Alo ~ terima kasih kepada para reader yg sudi membaca cerita saya dan mereview, fave n follow langsung ^^

Kerana mode lagi kacau-bilau ,nah habis ngetik pula

maincast: AirApi

Warning: under the limit of brother complex .A lot change in p.o.v.

Disclaimer: tak punya , hak Animonsta , saya pinjam


Dua , tiga hari tersebut sikap Api tidak begitu menyenangkan . Malam ,dia akan bangun memerhatikan Air . Atau setidaknya mencari kelibat Air walaupun sebentar jika sepupu beserta kembarnya bersepakat untuk meronda tengah malam . Walaupun ia harus membuat jarak jauh agar tidak dikesan oleh mereka.

Mungkin kerana demam yang dialami , Api menjadi begitu sensitif .

Pintu biliknya dibuka ,menampakkan sesosok yang memakai baju hitam berlengan panjang .Rambutnya tidak terurus dan bunyi kerisik gelas terdengar.

Keadaan terasa tegang bagi mereka untuk membuka kata . Sementara Air tidak faham kenapa Api mula tidak menyukai hari malam ,tambah lagi bila mereka berdua meronda . Api menjauhi dirinya .

" Api bangun..." Air menepuk-nepuk selimut membanguni Api . Namun sang pengandal api enggan berbalik dan hanya mengerang tidak selesa. Entah,mengapa permandangan Air terhadap leher Api sepertinya menggoda. Oleh kerana lapar belum makan sarapan ,sekarang fikiran pula tergoda hendak mengusik di pagi hari.

"kik-" Api terkekek, tangan Air masuk ke celah lehernya membuat Api menggeliat geli sehingga pergelangan Air dihimpit antara bahu dan kepala Api. Air yang cuba menahan senyum tidak tertanggung lagi setelah melihat Api bangkit dari tempat perlimpangan dengan kusut .

"Pergi berus gigi dulu ,baru makan " Arah Air kepada Api yang kini tampak malas untuk berdiri tetapi ada kemahuan di mata.

Senyuman tipis mekar seketika dibibir kedua pengandal elemen api dan air keranasama-sama geli hati .

Dengan bantuan Air meleraikan selimut yang berkumpal ditubuh Api . Akhirnya Api dapat menghembus nafas lega .


" Hei , bertenang Api ..."

Air cuba untuk menenangkan Api yang tengah gelisah setengah mati . Hujan deras berlenang membasahi kedua insan tersebut tanpa belas kasihan .Hingga air mata dibawa arus tanpa diketahui siapa yang punya .

Wajahnya terlindungi , serta genggaman erat sangat mengolah hati , serasa hendak pergi ke alam mimpi tapi dihalangi oleh rayuan sang pengandal api. Api merayu ,memohon maaf darinya berkali-kali dengan wajah amat menyesal ,walaupun Air memberitahunya .Andai kata maaf dapat menyembuhkan segalanya dengan sempurna.

Salahkah dirinya berharap ?

Sekujur badannya terasa lemas tiada tenaga. Tapi dia tidak mahu melepaskan saat-saat seperti ini. Bibirnya seakan bergetar menahan tangis , mata yang biasa mempunyai nilai hidup berkobar sekarang memudar sayu .

Dilihatnya benang merah mengalir dari mana tempat mereka berada. Hatinya terhenti sesaat , rasa takut semakin menyelimuti dirinya.

"Air , jangan-"

Dia membungkus tangan kembarnya dalam genggaman dan menutupi luka dibalik baju koyak yang telah bernoda merah .

Lambat-laun , mata Air kehilangan biru muda yang selama ini memarak seperti kilauan intan permata laut .Ditukar dengan warna kecoklatan .

Air menutup mata.


"Air!"

Aku berlari meninggalkan tempatku terpaku.

Ini setentunya kalut .

Ia hanyalah igauanku semata-mata kan?

Aku tidak ingin kehilangan satu-satunya kembar yang memahamiku selain sepupuku.

Mereka hanya mampu tercegat ,adakah itu karana tangisanku?

Dan sejujurnya , aku tidak sanggup dibebani dengan igauan ngeri ini .

Lantas pintu bilik dibuka dengan ganas, mengundung riak keliru dari orang yang ku takut hilang dari pandangan . Kepalaku sakit ,tapi ku kuatkan diri menghulurkan tanganku ,agar ku raih dan berada di dalam dekapannya.

Sepatah kata tidak terungkap, aku ingin memberitahu hal sejujurnya tapi tidak berdaya. kata-kataku seakan terbelenggu didalam dan rasanya pedih untuk melepaskan kerna aku tidak mahu selepas ungkapanku adalah terakhir .

"Menangislah Api..." Ucapnya lembut sambil mengusap rambut depanku.


ada perubahan, sebenarnya mau bikin fluff malah bercampur angst. ah tak pasti jika chapter ni boleh buat anda tersentuh ,harap anda suka ^^

patutkah saya terangkan apa yang buat Api takut sangat untuk chapter seterusnya? atau cukup sampai disini saja? :3 /

Review,fave ,Follow~ jumpa anda di fic seterusnya atau di fic baru nanti ,dadah~