Shout Out:
Yoshikuni kazuko : Makasih yaa buat reviewnya! :D *Toss* Ini, saya tambahin hints RusAme-nya disini. Semoga kamu suka! Tapi maaf, Asakiku-nya gak bisa ditepatin…maaf yaa!
Anzelikha Kyznestov : Makasih coy! :2
Kirisaki hisoka: Makasih yoooo reviewnya! *ikutan ngibarin bendera dengan semangat 45* Lima menit kemudian… *digotong ke RSJ grogol*
xxx Cross D Yukito xxx: Hahaha! Saya setuju! *ngibar bendera lagi* Makasih ya reviewnya! Maaf kalo disini Rusia sama Amerika rada OOC. T.T
Makasih buat yang udah baca dan me-review! Really, I appreciate it.
-On with the story!-
Amerika tertidur dengan lelap. Sungguh, ia tidak pernah tidur sedamai ini sejak melawan Inggris dan mendapatkan kemerdekaan yang telah lama ia impi-impikan. Walaupun ia harus mengorbankan seorang kakak yang baik dan penyayang, dan menerima seorang laki-laki cerewet yang selalu menolak setiap bentuk kata-kata yang terlontar dari mulut Amerika.
Amerika membuka mata perlahan-lahan dan menggeliat dengan perasaan nyaman sampai tangannya menyentuh sesuatu yang terbaring di sampingnya. Ups. Tangan siapa yang melingkari pinggangnya?
Amerika menoleh dengan takut dan menemukan Rusia yang tertidur lelap. Wajahnya yang seperti anak kecil terlihat damai dan tidak peduli. Dadanya naik turun mengikuti irama nafasnya, dan rambut pirang pucat Rusia jatuh menutupi matanya. Amerika, tidak tahan dengan sehelai rambut itu, mengulurkan tangan dan menyingkirkan rambut yang mengganggu pemandangan yang sebenarnya cukup manis itu.
Tapi sayangnya, sesaat setelah Amerika menyentuhkan tangannya ke wajah Rusia, sang pemilik wajah membuka mata dengan pelan, seolah di-slow motion. Kemudian ia menatap wajah Amerika yang terlihat kaget dan tersenyum dengan mengantuk kearah Amerika. Ia menguap dan bangkit dari posisi tidurnya, tangannya masih melingkari pinggang Amerika dengan posesif sebelum akhirnya ia melepas pegangan tangannya untuk memberikan Amerika sebuah kecupan di pipi.
"Dobroe utro, dorogoy. Sepertinya kau sangat segar pagi ini."
Amerika tidak menjawab kalimat Rusia. Ia malah melihat Rusia dengan mata lebar dan ekspresi horror. Sedetik kemudian, ia memegang pipinya. Perutnya terasa geli, seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya dengan sayap mereka yang halus. Tempat bibir Rusia sebelumnya berada terasa panas hingga ia bisa mengetahui bahwa pipinya memerah. Entah karena malu atau marah. Rusia tersenyum semakin lebar dan mendekatkan wajahnya kearah Amerika.
"Apa ada yang salah?" Tanya Rusia dengan innocent.
"Salah?" Kata Amerika, perasaan marah memenuhi pikirannya setelah perasaan aneh yang dirasakannya sewaktu Rusia mencium pipimya. Rusia 'menculik'-nya dengan alasan sangat sederhana, Become one with mother Russia, yang sekaligus sangat absurd. Rusia tidur seranjang dengannya walaupun bukan dalam arti yang lain. Rusia memeluknya hingga pagi datang, Amerika masih mengingat dengan jelas bahwa ia tiba-tiba ambruk di tengah pembicaraan kemarin malam dengan tangan Rusia melingkari pinggangnya. Pastilah Rusia meracuni salah satu hamburger yang kemudian dimakan Amerika. Rusia mencium pipinya pagi ini dan dia bertanya, "Apa ada yang salah?"
"Sangat banyak, commie." Tukas Amerika dengan nada kasar. Amerika dapat melihat dengan jelas bahwa ada yang terluka dari balik mata violet itu, tapi cepat-cepat ditutupi. Amerika merasa sedikit bersalah, tapi berusaha untuk mempertahankan nadanya yang kasar.
"Apa maksudmu melakukan semua ini?"
"Karena…." Mata Rusia tak lagi menatap Amerika. Ia melayangkan matanya ke arah langit-langit dan menelan ludah sebelum akhirnya menjawab.
"Aku..aku sangat kesepian."
"Lalu apa hubungannya denganku?" Tanya Amerika, agak ketus.
"Aku…tak tahu. Aku sedang berpikir tentang betapa aku merindukan saudara-saudaraku yang tinggal terpisah dariku. Dan tiba-tiba kau muncul di tengah jalan. Mulanya aku tak berniat menyapamu. Tapi aku sungguh-sungguh sendiri. Dan aku membutuhkan teman."
"Jadi aku membujukmu ikut denganku, dengan harapan kau akan bersedia menemaniku dengan sukarela. Kau terlihat sangat lelah belakangan ini. Jadi kupikir ini memang kesempatan baik untuk mengenalmu lebih jauh. Mungkin kau tidak tahu…" Kata-kata Rusia terputus.
"Aku tidak tahu apa?" Dorong Amerika.
Wajah Rusia sedikit memerah. Wajahnya betul-betul memerah! Ini momen paling menakjubkan di seluruh hidup Amerika. Untuk melihat sekutunya yang biasanya selalu terlihat datar dan tersenyum sekadarnya ini menunjukkan emosi manusia normal. Otomatis, Amerika bergeser lebih dekat kearah Rusia, ingin mengetahui lebih jauh. Tapi nampaknya Rusia tidak mampu berkata-kata. Ia hanya menatap wajah Amerika, dengan warna pink halus yang masih tertera di pipinya.
"Um.. aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Di setiap rapat. Di setiap peperangan. Aku merasa aneh setiap kali menatap wajahmu. Mungkin… aku suka melihatmu tertawa. Tapi aku tidak tahu apa perasaan aneh itu," Kata Rusia pelan. Kini, giliran Amerika yang terlihat malu.
"Jadi.." Kata Amerika perlahan, "Kau menyukai aku?"
Rusia mengangkat bahu dengan lemah, tanda tak tahu dan tak menyatakan pendapat. Amerika akhirnya bisa melihat lebih jelas wajah Rusia yang sebenarnya. Ia terlihat letih dan lelah. Lingkaran-lingkaran hitam di bawah mata Rusia menjadi saksi bisu betapa sibuknya personifikasi-personifikasi negara dalam perang dunia kedua, termasuk dirinya sendiri. Mata Amerika melembut, dan ia meraih tangan Rusia yang sedikit lebih besar kedalam tangannya sendiri.
"Baiklah. Mungkin kau hanya capek dan butuh istirahat. Tapi aku akan membantumu mencari tahu perasaan yang kau rasakan kepadaku," Kata Amerika. Bukan karena ia peduli atau apa, tapi sekarang, ia sumpah mati penasaran dengan perasaan Rusia.
"Aku akan menemanimu selama seminggu, dan kita lihat apa yang terjadi dalam waktu itu,"
Rusia mengangkat kepalanya dan menatap Amerika. Mata biru langit itu menunjukkan keyakinan dan kepastian, serta determinasi. Perasaan aneh yang sedang mereka bahas, kembali Rusia rasakan. Entah kenapa, jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Rusia tersenyum dan mengenggam tangan Amerika dengan erat, merasakan kehangatan pemuda itu dan menikmati setiap detik ketika tubuh mereka bersentuhan. Amerika juga tersenyum melihat ekspresi Rusia.
Rusia membawa tangan Amerika ke bibirnya dan mengecup tangan putih itu dengan pelan. Matanya tidak pernah meninggalkan mata Amerika. Amerika tahu, seharusnya ia menarik tangannya dari tangan Rusia, tapi ia tidak melakukannya. Karena ia menyukai perasaan digelitik kupu-kupu yang sekali lagi muncul di perutnya.
"Satu minggu." Gumam Rusia.
"Satu minggu." Jawab Amerika mantap.
Mereka terus bertatapan, menikmati keheningan yang nyaman. Amerika mempelajari wajah Rusia yang manis dan tampan sekaligus, begitu pula sebaliknya. Rusia mengamati Amerika seolah ia tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah daripada wajah Amerika seumur hidupnya. Mereka berdua tersenyum kepada satu sama lain sebelum Amerika memecah keheningan itu.
"Eh, aku lapar. Bagaimana jika kita mencari sesuatu untuk sarapan?"
Rusia mengangguk menyetujui dan melepas tangannya dari tangan Amerika dengan enggan. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan kearah pintu.
"Aku akan menyiapkan sarapan. Kau boleh mandi dulu jika kau mau. Kamar mandi ada di sana," Rusia menunjuk ke salah satu pintu yang tertutup di dalam kamar,"Ada lemari pakaian di dalamnya. Itu pakaianku, tapi kau boleh pinjam. Kau tidak bawa pakaian kan?"
Amerika menggeleng. Rusia tersenyum.
"Oke. Sepertinya aku akan mandi," Kata Amerika sambil melompat turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
Rusia menutup pintu di belakangnya.
xxx
Amerika bersenandung pelan. Tubuhnya terasa segar setelah air dingin dari shower menyiram tubuhnya. Ia mengenakan salah satu dari kemeja Rusia yang agak menggantung di tubuhnya. Mungkin karena tubuh Rusia lebih besar. Amerika memakai boxernya dan kembali mengenakan jeans hitam yang kemarin ia kenakan sewaktu pergi bersama Rusia.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu dan Amerika menoleh dengan kaget. Rusia membuka pintu dan menatap Amerika sebelum menutup mulut dengan tangannya, tersenyum kecil melihat Amerika dengan kemeja menggantung.
"Kukira kau gendut karena selalu makan burger, dorogoy. Tapi ternyata kau kurus sekali,"
"Aku tidak kurus! Dan aku juga tidak gendut, commie!" Protes Amerika. Rusia tertawa melihat ekspresi Amerika dan mengacak rambut Amerika yang sedikit basah. Amerika menyingkirkan tangan Rusia dengan kesal.
"Da. Aku tahu. Sekarang ayo kita sarapan,"
xxx
"Wow…" Gumam Amerika setelah ia memasuki ruang makan dan melihat ke atas meja. Ada banyak sekali makanan. Termasuk burger, pancake, dan sesuatu yang terlihat seperti bacon dan telur. Rusia sudah duduk di salah satu kursi dan menuang kopi ke cangkir. Ia memberi isyarat dengan tangannya, meminta Amerika untuk duduk di sebelahnya. Amerika segera duduk dan menyambar sepiring pancake terdekat dan menyuapkan pancake itu kedalam mulutnya.
"Tidak seperti pancake Mattie, tapi enak juga," Komentar Amerika sambil melanjutkan makan. Rusia menyeruput kopinya sambil tersenyum diam-diam.
"Terima kasih, dorogoy. Silahkan makan sebanyak-banyaknya,"
Amerika makan dalam diam.
"Sebenarnya, dari tadi aku berpikir. Kau selalu memanggilku dengan panggilan doro…dorogo…apa itu?"
Rusia tersenyum.
"Artinya…rahasia."
Bibir Amerika maju. Rusia, tergoda melihat bibir merah itu, memajukan duduknya dan mencium Amerika tepat di bibirnya. Amerika membeku. Lidah Rusia menjulur keluar untuk menjilat bibir Amerika, dan sebelum Amerika sempat membuka mulutnya untuk memberi akses bagi lidah Rusia, sang empunya lidah sudah menarik lidahnya menjauh. Dan Amerika merasa sedikit kecewa. Kupu-kupu yang menggelitik perutnya mendadak lenyap ketika Rusia menjauh.
"Tadi itu..apa?" Tanya Amerika.
Rusia kembali tertawa melihat wajah bingung Amerika.
"Ada mentega di bibirmu,"
"Oh." Amerika tidak tahu harus berkata apa lagi.
Rusia melihat kearah piring-piring yang sudah bersih.
"Baiklah, dorogoy. Aku akan membersihkan piring-piring ini dulu. Kemudian aku akan mandi. Silahkan berkeliling rumahku jika kau berminat, tapi jangan merusak apapun, da?"
Amerika teringat akan pintu yang berlubang, dan mendadak ia merasa malu.
"Baiklah,"
xxx
Amerika melihat-lihat foto yang terpajang dalam pigura di ruang tamu. Rusia dengan saudara-saudaranya. Bahkan Rusia punya satu pigura yang berisi foto Allied-forces. Rusia, Amerika, Prancis, Inggris dan Cina melambai beku dari foto itu. Semuanya tertawa.
Tiba-tiba, ada tangan di pinggangnya dan aroma tubuh Rusia memasuki hidungnya. Tangan itu mulai menggelitik perutnya dan Amerika tertawa terbahak-bahak.
Rusia mengamati reaksi Amerika dengan terpesona. Jadi, personifikasi Amerika punya perut yang sensitif, da? Rusia terus menggerakkan tangannya di sekitar perut dan pinggang Amerika. Setiap tawa yang meluncur dari mulut Amerika membuat tubuhnya terasa hangat, dan ia ingin terus mendengar suara itu.
"Hentikan, hentikan! Aku menyerah!"
Rusia ikut tertawa mendengar suara Amerika yang melengking meminta bantuan dan ia melepaskan tangannya dari pinggang Amerika. Amerika berbalik untuk menatap Rusia, senyum masih terukir di bibirnya.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Tanya Amerika.
"Aku ingin mengajakmu main ski."
TBC.
Yap! Chapter 2 up! Gimana? Gimana? Gimana? Terlalu OOC-kah? Terlalu fluffy-kah?
Ditunggu komentarnya! :D
