Know before judging, because that looks beautiful is not always beautiful, and that looks bad is not always bad.

.

.

.

.

.

.

.

SEHUN POV.

" Luhan ... "

Aku mendengus geli mengingat apa yang kulakukan pada Luhan – lebih tepatnya pada leher Luhan tadi siang. Kenapa aku melakukan itu, dari sekian banyak hal yang dapat kuminta darinya mengapa aku malah meminta ehm lehernya. Aku bisa saja meminta Lykan Hypersport padanya mengingat dia bukan anak yang kekurangan, jangan tanya dari mana aku tau karena itu tertulis jelas di jidat Luhan yang sialnya mulus itu.

Apa sebenarnya yang merasukiku tadi ? Apa karena Luhan punya feromon yang kuat, jika benar begitu maka pria cantik itu cukup berbahaya. Tunggu, apa aku baru saja bilang kalau Luhan cantik. Oke, dia memang cantik tapi tidak secantik Miranda Kerr – atau setidaknya aku belum menyadarinya.

Tapi itu salahnya juga, kenapa dia diam diam memandangiku. Dan saat aku hendak menatapnya balik, yang kulihat malah dia – sedang menutup mata dengan peluh yang mengaliri sekitar kening dan pelipisnya. Bohong bila aku mengatakan dia tidak menggoda, nyatanya dia hampir saja membangkitkan sesuatu di balik segitiga pengamanku. Luhan sexy sekali saat itu.

Drrtt ... Drrtt ...

Aku bangun dari posisi telentangku dari kasur dan meraih sebuah ponsel yang terletak di atas nakas. Oh ternyata ponsel milik Luhan yang bergetar, tadi aku belum sempat mengembalikannya karena anak itu langsung berlari setelah menghadiahiku jitakan keras di kepala. Katanya itu untuk membalasku karena sudah berani berbuat mesum padanya.

Jemariku dengan spontan menggeser screenlock di layar ponselnya, aku ingin tau siapa yang mengiriminya pesan tengah malam begini. Oh Sehun tidak peduli soal privasi okey.

From : Byun Baekhyun

Hyung, maaf soal yang tadi siang. Aku diminta untuk cepat pulang, jadi aku meninggalkanmu. Jangan marah :*

Dan maaf juga baru menghubungimu sekarang. Bagaimana dengan Oh Sehun, apa saja yang dia lakukan tadi siang ?

Apa yang kulakukan tadi siang ? Kenapa orang ini ingin tahu ? Apa dia sedang memanfaatkan Luhan untuk memata mataiku. Jika memang iya,

Kau sudah memilih orang yang salah Byun Baekhyun.


LuhanLuu

Present story for debut

Anchor

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Other :

Byun Baekhyun

Do Kyungsoo

Kim Minseok

Genre : Romance, Drama, Friendship

Rate : M

Leght : Chaptered

YAOI

STORY FOR HUNHAN

.

.

.

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

.

.


AUTHOR POV.

Terlihat sesosok pria mungil keluar dari mobil yang berhenti di depan gerbang sebuah gedung sekolah internasional,dapat diketahui bahwa sosok tersebut sedang berada dalam mood yang buruk, terlihat sekali dari wajahnya yang cemberut, bibirnya yang mengerucut dan alisnya yang menukik serta jalannya yang penuh hentakan – ouh dan jangan lupa syal biru muda yang melingkari lehernya. Membuat wajah cantik – coret – tampannya tampak sedikit tenggelam, namun kelihatannya bagi murid murid disini hal itu malah membuat Luhan semakin menggemaskan.

Ya, itu Luhan.

Dia semakin cepat memacu langkahnya karena risih dengan tatapan tatapan penuh minat dari murid murid disini yang sudah pasti, ditujukan untuknya. Hampir saja dia memasuki kelas sebelum lengannya ditarik dan tubuhnya dipeluk paksa, namun bagi Luhan itu rasanya seperti sebuah tubrukan, bukan pelukan.

"Yakk Baekhyun, lepaskan! Apa apaan kau."

Luhan meronta, berusaha melepaskan diri dari Baekhyun namun sayangnya Baekhyun malah mengeratkan pelukannya. Demi Tuhan, badan Baekhyun itu cukup berisi dan sukses membuat rongga dadanya yang terhimpit ini menjadi sempit. Lagipula akan memalukan jika Luhan, kapten tim sepakbola Seoul Senior International High School mati sesak nafas karena dipeluk.

"Hyung, maafkan aku hyung. Jangan marah, aku kemarin terburu buru sekali jadi aku terpaksa pulang duluan. Maaf hyung."

"BAEKHYUN Hishh ..."

Akhirnya rusa manis itu bisa meloloskan diri dari pelukan maut Baekhyun, terlihat sekarang dia memasok oksigen banyak banyak untuk paru parunya yang terasa mengering.

"YA ! Aku marah padamu, gara gara kau kemarin aku jadi digigit serigala."

Ungkap Luhan bersungut sungut sambil menunjuk nunjuk hidung Baekhyun. Apalagi suaranya yang berubah menjadi melengking seperti perempuan membuat pandangan Baekhyun menjadi berkunang kunang.

Luhan ini bodoh atau apa, mana ada serigala dibiarkan berkeliaran di tengah kota. Mungkin kemarin Paman Kang – supir Luhan – merubah rute pulang menjadi melintasi hutan, sehingga mereka digigit serigala penjaga hutan. Tapi ini jelas tidak mungkin, mana mau Luhan diajak memutar puluhan kilometer hanya untuk pulang.

"Jangan mengarang hyung. Mana ada serigala yang mau menggigit makhluk manja sepertimu."

Hell. Mana ada serigala yang mau menggigitku ? ADA ! Serigala Sehun – inner Luhan.

"Hyung, kenapa kau memakai syal ? ini bahkan belum masuk musim dingin. Kau sakit ?"

Tangan Baekhyun menarik narik syal biru muda Luhan, namun dengan cepat Luhan menepis tangan Baekhyun. Gawat kalau sampai melorot, bisa bisa dia seharian direcoki oleh Baekhyun karena dikira habis bercinta. Padahal Luhan kan tidak bercinta, dia hanya habis digigit serigala. Lagipula bercinta ? Dengan Oh Sehun ? Big NO ! Luhan mendengus.

"Tentu saja aku sakit, aku kan habis digigit serigala !"

Baekhyun memutar bola matanya malas. Lelah sekali menghadapi manusia abnormal macam Luhan.

"Hyung, kalau kau benar benar digigit serigala harusnya kau sudah mati. Atau paling tidak sekarang kau sedang sekarat di rumah sakit."

Luhan melotot.

"OH jadi kau ingin aku cepat mati, teman macam apa kau. Baiklah, jangan pernah menemuiku lagi Baekhyun menyebalkan."

Dan dengan itu, Luhan memasuki kelas dengan sungut rusa di kepalanya sambil menghentak hentakan kakinya. Tanpa mempedulikan tatapan seisi kelas yang sangat ingin membungkusnya lalu membawanya pulang.

Sedangkan di luar, Baekhyun hanya melongo sambil berkedip, tidak paham dengan tingkah temannya yang lebih tua 2minggu darinya itu.

"Apa yang salah ?"


LUHAN POV.

"Xi Luhan ..."

Aku gelagapan saat Im seonsaengnim memanggil namaku, dengan segera aku mengangkat wajahku dan membenahi posisi dudukku. Aku terlalu lama melamun hingga tak sadar aku sudah menulusupkan wajahku pada lipatan lenganku.

"Ne seonsaengnim"

Untung saja suaraku tidak bergetar meskipun faktanya aku sedang gugup sekarang. Tanganku berkeringat saat Im seonsaengnim memandangiku, apa yang salah dari penampilanku. Kurasa aku tetap mempesona seperti biasanya.

"Luhan, kenapa kau memakai syal ? Kau sakit ?"

Ding dong. Apa yang harus kukatakan, masa aku harus bilang kalau aku digigit serigala. Itu tidak lucu, tapi tidak mungkin juga aku bilang "Saya sedang menutupi kissmark di leher saya, seonsaengnim." Gantung saja aku kalau begitu.

"eh ... anoo .. itu seon – "

Baru saja aku akan beralasan kalau aku sedang demam, tapi suara seseorang memotong ucapanku.

"Kau tidak sedang menutupi kissmark di lehermu kan Luhan ?"

Bangsat kau Oh Sehun. Aku ingin sekali memotong kecil kecil tubuhnya lalu melumurinya dengan tepung, setelah itu aku akan menggorengnya. Itu akan kujadikan sarapanku selama sebulan. Sadis

"Wah, jadi Luhan kita yang polos sudah berani bercinta sekarang !"

"Bagaimana rasanya ? apa itu sakit Luhan ?"

"Siapa yang menjadi seme mu ? ayo katakan !"

Seketika suara riuh memenuhi kelasku, berbagai macam pertanyaan vulgar terus bersahutan membuat mukaku semakin memerah karena malu dan emosi. Aku terus saja merunduk sambil mengumpat. Oh Bastard Sehun.

"AKU TIDAK BERCINTA !"

Mati kau setelah ini Sehun.


Kriiiingggg ...

Akhirnya pelajaran terakhir selesai. Terlihat anak anak lain tengah mengemasi barang barang mereka dan beranjak pulang. Semua beranjak, kecuali aku dan ...

Oh Sehun.

Dia pulang telat lagi ? apa sebenarnya yang dilakukannya disini. Tapi kebetulan sekali dia masih disini, saatnya pembalasan. Aku melangkahkan kakiku mendekati tempat duduknya,

BRAKK

Aku menggebrak mejanya tepat di depan mukanya, kupikir dia akan kaget lalu mengomeliku tapi tanggapannya tidak sesuai harapanku. Dia hanya diam dan memandang dalam kedua mataku sambil memasang wajah datar andalannya. Sumpah, stoic face Sehun lebih menjengkelkan dari apapun.

"Kembalikan ponselku. Sekarang !"

Aku mengadahkan tangan kananku tepat di bawah dagunya. Tapi dia hanya diam sambil terus menatapi mataku, aku balik menatapnya sambil memelototkan mataku garang, namun itu malah membuatnya terkekeh.

"Kenapa kau malah tertawa ? hah ?"

Sehun tersenyum miring. Tangannya meraih telapak tanganku yang berada di bawah dagunya. Dia mengangkatnya, di luar dugaan dia mulai mengecupi jari jariku. Aku hanya terdiam, masih memproses apa yang sedang dilakukan Sehun. Perlahan dia mengulum telunjukku dengan lembut, sangat lembut seperti saat sedang memakan permen kapas.

Bisa kurasakan lidahnya melingkupi jemari jemariku saat ia tengah mengulumnya bergantian. Sehun terlihat sangat menikmati kegiatannya pada jari jariku, bahkan Sehun sempat menutup matanya sejenak ketika menghisap kuat kelingkingku.

Tangannya menggerakkan jemariku yang sudah basah dengan salivanya untuk menelusuri bibirnya, mulai dari sudut hingga seluruhnya tanpa terlewat, dan setelah itu kelima jariku berakhir di rongga mulutnya.

"Aaghh ..."

Aku tanpa sengaja memekik saat Sehun terlalu kuat mengisap kelima jariku. Tubuhku mulai berkeringat dan gemetar, kakiku serasa tidak menapak di lantai sekarang. Aku ingin pingsan saat ini, hwaaa ... Mama.

"Sehuun ... ngh lepass shh sakiit engh."

Aku mulai merasakan nyeri pada jari jariku, Sehun semakin brutal menggarap tanganku, hisapannya semakin lama semakin keras. Ini membuatku tidak nyaman, aku mulai mencoba menarik keluar jari jariku dari mulutnya, tapi sepertinya Sehun belum ingin ini berakhir.

Dia sengaja menggigit kecil jari jariku di rongga mulutnya, terlihat seperti dia sedang mengunyah makanan namun kali ini dia melakukannya sambil menatap dalam mataku. Iris hitamnya itu seolah menyuruhku agar tetap tenang sekaligus memancarkan kelembutan serta kekuasaan yang tidak terbantahkan.

"Emmh ngh Seh – ah Sehuun."

Setelah beberapa saat, Sehun mengeluarkan jemariku dari mulutnya. Aku pikir aku bisa bernafas lega, tapi ternyata belum. Dia mulai menjilati pergelangan tanganku, memutarinya dengan lidahnya lalu berhenti tepat di samping nadi ku. Sehun menghisap dan menggigit titik itu hingga menimbulkan ruam kunguan, yang lebih terlihat seperti memar.

"Aaahh enggh mmh."

Dan setelah itu Sehun benar benar melepaskan tanganku. Aku yakin sekarang pipiku tengah benar benar merah dengan peluh yang jelas sekali terasa mengaliri pelipisku. Sampai menarik tanganku kembali saja aku tidak sanggup.

Sehun bangkit dari kursinya dan mendekat ke arahku, tangannya telulur untuk menyeka keringat di pelipisku lalu dia memajukan wajahnya mendekat, mengecup pelipisku sekilas.

"Kau harus tau kalau kalau terlihat sangat cantik sekarang – "

Dia menyelipkan rambutku ke belakang telingaku dan merapikan anak rambutku yang sedikit berantakan. Kulihat dia sedang merogoh saku blazernya dan mengeluarkan sesuatu. Ponselku.

"Aku kembalikan ini."

Sehun meletakkan ponselku di telapak tanganku yang masih sedikit gemetar, setelah itu dia sedikit mengambil jarak dariku. Ada perasaan senang saat aku melihat dia tersenyum begitu manis kepadaku, seperti sekarang. Eyesmilenya benar benar indah, aku tertegun melihat dia bisa memasang ekspresi selain muka temboknya yang menyebalkan. Ingin sekali aku membalas senyumannya jika saja,

"Luhan hyung ..."


BAEKHYUN POV.

Aku sedang dalam perjalanan menuju kelas Luhan, okey aku sadar. Setelah tadi aku merenung di kelas, ternyata tadi pagi aku memang salah bicara padanya, pantas saja dia marah. Secara tidak langsung mungkin Luhan menganggapku menginginkan dia agar cepat mati, wajar dia berang. Tapi itu kan hanya perumpaan. Aku tidak sekejam itu hingga menginginkan temanku mati, yah meskipun terkadang dia sangat menyebalkan hingga membuatku ingin sekali mencekiknya.

Jadi, aku sekarang berencana minta maaf pada Luhan hyung. Aku tidak tega melihatnya merajuk seperti tadi. Sudah sampai aku di depan kelasnya dan aku memutuskan untuk langsung masuk ke dalam.

"Luhan hyung ..."

Aku melihat dua orang yang tengah berdiri disana menoleh padaku. Disana Luhan hyung sedang bersama dengan ...

Oh Sehun.

Kenapa Sehun masih disini ? waktu pulang sekolah sudah terlewat sejak tadi, dan apa yang dia lakukan bersama Luhan ?

"Baekhyun ..."

Teriak Luhan hyung sambil berlari ke arahku dengan tangan yang direntangkan sangat lebar. Oh ini buruk, jangan bilang dia mau balas dendam padaku soal tadi pagi.

Dan tidak beberapa lama, kurasakan tubuhku ditubruk dengan tidak berperikemanusiaan oleh Luhan. Sial, ini sakit sekali. Tulangku sepertinya mengalami pergeseran.

"Hwaaa ... Baekki. Dia jahat kepadaku, aku mau pulang saja Baekki hiks ..."

Luhan hyung merengek dalam pelukanku sambil tangannya sesekali menuding ke arah Sehun, namun tidak berapa lama aku merasakan dia berbisik pelan – sangat pelan di telingaku,

"Baekki, aku benar benar mau pulang setelah ini. Kau temani Sehun disini okey ! Berusahalah Baekki, aku sudah susah payah merencakan ini untukmu."

Aku terhenyak, Luhan hyung melakukan ini untukku. Dia berusaha menciptakan waktu berdua untukku dan Sehun. Aku tidak percaya dia benar benar bekerja keras untuk membantuku mendekati Oh Sehun. Ohh aku jadi semakin menyesali kata kataku padanya tadi.

Aku memeluk Luhan hyung semakin erat dan menelusupkan kepalaku di lehernya, kemudian aku berbisik padanya,

"Terimakasih banyak hyung. Aku menyayangimu."

Aku mendengar samar gumamannya, yang aku yakin bunyinya seperti ini "aku juga menyanyangi Baekki". Luhan hyung melonggarkan pelukan kami dan kembali memasang wajah cemberutnya yang sangat lucu, spontan saja aku mencubit gemas pipi gembulnya itu dan membuatnya berteriak.

"Baekki sakit !"

Aku tertawa, kulihat Luhan hyung juga tertawa. Lalu kemudian kami tertawa sambil berpelukan lagi hingga berputar putar.

"Hahh ... sudah ya Baekki. Aku mau pulang, kurasa paman Kang sudang menunggu dari tadi."

Nafas kami sedikit tersegal karena terlalu lama tertawa. Luhan hyung mencium pipiku sekilas sebelum dia benar benar pergi dan meninggalkan aku bersama oh –

Aku lupa jika Sehun masih disini. Pasti dia merasa aneh melihat tingkah bayiku lan Luhan hyung tadi. Sial, aku malu sekali. Aku hanya terus berdiri dan menunduk, ubin ini rasanya lebih menyenangkan untuk ditatap daripada wajah Sehun. Perlahan aku mendengar langkah kaki mendekat ke arahku. Duh, mau apa Sehun.

"Jadi, kau yang bernama Byun Baekhyun ?"

Luhan hyung ...

Selamatkan aku.


To be continue

Hallo !

Saya kembali dengan membawa chapter 2.

Yah meskipun yang ngeriview chapter 1 ngga sampek 10 orang, tapi saya berterima kasih sekali. Karena sebenarnya visitor cerita ini mencapai 105 orang, walaupun 95 diantaranya itu silent readers.

Saya nulis chapter ini untuk kalian yang masih mengharapkan saya melanjutkan cerita ini. Terima kasih sekali para reviewers :*

Ini termasuk fast update kan yaa ? Haha :D

Updatetan pertama di tahun baru buat saya. Saya masih mengharap support dan komentar kalian. Saranghae !

See you ~

LuhanLuu

160101 – 13:00