Yak! Ini lanjutannya... ^^

.

.

Coppia

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu

Genre : Romance & Drama

BL, Shounen ai, Supernatural, OOC, Gaje, dll

.

.

Don't Like don't read

Happy Reading!

.

.

'mind'

"talk"

.

.

.

.

"Bagaimana? Apa sesuai dengan seleramu, Naruto?"

"...Hm, enak. Arigato,"

Jawaban Naruto membuat Itachi tersenyum lega. Senang karena masakannya sesuai dengan lidah orang lain. Kini Itachi, Naruto, dan Sasuke duduk di ruang makan dalam kediaman Uchiha yang bersatu dengan dapur. Menikmati makan malam yang dihidang Itachi untuk mereka bertiga. Ketika selesai, Itachi mengobrol dengan Naruto. Agaknya penasaran dengan teman Sasuke ini.

"Kau tinggal dimana, Naruto?" tanya Itachi kembali.

"Aku tinggal di pinggir kota Konoha, jauh dari sini." jawab Naruto setelah menelan makanan.

Sasuke menoleh ke Naruto yang duduk di sampingnya, "Sejauh apa?"

"Hm, mungkin hampir setengah kota jalannya," kata Naruto berpikir.

"Jauh sekali, tinggal sendiri?" Itachi menimpali.

"Tidak. Aku tinggal bersama saudara-saudaraku di sana,"

"Kenapa Nii-san tanya kalau Naruto tinggal sendiri?" tanya Sasuke heran menatap Itachi.

Itachi tersenyum memandang adiknya, "Kulihat dari tingkah lakunya, Naruto itu tipe yang tinggal sendiri."

Sasuke memandang Naruto tanya.

"Aku memang pernah tinggal sendiri. Tapi itu sudah bertahun-tahun lalu," Naruto tersenyum menanggapi. "Tak kusangka Itachi-san peka sekali,"

"Aku tidak tahu itu,"

"Kau masih belum tahu dunia luar, Ototou," Itachi mengacak rambut Sasuke gemas.

Sasuke mendengus tidak suka, "Yah, aku memang belum tahu. Tapi jangan perlakukan aku seperti anak kecil!"

"Kau memang masih kecil bagiku," Itachi terkekeh.

"Nii-san Baka," cibir Sasuke tidak suka, tapi dia tidak menolak perlakuan Itachi padanya.

Naruto tersenyum geli melihat interaksi kakak beradik di hadapannya. Mengingatkannya pada Kyuubi dan keempat kawannya –Neji, Gaara, Shikamaru, dan Kiba- yang mungkin menunggunya di rumah sekarang. Apalagi dia bisa melihat ekspresi Sasuke yang belum pernah dilihatnya. Membuatnya menjadi gemas. Naruto melihat jam dinding berwarna merah marun yang menempel di sisi ruangan. Pukul 7 malam.

'Sudah malam. Sebentar lagi waktunya berburu.' batinnya mendengus kesal.

"Sumimasen, aku harus pulang sekarang," ujar Naruto berdiri dari duduknya. "Arigatou telah mengajakku makan malam,"

"Ah, cepat sekali." kata Itachi saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu malam. "Baiklah, mampirlah lagi lain waktu. Sasuke, antarkan Naruto ke depan pintu ya,"

Sasuke mengangguk singkat. Berdiri dan berjalan mengikuti Naruto yang sudah di ambang pintu ruangan. Setelah berpamitan, Naruto melangkahkan kaki menuju pintu rumah dipandu Sasuke di depannya. Sasuke mengantar Naruto hingga di depan mobil mewah milik pemuda pirang itu.

"Ada yang tertinggal?" tanya Sasuke.

Naruto berpikir sebentar, "...Hm, ada," jawabnya menyeringai jahil.

"Apa?" Sasuke tidak mengerti.

Naruto terkekeh geli. Tak disangka Sasuke polos juga. Tampangnya yang tidak mengerti sungguh terlihat manis. Beruntung dia pacaran dengan Sasuke sekarang.

"Ini," kata Naruto menyeringai menunjuk bibirnya dengan jarinya.

Sasuke memandang heran tidak paham. Sedetik kemudian dia membulatkan matanya. Merasakan wajahnya memanas.

"Dobe mesum. Ini jalanan tahu!" sanggah Sasuke merona. Ternyata benar kata Shikamaru kalau orang di hadapannya ini mesum.

"Ooh, ayolah. Tidak masalah bagi orang pacaran seperti kita, 'kan?" Naruto mendengus.

"I-iya, tapi..."

Sasuke terdiam. Mata Onyxnya melirik pintu rumah yang tertutup tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sebenarnya dia mau saja, tapi sekarang ini mereka ada di depan rumahnya. Yang artinya, Itachi bisa memergoki mereka berciuman jika keluar rumah nanti. Memang hubungan sejenis itu sudah dipandang wajar bagi sebagian masyarakat Konoha. Tapi Sasuke belum siap bila harus mengakui orientasi seksualnya yang melenceng jauh dari bayangannya sendiri. Dia takut jika Itachi tidak bisa menerimanya.

"Ayolah Sasuke, hanya sebentar." bujuk Naruto. Memegang sebelah pipi Sasuke mengusapnya mesra.

Sasuke mendesah, tidak bisa menolak perlakuan itu. sentuhan Naruto yang hangat memang berhasil membujuknya. Semburat merah tipis menghiasi wajahnya saat menatap pemuda beriris Shappire itu.

"...Baiklah," gumam Sasuke.

Naruto menyengir. Dengan antusias, dia menarik tubuh yang tingginya sedikit rendah untuk menempel padanya. Naruto merendahkan kepalanya untuk meraih bibir ranum si pemuda raven. Melumatnya lembut. Sasuke memejamkan mata membalas ciumannya. Mencengkram lengan gakuran pemuda yang memeluknya kini. Merasa puas, Naruto melepas bibir Sasuke berganti mencium pipi pucatnya singkat.

"Besok pagi aku akan menjemputmu. Kita berangkat dan pulang sekolah bersama, okay?" ujar Naruto tersenyum menatap Sasuke tanpa melepas pelukannya.

Sasuke mengangguk singkat. "Hn,"

Naruto melepas pelukannya setelah mencuri ciuman singkat di bibir Sasuke kembali. Sasuke mencibir merona, bergumam 'Dobe mesum' yang dibalas cengiran lebar Naruto. Naruto memasuki mobilnya, melajukannya keluar dari pekarangan rumah Uchiha hingga menghilang di tikungan deretan perumahan itu. Sasuke memasuki rumah ketika mobil Naruto tak tampak lagi.

Tanpa mereka berdua sadari, ada bayangan yang mengawasi mereka dari kejauhan. Dia melihat dari atap salah satu rumah di deretan perumahan itu. Dia menyeringai serambi menjilat bibir bawahnya. Memandang intimidasi pada mobil hitam bercorak orange yang melaju kencang menuju jalanan kota.

.

.

.

Coppia

Story by Ivy Bluebell

.

.

.

Pagi datang lebih cepat dari perkiraan Sasuke. Membuatnya harus bangun dari tidurnya yang baru beberapa jam. Semalam dia tidur larut karena harus membantu Itachi membereskan ruang kerjanya. Ditambah tugas dari sekolah yang belum selesai dikerjakannya dan harus dikumpulkan hari ini. Sungguh melelahkan. Itachi sebenarnya sudah menolak, tapi terpaksa menerima bantuan Sasuke karena banyaknya barang yang harus dia bereskan.

Sasuke mengerang seraya menutupi matanya dari silau matahari yang memasuki kamarnya. Dia melirik jam weker yang terpasang manis di atas meja kecil sebelah ranjang. Jam 6 pagi. Mendesah menahan rasa kantuk, Sasuke meringsut turun dari ranjang menuju kamar mandi. Melakukan ritual paginya. Setelah selesai dan berganti gakuran, dia keluar kamar menuju ruang makan. Dimana Itachi sedang menata sarapan yang dimasaknya di meja makan. Dilihatnya, Itachi memasak sup daging dan tempura serta salad sebagai hidangan penutup.

"Ohayou, ototou..." sapa Itachi tersenyum melihat Sasuke memasuki ruangan.

"Hn, ohayou.." sapa Sasuke mendudukan diri di depan jatah sarapannya yang disiapkan Itachi.

Sasuke memandang menu sarapan itu dengan lapar. Hampir saja tangannya mengambil garpu untuk menusuk tempura jika saja tangan Itachi tidak menggetoknya.

"Sabar sebentar. Aku hampir selesai," Itachi tersenyum geli serambi berjalan kearah kulkas.

Sasuke menatap Itachi sebel. "Aku tidak suka jus jeruk, Nii-san," katanya melihat Itachi mengambil sekotak jus jeruk dari kulkas dan dua gelas bening dari rak peralatan makan.

"Kau tidak bosan minum jus tomat terus?" ujar Itachi menuangkan jus ke dalam dua gelas.

"Tidak," ketus Sasuke.

Itachi tetap meletakkan gelas berisi jus jeruk itu di hadapan Sasuke tanpa memedulikan gerutuannya. Lalu mendudukkan diri di hadapan Sasuke, "Ayo makan,"

Sasuke mendengus. Setelah mengucapkan salam bersamaan, barulah mereka berdua memulai menyantap makanan.

"Aku akan berangkat dan pulang bersama Naruto nanti. Jadi, Nii-san tidak perlu mengantarku," tutur Sasuke disela-sela melahap makanannya.

Itachi tercenung. Mengangkat kepalanya menatap Sasuke. "Naruto datang kemari?"

"Hn, dia menjemputku nanti."

"..., begitu," Itachi membisu sebelum tersenyum lembut. "Kau sudah dewasa ternyata,"

Sasuke mengernyit heran, memandang kakaknya tanya. Itachi hanya menggeleng kepala berlahan sebelum membelalakan mata terkejut.

"..Sa-Sasuke..."

Merasakan basah di bawah hidungnya, Sasuke lantas menunduk. Cairan hangat mengalir dari hidungnya, menyebabkan tetesannya jatuh mengotori telapak meja makan yang semula berwarna putih bersih. Darah. Onyxnya membulat seraya berusaha menutup hidungnya dengan sebelah tangan. Itachi bergerak cepat mengambil tisu di depannya dan berpindah ke sebelah Sasuke. Menyingkirkan tangan Sasuke berganti menyekanya dengan tisu. Seketika, tisu itu menjadi merah terlumur darah.

"Sasuke, kau tak apa?!" tanya Itachi khawatir. Tangannya sibuk membersihkan darah dari hidung Sasuke yang tak juga berhenti mengalir.

Sasuke tidak menjawab. Matanya mengarah ke tangan Itachi yang masih bekerja. Berlahan pandangannya mengabur dan tidak fokus. Merasakan kepalanya pusing berubah menjadi sakit seperti tertusuk. Sebelah tangannya terulur mencengkram sisi kepalanya kuat. Mulutnya mengerang lirih.

"Sasukee!" teriak Itachi panik, menahan Sasuke yang terhuyung ke arahnya. Hingga membuatnya duduk di lantai menopang tubuh Sasuke dalam dekapan.

"Aah—AARRGGH!" erang Sasuke menutup mata erat.

"Sasuke! SASUKE! BERTAHANLAH!" Itachi menguncang tubuh Sasuke, tapi hanya erangan yang terdengar.

Dalam dekapannya, tubuh Sasuke bergetar. Wajahnya berkeringat deras. Alisnya mengkerut menahan rasa sakit. Ekspresi wajah yang menderita itu tertangkap di mata Itachi.

"Kita ke rumah sakit sekarang!" Itachi bergerak menyangga tubuh Sasuke bermaksud menggendongnya. Namun tangan Sasuke mencengkram bajunya.

"Ti-dak—usah. Aku—ti-dak-apa—" ucap Sasuke terbata lirih menahan rasa sakit. Nafasnya tercekat hingga sulit rasanya mengucapkan satu kalimat pendek.

"Jangan me..!"

"A-ku-ba—ik. Ambil—kan saja—obatnya..." Sasuke terenggah memotong teriakkan Itachi cepat. Tangganya mencengkram baju Itachi lebih kuat untuk meyakinkannya.

Pria muda itu menatap adik semata wayangnya cemas. Giginya bergemelatuk. Sungguh dia sangat membenci keadaan ini. Dengan terpaksa, dia menuruti perkataan Sasuke.

"Baiklah, tunggu sebentar."

Disandarkannya tubuh Sasuke ke kaki meja. Sementara dia bergerak cepat menuju kamar Sasuke. Beruntung kamar Sasuke hanya terpisah dua ruangan dari ruang makan, jadi tidak memerlukan waktu lama untuk mengambil obat yang tersimpan di ransel Sasuke. Setelah mendapatkan obatnya, Itachi segera berlari keluar menuju ruang makan. Menghampiri Sasuke dan memberikan obatnya untuk diminum.

Beberapa menit kemudian, tampaknya obat itu menunjukkan khasiatnya. Tubuh Sasuke berlahan merileks. Wajahnya mengendur tidak lagi menahan sakit. Nafasnya normal kembali. Membuat Itachi menghela nafas lega dan tenang, tapi belum cukup menghilangkan rasa cemas di matanya.

"...Aku baik-baik saja...Nii-san," ujar Sasuke lirih, masih lemas selepas dari kambuhnya. Wajahnya menampilkan senyum menenangkan pria muda di hadapannya.

"...Hari ini kau di rumah saja. Akan kubuatkan ijin absen nanti," balas Itachi membelai helai raven Sasuke lembut.

Sasuke terdiam sejenak sebelum menggeleng. "...Tidak Nii-san. Ada tugas yang harus kukumpulkan hari ini. Aku tidak mau absen..."

Itachi mendesah berat. Jika sudah begini, dia tidak bisa membantah Sasuke. bisa gawat jika Sasuke kambuh lagi. "...Baiklah, tapi jangan memaksakan diri. Hubungi aku jika ada apa-apa,"

Sasuke mengangguk pelan. Dia berdiri dibantu Itachi untuk duduk kembali di kursi. Mulutnya terasa pahit, jadi Sasuke memilih memakan salad daripada meneruskan sarapannya tadi. Baru saja dia melahap saladnya, bel rumah berbunyi nyaring. Itachi bergegas keluar ruangan meninggalkan Sasuke dan menghampiri pintu masuk. Menyambut tamu yang datang berkunjung ke kediaman mereka.

"Ohayou Itachi-san," sapa Naruto tersenyum lebar. Pemuda pirang lengkap dengan gakurannya itu berdiri di hadapan Itachi yang ada di ambang pintu.

"Ah, ohayou, Naruto. Masuklah.." balas Itachi terkejut kecil. Baru ingat jika hari ini Naruto datang untuk menjemput Sasuke berangkat sekolah bersama.

"Di luar saja. Aku datang untuk mengajak Sasuke berangkat bersama," kata Naruto menjelaskan alasannya.

"Ya, Sasuke sudah bilang padaku. Tunggu seben..."

"Aku sudah selesai Nii-san. Aku akan berangkat sekarang," potong Sasuke yang sudah berjalan di belakangnya menuju mereka. Sasuke telah siap berangkat sambil membawa ransel di tangan.

Itachi mengangguk pada Sasuke yang sudah berdiri di samping Naruto, "Baiklah, hati-hati."

Naruto dan Sasuke mengangguk. Lalu berjalan menuju mobil Naruto yang terparkir di jalan depan rumah. Itachi mengikuti mereka dari belakang sampai Sasuke masuk dalam mobil mewah itu.

"Baiklah, kami berangkat," ucap Naruto membungkuk singkat berpamitan pada Itachi.

"Naruto, tolong jaga adikku," pinta Itachi menatap lurus Shappire Naruto.

Naruto terdiam merasakan atmosfer berat di sekeliling Itachi. Mata Onyx pria muda itu memandangnya serius berkilat memohon. 'Ada apa?' pikirnya.

Tersenyum, Naruto berkata, "Aku berjanji,"

Naruto memasuki mobilnya di bagian kemudi. Dia melajukan mobilnya menyusuri jalan perumahan meninggalkan Itachi yang masih termangu menatapnya. Barulah setelah mobil Naruto tak tampak lagi, Itachi masuk ke dalam rumah. Bersiap untuk berangkat kerja.

Hening mengisi dalam mobil Naruto dimana kedua pemuda itu duduk bersebelahan menuju sekolah mereka. Naruto melirik Sasuke yang menatap ke depan dari sudut matanya. Dilihatnya, wajah si pemuda raven yang nampak lebih pucat dari biasanya. Apalagi dia mencium bau darah samar-samar. Menaikkan alisnya heran, Naruto memindahkan sebelah tangannya yang semula memegang kemudi untuk menyentuh sisi wajah Sasuke dengan punggung tangan. Panas.

"Kau sakit, Sasuke?" tanya Naruto menoleh pada Sasuke.

Sasuke yang merasakan sentuhan itu menggeleng pelan sebagai jawaban tanpa bicara.

"Tapi wajahmu pucat..."

"Aku tidak apa, hanya agak pusing..." ujar Sasuke menjauhkan tangan Naruto dari pipinya.

"Harusnya tidak usah masuk sekolah dulu jika kau sakit," kata Naruto. Matanya menyorotkan kecemasan.

"Aku tidak sakit, Naruto. Hanya lelah saja..."

Naruto memandang tanya ke arah Sasuke.

"Semalam aku tidur larut karena membantu Nii-san membereskan ruang kerjanya. Jadi aku agak ngantuk," jelas Sasuke separuh bohong. Menjawab gestur yang dilayangkan Naruto padanya.

"Dasar, lain kali jangan tidur larut bila tidak kuat bergadang. Bisa kacau kau nanti, Teme." Naruto menyeringai ejek.

"Hn, terima kasih atas kepedulianmu Dobe," balas Sasuke sarkatis sambil memandangnya tajam.

Naruto tertawa renyah. Tangannya mengacak rambut Sasuke gemas yang membuatnya harus menerima death glare dari pemuda raven. Sayangnya, itu tidak akan mempan untuk pemuda bertanda lahir kumis kucing itu.

"Sabarlah sebentar. Setelah sampai di kelas nanti kau bisa tidur sepuasnya,"

"Tidak, terima kasih." ketus Sasuke memilih menatap jalanan dari balik jendela mobil. Kalau sampai itu terjadi, namanya sebagai murid teladan peringkat 1 bisa tercoreng. Lebih parah lagi, dia bisa jadi bahan ejekan teman sekelasnya. Mana mau dia.

Naruto tersenyum menggoda, "Terserah kau saja. Kalau kau mengantuk, aku dengan senang hati akan meminjamkan bahuku padamu,"

Seketika, Naruto meringis menerima jitakan sayang dari kekasihnya.

.

.

.

.

.

Di lain tempat, tepatnya di dalam kelas 2-A, Keempat Prince duduk berhadapan dalam satu meja. Mereka belajar bersama –kecuali Shikamaru yang menenggelamkan kepalanya tidur— tanpa mengacuhkan pandangan teman-teman sekelas yang menatap kagum mereka. Bahkan para fangirl dari luar kelas berdatangan untuk melihat idolanya yang berkumpul di sana. Membuat Kiba mendengus jengkel terganggu. Kiba melirik jam dinding di tengah ruangan. 10 menit lagi bel masuk berbunyi.

"Naruto kemana, sih?," desah Kiba.

"Hh...Dia pergi ke rumah Sasuke. Katanya mau berangkat bersama," Shikamaru menguap malas.

"Dasar agresif. Para murid bisa mati penasaran jika melihat dua orang yang tidak dekat itu jalan bersama," dengus Neji tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya.

"Hm, bukankah itu bagus? Akhirnya Naruto bisa memiliki 'Coppia'," kata Gaara menatap Neji.

"Ya, lagipula Sasuke baik walau agak pendiam. Cocok untuk Naruto," dukung Kiba.

"Semoga..."

Ucapan Shikamaru membuat Kiba dan Gaara menatapnya heran. Neji pun mengangkat wajahnya memandang Shikamaru tanya. Shikamaru tidak menjawab, hanya mengedikkan dagu ke arah sejumlah murid yang bergerombol di satu bangku. Neji, Gaara, dan Kiba mengikuti arahnya.

"Hey, lihat. Kasus itu terjadi lagi..." kata salah seorang dari mereka.

"Kasus hewan liar dan buas menyerang penduduk?" tanya yang lain.

"Iya, baca saja ini," menunjukkan artikel koran yang dibawanya. "Semalam kembali ditemukan korban tewas dengan tubuh terkoyak. Kali ini korbannya adalah seorang pria dan wanita muda. Keadaannya sama seperti kasus sebelumnya, jelas ini ulah binatang buas. Dihimbau agar warga tidak keluar malam hari."

"Iih, mengerikan..." ujar seorang murid cewek yang ikut bergabung.

"Keadaan kota makin gawat..."

"Kalau begini, kita tidak bisa bebas keluar dong,"

"Hm, aku tidak mau jadi korbannya.."

"Siapa pun pasti tidak mau, tahu,"

"Benar..."

Keempat Prince yang mendengar pembicaraan mereka terdiam.

"Kalian tahu jika 'mereka' sudah mulai bergerak, 'kan?," ujar Shikamaru bersidekap menatap serius saudaranya. Seolah rasa malas dan kantuknya yang biasanya muncul di wajahnya menghilang entah kemana.

Neji, Gaara, dan Kiba terdiam sejenak sebelum mengangguk bersamaan.

"Dari hasil buruan kita semalam, 'mereka' menyerang orang-orang yang memiliki hubungan pasif dengan kita," lanjut Shikamaru melirik Neji.

Gaara tercengang, "Tidak mungkin...jangan-jangan para murid di sini..."

Neji mengangguk membenarkan Shikamaru, "Memang belum pasti, tapi ada kemungkinan bisa terjadi..."

"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana dengan Sasuke?" tanya Kiba.

"Tidak apa-apa selama Naruto di sampingnya." tambah Neji.

"Tapi tetap saja. Selama Sasuke tidak tahu dia terlibat dengan apa, kita tidak bisa melindunginya secara sempurna," pikir Shikamaru. "Meski dia terikat dengan Naruto, dia harus jadi 'Coppia' yang sesungguhnya,"

"Intinya, kita harus memberitahu Sasuke yang sebenarnya secepatnya..." Gaara berujar.

"Dan siapa kita sesungguhnya..." timpal Neji.

Tepat setelah pembicaraan mereka berakhir, terdengar teriakkan para murid dari luar gedung. Membuat Keempat Prince kaget. Dari balik jendela, terlihat para murid berkumpul di halaman depan gedung. Kebanyakan para murid cewek yang sudah menanti kedatangan orang yang duduk di balik kemudi mobil itu. Prince terakhir yang datang hampir terlambat. Tidak seperti biasanya yang datang bersama keempat Prince yang lain.

"Kelihatannya yang dibicarakan sudah datang," gumam Shikamaru melihat malas para murid di kelasnya –terutama mirid cewek—yang berkumpul di jendela melihat keluar.

"Ya, itu mereka..." tunjuk Kiba ke arah jendela, tepatnya ke mobil mewah hitam corak gores orange yang berhenti di lapangan parkir.

Naruto turun dari mobil bagian kemudi sambil membawa ransel di bahu kanan. Dia berjalan memutar menuju bagian penumpang di sisi mobilnya. Lalu membukanya. Para murid memandang heran. Kenapa Naruto membuka pintu mobil bagian penumpang? Bukannya dia selalu berangkat sendirian? Atau...

Pertanyaan mereka terjawab dengan keluarnya seorang pemuda bersurai raven dari pintu mobil itu. Pemuda yang merupakan murid teladan peringkat 1 sekelas dengan Naruto. Uchiha Sasuke. Para murid langsung berteriak histeris. Memandang kaget dan tidak percaya. Bagaimana bisa Sasuke berangkat dengan Naruto? Bukannya selama ini mereka tidak pernah terlihat bersama?

Dua pemuda itu berjalan beriringan menuju gedung kelas mereka berada. Seketika para murid menyingkir, memberi jalan untuk mereka.

"...Kita menarik perhatian," bisik Sasuke risih dipandang tajam para murid.

"Hm? Tentu saja, tidak ada yang pernah berangkat bersamaku selain saudaraku." jawab Naruto yang berjalan di sebelahnya.

"Hh, kau tahu. Aku tidak suka jadi pusat perhatian, Dobe," desah Sasuke.

"Menjadi murid teladan pun sudah jadi pusat perhatian, Teme," kata Naruto tersenyum geli.

"Setidaknya itu lebih baik daripada menerima tatapan tajam dari mereka, Dobe,"

"Tak usah pedulikan. Ayo, kita masuk,"

Setelah masuk dalam gedung dan sampai di kelas, mereka tetap menerima pandangan tajam dari para murid sekelas. Tepatnya, pandangan tajam mereka dilayangkan pada Sasuke. Bahkan Sai, Ino, dan Sakura pun ikut-ikutan. Membuat empunya mendengus kesal. Naruto menarik lengannya, mengajaknya menuju bangku belakang tempat mereka duduk. Di sana sudah ada keempat saudaranya yang menunggu. Bel masuk berbunyi tepat ketika Naruto dan Sasuke sampai di bangkunya.

"Ohayou Naruto, Sasuke..." sapa Gaara yang duduk bersama Neji di sebelahnya.

"Ohayou," balas Naruto, sedang Sasuke mengangguk singkat.

"Lama sedikit saja, kalian sudah telat tadi," kata Kiba yang duduk bersama Shikamaru.

"Mau gimana lagi, aku sudah janji berangkat bersama Sasuke," Naruto mendudukkan diri di sebelah Sasuke yang sudah duduk duluan.

"Lain kali, jemputlah Sasuke lebih pagi. Kasihan Sasuke harus berangkat siang karenamu," Neji berucap.

Naruto nyengir innocent, "Hehe.."

Shikamaru mendengus. Dia melihat ke arah Sasuke yang mengeluarkan buku pelajaran jam pertama dari tasnya. Menyerngit heran ketika mengendus bau darah samar-samar. Shikamaru memincingkan mata saat memperhatikan wajah pemuda raven yang lebih pucat dari biasanya.

"Sasuke, kau sakit?" tanya Shikamaru. Membuat ketiga saudaranya –Neji, Gaara, dan Kiba— kaget dan langsung menatap Sasuke.

Sasuke terkejut mendengarnya, "Tidak..." ucapnya menggeleng.

Gaara memperhatikan Sasuke lebih teliti, "Wajahmu pucat..."

"...Hanya lelah saja" jawab Sasuke.

"Semalam dia tidur larut karena membantu kakaknya. Katanya sih, dia agak pusing dan mengantuk," jelas Naruto menatap Sasuke.

"Ooh, kalau begitu istirahat saja, Sasuke." timpal Kiba.

"Kalau perlu pergilah ke UKS. Kami akan memintakan ijin untukmu," saran Neji tersenyum. Gaara mengangguk mendukung.

Sasuke membisu. Termangu dengan reaksi yang ditunjukkan mereka. Padahal mereka baru saja berteman secara resmi kemarin, tapi mereka perhatian sekali padanya. Seolah sudah kenal lama.

"Kenapa?" tanya Neji heran.

Sasuke menggeleng tersenyum tipis. "Emm, tidak apa..."

Seorang guru masuk ke dalam kelas, menghentikan aktivitas para murid yang mengobrol. Para murid kembali ke bangkunya bersiap mengikuti pelajaran. Begitu pula mereka berenam. Mereka membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan.

"Hari ini kau bawa bekal?" tanya Naruto.

"Hn," jawab Sasuke.

"Makan di atap lagi?"

"Hn,"

"Baiklah, akan kutemani,"

Sasuke menatap Naruto tanya, "Kau bawa bekal?"

"Hn," angguk Naruto nyengir. Mengikuti trade mark Sasuke.

"Dobe..." gumam Sasuke tersenyum.

.

.

.

.

.

"Kau masak sendiri?"

"Hehe...begitulah,"

Sasuke menatap Naruto tidak percaya. Sedang Naruto hanya nyengir menanggapi. Selepas dari kegiatan belajar mereka di kelas, kini Naruto dan Sasuke berada di atap untuk makan siang. Seperti biasa, suasana atap teduh tanpa sinar matahari. Pemandangan hutannya pun tertutup kabut tipis. Mereka duduk di samping pagar pembatas atap gedung. Menikmati bekal yang mereka bawa. Sasuke masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Naruto membuat bekalnya sendiri?

Sasuke menatap heran sekaligus kagum. Setahunya, orang kaya seperti Naruto tidak akan menyentuh peralatan dapur seperti memasak. Karena pasti pembantu mereka yang mengerjakannya. Tapi pemuda di hadapannya tidak.

"Aku masih tidak percaya," kata Sasuke menatap bento Naruto. Sekotak nasi lengkap dengan tempura, potongan sosis berbentuk bunga, dan sayuran hijau.

"Yah, kalau kau tidak melihat sendiri jelas tidak percaya. Aku tahu kau berpikir jika aku seperti orang kaya pada umumnya," dengus Naruto.

Sasuke menatap Naruto tajam, "Memang iya,"

"Berbeda Teme. Kami tidak punya pembantu di rumah, kami selalu bergiliran memasak. Kami juga membersihkan rumah sendiri," elak Naruto mengibaskan sebelah tangannya.

"Kenapa?"

"Hm, kami hanya ingin mandiri,"

Ungkapan Naruto barusan mengingatkan Sasuke dengan perkataan pemuda pirang semalam. Naruto bilang dia pernah tinggal sendiri bertahun-tahun lalu. Mungkin itu sebabnya Naruto bisa memasak.

"Cobalah," tawar Naruto mengulurkan garpunya yang tertusuk tempura.

Sasuke menerimanya. Terdiam sebentar sebelum melahap tempura itu. Onyxnya sedikit melebar saat merasakan makanan yang menyapa indra pengecapnya.

"Bagaimana?"

"...Em, enak,"

Naruto menyengir senang. "Mau aku buatkan bekal lain kali?"

"Tidak, Nii-san akan kecewa jika aku menolak membawa bekal yang dimasaknya,"

"Jadi, Itachi-san yang membuat bentomu?"

"Hn, Nii-san tidak memperbolehkanku memasak."

"Kenapa?"

"...Entah,"

Jawaban ambigu Sasuke membuat Naruto menatapnya tanya. Tapi dia tidak menanyakannya pada Sasuke dan lebih memilih memakan bentonya. Sasuke pun menyantap bento miliknya dengan tenang.

Angin berhembus pelan. Menggerakkan rambut yang berbeda warna itu mengikuti arah angin. Naruto memandang ke sekeliling atap. Kosong dan sunyi. Tapi nyaman karena ada pemuda raven sang kekasih di sampingnya. Shappire Naruto menatap Sasuke intens. Memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda yang sedang makan irisan tomat itu. Sasuke yang merasa diperhatikan, memandangnya tanya.

"Apa?" tanya Sasuke.

Naruto tersenyum menggeleng pelan, "Emm...Aku merasa nyaman karena kau ada di sisiku. Sebelumnya ini tidak pernah terjadi,"

Sasuke terdiam.

"Aku selalu merasa kosong. Tapi setelah ada kau, aku merasa terisi," terang Naruto.

Sasuke tersenyum merona tipis, "...aku juga, Naru,"

Naruto mengulurkan sebelah tangannya, menyentuh sisi wajah Sasuke lembut. "Makanya, biarkan aku di sisimu sampai aku mampu mengatakan ini cinta, Suke,"

Sasuke tercenung. Menikmati kehangatan yang mengalir di pipinya dari sentuhan telapak tangan tan Naruto. Onyx hitam Sasuke menatap Shappire biru di hadapannya teduh. Berkilat sendu dan luka. Naruto terkejut kecil ketika menangkap sorot mata itu.

"Sasuke..."

Sasuke tersenyum, "...Ya, Naruto. Aku juga ingin bersamamu,"

Naruto terdiam sebentar sebelum mengelus pipi pucatnya. Menarik dagu Sasuke membawanya mendekat pada wajahnya. Pemuda pirang jabrik itu mencium kelopak mata Sasuke lembut. Seakan mengatakan jika dia tidak akan membuatnya menangis. Kemudian berganti mencium pipinya. Seolah tidak akan membiarkannya sendiri. Lalu bibirnya berpindah ke bibir Sasuke. Mengecupnya lembut tanpa lumatan. Seakan mengatakan jika Naruto akan selalu menyukainya. Terakhir, Naruto mengecup kening Sasuke.

"Biarkan aku di sisimu,...menjagamu," bisik Naruto menatap dalam Sasuke yang wajahnya memerah.

Sasuke memeluk Naruto. Menyandarkan kepalanya di bahu lebar pemuda bertubuh kekar itu. "Bolehkan aku bertanya?" bisiknya pelan tanpa mengubah posisi.

"Apa?" tanya Naruto yang membelai rambut halus Sasuke.

"Mengapa kau begitu ingin menjagaku?"

"...aku sudah bilang aku ingin berada di sisimu. Aku menyukaimu, Suke,"

Sasuke menggenggam gakuran di punggung Naruto erat. "...Tapi aku ingin tahu alasanmu yang sebenarnya jika kau belum mampu mengatakan ini cinta,"

Naruto berhenti membelai rambutnya, membisu. Memindahkan tangannya melingkar di pinggang pemuda raven. Dia menyandarkan pipinya ke sisi kepala Sasuke. "...Aku belum bisa mengatakannya padamu,"

Sasuke terdiam menunggu. Merasa Naruto belum selesai bicara.

"Aku janji akan mengatakan semua padamu jika aku sudah siap..." Naruto mengeratkan pelukannya.

Sasuke memejamkan mata. Menghirup aroma citrus yang menguar dari tubuh Naruto. "...Hn,"

Naruto kembali mengeratkan rengkuhannya ketika merasakan tubuh Sasuke dingin. Mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya pada Sasuke. Sesekali menciumi surai raven pemuda itu.

"...Sasuke,"

"Hn?"

"Berjanjilah, jika kau akan mengatakan rahasiamu padaku suatu saat nanti,"

Onyx Sasuke membola. Tubuhnya menegang. Terkejut dengan ucapan Naruto barusan. Apakah Naruto tahu rahasianya? ...Tidak, mungkin Naruto beranggapan bila setiap orang pasti memiliki rahasia. Makanya dia menanyakan padanya.

Sayangnya, Naruto beranggapan berbeda. Pemuda berambut pirang itu tahu jika Sasuke menyimpan sesuatu darinya sejak awal. Tapi dia tidak akan memaksa Sasuke memberitahunya. Dia akan menunggu pemuda dalam pelukannya ini mengatakannya sendiri.

Sasuke kembali menutup mata, "...Hn. aku berjanji," jawabnya lirih sebelum jatuh dalam kegelapan yang menjeratnya. Mengantuk.

Naruto yang mendengar dengkuran lirih diikuti melemahnya tubuh Sasuke, merenggangkan pelukannya untuk menengoknya. Dia mendengus geli. Bisa-bisanya Sasuke tertidur di tengah acara makan siang dan romannya. Naruto membenarkan posisi Sasuke agar bersandar nyaman di dadanya berlahan. Tidak mau membangunkan pemuda yang tertidur damai itu. Lain kali dia akan mengatakan pada Itachi agar tidak membiarkan Sasuke tidur larut.

Bel masuk berbunyi tepat ketika Naruto membereskan kotak makan mereka. Dia menghela nafas, sepertinya mereka akan membolos kali ini. Biarlah kawannya yang mencari alasan untuk memintakan ijin mereka pada guru nanti.

.

.

.

.

.

Sasuke membuka matanya berlahan. Mengerjapkan matanya yang berkabut tipis beberapa kali untuk memperjelas pandangan. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit mobil berwarna abu-abu. Terlihat sangat dekat. Lalu dia mengerlingkan mata ke arah lain. Menatap jendela dengan langit jingga di baliknya. Tunggu, jingga? Seketika Sasuke melebarkan mata. Menegakkan badan bangun dari tidurnya. Benar, dia ada dalam mobil, dan hari sudah sore.

"Ooh, kau sudah bangun, Teme?" kata suara baritone yang tidak asing di telinganya.

Sasuke menoleh ke asal suara. Terlihat seorang pemuda pirang berkulit tan duduk di balik kemudi mobil di sebelahnya. Menatapnya sambil menyangga dagu tersenyum.

"Kau tidur nyenyak sekali," ujar Naruto.

"Kenapa kau tidak membangunkanku, Dobe?!" protes Sasuke kesal, memandang Naruto tajam.

"Habis kau manis, sih," Naruto tertawa kecil. "Aku tidak tega membangunkanmu..." sambungnya.

Sasuke mendengus. Gara-gara pemuda di hadapannya ini tidak membangunkannya, dia jadi membolos semua pelajaran setelah jam istirahat. Bagaimana murid teladan bisa berbuat begini? Apa yang harus dilakukannya bila pihak sekolah menegurnya? Sasuke memijit pelipisnya yang tiba-tiba pusing.

"Tidak usah khawatir. Neji sudah mengijinkan kita pada guru. Dia bilang kau sakit, jadi aku menemanimu ke UKS," jelas Naruto menjawab gestur kecemasan Sasuke.

Sasuke mendesah, '...Terjadi lagi'. Terkadang Sasuke jatuh tertidur jika dia kelelahan. Bisa jadi efek obat atau penyakitnya.

Sasuke memandang ke arah luar jendela. Dia kenal rumah mungil dengan halaman berhias semak yang ada di depan sana. Sepertinya Naruto mengantarnya pulang dan sudah sampai di depan rumahnya.

"Mau mampir?" tanya Sasuke menoleh pada Naruto.

Naruto mengangguk, "Hm, sekalian menemanimu sampai Itachi-san pulang," katanya saat melihat mobil Itachi yang tidak ada di halaman rumah.

Naruto dan Sasuke turun dari mobil. Berjalan menuju pintu rumah Uchiha. Beberapa langkah dari mobil Naruto, tiba-tiba Sasuke limbung terjatuh. Naruto yang ada di belakangnya tidak sempat mencegahnya. Segera dia menghampiri Sasuke yang berusaha bangkit dari jatuhnya.

"Kau baik-baik saja, Sasuke?" tanya Naruto khawatir. Berjongkok membantu Sasuke bangun.

Sasuke meringis kecil. "Mmh... ya,"

Naruto menghela nafas lega, "Bagaimana kau bisa jatuh di tanah rata begini?" tanyanya serambi menagmbil tas Sasuke yang teronggok di tanah. Lalu menyelempangkannya di bahunya sendiri.

Sasuke yang berhasil berdiri dengan bantuan Naruto, menggeleng kecil. "...tidak tahu." Jawabnya lirih.

Ketika Naruto melangkah maju, dia memandang heran saat berbalik melihat Sasuke yang masih tetap berdiri di tempat jatuhnya tadi. "Ada apa, Teme? Ayo masuk..."

Sasuke terdiam kaget. Dia tidak bisa menggerakkan kakinya. Bahkan dia tidak bisa merasakan sensasi pada kakinya. Seperti terpaku mati di tempat. Dengan ragu, Sasuke menatap Naruto di depannya yang memandangnya bingung.

"...Naruto, bisa bantu aku?" pintanya bersuara serak. Nafasnya tercekat saat mencoba bicara.

"Hm?"

"...Kakiku sakit," ujar Sasuke menundukkan kepala.

Naruto tercengang. Dia menghampiri Sasuke saat itu juga. "Kau tidak bisa berjalan?"

Sasuke terdiam sebelum mengangguk pelan tanpa mengangkat wajahnya. Bahunya tampak bergetar.

"...Kemari,"

Naruto memposisikan sebelah tangannya di pinggang Sasuke. Sedang tangannya yang lain berada di lengkukkan lutut kakinya. Dengan sekali sapuan, dia menggendong Sasuke bridal style. Naruto sedikit terheran ketika merasakan berat tubuh Sasuke yang ringan dalam gendongannya. Pemuda raven itu melingkarkan lengannya di bahu Naruto mengimbangi gerakannya yang mulai berjalan.

Sesampainya di depan pintu, Sasuke memasukkan kunci yang diambilnya dari saku celana ke dalam lubang pintu dan membukanya. Naruto mendorong pintu itu dengan kakinya agar terbuka lebar. Dia mendudukkan Sasuke di sofa ruang tamu setelah masuk dalam rumah.

"Bagian mana yang sakit?" tanya Naruto berjongkok di hadapan pemuda raven setelah meletakkan tas Sasuke di lantai. Naruto meraih salah satu kakinya dan memijatnya.

Sasuke terdiam. Semula dia tidak merasakan pijatan Naruto di kakinya, namun lama-kelamaan dia bisa merasakannya. "...kaki kiri," bohongnya.

Naruto mengangguk, memfokuskan pijatannya di kaki kiri.

"Maaf merepotkanmu..." ucap Sasuke lirih.

Naruto mendongak menatap Sasuke tersenyum. "Tidak apa, aku suka direpotkan olehmu. Itu membuatku berguna untukmu..."

Tangan Sasuke yang ada di sisi tubuhnya terkepal erat. Dia menggigit bagian dalam bibir bawahnya. '...Terjadi lagi,' batinnya sakit.

"Sudah enakkan?"

"...Hn,"

Naruto menghentikan kegiatan lalu berdiri. "Mau kuambilkan minum?"

"Biar aku saja..." jawab Sasuke mencoba bangkit berdiri.

"Tidak usah, kakimu baru pulih. Akan kuambil sendiri di kulkas," tolak Naruto halus. Menghentikan gerakan Sasuke agar pemuda itu duduk kembali.

"Tapi.."

"Tidak apa, Teme. Tunggulah di situ," tahan Naruto tersenyum seraya berjalan ke dapur rumah Uchiha. Meninggalkan Sasuke yang duduk gelisah.

Sasuke mendesah. Tangannya menyentuh kakinya. Mengusapnya mencoba merasakan sensasi di kulitnya. "...Bagaimana ini?" lirihnya sakit.

Gejala dari penyakitnya semakin hari makin menampakkan diri. Kata dokter, gejala kanker otak stadium 3 bisa datang kapan saja tanpa mengenal tempat dan waktu. Seperti yang di alami Sasuke tadi. Terkadang dia tertidur. Kadang tangan dan kakinya serasa mati, sulit digerakkan hingga membuatnya terjatuh. Apalagi sakit kepala yang terlalu sering. Kalau terus begini, lambat laun Naruto akan mengetahui keadaannya sebelum dia sanggup menceritakannya. Sasuke tidak mau Naruto meninggalkannya, tapi bila tidak, dia akan membuat Naruto terluka. Egois memang. Tapi apakah salah jika dia ingin bersama seseorang yang mengisi hatinya?

Sasuke menghentikan lamunannya ketika Naruto kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk dingin.

"Hanya ini yang ada di kulkas," Naruto meletakkan nampan berisi dua gelas jus di meja depan Sasuke.

Sasuke mengangguk. Meraih segelas jus itu meminumnya.

Naruto duduk di sebelahnya kembali, "Itachi-san pulang jam berapa?"

"Tidak tentu. Biasanya sore tepat kita pulang sekolah, kalau lembur mungkin sampai malam," jawab Sasuke selepas meminum jusnya.

"Hmm," gumam Naruto meneguk jusnya. Beberapa detik kemudian, hp di saku celananya berbunyi. Menandakan panggilan masuk.

Naruto mengeluarkan hp hitam bergaya flipnya dari saku. Tertera nama Neji di display hpnya. Segera dia menekan tombol hijau dan mendekatkannya ke telinga, "Ada apa, Neji?"

"Pulang sekarang Naruto, ada yang harus kita bicarakan," perintah Neji dengan nada serius di seberang sana.

Naruto terdiam sejenak, "Baiklah, tunggu aku 10 menit lagi," katanya seraya menutup hpnya.

"Maaf Sasuke, aku harus pulang. Ada kepentingan keluarga," Naruto memasukkan kembali hpnya di saku dan menatap Sasuke di sebelahnya.

"Ya, pulanglah," Sasuke mengangguk.

"Kau tidak apa kutinggal sendiri?" tanya Naruto cemas.

"Hn, aku sudah baikkan."

Naruto terdiam.

"Aku bukan anak kecil, Dobe. Aku biasa ditinggal sendiri," Sasuke meyakinkan Naruto.

Kembali Naruto membisu. Sebenarnya dia belum mau meninggalkan Sasuke sendiri. Paling tidak sampai Itachi pulang ke rumah. Karena kota malam hari akan berbahaya untuk pemuda itu bila ditinggal sendiri. Namun ada urusan mendesak yang harus didatanginya. Terpaksa.

Naruto membelai rambut raven Sasuke, lalu mengecup keningnya lembut, "Baiklah, aku pulang. Hubungi aku jika ada apa-apa," ucapnya tersenyum selepas menciumnya.

Sasuke mengangguk kembali. Setelah yakin, Naruto beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar rumah. Sasuke memperhatikan Naruto masuk ke mobil lamborgini hitamnya dari balik jendela luar ruangan. Terus memandang hingga mobil Naruto tidak tampak lagi.

Sebelum dia beranjak dari sofa, hp di dalam tas ranselnya berbunyi. Dia mengambilnya lalu menekan tombol penjawab setelah membaca siapa yang menelponnya. "Hallo, Nii-san?"

"Sasuke, maaf. Hari ini aku pulang terlambat, tidak bisa buat makan malam," ujar Itachi sesal.

"Tidak apa, aku akan makan di luar,"

"Kau sudah sampai rumah?"

"...Hn,"

"Baguslah, ajak Naruto jika kau keluar. Jangan pergi sendirian. Keadaan kota berbahaya jika malam tiba,"

Sasuke terdiam, mana mungkin dia mengajak pemuda pirang yang baru saja pulang ke rumahnya. Apalagi Naruto ada kepentingan keluarga. "...Hn," jawab Sasuke ambigu.

"Baiklah, sampai nanti, ototou. Akan kuusahakan kerjaanku cepat selesai," kata Itachi memutuskan teleponnya setelah mendapat respon dari Sasuke.

Sasuke membawa tasnya berjalan menuju kamar. Berniat berganti gakuran dengan pakaian kasual sebelum pergi keluar membeli makan malam. Setelah siap, dia mengambil jaket dark bluenya dan memakainya. Sasuke keluar dari rumah setelah mengunci pintunya rapat.

Langit sudah menghitam tatkala Sasuke berjalan menyusuri jalan setapak di perumahan tempatnya tinggal. Dia berbelok ke gang sempit, hendak menuju seberang di mana restoran kecil berada. Gang panjang itu remang, hanya disinari sebuah lampu berwarna kuning di tengahnya. Di tambah dengan tong-tong sampah yang terletak di pinggir dekat tembok bangunan. Sasuke terus berjalan hingga tiba-tiba dia berhenti. Sasuke terdiam, entah kenapa dia merasakan kehadiran sesuatu. Dengan hati-hati, dia memincingkan mata Onyxnya ke depan. Di ujung gang sana terlihat bayangan hitam bergerak ke arahnya. semakin lama semakin besar. Diikuti dengan suara geraman berat. Ketika bayangan itu sampai di tempat yang tersinar lampu, Sasuke membelalakkan mata kaget tidak percaya.

Terlihat dari Onyxnya, seekor binatang berbulu hitam bertubuh dua kali lipat darinya berdiri di sana. Moncong panjang bergigi tajamnya meneteskan liur. Mata hitamnya menyalang ganas. Memandang ke arah Sasuke lapar. Ekor panjangnya berkibas, senang menemukan mangsanya. Keempat kaki berkuku tajamnya bersiap menerjang. Serigala. Rupanya berita itu benar.

"...Tidak," lirih Sasuke meringsut mundur. Keringat mengalir di pelipisnya. Nafasnya tercekat. Tubuhnya bergetar. Takut.

Serigala itu melangkah maju berlahan, lalu berlari cepat menerjang Sasuke.

Sasuke yang tidak bisa bereaksi, menutup mata rapat. Tangannya melindungi kepala bersiap menerima serangan. Harusnya dia mengikuti perkataan Itachi tadi. Terlambat sudah sekarang karena kenyataan ada di hadapannya. Bermaksud memangsanya.

BRUUK!

Tepat saat serigala hitam itu membuka mulutnya lebar seakan ingin melahap Sasuke, serigala itu terlempar ke belakang setelah ditubruk sesuatu. Terbanting kasar ke tanah hingga terseret beberapa meter. Membuat benda-benda di sekitarnya berantakan.

GRUUAAKK!

Mendengar suara benturan keras itu, membuat Sasuke menurunkan lengannya. Tidak ada rasa sakit di tubuhnya. Dia membuka matanya berlahan. Kembali terbelalak lebar melihat pemandangan yang ada di depannya.

Di hadapannya berdiri binatang berbulu orange terang membelakanginya. Tubuhnya memiliki besar yang sama dengan serigala. Anehnya lebih kuat dan kekar. Ekor panjangnya yang berjumlah 9 bergerak berlahan. Keempat kakinya menekuk bersiaga. Saat menoleh ke arah Sasuke, tampaklah sepasang iris Shappire yang memandangnya dalam. Mulutnya menggeram berat. Rubah berekor 9, Kitsune.

Serigala hitam itu bangkit lalu melompat berbalik arah pergi. Kitsune yang melihatnya segera berlari mengejar. Melompat mengikutinya. Meninggalkan Sasuke yang langsung terduduk lemas. Kepalanya menunduk dalam. Memeluk tubuhnya yang masih bergetar ketakutan.

"...tolong aku..."

.

.

.

.

.

++++++++++Tsuzuku++++++++++

.

.

.

Hahaha, chapter 2 kelar! ^^*

Makasih buat yang udah review, itu bikin aku semangat *mata muncul api membara.

Oke, ikutin terus mina-san! Moga chapter ini gak mengecewakan =.=a

.

.