Previous Chap :

Aku yang ada di depannya menyempatkan diri untuk melihat Pein yang duduk di belakangku dengan cara menoleh singkat ke arahnya. Dan, mungkin saja aku lagi sedang menghayal karena tiba-tiba aku merasa seperti sedang ditatap olehnya dari balik kacamata itu.

Dengan segera aku langsung meluruskan pandanganku ke depan.

Entahlah, aku jadi takut sendiri karena hal sepele itu. Takut karena saat melihatnya aku merasakan sebuah firasat—meski aku tidak mengetahui firasat apa itu.

Mungkin baik, atau... sebaliknya? Aku tidak tau.

.

.

Normal POV

Saat bel tanda istirahat berbunyi, setengah murid kelas langsung meninggalkan kelas. Tentu saja untuk ke kantin, sedangkan Hinata tetap duduk di bangkunya sambil membaca kamus bahasa inggris. Jelas Hinata lebih memilih untuk tidak makan makan ke kantin, daripada ia menjadi bahan olokan serta kejahilan Karin dan yang lainnya di sana.

Karena lumayan bosan, Hinata menutup buku dan menoleh ke samping. Dilihatnya suasana kelas yang sepi, karena hanya menyisakan lima orang yang ada di dalamnya. Dan lima orang itu termasuk Pein.

Berhubung Pein ada di belakangnya, perlahan pun Hinata menoleh ke belakang, dan menatapnya.

Melihat Pein, Hinata sempat terkejut. Masalahnya, Pein juga sedang membaca buku pelajaran. Bayangkan saja, Hinata belum pernah sama sekali menemukan ada orang lain—selain dirinya—yang menghabiskan waktu istirahatnya untuk belajar.

Padahal untuk sekedar info : Pein tidak belajar. Dia hanya terlihat menatap bukunya yang terbuka sambil tertidur. Hanya saja matanya yang terpejam itu tidak kelihatan sama sekali karena ketutupan kacamata tebalnya.

'Karena aku dan dia mempunyai sedikit kemiripan, mungkin aku harus mencoba untuk menyapanya.' Pikirnya, berusaha agar terlihat yakin.

"Pa-Pagi, Pein-san..." Sapanya, gugup.

Sadar dirinya dipanggil, ia membuka mata. Dari balik kacamata, ia melihat mata Hinata sebentar, lalu kembali menutup matanya. "Ya, pagi."

"Apa yang sedang kau lakukan?"

"Belajar." Bohongnya singkat.

Lalu tak ada lagi yang berbicara.

Nyatanya memang susah untuk mengajak orang lain berbicara. Apalagi Hinata yang tidak bisa bersosialisasi ini mengajak berbicara orang yang tampaknya tidak mau diajak bersosialisasi juga. Jadilah mereka yang seperti ini.

"Ehn..." Hinata jadi bingung mau bertanya apa.

Lalu saat ia sudah memikirkan basa-basi yang tepat, orang di depannya langsung mendahuluinya. "Kau ini mau sekedar bertanya atau menggangguku?"

"Umm, be-bertanya..."

"Aku sedang membaca, dan kau menggangguku." Usik Pein dengan nada datar.

"Ba-Baiklah..." Bersama gerak takut-takut Hinata mengangguk, dan langsung memutar kembali tubuhnya agar kembali ke depan.

Berkat Pein, sekarang Hinata menganggap dirinya sebagai penggangu.

.

.

.

NERDS

"Nerds" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Pein Rikudou x Hinata Hyuuga]

Romance, Friendship, Drama

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

SECOND. Teman Baru

.

.

Hinata's POV

Mengingat kalimatnya yang terakhir yang Pein lontarkan tadi membuatku takut untuk mengajaknya berbicara lagi. Sebetulnya aku sudah senang dengan adanya murid baru yang mungkin bisa kuajak berteman—yah, sebelum Karin dan teman-teman mempengaruhi juga memaksanya agar menjauh dariku.

Tapi, ternyata dia sudah menganggapku sebagai seorang peganggu—dan aku yakin dia belum pengaruhi oleh siapa pun. Sepertinya aku memang tidak pandai untuk berteman di sekolah ini. Padahal, sewaktu SMP aku mempunyai banyak teman yang sangat menyayangiku dan sangat kusayangi. Tapi, kenapa pada saat SMA aku malah menjadi seperti ini?

"Hyuuga..."

Terdengar suara Kakashi-sensei dari meja terdepan. "Bisa kau membantuku untuk menyerahkan kertas-kertas ini?" Pintanya sambil menunjuk tumpukkan kertas yang lumayan tebal.

Aku langsung membalas pandangan ramah si guru berambut perak itu, sepertinya ia sedang membereskan dokumen-dokumen yang ada dilacinya. Aku memutuskan untuk membantunya—karena juga tidak mungkin aku mengatakan tidak untuk orang yang meminta pertolongan padaku.

"Ya, sensei. Tunggu sebentar..." Sahutku sambil berjalan ke arahnya.

Kalau ditanya, aku pasti senang sekali jika ada yang memanggil namaku. Karena, kadang aku sering dilupakan. Tidak punya teman, pendiam, dan tidak mencolok. Untuk apa aku dipanggil?

Paling tidak aku hanya lumayan dikenal oleh para guru yang menganggapku murid beasiswa yang patuh bila disuruh ini-itu.

"Antarkan ini ke ruangan administrasi, ya? Bilang saja kalau kertas ini sudah tidak dibutuhkan lagi."

"Baik." Aku mencoba mengambil tumpukkan kertas itu, tapi ternyata tumpukan yang tersusun lebih dari seribu kertas itu tidak sanggup kuangkat sendirian. "Sensei... ini berat."

Kakashi seperti berpikir sebentar, lalu ia mengangkat wajahnya untuk mencari lagi siapa murid di kelas yang mungkin mau membantunya.

"Rikudou. Apa kau bisa membantu kami...?"

Tentu saja ia menunjuk Pein, secara ia adalah anak baru yang—mungkin—masih tidak bisa menolak permintaan guru.

Pein hanya menyahut dengan menoleh ke arah mereka.

"Bisa bantu Hyuuga?"

.

.

~zo : nerds~

.

.

Keheningan yang menemani kami sepanjang perjalanan ke administrasi ini memang sudah menjadi tebakkanku. Sebenarnya aku ingin mencoba untuk membuka topik pembicaraan, tapi aku takut dikatakan lagi sebagai seorang pengganggu. Jadi, kuputuskan agar diam saja.

Lalu, tiba-tiba saja dari ujung lantai dua aku merasakan ada suara-suara yang mirip dengan tawa Karin dan temannya. Seketika, aku menjadi takut sendiri. Kuhentikan langkahku di tengah jalan. Tapi Pein tidak, ia terus berjalan. Bahkan ia sama sekali tidak menanyakan kenapa aku diam mendadak seperti ini.

Saat kulihat Karin yang sepertinya sadar dengan keberadaanku, ia mulai membagi bisikannya ke teman-teman mereka. Aku yakin mereka sedang merencanakan sesuatu, dan aku sendiri hanya bisa menunduk dan menunggu mereka lewat.

Setelah selesai berbisik, mereka semua langsung berjalan ke arahku dengan senyuman mengejek. Saat mereka hampir melewatiku, seperti apa yang sudah kupikirkan, salah satu dari mereka sengaja menabrak bahuku dengan sekuat tenaga.

Aku berusaha keras agar kertas-kertas ini tidak jatuh dari dekapan tanganku, tapi nyatanya Karin lebih keras menyerang tanganku dengan sikutnya dan membuat misinya berhasil.

Sekarang, di hadapanku ini tersebarlah kertas-kertas yang seharusnya kusampaikan ke ruangan administrasi. Ratusan kertas itu berhamburan di sebelah kakiku, dan tidak sedikit juga yang terbang-terbangan ke mana-mana akibat bantuan angin. Dengan tawa yang semakin kencang, mereka pun meninggalkanku sendirian.

Sambil menunduk, kupegang tanganku yang memerah. Rasanya sakit.

Aku lelah dan capek dengan semua ini.

Untuk apa aku sekolah kalau hanya untuk mereka siksa? Memang, kalau aku lulus dari sekolah ternama ini aku akan mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang bagus. Tapi kalau sebelum masuk aku tau akan diperlakukan seperti ini, aku lebih memilih sekolah di SMA biasa dan mendapatkan penghasilan biasa.

Aku berjongkok, berniat untuk bisa menata kembali ketas-kertas tersebut. Tapi, aku malah termenung melihat kertas yang tersebar itu.

Kuhela nafasku kuat-kuat, mencoba bersabar.

Aku benar-benar menyesal bersekolah di sini.

Sebenarnya menyesal itu tidak baik karena aku hanya bisa mengalami masa SMA sekali dalam seumur hidupku, tapi rasa menyesal dan sesak ini terlalu mengumpul di hatiku, juga membuat genangan air di pelupuk mata.

Aku berusaha kembali tegar dengan menghela nafas panjang untuk yang keduakalinya, tapi air mataku tetap mengalir pelan tanpa kuminta. Cepat-cepat kupejamkan mata dan menghapusnya menggunakan kedua punggung tanganku.

Saat mataku sudah terasa ringan, aku membuka kembali kelopak mata. Tapi aku malah dikagetkan oleh sesuatu yang juga sudah berjongkok di hadapanku.

Pein.

Tanpa berbicara, ia membantuku mengumpulkan kembali kertas-kertas yang tersebar di lantai. Sebelumnya aku tidak pernah menerima bantuan seperti ini di SMA, jadi sudah pasti aku dibuat tertegun olehnya.

"Jangan nangis." Ingatnya sambil memberikan tumpukan kertas yang sudah tersusun rapih ke tanganku. Nadanya datar, tapi terdengar lembut.

Perlahan, mata kami bertatapan. Mungkin itu karena Pein sadar akan pandanganku yang terus menatap wajahnya, tapi aku yakin dia tidak terlalu peduli.

Sesudah mencerna kalimatnya selama beberapa detik, aku tersenyum dan sontak saja wajahku memerah. "Te-Terimakasih, Pein-san."

Ia bergumam, lalu kembali berdiri. "Jangan salah sangka, aku kembali ke sini karena aku tidak tau jalan." Jelasnya—entah itu adalah kebohongan atau tidak—sambil kembali berjalan mendahuluiku.

Aku juga langsung berdiri dan sedikit berlari agar bisa jalan sejajar dengannya. "Ya, tentu saja..." Kataku, masih dengan senyuman.

.

.

~zo : nerds~

.

.

Normal POV

Sejak Pein membantu cewek yang kini berada di sampingnya, ia merasa Hinata menjadi semakin mendekatinya. Tentu saja mendekatinya untuk berteman. Tapi, tetap saja Pein sedikit tidak suka dengan hal itu. Masalahnya, sesudah mengantarkan kertas ke administrasi, gadis berponi rata itu terus-terusan mengikutinya tanpa henti.

Memang, bagi Pein perempuan itu aneh. Kalau diberikan sedikit kebaikan, pastinya mereka akan semakin menjadi-jadi. Agak menyesal juga Pein telah membantunya.

"Pein-san?" Panggil Hinata dengan menatap wajah berkacamata itu. Tanpa menunggu Pein menjawab, ia sudah melanjutkan kalimatnya. "Apa kau bisa melihat jelas dari balik kacamata itu?"

"Kalau tidak bisa melihat, untuk apa aku memakai kacamata?" Balasnya dengan nada datar.

Lalu ia tertawa kecil. Pein sendiri tidak tau di mana letak lucunya. Tapi ketika ia melihat Hinata yang semakin sering tersenyum, membuatnya tersadar dengan kelembutan yang dipancarkan oleh gadis tersebut.

Pein segera mengalihkan perhatiannya ke arah lain.

Untuk apa ia menilai senyuman pasaran itu?

"Tapi aku yang melihatmu tidak bisa melihat matamu dari sini."

"Aku tidak peduli dengan pandangan orang lain."

Ya, Pein sudah tau apabila ia memakai kacamata tersebut, pasti setengah wajahnya akan tertutupi. Lagian, sebenarnya lensa ini tidak min, plus, atau pun silinder—berhubung ia tidak mempunyai penyakit mata.

Jujur saja, Pein malas memakainya. Tapi Tsunade sengaja memberikan ini untuk memberikan kesan 'nerd' kepadanya. Merepotkan tapi Pein harus menjalaninya.

"Pein-san?" ia kembali mendengar suara Hinata yang memanggilnya.

"Apa?"

"Apa aku boleh menjadi temanmu?" Pintanya dengan serius dan terus terang. Pein menatapnya yang tengah menunduk. Gadis itu tampak seperti bukan sedang bertanya, melainkan memohon.

Ia menjadi sedikit simpati.

"...Kenapa?" Tanya Pein nadanya sedikit... bingung.

"Karena aku senang bersamamu. Lagipula di sini aku juga tidak mempunyai teman." Hinata menjelaskan. Kedua tangannya saling bertautan, berharap cemas Pein akan menerimanya.

"Bukan itu, yang aku tanya kenapa kau harus bertanya padaku?"

Niatnya Pein ingin melanjutkan kalimatnya, tapi sepertinya Hinata sudah salah pengertian dan langsung mengangguk dan tersenyum senang.

"Ah, terimakasih. Kupikir kamu tidak mau..." Kedua mata bulatnya bersinar. Sudah jelas sekali kalau ia sangat bahagia.

Perasaan jengkel langsung merasuki Pein. Sebenarnya ia ingin mengatakan 'Kenapa kau harus bertanya kepadaku? Kenapa tidak tanya keorang lain aja?'

Tapi ia tau Hinata salah arti dan mengartikannya menjadi, 'Kenapa kau harus bertanya kepadaku? Bukannya kita semua adalah teman?'

Namun, akhirnya Pein membuang perasaan kesalnya dengan menghela nafas panjang-panjang.

"Ya, terserah kau saja."

"Terimakasih banyak Pein-san!" Serunya bahagia sambil membungkuk sopan di depan Pein.

"Panggil aku Pein." Ralatnya, tidak suka dipanggil 'Pein-san'.

"Bukannya Pein-kun lebih baik?"

"Cukup dengan Pein."

"Baiklah..." Hinata menyerah. Wajahnya tetap dihiasi oleh senyuman.

Dia telah mempunyai teman baru!

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note:

WAH! aku senang bangeet! Ternyata review-nya lebih dari limaa! Aku senang! Aku senang! #heboh. Ohya, dikit-dikit gini mereka berdua udah lumayan kubanyakin dialognya nih (readers : dibanyakin apaan!). Setelah ini aku juga udah nyiapin konflik untuk mereka supaya romance-nya muncul. Jadi tunggu chap ketiga publish, yaaa!

-edited : 28/02/12-

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

Akira Tsukiyomi, Yuuaja, Deidei Rinnepero13, Ind, Lollytha-chan, Shaniechan, Shin-chan Yagami Wakwaw, pindanglicious, Dhen Hyuga Kuchiki, Aiwha Katsushika, sampaijumpa, Ezzziiiw, Zie'rain-drizZle, Vytachi W. F.

.

.

Pojok Bales Review :

Chap 1 terlalu pendek. Karena yang ini kayaknya masih pendek, mungkin akan kupanjangin di chap tiga. Tadi ada tanda baca yang ketinggalan. Semoga chap besok misstypo udah sedikit menghilang. Deidara mana? Ada kok, tapi dia ngga terlalu berperan banyak :) Fict-mu yang lain jangan lupa ya. Ehehe, akan kuusahakan. Ini Nagato atau Yahiko? Boleh dibayangin si Pein Akatsuki atau ngga Yahiko. Asal bukan Nagato, kan dia rambutnya merah :D Mari lestarikan crack pairing buat Hinata. Dengan senang hati~

.

.

Next Chap :

"Kudengar ada lavender di taman kota. Ayo kita ke sana..."

'Cewek aneh...'

'Cantik, tapi sering bersedih.'

"Ayo, semua... kita samperin Hinata kita yang satu itu. Mumpung ia sedang sendirian."

.

.

Review kalian adalah semangatku :'D

Mind to Review?

.

.

THANKYOU