KEMBALINYA ANGGOTA KETUJUH By: Suna siblings
Disclaimer : Om K.A Applegate, pinjem charanya ya…ya…ya… Warning: OOC Genre : Adventure & Friendship Pair: Rachel, David (No Romance, just friendship)
Chapter 2: Awal Reuni Para Animorphs
Aku mengikuti Tobias melayang menuju ke daerah berbatu-batu jauh dari pemukiman penduduk. {memangnya batu yang mau kau tunjukkan itu warnanya apa sih} tanyaku basa-basi setelah 10 menit kami terbang tanpa bicara {Warna aslinya sih abu-abu kecoklatan, seperti batu lainnya. Tapi coba saja lihat kalau kena matahari, pokoknya keren deh} jawab Tobias antusias {sebetulnya aku mau menunjukkan ini padamu bulan lalu. Segera setelah aku menemukannya. Tapi yah, tidak sempat} lanjutnya sedikit menyesal. Aku tertawa {Hei, jangan pikirkan soal itu. Ngomong-ngomong, tempatnya masih jauh tidak?} nada bahasa pikiranku pastilah terdengar sedikit khawatir karena kemudian Tobias mendesah dalam kepalaku {Tenanglah, tempatnya sudah tidak jauh lagi kok. Kenapa sih? Katamu hari ini ibumu sedang pergi. Tidak ada salahnya kan, kencan sampai agak malam} {tidak bukan itu, bukan masalah ibuku} jawabku menenangkannya {hanya saja kurasa aku sudah berada dalam wujud ini selama satu jam lebih. Kalau tempatnya masih jauh, aku harus cari tempat untuk demorph} jawabanku membuat Tobias tertawa {Jangan khawatir, kita akan tiba di sana dalam 5 menit}
Tobias tidak berbohong, 5 menit kemudian kami tiba di sebuah daerah yang penuh dengan batu-batu dan nampak gersang. {Nah, kita sampai. Sesuai janjiku kan, kau bisa demorph sekarang Rach} ucap Tobias riang. Aku segera mendarat di salah satu batu dan mulai demorph, {Hei, ada cemilan. Maaf Rac, aku tinggal dulu ya} seru Tobias tiba-tiba, aku melihat sosoknya menukik cepat ke batuan yang terletak agak jauh dengan sepasang mataku yang bertambah buram. Pantas saja Tobias selalu mengeluh saat jadi manusia, akui saja, mata manusia jauh lebih parah dari mata elang. Tak lama setelah wujudku berubah menjadi manusia 100 persen, Tobias mendarat di sisiku sembari menjatuhkan seekor tikus yang lumayan besar. Aku sedikit bergidik melihat tikus yang meronta-ronta di cengkeraman Tobias. Walaupun sedah berkali-kali Tobias makan di depanku, tapi tetap saja… Tobias pasti melihat ekspresiku karena ia kemudian memalingkan wajahnya sejenak ke arahku{Umm, maaf dech. Tapi terbang selama hampir 2 jam penuh di tempat yang tidak ada termal membuat energiku terkuras habis. Untuk soal stamina, tampaknya harus kuakui kalau stamina manusia memang lebih baik dari burung} " Yeah, tidak apa-apa kok, makan saja. Jangan pedulikan aku, aku bisa jalan-jalan dulu. Aku juga tidak mau kau pingsan waktu kita terbang pulang nanti. Aku benar-benar ogah menggendong seekor elang ekor-merah kelaparan nan…" {Hei} Tobias memotong perkataanku dengan tajam "Ada apa?" tanyaku heran {aneh, kenapa tikus ini mendadak menjadi diam?} tanyanya sembari menunduk memandang tikus di cengkeramannya "Apa anehnya? Mungkin ia sudah menyadari kalau sudah waktunya ia mati dan pasrah. Kan itu lebih baik." komentarku sedikit sarkastik {Tentu saja bukan karena itu. Yang benar adalah karena aku mengenali suaramu, Rachel yang perkasa} sebuah bahasa pikiran asing bergaung di kepalaku, membuatku sangat terkejut. Secara reflek, aku melompat mundur sambil berputar mencari kalau-kalau ada bahaya {Rac, kenapa?} tanya Tobias heran. Tampaknya ia tidak mendengar bahas pikiran itu, jadi bahasa pikiran tadi hanya ditujukan padaku rupanya {Ooh, kenapa jadi panik begitu? Kupikir Rachel yang perkasa tidak kenal takut} ejek bahasa pikiran asing itu. Kali ini, sebuah pemahaman muncul di otakku. Aku mendekati Tobias yang masih menatapku dengan pandangan yang cukup aneh untuk ukuran elang "Tobias, kurasa kau harus menunda untuk memperlihatkan batu yang kau ceritakan itu" Ucapku sedikit menyesal {Apa? Kenapa?} {Tobias? Pendengaran tikus bodoh ini sudah rusak atau kau memang memanggil Tobias tadi? Kau sudah gila, Tobias sudah kubunuh} bahasa pikiran itu kembali memasuki kepalaku. Kali ini, Tobias tampak terkejut dan segera terbang tanpa sadar. Aku bergegas berjongkok, mengulurkan tanganku untuk menangkap tikus besar yang ditinggalkan Tobias tadi {apa itu tadi Rac? Siapa itu?} tanya Tobias bertubi-tubi segera setelah ia bisa mengendalikan dirinya "Kau bisa mendengarnya sekarang? Bahasa pikiran asing itu sudah bergaung di kepalaku dari tadi" gerutuku sambil morph kembali menjadi rajawali bondol sembari tetap mencengkeram tikus itu {tapi siapa? Visser Three?} nada bahasa pikiran Tobias kedengaran panik {Bukan, bukan Visser Three. Tenang saja, Cuma tikus yang nyaris kau makan kok} jawabku menenangkannya {apa? Jangan-jangan…} Oke, bagus, kurasa Tobias juga sudah menebak siapa itu.
Tiba-tiba, tubuh elangku terpelanting karena sesuatu yang besar mendesak dari bawah cakarku {apa yang…} {Rachel lihat!} seruan Tobias yang benada syok membuatku sadar kalau ada sesuatu yang tidak beres. Segera setelah aku berhasil mendapatkan keseimbanganku kembali, kuarahkan mata elangku yang setajam laser dan… {Tidak mungkin!} seruku sama syoknya
"Halo Rachel, dan wow, apa kau Tobias? Jadi kau belum mati? Ini kejutan" tanya seorang anak laki-laki yang tiba-tiba telah berada di dekatku {David} desisku kaget {bagaimana bisa?}
