Disclaimer: I don't own Naruto.

Warning: AU. OOC di beberapa(atau mungkin banyak) bagian. Setidaknya sampai Shikamaru dirasa tak perlu menjaga wibawanya lagi.

-x-

-x-

-x-x-x-

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Bulan Di Negeri Pasir

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

-x-x-x-

-x-

-x-

"Tak ada pilihan lain, Minato. Kita harus menahan diri untuk sementara."

Minato menyahut pernyataan Tsunade barusan dengan sebuah persetujuan singkat, "Aku mengerti."

"Situasi saat ini terlalu rawan, Nyonya Tsunade," suara Naruto terdengar ikut ambil bagian, "Kami mengerti itu."

"Bagaimana dengan semua persiapan yang sudah terlanjur berjalan?" tanya Tsunade.

"Sejauh ini tidak ada kendala untuk menarik balik semua persiapan," jawab Sai, "Menunda semua rencana dan menunggu keadaan terbaca adalah keputusan terbaik saat ini."

Tsunade mengangguk sekali.

Ruangan itu adalah ruangan yang sama. Ruangan tak berpintu, tak berjendela, dan tak bercelah yang kini dihuni empat orang manusia. Tsunade sebagai Iblis Pasir tengah berdiskusi dengan penyandang dana Pasir Bulan, yakni kelompok Namikaze. Minato datang hari itu bersama putra tunggalnya, Naruto, dan tangan kanan kepercayaannya, Sai, untuk membahas semua rencana pergerakan Pasir Bulan yang terpaksa dibekukan sementara menyusul kedatangan tiba-tiba Shikamaru ke Suna.

"Aku tidak habis pikir," kata Minato, "Apa yang dilakukan seorang pangeran di tengah pesta dansa Senju?"

"Entahlah," sahut Tsunade.

"Tapi sejauh ini tidak ada tanda-tanda bahwa pangeran mulai mencurigai kita, bukan?" tanya Naruto.

Tsunade menggeleng.

Sai berpendapat, "Sampai tujuannya jelas dan situasi militer Suna terbaca dengan baik, kita tidak bisa berbuat apa-apa."

Kelompok Namikaze merupakan kelompok industrialis yang bisa dibilang merupakan orang-orang pelarian dari Konoha. Mereka meninggalkan negara adidaya itu karena tidak sepaham dengan kepemimpinan Uchiha yang saat ini berkuasa. Satu tindakan gegabah di saat seperti ini bisa membuat mereka berakhir di tiang gantung. Atau teknik yang paling baru di awal abad ini, kursi listrik.

Naruto kembali buka suara, "Bagaimana dengan Temari? Tidakkah dia kecewa dengan semua pembatalan ini?"

Tsunade menjawab, "Tentu saja dia kecewa. Tapi mau bagaimana lagi?"

Sekilas Minato tampak melirik arloji di pergelangan tangannya. "Baiklah. Kalau tidak ada lagi yang bisa kita bahas, kami harus pergi sekarang. Pertemuan bisnis dengan gubernur baru Suna dimulai beberapa jam lagi. Kali ini aku tidak bisa berkelit."

"Dan sebaiknya kau jangan berkelit," timpal Tsunade, "Ketidakhadiranmu dalam acara pelantikan Nara Shikamaru dua hari lalu itu sudah cukup memberikan kesan tidak baik. Cobalah bersikap sewajarnya, Minato."

Minato hanya mengangguk. Bersamaan dengan itu Naruto, Sai dan Tsunade lantas berdiri untuk segera meninggalkan ruangan.

Satu-satunya jalan keluar-masuk ruangan itu berada di bawah kursi yang selalu diduduki Tsunade sebagai pemimpin Pasir Bulan. Kursi tersebut terpatri pada lantai. Sehingga ketika digeser, sebidang lantai dibawahnya ikut bergeming. Kemudian tampaklah sebuah tangga turun yang bersambung ke percabangan lorong bawah tanah. Minato, Naruto, dan Sai berbelok ke lorong kiri yang ujungnya berakhir di sebuah pondok kayu di luar bangunan Senju. Dari pondok kayu itulah selama ini orang-orang tertentu memperoleh jalan untuk melakukan pertemuan rahasia dengan Iblis Pasir.

Sementara Minato berbelok ke kiri, Tsunade berbelok ke arah kanan. Lorong yang dipilihnya jauh lebih pendek. Setelah dua kali menikung, Tsunade sampai pada sebuah pintu rahasia di balik cermin yang tergantung di kamar mandi ruangan kepala sekolah Senju.

Orang pertama yang didapati Tsunade ketika kembali ke ruangannya adalah Kurenai. Wakil kepala sekolah Senju itu tampak sedang duduk sambil memainkan dua bilah belati dengan tangan kanannya. Percaya tidak percaya, Kurenai bisa menyembunyikan dua belas bilah pisau belati di balik baju yang sehari-hari ia pakai. Jangan tanya bagaimana caranya. Tidak ada satupun anggota Pasir Bulan yang bisa memainkan pisau semahir Kurenai.

Selain Kurenai, satu lagi pentolan Pasir Bulan yang bisa ditemui berkeliaran di dalam kawasan Senju adalah Sasori. Ia menutupi pergerakannya di malam hari dengan bekerja sebagai tukang kebun disana. Malang bagi pemuda berambut merah itu, karena tahun demi tahun dilewatinya dengan menjadi sasaran main mata para siswi Senju yang lemah iman.

"Kurenai, tolong panggilkan Temari sekarang," perintah Tsunade.

Yang diminta tidak terdengar mengiyakan. Hanya tampak mengangguk sebelum melesat keluar mencari si gadis berambut pirang.

-x-

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

-x-

Temari mengekor di belakang Kurenai. Melewati koridor demi koridor yang menghubungkan sayap kanan Senju dengan ruangan kepala sekolah. Sebuah kipas masih terpegang di tangannya usai mengisi kelas kepribadian para siswi tahun pertama yang nyaris kosong karena Shizune berhalangan hadir.

Pintu ruangan Tsunade hanya sempat terbuka selama beberapa detik sebelum Kurenai kembali memastikannya terkunci rapat. Sakura dan Ino terlihat memajang seuntai senyum yang entah apa maksudnya begitu melihat Temari memasuki ruangan itu. Namun sepertinya Temari sudah mulai kebal. Sejak 'insiden' di malam pesta dansa seminggu lalu, seisi Senju kompak melirik kearahnya dengan tatapan semacam itu. Menggodanya dengan berbagai pertanyaan yang Temari tak pernah mau tahu apa jawabannya.

Bagaimana rasanya berdansa dengan pangeran? Apa saja yang kalian bicarakan? Bagaimana perasaanmu saat itu? Apa tangannya hangat? Apa bahunya tegap? Apa kau deg-degan?

Well, siapa peduli?

"Anda memanggil saya, Nyonya?" tanya Temari pada Tsunade.

"Iya," jawab Tsunade singkat sambil menyodorkan sesuatu ke meja di hadapan Temari. Sang murid menatap benda itu untuk beberapa lama. Selembar kertas berbentuk segi empat seukuran kartu pos dengan warna merah hati dan lambang Konoha yang tercetak diatasnya plus seutas pita biru tua yang menyilang di salah satu sudut.

Temari menatap balik ke arah Tsunade dengan pandangan tak mengerti.

Tsunade masih duduk santai sambil bersandar di punggung kursinya ketika ia menjawab, "Itu undangan khusus untukmu. Ditandatangani sendiri oleh gubernur Suna yang baru."

Temari masih diam tak mengerti.

Tsunade meneruskan, "Pangeran Shikamaru yang saat ini juga merupakan Gubernur Suna mengundangmu secara khusus ke istana gubernur untuk makan malam—" sebuah jeda diambil Tsunade sebelum mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya dengan penuh penekanan, "—berdua."

Kali ini Temari terhenyak penuh tanya. "A-apa?"

"Sejujurnya, Temari," Tsunade berkata, "Aku juga belum tahu apa maksud Shikamaru melakukan semua ini. Kemungkinan besar dia ingin kau bekerja untuknya. Sebuah pekerjaan rahasia, mungkin."

"Dan anda ingin saya datang memenuhi undangan itu?"

"Harus," jawab Tsunade, "Aku sudah membahasnya dengan Minato. Apapun yang saat ini direncanakan Shikamaru, kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti permainannya. Siapa tahu kita justru berkesempatan menyusupkanmu ke dalam rencananya itu."

"Anda ingin saya membunuhnya?" entah Temari sedang bertanya atau berharap.

"Jangan."

"Kenapa?"

"Karena itu sama saja bunuh diri," suara Kurenai terdengar menjawab, masih sambil memainkan pisau ditangannya, "Setelah kematian Aburame Shino, Kaisar Itachi tidak akan ragu lagi membumihanguskan Suna atau meratakan seluruh negeri pasir dalam puing-puing jika seseorang sampai berani macam-macam dengan nyawa adik bungsunya."

"Separah itukah?" Temari menyambung, "Bukankah dia tidak memiliki hubungan darah dengan Kaisar Itachi? Kenapa nyawanya bisa dihargai semahal itu?"

Tsunade bangkit dari duduknya, kemudian memutari setengah badan meja untuk mengambil posisi persis berhadapan dengan Temari. "Dengarkan aku baik-baik, Temari," ujarnya, "Kita tidak sedang berurusan dengan seseorang yang terlahir sebagai pangeran karena dia beruntung. Kita sedang berurusan dengan seseorang yang menjadi pangeran karena dia pantas."

Seisi ruangan itu diam dalam hening ketika Tsunade bercerita, "Shikamaru memang terlahir dalam sebuah keluarga bangsawan, tapi bukan sebagai pangeran. Ayahnya, Nara Shikaku, merupakan jenderal besar Konoha yang berhasil menaklukkan Kiri dan Taki atas nama Kaisar Fugaku. Ia meninggal dalam penyerangan Konoha ke Iwa usai menyelamatkan nyawa mendiang kaisar. Atas semua jasanya Fugaku kemudian menobatkan Shikamaru sebagai pangeran. Itulah kenapa Konoha bisa memiliki tiga orang pangeran sementara Fugaku hanya memiliki dua orang putra, Itachi dan Sasuke. Masalahnya, Shikamaru mewarisi semua kemampuan Shikaku dalam pertempuran. Usianya baru sembilan belas tahun ketika memimpin pasukan Konoha dan menundukkan daratan Oto. Tahun lalu dia juga membabat habis pertahanan semenanjung Ame. Dan sekarang, Kaisar Itachi memerintahkannya secara langsung untuk melumpuhkan kita. Ini bukan berita baik, Temari."

Lalu Ino berusaha ikut memberikan pengertian, "Itulah kenapa seisi Senju yang biasanya mengacuhkanmu sebagai pribumi tiba-tiba memberondongkan perhatian berlebih seminggu ini. Lelaki yang waktu itu meletakkan tangannya di pinggangmu semalaman bukanlah orang biasa."

"Suatu saat nanti kita mungkin memang harus membunuhnya," kata Kurenai, "Tapi tidak sekarang."

Sakura ikut melibatkan diri. Gadis itu menghampiri Temari sambil memegang dua buah kotak ditangannya, "Kotak ini isinya baju dan sepatu. Pangeran mengirimkannya bersama undangan untukmu."

"Ino dan Sakura akan membantumu bersiap-siap," Tsunade meneruskan, "Supir istana menjemputmu pukul empat sore. Bersikaplah sebaik yang kau bisa. Jika memungkinkan, cobalah untuk menangkap jalan pikirannya ketika ia bicara."

Mudah bagi mereka untuk bicara, mudah bagi mereka untuk meminta. Tapi jelas sangat sulit bagi Temari untuk menahan dirinya dari keinginan memenggal kepala sang gubernur baru malam nanti.

-x-

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

-x-

Shikamaru berdiri dalam keheningan di satu titik koridor utama istana gubernur Suna. Kedua tangannya terkait di belakang sementara kedua matanya mengamati sebuah lukisan cat minyak diatas kanvas yang tergantung persis dihadapannya sekarang. Sebuah lukisan yang menorehkan gambaran sehampar oase di tengah gurun dengan sebentuk bulan purnama yang berpendar menyinarinya. Tercetak dalam huruf latin pada sebidang plakat kaca di bawah lukisan itu tulisan yang berbunyi 'Bulan Di Negeri Pasir, Kanaya Temari'.

Selengkung senyum penuh makna terpajang di wajah Shikamaru. Dirunutnya kembali dengan optimisme bulat tujuan besarnya datang ke Suna, yang tak lain dan tak bukan adalah mematahkan pemberontakan Pasir Bulan.

Cara kekerasan yang ditempuh Gubernur Aburame Shino untuk melawan pemberontakan telah terbukti tidak efektif. Kenyataannya Shino justru ditemukan tewas dengan badan teronggok di dekat singgasana sementara kepalanya menggelinding turun menyusuri tangga. Maka sadarlah Shikamaru bahwa ia harus memakai cara lain yang lebih halus dan tidak memakan terlalu banyak korban jiwa. Ia pun teringat pada teori lama yang diterapkan Fugaku Uchiha ketika menaklukkan Iwa sekian tahun lalu.

Pada dasarnya sebuah pemberontakan terlahir di tengah-tengah rakyat. Mereka berjuang dan mengakar karena memiliki dukungan rakyat. Maka hal pertama yang harus dilakukan Shikamaru adalah menarik dukungan rakyat dari mereka. Tapi bagaimana caranya? Menyamaratakan hak antara warga pribumi dan warga Konoha? Tidak mungkin. Itu terlalu dekat dengan kemerdekaan. Yang paling mungkin adalah, Shikamaru harus mencari sosok yang mampu menarik simpati rakyat dan memberi mereka harapan kosong tentang persamaan derajat dan kehidupan yang lebih baik.

Seorang istri. Atau lebih tepatnya, seorang istri boneka.

Masalahnya, jika Shikamaru mengutarakan niatnya utnuk naik ke pelaminan maka besar kemungkinan dewan penasehat Kekaisaran Konoha akan memaksanya menikah dengan seorang putri, dara bangsawan atau siapapun yang memiliki darah biru ditubuhnya. Padahal yang dibutuhkan Shikamaru saat ini bukanlah perempuan yang derajat keningratannya seimbang, melainkan perempuan yang cukup pantas untuk dijadikan pajangan bagi seisi Suna. Perempuan dari kalangan teraniaya yang bisa dimintanya tampil sesering mungkin di depan umum dalam sebuah aksi sosial atau bahkan menghabiskan waktunya semalaman di tenda-tenda pengungsian demi menghibur seorang anak kecil yang kehilangan tangan atau kakinya karena perang. Shikamaru tidak butuh seorang putri dengan latar belakang diatas awang-awang. Ia justru membutuhkan seorang gadis biasa yang bisa tunduk dan patuh di telapak kakinya serta menjadi figur dambaan bagi rakyat di saat yang sama.

'Kanaya Temari adalah pilihan sempurna,' batin Shikamaru, 'Dia hanyalah gadis pribumi biasa yang kehilangan seluruh keluarganya dalam perang. Kemuliaan perangainya akan membuat dia dipuja bagai dewi. Sementara kecantikan fisik dan semua bakatnya akan membungkam mulut dewan penasehat dan seisi Konoha.'

Itulah alasan Shikamaru menyambangi Senju tempo hari. Dia datang untuk mencari sosok yang bisa mencuri hati kaum terjajah. Begitu Pasir Bulan kehilangan dukungan, Shikamaru tinggal mengeroposi mereka lewat celah pengkhianatan. Pada saatnya nanti Shikamaru yakin Pasir Bulan akan runtuh tanpa harus melakukan pembantaian masal.

'tap-tap-tap'

Suara derap langkah yang teratur memaksa Shikamaru untuk menggerakkan lehernya. Derap langkah tersebut terhenti ketika Iruka, sang kepala urusan rumah tangga istana datang bersama seseorang yang mengikutinya di belakang.

"Selamat malam, Yang Mulia," Iruka tampak menghormat sebelum menarik sepijak kaki ke samping guna memperlihatkan sosok yang berdiri dibelakangnya, "Nona Kanaya Temari sudah tiba."

"Selamat malam, Yang Mulia," sapa Temari dalam satu gerakan penghormatan yang dilakukannya. Ia nyaris tak berani menatap balik mata sang pangeran ketika disadarinya Shikamaru tengah mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sapuan make-tipis di wajahnya tampak serasi dengan rambutnya yang disanggul menyamping dan dilingkari hiasan bermotif daun mawar diatas kepalanya. Sementara gaun tanpa lengan sepanjang lutut yang ia kenakan sempat membuat pandangan Shikamaru tak mau beralih dari kedua belah kaki jenjang yang terpampang menggiurkan dihadapannya.

"Selamat malam," balas Shikamaru diiringi senyuman singkat lalu menoleh ke arah Iruka, "Kau boleh pergi, Iruka."

Lelaki yang kesehariannya mengurus urusan protokoler istana gubernur itu sudah membungkuk dan berlalu sewaktu Shikamaru mengulurkan tangannya kepada Temari. "Kemarilah."

Temari menurut. Jemarinya serasa lemas begitu tangan hangat Shikamaru menggandengnya ke hadapan lukisan Bulan Di Negeri Pasir.

Lemas kenapa?

"Kau suka bulan, Temari?" tanya Shikamaru dalam nada akrab yang membuat tengkuk Sabaku muda meremang risih seketika.

"Iya, Yang Mulia," tambah Temari tanpa mempedulikan emosinya yang bergolak panas dingin, "Bulan di langit Suna adalah yang paling indah. Keadaan udara yang kering membuat awan malam jarang sekali menutupi kecantikannya."

"Secantik dirimu," Shikamaru tak lagi menahan lidahnya, "Saat kuminta Iruka memilihkan satu gaun untukmu, aku sama sekali tidak mengira bahwa dia akan memilih gaun yang akan membuatku tidak bisa tidur semalaman nanti."

Sepasang kaki yang terbuka memang selalu jadi bencana.

Sedikit lancang, memang. Tapi Temari tak mungkin tahan lagi jika dia tidak segera mengalihkan pembicaraan, "Ini mungkin agak terlambat, tapi saya ucapkan selamat atas pelantikan Yang Mulia tempo hari."

"Terima kasih, Temari," sahut Shikamaru sambil menggandeng Temari berjalan menuju meja makan malam mereka.

Beberapa lama dihabiskan keduanya dalam deretan langkah yang dalam hati disebut Temari sebagai langkah siput. Pelan dan membosankan. Hingga sampailah mereka pada sebuah balkon di sayap timur istana. Luas balkon itu sekiranya cukup untuk menampung dua puluh orang, namun saat ini hanya diisi dengan sebuah meja dan dua buah kursi yang berhadapan. Bersamaan dengan langkah pertama Temari di lantai balkon itu, sekelompok pemain musik di sudut balkon mulai memainkan lagu pertama mereka. Satu gerakan menengadah ke langit menyadarkan Temari bahwa malam ini adalah malam bulan purnama. Hanya sesaat sebelum mengucapkan terima kasih kepada Shikamaru yang menarikkan kursi untuknya, pandangan Temari melayap ke sekeliling balkon yang dipercantik sekian banyak jenis bunga. Mulai dari mawar, anggrek, hingga anyelir yang semuanya tidak mungkin bisa tumbuh di daratan Suna.

Diluar dugaan, Shikamaru tahu benar isi pikiran Temari. Katanya, "Aku menyukai semua hal tentang tanah kelahiranmu, Temari. Tapi kurasa meletakkan sebatang kaktus di atas meja makan bukanlah hal yang menarik."

Tawa halus Temari terdengar bagai pujian.

Sebenarnya, di Suna hampir mustahil menggelar makan malam di sebuah balkon terbuka. Mengingat hembusan garang angin malam dan udara dingin yang menusuk selalu mengiringi terbenamnya matahari. Tapi istana ini adalah sebuah pengecualian. Tembok beton setinggi puluhan kaki memastikan makan malam yang digagas Shikamaru takkan terganggu dan Temari tetap bisa memuja rembulan kebanggaannya.

"Bagaimana perjalananmu kemari?" tanya Shikamaru ditengah prosesi menyantap hidangan yang mulai disajikan, "Senju sangat jauh dari sini. Butuh berjam-jam untuk sampai."

"Perjalanannya baik-baik saja, Yang Mulia. Terima kasih."

"Setelah ini kau kembali ke Senju atau ke rumah nenekmu di ibukota?"

Temari membatin dalam hati, 'Dari mana dia tahu kalau aku punya seorang nenek yang tinggal di ibukota?'

Shikamaru melanjutkan pertanyaannya, "Karena beberapa waktu lalu sudah diadakan pesta dansa, semestinya ini sudah penghujung tahun terakhirmu, bukan?"

"Masih ada tiga minggu sebelum kelulusan, Yang Mulia. Saya harus kembali ke Senju."

"Baiklah kalau begitu. Biar nanti kuminta beberapa orang untuk mengawalmu pulang. Hari sudah malam. Mungkin kau baru akan sampai disana dini hari nanti."

"Anda begitu baik, Yang Mulia. Tapi saya yakin akan baik-baik saja tanpa pengawal."

"Kau tidak takut pada Pasir Bulan?" Shikamaru bertanya, "Mereka selalu beraksi pada malam hari."

Pertanyaan semacam ini jelas tidak mudah dijawab oleh Temari. Menunduknya gadis itu diartikan Shikamaru sebagai ketidaktahuan. "Kau belum pernah melihat Pasir Bulan?"

Waktunya berbohong, Temari. "Belum, Yang Mulia" jawab si gadis.

"Kebanyakan perempuan mungkin tak tertarik pada hal ini," lanjut sang pangeran, "Tapi tidak ada salahnya kau tahu. Pasir Bulan itu sangat mudah dikenali. Mereka bergerak di malam hari dan selalu memakai topeng putih serta dengan sengaja meninggalkan ceceran pasir di tempat mereka beraksi. Pemimpinnya, Iblis Pasir, memakai pita merah panjang yang diikatkan di lengan kanan atasnya."

Sekali lagi Temari membatin, "Setelah ini akan kuminta Nyonya Tsunade mencekik lehermu dengan pita itu."

Usai deretan pola gilir pembicaraan dan basa-basi panjang yang melelahkan, Shikamaru dan Temari menyelesaikan hidangan makan malam mereka. Hanya beberapa saat sebelum Temari berkesempatan untuk meminta diri, Shikamaru berinisiatif dengan berdiri dari kursinya dan sekali lagi mengulurkan tangannya pada si gadis pirang.

"Apa kau mau berdansa sekali lagi denganku?" pintanya, "Disini, dibawah sinar rembulan kebanggaanmu?"

Sungguh, Temari tidak berharap banyak. Tidak sama sekali. Dia hanya berharap bisa segera pergi sebelum kewarasan dan akal sehatnya lenyap tak bersisa.

-x-

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

-x-

Penghujung tahun ajaran hampir tiba. Upacara kelulusan resmi akan digelar dua minggu lagi. Sementara vakumnya aktivitas Pasir Bulan membuat Temari tak punya lagi alasan untuk tetap berada di Senju. Maka satu-satunya pilihan yang dimiliki gadis itu adalah menyeret kopornya ke rumah Nenek Chiyo di ibukota.

Alis Temari nyaris bertaut sejak beberapa menit lalu ia menikung di gang sempit yang sering dilaluinya. Tempo langkahnya berubah sesekali menyadari tatapan para tetangga yang memandangnya bagaikan makhluk luar angkasa. Membuat Temari makin bergegas dan nalurinya utnuk mendapatkan penjelasan membulat seketika.

Tak lebih dari sepuluh menit kemudian Temari berakhir mematung disana. Persis di depan pintu rumahnya yang terbuka.

Ruang tamu rumah mungil itu penuh. Bukan, bukan hanya ruang tamu. Seluruh ruangan di rumah itu penuh. Penuh dengan ratusan kotak berbagai ukuran yang tertumpuk di sana-sini. Beberapa diantaranya yang terbuka menampakkan tatanan gaun bersulam emas, biola klasik yang umurnya mungkin sudah dua abad, serta kotak-kotak beludru yang bisa dipastikan apa isinya.

"Nenek, ada apa ini?"

Ketika Temari larut dalam kebingungannya, ketika itulah Chiyo muncul dengan raut wajah yang hampir tak bisa diuraikan seorang manusia. Air matanya meleleh, pandangannya yang sudah mulai kabur tertuju ke arah Temari sembari menghampiri cucunya itu dan menyerahkan sebuah benda yang baru saja ia terima ditangannya.

Temari menerima benda itu dalam sebuah tanda tanya besar. Sebuah benda yang bisa digambarkan sebagai setangkup kertas tebal bertekstur rumit berwarna biru tua. Semacam map dengan lambang Konoha yang tercetak dalam warna emas di bagian depannya. Dan ketika tangkupan kertas itu dibuka, tampaklah beberapa baris kalimat dan belasan tanda tangan serta stempel kekaisaran yang mengikutinya. Dua belas tanda tangan anggota dewan penasehat berjajar rapi, dikepalai oleh sebuah tanda tangan yang tak lain dan tak bukan adalah tanda tangan Kaisar Konoha, Uchiha Itachi.

Kedua tangan Temari sontak membeku. Matanya tak mampu lagi menjalankan perintah dari otak gadis itu untuk membaca seluruh tulisan yang dipandanginya dalam kosong dan keterkejutan tiada tara. Wajah Temari kontak memucat putih sementara sekujur tubuhnya mendadak mati rasa ketika Chiyo tiba-tiba memeluknya ditengah air mata yang berurai sambil berkata, "Pangeran Shikamaru mengirimkan lamaran resmi untukmu, Sayang. Nenek sungguh tak percaya. Temari, apa ini mimpi? Apa ini mimpi, Sayang? Jika ini memang mimpi Nenek rela tertidur selamanya, Sayang."

Temari hanya bisa mendengar sampai disini. Pandangannya memudar nanar dengan raut wajah hambar tercekat. Syarafnya serasa buntu, dadanya terserak tapi mulutnya tak bisa berteriak. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Temari merasa betul-betul dibenci oleh seseorang diatas sana.

-x-

-x-

-x-x-x-x-x-x-

TBC

-x-x-x-x-x-x-

-x-

-x-

-x-

a/n: errrgggh, review?