Pairing : sasunaru
Rating : T
Warning :Yaoi, Alternative Universe, a bit OOC,
Disclaimer : bukan! Bukan saya pak!
A/N : beberapa balasan review untuk reviewer
CaLL me rEd-Ew : maap red-ew, utk flashback tetep pke italic, soalnya bkal banyak selipan2 crita masalalu. Rada susah ngaturnya klo dikit2 ditulis –flashback-. Gomen, please bear with it..
X-tee : Woah, dari dulu Sasuke sombongnya emg ga ketulungan. Cocok bgt deh ama tampangnya yg sengak (sry ya Sasuke lovers, tp emang bner kok).
Dpt ide dari mana?...emm…darimana ya…Yah, tiba2 dapetlah. Ga mgkn kan saya bilang dpt ide dari bertapa di gunung dewa jashin toh?
Sbenernya ini crita obsesi saya dari dulu, coz:
-Pengen bkin crita ttg reinkarnasi.
-Hubungan antara pencuri-polisi.Gyaa! suka bgt! (ehem, saya penganut KidxShinichi)
-Action!! Adegan kejar2an, tembak2an,…wuih, apalagi ada peluru belok (yg udah nonton 'Wanted' pasti ngerti)
-Pngen ngeliat Naruto pke kimono (ini ga nyambung sih), klo baju raja2 dulu kan rada mirip kimono, bjunya panjang2..(maksa abiz)
-Fanficnya Ghee udah jadul bgt, masa iya ikut2an..
Dceemuse : thanks review langsungnya via email juga kritik n sarannya (terharu). Duh, Sagrada masih lama sih.
ok, itu aja. Trimakasih banyak semua yg telah mereview
"…" speech -- bicara
'…' though – dalam hati
italic – masa lalu/flashback
The Memory Beyond
By Raven-Zala
Co.written & editor : Aria and Ghee
Milwaukee, United States. 2008.
Sasuke benar-benar marah, kesal…rasanya ingin mendamprat semua orang yang lewat di depannya. Kegagalan dirinya menangkap kyuubi tadi malam membuatnya uring-uringan. Setelah ia ditemukan tak sadarkan diri oleh para polisi lain di ruang pandang, ia hanya bisa terdiam bingung seperti orang bodoh. Kankuro yang datang menemuinya pun tidak berkomentar apapun. Kyuubi berhasil mencuri perisainya dan menghilang tanpa jejak. Dicari ke segala sudut kota seperti apapun, rasanya Kyuubi seperti hilang ditelan bumi.
'Sial! Seorang Uchiha tidak pernah gagal!', umpatnya pada diri sendiri. Untuk menghilangkan kepenatan, siang ini Sasuke sengaja berjalan-jalan di pusat kota Milwaukee, sepanjang Jalan Broadway. Tadinya ia berniat menghabiskan waktu di sebuah kafe atau restaurant. Secangkir cappucino nampaknya cocok untuk mengatasi kekesalannya. Berjalan sembari menikmati deretan retail sepanjang boulevard Broadway dan hangat cahaya matahari yang tersaring melalui pohon-pohon yang berjajar rapi, membuat hatinya sedikit tenang.
'Kyuubi, mempermainkanku…huh, bagus sekali'. Dikeluarkannya sebatang Raison dari saku jaketnya dan dinyalakan. Pelan-pelan ia menghisap merk rokok favoritnya itu. Asap rokok berhembus diantara bibir Sasuke, matanya terpejam, samar-samar rasa manis Raison menyebar dalam mulutnya.
'Tapi mengapa ia tahu namaku?', mata Sasuke tetap memandang jalan di depannya walau tidak fokus, 'rasanya aku baru saat itu bertemu dengannya'. Selintas ciuman tadi malam kembali teringat dalam pikirannya. Entah mengapa ia tak menyesal atau pun marah terhadap ciuman itu…tapi tentu saja, Sasuke tidak akan mau mengakuinya. Yang ia rasakan hanya kerinduan kepada bibir mungil halus yang tadi malam bersentuhan dengannya.
Sasuke menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan bayangan tatapan mata Kyuubi dari dalam ingatannya. 'Cih, aku mikir apa sih…', dihirupnya lagi rokok di tangannya hingga tersisa setengah bagian. 'Daripada memikirkan itu lebih baik aku berharap ada malaikat cantik turun dari langit menemani hariku suram ini', pikirnya sambil lanjut terus berjalan.
Tiba-tiba Sasuke merasakan sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang. Ia berbalik badan, apa yang dilihat di hadapannya membuat mata terbelalak membesar. Seorang laki-laki manis berambut pirang dengan tiga buah goresan di pipinya tersenyum manis kepadanya. Namun apa yang membuat Sasuke terkejut adalah kedua mata biru besar orang tersebut yang bagaikan langit cerah.
Saking terpesonanya, rokok yang berada di tangan Sasuke terjatuh, 'Wow! Cepat sekali doaku dikabulkan'.
"Sasuke Uchiha", sapa 'mahkluk manis' di hadapannya.
Sasuke mengernyitkan alis bingung, "kau siapa?". Ia memandang pria di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Senyuman pria tersebut makin mengembang, "Naruto Uzumaki. Aku ini kekasihmu".
"Hah?"
xXxXxXx
Paris, Prancis…
Sebuah tangan mengguncang bahunya, "Shikamaru bangun!".
Pria berkuncir tinggi itu bolak-balik mengerjapkan matanya, ia merasa awan mimpi masih melayang-layang di atas kepalanya. "hemm", jawabnya masih setengah tidur.
Nampaklah seorang pria lain dengan potongan rambut bob jadul berada di sampingnya, "hei, kau begadang lagi ya?", namun pertanyaan itu tidak digubris Shikamaru. Matanya tetap terasa berat untuk terjaga.
Namun pria barusan rupanya tidak mau menyerah, "Hoii, Shika…"
"Hemm..", masih dijawab dengan malas.
"ilermu kena buku tuh"
"HAH!!", spontan Shikamaru terbangun dan mengecek keadaan buku yang barusan tepat ada di bawahnya ketika tidur. Untunglah halaman yang terbuka pada saat itu masih bersih. Tidak ada genangan atau pulau tercetak di atasnya. Lalu pandangannya teralih pada orang yang membangunkannya. Sebuah tatapan sial-lagi-asik-tidur-malah-dibangunin muncul pada wajah bangun tidurnya Shikamaru.
"Lee, ada perlu apa?"
Pria yang bernama Lee itu hanya nyengir, "cuman mau bangunin kok, memangnya tidak boleh? Lagian mau tidur sampai kapan?"
Shikamaru memalingkan muka dari Lee. Sebelah tangannya menggaruk-garuk kepala, "yah, tadi malam aku tidak tidur sampai jam 4 pagi, jadi wajar saja…Memangnya sekarang jam berapa?", tanyanya seraya mencondongkan badan memeriksa jam digital yang tergeletak manis di rak samping mejanya.
Shikamaru menyipitkan mata, kembali ia melemparkan pandangan muka malas pada Lee, "masih jam 11 kok".
"Memangnya kamu mau hibernasi?", jawab Lee sambil berkacak pinggang. "Kenapa bisa tidur sepagi itu? Ada apalagi nih?"
Sambil menyandar pada kursinya, Shikamaru melemaskan tulang leher yang kaku gara-gara posisi tidurnya tadi malam, "aku memeriksa sesuatu, terkait dengan pencurian Kyuubi tadi malam di Milwaukee…ohya Lee, kamu itu arkeolog kan?"
"Bukan, tukang ledeng. Iyalah Arkeolog! Profesi yang sudah aku jalani selama lebih dari 3 tahun! Selama ini aku mengorbankan segalanya untuk…"
"Iya cukup. Aku sudah hafal ceritamu yang sempat jadi atlet nasional. Kenapa kamu bisa nyasar kuliah di arkeologi?...tunggu kenapa aku malah membicarakan hal ini"
Lee protes, "ga ada salahnya jadi atlet! Kalau diteruskan mungkin sekarang aku udah ikut Olimpiade di Beijing!".
"Terserah deh…", balas Shikamaru dengan helaan nafas, "…mengenai benda yang dicuri Kyuubi", lanjutnya serius.
"Perisai?"
Shikamaru menggangguk, "perisai itu mengingatkanku pada sebuah cerita", ia mengeluarkan buku tebal dan besar yang berjudul Legenda dari seluruh dunia.
Melihatnya Lee membelalakan mata kaget, "Ha?! Seorang Shikamaru Nara…salah satu Sejarahwan terkenal ternyata masih mempercayai dongeng anak-anak", ujarnya dengan nada mengejek.
Shikamaru memandang tajam pada temannya itu, "aku hanya tertarik, bukan berarti aku percaya. Lagipula ada beberapa legenda yang dapat dibuktikan kebenarannya".
"Oh ok, aku mengerti. Lalu legenda apa?"
Lee mendekatkan diri pada Shikamaru, sejarahwan itu membuka buku di tangannya. Dibukanya halaman per halaman rapuh yang sudah menguning.
"Alkisah pada suatu jaman…", pria berkuncir itu membuka cerita, "…masih terdapat kerajaan-kerajaan. Semua kerajaan itu menguasai wilayahnya masing-masing. Namun.."
"Namun?"
"…tidak semua negara itu hidup rukun dengan baik. Mereka saling berperang, saling menguasai daerah lawan. Kuat lemahnya bergantung pada pemimpin mereka. Pada waktu itu masih adanya kekuatan-kekuatan mistik yang dimiliki setiap penguasanya". Shikamaru membetulkan posisi duduknya agar nyaman.
"Kemudian..", ia melanjutkan, "…akibat peperangan itu, keseimbangan dunia menjadi kacau. Sebenarnya itu cerita barusan hanya pembukanya".
"Kelanjutannya?", wajah Lee berubah antusias.
"Tersebutlah ada seorang penguasa suatu negara yang kuat. Tidak ada satu pun negara lain yang berani mencoba menyulut api peperangan pada negara itu. Bahkan ia sudah membawahi beberapa negara lain…Suatu ketika ia jatuh cinta pada penguasa negara tetangga. Penguasa negara tetangga itu memiliki kekuatan yang setara dengan dirinya. Tidak berapa lama mereka menikah dan kedua negara tersebut beraliansi…"
Lee melipat kedua tangannya ke depan dada dan mengangguk-angguk, "wah, dia beruntung sekali".
"Tidak juga", jemari Shikamaru membuka halaman selanjutnya, matanya memandang tulisan-tulisan yang ia sendiri pun sulit mengerti pada buku itu. "Peperangan terus berlanjut. Negara tetangga yang sudah beraliansi dengannya menjadi korban dan penguasanya juga ikut gugur. Karena kehilangan orang yang dicintai akhirnya penguasa negara tersebut mulai bertindak. Selama bertahun-tahun negara tersebut berperang menguasai negara-negara lainnya. Sang penguasa yang telah menjadi kuat mudah untuk menaklukan siapapun yang menentang. Pada akhirnya semua negara yang dulu berselisih itu tunduk di bawah kakinya dan keseimbangan dunia pulih kembali. Jadilah kerajaan itu menguasai negara yang sangat besar. Setelah kekuasaan dan kedamaian itu diperoleh, sang penguasa lalu turun dari jabatannya digantikan oleh tangan kanan kepercayaan. Kemudian keberadaannya menghilang, tidak diketahui siapa pun".
Wajah Lee berubah bingung, "Menghilang? Kok aneh?".
Sejarahwan itu hanya mengangkat bahu, "katanya sih sehabis itu ia hidup sendirian. Ada yang bilang ia sangat berkabung karena kehilangan orang yang dicintainya. Dan begitulah."
"Tamat?", tanya Lee lagi.
Shikamaru mengangguk.
Lee yang masih merasa tidak puas bertanya lagi pada Shikamaru, "lalu apa hubungannya sama perisai yang dicuri Kyuubi?".
Pria berkucir itu memutar kursinya menghadap temannya, sebelah tangannya memegang buku dan sebelahnya lagi menunjuk pada sebuah lambang yang tertera pada buku tersebut. "Lambang pada perisai yang dicuri Kyuubi sama dengan lambang kedua negara kuat yang beraliansi tersebut".
Lee mencondongkan badannya sedikit, kedua matanya teralih pada sebuah lambang yang ditunjuk Shikamaru, "itu…"
"Benar", sahut Shikamaru yakin, "lambang Serigala dan Rubah".
xXxXxXx
"Hah?", saat itu wajah Sasuke benar-benar cengok. 'Manis-manis tapi aneh', pikirnya dalam hati. "Maaf, aku tidak kenal", Sasuke berbalik badan dan hendak pergi.
Naruto kaget hanya diberi respon seperti itu, padahal sedari tadi ia sudah memberanikan diri menyapa Interpol tampan itu, "tu..tunggu", panggilnya lagi. Sayangnya pria di depannya tidak menggubriskan dan malah menjauh. Rasa kesal mulai muncul dalam emosinya, Naruto mulai mengejar Sasuke, "hei, tunggu sebentar, dengarkan aku dulu".
Sasuke tetap acuh, 'tidak kenal..tidak kenal', kata batinnya berulang.
Kesabaran Naruto sudah habis, akhirnya ia berteriak, "HEI, AKU BILANG TUNGGU! Apa kau itu tuli, teme?!"
Twitch!...sebuah marking marah muncul di kepala Sasuke. Pria berambut bebek itu menghentikan langkah, ia berbalik badan dan menarik kerah baju Naruto.
"Dengar..", sahut Sasuke dengan nada marah, "…aku tak kenal kamu siapa. Sekarang aku sudah cukup dibuat pusing karena pekerjaanku. Aku tidak akan membiarkan orang lain menggangguku lebih jauh". Sasuke mendorong Naruto hingga pria manis itu jatuh terduduk.
'Cukup jadi pelajaran untuknya', namun belum sempat Sasuke melangkah, sebuah isakan tangis membuatnya membatu.
"Hiks..", dalam keadaan terduduk, Naruto menangis. Kepalanya menunduk dan sebelah tangannya menutup sebagian wajahnya.
Pandangan Sasuke kembali pada pria yang terduduk menangis itu, namun ia tidak dapat melihat wajah Naruto karena tertutup poni pirangnya. Suara isakan terus terdengar membuat Sasuke jadi merasa bersalah. Namun selama beberapa menit ia hanya terdiam. Mereka mulai menjadi bahan tontonan orang-orang sekitar, tambah membuat Sasuke serba salah.
"Kamu jahat Sasuke..", sahut Naruto sesenggukan, "…padahal aku sudah mengorbankan segalanya untukmu. SEGALANYA SASUKE! Tapi ini balasannya…"
Tuduhan-tuduhan tidak sedap mulai keluar dari bisik-bisik orang yang sedang lewat di sekitar mereka.
Dari 'wah, orang itu tega-teganya pada pacar sendiri',
'aku tak menyangka anak muda jaman sekarang seperti itu',
'yang berambut hitam itu tampak alim, tapi ternyata…',
Mendengar banyak yang mendukung, Naruto makin menjadi. "Mama di surga, maafkan aku karena tidak bisa menjaga diri. Sasuke..bagaimana dengan anak-anak kita? Bagaimana dengan masa depan mereka? Bagaimana makannya? Bagaimana sekolahnya?"
Bisik-bisik orang juga makin menjadi. Sasuke sendiri salah tingkah mau berbuat apa. Panas di telinga Sasuke makin bertambah setelah tuduhan-tuduhan juga makin lama makin heboh.
'jadi itu penipu pernikahan yang akhir-akhir ini marak'
'kasihan dia, habis manis sepah dibuang'
Malah makin ngawur…
'wow, ada homo!'
'syuting apaan nih?'
'eh, toko depan sana lagi diskon'
Tidak tahan dengan tuduhan maut orang-orang, Sasuke balik berjalan mendekati Naruto. Ia berjongkok di depan pria manis yang sedang menangis itu.
"Eehm..Nabu..bukan..Nato..eeh, tadi siapa..oh, Naruto. Lebih baik jangan mengundang perhatian orang seperti ini, mereka jadi berpikir yang tidak-tidak..", pinta Sasuke dengan suara pelan. Namun Naruto tetap menunduk, isak tangisnya masih terdengar.
Sasuke menghela nafas panjang, "baiklah…maafkan aku. Tadi aku sudah terlalu kasar padamu".
Mendengar permintaan maaf Sasuke yang terdengar tulus, tangisan Naruto berhenti. "Kau tidak akan meninggalkanku?", tanyanya masih tanyanya masih menunduk.
Demi keselamatan dirinya dari tatapan orang-orang yang mengancam, akhirnya Sasuke menyerah, "baiklah, aku tidak akan meninggalkanmu lagi".
"Benar?!", sahut Naruto tiba-tiba ceria. Kepalanya terangkat memperlihatkan matanya birunya yang indah…tanpa setetes air mata pun.
'Augh! Dia menipuku!', pikir Interpol tampan itu shock. "Lalu…yang barusan itu cuma air mata buaya?", tanyanya menahan kesal. 'Bodohnya aku.."
Naruto langsung berdiri dan menggaet lengan Sasuke, "eh? Air mata? Mana?".
Pria berambut hitam tampan itu hanya bisa pasrah dirinya diseret blondie manis tak dikenal. Selama perjalanan, Naruto tidak melepaskan Sasuke sedikit pun. Ia memeluk erat lengan kiri Sasuke. Di mata orang-orang yang lewat, mereka tampak seperti pasangan kekasih yang sedang kencan. Sasuke sendiri bingung harus kesal atau bersyukur ditemani Naruto berjalan-jalan sepanjang Broadway.
"Kita mau kemana?", tanya Sasuke. Sedari tadi mereka hanya terus berjalan tanpa berhenti.
Senyuman manis terhias di bibir Naruto, "ikut saja".
Tak berapa lama mereka berjalan, Naruto membawanya masuk ke dalam sebuah kafe. Sasuke bengong melihat nama kafe yang mereka singgahi. 'Racoon's Café? Nama macam apa itu?', bisiknya dalam hati dengan sweatdrop di kepala. Belum lagi dibuat bingung dengan nama kafe, seorang pelayan bersorban putih dengan pakaian full tertutup menerima mereka sambil tersenyum. "Selamat datang di Racoon's Café".
'Pakaian macam apalagi itu?! Memangnya ini di gurun!', Sasuke dibuat tidak habis pikir dengan keajaiban yang ia temui selama memasuki kafe. Mengikuti Naruto, akhirnya mereka mengambil meja dan kursi yang terletak dekat jendela. Lantai marmer dengan dinding finishing semen kasar dan berbagai macam antik, membuat suasana dalam kafe berbeda dengan suasana luar. 'Jadi serasa di Timur-tengah', bisik Sasuke ketika melihat interior kafe yang menarik.
Seorang pelayan datang memberikan menu makanan. Melihat menunya yang ternyata normal membuat Sasuke bernapas lega. 'Aku tidak begitu lapar, lebih baik memesan makanan yang ringan', pikirnya sembari memandang deretan nama makanan di hadapannya. 'Mungkin coffe latte…dan sandwich cukup…'
"Saya minta Beef Steak, Lasagna, Sup Pastry Jamur,…penutupnya Banana Split dan puding khas Racoon's Cafe…lalu minumnya Orange milkshake please…", sahut Naruto pada pelayan.
Mendengar jumlah pesanan yang mengerikan, membuat Sasuke terkejut, "eh, tunggu!"
"…dan tak lupa…RAMEN!!", lanjut Naruto lagi dengan nada ceria yang berlebihan.
'Ramen?! Yang benar saja!', "Tunggu sebentar!", beruntunglah kali ini teriakkannya terdengar oleh Naruto. "Pesananmu banyak sekali, dan lagi kau tidak melihat kita sedang berada dimana, mana ada Ramen yang berasal dari Jepang itu!".
Sang pelayan dan Naruto saling berpandangan sebelum kembali menatap Sasuke.
"Maaf tuan…", katanya ramah, '…kami memang menyediakan ramen, tapi tidak ada di daftar menu, jika tuan ingin boleh memesan". Naruto mengangguk-angguk setuju.
'UAPA?!Beneran ada?!'. Sasuke memijit kepalanya yang sedari tadi berdenyut karena bingung, "tidak…cukup coffe latte dengan sandwich saja".
Setelah yang pelayan mencatat semua pesanan ia beranjak pergi.
"Jangan khawatir Sasuke…", badan Naruto agak maju dan berbisik, "..kafe milik temanku. Kita boleh memesan apa saja".
Sasuke kehilangan kata-kata, "oh, begitu rupanya…selera temanmu aneh".
"Kamu bilang apa?"
"Tidak", jawab Sasuke melengos.
Naruto memperbaiki caranya duduk, mencari posisi yang santai. Kedua jemari tangannya menopang dagu dengan sikut berada di atas meja.
"Jadi…", sahutnya memulai pembicaraan, "bagaimana pekerjaan sebagai interpol?", kedua mata langit itu memancarkan ketertarikan pada pria tampan di hadapannya.
Kedua mata Sasuke menyipit curiga, "darimana kamu tahu kalau aku ini interpol?"
"Tentu saja aku tahu…", Naruto membalas dengan senyuman, "…aku tahu semua tentangmu. Aku ini kan kekasihmu".
Sasuke memegang dahinya yang sedari tadi berdenyut, 'stalker?', pikirnya bingung.
Percakapan pun dilanjutkan, dari obrolan ringan hingga masalah politik negara, Sasuke mengetahui bahwa pria manis yang ada dihadapannya ternyata berpengetahuan luas. 'hmm, lumayan juga'.
Tidak beberapa lama mereka mengobrol, makanan yang dipesan pun datang. Namun Naruto yang sebelumnya berada duduk di depan, berpindah hingga duduk di sebelahnya. Sang pelayan hanya tersenyum menahan geli sebelum ia pergi, sedangkan Sasuke memasang wajah bingung, "kamu ngapain sih?"
Naruto tersenyum penuh arti, "teme, sekarang kita kan sedang nge-date. Wajar saja aku duduk di sebelahmu".
"nge-date…sejak kapan?"
Mengacuhkan pertanyaan Sasuke, Naruto malah mendekatkan tubuhnya hingga hampir menempel dengan dada bidang Sasuke. Jemari lentik pria berambut pirang itu menyentuh secara halus lengan bawah Sasuke, dan naik sampai leher. Kedua mata Naruto setengah terpejam, bibirnya tersungging senyuman menggoda. Sasuke yang merasakan sentuhan-sentuhan halus itu hanya bisa menahan nafas untuk mengontrol diri. Perlahan kepala Naruto mendekat. Dari jarak yang hanya beberapa senti itu, Sasuke dapat merasakan nafas dari pria manis di hadapannya. Mata hitam itu tertuju pada sepasang bibir berwarna merah muda yang seolah memohon…untuk dicium.
"Sasuke..", bisik Naruto dengan suara agak mendesah. Tanpa sadar, Sasuke mendekatkan wajahnya bersiap menerima hadiah yang telah ditujukan padanya. Beberapa detik lagi sebelum bibir mereka benar-benar bertemu. "…kamu pervert deh", lanjut Naruto geli menarik kepalanya. Pria berambut pirang itu membalikkan badan menuju cinta sejati yang sudah menunggu di depannya, ramen. Sasuke yang tiba-tiba diacuhkan masih dalam posisi siap-cium itu hanya bisa terbengong-bengong dengan wajah bodoh.
'Padahal tinggal beberapa senti! Orang ini maunya apa sih?!', ratap interpol itu dalam hati.
Akhirnya Sasuke dengan pasrah mengikuti Naruto melahap makanan yang telah dipesan. Sempat interpol tampan itu tercengang dengan kecepatan makan Naruto yang menghabiskan ramen dan Lasagna bertepatan dengan ia menghabiskan sandwich. Kemudian dilanjutkan dengan Beef Steak dan Sup Pastry jamur. 'Awesome!'.
Naruto yang merasa sedari tadi dilihat, melempar pandangan pada Sasuke, "teme jangan melihat saja, kau mau?", tawarnya sambil tersenyum.
Sasuke menggeleng dengan sweatdrops di kepala, "tidak, melihatmu saja aku sudah kenyang".
Selesai dengan makanan utama, hidangan penutup yang dipesan oleh Naruto datang. Naruto juga melahapnya dengan penuh semangat.
"Kalau porsi makanan selalu sebanyak itu, bisa-bisa kamu obesitas", ujar Sasuke datar.
"Golongan darahku O, tidak akan gemuk".
"Mana ada hubungannnya golongan darah dengan berat badan"
Sasuke memandang Naruto yang masih berkutat dengan hidangan penutupnya. Tanpa sadar sebelah tangannya melingkar pada pinggang ramping pria manis tersebut. Dalam pikiran Interpol itu penuh dengan berbagai macam dugaan.
"Naruto…"
"Hmm?", Naruto menjawab tanpa menoleh, tiga buah sendok lagi maka habis sudah semua makanan yang telah dipesan.
"Kembalikan perisainya", tanyanya tanpa memperlihatkan emosi.
Pertanyaan itu spontan membuat Naruto menoleh. Dengan wajah tenang, Naruto membalas, "harusnya kau katakan itu pada Kyuubi". Ia menghela nafas ketika merasakan tangan yang melingkar pinggang tambah mengerat. "Sasuke, aku bukan Kyuubi".
Sasuke memincingkan mata, wajahnya tidak lepas dari tatapan curiga. Belum sempat ia membalas, deringan ponsel bergema dari saku jaketnya. Sasuke mengambil ponsel, melihat nama 'Kankuro' tertera pada layar ponsel tersebut.
"Halo, Kankuro…", Interpol itu menjawab.
Suara Kankuro dari seberang terdengar serius, "Sasuke, Kyuubi mengirimkan suratnya lagi".
Kenyataan ini membuat mata Sasuke terbelalak, bolak-balik ia memandang Naruto, "tapi Kyuubi…".
"Tidak lebih dari beberapa jam yang lalu suratnya sampai. Lebih baik kau segera kembali, sebab ada sesuatu yang harus kita bicarakan"
Sasuke menggangguk mengerti, "baiklah, aku akan segera kembali". Ditutupnya ponsel tersebut dan dikembalikan pada saku. Sasuke menoleh pada Naruto yang rupanya sedari tadi memperhatikannya. "Aku harus kembali…"
Naruto membalas dengan tersenyum, "aku mengerti…"
Belum sempat Sasuke beranjak berdiri, sebuah tangan kecil menarik jaket bagian depannya mendekat. Sasuke agak hilang keseimbangan, sebelum ia bereaksi, ia merasakan sepasang bibir halus menekan bibirnya. Interpol tampan itu terkejut beberapa saat, setelah beberapa detik memulihkan diri, ia membalas ciuman dengan tekanan yang sama. Mulanya bibir mereka hanya saling bertemu dan menekan. Namun, pria tampan berambut hitam itu mengambil inisiatif. Dengan lembut Sasuke menggigit bibir bagian bawah Naruto, menghisap, dan menggodanya dengan jilatan-jilatan kecil.
"Mmm…Sasuke..", Naruto tidak dapat menahan desahan yang keluar dari bibirnya. Pegangan tangannya mengerat pada jaket depan Interpol tersebut ketika lidah Sasuke mulai bermain masuk. Seolah menerima permohonan tanpa kata-kata, Naruto membuka sedikit mulutnya, memberi celah pada lidah Sasuke untuk bergerilya masuk.
Lidah Sasuke menguasai teritori barunya itu, dari gigi geligi Naruto, langit-langit mulutnya, hingga berakhir bermain dengan lidah mungil milik Naruto sendiri.
'hmm…manis…', pikir Sasuke mencoba mengingat dalam kepalanya rasa dari pria manis yang sedang diciumnya itu. Mencium Naruto bagai candu, membuatnya tak rela untuk melepas. Dengan perlahan Naruto melepaskan bibirnya dari bibir Sasuke. Nafasnya masih memburu dikarenakan tertahan dalam waktu cukup lama.
Melihat kesadaran Naruto masih di awang-awang, Sasuke tersenyum sinis, "ck, sebegitu hebatnya kah ciuman dariku sehingga sampai sekarang kau masih linglung".
Tersadar karena ejekan Sasuke, Naruto membalas, "teme!", teriaknya kesal. Naruto berniat memukul wajah penuh percaya diri di depannya, namun diurungkan. Ia mengambil tangan Sasuke, dan meletakkan secarik kertas pada telapak tangannya. "Ini nomor ponselku, hubungi ya.."
Kedua alis Sasuke terangkat memandang deretan angka nomor posel Naruto. Diselipkan kertas tersebut pada kantong baju, "baiklah….kalau begitu sampai bertemu lagi".
"Tentu saja", balas Naruto ceria.
Sasuke membayar semua makanan di kasir sebelum ia beranjak pergi meninggalkan kafe. Setelah melihat sosok agen Interpol itu menghilang, Naruto berbisik menahan geli, "dasar Sasuke, padahal tidak dibayar tidak apa-apa".
Tiba-tiba deringan ponsel bergema dari saku celana Naruto. Tanpa melihat layar, Naruto menjawab telepon tersebut. "Ya Gaara?..."
Sebuah senyuman menghias pada bibir pria berambut pirang itu, "terima kasih atas bantuanmu….". Naruto memejamkan matanya, "Sasuke?". Senyuman ceria berubah sedih, "tidak, ia tidak berubah sama sekali…". Terdiam beberapa saat ia melanjutkan, "baiklah, jangan khawatir…kita bertemu di Jepang nanti".
xXxXxXx
"Pertemuan yang mewah sekali", komentar seorang pria muda tampan dengan rambut hitamnya yang berdiri elegan. Lord Sasuke, gelar pria tersebut yang memang salah satu penguasa kerajaan, menghadiri pertemuan antara petinggi berkaitan dengan semakin panasnya hubungan politik antar negara. Pandangan matanya menyapu semua petinggi yang hadir, dari semua petinggi yang datang tak ada satu pun yang ia kenal, kecuali beberapa petinggi yang negara telah berada di bawah kuasa negaranya.
"Pertemuan kali ini bertujuan untuk memastikan keputusan sikap para petinggi akan negaranya", sahut jendral utama kerajaan Sasuke yang juga merupakan tangan kanan kepercayaannya, pria muda berambut hitam panjang dengan sepasang mata lavendernya yang tajam, Neji.
"Hmph..", Sasuke tersenyum sinis, "..semua petinggi hanyalah sampah, berkoar-koar jika negaranya kuat, sombong padahal miskin…tapi di hadapanku mereka menciut takut akan diinjak, bahkan Lord Shikamaru yang jenius sekali pun bertekuk lutut".
Neji yang terbiasa mendengar keangkuhan Lord-nya itu tidak berkomentar banyak, "lebih baik anda menjaga ucapan tuanku. Salah bertindak sedikit saja, rencana kita bisa buyar".
"Itu kata Sakura?", tanyanya sambil memandang Neji dengan sudut mata.
Neji memandang Lord-nya serius, "ia berkata bahwa malam ini merupakan titik dimana roda takdir akan mulai berputar. Waktu dimana rencana anda mulai berjalan. Aku percaya padanya sebagai pendeta wanita kerajaan".
Sasuke terdiam, dialihkan lagi pandangannya pada semua Lord yang hadir. "Aku rasa dengan kekuatanku sekarang, tidak ada berani berbuat macam-macam".
Sambil memejamkan mata, Neji membalas, "Aku tidak meragukan kekuatan anda, tuanku. Tetapi perlu diingat, tidak semua penguasa itu lemah. Ada seorang penguasa yang memiliki kekuatan setara dengan anda".
"Setara denganku?"
Neji menggangguk, "benar, negaranya sangat kuat. Penguasa lain pun mengakui hal tersebut. Dibandingkan negara-negara yang berada di bawah kuasa kita, negara yang berada di kuasa penguasa tersebut tunduk tanpa ada perlawanan"
Mendengar hal tersebut membuat Sasuke terkejut, walau tidak nampak keterkejutan di wajahnya, "tanpa ada intimidasi? Bagaimana bisa?".
Neji mengeryitkan alis, "entahlah, aku juga tidak begitu tahu. Yang jelas, jika negara lain tunduk begitu saja, berarti keberadaannya harus diperhitungkan".
"Siapa memangnya?".
Neji memandang lurus Sasuke, matanya menajam, "Lord Naruto, salah satu penguasa bagian timur".
Sementara itu, diluar ruang pertemuan seorang pria dengan rambut pirangnya yang agak panjang sedang terlibat perdebatan dengan teman-temannya.
"Haduh, aku gugup…Kiba! Gantikan! Kamu saja yang masuk!", pintanya pada temannya di sebelah yang sedang curi-curi ngintip pada ruang pertemuan.
"Lha? Yang punya gelar Lord itu memangnya siapa, Narutooo?", balasnya.
Pria dengan armor hijau di belakang ikut menambahkan, "tuanku! Anda harus percaya diri! Tenang, kami akan selalu mendampingi anda!"
"Bukan masalah tenang atau apa, Lee", Naruto menghela nafas, "ini pertemuan antar penguasa pertama kali…aku belum pernah menghadapi mereka semua sekaligus. Ditambah lagi…"
"Tenang saja tuanku…", sahut Kiba tiba-tiba serius, sebelah tangannya memegang erat bahu Naruto, "…mungkin saja ketika tuanku masuk nanti…ada Lord lain yang naksir lalu melamar! Hwahahaha!"
BUGH!!...sebuah pukulan maut melayang pada wajah Kiba. Pukulan telak oleh Naruto.
Memang walaupun mereka atasan-bawahan tetapi Naruto tetap menganggap mereka seperti keluarga sendiri, tidak ada formalitas. Apalagi Kiba yang merupakan teman spermainannya sejak kecil. Mungkin karena itulah semua bawahan sangat sayang pada pemimpin mereka satu itu.
Seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang yang sedari tadi berada di belakang mereka tertawa geli. Ia mendekati Naruto dan Kiba yang sedang berdebat.
"Tuanku, tak usah khawatir", ujarnya lembut, "memang pertemuan kali ini akan mengubah segalanya…baik di kehidupanmu maupun negara-negara lain, tetapi janganlah memandang sebagai sesuatu yang buruk…apalagi…"
"Iya..iya Hinata", Naruto langsung menyela, "…aku akan bertemu dengan orang yang akan kucintai sepenuh hati disini kan?", wajah Naruto sedikit memerah.
"Tuh kan benar…", BUGH! Belum sempat Kiba menyelesaikan kata-katanya, sudah didahulukan dengan pukulan, kali ini oleh sang jenderal Lee.
Hinata menutup mulutnya geli, "kalau begitu seharusnya anda senang".
Mendengar ucapan Hinata barusan, Naruto hanya bisa pasrah, "terkadang aku sebal dengan kemampuanmu melihat masa depan".
"Justru karena itulah aku menjadi pendeta wanita kerajaanmu, Tuanku", balas Hinata dengan senyuman lembut.
Sekali lagi Naruto menarik nafas dalam, diusirnya rasa gugup dari dalam dirinya. Ia sering berhadapan dengan petinggi lain yang bermasalah dengan negaranya. Sebuah pertemuan antar penguasa seperti ini tidak akan membuatnya gentar.
"Baiklah aku masuk…ayo Lee", Naruto bersama Kiba melangkahkan kaki menuju ruangan meninggalkan Kiba dan Hinata berdua.
Setelah kedua sosok itu menghilang, Kiba melayangkan wajah penuh pertanyaan pada Hinata, "tidak apa-apa Naruto bertemu dengan orang yang ditakdirkan untuknya?"
Mata Hinata terkedip sebentar sebelum tersenyum dan menjawab, "tidak apa-apa, Lord Naruto pasti bahagia".
"Bukan itu maksudku", sela Kiba, "tapi kamu".
Hinata terkejut mendengarnya, namun ia menggelengkan kepala, "menjadi pendeta wanita dan berada di sampingnya cukup untukku", mata lavender Hinata memandang kejauhan.
"Hinata…"
"Kau tidak usah khawatir kepadaku…selain itu..", senyuman Hinata berubah menjadi senyuman menggoda, ia melirik kiba dengan sebelah mata, "..bukankah kau juga akan bertemu dengan pasangan jiwamu? Hihihi…", katanya tertawa sambil melangkah pergi meninggalkan Kiba yang wajahnya memerah.
"Hinata! Kau melihat masa depanku ya?! eh, Hinata! Wooi…!", sayangnya teriakkan Kiba tidak dugubrisnya, wanita manis itu tetap acuh melenggang pergi sambil tertawa.
Sasuke yang sudah berada dalam ruangan masih terlibat pembicaraan serius dengan tangan kanannya itu.
"Lord Naruto? Seperti apa orangnya?", tiba-tiba Sasuke merasa tertarik. Baru kali ini ada penguasa yang menurut rumor sama kuat dengan dirinya, jika saja ia berhasil menaklukkan kerajaan Naruto tersebut, maka namanya akan semakin disegani dan ditakuti.
"Julukannya Sapphire dari Timur…"
Wajah Sasuke berubah bingung, "yang kau maksud itu negaranya?..."
"Lord Naruto dari Timur!", sebuah pemberitahuan menyela pembicaraan mereka berdua. Sasuke langsung melempar pandangan pada seseorang yang baru memasuki ruangan.
Tapi tunggu! Apa yang dilihatnya membuat dunia seolah berhenti berputar. Mata hitam lord berwajah tampan itu seakan tidak dapat melepaskan pandangannya dari orang yang baru memasuki ruangan beberapa detik yang lalu. Dalam kaca dunianya, ia melihat sebuah keindahan bagai turun dari surga. Rambut emas agak berantakan seolah matahari bersinar sampai memasuki ruangan pertemuan, mata biru sperti langit di hari cerah tanpa berawan. Bagai keindahan musim panas tak tergantikan.
Dengan langkah anggun, pria manis berambut pirang itu memasuki ruangan. Matanya menyapu seluruh Lord yang sudah berada dalam ruangan pertemuan tersebut. Seperti apa yang sudah diperkirakannya, semua Lord memandangnya dengan tatapan terpesona namun dilanjutkan dengan emosi lain bernama nafsu ingin memiliki. Walaupun sudah terbiasa, tetap saja Naruto merasa jengah.
Memiliki wajah manis dengan mata sebiru langit bukanlah keinginannya. Tubuhnya yang semampai memang tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki seumurnya, membuat Naruto sering diperlakukan bagai wanita oleh laki-laki lain. Untunglah kekuatannya berada di atas rata-rata, hal itulah yang membuatnya sedikit ditakuti dan disegani. Namun tetap saja ada laki-laki kurang ajar yang kadang berbuat tak sopan terhadapnya. Kalau sudah seperi itu, kadang Naruto siap menghajar sampai mati dan menguburnya dalam tanah. Sayangnya, Lee sang jenderal kepercayaan selalu datang pada saat yang tepat…benar-benar tepat sehingga keinginan Naruto menghabisi pria kurang ajar tersebut akhirnya tidak tersalurkan.
Neji memandang semua Lord yang terpesona pada Lord berambut pirang itu. Dirinya tidak merasa aneh dengan apa yang terjadi. Neji berpikir dengan kecantikan seperti itu bahkan pria pun pasti akan menoleh, tidak terkecuali. Memang sangat cocok Lord Naruto dijuluki Sapphire dari Timur. Sebuah batu permata yang keindahannya diakui semua orang. Warna biru yang sesuai dengan warna matanya.
Namun apa yang terjadi selanjutnya membuatnya kehilangan kata-kata. Ia melihat pemimpin negaranya berjalan mendekati Sapphire dari Timur itu. Dari sepasang mata hitamnya yang tak pernah lepas memandang, Sasuke seolah terhipnotis melangkahkan kaki menuju Lord bermata biru itu.
"Tu..tuanku…", sayang panggilan tersebut tidak sampai ke telinga Sasuke. Ia tetap mendekati Lord Naruto yang masih menatap sekelilingnya.
Sasuke mendekat sampai ia berdiri berhadapan dengan Lord bermata indah itu. Didekati Sasuke secara tiba-tiba spontan membuat Naruto mengalihkan pandangannya pada Lord yang dihadapannya.
Sepasang mata itu beradu pandang. Onyx dengan cerulean. Naruto sempat menahan nafas melihat seorang Lord setampan Sasuke berdiri di hadapannya. Tubuh tegap dan tinggi menjunjung kewibawaan sebagai seorang penguasa. Bahu lebar dan kokoh seolah selalu menyediakan tempat untuk bersandar. Garis wajah kuat disempurnakan dengan ketampanan wajah. Dan sepasang mata hitamnya yang membuat Naruto nyaris tenggelam dalam kegelapan.
Seolah waktu berjalan begitu lama…sampai Sasuke mengulurkan tangannya pada Naruto. Tanpa sadar Lord berambut pirang itu menerima uluran tangannya. Dengan perlahan Sasuke membawa punggung tangan Naruto mendekat pada bibirnya. Dikecupnya tangan halus dan kecil itu.
"Senang bertemu denganmu…Lord Naruto…". Suara Sasuke yang rendah dan dalam berhasil menciptakan semburat merah pada wajah Sapphire dari Timur itu.
xXxXxXx
Dalam kegelapan, pria itu terbangun dari tidurnya. Masih di bawah pengaruh tidur, ia menggumam sebuah nama, "Naruto…"
-to be continued-
boulevard : sebuah jalan untuk pejalan kaki yang biasanya berada di samping jalan raya dan dilalui deretan pohon-pohon rindang.
Finishing : penyelesaian pada elemen interior, misalnya dicat.
Sayang sekali tidak ada bangunan yang keluar…
A/N : sebenarnya fic ini mau direncanakan hiatus. Tapi tidak jadi. Susah mengerjakan fic secara paralel. Waduh, puasa gini malah bikin kissing! Kebawa doujin KH nih.
Saya sudah membuat imej dari Lord Naruto! (fufufu…obsesi seorang author). Yang ingin melihat, silahkan kunjungi ravenzukamori./art/Lord-Naruto-96596721
Review…
