Tuan Misterius Kim Jongin
.
.
.
.
.
Hembusan napas Jongin menerpa permukaan wajah Sehun. Meski tak melihat, ia tahu jarak mereka sangat dekat. Detak jantungnya sangat tak beraturan. Cepat dan sangat keras tanpa ritme yang pasti. Ia gugup. Ia seorang pria dan merasa gugup karena pria lain yang menurut pendapatnya saat ini akan menciumnya.
PLAKKKK!
Sehun mengelus kepalanya.
"Jangan bermain-main denganku Oh Sehun."
"Appuga,"Sehun membuka mata.
"Sudah ku bilang, aku lelah. Jangan mengganggu ku."
"Arraseo, menyingkir dari tubuhku."
"Kenapa kau memejamkan mata?" Tanya Jongin sambil tersenyum.
Sehun membeku. Jongin adalah penyihir. Ia sedang memantrai nya, membuatnya membeku. Hell, dari awal Sehun sudah menduga. Pasti Jongin akan sangat populer jika ia sering tersenyum. Tidak, tidak boleh. Tidak ada yang boleh melihat Jongin tersenyum. Ini adalah rahasia. Hanya ia yang boleh melihatnya.
"Me, menyingkir dari tubuhku, Kim Jongin! Kau berat!"
"Mwoya? Kenapa muka mu memerah?"
Apa? Memerah? Sehun menutup pipinya dengan kedua tangannya. Jongin menggulingkan tubuhnya, berbaring di samping Sehun. Dia hampir saja tertawa melihat ekspresi Sehun. Bocah itu terlalu lucu, atau selera humor nya yang tiba-tiba berubah? Mungkin dia sudah tertular keanehan Sehun. Ya, baginya Sehun itu aneh.
Sehun bangkit dari tidurnya masih dengan tangan menempel di pipi. Ia menghembus kan napasnya lega karena Jongin tidak bertanya lagi padanya. Sebenarnya, ia tidak tahu kenapa mukanya memerah. Apa benar memerah? Atau Jongin berbohong?
"Kau tidur?"
Jongin tak menjawab. Antara benar-benar sudah tidur atau mungkin memang tak mau menjawab. Sehun memanyunkan bibirnya. Ia melangkah ke soffa coklat tua di ujung kamar Kim Jongin. Mrebahkan tubuhnya. Ia lelah sekali hari ini.
Sehun menekuk kakinya. Tubuhnya terlalu tinggi untuk tidur di sofa. Sangat tidak nyaman kalau boleh di bilang. Tapi ia cukup tahu diri untuk tidak merengek minta tidur di kasur. Lagipula, kasur Jongin itu single bad. Akan sangat sempit untuk dua orang.
Ia membuka tas nya dan meraih handphone pintar nya. Ia lupa memberi kabar ibunya. Ponselnya tidak menyala. Ia terlalu takut untuk mengusik Jongin. Akhirnya ia memilih keluar dari kamar. Meminta bantuan kakak Jongin terasa jauh lebih bijaksana daripada membangun kan Jongin saat ini.
Junmyeon tengah melakukan sesuatu dengan laptopnya ketika Sehun muncul di hadapannya. Ia menghentikan kegiatannya sejenak. Tersenyum ramah, sebenarnya ia memang selalu tersenyum seperti itu. Sehun jauh lebih menyukai Junmyeon daripada Jongin. Hanya orang tidak waras yang menyukai Jongin dengan sikap dinginnya itu.
"Wae, Sehun-ah?"
"Boleh pinjam telepon? Ponsel ku mati, aku harus menghubungi ibuku."
"Ah, arraseo," Junmyeon mengambil ponsel di sakunya. Menyerahkannya pada Jongin.
"Gomawo, Hyung."
.
.
.
Matanya terbuka. Badannya terasa sakit semua. Sehun berganti posisi menjadi duduk. Di liriknya tempat tudur Jongin. Tidak ada. Mwoya? Jam berapa ini? Apa Jongin sudah pergi ke Sekolah? Sehun berlari ke arah pintu.
BRAKKKK!
"Arghhh.."
Sayangnya pintu itu terbuka terlebih dahulu. Jongin menatap heran Sehun yang terkapar di lantai sambil memegangi hidungnya. Hidungnya mengeluarkan darah. Entah karena terantuk pintu, atau karena melihat Jongin yang hanya berbalut handuk di pinggangnya dengan rambut basah. Yang jelas ia mimisan karena salah Jongin.
"Kau, kapan akan berhenti bertingkah konyol?"
"A, aku hanya takut jika kau berangkat sekolah terlebih dulu."
Jongin keluar dari kamarnya. Mengambil kotak obat lalu kembali. Dia bahkan belum berpakaian. Kalau saja Sehun menginap di rumahnya sehari lagi, ia pasti tak segan-segan membunuh namja Oh itu.
Sehun memandangi Jongin yang masuk lagi ke kamar. Sebenarnya bukan Jongin yang ia pandangi, tapi abs kotak yang tercetak di perut Jongin. Apa yang dilakukan Jongin hingga ia punya abs? Entah kenapa Sehun jadi ingin rajin olah raga mulai saat ini. Yang ia lihat saat ini adalah sosok Kim Jongin yang tampak sangat keren dengan abs nya. Bahkan Chanyeol saja tak punya abs.
"Lakukan sesuatu dengan hidungmu, dan cepat mandi atau akan ku tinggal." Ia menyerahkan kotak putih itu kepada Sehun.
.
.
.
Sehun berada di meja makan keluarga Kim. Ia mengamati setiap detail makanan yang ada di meja. Ah, kelihatan lezat.
"Makanlah Sehun-ah, jangan sungkan-sungkan," kata Junmyeon yang melihat Sehun hanya diam saja sambil menatap buas ke arah makanan di depanya.
"Nne, Hyung."
Sehun mencicipi makanan di hadapnya. Enak. Meskipun masakan ibunya jauh lebih enak, tapi ini tidak beda Jauh. Ia melahapnya dengan sangat bersemangat hingga mendapat tatapan aneh dari Jongin.
"Aku berangkat dulu." Kata Jongin yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Hell, mata Sehun melotot. Ia ingin mengumpat Jongin sekarang juga. Perasetan dengan janjinya pada sang Kakek untuk menjadi orang baik yang tidak pernah berkata kasar. Masalahnya ia sudah dewasa, dan kondisinya membuat ia tidak bisa menahan emosi.
Mulutnya penuh dengan makanan, dan Jongin tanpa rasa bersalah meninggalkannya begitu saja. Ada yang salah dengan atitude Jongin. Atau mungkin otaknya. Padahal kakaknya saja sangat baik. Kenapa adiknya jadi seperti itu?
Ia menelan makanan yang belum sepenuhnya hancur dalam mulutnya dengan pakasa. Menyambar gelas di depannya dan meminum isinya dengan terburu-buru. Ia berpamitan dengan Junmyeon kemudian berlari keluar menyusul Jongin. Bahkan sepatu nya pun tak ia pakai dengan benar.
"Ah, Sial! Dia cepat sekali. Ke mana dia pergi?"
"Kau lambat sekali," kata suara di belakang Sehun.
Jongin tengah berdiri bersandar di dinding pagar rumahnya sambil menyilangkan tangan di dada. Ia beranjak pergi diikuti Sehun yang mengekor di belakangnya.
"Hey, jangan cepat-cepat Kim Jongin,"
"Kau yang terlalu lambat, kakimu itu panjang, melangkah lah lebih lebar. Mereka tidak akan patah hanya karena kau melangkah sedikit lebih lebar."
"Kau yang terlalu cepat."
SRETTT
Jongin menarik tangan Sehun. Memaksanya untuk bisa menyesuakan diri dengan langkah cepatnya. Bukan menggenggam tangan seperti adegan di drama komedi romantis. Lagipula, Jongin bukan tipe laki-laki romantis. Ia juga tidak suka bertindak romantis. Apalagi kepada seorang namja. Ia menarik ujung lengan kemeja Sehun. Sehun jadi merasa direndahkan.
.
.
.
Pagi yang tenang di SMA Daeheul sirna seketika ketika Jongin menginjakkan kakinya di halaman depan bersama Sehun di sampingnya. Padahal Jongin sudah bilang untuk tidak lagi mengekor padanya setelah mereka tiba di sekolah. Tapi Sehun seolah tak mendengar. Ia justru dengan bangga berjalan beriringan dengan Jongin sambil seolah berkata, 'Hey aku berangkat sekolah bersama Tuan Misterius Kim Jongin!'
Ia tidak bisa menjadi pusat perhatian seperti ini. Ia bukan Sehun yang sama sekali tidak peka dengan kondisi. Ingin rasanya Jongin menendang Sehun sekuat tenaga agar bocah itu terlempar jauh ke atas awan.
"Sudah ku bilang menjauh dariku,"
"Arraseo!" Seru Sehun jengah. Dia bukan makhluk pembawa virus mematikan yang harus di hindari. Kim Jongin itu sangat berlebihan menurutnya.
Sehun melangkah lebar-lebar meninggal kan Jongin. Ia bisa berjalan lebih cepat daripada Jongin. Ia bisa lebih dulu sampai dikelas dan membuktikan ia tak mengikuti Jongin. Sekolah mereka sama, kelas mereka juga bahkan bangku mereka sama. Wajar jika ia berjalan dengan arah yang sama. Jongin saja yang menurutnya terlalu narsis. Ia kira ia sekeren GD? Jongin itu hanya terlihat keren ketika tidak pakai atasan. Ah, apa yang dia pikirkan sebenarnaya?
.
.
.
"Buatlah kelompok 2 orang, kerjakan tugas di halaman 183 bagian pertama, minggu depan harus sudah selesai, arraseo?" Kata Guru Kwon di depan kelas.
"NEE" jawab anak muridnya serempak.
Sang guru Cantik tersenyum manis. Kemudian berlalu pergi meninggal kan kelas. Sehun sangat menyukai Guru Kwon. Sebenarnya hampir semua siswa di sana menyukai Guru itu. Baik, cantik dan sangat penyabar. Andai saja Guru Lee seperti Guru Kwon, mungkin Sehun akan pintar dalam mata pelajaran fisika. Meakipun hanya sedikit.
"Kau mau sekelompok denganku?" Tawar Sehun riang. Mau bagaimana lagi, ia tidak bisa memasang wajah suram. Ia terlahir dengan bakat itu.
Jongin terdiam, ia berfikir sejenak. Menatap Sehun malas. Ia benar-benar malas harus berhubungan dengan Sehun lagi. Tapi tak ada seorangpun yang bisa ia jadikan teman se kelompoknya. Hanya Sehun yang cukup ia kenal di kelas nya. Ia benar-benar terlihat payah kali ini.
"Hm,"
"Arraseo, sabtu besok. Di rumahku atau di rumahmu?"
"Terserah," kata Jongin acuh.
.
.
.
Sehun bangun tidur dan langsung merapikan kamarnya. Hari ini hari sabtu dan sekolahnya libur. Ia sebenarnya tidak punya hobi membersihkan kamarnya. Selama masih ada tempat untuk tidur ia nyaman-nyaman saja. Tapi pagi ini berbeda. Jongin akan kerumahnya untuk tugas mereka. Melihat kamar Jongin yang sangat rapi membuat Sehun tidak mau kalah, ia juga bisa rapi sebenarnya meskipun perlu sedikit di paksa. Lagi pula ia pernah membaca artikel tentang orang yang memeiliki kamar berantakan cenderung orang yang cerdas dan kreatif.
Masih jam tujuh pagi dan Sehun sudah berada di ruang keluarga. Ibu Sehun bahkan sempat mencubit pipinya keras-keras. Ia tidak bermimpi. Putra semata wayangnya yang biasanya bangun jam sembilan pagi di hari libur itu tampak ceria di jam tujuh pagi. Apa anaknya sudah berubah menjadi anak idaman nya selama ini. Meskipun sedikit curiga, tapi Ibu Sehun tetap merasa senang. Anaknya sudah lebih dewasa sekarang. Betapa terharunya ia.
"Eomma, hari ini masaklah lebih banyak, temanku akan kesini."
"Jongdae? Chanyeol?"
"Aniyeo, kalau mereka yang kesini aku akan meminta Eomma untuk tidak masak."
"Nuguya?"
"Teman baru, kami akan mengerjakan tugas bersama."
"Arraseo,"
"Aboji belum bangun?"
"Dia sudah betangkat kerja dari tadi, hari ini dia harus masuk kerja,"
.
.
.
Sehun berlari kecil dari kamarnya ketika mendengar suara bel dari balik pintu utama. Itu pasti Jongin, karena hari ini ia melarang Chanyeol dan Jongdae untuk datang ke rumahnya. Sehun bilang hari ini ia sibuk. Sibuk dengan tamu spesialnya.
Tanganya membuka kenop pintu, dan mendapati Kim Jongin tengah berdiri di depannya. Celana jeans warna biru, kemeja warna hitam dengan kaos putih di dalamnya. Ia tampak sangat keren hari ini.
"Samapai kapan kau akan membiarkanku berdiri di sini?"
"Ah, silahkan masuk." Ucap Sehun. Geez, apa tadi dia baru saja mengagumi Kim Jongin? Lupakan. Lupakan itu. Sehun yakin tidak.
"Kau tidak tersesat?" Tanya Sehun basa-basi. Dan menurut Jongin itu sangat basi.
"Aku bukan dirimu, jadi jangan khawatir." Sehun lebih memilih Jongin tidak menjawabnya.
Ia mengajak Jongin ke ruang makan. Agak sedikit membuat Jongin bingung. Ia kesini bukan untuk makan, tapi untuk mengerjakan tugas bahasa dari Guru Kwon. Sebenarnya ia ingin protes, karena ia tak ingin berlama-lama disini. Tapi melihat seorang wanita cantik berumur empat puluhan yang sedang tersenyum ke arahnya, ia mengurungkan niatnya itu. Tanpa diperkenalkan ia sudah tau. Itu Ibu Sehun. Menurut Jongin mereka sangat mirip. Pantas saja muka Sehun cantik. Ia mirip ibunya.
"Annyeong, Kim Jongin imnida," kata Jongin memperkenalkan diri.
"Wah, kau sangat tampan. Aku Ibunya Sehun,"
Jongin tersenyum kecil mendengar pujian itu. Agak sedikit malu di puji tampan oleh orang dewasa meskipun ia tahu ia memang tampan.
"Duduklah, makan dulu. Aku sengaja masak banyak hari ini."
"Ne, ahjuma."
Sehun merasa aneh. Jongin yang terus tersenyum di depan Ibunya terlihat begitu berbeda. Bukan Jongin si Tuan Misterius berwajah kaku. Tapi Jongin si Anak Manis yang penurut. Awalnya Sehun kira Jongin hanya bersandiwara. Tapi bagaimana mungkin orang yang bersandiwara bisa terlihat segembira itu. Kalau di perhatikan Jongin yang seperti ini sangat manis. Ia lebih suka Jongin yang manis daripada Jongin yang dingin.
"Jadi kau tinggal di apgeujeong dengan kakak laki-lakimu?"
"Ne," jawab Jongin setelah menelan makanannya. Bagaimana ya, Ibu Sehun itu sangat baik. Ia menyukai wanita ini. Jongin itu sulit sekali menyukai seseorang. Yang dia suaki hanya dirinya sendiri dan kakak laki-lakinya.
"Kemana orang tuamu? Tinggal di daerah lain?" Tanya Sehun yang dari tadi merasa di acuhkan. Bahkan ibunya sendiri terlihat lebih senang ngobrol dengan Jongin.
Entah hanya perasaan Sehun atau memang suasananya menjadi hening. Jongin diam sesaat. Begitu juga pasangan ibu dan anak itu. Sehun jadi merasa tidak enak. Jongin terlihat bingung. Seperti bukan Jongin yang ia tahu.
"Mereka sudah meninggal,"
Sehun menundukan kepalanya. Bodoh, seharusnya ia tidak bertanya tentang itu. Suasana menjadi canggung dalam sekejap.
"Ma, maaf, aku.."
"Gwenchana,"
Tangan Ibu Sehun terulur menggenggam tangan Jongin. Sangat lembut, kapan terakhir kali Jongin merasakan sentuhan ibunya? Ia sudah lupa. Ia masih sangat kecil ketika ibunya meninggal. Sekeras apapun ia mencoba mengingat ibunya, ia tak pernah bisa. Itu sudah terlalu lama.
"Kau bisa memanggilku Eomma, kau boleh kesini kapan pun kau mau,arra?" kata Ibu Sehun dengan suara parau. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.
Jongin mengangguk pelan. Ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin tangisnya akan pecah. Jadi seperti ini rasanaya punya Ibu? Seperti ini rasanya masakan seorang Ibu? Ia tersenyum lembut.
"Gomawo, Eomma," dan setitik air matanya jatuh seiring dengan kalimat singkat itu. Bibirnya sedikit kelu.
Oh tidak, tangisan ibu Sehun semakin menjadi. Ia bangkit dari kursinya. Mendekap Jongin dalam pelukannya. Hatinya tak kuat melihat wajah Jongin. Ia seorang ibu, dan ia dapat merasakan kesedihan di tatapan mata Jongin. Bagaimana mungkin dia bisa diam saja?
'Jadi ini rasanya pelukan seorang ibu?'
.
.
.
.
FIN~
.
.
.
Anyeong,kependekan? Iya saya tahu. Harap maklumi pemula ini.
.
.
Kemarin bayak yang protes karena di ending saya tulis FIN. Sebenarnya memang niat bikin chapter, tapi gak janji bisa update cepet. Jadi dibikin FIN aja. Intinya, meskipun tulisannya FIN, tapi cerita ini masih bisa lanjut lagi.
.
.
Entah kenapa Chapter dua jadi seperti ini.
.
.
Ini masih awal misteri di balik Kim Jongin.
.
.
.
Thx for reading.
#bow
