Baby Severus

.

.

.

Severus Snape didn't think his life could get any worse until Neville's cauldron explodes and turns him into a toddler. To make things worse, Albus decides to place him in the care of none other than Hermione Granger.

.

Severus Snape tidak pernah mengira hidupnya bisa bertambah buruk sampai kuali Neville meledak dan merubahnya menjadi batita. Dan yang membuat semua menjadi tambah kacau, Albus memutuskan kalau pengasuhnya—dari semua orang yang ada—adalah Hermione Granger.

.

.

.

Chapter 2: Obligation | Kewajiban

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

Hermione menunduk, memandang Profesor Snape yang tertimbun jubah hitam dengan posisi berdiri sembari memandang Neville marah. Neville—yang juga telanjang—melirik tatapan mengamuk dari Snape batita dan berlari melintasi Kelas Ramuan. Hermione tidak bisa percaya kalau pria yang ditaksirnya diam-diam sekarang menjadi batita. Membutuhkan beberapa saat hingga kekagetan memudar dan tawa meledak sepenjuru kelas. Severus Snape bukan hanya mengecil jadi batita, tapi batita telanjang bulat. Hermione adalah orang pertama yang bergerak secepat mungkin menyelubungi Snape dengan jubahnya—mendapatkan pelototan, sudah pasti—tapi di wajah anak tiga tahun, sipitan mata itu sama sekali tidak menyeramkan.

[Saat aku kembali, aku akan membunuh Longbottom! Oh, Tuhan, aku tidak percaya diriku telanjang.]

Severus merasa malu dan membeku saat Miss Granger memutari jubah di tubuhnya lalu menggendongnya. Dia menatap pembawanya tidak percaya, namun saat mencoba memuntahkan kekesalannya, mulutnya tidak bisa mengucapkan kata yang dia inginkan.

"Sekarang dia benar-benar imut!" Lavender memekik, mencoba menjiwir pipinya. Batita itu menepis tangannya marah.

[Sebaiknya kau tidak menyentuhku! Granger, turunkan aku sekarang!]

"Neville bersembunyi di belakang kelas. Ron, kupikir kau harus membawa Seamus dan aku mengambil Neville", kata Harry, menyomot jubah Neville dan mendatanginya.

"Bagaimana kita tahu mereka tidak akan membesar?" tanya Ron saat mengangkat Seamus yang cerewet dan melingkarkan jubah di sekelilingnya.

"Karena Ramuan Usia diramu untuk bertahan beberapa hari hingga minggu tergantung potensi dan cara membuatnya, tapi Neville sudah pasti menambahkan bahan yang salah jadi bisa beberapa menit sampai minggu". Hermione berkata khawatir.

[Segala-tahu ... baiklah! Turunkan aku!]

Hermione merasakan batita itu mulai memberontak dari gendongannya, tapi dia tidak bisa membiarkannya. Dengan cepat dia mengayunkan tongkat dan merapikan meja sebelum menemui Profesor Dumbledore sementara seisi kelas tertawa. Harry dan Ron mengekor dengan batita di gendongan, begitu pun Draco Malfoy yang mendumal sambil menyeret Pansy.

[Bocah-bocah kurang ajar itu akan menyesal menertawaiku saat aku kembali normal.]

Severus menatap Miss Granger dengan mata memicing saat berjalan ke kantor Kepala Sekolah. Sebenarnya dia bersyukur—dalam hati—Miss Granger menutupi kepolosannya sebelum siswa-siswi mendapatkan kesempatan melihat pemandangan bagus. Begitu mereka memasuki ruangan, Severus mengalihkan delikannya ke Kepala Sekolah yang matanya hampir melompat keluar.

"Miss Granger, betapa kejutan yang menyenangkan! Oh, aku melihat kau membawa seseorang. Siapa yang kau gendong itu?" tanyanya dengan senyum cerah.

[Orang tua bodoh itu tahu siapa aku!]

"Um ... Sir, ini ... Profesor Snape. Kuali Neville meledak dan memandikannya dengan ramuan. Dia pasti menambahkan bahan yang salah karena ramuan yang kami buat seharusnya membuatmu menjadi lebih tua, bukan muda. Juga Harry membawa Neville, Ron menggendong Seamus dan Draco membawa Pansy", ia memberitahunya dan mengangsurkan Snape batita ke arahnya.

"Severus, kau adalah anak yang lucu bahkan dengan delikan marah itu di wajahmu", senandung Albus, menarik pipinya pelan.

[Kau akan mati...]

Saat Severus mendengar gelak tawa, dia memutar leher dan mendelik marah ke Potter dan Weasley yang tertawa makin keras. Sayangnya, Severus justru lebih terlihat lucu.

"Sir, apa yang akan kita lakukan? Aku tidak tahu apa yang Neville tambahkan jadi aku tidak tahu bahan penawarnya", tutur Hermione, memindahkan Severus ke lengan satunya dan menghiraukan pelototan yang diberikannya ke semua orang.

"Aku takut kita harus menunggu hingga ramuannya habis. Sementara itu kita akan mencari tempat yang cocok untuknya dan aku akan menggantikannya di kelas", Albus memertimbangkan, tapi keriangan terbit matanya.

"Apa yang akan anda lakukan ke mereka?" tanya Hermione, melirik profesor mudanya yang masih mendelik. Dia harus berusaha keras untuk tidak tertawa melihat betapa menawannya wajah itu.

"Aku pikir Mr. Longbottom dan Mr. Finnegan akan diurus oleh Mr. Potter dan penghuni Asrama Gryffindor. Aku yakin Miss Weasley akan dengan senang hati membantu. Untuk Miss Parkinson, aku akan meminta Miss Bulstrode untuk mengurusnya", jawabnya senang.

"Sir, bagaimana dengan Profesor Snape? Siapa yang akan mengurusnya?" tanya Hermione lagi, menebak apakah Dumbledore akan menyerahkannya ke Malfoy. Tapi sejak Snape mendeklarasikan permusuhan dengan Lucius Malfoy, Draco membencinya. Sudah jelas Si Pirang itu memikirkan hal yang sama saat menerbitkan senyuman jahat ke arahnya.

[Jangan Malfoy! Jangan Malfoy!]

"Kenapa bukan kamu yang mengurusnya, Miss Granger?" aju Albus.

[APA?]

"Profesor! Aku sama sekali tidak tahu cara mengurus bayi!" pekiknya, segera mendapatkan tendangan keras dari Snape. Ia memelototinya. "Aku juga tidak tahu cara mendisiplinkannya!". Sang Batita menatapnya marah.

[Coba!]

"Miss Granger, aku sangat yakin kalau kamu bisa mengurusi Severus kecil lebih baik dari semua orang di Hogwarts. Aku takut jika aku memberikannya ke siswa lain ... well ... seperti yang kamu tahu, Profesor Snape bukan guru yang paling disukai di Hogwarts", jelasnya, membuat Hermione sadar kalau ucapannya benar.

"Sir, aku bisa mengurusnya", tukas Draco.

"Kupikir tidak, Mr. Malfoy. Miss Granger merupakan yang pilihan tepat", ujar Albus serius.

"Baiklah, aku akan melakukannya, tapi dia tidak terlihat senang", katanya dengan pasrah saat menatap bocah berambut hitam itu.

[No shit.]

Lalu kelar. Hermione bertanggung jawab atas Profesor Snape yang terperangkap dalam tubuh batita. Dia melangkah pelan dengan bocah itu di gendongannya menuju ruangannya—yang untungnya kamarnya pribadi karena dia adalah Head Girl. Ramuan merupakan kelas terakhir jadi ia tidak perlu membombolnya ke setiap kelas. Paling tidak hari ini.

Di dalam Hermione mendudukkan bocah itu di kasurnya dan menatapnya. Sulit bagi Severus untuk menatap balik meskipun dengan pelototan di wajah anak tiga tahun.

"Aku tidak percaya omong kosong ini", dia menggerundel, menggoyangkan kepalanya.

[Kau? Lalu apa yang kurasakan, Wench? Aku terperangkap di tubuh sial ini!]

Hermione menghela napas sembari melepaskan jubahnya dan melemparkannya tanpa ragu ke sebuah kursi sebelum menendang lepas sepatunya. Dia mulai menggeledah lemarinya, mencari baju ganti karena yang dia inginkan saat ini adalah mandi.

Severus bersyukur dia masih memiliki pemikiran orang dewasa, tapi dia sadar dia lebih sering berlaku seperti batita. Saat dirinya marah—yang sering kali tejadi—dia tahu semua orang mendengarnya melengking seperti batita. Itu memalukan.

"Kau! Diam di situ!" kata Hermione kejam, mengeluarkan satu jari dan mengagetkan Severus dari pikirannya. Matanya memicing saat Miss Granger menyongsong kamar mandi. Saat dia mendengar suara mengalir, dia menuruni kasur dan mulai menjelajahi kamar.

[Well, paling tidak warnanya bukan pink mentereng.]

Dia mendekati meja riasnya dan terkaget melihat tongkat sihir Miss Granger terkulai di atasnya. Sayangnya dia tidak sampai. Menipiskan bibir penuh ketetapan hati, dia menarik laci terbawahnya dan mulai menaiki. Saat berhasil menggapai tongkat itu, dia mengambilnya, namun kaki gemuk tidak stabilnya oleng dan mencium lantai, membuat jubahnya tambah kusut.

[Dammit!]

Hermione mandi dengan cepat dan melingkarkan handuk di sekeliling tubuh sembari melangkah keluar. Ia mengeringkan rambutnya tanpa ragu saat kembali ke kamar dan meyakinkan diri Profesor Snape tidak mengacau. Dia justru terkaget melihat profesornya mengayunkan tongkat anggurnya dengan frustasi.

"Profesor!" ia melengking, meskipun memanggil seorang batita 'Profesor' agak sedikit mengganjal. Bocah kecil itu menatapnya dengan mata hitam nan besar sebelum menyipit. Dia mulai mengayunkan tongkat itu lagi dan meskipun pikiran Profesor Snape meneriakkan kata-kata tidak layak diucapkan seorang bocah, batita itu hanya meracau tak jelas. "Kemarikan tongkatku!"

Merupakan kecelakaan saat Severus menggerakkan tongkatnya dengan benar dan mantera menubruk Miss Granger. Dia terkaget karena berhasil menarik turun handuknya dan sekarang wanita muda itu berdiri telanjang, matanya membulat besar karena kaget. Severus tidak bisa menahan diri untuk tidak memelototi. Baru sekaranglah dia bersyukur kalau dirinya terperangkap di tubuh batita dan bukan di tubuhnya sendiri. Tubuhnya sudah pasti merespon pemandangan itu. Matanya mendarat di payudara ukuran sedangnya dan puting merah jambu.

[Merlin! Sekarang pasti hari keberuntunganku. Aku tidak pernah mengira Miss Granger menyembunyikan tubuh yang lezat ... apa? Tidak! Tidak! Tidak! Dia seorang siswi! Dia seorang siswi! Oh shit, dia mendekat...]

Severus melihat dalam kehororan saat Miss Granger berjalan lurus ke arahnya—melupakan kepolosan tubuhnya dan merebut tongkatnya. Dia meletakkan tangkai itu di bagian teratas meja rias sebelum merunduk dan menggendongnya, jubah hitam besar mendarat di lantai.

"Anda mengesalkan! Bukankah kubilang untuk diam?"

[Aku profesormu!]

"Aku tahu kalau sekarang anda sedang berkomentar kalau aku adalah siswi dan kau—bagaimanapun—saat ini anda hanya seorang batita, jadi jika anda bersamaku, aku bosnya!" ia menyentak bocah itu dan tahu benar kalau Profesor Snape sedang menggerutu.

[Berani sekali kau! Kau pasti akan meminta maaf karena ini!]

Karena lelah menggendong Snape di bagian depan, ia menggendongnya di sisi tubuh, tidak memedulikan ketiadaan busana dan melangkah mendekati kasur. Dia sadar kalau mata Snape langsung terpaku pada payudaranya.

[Dia menggendongku saat telanjang. Lihatlah sepasang...]

Severus menatap dadanya dengan penilaian meskipun dalam tubuh batita membuatnya melihat dengan kekaguman. Dia menyorongkan tangan kecilnya dan meremasnya kecil, membuat perempuan itu hampir menjatuhkannya. Severus benar-benar melompat kecil saat melihat ekspresinya.

"Jika anda orang dewasa sekarang, aku sudah pasti marah, tapi karena tidak, rasanya sangat janggal", pandangnya marah.

[Apa? Apa dia serius mengatakan apa yang kudengar? Apa dia serius?]

Hermione mendudukkannya di ranjang dan langsung tersadar dengan ketiadaan serat kain. Dengan cepat ia memakai pakaiannya, sangat sadar kalau Severus Snape menontonnya. Ia menebak-nebak apa yang dia pikirkan.

[Itulah kenapa dia bersemu saat aku di dekatnya! Dia memiliki perasaan kepadaku! Apa pula yang dia lihat dari diriku? Mungkin saja dia bukan penyihir terbaik di angkatannya...]

Herimone mengeringkan rambut dengan goyangan tongkat dan mengikatnya menjadi kuncir kuda sebelum ke lemarinya dan mencari pakaian lama. Akhirnya dia menemukan beberapa buah yang sudah tidak terlalu diinginkan dan membawanya ke kasur, menjembrengkannya di atas seprai hingga bisa menelitinya.

[Apa lagi yang dia lakukan sekarang?]

Dengan beberapa jampi, ia merubah pakaian itu menjadi baju yang cocok untuk batita itu. Sayangnya Severus tidak setuju dan mengungkapkannya dengan delikan. Satu-satunya baju yang sesuai berwarna hijau dan biru tua, sisanya dia benci.

"Jangan menatapku dengan pandangan itu", ia memeringatkan.

[Aku menatapmu semauku, Bocah Kurang Ajar! Aku tidak memakai baju sial itu!]

"Anda ingin pakaian hitam, kan?" ia tersenyum mencurigakan dan amat dikenalnya.

[Ya.]

"Anda tidak akan memiliki pakaian hitam. Anda akan terlihat seperti anak normal dan tidak seperti orang yang mau melawat", ucapnya dengan tegas. Ia menatapnya dengan alis terangkat saat Snape menghela napas yang terdengar seperti teriakan protes anak kecil. "Aku akan mencabut hiasannya dan memberikan warna solid, tapi anda akan memakai ini, termasuk putih. Bersyukur aku tidak membuatmu memakai warna kuning atau oranye."

[Oh ya, aku berhutang kepadamu seumur hidup. Aku sangat senang kau mau mendandaniku seperti boneka!]

Hermione merunduk dan menyentuh rambut Snape, mengagetkannya. Ia membatu saat menjalari tangannya di helaian itu. menggelenglkan kepalanya, dia masuk lagi ke kamar mandi dan mengalirkan air.

[Oh tidak mungkin! Perempuan meledak itu pasti gila jika berpikiran kalau aku akan membiarkannya memandikanku!]

Saat ia kembali ke kamar, Snape terkejut saat ia menggendongnya dan melangkah ke kamar mandi. Dia menatap tidak percaya dengan bak yang terisi kurang dari setengahnya.

[Dia pasti sudah sangat gila!]

Severus mulai menendang dan berteriak saat melihat baknya, menyebabkan Hermione hampir menjatuhkannya lagi. Ia mencengkeram tangannya erat saat kembali menendang, tapi tidak bisa melepaskan diri.

"YANG SOPAN!" ia berteriak frustasi, menyebabkan Snape tersentak.

[Ironi. Siswiku memerintahkanku untuk sopan. Hah!]

Hermione mengambil kesempatan ini untuk menarik jubahnya, membuat Snape tersentak kencang. Ia menurunkannya dan berbalik ke kabinet untuk mengambil sampo saat mendengar suara langkah kecil. Ia berbalik dan melihat pantat telanjang batita Severus Snape berlari keluar kamar mandi.

"PROFESOR SNAPE!" ia meraung dan mengejarnya. Snape berlari ke ruang bersama, memutari sofa beserta kursi secepat kaki pendek gemuknya bisa. Dia sama sekali tidak sadar kalau Potter dan Mr. Serta Miss Weasley memasuki ruangan sampai melihat kilatan cahaya dan berbalik memandang mereka memegang sebuah kamera.

[YOU LITTLE BASTARDS!]

"Aku berharap sekarang dia adalah orang dewasa", kata Ron, melihat bocah telanjang itu. Dia melihat wajah bocah itu memerah, sangat sadar apa maksudnya.

[Aku bisa memastikan, Mr. Weasley, aku bisa sangat dermawan lebih dari yang kau harapkan!]

Severus merasakan Miss Granger menariknya ke gendongan dan melihat perempuan itu memberikan delikan ke arah dirinya. Dia hampir terlihat malu saat memalingkan pandangan. Sudah jelas tidak nyaman.

[Dia menyentuh bokong telanjangku ... maksudku bukan masalah karena aku berwujud batita sekarang, tapi bagaimanapun tetaplah bokong telanjangku dan dia menyentuhnya. Sekarang aku terperangkap dengan Trio Emas ini. Bagus! Amat bagus! Aku harap aku tenggelam di bak mandi.]

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Hermione bertanya.

"Kami ingin melihat apa yang kau lakukan karena kamu mengurus Profesor Snape saat dia seperti ini dan kami ingin datang dan mungkin kamu butuh sesuatu. Apa kamu akan makan malam di Aula Besar?" tanya Harry, memandang bocah yang sedang mendelik.

"Tidak, kupikir aku akan menghindari siswa lain sekarang. Mungkin aku akan memesan makan malam di sini lalu menidurkannya", jawabnya. Lalu Snape memandangnya tajam.

"Kupikir dia tidak menyukainya", Ginny membuka suara.

"Aku tidak perduli. Sudah cukup malam ini. Aku harus memandikannya, jadi—"

"MANDI? Kau memandikannya?" Ron berteriak tidak percaya.

"Well, iya. Aku harus melakukannya", jawabnya membela diri.

"Apa kau gila? Dia ini Snape! Kau tahu, Berminyak dari bawah tanah?" Ron membalas marah.

[Oh, tunggu saja, Mr. Weasley! Kau akan membayarnya!]

"Ronald Weasley! Profesor Snape terjebak di tubuh batita dan tidak bisa melakukan apapun sendirian seperti biasanya! Profesor Dumbledore memintaku untuk mengurusnya dan aku akan melakukannya! Dengan pantas! Jika kau tidak setuju, pergi ke menara Gryffindor dan mendongkol seorang diri, karena aku tidak peduli! Lagipula, kau tahu kalau kau harus melakukan hal yang sama ke Semaus dan Neville, bukan?" teriak Hermione, akhirnya kehilangan kesabaran. Laki-laki yang didampratnya mengerang kencang.

"Tidak apa-apa, Hermione. Jangan dengarkan Ron", Ginny memotong, menyodok rusuk saudaranya saat membuka mulut dan menjawab marah.

"Benar, kami akan pergi dan meninggalkanmu sendirian, tapi jika kamu butuh sesuatu, biarkan kami tahu", kata Harry saat mendorong Ron ke pintu.

[Ya, kau harus melakukannya. Cepat pergi dan jangan kembali jadi aku tida[k perlu berurusan ]dengan setiap hal yang membuat neraka menawarkanku kesusahan.]

Hermione membawanya kembali ke kamar mandi dan memasukkannya ke air. Snape duduk dan memutupi tubuh, memandangnya dengan tidak yakin. Ia mengangkat tongkat dan membuat busa mandi.

"Aku harap busa itu membuat anda lebih nyaman", katanya lembut saat mengambil lap mandi dan membasuhnya.

[Paling tidak.]

"Aku yakin ini sangat canggung bagimu."

[Kau sama sekali tidak tahu.]

"Aku juga tidak nyaman, tapi harus dilakukan."

[Memang.]

"Mungkin aku tidak bisa memandang matamu saat anda kembali normal."

[Begitu pun aku.]

"Semoga saja anda cepat kembali normal."

[Benar. Jadi aku bisa memasukkan kalian, Bocah Kurang Ajar, ke dalam neraka.]

.

.

.

Bersambung ...

.

.

.

Harry Potter © J. K. Rowling

Baby Severus | Wattpad © Gabrielle_Suzanne

Baby Severus | Fanfiction © TattooShadow

.

.

.

Haii, terima kasih sudah membaca. Yang bertanya soal pendeknya chapter, Eta mengikuti aslinya, begitu pun dengan rating. Hehe.

Terima kasih yang udah review: Moku-chan, Ace Kanemori, DeAng. | Favorite & Follow: Ace Kanemori, SimbaRella, Merrya Narcissa Bellatrix, Moku-Chan.

Sampai bertemu minggu depan!

.

Mind to review?

Bogor. Minggu. 4 Januari 2015. Pukul 12:26