Apa yang harus ia rasakan sekarang? Bahagia karena sebentar lagi ia akan berkumpul bersama orangtua kandungnya? Atau sedih karena ia harus berpisah dengan orangtua yang selama ini telah merawat dan menyayanginya?
Jaejoong tak tahu. Dua perasaan itu seakan melebur menjadi satu, membuat dadanya sesak. Dia butuh tempat untuk menumpahkan semua perasaannya yang kacau ini. Kemudian Jaejoong terhenyak saat mengingat sesuatu yang ia lupakan.
"Yunho..." gumamnya lirih.
Like A Star
Author : Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye
Main Cast : Kim Jaejoong, Jung Yunho
Support Cast : Kim Junsu, Kim Heechul, Park Yoochun,
Shim Changmin, Choi Seunghyun (TOP), Im Yoona
Genre : Romance, Hurt, School Life
Warning : Genderswitch! for uke, cerita pasaran, dll.
DON'T LIKE? DON'T READ THEN!
LIKE? ENJOY READING ^^
.
.
CHAPTER 2
.
.
"Terlambat 10 menit! Jam berapa kau tidur semalam, eoh?"
Jaejoong hanya meringis mendapat omelan Yunho yang sudah bersandar di tembok pintu gerbang rumahnya. Bagaimana kalau dia bilang jika semalam dirinya sama sekali tak bisa tidur?
"Cerewet sekali. Ayo, nanti kita terlambat!" Jaejoong menggandeng lengan Yunho dan menariknya pergi. Namja tampan itu bersungut-sungut.
"Kalau kita terlambat, itu salahmu!"
Jaejoong mengerucutkan bibir. Dia melepaskan tangannya dari lengan Yunho lalu menginjak sepatu namja itu keras. Yunho memekik.
"Yak!"
Jaejoong berjalan mundur sambil memeletkan lidahnya. "Yang ketinggalan bus terakhir harus mentraktir makan!" serunya riang sebelum kemudian berbalik dan berlari kencang, meninggalkan Yunho yang masih kesakitan.
"Ya!"
Jaejoong mengabaikan seruan kesal Yunho. Dia hanya tertawa sambil sesekali menoleh ke belakang dan memasang senyum mengejek pada Yunho yang tengah berusaha mengejarnya. Namun senyum itu lenyap seketika saat melihat Yunho yang semakin mendekat. Dan dalam hitungan detik, namja bermata tajam itu berhasil mengalungkan lengan pada lehernya, membuatnya terhuyung dan hampir terjatuh.
"Sepertinya kau lupa dengan siapa kau bermain, setan kecil!"
Jaejoong kembali mengerucutkan bibirnya mendengar nama panggilan lain Yunho untuknya, belum lagi ketika namja itu mengacak-acak rambutnya. Dia hendak memprotes.
"Yun–"
Cup.
Namun bibir Yunho lebih dulu membungkamnya. Lagi-lagi wajah Jaejoong merona, meski dia yakin Yunho tak pernah menyadarinya.
"Aku baru tahu kalau ternyata kau sangat ketagihan dengan hukuman dariku," ujar Yunho dengan nada serius.
Jaejoong mendengus pelan. "Ingin merasakan sepatuku lagi?"
"Aku hanya bercanda!"
Mereka tiba di halte tepat ketika bus terakhir hendak berangkat. Mereka segera memasuki bus yang penuh sesak. Jaejoong terkesiap saat merasakan lengan Yunho menahan punggungnya, menariknya mendekat hingga dia membentur dada namja itu.
"Jangan jauh-jauh dariku," ucap Yunho pelan namun tajam.
Jaejoong hanya menunduk dan mencengkram seragam namja itu. "Ne," lirihnya. Dia pasti akan sangat merindukan saat-saat ini, saat di mana mereka berdiri berdua di tengah-tengah kesesakkan bus, saat di mana lengan Yunho akan selalu melindunginya dari keramaian. Mata Jaejoong memanas.
'Aku akan sangat merindukanmu, Yun...'
.
.
Jaejoong menggigit pensil sambil sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Dia sedang fokus dengan contoh proposal di tangannya ketika tiba-tiba pintu ruang OSIS menjeblak terbuka dan sesosok jangkung dengan wajah kekanakkan muncul. Jaejoong mendongak dan tersenyum melihatnya sementara namja itu hanya memasang wajah malas.
"Sudah kuduga kau di sini. Demi tuhan, hanya kau satu-satunya orang yang berada di ruang OSIS saat yang lain sedang bersantai dan kekenyangan di kantin, noona. Ayo, kau juga harus mengisi perutmu!"
"Aku harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini, Changmin-ah," elak Jaejoong. Waktunya di sini tak banyak, dia harus dapat menyelesaikan semua tugasnya sebagai ketua OSIS secepat mungkin.
Shim Changmin, hoobae Jaejoong sekaligus sekretaris OSIS, memutar bola matanya bosan. "Kau pikir apa gunanya anggota yang lain, eoh? Aku akan membantumu, tapi nanti. Sekarang, ayo kita makan dulu. Aku lapar!"
Jaejoong hanya memberengut ketika Changmin mengambil kertas di tangannya dan menariknya pergi.
"Kalau kau lapar, kenapa kau ke sini?"
"Karena aku ingin makan denganmu," sahut Changmin cuek.
Gezz, jawaban macam apa itu. Jaejoong mencibir, namun meski begitu dia hanya membiarkan ketika namja jangkung kelebihan kalsium itu membawanya menyusuri koridor yang kini telah menjadi lautan siswa. Dia berhenti ketika mereka sampai di depan kelas yang sangat dikenalnya. Changmin menoleh.
"Kenapa?" tanya namja itu.
Jaejoong melepaskan tangannya dari Changmin. "Sebentar, aku ingin melihat apa kita bisa mengajak Yunho."
Changmin mendengus.
Jaejoong membuka pintu yang setengah tertutup, berharap Yunho ada di dalam. Namun apa yang dilihatnya kemudian membuat tubuhnya mematung. Ya, Yunho memang ada di dalam sana. Bahkan tak ada orang lain selain namja tampan itu, dan... seorang yeoja yang kini tengah dicumbunya. Jaejoong mencengkram erat gagang pintu di tangannya.
Dia sudah sangat terbiasa melihat pemandangan itu, tapi kenapa dadanya masih saja berdenyut sakit?
Kedua orang tersebut sepertinya menyadari kehadiran Jaejoong, karena kemudian mereka saling melepaskan diri. Jaejoong menggigit bibir melihat lelehan saliva yang tengah Yunho hapus dari dagunya. Namja itu menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Jae!"
Jaejoong mencoba memaksakan senyum saat Yunho berjalan menghampirinya, mengabaikan yeoja yang kini menatapnya dengan pandangan sinis dan meremehkan.
"Kau sudah makan?" tanya Jaejoong. Yunho menggeleng.
"Belum. Kajja!"
Begitu mereka keluar kelas, Changmin sudah menunggu dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya. Dengan segera namja berwajah kekanakkan itu kembali menggandeng tangan Jaejoong dan menariknya pergi, menimbulkan protes keras dari Yunho.
"Ya! Bocah tengik, apa yang kau lakukan?! Lepaskan tanganmu darinya!"
Changmin berhenti lalu menoleh dengan tatapan datar. "Dan kenapa aku harus melakukannya?"
Yunho menyeringai sebelum kemudian melepas paksa tautan tangan itu dan merangkul Jaejoong posesif. "Karena aku memerintahkanmu," jawabnya final. Mata musangnya menatap Changmin tajam. "Hanya aku laki-laki yang boleh menyentuhnya, arraseo?"
Jaejoong hanya menurut ketika Yunho membawanya menjauh. Adu mulut guna memperebutkan dirinya antara Yunho dan Changmin sudah menjadi makanan sehari-hari, jadi dia tidak begitu memusingkannya. Jaejoong mendongak, menatap wajah Yunho dari samping.
"Siapa gadis tadi?"
"Hanya satu dari sekian banyak gadis yang jatuh padaku," jawab Yunho cuek.
Mata Jaejoong berubah sendu. "Sampai kapan kau akan terus bermain seperti ini, Yun? Kau mengencani banyak gadis tapi menolak semua pernyataan cinta mereka. Kenapa tidak kau pilih satu gadis baik-baik yang kau suka dan menjadikannya... kekasihmu?" tanyanya dengan suara tercekat.
Yunho menoleh, menatapnya dengan mata menyipit. "Kau tahu kan, aku tidak akan berpacaran kecuali dengan gadis yang benar-benar aku sukai?"
Jaejoong memalingkan wajahnya. "Tentu, aku tidak melupakannya."
"Kalau begitu berhenti membicarakan omong kosong ini."
Changmin mengawasi dua orang yang sekarang berjalan tak jauh di depannya, lalu mendengus keras. Dia menggerutu, memandang punggung Yunho dengan tatapan tak suka. "Hanya aku laki-laki yang boleh menyentuhnya? Cih, jangan membuatku tertawa! Lalu bagaimana dengan dirimu yang membiarkan perempuan lain menyentuhmu, huh?"
.
..GJ..
.
Pertandingan semi final kejuaraan basket antar SMA tingkat provinsi Gyeonggi-do tinggal 3 hari lagi. Yunho berdiri di balik dinding pembatas, meneguk minuman isotoniknya sambil mengawasi halaman sekolah yang dipenuhi murid dari lantai 3 tempatnya sekarang berada. Bel pulang sudah berbunyi 10 menit lalu namun ia masih betah berdiri di depan kelas, berniat menghabiskan sisa waktu 10 menit lagi sebelum latihan basketnya dimulai.
Dia menyipit saat kedua mata musangnya tak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal tengah berbincang dengan seseorang di pinggir lapangan sepak bola. Rahangnya mengeras melihat senyum yang terpampang di wajah keduanya.
"Kau masih di sini?"
Sebuah suara menyapa indra pendengaran Yunho, namun tak mampu mengusiknya yang masih setia memandang ke bawah dengan tatapan tak suka.
Yoochun yang merasa diacuhkan hanya menggembungkan pipi chubby-nya. Namja—yang katanya—berjidat lebar itu ikut berdiri di sebelah Yunho, melihat apa yang tengah dia amati.
"Siapa namja itu?" desis Yunho.
"Maksudmu yang bersama Jaejoong?" tanya Yoochun bodoh. Yunho meliriknya tajam, membuat Yoochun menelan ludah gugup. "Kau tak mengenalnya? Dia Choi Seunghyun, sunbae kita di kelas tiga. Ketua club musik."
Yunho kembali mengalihkan perhatiannya pada Jaejoong dan Seunghyun yang kini duduk di bangku pinggir lapangan. Selalu saja dadanya terasa sesak, entah kenapa. Dari dulu dia sangat tak suka melihat Jaejoong dekat dengan laki-laki lain. Baginya, tak boleh ada laki-laki yang dekat dengan gadis itu kecuali dirinya. Senyum itu adalah miliknya. Hanya dia yang boleh menyentuhnya.
"Ayo, kita harus segera berkumpul," ajak Yoochun. Namun Yunho menggeleng pelan.
"Kau duluan," gumamnya.
Yoochun mengangkat bahu lalu beranjak pergi. Yunho melempar pandangan pada Jaejoong dan Seunghyun untuk terakhir kalinya sebelum kemudian berbalik dan mengusap wajahnya kasar. Dia mendecih. Sepertinya dia memang terlalu memikirkan Jaejoong hingga bisa merasakan perasaan aneh seperti ini. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya sebelum dia bisa jadi gila.
"Yunho sunbae...?"
Yunho melepas tangan dari wajahnya. Seorang yeoja berdiri di depannya dengan wajah menunduk. Yunho menatapnya datar. "Apa?"
Yeoja itu mendongak, dan harus Yunho akui wajahnya cantik—meski wajah Jaejoong beratus-ratus kali lipat jauh lebih cantik darinya. Yeoja itu tampak gugup. Dia meremas-remas roknya sebelum kemudian mengeluarkan suaranya dengan sedikit bergetar.
"A-aku menyukai sunbae sejak lama. Maukah sunbae berpacaran denganku?"
Yunho termenung. Tiba-tiba dia teringat dengan perkataan Jaejoong kemarin.
"Kenapa tidak kau pilih satu gadis baik-baik yang kau suka dan menjadikannya... kekasihmu?"
Yunho mengamati yeoja itu lekat-lekat. Dari rambut hitam panjangnya yang dikucir kuda, wajahnya yang polos tanpa make up, serta penampilannya yang rapi tanpa aksesoris berelebihan. Ditambah sikapnya yang salah tingkah saat ditatap olehnya. Dilihat dari mana pun, dia tampak seperti yeoja baik-baik.
'Mungkin memang ini yang aku butuhkan,' pikir Yunho. Dan selanjutnya—entah setan apa yang merasukinya—dia mengangguk mengiyakan.
.
..GJ..
.
Jaejoong tak bisa tidur. Sudah dua jam sejak dia berbicara untuk pertama kali dengan ayah dan ibu kandungnya di telepon. Rasanya sungguh... mendebarkan. Meski terselip rasa pedih di hatinya mengingat orangtua angkatnya sekarang. Dia tahu mereka menyembunyikan kesedihan yang amat dalam di balik senyum hangat mereka.
Dia tak ingin meninggalkan mereka, sungguh. Memikirkan itu saja membuatnya selalu ingin menangis. Namun, dalam hal ini dia harus memilih. Dia juga tak bisa mengabaikan perasaan orangtua kandungnya yang telah mencari-cari dirinya begitu lama. Dia akan ikut dengan mereka, meski itu berarti dia harus meninggalkan semua yang ada di sini.
Termasuk... Yunho.
Jaejoong sadar cintanya selama ini pada namja itu tak terbalas. Tapi dia sudah bertekad untuk menyatakannya cepat atau lambat. Waktunya di sini semakin menipis, dia tak ingin menyesal di kemudian hari.
Jaejoong menghela nafas. Matanya menatap sendu fotonya bersama Yunho yang ia jadikan sebagai wallpaper ponsel.
Entah seperti apa reaksi Yunho nanti, dia akan mengatakannya. Meski itu berarti dia harus berisap-siap menelan rasa sakit dengan segala kemungkinan terburuk yang akan diterimanya.
.
..GJ..
.
Hari ini adalah jadwal Jaejoong untuk melakukan inspeksi keliling sekolah, membuatnya tidak bisa berangkat bersama Yunho. Dia hanya dapat mendesah berkali-kali sambil mencatat daftar siswa di gedung kelas 3 dan sekitarnya—wilayah yang ia inspeksi—yang melakukan pelanggaran. Padahal dia hanya ingin melihat wajah tampan itu sebelum memutuskan untuk menyatakan perasaannya.
"Terus mendesah seperti itu membuat seribu keberuntunganmu hilang, Jae."
Jaejoong terkesiap merasakan deru nafas yang menggelitik tengkuknya. Dia berbalik. Seorang namja tampan sudah menjulang di depannya dengan senyumnya yang menawan.
"Sunbae!"
Choi Seunghyun terkekeh. "Selamat pagi, princess."
Jaejoong menggembungkan pipinya. Satu lagi nama panggilan menggelikan yang orang lain tujukan untuknya. Dia memekik pelan ketika Seunghyun malah menarik-narik pipi kanannya.
"Yah, appo~"
"Salah siapa kau memasang wajah imut begitu?"
Blush.
Wajah Jaejoong bersemu merah. I-imut? Dia tak menyangka kata itu bisa keluar dari senior tampan yang terkenal dingin seperti Seunghyun. Dia segera memalingkan wajahnya dan kembali berkutat dengan catatannya.
"Sebentar lagi bel. Lebih baik sunbae masuk kelas," ujarnya mengalihkan pembicaraan. Kemudian dia merasakan sebuah tepukkan lembut di kepalanya.
"Arraseo. Sampai jumpa."
Jaejoong menghembuskan nafas panjang melihat punggung tegap Seunghyun yang perlahan menjauh. Dia melirik jam tangannya dan terkejut. "Omo, ternyata sebentar lagi bel memang berbunyi!"serunya panik. Dengan tergesa dia berlari menuju ruang OSIS yang berjarak 5 menit dari sana untuk mengambil tasnya. Jam pertama adalah ulangan Kimia dan dia tak boleh terlambat.
.
.
Jaejoong merasa kepalanya berdenyut-denyut. Mungkin karena tadi dia hanya tidur beberapa jam, ditambah dengan adanya ulangan yang membuatnya semakin pusing. Dia pun memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahat pertama dengan tidur di klinik sekolah. Sendiri karena dia menolak Junsu dan Heechul menemaninya.
Langkah Jaejoong terhenti saat dia melewati kantin. Dapat dia lihat sosok tampan yang sedari tadi memenuhi pikirannya tengah duduk sendiri sambil memainkan ponsel. Pasti bermain game, pikirnya. Tapi tak biasanya namja itu sendiri. Ke mana teman-temannya yang lain?
Tersenyum dan melupakan sejenak rasa sakitnya, dia berjalan memasuki kantin dan menghampiri namja itu.
"Yun!" serunya.
Yunho mendongak dari ponselnya lalu tersenyum. "Jae!"
Jaejoong duduk di depan Yunho, sedikit mengernyit melihat meja yang kosong. "Kau sendiri? Di mana makananmu?"
"Ah, itu..."
Belum selesai Yunho mengucapkan kalimatnya, seorang yeoja tiba dan meletakkan nampan berisi makanan di atas meja. Yeoja itu duduk di sebelah Yunho lalu memekik begitu melihat Jaejoong.
"Omo! Annyeonghaseo, Kim Jaejoong sunbae!" ucapnya antusias sambil membungkuk.
Jaejoong memandang gadis yang kini menatapnya dengan mata berbinar-binar itu penuh tanda tanya. Dia tidak seperti gadis-gadis yang biasanya selalu bersama Yunho. "Nuguya?" tanyanya penasaran.
Yunho tersenyum kikuk sebelum merangkul bahu yeoja itu. "Kenalkan, Jae. Ini Im Yoona, yeojachingu-ku."
"A-apa?"
Jaejoong berharap dia salah dengar. Dia terdiam dan menatap Yunho lekat, menunggu namja itu tertawa dan mengatakan 'aku bercanda!' atau apa pun itu yang mengindikasikan jika dia tak serius.
Namun Yunho hanya tersenyum, begitu pula dengan yeoja bernama Im Yoona itu.
Jaejoong menelan ludahnya susah payah. Yeojachingu? Ini bercanda, kan? Bukankah baru dua hari yang lalu Yunho bilang bahwa dia tidak akan berpacaran? Tanpa sadar Jaejoong meremas roknya kemudian bertanya dengan suara tercekat.
"Sejak... kapan?"
"Kemarin."
Yoona lalu menundukkan kepalanya. "Im Yoona imnida. Senang berkenalan denganmu, sunbae," ucapnya seraya tersenyum manis.
Jaejoong hanya mengangguk kaku. Lidahnya terlalu kelu untuk berkata-kata.
"Boleh aku memanggilmu eonni?"
Jaejoong mencoba memaksakan sebuah senyum tipis. "Tentu," katanya pelan.
Dan selanjutnya dia hanya dapat memandang nanar pasangan di depannya. Apa ini, kejutan apa lagi yang telah Tuhan persiapkan untuknya. Setelah orangtuanya, kini Yunho pun... Jaejoong menggigit bibirnya. Kedua bola matanya memanas. Sebisa mungkin dia menahan agar air matanya tidak menyeruak keluar.
"Jae?" Yunho menatapnya khawatir. "Kenapa diam? Kau sakit?"
Jaejoong balas menatap mata sipit nan tajam yang sangat ia sukai itu, lalu menggeleng pelan. Bibirnya berusaha membentuk senyum kecil. "Tidak. Aku hanya tak menyangka kau bisa menemukan yeojachingu secepat ini. Chukae," ucapnya setengah bergetar. Berusaha terdengar tulus meski kini rongga dadanya serasa dipenuhi beribu-ribu jarum tak kasat mata, begitu perih hingga membuatnya ingin berhenti bernafas.
Yunho tertawa pelan lalu mengacak-acak rambut almond-nya. "Ini semua berkatmu yang menyadarkanku. Terimakasih," ujar namja itu seraya tersenyum. Senyum yang biasanya selalu menyejukkan, namun melihatnya sekarang hanya membuat Jaejoong semakin ingin menangis.
Dia ingin segera pergi dari sini, keluar dari situasi yang sangat memojokkannya ini, tapi tubuhnya seolah terpaku dan tak bisa digerakkan. Dan berikutnya Jaejoong mendesah lega saat ponsel di saku blazer-nya bergetar. Siapa pun itu, dia adalah malaikat penolongnya.
"Halo?"
"Halo, noona? Mana bekal yang kau janjikan kemarin—"
"Sekarang? Baik aku akan segera ke sana."
"Eh?"
Tanpa menghiraukan kebingungan di seberang sana, Jaejoong segera menutup telepon. Dia berdiri dari kursinya. "Maaf, aku harus pergi. Changmin mencariku. Sampai jumpa lagi, Yoona-ssi."
Usai berkata seperti itu, Jaejoong bergegas keluar dari kantin. Cairan asin yang sedari tadi tersembunyi di pelupuk matanya tumpah seiring dengan langkah cepat yang diambilnya. Dia menunduk dan menutupi wajah dengan satu tangannya. Mengabaikan pandangan ingin tahu siswa-siswi yang dilewatinya, dia mulai berlari.
"Hiks..."
Jika kemarin hatinya pecah berkeping-keping, maka sekarang kepingan itu telah hancur menjadi serpihan-serpihan debu.
Semuanya sudah berakhir. Yunho menyukai gadis lain, dan itu bukan dirinya. Tidak akan ada lagi kesempatan untuknya. Atau mungkin sejak awal memang tidak ada. Betapa bodohnya dia yang sempat berpikir untuk menyatakan cintanya.
Bruk.
Jaejoong merasakan tubuhnya menabrak sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang. Masih dengan menunduk, dia membungkuk minta maaf lalu bermaksud untuk kembali berlari ketika orang itu mencekal pergelangan tangannya.
"Noona? Aku baru saja ke ruang kesehatan tapi tidak menemukanmu. Dari mana saja kau?"
Jaejoong melepaskan tangan dari wajahnya lalu mendongak, menatap Changmin yang tampak shock melihatnya bercucuran air mata.
"Noo...na?" lirih Changmin tertegun.
Pertahanan Jaejoong runtuh. Dia segera memeluk erat Changmin dan terisak keras di dada namja yang sudah dia anggap sebagai dongsaeng-nya itu. "Hiks... Changmin..."
.
.
Brak.
Yunho tersentak kaget saat tiba-tiba seseorang menggebrak mejanya keras. Dia mendongak dari buku pelajaran yang sedang dibacanya. Keningnya mengernyit melihat Yoochun berdiri di depannya dengan wajah marah.
"Kudengar kau berpacaran dengan seorang siswi kelas satu bernama Yoona, apa benar begitu?"
"Dari mana kau tahu?"
"Berita cepat menyebar, Jung," ujar Yoochun dengan nada yang entah kenapa terdengar sinis di telinga Yunho. "Jadi, itu benar?"
"Ya, itu benar," jawab Yunho seadanya. "Dengar, aku minta maaf karena tidak memberitahumu—"
"Apa kau gila?!" seru Yoochun keras, membuat penghuni kelas yang baru saja menyelesaikan jam istirahat memandang mereka. Dia berdehem sebelum kembali menormalkan suaranya dan menatap tajam Yunho. "Lalu bagaimana dengan Jaejoong?"
Yunho menatapnya tak mengerti. "Apa maksudmu? Aku dan Jaejoong baik-baik saja. Apa hubungannya hal ini dengan Jaejoong?"
"Kau—" Yoochun tampak seperti ingin mengumpat, tapi kemudian dia mengatupkan bibirnya dan mengusap wajahnya frustasi. "Kau tahu? Kau adalah laki-laki terbodoh yang pernah kukenal! Selama ini aku diam karena aku tahu kau tak pernah serius dengan gadis-gadis yang terus menempelimu itu. Tapi kali ini... aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu!"
Yunho tercengang, mengawasi Yoochun yang nampak terengah setelah berhasil menyelesaikan rentetan kalimat penuh emosinya. "Hey, apa masalahmu sebenarnya?" tanyanya heran. Ada apa dengan namja itu? Apa dia telah melakukan kesalahan hingga membuatnya kesal?
Namun Yoochun tak menjawab. Namja itu menghempaskan diri di tempat duduk yang berada persis di belakangnya. "Lupakan. Aku hanya berharap semoga kau tak menyesal, Yun."
Yunho makin tak mengerti. Dia hendak membuka mulutnya untuk bertanya, namun urung begitu melihat guru Sejarah mereka memasuki kelas. Dia pun hanya mengangkat bahu.
.
..GJ..
.
Tak ada yang berubah dengan hubungan Jaejoong dengan Yunho. Setidaknya itu yang terlihat dari luar. Yunho masih memperlakukan Jaejoong seperti biasa. Dan Jaejoong pun menyembunyikan perasaannya dengan baik. Dia selalu memasang senyum di hadapan Yunho maupun Yoona, namun akan menghabiskan waktunya untuk menangis sekembalinya ia ke rumah.
Binar di matanya seolah redup. Kini ia menjadi lebih pendiam dan sering melamun di tengah-tengah pelajaran. Hal ini pun tak ayal membuat Junsu dan Heechul selaku sahabatnya cemas.
"Kau yakin akan ikut dengan kami?"
Jaejoong memakai tas ransel kecil berwarna merahnya lalu mematut penampilannya di cermin. Sudut matanya melirik bayangan Junsu dan Heechul yang ikut terpantul di kaca. Dia lalu berkata ringan, "Aku baik-baik saja, dear. Lagipula Yunho akan membunuhku jika aku sampai tidak datang. Kajja!"
Sore ini adalah pertandingan semi final kejuaraan basket yang ditunggu-tunggu antara Paran SHS melawan Han Young SHS, di mana Yunho dan timnya akan bermain. Tidak mungkin Jaejoong melewatkannya.
Mereka sampai di arena basket Dongguk University—tempat pertandingan diadakan—bertepatan dengan ditiupnya peluit tanda pertandingan dimulai. Berbagai banner bertuliskan Paran Senior High School, Jung Yunho, beserta nama anggota lain yang memenuhi setengah arena menyambut mereka. Begitu pula dengan teriakkan-teriakkan dukungan yang memekakkan telinga.
Mereka bertiga berhasil mendapatkan tempat duduk di deretan paling depan. Jaejoong dengan semangat melambai ke arah Yunho saat pandangan mereka bertemu kemudian mulai ikut menyerukan teriakkan dukungan seperti yang lain. Namja tampan itu tersenyum sebelum mengalihkan kembali perhatiannya pada permainan.
"Yoochun oppa! Hwaiting!"
Baik Jaejoong maupun Heechul menoleh kaget ke arah Junsu begitu mendengar pekikkan cempreng yeoja imut itu. Apa yang baru saja dia katakan?
"Apa aku mendengarmu menyebut kata 'Yoochun'?" tanya Heechul heran.
"Eh?" Junsu tampak bingung, tapi sedetik kemudian wajahnya memerah. "Omo! Apa aku baru saja menyerukan namanya?! Pantas saja dia tersenyum jahil padaku! Kyaaaa, apa yang telah kulakukan?!" serunya panik seraya menutupi wajah dengan kedua tangannya, membuat Jaejoong serta Heechul melongo sesaat sebelum akhirnya terkekeh dan mulai menggodanya.
Aigo, sepertinya sahabat mereka yang satu ini sudah jatuh pada namja berwajah cassanova yang selalu dicemooh dan disinisinya.
Tanpa sadar Jaejoong merenung saat teringat akan dirinya sendiri. Betapa beruntungnya Junsu menyukai orang yang juga menyukainya. Sedangkan dia...?
Pertandingan berlangsung alot dan babak pertama berakhir dengan Paran SHS yang memimpin skor. Jaejoong melupakan kesedihannya sejenak dan ikut bersorak senang bersama teman-temannya yang lain. Namun kemudian dia menepuk dahinya.
"Omo, aku lupa!" ujarnya pelan saat melihat para pemain yang kelelahan beranjak menuju pinggir lapangan untuk beristirahat. Biasanya 5 menit sebelum babak pertama atau pertandingan berakhir dia akan pergi ke bangku pemain dan menunggu Yunho.
Jaejoong segera mengambil botol minuman yang sudah ia persiapkan untuk Yunho dari tasnya lalu berdiri, bersiap untuk turun ke bawah ketika tiba-tiba pemandangan yang dilihatnya membuatnya berhenti. Dia meremas pelan botol dalam genggamannya melihat Yunho yang meneguk minuman pemberian Yoona serta gadis itu yang tengah mengelap keringatnya dengan handuk.
Dia membentuk senyum miris sementara sepasang matanya mulai basah. 'Aku lupa jika sudah ada yang menggantikanku...'
"Aku ke toilet," katanya singkat lalu membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi sebelum air matanya meleleh, meninggalkan Junsu dan Heechul yang memandang punggungnya sendu.
.
.
'Di mana dia?'
Berkali-kali Yunho merapalkan kalimat itu dalam kepalanya saat tak menemukan sosok Jaejoong di kerumunan penonton. Gadis cantik itu bahkan tak ada di tempatnya berada tadi. Aneh, mengingat gadis itu tak pernah absen menghampirinya di saat-saat seperti ini.
Yunho melirik botol minuman yang terasa asing di tangannya, lalu mendesah. Hatinya mendadak terasa hampa.
.
.
.
.
To be continues...
Bakar Yunpa nyok *siapin bensin n korek xD*
Oke, di sini aq akan menjawab beberapa pertanyaan dari chingu sekalian:
- Bagaimana sebenernya perasaan Yunho?
Well, udah liat di atas kan? Seperti kata Yoochun oppa, appa itu pabo dan minta ditabok -_-
- Heechul sendirian, mana Hankyung?
Hankyung belum hijrah ke Korea, tunggu ne :)
- Kenapa Jae bisa di panti asuhan? Siapa ortu kandungnya?
Itu akan dijelaskan nanti. Ortunya adalah sepasang kekasih artis di dunia nyata.
- Yunho playboy, tapi kenapa nolak pas dideketin Tiffany?
Yunho emang playboy dengan cewek kegatelan di kanan-kiri, tapi ada kalanya dia males ngeladenin mereka. Apalagi kalo udah ada Jaejoong. Baginya Jaejoong tetep nomor satu.
Terimakasih sudah mampir baca dan review ^^ Chap depan adalah chap terakhir.
Review lagi?
