Pacar Pura-Pura
Disclamer : Kuroko no Basuke © to Fujimaki Tadatoshi, Story to Me
Pair : AoAka (again), bakal ada pair crack juga selain mereka tunggu dichap final~
Genre : humor (maybe), romance.
Warning : sho ai, garing, ooc, typo, aneh, crossdress, Ocs dll
A/N : *tabur bunga* saya update cepet readers-san~~ silahkan baca~
Oh iya Saya mengambil setting Teiko tahun ketiga jadi umur mereka sekitaran 15-16 tahun. Kalau pake usia Teiko tahun pertama terkesan masih kecil(?) gitu usianya. Oke sankyu~
Summary : Akashi menjadi pacar pura-pura Aomine. Dan si kaisar gunting rela menjadi crossdresser. Bagaimana kisahnya?
Tertarik? Silahkan review :D
Tidak Tertarik? Silahkan klik tombol 'Back'
Tertarik, tapi gak mau review? Silahkan 'Fav' XD
Tidak tertarik tapi mau review ? Ampun jangan Flame DX
Reader and Silent Reader, welcome :D
Enjoy Reading Minna :D
.
.
.
"AOMINECCHI kau lebih suka gadis berambut terurai atau twintail?" seseorang berteriak dari suatu ruangan.
Aomine yang berada di ruang tamu sedikit berpikir."Mungkin PANJANG TERURAI." Dia juga ikut berteriak.
"Kenapa nanodayo?" tanya Midorima sambil menaikkan kacamatanya.
"Mungkin akan terlihat lebih dewasa kalau rambutnya terurai." Jawab Aomine.
"Tapi Aka-chin akan terlihat lebih imut jika model rambutnya twintail." Sahut Murasakibara.
"Benar juga, tapi_"
Perkataan Aomine terputus."AOMINECCHI! Mana yang lebih kau sukai warna PINK atau PEACH?" Kise kembali berteriak.
"WARNA UNTUK APA OI KISE?"
"SUDAH JAWAB SAJA!"
"PEACH!"
"PITA atau JEPIT RAMBUT!"
"PITA!"
Dan adegan teriak-teriak itu berlangsung kurang lebih tiga puluh menit. Aomine masih terbingung-bingung. Apa yang Momoi, Kuroko dan Kise lakukan di kamar Kise. Dan lagi akan seperti apa penampakan Akashi!
"Maaf menunggu lama~" Momoi muncul paling awal. Tiga pemuda tinggi yang berada di ruang tamu itu langsung melihat kearah Momoi.
"Apa yang kalian lakukan nanodayo, lama sekali." Protes Midorima
"Ara-ara apa Midorin sebegitu penasarannya dengan Akashi-kun?" goda Momoi, pipi pemuda hijau itu memerah seketika.
"Te-tentu saja tidak nanodayo!"
"Aku tidak sabar ingin melihat Aka-chin~"
"Sabar-ssu! Yang pasti dia sangat cantiiiiiiiikkkkk!"
"Benar begitu Tetsu?" Aomine menelengkan kepalanya.
"Un, seperti itulah." Jawab Kuroko datar."Akashi-kun etto maksudku Akashi-san kau boleh kesini sekarang." Si biru muda sedikit menutup bibirnya dengan punggung tangan, sepertinya dia sedang menahan tawa.
"Tetsuya jangan tertawa, ingatkan aku untuk memberi kalian bertiga tugas 'spesial' dariku."
GLUP
"Demo Akashicchi!"
"Tidak ada tapi-tapian Ryouta."
"Ara-ara, kalian jangan ribut ne. Akashi-kun cepat kesini!"
Tuk tuk tuk
Suara lantai diketuk. Ah sepertinya itu suara hak sepatu.
Membuat Aomine tak sabar ingin melihat sosok yang akan menjadi pacar pura-puranya.
Tuk tuk tuk
Hening.
Mata merah itu bergulir, menatap tajam tiga pemuda yang berada didepannya.
"Tutup mulut kalian bertiga, Daiki, Shintarou, Atsushi. Dan jangan memandangiku seperti itu."
"Ka-kawai." Gumam Murasakibara. Semburat merah mengerubungi pipi Aomine dan Midorima.
"Deshou~" Momoi berujar ceria.
Image kowai (menakutkan) Akashi hilang seketika. Yang mereka lihat adalah gadis Kawai (cantik) yang tengah bersedekap.
Aomine melihat dari bawah. Wedges merah pastel yang entah kenapa sangat cocok pada kakinya. Naik keatas betis jenjang itu terbalut sepasang stocking hitam. Bola mata biru itu naik semakin keatas. Aomine dapat melihat paha putih Akashi, yang memang tak terjangkau rok kotak-kota merah hitam yang dia kenakkan.
Si ace Teiko kembali menjelajahi pemandangan didepannya. Semakin naik ke atas baju lengan panjang bahan rajutan berwarna pastel memenuhi penglihatannya. Naik ke atas lagi_eh tunggu sejak kapan Akashi berdada(?), mereka benar-benar memperhatikan detail (?).
Ah sekarang mata Aomine sudah sampai pada wajah sang kapten. Sapuan make up natural, bibir peach yang kissab_ah maksudnya sangat pas dengan make upnya. Rambut merah yang terlihat sangat asli, tak lupa hiasan pita yang mengikat sebagian helai merah itu ke belakang.
Satu hal yang mewakili semua keindahan itu adalah Dia seorang bidadari.
"Ehem." Aomine kembali ke kenyataan.
"Sudah selesai terpesona denganku?" Akashi menyeringai.
Pipi kecoklatan Aomine kembali memerah."A-aku tidak_"
"Sepertinya menjadi budakku selama satu bulan itu akan kurang, Daiki." Salah! Salah! Dia bukan bidadari! Dia adalah setan berkostum bidadari!
"Demo Akashi!" protes Aomine.
"Itu urusan nanti nanodayo, sepertinya kalian berdua harus bergegas pergi sekarang." Si hijau membenarkan posisi kacamatanya.
"Beraktinglah sebaik mungkin~ssu."
"Hati-hati Aka-chin, aku mencintaimu~"
Mereka semua sweatdrop kecuali Murasakibara.
.
.
.
"Tadaima!"
Ceklek
"Okaeri Dai-chan." Seorang perempuan paruh baya berambut biru menyambut mereka."Ara-ara? Apakah ini pacar Dai-chan?" perempuan paruh baya-ibu Aomine, mengumbar senyum hangat sembari memandang gadis di depannya.
Si rambut merah tersenyum manis."Senang berjumpa dengan anda, baa-san." Suaranya terdengar manis.
"Dia manis sekali, ayo masuk-masuk. Dai-chan antar dia ke ruang keluarga, kaa-san akan membawakan beberapa kudapan untuk kalian." Ibu Aomine melenggang pergi meninggalkan pasangan itu.
"Ha'i kaa-chan. Ayo masuk Aka_" telunjuk lentik itu menempel manis di bibir tipis Aomine. Mata biru itu membulat atas perlakuan Akashi padanya.
"Seiyuuko, buat akting ini natural Daiki." Senyuman manis itu benar-benar menyeramkan! Aomine mengangguk nurut."Jangan sia-siakan bantuanku, ne?"
"Go-gomen." Bisik Aomine gemetaran.
"Are kenapa kali_ah sepertinya aku mengganggu."
Aa sepertinya ibu Aomine salah paham dengan posisi mereka!
Lihat! Siapa sih yang tak akan berspekulasi yang iya-iya jika pemandangan itu ada dihadapanmu?
Akashi berjinjit didepan Aomine. Tangan kirinya berada dibahu sebelah kanan Aomine untuk membantu menahan berat tubuhnya. Si biru sedikit menundukkan kepala. Bukan karena apa hanya saja Aomine Cuma ingin meminimalisir kontak mata dengan 'gadis' didepannya. Dia tak ingin merona karena tampilan sang kapten!
Apa persepsimu saat melihat pemandangan itu selain kenampakkan orang yang ingin berciuman?
"Kaa-chan sala_"
"Biarkan saja, ini malah membuat kita seperti pasangan sungguhan." Aomine menghela nafas panjang, mencoba menguatkan mentalnya.
"Ka-kalau begitu ayo masuk."
.
.
.
"Aka-akashima Seiyuuko, yoroshiku onegaishimasu Baa-san." Hampir saja disalah menyebutkan nama keluarga.
"Jangan gugup begitu Sei-chan." Ibu Aomine tersenyum lembut kearahnya. Akashi mau tak mau ikut tersenyum."Manisnya!" dicubitnya pipi Akashi, meski tak keras sepertinya si empunya pipi sangat tak nyaman.
"Kaa-chan jangan seperti itu." Protes Aomine, bukan karena ia peduli dengan pipi Akashi. Hanya saja dia takut jika pipi Akashi kenapa-kenapa, nyawanya pun juga ikut kenapa-kenapa. Iyada!
Dengan enggan ibu Aomine berhenti mencubit pipi Akashi."Maaf Sei-chan, daridulu baa-san selalu ingin mempunyai seorang putri jadi sepertinya baa-san terlalu terbawa suasana."
"Daijoubu baa-san." Diumbarnya senyum manis itu kembali.
"Calon menantuku memang yang sangat manis. Aku jadi tidak sabar menunggu kalian berdua berdiri di altar pernikahan."
Eh! Aomine berjingkat, Akashi tetap tenang.
"Ka-kaa-chan i-itu masih sangat lama, lagipula aku dan Seiyuuko masih dibawah umur."
"Hanya tinggal menunggu tujuh atau delapan tahun saja, itu bukan waktu yang lama, bukan begitu Sei-chan?"
Akashi yang saat itu sedang menikmati ochanya tersentak."Ha-hai Baa-san."
"Aku tak sabar menunggu waktu itu tiba~"
"Kaa-chan." Kesah Aomine, dia tak mengerti dengan jalan pikiran ibunya.
"Dai-chan, kau tak boleh putus dengan Sei-chan apapun alasannya." Ibu Aomine terlihat sangat senang sekali sepertinya. Perasaan bersalah Aomine mulai memenuhi relung hatinya, maaf kaa-chan Daiki berbohong, batinnya. "_Meskipun dia laki-laki yang menyamar sekalipun."
Deg
Aomine melirik Akashi, si merah juga melakukan hal yang sama tapi lebih tajam. Selesaikan masalah ini secepatnya, lewat kontak mata mereka berkomunikasi.
Glup
Aomine susah payah menelan salivanya. Apa ini awal dari sebuah masalah besar?
"Ah kalian lanjutkan saja obrolan kalian, aku harus segera mempersiapkan makan malam. Sei-chan makan malam disini ya." Akashi mengangguk, tak lupa diselingin sebuah senyuman.
"Daiki, bisa kita ke kamarmu?"
Aomine menoleh kearah Akashi. Tatapannya menunjukkan keheranan sekaligus ketakutan. Apa yang akan Akashi lakukan padanya! Kami-sama tasukete!
"Aku tak akan membunuhmu tenang saja Daiki~." Apa Akashi barusan membaca pikirannya?
"Bisa kita pergi sekarang?" ucap si merah lagi.
"Ba-baiklah."
.
.
.
Akashi duduk angkuh dimeja belajar Aomine, tak peduli dengan rok yang tersingkap. Tak sadarkah dia, mata Aomine tak henti-hentinya memberi perhatian pada ehem pahanya?
Ya, meski si dim itu tau kalau dibalik wujud gadis itu tersembunyi sesosok titisan dari neraka. Tapi tetap saja insting seorang remaja normal yang mengijak masa pubernya tak bisa mengelak pemandangan indah dihadapannya. –ero detected-
"Aku tak mau terjebak dalam masalahmu lebih lama lagi."_jeda."Atau kau ingin menyuapku dengan menjadi budakku selama satu tahun, aku akan memikirkan ulang." Si merah menyeringai.
Kenapa mahkluk merah ini sangat terobsesi dengan menjadikannya seorang budak!
Kurangkah butler serta maid yang mendiami rumah megahnya?
"De-demo Akashi, aku tak tau harus berbuat apalagi."
"Buat sebuah drama." Ucap si merah singkat.
"Drama?" si biru menelengkan kepalanya.
"Pikirkan sendiri."
"Aaargh!" Aomine mengacak rambutnya frustasi.
.
.
.
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama lagi. Sei-chan ajak orang tuamu juga ne?"
"Uhuk!"
"Tentu baa-san." Ujar Akashi tersenyum sambil menyodorkan air minum ke Aomine dan menepuk-nepuk punggung lebar itu. Ingat ini hanya akting.
"A-arigatou Sei, Kaa-chan untuk apa kita makan malam bersama?"
"Untuk apalagi kalau bukan mengakrabkan keluarga dan membahas masa depan kalian. Bukan begitu tou-san~"
Pria paruh baya yang sedari tadi tenang menyantap makanannya kini menyunggingkan senyuman yang lebar."Berikan kami cucu-cucu yang menggemaskan."
Apa!
"Tou-chan itu memalukan." Wajah tan itu memerah.
"Daiki, kau itu kenapa? Lihat Seiyuuko-san dia sangat tenang dan tak mempermasalahkannya."
"Aku akan sangat senang jika semua itu berjalan lancar, jii-san." Akashi membuka suara, senyum yang terlihat manis dihadapan orang tua Aomine tapi senyum yang menyeramkan bagi Aomine.
Mata Aomine melotot.'Akashi-teme kenapa dia malah setuju!'
"Lihat, Seiyuuko-san berpikiran dewasa tak sepertimu Daiki. Kau memang ditakdirkan menjadi pasangannya."
"Tou-chan!"
"Daiki jangan berteriak di meja makan." Akashi mendelik kearahnya. Aomine terdiam.
"Dengan adanya Sei-chan Dai-chan jadi penurut, ne Tou-san." Sang ayah mengangguk menyetujui.
"Sepertinya pertemuan dengan keluarga harus dipercepat~."
Kiamat! Kiamat! Kiamat! Masalah semakin runyam!
Dan Akashi sama sekali tak ada niat untuk membantunya dia malah memperparahnya.
Bagaimana ini! Apa yang harus Aomine lakukan?
.
.
.
To Be Continue
Hahai readers-san XD
Jujur saya tak menyangka responnya akan sangat baik seperti ini XD
Saya kira AoAka itu tak akan bisa diterima :'
Ternyata diluar dugaan responnya sangat membuat saya terharu *peluk satu-satu*
Makasih yang udah review dan memberi dukungan ke saya :*
Aoki, Madeh18, LiaZoldyck-chan, Miharu, Jesper.s, Eqa Skylight, Yuu-kio, Daisy Faustian Panthomhive, Kyookies, Akashiseichan dan Rey Ai
Makasih yang udah fav and follow :*
Semoga chap ini tidak mengecewakan u.u
Ngomong-ngomong, readers-san lebih suka hubungan AoAka hanya sebatas akting atau mau mereka bener-bener berlovey-dovey seperti yang diinginkan orang tua Aomine? :D
Jawab ya~~
Sedikt preview buat chapter final~~~
"Orang tuaku ingin bertemu dengan orang tua Seiyuuko! Bagaimana ini."
"TIDAK-ssu!"
"Aku juga tidak mau nanodayo!"
"Tou-chan Kaa-chan aku harus jujur."
Review lagi ya~~
Jyaa~
RRNRD
