Judul: Antara Pedang, Persona, dan Musou
Subjudul: [SMT:Persona3 x SengokuMusou] / T / Adventure-Action
Disclaimer: Shin Megami Tensei dan segala macam titelnya bukan milik saya. Toh yang merilis saja ATLUS (dan saya bahkan tidak punya sahamnya. LOL). Begitu juga dengan Sengoku Musou (atau lebih sering dikenal dengan nama Samurai Warriors dalam versi Inggrisnya) yang dimiliki oleh KOEI (sekarang sudah jadi TecmoKOEI sih) dan Omega-Force. Fanfic ini hanya dibuat demi kesenangan pribadi.
Fandom/Rating/Genre: SMT: Persona 3 x Sengoku Musou / T / Adventure
Ringkasan: Yang terakhir ia ingat adalah cakar Cerberus, mencoba menariknya dari tempat yang semestinya. Lantas, mengapa sekarang ia terbaring di kasur jerami? Yang kedua... mengapa helm dengan ornamen bulan sabit emas itu malah dipakai, bukannya disimpan di museum? Arisato Minato butuh panduan untuk tetap hidup dalam masa-masa perang ini. Mungkin bocah Date itu bisa menolongnya?
Karakter: Arisato Minato / Masamune Date
Sebelumnya:
"Anda dengan ini ditangkap dengan tuduhan mencuri pusaka keluarga Date. Ikut denganku baik-baik, atau–" tangan pria tersebut meraih gagang pedang, "–bersiaplah menemui ajalmu."
Masamune Date menatap lama.
Gulungan yang ada di hadapannya itu bukanlah gulungan biasa. Pada kenyataannya, gulungan tersebut seharusnya tersimpan rapi di gudang bawah tanah dari Aizuwakamatsu-jo, aman dari mereka yang mengincar keberadaannya. Bagaimana caranya gulungan tersebut bisa keluar dari tempat yang seharusnya, Masamune tidak mengerti.
Tentu saja, menuduh pemuda tak bernama yang tiba-tiba saja muncul di sekitar daerah kekuasaannya sangat mudah dilakukan. Hanya saja, ia tidak suka dengan ide bahwa dirinya salah. Karena itulah, Masamune Date pertama-tama harus melihat soosk pria tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Apakah dia adalah seorang pencuri biasa layaknya preman pasar, atau jangan-jangan pria tersebut adalah ninja kiriman Hideyoshi Toyotomi?
"Tsk," Masamune bangkit dari posisi duduknya. Mata kanannya meneliti ruang pertemuan yang kosong. Dalam beberapa jam ke depan, para bawahannya akan berkumpul di sini sebagai langkah awal berjaga-jaga ketika memasukkan pria tak dikenal tersebut ke dalam ruangan.
Hanya saja, di antara pembantunya itu, mungkin tidak ada satupun di antara mereka yag mampu dan bisa berdiri setara bersama dengannya.
"Aku harus menjadi lebih kuat," sosok bermata satu itu membalik badannya, menemui sinar matahari yang merembes masuk dari pintu kertas. "Tanah ini butuh orang kuat."
Sinar matahari yang menerpa matanya terasa ganas. Namun, Masamune tidak berpaling.
"Aku butuh–"
"Akan lebih mudah jika kau tidak melawan."
Kata-kata itu jelas bukanlah suatu hal yang ingin ia indahkan. Dalam kasus di mana dirinya sendiri hampir kehilangan hak untuk terus tinggal bebas tanpa paksaan, mana mau Minato ikut dengan seorang yang tidak dikenal (membawa pedang pula) hanya karena tuduhan bahwa dirinya mencuri? Arisato MInato hanya datang ke tempat ini tanpa benda apapun. Apa yang ia pakai saat ini mungkin adalah apa yang ia punya sekarang.
"Maaf pak, tapi saya tidak mengerti––"
Sialnya, justru kata-katanya itu membuat pria yang ada di depannya menarik gagang pedangnya. Dari kuda-kudanya, Minato memiliki perasaan buruk; kuda-kuda Iai adalah tipe kuda-kuda yang bisa membunuh orang dalam satu kali tebas.
"Ikut aku, atau mati di sini, bocah. Pilih."
Setidaknya pria tersebut membuat pilihannya menjadi sedikit lebih mudah. Tetap saja, hanya sedikit.
Minato hanya menahan napasnya sebentar, sebelum menghembuskannya dengan berat. Kedua tangannya naik ke atas; pada saat seperti ini, apa yang terbayang pada benaknya adalah... bagaimana caranya ia bisa merebut pedang yang tengah dipegang dan membalik keadaan.
Kuda-kuda dari si pemegang pedang itu membuatnya khawatir; apakah yang berdiri di hadapannya ini adalah seorang pria yang sudah menguasai jalan pedang?
Minato hanya mengangkat tangannya ke atas, seakan memberi sinyal bahwa ia akan pergi dengan baik-baik. Sosok yang berdiri di hadapannya sempat melemaskan kuda-kudanya dan melangkah maju.
Minato hanya butuh satu kelalaian.
Secepat kilat, bocah tersebut mengencangkan kuda-kudanya lagi. Tangan yang di atas dengan segera melaju untuk meraih pedang, sementara kaki menjejak tanah agar tubuhnya bisa melaju ke depan beberapa saat. Jarinya hampir menyentuh gagang pedang, sungguh, jika bukan karena sebuah dorongan keras dari samping kanannnya dan pukulan telak ke leher.
Bagaimana caranya ia terjerembab ke tanah, Minato tidak terlalu mengerti. Namun, adapun kata-kata tersekhir yang sempat sampai ke telinganya adalah tangis melengking–pasti milik Yukiko–dan seruan penuh permintaan ampun dari seorang Subaru. Sesuatu tentang permohonan agar ia tidak dibunuh–atau semacamnya.
Kepalanya terlalu sakit untuk berpikir. Minato membiarkan kegelapan menyelimuti pandangannya sekali lagi.
"Pengkhianat!"
"T-tolonglah, Katakura-sama! Tolong jangan bunuh dia!"
Kagetsuna rasanya ingin memenggal wanita ini di tempat dan membawakan kepalanya ke hadapan tuannya sebagai kompensasi dari kepala si pencuri ini, sungguh. Hanya saja, wanita yang mencoba menghentikannya ini (Subaru tengah memegangi gagang pedangnya saat ia mencoba memenggal bocah yang sudah terbaring tak berdaya di hadapannya) adalah salah satu calon selir dari tuannya.
Belum lagi, Yukiko sudah cukup baik untuk menabrak si pencuri tersebut dari sisinya. Setidaknya, mereka berdua sudah cukup membantunya dnegan baik dalam meringkus pencuri ini, tanpa harus ia suruh-suruh kembali. Mungkin kata 'pengkhianat' terlalu keras untuk wanita tersebut.
Bila ia memenggalnya di sana, yang tersisa pasti hanya tuannya yang mengamuk, atau kepala dirinya sendiri yang terpenggal. Kagetsuna tidak menginginkan keduanya, sama sekali.
Lantas, masih dalam amukannya yang tersembunyi, pria tersebut menyarungkan kembali pedangnya.
"Jika Date-sama mendengar kabar ini, kau tahu apa yang akan beliau lakukan, bukan?"
Kagetsuna sadar bahwa Subaru bergidik dalam diam. Tangis Yukiko setidaknya sudah sedikit berkurang; anak pintar. Subaru, wanita petani itu tahu konsekuensi dari menghalangi tuannya. Itu saja cukup.
"Tuan Date menginginkan anak ini dalam kondisi hidup. Kau sendiri yang bersaksi bahwa ia memiliki apa yang dipunyai tuan kita, bukan? Ia harus diperiksa," pria tersebut berujar sembari membungkuk untuk mengikat tangan dan kaki targetnya. Dengan dua tangannya, pria tersebut mengangkat sosok ke bahu.
"Saranku, Subaru-san," Kagetsuna berpaling sejenak pada wanita tersebut, "Jangan macam-macam."
Dan Kagetsuna berjalan keluar dari gubuk tua tersebut, meninggalkan Subaru yang kini terduduk lemas di tanah, sekarang menangis dalam diam. Wanita itu tahu bahwa waktunya takkan lama, jika tuannya menilai bahwa ia dan keluarganya tidak pantas untuk hidup.
"Heh. Tidak biasanya Toyotomi berbaik hati untuk mengirimkan salah satu pasukannya–salah satu yang paling loyal pula–untuk memberikan pesan, eh, Naoe?"
Kanetsugu benar-benar berusaha menahan diri untuk melemparkan jimatnya pada bocah yang ada di hadapannya ini, kemudian mempersembahkannya langsung pada Bishamonten, sungguh. Hideyoshi Toyotomi memang memintanya untuk meyakinkan daimyo wilayah utara, Masamune Date, untuk ikut dalam penyerangan ke kastil Odawara. Namun, bukan berarti pria tersebut menyukai misi tersebut; bernegosiasi dengan Masamune Date rasanya seperti meminta anjing untuk pindah loyalitas.
Lagipula, ia tidak suka dengan tabiat naga satu mata tersebut.
"Aku hanya sedikit bersilaturahmi. Meski harus kuakui, tujuanku datang ke sini memang dengan maksud tidak terlalu jauh dari apa yang kau katakan tadi." Kanetsugu Naoe membalas pernyataan pria tersebut dengan tenang. Mata coklatnya sempat melirik pintu kertas di samping kanan; putih dan merah muda beterbangan di udara, menghiasi langit biru yang wajar terlihat pada awal musim semi. Begitu tenang. Padahal di dalam Aizuwakamatsu, Kanetsugu tengah berusaha meyakinkan daimyo paling terkenal dan berpengaruh dari daerah utara.
"Tuan Hideyoshi memintamu untuk ikut operasi militer–" Kanetsugu membiarkan kata-katanya menggantung di udara, seakan memberikan sebuah penekanan, "–serangan langsung ke kastil Odawara, dari arah timur."
Ada keheningan yang menggantung di udara; Kanetsugu yang menunggu respon dari si naga mata satu, dan Masamune yang menunggu pria Uesugi tersebut untuk menyelesaikan kata-katanya. Kekakuan tersebut tidak membuat salah satu dari mereka terusik sama sekali; karena masing-masing dari mereka memiliki trik-trik di bawah tangan, jika saja kata-kata masing-masing dari mereka mulai teras mengancam keberadaan mereka berdua.
Keheningan tersebut berlanjut, sampai akhirnya seseorang membuka pintu masuk. Kagetsuna Katakura tampak bersujud di hadapan tuannya di luar ruangan. Pemimpin Uesugi tersebut mendadak bergidik, meskipun pada akhirnya ia menyegel kembali sikap tersebut dalam ekspresi kalemnya yang biasa.
Masamune sendiri menganggap bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mencairkan suasana.
"Masuk, Kojuuro. Kau punya kabar apa?" tanyanya singkat. Ajudannya tidak menghabiskan waktu untuk menjejak tatami dan masuk, berbisik di telinga tuannya sebentar, sebelum akhirnya membungkuk kembali dengan rasa hormat. Ekspresi Masamune Date berubah beberapa saat, dan mata pria yang telah menyatukan Oshu tersebut bergulir dalam rangkanya. Tangan melambai, dan Katakura pun kembali keluar dari ruangan.
Sebelah matanya kembali pada Kanetsugu, yang tampaknya tengah sibuk menilai ruangan si tuan kastil dan mengamati sebuah kotak berlambang keluarga Date. Detik itu juga, Masamune Date mengubah sikapnya–dan berdeham agak keras.
Kanetsugu kembali melirik pria tersebut, menunggu kepala Date itu mengucapkan kata-kata sesuai dengan yang ia inginkan–agar Masamune menolak permintaan Hideyoshi, dan Kanetsugu bisa membunuh orang ini di tempat sebelum ia menjadi marabahaya yang mengancam akan menghancurkan kehormatan.
"Sampaikan pada Hideyoshi bahwa keputusanku adalah menunggu," ada gertakan gigi di balik kata-katanya, juga lekuk bibir nan arogan, "Tentu saja anjing sepertimu, yang mengekor pada pria itu, bisa menyampaikan pesan singkat seperti itu, bukan?"
Tidak seperti harapannya, Kanetsugu tidak tampak terpancing. Meski harus ia akui, pemuda itu menatap tajam ke arahnya dan–mungkin ini hanya bayangannya saja–berharap tatapannya itu bisa menusuk dan membunuh naga sok tahu itu.
"Tentu saja aku akan menyampaikan amanah dari naga utara," Kanetsugu membalas, "bahwa ia tidak bersedia ikut dalam penyerangan ini." Ada sebuah kelegaan di nada Uesugi tersebut, disusul dengan senyum bengkok pertanda angkuh.
Masamune Date, Daimyo utara, tidak suka dengan pelecehan macam ini.
"Yasudah, itu saja bukan? Kau boleh kembali kepada tuanmu itu,"
"Heh, seakan aku tahan saja satu ruangan denganmu. Tipikal orang yang menyukai darah–"
Bunyi pistol yang ditarik dari sakunya, dan sabetan kertas dari haori terdengar lebih keras di tengah keheningan ruangan. Masamune Date sudah menarik senjata dan mengarahkannya pada kepala Kanetsugu, siap menembaknya di tempat bila perlu. Jika saja ia tahu bahwa kertas yang ditarik pria di seberangnya sudah ditulisi inkantasi pengeras, mungkin bocah naga tersebut akan berpikiran lain.
Lagipula, apalah arti teknologi di hadapan sihir dewa?
"Aku takkan menembak jika menjadi kau, Masamune. Kau takkan ingin mengotori lantai kastil ini dengan darahmu, bukan?" Kanetsugu mengumbarkan ancamannya. Tangan yang memegang jimat mengeratkan genggaman. Masamune tidak terpengaruh, karena senyum arogan menghiasi fitur wajahnya kembali–seakan dirinya memegang kendali atas semua ini.
"Lebih tepatnya, aku tak ingin mengotori kastil ini dengan darahmu–" tangannya menarik kembali senjatanya. "–atau tanahku, dengan darah anak buahmu, Uesugi."
Ia tahu dirinya menang, karena raut Kanetsugu beserta dengan kebesaran egonya segera berubah, seakan ia ingin mengutuk orang yang duduk di hadapannya itu dengan salah satu jimatnya. Sayangnya (atau justru syukurlah?) pria tersebut mampu menahan diri, mendengus keras dengan jijik. Kanetsugu Naoe bangkit dari tempatnya, tahu jelas bahwa ia harus pergi dari tempat itu.
Semenit tambahan bersama dengan Masamune Date membuatnya ingin mengamuk.
"Kau akan menyesali keputusanmu, Date," kata-katanya ia pastikan keras, sementara kaki jejakan kaki pada lantai seakan menegaskan kata-katanya. Mata Kanetsugu Naoe tidak tampak baik. "Aku yang akan menjaminnya,"
Begitu saja, dan ia sudah menghilang dari hadapan tuan tanah Oshu.
Masamune tidak sengaja menahan napasnya detik pria tersebut pergi dari ruangan, dan kemudian melepaskannya dengan sebuah gertakan tangan pada lantai. Kanetsugu Naoe tidak bermain-main dengan kata-katanya. Jika yang dimaksudnya adalah benar, setelah pendudukan Odawara, Hideyoshi akan mengincar tanahnya. Pria yang menjadi anak buah Kenshin Uesugi tersebut akan mencari cara untuk menjatuhkannya–dan keluarganya.
Satu keluarganya dalam bahaya.
"Masuk!"
Arisato Minato merasa dirinya sudah cukup diceburkan ke dalam jurang kesialan. Pertama, ia terdampar di Aizu (yang tampaknya tidak tumbuh secara merata?) tanpa jaringan kominikasi terdekat dengan teman-temannya. Kedua, seorang pria dengan pedang samurai memergoknya di rumah seorang keluarga petani, menyatakan bahwa dirinya ditangkap tanpa sebab (di mana polisi ketika ia membutuhkannya?), sebelum akhirnya menculik dan menaruhnya di sel kayu.
Bila ada yang ia syukuri, itu adalah fakta bahwa setidaknya beberapa pelayan yang tinggal di gedung ini berbaik hati untuk menggatikan pakaiannya yang kotor. Mereka sempat berujar tentang tuan mereka dan keluarga Date.
Pada saat itu juga, Minato merasa asing dengan dunia ini.
Pria bernama Katakura, orang yang sama dengan penculiknya, kemudian mengeluakannya dari sel kayu tersebut. Katanya, sesuatu tentang ia harus menghadap tuannya, dan agar ia berdoa pada Amaterasu agar ia tidak dipenggal. Arisato dapat merasakan bagaimana tanah yang dipijak berubah menjadi lantai kayu, saat mereka memasuki ruangan, dan bagaimana puluhan pedang dan tombak dipajang di sekujur tembok dalam gedung; tipikal dekorasi zaman kuno yang sudah ada sejak zaman perang antar-klan.
Pemuda yang kini berambut hitam ini tidak bisa menolak perasaan asing yang mulai merayapi indra-indra utamanya. Kali ini, seakan ada yang berbisik dengan pasti bahwa dirinya berada di tempat yang bukan semestinya.
Pria yang menangkapnya itu sudah cukup mendorongnya pergi dari tempat awal. Kali ini, apa yang ada di hadapan Arisato Minato sekarang adalah sebuah bilik kertas. Sinar yang keluar dari ruangan, meski temaram, terasa begitu melegakan, mungkin karena sejauh ini kepalanya selalu ditutup oleh karung goni.
Siang hari; Minato bahkan bisa merasakan panasnya matahari di udara.
Bilik kertas di hadapannya bergeser sedikit, memperlihatkan satu sosok yang ia kira hanya ada di lembar buku sejarahnya. Mungkin lebih tepatnya, apa yang ada di buku sejarahnya itu hanya mencakup baju samurai yang ada di sudut kanan ruangan, dekat dengan pintu keluar taman. Baju samurai itu berwarna hitam, dengan dalaman hijau dan satu logo keluarga yang telah mendominasi daerah Tohoku sejak lama. Helm hitam di dekat bajunya tampak ditaruh rapi, bersama dengan lapisan-lapisan baju, tak lupa dengan ciri khas bulan sabit pada bagian depan.
Mungkin bukan hanya baju itu saja yang terekam pada matanya, kemudian ditranslasi sebagai artefak sejarah. Sosok muda, tidak lebih tua daripada dirinya sendiri, menatapnya dengan intens lewat mata coklat dibalik helaian rambut. Seorang pemuda, dengan sebuah tatapan tajam luar biasa, ditambah dengan kosode putih, dan bermata satu.
Hanya satu nama yang terngiang pada otak pria berambut hitam ini: bahwa dirinya pasti sedang bermimpi, atau memang seseorang memutuskan untuk bermain dengannya sementara setelah ia turun ke dunia, sekali lagi.
Karena bagi Minato, sosok yang ada di hadapannya ini mungkin saja adalah sosok yang menjadi pionir perdagangan Jepang dengan pihak luar. Tapi hal macam itu tentunya tidak mungkin, bukan? Ia seharusnya turun ke dunia ketika waktu belum berjalan–justru ia seharusnya kembali ke masanya, bukan? Jadi, kemungkinan besar, sosok yang ada di hadapannya ini hanya berpura-pura menjadi sosok yang ada di bayangannya.
"Siapa kau? Aku ingin tahu bagaimana kau mengambil hartaku!"
Minato menggertakkan gig; suara yang terlampau tegas dari seornag lelaki dan setajam pedang yang ada di sudut ruangan. Detik itu juga, hilang semua prasangka bahwa sosok di hadapannya adalah orang lain.
Dia duduk bersimpuh di hadapan Masamune Date. Arisato Minato tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
[Bersambung]
Catatan penulis:
Turut berduka atas bencana yang baru saja menerpa Jepang dalam satu bulan terakhir ini. Daerah yang terkena amukan tsunami termasuk di antaranya Sendai, kota yang dirintis oleh Masamune Date tahun 1600. Semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan lebih agar bisa kembali maju, meski setelah diterpa amukan alam.
