Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :

Guest—*angkat tangan!* Baru kemarin2, saya nonton ZnT. Nyesek di ending-nya masih kerasa. Sebenarnya teka-teki itu udah agak klise. Sebelum muncul di ZnT, saya memang udah dapatnya di manga jadul (lupa judulnya). Terima kasih ya review-nya.
HanamitaIya, saya juga kangen fiction HitsuRuki. Semoga author pairing ini pada balik. Terima kasih review-nya, Hana-san.
Oh. ILoveCupcake—
Kakaaaaaaaaaaaaak#larinerjangmeluk Iya, baru dapat mood dan waktunya sekarang, baru bisa betul-betul bebas nulis. Saya gak tau lagi selain HitsuRuki di fandom ini, hehehe. Terima kasih, ya, Kak, udah nyempetin review. Selalu berkesan deh.

Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya): Yuki ChibiHitsu-chan


Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo
Warning: author yg kembali jadi newbie, bahasa kaku, diksi mengenaskan

Pairing: HitsuRuki dan pasangan lain

.

.

.

.

.

"Serendah itu?"

"Iya. Tiga ratus tahun, Rukia-chan, gaji para penjaga gerbang itu-itu saja. Tidak pernah naik."

Jidanbou sang Hokutoumon, Penjaga Gerbang Barat, curhat soal gaji dengan antusias. Ia senang, akhirnya ada Dewa Kematian, pangkat letnan pula yang mendengarkan keluhannya dengan serius.

Lihat saja, si gadis mungil menggemaskan sedang memagut dagu, berpikir dengan saksama.

Kepala Rukia lalu mendongak. "Aku akan mendiskusikan ini pada Ukitake-taichou. Tapi, jangan berharap banyak ya, Jidanbou-san. Bagian administrasi pusat divisi pertama-lah yang mengurus soal gaji para non-Shinigami."

"Tidak apa-apa. Kau mendengar keluhanku saja, aku sudah senang."

Rukia tersenyum seadanya, memijat sisi leher. Mengobrol dengan si raksasa melelahkan juga, lehernya pegal ditarik ke atas begitu lama.

Bokong Jidanbo kepanasan. Sudah hampir setengah jam ia duduk saat kedatangan si mungil. Jarang sekali ia duduk selama itu. Matanya jadi panik menyapu sekeliling. "Kenapa Toushiro lama sekali?" niatnya bergumam, tapi gagal dengan memiliki suara super lantang dari lahir.

Rukia menyandarkan punggung pada dinding. Tersenyum saja, sendu.

Tidak ada yang menanggapi, Jidanbou menunduk. "Jangan cemas, Rukia-chan. Toushiro tidak akan membatalkan janji sampai lima kali."

Rasa-rasanya si mungil ingin tertawa. Iya, sudah lima kali (paling tidak, saat ada Jidanbou berjaga di gerbang barat), ia menunggu dan berujung pada kecewa. Tapi, catatan betulnya adalah delapan belas kali dalam tiga tahun.

Belasan rombongan Shinigami melewati gerbang, mayoritas gadis remaja (sepertinya murid akademi), ada juga dari Batalion 13 dengan pangkat bawah. Beberapa di antaranya memberi hormat, dan tidak ada yang bertanya siapa yang Rukia tunggu. Mungkin ini bukan pertama kali mendapati si letnan berdiri menanti tanpa jemu.

Kaki kiri bersandal merah mencolok ia tumpukan pada kaki kanan. Tapak sandal kasar mencium kulit yang pucat membiru. Ia dingin, ia rindu kehangatan. Dan sebaris panggilan yang menghampiri membuatnya menoleh, menarik punggung dari dinding.

"Ku-Kuchiki-fukutaichou…"

Pria itu bernama Takezoe-nanaseki. Salah satu bawahan kepercayaan si kapten jenius. Dan juga pria yang tak resmi merangkap jadi kurir pesan Toushiro.

"Hitsugaya-taichou tidak datang, kan?" Rukia masih belum terbiasa bertanya begitu meski sudah sampai belasan kali.

Takezoe menunduk malu. Ia tidak tahu lagi bagaimana memasang muka pada si letnan mungil. Ia merasa seperti pembawa pesan kematian. Tidak ada satu pun pesan menggembirakan sepanjang karir kurirnya. "Mendadak ada rapat di divisi pertama. Hitsugaya-taichou dan Hirako-taichou, mereka―"

"Aku mengerti."

Takezoe betul-betul takut sekarang. Ia kesulitan mengangkat wajah. Ini kali pertama, sang letnan memotong pesan yang ia sampaikan.

"Ka-kalau begitu, saya permisi." Ujung-ujungnya, ia hengkang pergi tanpa melihat raut berusaha―atau raut terpaksa tegar Rukia. Yang paling buruk dari kesedihan adalah ekpresi kuat di antara nelangsa.

Pandangan kasihan nan peduli Jidanbou jadi milik sosok kecil di bawah sana.

"Jidanbou-san…" si raksasa menunggu "…bisa menemaniku mengobrol sebentar lagi."

"Tentu saja, Rukia-chan. Sampai tengah malam pun, aku akan menemanimu."


#2#

.

Daffodil - mystery, egoism


Ada yang salah. Toushiro tahu itu. Tapi, ia tidak tahu apanya yang salah. Itu seperti kau memperbaiki mesin sesuai dengan panduan buku dari langkah pertama hingga akhir, dan mesin tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Tapi karena pengalaman panjangmu, kau tahu ada yang aneh.

Perasaan sama untuk Toushiro sebagai Shinigami.

"Aku akan menghadiri langsung final turnamen."

Sepasang mata Shinji Hirako membulat kaget, murni terkejut. Jarang sekali Soutaichou turun langsung ke turnamen akademi. Jangan-jangan yang dikatakan Ukitake petang tadi soal keberadaan murid jenius di akademi benar adanya.

"Kesuksesan turnamen ini berada di tangan kalian. Rampungkan dan sempurnakan. Sisa satu bulan lagi."

Shinji menyahut malas. Si kakek suka sekali membuat orang tidak tidur nyenyak. Meminta merampungkan proyek dengan hanya satu bulan dan cuma dua divisi yang mengepalai? Selamat, Anda beruntung.

"Aku tidak mendengar suaramu, Hitsugaya-taichou."

Shinji melirik saja. Si kapten muda tenggelam dalam dunianya. Lama sekali, baru menyahut. "Iya, aku akan melakukannya."

"'Kami', maksudmu," Shinji meralat.

Toushiro tidak berselera adu kata dengan si pirang rata. Yama-jii kemudian menyuruh bubar, hengkang pergi dari ruangan kebesaran komandan Batalion 13. Sepasang kapten mundur teratur, Toushiro luput dari pandangan si kakek yang mengamatinya penuh perhitungan.

"Satu bulan akan jadi neraka." Shinji mengeluh. Pirang lurusnya berayun disapa angin, juga tengkuknya. Merapatkan sepasang lengan, mengeluh diam, kenapa musim panas, tapi dingin sekali.

"Jangan terlalu merepotkan Hinamori."

"Jangan terlalu peduli pada perempuan lain. Itu akan merepotkan Rukia-chan."

Hirako betul-betul suka memancing emosinya. "Bukan begitu maksudku. Aku hanya―."

"Dan jangan terlalu percaya diri. Tidak semuanya bisa kau atasi seorang diri."

"…Apa?"

"Itu akan lebih merepotkan Rukia-chan. Selamat malam, Toushiro-taichou."

Shinji memilih cara beken angkat kaki dari gedung, ber-shunpo dari satu atap ke atap lain, walau ujung-ujungnya tersandung genteng dan jatuh mencium tanah dengan tidak bekennya.

Cahaya pucat bulan menyiram tubuh Toushiro. Ia bergumam pada bayangan dirinya, "…Yang benar Hitsugaya-taichou."


. . . . .


"Oi, Anak Muda, bisa temani fukutaichou-mu pulang?"

Sudah berkali-kali Rukia bilang pada Jidanbou kalau ia bisa pulang sendiri. Ia Shinigami, ia letnan. Tapi, kecemasan Jidanbou seperti kloning Toushiro. Tidak membiarkannya pulang sendirian karena ia perempuan.

Siluet laki-laki itu mendekat. Tinggi dan postur badan yang seperti Ichigo tampak familiar, juga rambut jabriknya. Cahaya rembulan menolong Rukia mengenali pasti sosok yang sudah lama sekali tidak ia temui.

"A-Ashido?"

"Rukia?"

Bukan hal biasa. Kali pertama, bukan Renji atau Toushiro yang mengantarnya pulang. Namun, Rukia kelewat senang memikirkan hal itu lebih jauh. Puluhan tahun tidak bersua muka, membuat perasaannya menggebu-gebu berbincang dengan sobat lama.

"Kuchiki-fukutaichou, senang bertemu Anda lagi."

"A-Ashido, berhentilah menggodaku."

Ini bukan kali pertama Ashido bertemu Rukia setelah diselamatkan di Hueco Mundo oleh si mungil. Sudah beberapa kali, tapi itu sepintas lalu atau menegur sekadarnya. Mereka tidak punya waktu mengobrol banyak. Terlebih, setelah ia memutuskan kembali menjadi Shigami pengelana, mengembara di sekujur Rukongai membasmi Hollow sepanjang tahun, tanpa sempat pulang ke Seireitei. Kalau sempat, paling satu-dua hari.

"Kuchiki-fukutaichou, senang bertemu Anda lagi."

"Woi!"

Namun, ini kali pertama Ashido betul-betul bisa memanggil Rukia dengan panggilan semestinya, meski sudah saban tahu promosi jabatan si bangsawan.

"Panggil aku Rukia saja." Si mungil berwajah malu.

"Baiklah, jika itu keinginanmu, Kuchiki-fukutaichou."

Lama-lama, kesabaran Rukia tandas juga.

"Kali ini, kau berapa hari di sini, Ashido?"

"Rencananya besok aku sudah pulang," si merah mengamati penampilan Rukia. Nona itu tampaknya berniat ke festival, namun tidak jadi, "hanya saja, tiba-tiba Hinamori-fukutaichou memintaku di sini selama sebulan untuk ikut serta dalam turnamen akademi. Mau bagaimana lagi."

Ashido adalah anggota divisi ke-5, yang semula diberitakan gugur di medan tempur. Tapi, pulang dengan selamat dan memutuskan kembali ke divisi yang menaunginya.

"Turnamen Musim Panas…" Rukia bergumam.

"Iya. Divisiku dan divisi ke-10 yang mengepalai proyek itu."

Pantas saja.

Mereka lalu melewati perempatan, persimpangan terakhir menuju distrik bangsawan; luput dari empat siluet wanita di satu sisi jalan.

"Ruc―" Matsumoto membekap mulut Yachiru, menyeretnya ke balik dinding. Hampir lupa menarik Isane dan Kiyone, yang memilih mematung seperti orang beloon.

"Aku pasti salah lihat. Kuchiki-san … bersama dengan laki-laki yang bukan Hitsugaya-taichou." Kiyone masih tidak percaya. "Iya, kan, Onee-chan?"

Isane tidak tahu mau menjawab apa. "Mu-mungkin, Kiyone. Pemandangan kalau malam kan, tidak jelas."

Kalau Rangiku, ia yakin kalau tadi itu betul adanya. Kontan menjerit sakit, Yachiru menggigit jarinya gara-gara anak itu hampir kehilangan nyawa kehabisan napas.

Rangiku percaya pada Rukia sama besar kepercayaannya pada Hitsugaya. Sayangnya, ia tidak percaya pada level kecemburuan Toushiro bila memergoki hal barusan. Ia berharap si putih tidak salah paham.


. . . . .


"Iya, saya paham."

Toushiro menengadah. Perkataan Matsumoto tidak selaras sorot matanya. Wanita itu memandang keluar jendela ... melamun. "Oi, Matsumoto, matamu ke sini, bukan ke luar."

Perhatian Rangiku kembali padanya. "Nah, Taichou, Anda―" Anda lewat distrik bangsawan kemarin malam, tidak? Tapi, ia memilih, "tampak segar hari ini. Pertahankan itu. Saya permisi." Lalu pergi membawa map, meninggalkan Toushiro yang terbengong-bengong dungu. Sebelum tahu kalau Rangiku membawa map yang salah.

"Woi, Matsumo―" Toushiro berlari keluar, hampir saja menabrak sosok tinggi menjulang Ukitake.

"Pagi-pagi sudah semangat. Selamat pagi, Hitsugaya-taichou."

Ukitake―berarti ada … Rukia berdiri sejengkal di belakang si kapten bijak. Sosok mungil rapuhnya tersembunyi di balik figur pelindung kaptennya. Menunggu seseorang menariknya keluar dari tempurung.

Ukitake tersenyum ribuan arti, lalu melangkah masuk. Rukia mengikuti, melewati Hitsugaya yang berdiri di ambang pintu. Hampir saja Toushiro menarik si mungil ke dalam pelukan dan melantungkan kata maaf. Masuk mengekori pada akhirnya, ia sudah lupa pada Matsumoto yang berdiri tidak jauh sedari tadi.

"Rasanya sudah lama sekali tidak ke sini." Sudah tiga bulan, Ukitake tidak keluar dari penangkaran nyamannya bernama ugendou. Sampai jenuh dengan yang namanya tidur.

Ia menyeruput teh hijau buatan Rukia. Gadis itu duduk di sofa yang sama dengan Hitsugaya, berseberangan darinya, mengapit meja kayu berpelitur mengkilat.

Diam-diam, Toushiro melirik si bangsawan. Tangannya menggeliat gelisah di antara genggaman. Ada apa dengannya? Kenapa ia begitu berhasrat menarik Rukia ke sisinya, menghapuskan jarak selengan yang tercipta?

"Kau sedikit kejam, Hitsugaya-taichou, jarang menjengukku." Ukitake merajuk, lucu juga mendapati orang berumur mengeluh begitu. Tehnya sudah habis tiga per empat, teh buatan si letnan tidak pernah mengecewakan.

"Jika ingatanmu sedikit terganggu, Ukitake, aku mengunjungimu lima hari yang lalu."

Maksud Ukitake adalah menjenguk, bukan berkunjung. Berarti harus membawa buah tangan untuk membesut orang sakit. Permen dan coklat adalah pilihan terbaik.

Mata hangat Juushiro menyapu sekujur kantor. Ia merasa badannya akan encok kalau berdiam diri saja. "Apa aku boleh berkeliling markasmu, Hitsugaya-taichou?" Ukitake bangkit meski belum dipersilakan. Ia kelihatan kepayahan. Rukia mau membantu, tapi si kapten menolak lewat sorot matanya.

"Markasku bukan tempat wisata, Ukitake. Apalagi, tidak ada apa pun yang bisa kau lihat di sini."

"Ukitake-taichou hanya ingin berjalan-jalan," Rukia menjawab setengah menoleh, seolah menolak untuk menatap mata hijaunya langsung. "Lama tidak keluar markas, dia rindu lingkungan divisi lain. Divisi Anda yang pertama."

Ini seperti mengunjungi tempat wisata karena mendekam terlalu lama di rumah. Dan divisi ke-10 adalah list pertama kunjungan wisata Ukitake.

"Baiklah kalau―"

"Ah, kau tidak perlu repot-repot, Hitsugaya-taichou." Toushiro tidak jadi meninggalkan sofanya. "Matsumoto-fukutaichou bisa menemaniku. Bagaimana, Matsumoto-fukutaichou?" Ukitake berteriak pada Rangiku yang bersembunyi di dinding terdekat.

Kali ini rekor menguping Matsumoto yang seratus persen sukses pecah telur juga. Melangkah keluar dengan kikuk, ketangkap basah. "Tentu saja ... Ukitake-taichou. Dengan senang hati."

Si wanita berbadan makmur mengabaikan sorotan singa Toushiro. 'Kau menguping apa, Matsumoto?'.

Mereka lalu beranjak, meninggalkan sepasang Shinigami dengan sejuta hawa canggung.


. . . . .


"Canggung?"

"Kau benar, Nanao-chan. Kau memang hebat." Kyouraku mengisi teka-teki silang di meja. Tinggal dua pertanyaan lagi dan ia akan memenangkan satu kardus sake berkualitas tinggi. Jangan bilang-bilang pada Nanao.

Tangan menopang dagu, si cantik bermata empat memikirkan sesuatu. "Kyouraku-taichou, saya sepertinya sudah menyinggung seseorang."

Shunsui mengangkat muka, serius sekali. "Apa kau bilang kalau dadanya besar, padahal dadanya rata?"

Buah jambu berasap langsung tumbuh di kepala Kyouraku.

"Kuchiki-fukutaichou... Saat kumpul-kumpul di komunitas, saya merasa saya sudah menyinggungnya." Walaupun ia juga tidak tahu pasti apa itu.

"Kau menyinggung soal itu pada Rukia-chan? Kau kejam, Nanao-chan."

Jambu kedua tubuh di sana, lebih merah menggoda.

"Saya menyinggungnya soal dia dan Hitsugaya-taichou, Taichou!"

"Ah, itu lebih kejam lagi."

Nanao mau bertanya apa maksudnya, tapi Kyouraku membacakan kalimat untuk teka-teki berikutnya.

'sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak'

"Jenuh?"

"Huruf awalnya B, terdiri atas lima huruf."

"Bosan."

Nanao benar lagi.

"Aku berharap Rukia-chan tidak bosan menunggu. Kalau seperti itu, yang malang adalah mereka berdua."

Nanao ingin bilang kalau lebih baik kaptennya jadi pembuat teka-teki. Ia sama sekali tidak paham.

Kyouraku membacakan teka-teki silang selanjutnya.

'suka sekali, sayang benar; kasih sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan); ingin sekali, berharap sekali, rindu; susah hati (khawatir), risau'

"Ci―"

"Cinta."

Kalau yang ini Kyouraku ahlinya. Menyandarkan pungguh penuh pada kepala kursi, ia tampak puas.

"Kata yang indah sebagai penutup," gumamnya. "Sayang, kata indah itu harus ditukar dengan sake."

"Apa?!"

Sial.


. . . . .


Sial!

Sudah sepuluh menit, dan tidak ada apa pun yang terjadi. Rukia langsung keluar duduk di tepi koridor, memunggunginya. Dan dirinya, duduk menghabiskan secangkir teh seperti orang konyol.

"Rukia, masuklah. Di luar dingin." Ini masih pukul 07.30 pagi.

"Tidak apa-apa. Saya di sini saja."

Segunung kesabaran itu seakan meleleh dalam satuan detik. Tahu-tahu saja, lima jari Toushiro terbang menyergap lengan Rukia, memaksanya berdiri. Mengabaikan paras protes si bangsawan, dan membawanya masuk kantor. Tidak acuh pada bawahan yang memergoki, bertanya-tanya. Menutup pintu hingga berdebam, rapat, secuil cahaya pun tidak bisa lolos masuk.

Rukia tidak sempat berkata-kata, laki-laki itu sudah melepaskannya. Si mungil tersengat kaget, napasnya naik-turun tidak stabil. Toushiro tidak pernah bertindak sekasar itu.

"Maaf."

Rukia tidak tahu Hitsugaya-taichou minta maaf untuk tingkahnya tadi, minta maaf untuk semalam, atau minta maaf selama tiga tahun ini.

Jarak dua pasang kaki memendek seiring waktu. Toushiro maju mengeliminasi; Rukia mundur menabrak pintu. Wajah kuyunya bersembunyi di balik tirai rambut hitam. Satu tangan melesak maju, telapak mendekam tepat di sisi kepalanya.

"Rukia..."

Napas segar Toushiro berembus rindu bagaikan arus angin di awal musim dingin. Mata ungu tertutup, bersembunyi dari dunia, gentar untuk menjemput nyata.

"Apa yang harus kulakukan, Rukia?"

Segenggam kerikil tampak berkumpul di kerongkongan. "Jangan ... jangan bertanya pada saya... Saya juga tidak tahu."

Si putih menyusupkan kepala ke cekungan leher si hitam. Ibarat singa jantan yang meminta perhatian betinanya. Bermanja, mengutarakan sakit. Rukia bergidik, napas menggelitik kulit seperti memainkan pucuk putih dandelion.

"Maaf, untuk semalam."

Sudah ribuan kali kata maaf terlantung, dan itu kadang hampir membuat Rukia tuli.

"Maaf, jika hubungan ini membuatmu bosan."

Tolong, jangan itu lagi. Si kapten betul-betul salah memandang hubungan mereka. "Saya―"

"Tolong ... jangan meninggalkanku."

Manik ungu terbuka menyambut dunia, meski masih ragu akan nyata. Di mana si kapten mendapatkan ide itu?

"Kau terlihat dekat dengannya."

Eh?

Rukia mengangkat wajah berisi sejumput tanya; dijemput oleh sepasang mata hijau kemilau, namun rapuh, ringkih, dan sakit.

"Shinigami pengelana, Ashido Kano. Itu namanya, iya, kan?"


To be continued…


.

.

.

.

.

A/N:

Karena saya sudah lama gak baca manga-nya (cuma beberapa chapter terakhir), ada yg tau gak Shinji manggil Toushiro apa? Toushiro saja , Toushiro-taichou atau Htsugaya-taichou?

Lalu jika ada yg heran kenapa posisi para pemangku jabatan di Batalion 13 tidak berubah seperti manga-nya (masih ada Ukitake, bukan Kyouraku yg jadi Soutaichou), karena semua kapten dan letnan Batalion 13 sebelum arc terakhir di manga adalah karakter favorit saya. Juga ada beberapa posisi di Gotei 13 yg baru yg saya tidak begitu sreg. Seperti kenapa bukan Renji jd salah satu kapten atau Love.

Yah itu aja. Berniat review?

02 September 2016