Good girl...(hentai area)

.

.

.

Sakura mendengus dan mencibir saat meninggalkan kontrakannya. Maksudnya mantan kontrakannya. Iya, baru saja dia di usir setelah menunggak selama tiga bulan. Bagi Sakura wanita tua cerewet itu sama sekali tak punya hati. Demi iblis yang menjadi kerak neraka, Sakura sama sekali tak tahu harus kemana. Dia gelandangan sekarang. Apa dia harus bekerja sebagai pengemis?

Bicara tentang pekerjaan, Sakura juga baru saja di pecat dua jam yang lalu. Masalahnya karna dia memecahkan nyaris selusin piring hanya dalam seminggu bekerja. Iya, pencuci piring adalah profesinya yang ke tiga dalam bulan ini. Meski hanya bertahan seminggu. Maunya Sakura juga tidak mau menjadi seseorang yang tak becus melakukan apapun di dunia yang kejam ini.

"Ah andai saja ada keajaiban." desah Sakura lelah. Dia sama sekali tak menyadari lampu penyebrangan berubah menjadi merah hingga suara decitan ban yang mencengkeram aspal juga jeritan orang-orang masuk ke pendengarannya. Brak.

"Kyaaaaaaaa!" Jerit Sakura saat tubuhnya terpental terhantam mobil itu.

Sakura meringis berusaha bangun. Orang-orang sudah bergerak mengerumuninya. Seharusnya tak perlu Sakura hiraukan. Tapi nyatanya menjadi pusat kerumunan membuatnya risih. Setidaknya sampai sesosok malaikat tampan yang menghampirinya dengan wajah cemas.

"Maaf. Sungguh maaf. Aku sedang buru-buru. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Tanpa menunggu jawaban Sakura, pria itu menggendong Sakura masuk kemobil dan melaju menuju rumah sakit.

Demi apapun, Sakura masih mampu nyengir membayangkan jika dirinya sesaat tadi berada di gendongan malaikat. Biarkan saja orang menganggapnya lebay. Mereka tidak tahu jika selama ini Sakura hanya bertemu dengan orang-orang urakan berpenampilan gembel.

"Kau sudah boleh pulang. Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu." Bagian mengantarnya pulang memang hoki untuk Sakura. Tapi bagian alamatnya sama sekali bukan hoki. Dia tak punya tempat tinggal. Sialan. Dia jadi ingat jika dia juga tak punya pekerjaan dan uang. Kepala Sakura Mulai sakit.

"Hei..." Panggil pria itu lagi.

"Ah a... ya, aku mau minta kompensasi." Ucap Sakura spontan saat di otaknya memikirkan manfaat dari kecelakaan ini. Lagi pula kakinya yang nyeri tak akan sembuh dalam dua tiga hari.

"Kompensasi?" Pria itu mengernyit dengan tampannya. Sakura berdecak melihat wajah bingung seseorang bisa terlihat sangat unyu.

"Ya. Kau tahu aku tak akan bisa bekerja selama tiga hari. Dan aku pasti di pecat. Jadi, kau harus memberiku pekerjaan."

"Aku bisa bicara dengan pemilik tempat kerjamu."

"Tidak. Tidak. Aku juga tak begitu menyukai pekerjaan itu. Beri saja aku pekerjaan yang ada tempat tinggalnya." Dan Sakura mengusap wajahnya kasar menyadari ucapan bodohnya sementara pria itu terkekeh. Dan sialan, terlihat tampan.

Dan begitulah. Pria itu setuju memberinya pekerjaan yang memiliki tempat tinggal. Setelah mengambil barang Sakura yang di titipkan di tetangga kontrakan sebelumnya pria itu membawa Sakura ke sebuah rumah minimalis.

"Pengurus rumah sebelumnya mengundurkan diri karna sudah terlalu tua. Hanya ini pekerjaan yang menyediakan tempat tinggal yang ku tahu saat ini. Kau tidak keberatan?" Tanya pria itu seraya membuka pintu dan membawa Sakura ke salah satu kamar.

"Tak masalah. Ini rumahmu?"

"Ya, ah aku Uchiha Sasuke. Lakukan apa yang perlu kau lakukan, sekarang kau yang bertanggungjawab atas rumah ini."

Sayangnya Sakura mulai menyesali keputusannya menerima pekerjaan sebagai pengurus rumah tangga ini. Demi tuhan dia tak pernah menghasilkan masakan yang layak. Dan sekarang, bahkan ketika dapur yang semula sangat rapi dan bersih sudah berubah selayaknya gang sempit dengan tumpukan sampah. Klontang. Sakura mengerang saat tak sengaja menjatuhkan alat penggorengan.

"Ck. Ini memang aku." Gerutu Sakura kesal seraya berbalik. Dia terkejut setengah mati saat melihat Sasuke bersandar di pintu dengan wajah ngantuknya.

"Se..jak kapan?" Cicit Sakura. Apa dia akan di pecat di hari pertama?

"Ah ini pertama kalinya aku melihat pemandangan berbeda." Gumam Sasuke sembari bergerak membereskan semua kekacauan yang Sakura buat satu persatu.

Begitulah. Akhirnya justru Sasuke yang memasak sarapan dan membereskan dapur. Sakura hanya bisa memberi bantuan ala kadarnya. Jangan di tanya bagaimana wajah dan perasaan Sakura. Karna dia sangat ingin masuk ke lubang apapun yang bisa menyembunyikannya.

Saat Sasuke tak ada, Sakura berusaha melakukan pekerjaannya dengan pelan dan hati-hati. Hasilnya, membutuhkan waktu seharian baginya menyelesaikan acara bersi-bersih. Sakura selonjoran di lantai mengistirahatkan tubuhnya.

"Hah, hidup ini sangat sulit. Kenapa harus ada rumah dan piring dan masak dan... semuanya. Itu sangat merepotkan." Gerutu Sakura.

Kepala gadis itu menengadah ke langit-langit, sebenarnya yang bermasalah itu dirinya. Sakura tahu. Tapi dia tak mengerti kenapa dia selalu kesulitan melakukan sesuatu. Harusnya tak ada yang salah. Anggota tubuhnya lengkap dan dia sehat.

"Apa kau baru selesai?" Sakura menoleh dan mendapati Sasuke sedang melonggarkan dasinya selagi menuju kamar pria itu. Oh, Sakura sangat menyukai bagian ini. Menikmati pemandangan yang menakjubkan.

"Aa." Jawaban Sakura membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu sejenak.

"Oke, jangan sentuh dapur. Aku yang akan memasak makan malam." Pesannya sebelum masuk ke kamar.

Sakura mencebik. Ya ya dia memang sangat tidak bisa di andalkan. Dan apa sekarang dia sedang di lecehkan? Sakura tak peduli. Dia cepat berdiri, tubuhnya sangat lengket. Selesai membersihkan diri Sakura melangkah ke dapur. Pria itu sudah menyelesaikan pekerjaannya. Yeah, sangat cepat.

"Kemarilah." Sakura duduk di hadapan Sasuke. Mereka menyantap makan malam dalam diam.

"Apa pekerjaanmu sebelum ini?" Tanya Sasuke saat selesai mencuci piring.

"Kenapa bertanya?"

"Hanya ingun tahu. Mungkin aku bisa memiliki petunjuk kenapa kau payah dalam mengurus rumah." Sakura berdecak melihat seringai Sasuke.

"Kau cukup tahu jika aku payah saja. Tak perlu yang lainnya." Ketus Sakura.

"Kau memperlakukan orang yang menggajimu seperti ini?" Lagi-lagi Sakura mencibir ucapan Sasuke. Lalu haruskah dia minta maaf dan menangis? Itu sangat bukan Sakura. "Kau tak khawatir aku akan memecatmu?"

"Ck, ini memang bukan keahlianku." Erang Sakura jengkel. Sakura membalas tatapan Sasuke padanya. Pria itu bersidekap dengan gaya yang menggoda di mata Sakura.

"Oke." Ujar Sasuke lamat-lamat. "Lalu apa keahlianmu?" Mendengar pertanyaan Sasuke membuat Sakura menyeringai senang.

"Keahlianku itu seperti ini." Sakura mendekati Sasuke. Setelah menjilat bibirnya Sakura mengalungkan tangannya ke leher Sasuke. "Aku juga bisa menjadi good girl." Bisik Sakura seraya mengecup sekilas bibir majikannya. Sasuke hanya diam sembari mengangkat alisnya.

Dengan keyakinan tak akan di tolak, Sakura mencium Sasuke. Mengeksplor mulut pria itu. Dia tak peduli jika Sasuke hanya diam menerimanya tanpa melakukan apapun. Yang Sakura tahu, dia begitu tergoda dengan ini sejak kemarin.

Tangan Sakura menyusuri lengan panjang Sasuke yang di lapisi kain. Sungguh dia menginginkam pria yang terlihat erotis di matanya meski tak melakukan apapun. Jilatan Sakura turun ke leher dan dada Sasuke. Sementara tangannya sudah menyusup ke balik celana pria itu.

Geraman Sasuke masuk ke pendengaran Sakura saat gadis itu menjilati putingnya. Sakura sangat menyukai suara seksi pria ini. Sakura ingin mendengarnya lagi dan lagi. Tangannya yang berada di dalam celana Sasuke meremas benda sakral yang mulaintegang itu.

"Ck. Ukuranmu sangat menggoda." Desis Sakura kembali menempelkan bibirnya di bibir Sasuke. Sebelum akhirnya berjongkok di depan pria itu.

"Kau nakal Sakura." Geram Sasuke dengan suara seraknya. Sakura hanya terkekeh kecil. Dia akan melakukannya. Membuat Sasuke menggeramkan namanya.

Sakura menjilat ujung milik Sasuke sebelum memasukkan benda itu ke mulutnya. Begitu besar dan panjang, membuat Sakura ingin memasukkan ke lubanh lain di tubuhnya. Tangan Sasuke mencengkeram kepalanya. Memaksanya bergerak lebih cepat mengoral milik pria itu.

"Kau sangat pintar Sakura." Desis Sasuke penuh kenikmatan. Sakura ingin menyeringai senang mendengar itu, sayangnya mulutnya sama sekali tak sempat melakukannya. Terlalu sibuk. Setidaknya hingga Sasuke menggeram keras dan kemaluannya berdenyut hebat di mulutnya. Menumpahkan semua muatannya hingga tertelan.

Sakura mengancingkan lagi celana Sasuke. Pria itu sedang menyandarkan tubuhnya dan menenangkan nafasnya. Dengan lembut Sakura mengecup bibir Sasuke sekilas. Sasuke menatapnya dengan Kabut gairah yang masih ada. Bahkan bisa di bilang makin menebal.

"Sekarang aku tahu keahlianmu gadis nakal." Ucap Sasuke seraya menarik pinggang Sakura agar tubuh gadis itu menempel padanya.

"Jadi, kau tak akan memecatku?" Goda Sakura. Ujung jarinya bergerak membuat pola abstrak di dada Sasuke.

"Tetap saja kau merugikan Sakura." Sasuke membawa mereka ke sofa ruang tengah.

"Jadi?" Tanya Sakura yang kini duduk di pangkuan Sasuke.

"Aku akan mengganti pekerjaanmu." Tubuh Sakura meremang merasakan tangan Sasuke bergerilya di sana.

"Seperti?" Suara Sakura sudah mulai berubah menjadi desahan saat sebelah tangan Sasuke berada di dadanya.

"Membuka kakimu untukku." Sakura terkekeh. Terserah jika orang menganggapnya murahan. Sakura memang murahan untuk pria ini. Dia sama sekali tak bisa menolak hasratnya untuk merasakan pria ini di dalamnya. Sakura berdiri lalu kembali duduk di pangkuan Sasuke dengan posisi ke dua kakinya berada di samping tubuh pria itu.

"Seperti ini?" Goda Sakura dengan sedikit menggesekkan pinggulnya.

"Hm. Sesekali menungging atau berdiri atau..." Sakura meletakkan telunjuk jarinya di bibir Sasuke.

"Aku bisa melakukan apapun yang kau pikirkan." Ucap Sakura dengan senyum nakal.

Sasuke terkekeh. Dan Sakura sangat suka saat kekehan itu di barengi gerakan Sasuke yang meremas dadanya. Sakura merasa bisa orgasme kapan saja. Sentuhan Sasuke terlalu menggodanya. Membuatnya tak bisa berhenti berkedut.

"Telanjanglah untukku Sakura." Bisik Sasuke di bibirnya.

"Aku lebih suka kau yang menelanjangiku." Balas Sakura dengan wajah merah penuh hasrat. Dadanya membusung mengharapkan remasan jemari Sasuke. Dan tentu saja dia mendapatkannya. Sasuke melakukannya dengan sangat memikat. Sakura merasa melayang.

Satu persatu pakaian yang mereka kenakan jatuh ke lantai. Sekarang baik Sakura maupun Sasuke nyaris telanjang. Sasuke menjilat dan menghisapi puting Sakura. Erangan Sakura memenuhi ruang tengah. Gadis itu tak hanya mengerang. Tangannya bergerak dengan nakal di milik Sasuke.

"Sudah ada yang pernah ke sini?" Tanya Sasuke dengan suara seraknya saat tangan pria itu bergerak tak beraturan di milik Sakura yang masih di lapisi celana dalam.

"Oooooh tentu saja." Erang Sakura. Kedutan di pusat dirinya semakin menggila saat Sasuke bermain-main seperti itu.

"Siapa? Berapa kali?" Kali ini Sasuke melepaskan celana dalam Sakura. Jarinya berputar tak beraturan di permukaan kemaluan Sakura. Sedikit menekan namun tak sampai masuk.

"Pacarku dulu. Beberapa kali." Nafas Sakura memburu. Dia merasa semakin dekat dengan klimaksnya.

"Berapa banyak pacarmu? Berapa kali di masuki?"

"Kau cerewet. Cepat masuk saja. Seperti kau tak pernah memasuki vagina gadis lain saja." Ketus Sakura tak sabaran. Sasuke terkekeh lalu memasukkan satu jarinya hingga tiga jarinya ke milik Sakura. Gadis itu mengerang, melengkungkan tubuhnya meminta lebih.

"Sepertinya kau sangat ingin bercinta denganku." Ucap Sasuke sembari memasukkan kejantanannya ke dalam Sakura.

"Aaaaah haaaah. Ghost, kau nikmat Sasuke."

"Itu memang aku. Jadi, kau sangat ingin bercinta denganku?" Sasuke memaju mundurkan pinggulnya dengan pelan.

"Haah haah tentu saja. Jika bisa ku potong milikmu dan membiarkannya di dalamku selamanya." racau Sakura.

"Uh kau sangat mengerikan Sakura." Sasuke menarik keluar miliknya dan menghentakkan masuk dengan kuat. Itu di lakukan beberapa kali membuat Sakura menggelinjang nikmat.

"Ooh Sasu aku keluaaaaar hah hah." Wajah Sakura merah padam menikmati orgasme pertamanya.

"Aku belum Sakura." Sasuke membalik tubuh Sakura. Membuat gadis itu menungging dan memasukinya lagi. Kali ini Sasuke menghentak Sakura dengan cepat dan kuat. Tubuhnya sedikit menunduk demi menggenggam kedua payudara gadis itu yang menggantung indah.

"Oh oooh Sasu..." Rintih Sakura. Miliknya terasa nikmat di hentak Sasuke. Di tambah remasan di kedua payudaranya. Sasuke benar-benar membuatnya melayang.

"Kau suka ini?" Sasuke melambatkan temponya membuat Sakura mengerang frustasi.

"Hm. Lebih cepat."

"Seperti ini?" Sasuke kembali menghentaki Sakura dengan cepat hingga gadis itu mengerang. Tak lama kemudian mereka mengerang panjang bersamaan menikmati klimaks yang datang bersamaan.

"Oooh." Pekik Sakura ketika Sasuke menjilati miliknya. Lagi-lagi Sakura mengerang merasakan nikmat lidah Sasuke.

"Gadis nakal, waktunya masuk lagi." Ucap Sasuke. Dan pria itu langsung melebarkan kaki Sakura yang terlentang lemas di lantai.

"Aaaaahh ooooh Sasukeeeee." Kini lubangnya sudah kembali di hentaki Sasuke. Meski lemas dan lelah nyatanya Sakura menyukai ini. Sasuke di dalamnya. Selamat bersenang-senang.

End...