Hi, everyone!
Anne muncul lagi, nih! Maaf, ya. Tugas Anne banyak banget. Jadi Anne coba menyelesaikan tugas dulu, daripada dapat masalah dengan dosen. Iya, nggak? Oke, karena masih awal, Anne belum banyak berkicau dulu. Jadi readres sekalian bisa langsung baca, tapi... Anne balas review dulu, ya!
Amerin Hamada : wehehehe.. kaya pilem-pilem, ya? *ngebayangin aktor aktrisnya* Thanks :)
Chocco princess : hi, kamu! Wah thanks ya sudah baca! Salam kenal juga dari aku. Ikuti terus, ya! Thanks :)
alicia keynes : yeee balik lagi sama Anne. Makasi loh ya *peluk kamu* ikuti terus kisahnya biar makin penasaran! Thanks :)
AMAZING : wuohhh drama banget! Semoga! Tapi ini beda sama Guinevere, ya. Itu udah bungkus.. hehehe. Buktikan semuanya di fic ini. Thanks ya :)
BlaZe Velvet : Harry-Ginny kok, hanya saja aku masukin si Maureen buat munculin konflik. Masih awal, sabar.. cerita baru dimulai! Ikuti terus ya! Thanks :)
Gabby-chann : hai, lama juga nggak nyapa. Bagaimana UNnya? nilai SMP udah keluar, kan? Semoga bisa masuk SMA pilihan kamu, ya. Aku doakan selalu! Alurnya kau kira nggak begitu ribet. hanya satu waktu tapi dilihat dari sudut pandang penceritaan tokohnya. Udah aku pisah juga kan dengan line biar mudah pahamnya. Semoga paham ya di chapter-chapter selanjutnya. Thanks :)
Nrhimkah20 : semoga nggak ribet sama alurnya kalau sudah masuk beberapa chapter. Masih awal, jadi masih raba-raba ceritanya kamu mangkanya belum mudeng. Oke, ikuti terus ya! Thanks :)
syarazeina: wahhh ayo ikuti yang ketinggalan! baca yang belum kamu baca. Sabar, ya. Aku lagi banyak tugas jadi telat update. Thanks ya :)
Baiklah mungkin langsung saja.
Happy reading!
Badan lemas tak berdaya terkulai di atas meja. Tangannya memegang buku kusut bergelombang karena tetesan air mata yang mengering. Posisi duduk tidak baik untuk sebuah tidur dalam jangka waktu lebih dari tiga jam. Seperti dirinya, aliran darah tidak bekerja baik. Persendian kaki hingga pinggang terasa kaku. Punggung membungkuk berjam-jam seperti hampir patah. Tulang-tulangnya linu. Semua rasa itu sedang Ginny rasakan.
Badannya perlahan menggeliat.
Kepala Ginny hanya bergerak pelan, namun yang dirasa jauh lebih menyiksa daripada dipukul oleh gulungan koran. Ginny mengerang kesakitan sambil memijit kepalanya. Merasakan tubuhnya tak bekerja stabil, pelan-pelan Ginny menegakkan tubuhnya. Bersandar sebentar pada punggung bangku hanya untuk menarik napas sejenak.
Sebelum sesuatu siap mendesak dari dalam perutnya.
Ginny berlari pontang panting menuju salah satu pintu di dalam kamarnya. Derasnya air kran beradu dengan suara muntahan dirinya pagi ini. Sejak dua hari yang lalu ia telah merasakannya. Setelah dua tahun lebih ia menjadi seorang ibu bersama James Sirius, sang putra kebanggaannya, insting Ginny mulai terlatih akan tanda-tanda tentang dirinya. Sesuatu yang baru ataupun tentang 'kehidupan' baru di dalam tubuhnya.
Pusing di kepala Ginny semakin parah. Pandangannya mulai mengabur. Kaca di hadapannya tertutupi embun saat ia berusaha mengangkat wajahnya. Sempurna, Ginny tak jelas melihat wajah paginya terhiasi mata sembab dan pucat di bibirnya. Ginny ingat, semalam ia tak makan. "Maafkan Mummy, nak," kata Ginny menunduk menatap perutnya, "Mummy tak bisa kalau Da—"
"Harry?"
Seraut wajah pria berkacamata tersenyum dari pantulan kaca di hadapan Ginny. Ia berdiri dengan wajah memucat namun tercetak senyuman di wajahnya. Ginny meremang. Segera ia berbalik sambil meneriakkan nama itu kembali. "HARRY—" panggilnya namun segera tertahan.
Tidak ada siapa pun di kamar mandi itu selain dirinya.
"Ha—Harry, kau—"
Brukk!
Beberapa langkah dari depan pintu kamar mandi, kaki-kaki kecil seorang bocah berambut hitam acak-acakan tertegun ketika ia mendengar suara terjatuh dari dalam kamar mandi. James Sirius, seperti pagi-pagi biasanya, ia sering berlari ke kamar orang tuanya jika salah satu dari ayah maupun ibunya tidak berada di rumah. Ia seperti mengemban tugas untuk membangunkan mereka. Dan pagi ini, ia ingin membangunkan ibunya segera karena ia ingin menanyakan tentang kabar ayahnya yang tak kunjung pulang.
"Mummy!"
James hanyalah seorang anak berusia hampir tiga tahun. Ketika ia melihat sang ibu pagi ini, ia hanya bisa berteriak, memanggil ibunya dan meneriakkan permintaan tolong pada siapa pun yang berada di rumah itu.
Tubuh Ginny dibopong bersama oleh Arthur dan Bill. Hanya ada dua pria dewasa itu di sana. Beruntungnya Bill masih tetap tinggal di the Burrow sejak kabar hilangnya Harry tiga hari lalu untuk menemani adik bungsungnya. Fleur pun dengan sabar ikut menjaga Ginny agar lebih tenang. Apalagi... Ginny sedang dalam keadaan hamil muda.
"Ha—Harry mana? Harry di mana? Dad—"
"Tenang, Ginny. Tidak ada Harry di sini." Arthur menggalihkan pandangannya sejenak dari putrinya menuju James di gendongan Bill. Cucunya sedang menangis melihat ibunya terbaring sambil menangis mencari ayahnya. Arthur miris, mengingat nasib putri dan cucunya yang masih panjang. Namun dengan hilangnya sang menantu, ketakutan demi ketakutan akan masa depan keduanya mulau bermunculan. Apalagi untuk anak yang sebentar lagi akan lahir. Jika Harry tak kunjung pulang, calon Potter selanjutnya tak akan mengenal siapa ayahnya.
James berusaha berontak untuk turun mendekati Ginny. Sebagai seorang anak kecil, ia tak tahu menahu mengapa ibunya bisa sampai setakut itu. Bahkan hingga ia temukan pingsan. James hanya melihat ibunya selalu memanggil nama ayahnya setiap saat. Bahkan ketika tidur, James tak jarang mendengar ibunya mengigau nama ayahnya.
"Mummy—" James akhirnya lepas dan naik ke atas ranjang. mengusap rambut merah Ginny seperti apa yang pernah ia lihat ketika Harry menenangkan Ginny, ibunya. "Mummy jangan menangis. Daddy pria yang kuat. Daddy akan pulang sebentar lagi. Mummy tak boleh sakit. Jadi, Mummy jangan takut. Ada aku."
Seolah Harry sedang berbicara padanya, Ginny mengusap pelan wajah James penuh kesedihan. James sangat mirip dengan Harry namun dengan mata indah miliknya. James adalah kepingan darah daging suaminya. Dan ia tak boleh mensia-siakan anak itu hanya karena separuh kepingan jiwanya tak ada.
"Jangan siksa dirimu seperti ini, Ginny. Semua orang sedang mencari tahu jejak Harry dan akan berusaha untuk terus menemukannya."
Bill tak tega melihat Ginny sangat tersiksa karena berita yang datang tiba-tiba pagi itu. Harry, memang sedang dalam tugas penyerangan sebuah wilayah gelap incaran para Auror. Bersama Ron, Harry dikabarkan mengalami penyerangan hebat oleh beberapa penyihir hitam di sana. Ron dapat selamat meski tubuhnya penuh luka dan tak sadarkan diri. Sementara Harry.. tidak ada satu penyihir pun yang tahu keberadaan Harry. Hanya seorang Auror muda yang sempat melihat Harry seorang diri diserang oleh lebih dari lima penyihir hitam di pinggir tebing menuju laut.
Saat sebuah ledakan terjadi begitu hebat pada salah satu pondokan milik sekumpulan penyihir hitam di sana, Harry beserta beberapa penyihir hitam menghilang. Hanya ada sisa tebing yang hancur dan jatuh ke lautan lepas di mana itu adalah tempat terakhir Harry berdiri.
Harry tak ditemukan.
"Tapi, Harry—"
Bill merendahkan tubuhnya mendekatkan wajahnya pada Ginny. "Lihat James! Kau lupa ada nyawa baru di dalam tubuhmu juga? Mana Ginny yang aku kenal? Wanita yang kuat! Kau harus kuat untuk anak-anakmu, untuk Harry!"
Dari arah pintu kamar, Molly dengan tergesa-gesa masuk sembari membawa satu gelas berisi ramuan buatannya. "Minumlah, sayang. Agar tubuh lebih baik. Kasihan janinmu, Ginny!"
Tak terasa Molly ikut menitikkan air matanya. Ia juga seorang wanita. Ia paham betapa terpukulnya Ginny mendapati tidak ada kabar tentang keberadaan suaminya. Ginny kembali terisak tatkala Molly membisikkan sesuatu pada telinganya. "Kami akan selalu ada untukmu, Ginny. Kami akan menemanimu merawat James dan calon adiknya—"
"Harry bahkan belum tahu bahwa ia akan punya—Merlin, apakah anak keduaku tak bisa mengenal ayahnya sendiri, Mum? Aku tak mau itu terjadi!"
Sejak pagi itu, Ginny hanya mampu berharap.. Harry akan pulang.
Harry Potter, hanya bisa berbaring lemas di atas ranjang milik orang lain. Pagi ini, ia kembali memikirkan Ginny. Ia telah meninggalkannya hampir lima hari sejak ia berangkat untuk bertugas mengikuti training sebelum penyerangan. Ia ingat, tiga hari yang lalu ia dhadang oleh lima pria berjubah hitam yang baru saja ia lukai karena lontaran manteranya.
Harry tak sempat menyadari bahwa beberapa penyihir hitam lain telah berusaha mengunci pergerakannya. Harry terkepung sendirian di bibir tebing. Deru ombak menjadi suara-suara terakhir yang mampu ia ingat sebelum ia sampai di kamar tempatnya berbaring kini.
Perut Harry masih dibebat kuat demi menjaga luka akibat tertancapnya ranting tajam di perutnya. Rasa nyeri pun belum kunjung pergi jika Harry melakukan gerakan kecil pada tubuhnya. Ia terdampar di rumah itu. Rumah seorang Muggle yang merawatnya saat ini. Seharian Harry dijaga Maureen. Bahkan di malam hari. Hingga kini, Maureen masih belum beranjak dari tempatnya beristirahat. Maureen memilih tidur dalam posisi duduk di sisi Harry.
"Mengapa dia begitu baik kepadaku?" batin Harry sambil mengamati wajah Maureen. "Dia pasti tak tidur semalaman."
Kamar tempat Harry beristirahat kini tidak sebesar kamarnya bersama Ginny. Ranjang yang ia tempati memang berukuran besar untuk berdua. Harry merasa, ranjang itu memang dimiliki oleh dua orang. Maureen dengan suaminya, mungkin, batin Harry.
"Seingatku, ia selalu menyebut nama.. Daniel—" tiba-tiba saja, Harry melihat sebuah foto berbingkai kecil di atas meja sisi ranjang. tanpa membuat Maureen terbangun, Harry perlahan meraih foto itu dan melihat siapa sosok yang tercetak di sana lebih dekat.
Berhari-hari tanpa kacamata membuat kepala Harry terasa pusing jika ia gunakan untuk memfokuskan sesuatu yang ia lihat. "Pria ini," Harry tertahan, tangannya bergerak menyibak anak rambut merah Maureen yang menutupi sebagian wajah teduhnya, "apakah Daniel?"
Sebuah foto pernikahan, seorang pria berdiri di sisi Maureen yang berbalut gaun putih tersenyum bahagia.
"Eh—James, kau sudah bangun?"
Gugup, Maureen mengusap wajahnya kasar berusaha mengumpulkan kesadarannya lebih cepat. Seperti hari-hari sebelumnya, Harry selalu melihat kegugupan dari Maureen ketika ia menatap wajahnya. Maureen akan segera menunduk jika Harry berusaha melihat matanya.
"Kau tidur jam berapa semalam? Jangan tidur terlalu lama. Kau bisa sakit." Ujar Harry menunjukkan rasa pedulinya pada Maureen.
"A-aku, tak apa. Aku tidur biasa saja. Tidak terlalu malam—"
"Bohong. Aku mendengarmu masih terbangun di tengah malam. Kau selalu berbisik-bisik pelan sambil terisak. Meskipun aku tak jelas melihatnya, aku tahu kau sedang menangis."
"No—"
Dengan lembut, Harry menyentuh dagu Maureen dan menaikkan kepalanya. Harry akhirnya bisa melihat jelas wajah Maureen meski sedikit kabur. "Meskipun tak jelas, warna mukamu pucat. Kau kurang tidur, Maureen. Kau bisa sakit, jangan memaksa. Aku tak apa. Pikirkan juga kesehatanmu." Kata Harry penuh perhatian. Tak jarang tangannya ikut mengusap pipi Maureen untuk merasakan suhu tubuh Maureen.
"Aku tak enak karena kau merawatku sampai seperti ini. Kalau kau sakit gara-gara aku, aku takut suamimu marah," Harry kembali memperhalus suaranya.
Maureen belum menjawab kata-kata Harry. Ia hanya bisa terpaku ketika Harry memperlakukan dirinya begitu lembut. Menghargainya sebagai seorang wanita yang membantu merawatnya dengan baik. "Ternyata kau berbeda," bisik Maureen.
"Berbeda?" Harry perlahan menjauhkan tangan dari wajah Maureen, "aku tak paham."
"Dengan Daniel."
Foto yang berada di atas perut Harry di ambil kembali oleh Maureen dan dilihatnya secara seksama. Maureen tersenyum lantas bercerita. "Dia sudah meninggal. Daniel, suamiku. Kau sudah melihatnya, kan, sangat mirip denganmu."
"Maaf, aku tak jelas melihatnya. Mataku rabun," jawab Harry jujur. Matanya memang sakit dan tak jelas untuk memandang sesuatu.
Harry butuh kacamata. "Astaga, aku lupa. Kau seharusnya membutuhkan kacamata. Tapi.. aku tak punya kacamata, kalau pun ada belum tentu cocok dengan rabun matamu."
Dengan kebigungan, Maureen bangkit dari kursi dan berlari menuju lemari pakaiannya. Meninggakan Harry yang kini berusaha setengah berbaring bersama foto pernikahannya. "Aku akan membawamu ke dokter mata, sekaligus untuk memesan kacamata untukmu. Kau kuat untuk aku ajak ke rumah sakit, kan—"
Rupanya Maureen sibuk membongkar sebuah kotak dan dompet besar dari dalam lemari pakaian. Ada sesuatu yang berkilau tampak Maureen keluarkan dari kantung dompetnya. Harry tak begitu memperhatikan apa yang sedang Maureen kerjakan. Hanya saja, Harry kini sedang berusaha mengamati wajah pria dalam foto di tangannya.
"Daniel—dia mirip juga denganku. Hanya saja matanya.. biru."
Daniel Miller, mendiang suami Maureen, berperawakan cukup tinggi dengan badan proporsional. Berbeda dengan Harry, rammbutnya sedikit coklat dengan bola mata berwarna biru. Hanya saja, jika dilihat dengan seksama, Harry dan Daniel memiliki kemiripan dari raut wajah dan senyumannya. "Mungkinkah Maureen begitu malu-malu jika aku tatap karena aku mirip dengan mendiang suaminya?" batin Harry tak yakin.
Beberapa saat kemudian, Maureen kembali pada Harry. Di tangannya terdapat satu stel pakaian pria lengkap dengan peralatan mandi. "Kau bisa membersihkan tubuhmu. Tapi jangan sampai membasahi lukamu. Kau bisa? Tapi kalau kau tak yakin, kau bisa tunggu aku—" sebuah kalung permata jatuh dari dompet yang Maureen bawa. Cepat-cepat ia memasukkan kembali sebelum Harry siap bertanya tentang kalung itu. "Aku keluar sebentar, setelah aku kembali kita bisa ke rumah sakit untuk memeriksa sekaligus membeli kacamata untukmu."
Belum sempat Harry bertanya, Maureen telah menghilang dari balik pintu kamar.
Harry menggerakkan tubuhnya perlahan untuk peregangan. Berhari-hari ia hanya bisa berbaring selama itu pula tubuhnya seperti mati rasa. Kaku. Harry coba menggerakkan kakinya untuk berjalan. Ia mampu. Namun masih terasa sedikit nyeri pada bagian perutnya. Lukanya masih terasa sakit meski jauh lebih baik dibandingkan pada awal Maureen mengobatinya.
Harry telah berganti pakaian bersih setelah ia coba membersihkan tubuhnya sekenanya dengan air. Ia masih berhati-hati dengan lukanya. Jangan sampai itu basah karena air dan membuatnya kesakitan kembali. Sambil menunggu Maureen kembali, Harry coba berkeliling di segala sudut rumah. ia merindukan rumahnya sendiri.
"Bagaimana dengan kabar Ginny di sana? James?" Harry kembali mengingat keluarganya.
Sampai di ruang makan. Satu cangkir teh tersaji bersama roti dan selai kacang di atas meja. secarik kertas bertuliskan, makanlah sebelum kita pergi, tergeletak di sana. Itu dari Maureen. Harry sangat bahagia dan bersyukur ia dapat diselamatkan oleh Maureen yang menemukannya. Ia tak bisa bayangkan apa jadinya saat itu ketika tak ada satu pun orang menemukannya terapung di atas batang pohon. Ia pasti telah jadi bangkai.
"Sudah dingin," kata Harry saat ia siap meminum teh di gelasnya. Ia coba melihat isi telapak tangannya. Harry ingat jika ia bisa membuat teh itu kembali hangat dengan tangannya sendiri. Dengan sihir.
"Apa aku masih bisa, ya?"
Harry perlahan menggenggam cangkir tehnya dengan kedua tangannya. Ia memusatkan konsentrasinya pada isi cangkirnya. Tanpa melakukan gerakan, Harry berusaha membuat tehnya kembali hanya. Beberapa saat kemudan, Harry melihat sendiri bahwa sihirnya masih berfungsi. Teh itu kembali hangat.
"James, kau sudah sarapan?"
Harry menelan tehnya susah payah. "Iya, kau dari mana?" tanyanya.
"Tak apa-apa, ayo kita berangkat. Aku sudah pesan taksi di depan. Dan—" Maureen melihat teh di genggaman Harry masih ada, "boleh aku minta tehmu?"
"Oh, tentu. Minumlah! Di luar pasti dingin." Kata Harry menyerahkan tehnya.
"Loh, masih hangat? Seingatku aku tadi menaruh di sini tidak sehangat ini."
Gugup Harry, berusaha mencari alasan dengan tehnya yang hangat karena ulah kekuatan sihirnya. "Maaf, tadi aku menghangatkannya lagi." Harry berbohong dan tersenyum.
"James.. harusnya aku yang meminta maaf. Tak seharusnya aku membuatkan teh dingin untukmu."
"Tak apa, mungkin sudah terlalu lama. Jadi tehnya dingin."
Maureen kembali dibuat kaku ketika Harry tiba-tiba menjabat tangan Maureen, "terima kasih," kata Harry sambil mengajaknya keluar. Itu adalah kali pertama Harry dengan inisiatifnya sendiri meraih tangan Maureen dan menggenggamnya erat. Dada Maureen berdebar cepat tak terkendali.
"Ayo, aku sudah tak betah tanpa kacamata. Aku ingin segera melihatmu dengan jelas," ajak Harry dengan senyuman indahnya. Maureen serasa terbang.
"I-iya." Jawab Maureen salah tingkah.
- TBC -
#
Belum banyak yang bisa Anne bahas. Karena baru awal. Mungkin Anne akan segera update cepat, teman-teman. Jadi, sabar, ya. Doakan Anne banyak waktu. Maaf kalau masih ada typo, Anne tunggu review kalian.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya, akan ada sesuatu yang terjadi dengan James aka Harry dengan Maureen. Apa itu? Tunggu saja!
Thanks,
Anne xoxo
