Vocaloid Fanfiction

Disclaimer : Yamaha and Cripton Media Future

WARNING!

There will be so much Typo, OOC, AU, and so much more

Read First and give me your review... Thats my pleasure

Pemeran Utama :

Kaito Shion

Miku Hatsune

Please Enjoy ^.^

Chapter 2 : Waktu Luang Darmawisata

Hari pertama darmawisata kami mengunjungi Kiyomizu-dera. Dari Hanakiya kami cukup berjalan selama 5 menit dan sampai pada sebuah kuil besar yang mengagumkan.

Kiyomizu-dera merupakan kuil Budha kuno, yang dibangun pada tahun 798 dan sudah 10 kali mengalami kerusakan atau terbakar akibat perang atau bencana alam. Di belakang kuil utama terdapat kuil Jishu-jinja yang disebut dengan Dewa Perjodohan, dan di depan kuil terdapat 2 batu yang sering disebut "Batu Buta" dan "Batu Peramal Cinta".

Kuil itu bahkan lebih besar dari yang pernah kulihat di majalah Travelling. Aku tak menyangka bahwa aku akan benar-benar menginjakkan kakiku di kuil bersejarah ini. Sugoi nee…

"Bernapas Miku, bernapas!" bisik Luka tepat di telingaku. Aku segera tersadar bahwa sedari tadi aku menahan napas. Aku menatap Luka dan nyengir gugup. Kuperhatikan sekelilingku dan teman-temanku sedang sibuk berfoto untuk mengabadikan momen berharga itu.

Lalu IA, teman sekelasku yang memiliki rambut panjang berwarna abu-abu kecoklatan memanggilku dan Luka untuk berfoto bersama. Kami berjalan ke arah IA dan ia meminta seorang turis yang lewat untuk memfoto kami bertiga.

IA adalah seorang gadis berwajah lumayan cantik dengan sikap yang sedikit tomboi. Hari ini saja ia memakai kaos hitam lengan panjang yang pendek (bagian bawahnya tidak menutupi pinggulnya), dan salah satu bahu bajunya melorot. Lalu dipadu dengan rok rimple mini berwarna pink yang kontras dengan atasannya. Ia memakai stocking berwarna hitam dan sepatu boot berwarna putih. Kesan lolita gothic yang manis.

"Kirimkan foto ini ke E-mail-ku nanti," pesanku sebelum aku dan Luka berjalan memasuki bagian dalam kuil tersebut.

Di dalamnya sama menakjubkannya seperti di luar. Nuansa kuil dan religi terasa kuat dan nyata sekali. Luka beberapa kali mengabadikan foto kami dan kami terkadang berhenti sejenak untuk mengagumi megahnya kuil Budha ini.

"Hei, ayo kita lihat 'Batu Buta' yang ada di kuil ini," ajakku sambil menarik tangan Luka ke belakang kuil.

Kami berjalan sekitar 100 meter ke belakang kuil dan disanalah kami menemukan dua batu besar. Sebenarnya jika dilihat sepintas tak ada yang istimewa dari batu tersebut. Hanya dua bongkah batu besar yang makan tempat dan tak ada aksesoris yang membuatnya menarik perhatian.

Namun sebenarnya inilah tujuan para turis dan penduduk lokal datang kemari. Batu itu.

Konon kabarnya menurut penduduk setempat dengan menutup mata berjarak 100 meter kita berjalan menuju batu buta tersebut dengan menutup mata atau memejamkan mata dan sampai tepat di depan batu buta, maka keinginan kita akan tercapai. Dan untuk menguji kesetiaan hati pada pasangan, kita dapat mencoba batu peramal cinta, caranya tetap sama dengan memejamkan mata, namun bila arah kaki kita tidak tepat menuju batu peramal cinta atau melenceng jauh maka hati kita masih memikirkan orang lain.

"Jadi ini yang disebut 'Batu Buta'," gumam Luka sambil menyentuh halus batu keramat itu. Aku mengangguk antusias.

"Katanya keinginan kita bisa tercapai ya?" Luka beretorik sendiri. Aku bergumam sendiri dan menyentuh batu itu.

Jujur saja, tak ada yang istimewa dari batu itu. Bahkan teksturnya seperti batu. Permukaannya kasar seperti batu. Sedingin batu, namun aku tetap menyukai batu itu.

Luka lalu memalingkan pandangannya dari batu itu menuju padaku. Tatapannya tajam dan penuh selidik. Lalu sedetik kemudian dia tersenyum cerah.

"Kau ingin menyatakan perasaanmu pada Gakupo disini?" pertanyaan yang sangat sederhana namun sangat kompleks jika kujawab.

Pertanyaannya seperti bor yang langsung membuat hatiku mencelos seketika. Luka measih menatapku tajam namun kilatan jail terpancar di mata indahnya. Aku memalingkan wajahku dan pandangaku menemukan Kaito dan Meiko yang sedang berjalan berdua. Pacaran. Aku memalingkan wajah lagi dan tertarik pada sebuah pohon tua yang sekarat. Ini pertama kalinya aku menyukai pohon tua yang sekarat.

"Miku, aku benar 'kan?" tanya Luka mendesakku. Aku tak menjawabnya. Lagipula itu pertanyaan retorik, untuk apa dijawab?

Aku mendecak. "Itu retorik," ujarku malas dan malu. Dia menahan gelak tawa yang tersendat di tenggorokan dan masih mengamatiku.

"Itu bukan retorik. Itu pertanyaan. Jika itu retorik, maka akan bermakna ambigu. Aku ingin penjelasan dan jawaban," jawabnya santai. Ukh! Jangan mendesakku disaat seperti ini dong!

Aku mendesah pasrah. "Iya," gumamku malu. Aku menunduk dan menatap sepatu bututku yang masih setengah basah akibat insiden Kaito menceburkanku ke kolam.

"Apa? Apa yang 'Iya'?" tanya Luka lagi dengan wajah polos. Aku mendelik padanya.

"Kau tahu apa yang kumaksud dengan 'Iya'!" geramku tertahan. Luka tersenyum jail dan menggenggam tanganku.

"Ganbatte Miku," seru Luka. Aku tersenyum. Dia memang sahabatku yang mendukung semua kegiatan dan hal yang kulakukan.

"Arigatou Luka," jawabku. Lalu kami tersenyum satu sama lain untuk memberi semangat.

Tak lama setelahnya sensei memanggil kami berkumpul di depan kuil dan kami akan melanjutkan perjalanan.

.

.

.

Kami makan siang di Otsuka, salah satu restoran favorit di Kyoto. Aku dan Luka dan beberapa teman- temanku duduk dalam satu meja. Kami memesan berbagai macam makanan dan minuman.

Aku hanya memesan Kaisekiryōri, Makanan jamuan pesta di rumah makan tradisional Jepang (ryōtei) yang dinikmati sambil minum sake. Namun karena kami semua tidak diperbolehakan meminum sake, akhirnya aku memesan ocha hangat pengganti sake. Oke, aku tahu. Jauh.

"Mmm… Oishi.." desahku saat makanan itu meluncur turun ke kerongkonganku.

Maklum sejak tadi pagi aku belum makan, hanya memakan setangkup roti dan saat diperjalanan aku menghabiskan bento buatan ibuku. Makanya aku bersyukur bisa darmawisata sekaligus wisata kuliner seperti ini.

"Pelan-pelan makannya Miku," kata Teto sambil melempar serbet kearah wajahku. Aku nyengir dan mengambil serbet itu untuk mengelap wajahku yang berlumuran saus.

"Hehehe," tawaku gugup. Luka dan Teto hanya menggelengkan kepala mereka, sementara IA, See U dan Sukone Tei hanya tertawa dan sedikit berkomentar tentang restoran ataupun darmawisata kali ini.

"Ini pertama kalinya aku pergi ke Kyoto," kata Teto dan aku mengiyakan. "Ternyata Kyoto lebih mengagumkan dibanding berita atau foto yang selama ini kulihat," lanjutnya sambil memandangi seluruh restoran ini.

"Asal jangan kau buat para turis kabur dari Kyoto karena mu Teto," timpal See U dan kami semua tergelak. Teto memberenggut namun sedetik kemudian ia melempari See Uu dengan gumpalan tisu.

"Ih! Jijik!" kata See U sambil mengambil tisu itu dengan gerakan tangan jijik. Kami mendesah. Dia memang gadis pencinta kebersihan.

See U merupakan blasteran antara Jepang dan Korea. Wajahnya imut dan kebiasaannya adalah memakai bando berbentuk kuping kucing berwarna hitam yang entah kenapa terasa pas di wajahnya. Ia berambut pirang panjang dan sedikit bergelombang. Hari ini ia memakai gaun berkerah dan tanpa lengan berwarna jingga. Lalu dipadu dengan stocking putih dan sepatu phantopel berwarna jingga juga. Ia memakai parfum wangi jeruk.

"Ah! Aku lupa bahwa See U merupakan Queen of Clean di sekolah kita," desah Teto berlebihan. Kami kembali tergelak dan kali ini See U ikut tertawa.

.

.

.

Hari kedua darmawisata kami mengunjungi Fushimi Inari Taisha, Terletak di kaki Gunung Inari, lorong jalan menuju pintu masuk ini merupakan simbol pembawa keberuntungan. Ribuan gate dengan warna merah terang mengiringi perjalan di sepanjang lorong.

Kami sekelas berfoto di depan gerbang dan karena Dewi Fortuna berpihak padaku saat ini, aku berdiri di sebelah Gakupo saat berfoto.

Mati-matian aku menahan diri agar tidak terlonjak senang dan mendiamkan jantungku yang bertalu-talu dengan hebat. Saat ia berdiri disebelahku, pundak kami menempel, dan itu sukses membuatku terbang melayang ke langit ketujuh.

Aku pasti akan menyimpan foto ini seumur hidupku.

Sungguh.

Hari ketiganya kami mengunjugi Byōdō-in (Uji city),Bangunan ini terletak hanya 30 menit dari kota Kyoto. Bangunan utamanya dikenal dengan nama Phoenix.

Dan, kami baru mendapat waktu luang di hari keempat darmawisata setelah kami capek mengunjugi Arashiyama.

Luka tiduran di tatami dan aku sedari tadi dilema oleh teleponku. Luka menatapku dan dia bertanya, "apa yang kau lakukan?"

Aku meremas telepon genggamku dengan gugup. "Luka, aku bingung. Apa aku harus menyatakannya atau tidak," jawabku jujur. Disaat seperti ini yang paling tepat adalah jujur.

Luka bangun dari tempat tidurya dan menatapku. "Kau harus meyakinkan dirimu jika tindakanmu ini benar dan tak akan ada penyesalan Miku," ucap Luka serius. Aku menatap matanya lekat-lekat dan mencoba mencari sinar jail yang biasanya selalu terpancar dari matanya, namun aku tidak menemukannya.

Aku menghela napas. "Kau benar. Aku ingin menyampaikan perasaanku yang sudah kupendam selama hampir tiga tahun," gumamku untuk meyakinkan diri sendiri. Luka mengangguk menyetujui.

Aku menatap lagi layar teleponku yang sudah gelap dan mengangguk mantap. Aku harus menyatakan perasaanku. Aku harus menemui Gakupo dan menyatakannya!

Menghela napas sejenak, aku mencari nama Gakupo di layar teleponku. Setelah bimbang sejenak dan ragu, aku menekan tombol dialing dan… tersambunglah teleponku dengannya.

Jeda yang cukup lama membuatku resah, namun tak lama kemudian Gakupo menjawab teleponku.

"Moshi-moshi," katanya diseberang sana. Aku gugup setengah mati.

"M-Moshi-moshi Gakupo," balasku dan kusadari suaraku sedikit serak. Ini pertama kalinya aku menelepon Gakupo dan aku gugup.

"Miku? Ada apa?" tanyanya. Aku menatap Luka dan ia mengangguk. Aku mengangguk dan mengumpulkan tekad.

"Aku… bisakah kita bertemu di 'Batu Buta' di Kiyomizu-dera?" tanyaku pelan. Aku mendapati jeda yang cukup lama sebelum ia menjawab.

"Kapan?" tanyanya.

"Jam lima sore ini. Bisa?" tanyaku cemas.

"Bisa." Jawaban itu membuatku melayang ke langit ketujuh. HOREEEEEE!

"B-Baik, aku akan menunggu," ujarku girang dan mengakhiri percakapan singkat kami.

Aku menatap Luka yang berseri-seri dan aku mulai tertawa. Kami berdua mulai tertawa. Sangat keras.

.

.

.

Jam setengah lima aku mulai mandi dan bersiap. Luka berkata bahwa ia ingin jalan-jalan di sekitar Hanakiya dan aku mengiyakan. Namun sampai aku selesai mandi ia belum kembali.

Aku tidak khawatir, namun aku mengirimnya pesan suara yang bunyinya "aku pergi duluan ke Kiyomizu-dera. Jika kau menerima pesan ini tolong hubungiku lagi."

Dan dengan memantapkan hati, aku keluar dari kamar.

To be Continued

Oke, Audry sudah menyusun rencana tersendiri...

AKAN MENYELESAIKAN CHAPTER DEPAN, DAN DEPANNYA LAGI SECEPAT MUNGKIN SEBELUM SATU MINGGU PENUH AKAN ULANGAN DAN TUGAS DATANG MENEROR DAN MENGANCAM UNTUK DIKERJAKAN

So, Audry mungkin akan update kilat...

Karena...

Mungkin minggu ini minggu terakhir Audry bisa membuka Laptop dengan tenang, bebas, tanpa beban, dan tanpa embel-embel 'mengerjakan tugas'

Maklum, begini nasib anak SMA kelas 2 Jurusan IPA.

Hiks...

Lalu, sekarang...

WAKTUNYA MEMBALAS PARA REVIEWER!

BALASAN REVIEW:

CelestyaRegalyana

Kaito memang narsis... HAHAHAHA! Ini udah lanjut, jadi... JANGAN MAKAN AKU(?)

Hay Anime14

Ini udah lanjut... Nanti anda akan mengerti apa maksud dari "Childhood"

SyifaCute

Cerita ini emang keren!(Kepedean-ditimpuk pake batu). Ini udah lanjut...

Intinya, Audry berterima kasih banget buat yang udah nge-review...

Audry udah Hiatus lama banget... Hampir empat bulan...

Jadi...

COME BACK HOMEEEE!

Last Word...

RnR Please...