tengah mengganti-ganti arah pandangan matanya, membuat gadis berambut cokelat tersebut heran.

"Sedang apa, Hinata?"

Berhenti menatap Pena-Sasuke-Pena-Sasuke-Pena, sulung Hyuuga tersebut kemudian mendekatkan diri pada Ten-Ten dan bertanya dengan antusias. "A-apa dia Sasu… dari kelas 11-12?"

"Iya, kenapa?"

"B-benar Sasu, kan?"

Ten-Ten menghela nafas. "Iyah, Sasuke. Kenapa, Hinata? Kau tidak berencana selingkuh kan?"

Hinata tersentak. "A-ap-Tidak! Tentu saja tidak!"

Terkekeh dengan jawaban refleks dari sang sahabat barusan, gadis berusia tujuh belas tahun itu kemudian mengalihkan pandangannya dari Hinata dan menikmati pertandingan kembali. "Baguslah kalau begitu. Yak! Operan yang bagus, Kiba!"

Hinata terdiam. Perlahan, ia menggengam pena tersebut dengan kedua tangannya diatas paha dan mengamatinya sambil memikirkan sebuah rencana. Sekarang, bagaimana caranya mengembalikan pena ini? Apakah ia harus meminta bantuan dari Ten-Ten? Atau menitipkannya ke guru yang mengajar di kelas 11-12?

Tidak, itu bukan ide yang bagus. Ia harus pergi ke kantor guru dulu, dan bertanya mengenai jadwal pelajaran plus guru yang akan mengajar. Ada kemungkinan juga, ia tidak kenal guru yang mengajar tersebut siapa. Kalau sehabis ini ia memberikannya langsung bagaimana? Tidak. sepertinya hal tersebut juga bisa membuat orang lain salah paham juga seperti Ten-Ten tadi. Meski ia hanya ingin mengembalikan pena, sih. Tapi tetap saja kan, orang lain akan menilai kita berbeda? Duh! jadi Harus bagaimana dong?

Mengambil opsi terakhir, Hinata kemudian menelan ludahnya dan memberanikan diri untuk meminta bantuan dari Ten-Ten. Karena ia yakin, teman SMPnya tersebut pasti mau membantu! Yoshh!

Saat hendak bertanya, Hinata sedikit dikejutkan dengan posisi Ten-Ten yang sudah berdiri. Meski begitu, Hinata tetap ingin mencoba. "A… Ano, Te-"

"Tidak, Tidak, halangi dia bodoh! NARUTO, HADANG SASUKEE!"

"Ten-Ten-sa"

"LEE! REBUT BOLANYA, JANGAN BIARKAN MEREKA MENCETA-"

"GOOOOOLLLLLLLLLLLLL!"

Riuhnya sorakan di lapangan membuat Hinata terdiam. Amethystnya lalu terbelalak ketika melihat Kiba tengah membungkuk sambil memukul tanah. Tepuk tangan dan teriakan juga masih keras menggema saat ia melihat kekasihnya tengah menjambak surai kuningnya dengan kesal. Sedangkan di belakangnya, keeper kelas 11-2 mengamankan bola yang sudah berhasil membobol gawang mereka untuk yang kedua kalinya agar tak digolkan lagi.

2-0?

.

.

.

Boys: Your Pen

.

.

.

Sasuke menumpahkan seluruh air dingin dari botol minuman tersebut keatas kepalanya dalam waktu lima detik. Berharap dengan cara itu, ia bisa merasa lebih segar. Meski baru pertandingan pertama, tapi jujur 11-2 sudah berhasil memukul mereka hingga sejauh ini. Mereka adalah lawan yang sebanding.

Apalagi, Pemuda itu…

'Kau ternyata lumayan juga ya, Raven.'

Sasuke berputar, mengecoh Naruto agar bola yang dibawanya tak sampai direbut. 'Kau juga lumayan, pirang.'

Mereka berdua masih berusaha untuk mempertahankan dan merebut bola. Saat ini Sasuke diuntungkan karena jarak mereka yang sudah dekat dengan gawang lawan. Namun masalahnya, teman-teman satu timnya masih jauh di belakang sehingga ia belum bisa mengoper.

'sendirian saja eh?' Lee bergabung, berusaha menahan gerakan Sasuke agar bola bisa direbut.

Dua lawan satu. 'Bukannya ini tidak adil?'

Sang kapten terkekeh. 'tidak, temanmu sudah datang.'

Sasuke tak mau menyianyiakannya, saat Kabuto sudah ada dalam jarak yang aman untuk mengoper, ia akan menendang bola tersebut kearahnya.

'memangnya kenapa?' balas Sasuke enteng.

Sementara itu, Naruto bergerak kesamping, mencegah Sasuke mengoper ke temannya yang berada disisi kanan.

'oo tidak bisa.'

'Ck.'

Kabuto mempercepat larinya. 'KESINI, SASUKE!'

'Hahaha, ayo kita buat pertandingan ini menarik!' seru pemuda berkulit tan tersebut penuh semangat. Dan dengan sekali ayunan kaki, Naruto membuat bola tersebut berhasil berpindah ke tim 11-2.

'sialan'

"Wah, Sasuke-kun sangat keren sekali!" Sakura Haruno mendekat, dan memberikan handuk bersih pada sang kekasih. "Dua kosong? Sudah pasti kita akan menang di pertandingan kali ini."

Sasuke menerima handuk itu, dan mengusapkannya pada area wajah dan leher. Well, ia merasa lebih baik sekarang. "Belum tentu Sakura, kelas 11-2 itu juga lumayan. Terutama kapten mereka."

Membuka toples berisi lemon dan madu, gadis bersurai merah muda tersebut kemudian duduk disamping Sasuke dan menyuapinya. "Tetap saja, Sasuke-kun yang bisa menjebol gawang mereka, kan?"

Pemuda itu hanya terdiam. Meski perkataan pacarnya tersebut ada benarnya, tapi entah mengapa Sasuke masih merasa khawatir bahwa di babak kedua nanti tim mereka akan kuwalahan.

Semoga saja tidak.

"Siapa yang memperbolehkanmu masuk kesini, Haruno-san?" Suara wali kelas 11-2 terdengar begitu nyaring hingga membuat Sasuke mendongak. Sejak kapan dia ada disini?

"Kakashi-sensei?" ujar Sasuke dan Sakura bebarengan.

"A-Aku hanya memberikannya dukungan dan makanan penambah stamina kok!" kata Sakura membela diri. "Lagi pula ha-hanya sebentar."

Kakashi mengambil makanan tersebut, dan menarik Sakura hingga berdiri. "Kalau begitu, waktu sebentarmu itu sudah habis."

"E-EHH? Ta…tapi sensei-"

"Kita masih harus menyusun strategi dibabak kedua untuk melawan kelas 11-2, jadi bisakah kau membiarkan Sasuke berdiskusi dengan timnya sekarang?" Jelas Kakashi panjang lebar. "Ini pertandingan yang penting.

"Baiklah, aku tahu!" jawab Sakura sewot. "Aku juga ingin Sasuke-kun menang tahu."

"Kalau begitu, kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan kan?"

"Iya iya!" Mengambil tas mungilnya yang ada di sebelah Sasuke dengan kasar, gadis bermanik emerald itu kemudian menghentakkan kakinya keras. "Bye, Sensei galak! Ah, semangat terus ya Sasuke-kun! Fighting!"

Sasuke membalas salam perpisahan dari Sakura barusan dengan lambaian tangan dan senyum hangat. Setelah dirasa cukup, ia segera menurunkan tangannya dan bersikap seperti sedia kala.

Kakashi hanya bisa mendesah panjang ketika gadis belia tersebut sudah menghilang dari pandangan. Sedetik kemudian, ia duduk disamping Sasuke. Ekspresinya terlihat datar ketika mengingat kejadian barusan. "Bagaimana kau bisa betah dengannya?"

"Kenapa? Dia manis." Jawab Sasuke kalem sambil meminum air mineral dari botol satunya.

"Pasti ada yang salah dengan kepalamu." Balas Kakashi tak habis fikir. "Baiklah, tiga menit lagi kita berkumpul untuk membahas strategi selanjutnya. Kau istirahatlah dulu."

Setelah menaruh selembar kertas disampingnya, laki-laki berusia tiga puluh tahun itu lalu bangkit. "Jangan lupa diisi."

"Sensei mau kemana?" Padahal ia barusaja duduk.

"Mengumpulkan anak-anak, lagipula cedera Juugo sepertinya serius."

Dalam hati, Sasuke menyayangkan sikap Kakashi barusan. Datang seenaknya hingga mengusir Sakura, ia kira akan ada hal penting yang mau dibahas. Ternyata… tiga puluh detik kemudian dia sudah menghilang lagi.

Mendesah pelan, pemuda berambut raven tersebut mengambil kertas yang ditinggal Kakashi barusan dan membacanya.

Oh, hanya absen.

Kemudian, pemuda tersebut menggeledah tas hitam miliknya untuk mencari pena demi mengisi absen menyebalkan ini, sedetik kemudian Sasuke teringat bahwa satu-satunya pena yang ia miliki tadi sudah ia pinjamkan ke seorang gadis.

Sial. Besok ia harus beli satu lusin!

Sebentar, Bukankah ia tadi sudah absen? Kenapa sekarang harus absen lagi? Atau… absennya dobel?

"Kakashi, tunggu!"

.

.

.

Boys; Your Pen

.

.

.

Ten-Ten hanya memberikan tatapan datar ketika Hinata kembali dari kencan kilatnya. Sebenarnya Hinata juga sempat was-was ketika sahabat dekatnya tersebut tak kunjung bertanya, atau menyapanya selama beberapa menit. Namun saat ulasan senyum menghiasi wajah cantiknya, ketegangan dalam hati Hinatapun perlahan mulai sirna.

"Kenapa? Kau kira aku juga akan seperti mereka?" kata Ten-Ten hangat, menepuk bangku sampingnya agar Hinata segera duduk disana. "Aku setengah mati ingin tahu. Ayo, cerita padaku."

Rona merah muda menghiasi pipi chubby sang sulung Hyuuga. Lalu dengan kedua tangan yang saling bertautan, ia akhirnya duduk sambil menunduk. "Na-Naruto-kun berjanji tidak akan kalah."

Tenten nyengir lebar. "Hee? Seantusias itukah kaptenmu setelah ketinggalan dua gol?"

Perlahan, Hinata mengangguk. "D-dia tidak mau kelas 11-2 kalah, dan tadi d-dia juga sudah bilang akan membalas dua gol yang sudah di curi di a-awal permainan tadi."

Ten-Ten semakin gemas, namun ia mengurungkan niatnya untuk mencubit kedua pipi Hinata keras-keras. Sebagai gantinya, diminumnya jus jeruk yang tadi Hinata belikan meski sudah tak lagi dingin.

"Baiklah, kita lihat nanti. Apakah benar ucapan Narutomu itu bisa dipercaya."

Hinata mengangguk, lalu ia mengambil camilan yang masih ada dan memakannya. "Ten-Ten-san, m-mau roti?"

Gadis tujuh belas tahun itu melirik sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya ke tanah lapang. "Tidak Hinata, aku kenyang."

"Um, b-baiklah."

Kemudian, hening sesaat menyelimuti mereka. Meski suasana tribun masih sedikit ramai, setidaknya sekarang sudah tidak sekeras yel-yel yang terus melantun sedari tadi hingga memekakkan telinga karena cemprengnya suara dari para pemandu sorak.

Ya, tidak apa-apa. Meski sekarang perubahan suasananya begitu terasa.

"Hei, Hinata."

"Hmm? Y-ya, Ten-Ten-san?"

Meminum jus jeruknya lagi, Ten-Ten kemudian menengadahkan kepalanya. "Kenapa mereka semua begitu keras padamu?"

Hinata terdiam. Ia bahkan menghentikan kunyahan makanannya. "K-kurasa, mereka ha-hanya perlu waktu."

"Aku memang berfikir mereka benar." Timpal Ten-Ten jujur. "Diawalnya."

Sementara itu, Hinata memilih untuk diam mendengarkan dan menaruh roti cokelat yang tinggal setengah tersebut. "A-aku yakin Ten-Ten-san tidak begitu."

"Semenjak SMP, bocah itu terkenal berandal, urakan dan playboy. Tapi semakin kesini, kuakui dia memang berubah."

Menatap mata teduh Ten-Ten yang begitu menghawatirkannya, entah mengapa membuat hati Hinata begitu tenang. Setidaknya cara Ten-Ten dalam menolak, atau Bahasa halusnya kurang menyetujui hubunganya dengan Naruto, tidak seekstrem mereka. Ten-Ten masih mau menjadi teman baiknya.

"T-tidak apa Ten-Ten-san, bahkan j-jika aku dalam bahayapun, a-aku bisa melawan. Jadi jangan t-terlalu menghawatirkan ak-"

"Kakakmu, Ayahmu, bahkan mungki adikmu, aku heran mengapa mereka harus sekeras itu. Ya, aku tidak suka awalnya kau berpacaran dengan Naruto. Tapi ketika matamu memancarkan binary keyakinan, aku akhirnya luluh juga."

Hinata tersenyum. Meski perkataannya barusan dipotong, tapi ia tahu bahwa sebenarnya sahabat dekatnya tersebut hanya mencemaskannya. "D-dan sekarang dia menjadi kapten."

"Ya, oke, Kapten. Tapi kau harus selalu ingat Hinata, berhati-hatilah, oke?"

Gadis manis tersebut mengangguk mantap. "Hai!"

"Itu baru Hinata!" ujar Ten-Ten sambil menyentil dahi sulung Hyuuga tersebut gemas. "Baiklah, aku mau ketoilet sebentar. Mau ikut?"

Hinata menggeleng, ia memilih untuk duduk di tribun. "A-aku akan jaga tas saja."

"Baiklah,"

.

The Boys; Your Pen

.

Pertandingan baru saja selesai dengan akhir seri atau sama. Hinata tak bisa menyembunyikan senyumnya ketika ingat Naruto menepati janjinya agar tak kalah dari kelas 11-12, setidaknya ia dan timnya sudah berusaha. Apalagi, musuh mereka memang bisa dikatakan seimbang.

Memainkan kedua jari tangannya di depan dada, gadis bertubuh mungil tersebut akhirnya mendapat pengakuan dari Ten-Ten bahwa mulai dari sekarang ia akan mendukung hubungan mereka berdua.

Yokatta, Bukankah itu hal yang luar biasa?

Setelah pamit pada Hinata bahwa ia tak terlalu tertarik dengan pertandingan selanjutnya, Gadis bercepol dua tersebut kemudian meinggalkan lapangan sepak bola untuk melihat lomba taekwondo yang ada di gedung olah raga. Yap, setidaknya dia sudah menemaninya melihat pertandingan Naruto tadi.

"Yo, Hinata!" sapa sang pemuda pirang ramah. "Aku membuatmu menunggu lama, ya?"

Rona merah menghiasi pipi si gadis, namun ia sembunyikan dengan menunduk. Meski sudah dua bulan pacaran, tapi masih saja Hinata belum terbiasa!

"T-tidak kok, Naruto-kun." Jawab Hinata kikuk. "A-aku memang duduk disini."

"Hee? Begitukah?" menaruh tas yang berisi baju ganti di sebelah kanannya, pemuda Uzumaki tersebut kemudian menyandarkan punggungnya ke bangku. "Jadi kau tidak menungguku?"

Hinata salah tingkah. Maksudnya bukan begitu! "T-tidak, aku… aku, umm… a-aku menunggumu."

Naruto terkekeh. Ia kemudian melirik gadis pujaan hatinya tersebut sambil tersenyum lebar. "Aku sudah berhasil membalaskan dendam untukmu, tahu. Bagaimana kalau akhir pekan nanti kencan denganku?"

Hinata gelagapan, wajahnya semakin merona hebat. "K-ke-kencan?"

"Yap, merayakan dua gol yang aku ciptakan."

Namun sedetik kemudian, Hinata protes. "Ta-tapi kan hasilnya seri?"

Naruto mengernyit. "Tapi kan tim kami tidak kalah?"

Hinata terdiam. Ia menggigit bibirnya sebentar, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melawan. "U-um, iya sih… ta-tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian." Sergah Naruto cepat sambil mendekatkan wajahnya. Membuat sang pacar lagsung mematung seketika. "Pokoknya aku sudah mencetak dua gol."

Hening sesaat. Jarak keduanya yang terlalu dekat membuat Naruto dan Hinata terdiam selama beberapa detik.

"Pfttt-" yeah, Sebelum akhirnya mereka berdua tertawa pelan dengan bahagia. Naruto bahkan menunjukkan deretan giginya ketika mengingat ekspresi Hinata yang begitu keras kepala barusan.

"Hahaha, baiklah, kau sekarang mulai bisa mengimbangiku ya." Kata Naruto sambil masih tertawa. "Siapa yang mengajarimu, hm?"

Hinata kemudian memasang wajah cemberut, meski selalu gagal karena ia lepas kendali untuk tak tersenyum. "Na-Naruto-kunlah yang memancingku duluan."

"Hahaha, ya, ya… selalu cowok yang salah." Kata pemuda berambut kuning tersebut pura-pura terluka. "Oh ya Hinata, terimakasih untuk minumanmu tadi. Bahkan kau mengantarkannya langsung padaku, Maaf jika hal itu merepotkanmu."

Kembali, Hinata merona. Bagaimana tidak? Perkataan Naruto barusan sangat membuatnya merasa senang. Hinata merasa, hal kecil yang ia lakukan dihargai oleh pemuda tersebut. "T-tidak kok, aku sama sekali t-tidak keberatan."

"Hm, Tetap saja. terimakasih banyak ya."

Kedua mata itu bertemu, kemudian saling bertatapan lurus. Amethyst dan Sapphire. Dari mata biru cerah sang pemuda Uzumaki seolah mengisyaratkan, bahwa rasa terimakasih yang ia sampaikan pada Hinata adalah perasaan tulus, bukan mainan seperti kebanyakan orang gossipkan tentang dirinya. Dan entah mengapa, hanya dengan saling berpandangan saja, suasana disekitar mereka berubah.

"Aku serius soal mengajakmu keluar akhir pekan nanti." Kata Naruto tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah sang kekasih. Berah menatapnya lama-lama. "Jiraiya-sensei, wali kelasku mengajak satu tim makan bersama. Dan kupikir tidak ada salahnya mengajakmu juga."

Semburat merah muda terus menghiasi pipi Hinata hingga membuat wajahnya terasa panas. Oke, tetap sadar Hinata, Meski makan bersama, tetap saja itu disebut kencan kan?

"Ta-tapi itu satu tim, dan a-aku bukan tim kalian, bahkan k-kita tidak satu kelas." Naruto hanya menghela nafas dengan jawaban Hinata barusan. Meski begitu, ia tidak menyerah.

"Memang. Lalu apa salahnya?"

"Ta-tapi…"

"Tidak apa-apa, aku janji akan memulangkanmu dengan selamat." Ujar si pirang bersungguh-sungguh. Ia bahkan mengacungkan ibu jarinya. "Ya?"

"T-tapi Jiraiya-sensei pasti-"

"Dia pasti tidak akan keberatan-Oh ya, aku tadi disuruh apa ya oleh Jiraiya tadi?"

"Eh?" Hinata menatap pemuda dihadapannya ini dengan tatapan tak mengerti. Dia memotong perkataannya karena tidak mau ditolak, atau benar-benar melupaka sesuatu?

"A-apa, Naruto-kun?"

"Kertas, mm… apa ya tadi? Laporan?" sekarang, Putra semata wayang dari keluarga Uzumaki tersebut malah terlihat bingung sendiri. Ia bahkan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Apa ya?"

"Ke-kertas?" apa maksudnya? Daftar kehadirankah? "A-absenkah?"

Tep!

Naruto menjentikkan jarinya. "Ya! Absen! Astaga, aku lupa! Aku belum absen!"

"S-sebaiknya segera cari Jiraiya-sensei, Naruto-kun! Na-nanti terlanjur diberikan ke kemahasiswaan."

Tanpa menunggu aba-aba lagi, pemuda bertubuh jangkung tersebut kemudian berdiri. "Oke, aku pergi sebentar ya Hinata! Tunggu saja disini, oke?"

"Hm, i-iya."

Lalu, sipirang berusia tujuh belas tahun itupun langsung berlari ke tempat transit pemain. Bahkan sesekali, ia melompati tribun untuk mempersingkat waktu.

.

Boys; Your Pen

.

Sasuke duduk di tribun tengah untuk mendapatkan pemandangan yang bagus. Kalau tidak salah, Sekarang adalah persiapan bagi kelas 11-15 dengan 11-13 untuk bertanding. Sepertinya babak kali ini tak kalah menarik.

Mengambil handphone hitamnya dari tas ganti, Sasuke berniat untuk memeriksa apakah kelas 11-15 jadi bertanding atau tidak. Soalnya… kapten mereka dikabarkan sedang sakit. Berarti kelas 11-13 memiliki kesempatan yang lumayan untuk menang, kan? Pergantian kapten itu bukanlah hal yang mudah.

Sayangnya, ekspetasi dan realita itu terkadang tidak sama. Karena tangannya masih basah sehabis minum air dingin, ponsel lumayan mahal tersebut harus rela terbang sedikit jauh sebelum akhirnya membentur kepala orang dan terjatuh.

"Shit!"

Oh, no… ponsel barunya!

Hinata tentu tidak bisa untuk tidak terkejut saat sesuatu yang lumayan keras tiba-tiba menghantam kepalanya dari atas. Belum lagi rasa sakit yang sekarang mulai menyerang ubun-ubun kepalanya sedikit membuat pandangan matanya terasa mengabur.

Apa itu tadi?

Mengigit bibir bawahnya untuk menahan sakit, ia kemudian mengambil benda hitam-yang kemungkinan besar adalah benda yang mengenai kepalanya tadi, dan mengamatinya sebentar.

Tak lama berselang gadis bermanik mutiara tersebut dikejutkan oleh pemuda asing berambut biru tua yang tengah berlari mendekat.

Tunggu, sepertinya ia pernah melihatnya. Apa ini de javu? Tidak. Pasti bukan.

"K-kau tidak apa-apa?" ujar pemuda asing tersebut khawatir. Atau lebih tepatnya, ia menghawatirkan ponselnya. "Maaf aku tidak sengaja."

Hinata terdiam. Ia kemudian menatap benda hitam-yang ternyata adalah sebuah ponsel tersebut, dan si pemuda asing secara bergantian. "Ha-handphone ini milikmu?"

Sasuke mengangguk, kemudian mendekat beberapa langkah. "Apa mengenaimu?"

Hinata meringis. "Y-ya, sedikit membentur kepalaku."

"Maaf, sungguh aku tidak sengaja!" ayolah, siapa juga yang mau melempar hape kesayanganmu hingga mengenai kepala orang? Rusaknya handphone tersebut ditambah ganti rugi untuk biaya berobat pasti akan membuatmu mempertimbangkannya berkali-kali.

"Aku sungguh minta maaf!"

"T-tidak apa-apa, kok." Kemudian, Hinata mengembalikannya. "Lain kali hati-hati."

Sasuke malah semakin merasa tidak enak. "Maaf, ya? Oh, apa perlu aku antar ke UKS?"

"H-Hah? Apa? Tidak, tidak perlu! A-aku tidak apa-!"

'butuh pena?'

'Ck, Si Sasuke itu lumayan juga.'

'Iya, Namanya Sasuke.'

Sasuke U. Kelas 10-12.

Hinata mematung. Tunggu, Apa dia adalah… "Sasu…ke?"

Pemuda Uchiha dihadapannya tersebut terperangah. Ekspresinya langsung berubah menjadi heran. Darimana gadis ini tahu namanya? "Ya?"

"Pena."

"Maaf?"

"Pena! Oh!" kemudian, gadis berambut indigo yang diikat tersebut malah gentian panik. Penanya tadi ia taruh dimana ya?

"Penamu!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Ya-ha! Kapan lagi Hikari No Aoi update 2 fict dalam waktu 2 hari kurang dikit? :v #plak# senang rasanya bisa menulis lagi ^^ doakan saja laptopnya saya pinjam agak lama ya, dan mood menulis saya selalu stabil beginnii! ^^ terimakasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca :3 sampai jumpa di fict berikutnya!

Salam hangat, Hikari No Aoi