Tittle : A Fault
Author : Keiko Yummina
Cast : HunHan (Oh Sehun Xi Luhan), Slight KaiSoo, ChanBaek, SuLay,TaoRis, ChenMin
Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family
Length Chaptered
Rated : M (Mecum)
WARNING! YAOI, M-PREG
bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!
Chapter 1
Malam itu udara begitu dinginnya. Hingga membuat tubuhnya sedikit menggigil karena suhu yang tiba-tiba turun hingga beberapa minus dari biasanya. Udara dingin terasa menusuk kulit tubuhnya hingga ke tulang. Meskipun ia sudah menggunakan baju-baju berlapis tebalnya. Suasana hening dan sepi ikut mendukung malam itu. Membuat namja cantik bernama Luhan harus rela berjalan cepat menuju ke rumah yang ia tinggali.
.
.
.
Xi Luhan namanya. Namja yang sedang berjalan di area pejalan kaki menuju rumahnya. Seorang namja cantik yang saat ini sedang berusaha untuk meraih gelar profesinya dalam bidang kedokteran anak. Bisa dibilang spesialis anak. Begitulah nanti orang akan mengenalnya. Itu merupakan cita-citanya sedari dulu karena ia sangat mencintai anak-anak.
Namja yang akrab dipanggil dengan nama Luhan ini sebenarnya adalah anak seorang dokter sekaligus direktur dari sebuah rumah sakit di Korea yang kebetulan memilki cabang di China. Luhan dan keluarganya memilih untuk tinggal di Seoul tepat di kota kelahiran eommanya. Meskipun sudah tidak ada lagi sanak saudara yang lain di Korea kecuali pamannya Luhan. Adik dari eomma Luhan yang juga bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit milik appa Luhan. Appa Luhan memilih mendirikan membuka cabang rumah sakitnya di China dan di urus oleh adiknya sendiri. Sedangkan di Korea. Ia yang memegang kendali atas segala permasalahan yang terjadi di rumahsakitnya.
Keluarga Luhan adalah orang yang kaya juga terpelajar. Luhan sendiri adalah anak yang cerdas. Dan merupakan anak satu-satunya dikeluarga ini. Ia tumbuh dengan begitu banyak cinta dari keluarganya. Segala kebutuhannya terpenuhi. Tapi Luhan bukanlah anak yang sombong yang akan menyombongkan diri dengan kekayaan yang ia miliki. Dia begitu ramah, rendah hati dan suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuannya. Seorang yang cerdas juga pekerja keras. Itulah Luhan yang dikenal oleh teman-temannya. Tidak menuntut juga ada beberapa orang yang tidak suka dengan Luhan. Meskipun begitu, Luhan tetap bersikap baik kepada siapapun orangnya.
Semenjak Luhan lulus dengan gelar sarjana kedokterannya. Ia memilih untuk tinggal dan bekerja dengan kemampuan yang ia punya. Menyewa sebuah apartemen yang dekat dengan tempat kerjanya. Luhan masihlah tetap bekerja di rumah sakit milik appanya. Lu Houspital namanya. Luhan mendaftar dan mengikuti seleksi sesuai dengan orang lain yang juga mendaftar kesana. Tanpa campur tangan Appa maupun keluarganya. Luhan telah berusaha keras mengikuti seleksi penerimaan dokter muda di rumah sakit milik Appanya. Dan kebetulan juga sahabat karibnya yang juga seorang dokter juga mengikuti seleksi ini. Dan mereka diterima di Lu Housepital meskipun harus berbeda bangsal atau bagian.
Luhan yang juga mengambil jalur profesi spesialis di Seoul University setelah ia menyelesaikan kuliah sarjananya di Universitas yang sama sebelumnya. Yang kebetulan Xiumin juga melanjutkan mengambil profesi spesialisnya juga. Bedanya Luhan mengambil spesialis anak. Sedangkan Xiumin mengambil spesialis penyakit dalam. Tapi mereka akan menghabiskan waktu luang untuk selalu bersama-sama entah itu di kampus dan di rumah sakitnya. Sehingga ketika di rumah sakit Luhan ditempatkan di bangsal anak, sedangkan Xiumin akan berada di bangal penyakit dalam. Tapi ada kalanya ia juga akan mendapat sift nya di area UGD. Yaps, karena mereka masihlah dokter muda.
.
.
.
"Malam itu aku berjalan melewati gang ini lagi. Kuberanikan diri melewati gang ini untuk mempersingkat perjalanan ku menuju tempat tinggalku. Bodohnya aku yang tak mebawa mobil hari ini. Aku merasa di belakangku ada seseorang yang sedang mengikutiku. Ku percepat langkah kaki ku. Di pertigaan jalan seseorang memegang tangan ku. Lalu membekap mulut dan hidungku dengan sebuah sapu tangan, dan ku cium aroma clorofom." Geurutu Luhan dalam benaknya.
.
.
.
Sedangkan tak jauh dari tempat Luhan berdiri. Terlihat seorang pemuda dengan setelah kemeja hitam polos dan celana jins cerah dan robek tepat di lututnya. Dan jangan lupakan sebuah topi hitam bertenger apik menutupi rambutnya yang sedikit kecoklatan. Sibuk mengawasi pergerakan Luhan sedari tadi, tepat setelah Luhan turun dari bus malam yang ia tumpangi. Pemuda tinggi itu mengendap-endap mengikuti Luhan. Ia bahkan bersorak dalam benaknya begitu ia mengikuti namja cantik itu tepat dibelakangnya tanpa ada rasa curiga sebelumnya Akhirnya aku mendapat buruan cantik malam ini. Ketika Luhan berbelok menuju jalan yang tinggal lima ratus meter menuju apartemennya.
Namja tinggi itu menahan tangan Luhan. Dengan gerakan cepat, pemuda itu membekap hidung dan mulut Luhan dengan sebuah saputangan putih yang telah lebih dulu dibaluri cairan clorofom. Setelah dirasa Luhan, namja yang ada di dalam dekapannya ini tidak berontak. Pemuda itu segera menyangga tubuh lemah itu dan mengeluarkan phonsel dari dalam saku celananyanya dan berniat menghubungi seseorang. Tak lama suara sahutan terdengar sebagai bukti jika phonsel itu telah terhubung dengan orang di seberang sana.
"Hai, ini aku, aku sudah membawa mainan baru untuk kita berlima."
"Aku akan membawanya mungkin besok. Ya."
"Em.., baiklah..!"
"Pip" (suara posel dimatikan). Namja itu menyimpan phonselnya kembali ke saku celananya.
Dengan segera pemuda atau namja tinggi itu mengangkat namja cantik didalam dekapannya dan menggendongnya menuju mobilnya yang tadi tak jauh ia parkir dari gang itu. Ketika sampai di depan mobilnya. Namja tinggi itu segera mengitar ke arah pintu mobil. Menurunkan namja cantik didalam dekapannya itu, sedikit menyangganya dengan lengan kirinya untuk menjaga tubuh namja cantik didalam dekapannya itu agar tidak terjatuh. Tangan kanannya ia gunakan untuk merogoh kunci mobil di saku kanan belakang celananya. Namja tinggi itu menemukan kunci mobilnya. Dengan segera ia menekan tombol kunci pada mobilnya sehingga dengan otomatis mobil itu sudah bisa dibuka.
Namja tinggi itu membuka pintu mobil dan segera membopong namja cantik dalam dekapannya itu ke dalam kursi penumpang. Sedikit kesusahan untuk meletakkan namja cantik itu ke jok belakang. Karena memang tempat itu tidak terlalu lebar. Sehingga butuh kehati-hatian ketika ia meletakan tubuh namja cantik itu. Namun, ketika namja tinggi itu ingin menggeser tubuh namja cantik itu untuk memposisikan tubuh itu dengan lebih nyaman. Namja tinggi itu malah berakhir terjerembab ke depan dan dengan sigap segera ia melakukan pertahanan untuk tidak jatuh tepat menindih namja cantik di hadapannya ini. Namun, posisi mereka berdua sekarang ini malah terlihat begitu intim. Karena wajah namja cantik itu begitu dekat dengan namja tinggi itu. Dan jangan lupakan, akibat terjerembab tadi. Topi yang digunakan namja tinggi itu sudah terlepas dan jatuh menggelinding ke lantai mobil dibawah sana.
Sepasang mata elang memandang lekat namja cantik yang memejamkan matanya layaknya malaikat yang turun dari langit sedang tidur terlelap dibawahnya. Mata elang itu menelusuri rambut dari yang sedikit berkeringat, jatuh ke alis tipis , turun ke mata kecil yang terpejam erat dengan helaian bulu mata sedikit melengkung, turun lagi ke hidung mungil yang menghembuskan nafas dengan teratur, hingga jatuh tepat ke bibir ranum nan menggoda milik namja itu. Hatinya berdesir dan berderu kencang. Tak lama seakan terkena sihir. Namja bermata elang itu menurunkan kepalanya, meraih bibir ranum itu, memangutnya dengan penuh perasaan. Menyecap setiap manis yang dihadirkan oleh bibir ranum nam menggoda. Hingga ia puas mengecupnya seakan rasa manis itu tak pernah hilang hanya karena hisapan pada bibir itu yang ia lakukan. Namja bermata elang itu mengakhiri ciumannya itu dengan sebuah kecupan lagi setelah beberapa lalu menyecapi bibir ranum milik namja cantik itu.
.
.
.
Namja tinggi bermata elang itu adalah namja tampan yang memiliki kulit putih hingga terkesan pucat dan jangan lupakan pesonanya ketika sekarang topi tak lagi menutupi rambut atasnya. Namja itu bermarga Oh dengan nama lengkap Sehun Oh. Atau biasa kita kenal dengan nama Oh Sehun. Yang biasa dipanggil dengan hanya Sehun oleh orang-orang yang mengenalnya. Sehun seorang namja yang hobinya adalah bersenang-senang bersama para hyungnya dengan mengenjot lubang bergantian baik itu lubang wanita maupun lubang pria. Karena dia sendiri tidak peduli, asalkan kepuasannya dan hyung-hyungnya terpenuhi. Hasratnya bisa tersalurkan. Dan mereka akan merasa gembira.
Sehun menarik mundur tubuhnya untuk kembali memposisikan namja cantik itu dengan baik. Tapi lagi-lagi matanya harus menangkap raut wajah tenang namja dihadapannya kini. Desiran di dalam hatinya kembali terasa. Apalagi saat memperbaiki posisi namja cantik itu di jok mobil penumpang. Sehun malah dihadiahi leher jenjang yang putih dan mulus ketika tak sengaja ia membenarkan sabuk pengaman yang malah menyikap kemeja namja cantik itu. Karena hal itu membuat libido seorang Oh sehun memuncak. Nafasnya berangsur rendah, dan sedikit mengalami kesusahan saat ingin menelan ludahnya. Seakan jutaan batu menghambat ludahnya untuk membasahi kerongkongannya.
Tanpa ba-bi-bu, Sehun malah menutup pintu mobilnya. Suasana malam yang begitu sepi mendukung Sehun untuk melakukan hal yang lebih terhadap namja cantik dihadapannya ini. Sehun menjauhkan sabuk pengaman yang tadi sempat akan ia pasangkan ke namja mungil yang kelewat cantik itu. Segera membaringkan tubuh namja itu memanjang memenuhi bangku jok penumpangnya. Sehun ikut membaringkan dirinya dengan menyangga tubuhnya agar tidak menekan tubuh yang ada dibawahnya. Lalu ia mulai aksinya dengan mengecupi bibir manis yang dirasa telah menjadi candunya. Membuka mulut itu dengan menekan kedua sisi rahang namja itu dengan tangannya. Menyapu habis tiap jengakat mulut namja itu. Memperkosanya hingga lama-lama bibir itu serasa tebal dan bengkak. Tak seru sebenarnya jika partnermu adalah seseorang yang sedang pingsan atau kehilangan kesadaran. Karena rasanya akan sedikit seperti bermain panas dengan sebuah manakin.
Puas bermain pada bibir ranum yang manisnya kelewat manis hingga bengkak itu. Sehun berpindah mengecupi pipi hingga ke telinga kanan namaj itu. Kemudian turun menuju leher jenjang, putih nan mulus. Menyesap, dan menjilatnya. Memberikan tanda-tanda kempemilikan di sepanjang leher, jakun hingga turun ke tulang selangkanya. Bercak-bercak yang tak akan hilang hanya dalam waktu tiga hari itu kian bertambah banyak.
Disela sesi kecupan cupang yang ia berikan terhadap leher namja cantik itu. Satu tangan Sehun, ia gunakan untuk membuka satu persatu kancing kemeja dari namja cantik itu. Ciumannya turun ke arah nipple kembar berwarna merah kecoklatan yang terpampang jelas setelah Sehun berhasil membuka kemeja namja itu. Dengan segera Sehun meraup nipple itu bergantian. Satu nipple diraut dan dihisap kedalam bibir tipisnya. Satu yang lain di tarik dan dimainkan dengan jari-jarinya. Menariknya hingga nipple itu kian mencuat. Sedangkan bibirnya tak henti-henti menjilap dan menyesap layaknya bayi yang sangat membutuhkan susu dari induknya. Giginya yang rapi kembali menandai sekeliling dada namja cantik itu. Hal itu dilakukan berantian dari nipple kanan hingga ke nipple kiri bergantian hingga ia puas.
Setelah puas menyecapi nipple namja cantik itu. Hingga terlihat sekarang nipple kembar itu mencuat menantang dan bengkak dihadapannya. Tangannya kembali tak tinggal diam ketika melihat celana yang kain yang digunakan oleh namja itu. Dengan tak sabarnya ia melucuti celana kain itu. Terpampang paha putih mulus tanpa goresan dan bulu. Membuat Sehun kembali berdecak tak sabaran. Sehun melepas begitu saja celana kain itu dan membuangnya ke arah depan. Yang tersisa hanyalan kain tipis yang menutupi aset berharga milik namja cantik itu.
Dilihat dari balik kain tipis yang menutupi kemaluan namja cantik dihadapnnya ini. Aset berharga itu begitu kecil. Sehun sedikit merabanya dari luar. Tarasa begitu mungil dan kenyak. Sehun sedikit mengedusnya. Dan dengan gerakan cepat ia menarik kain tipis satu-satunya yang melekat di tubuh namja cantik itu. Dengan segera juga wajah Sehun tertampar oleh kejantanan kecil berwana pink tua dengan ujung kepala jamurnya yang berdiri. Karena Sehun memang sedari tadi tepat berada di hadapan aset berhaga namja cantik itu. Kejatanan itu berdiri. Sehun sedikit bertanya-tanya. Apakah orang yang sedang tak sadarkan diri juga bisa merasakan rangsangan yang sedari tadi Sehun ciptakan.
.
.
.
"Aku merasa diriku berada di tempat yang ku pikir ini tempat dimana kau tidak pergi ke Surga atau pun ke Neraka. Semuannya gelap dan kuraskan nyeri di beberapa bagian tubuhku." Ucap Luhan dalam batinnya merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
.
.
.
Setelah puas memaikan bibir dan nipple namja cantik yang sdang terbaring tak sadarkan diri itu. Namja di hadapannya ini sudah telanjang bulat dengan banyak bercak cupang di tubuhnya juga bekas leleran salifa Sehun yang taddi kut menyecapi tubuh itu hingga sedikit berkilat. Sendangkan Sehun masih dengan pakaian lengkapnya. Hal itu membuat Sehun ikut merasa gerah dengan kemeja yang ia pakai. Dengan segera ia melepas satu-persatu kancing kemejanya sendiri sampai dia setengah telanjang sekarang.
Sehun kembali mengedarkan pandangannya kehadapan tubuh namja cantik yang tergolek lemah tanpa kesadarannya. Tangannya ia julurkan untuk mengenggam kejantanan mungil yang sejak tadi berdiri itu. Meremasnya dan memompanya ke atas dan ke bawah. Berharap dengan memberi rangsangan itu. Namja cantik dihadapannya ini mungkin akan sadar dan bisa menyemburkan lahar panasnya atas permainan tangan Sehun. Kemudian Sehun kembali merendahkan kepalanya menuju ke kejantanan mungil yang mengacung tegak itu. Dan mulai menjilat dan melahapnya bak kejantanan itu adalah lolipop besar dan manis. Menyapukan sedikit gigi-giginya ke atas kejantannya itu. Menyesap setiap aroma yang ada pada kejantanan itu. Tangannya ikut meremas dan memainkan dua bola kembarnya. Hingga sekarang kejantanan itu menegang sempurna dengan sedikit percum di ujungnya.
"Ah.." Satu lenguhan dari namja itu keluar begitu saja di sela-sela pengaruh clorofom yang masih menahannya.
Lenguhan terdengar begitu Sehun melepaskan kulumannya pada kejantanan mungil namja cantik itu. Atensi Sehun langsung tertuju pada wajah namja cantik itu. Dan yang ditangkap dari kedua mata elangnya adalah leleran air mata dari sudut-sudut mata yang terpejam dibawahnya.
.
.
.
"Ah.." Lenguhan Luhan disela-sela kesadarnnya yang mulai kembali. Tapi masih enggan untuk terjaga dan membuka matanya.
"Sakit sekali. Seakan tepat dipusat gairahku di mainkan dengan kasar. Hiks." Batinnya kembali bersuara.
.
.
.
Dirasa tidak ada pergerakan yang berarti dari namja cantik dibawahnya itu. Sehun kembali bernapsu untuk segera menggagahi namja dibawahnya ini. Ia segera mengangkat dan membuka lebar-lebar kedua kaki namja cantik itu. Dan Sehun segera dihadapakan kerutan rapat berwana senada dengan kejantanan namja cantik itu. Sebuah hole yang bersih tanpa bulu pubisnya nampak namja ini begitu menjaga tubuhnya. Sehun sangat takjub dengan apa yang ia lihat sekarang. Seakan apa yang ia lihat sekarang adalah seorang malaikat tanpa sayap yang diutus Tuhan untuk dinikmati keindahannya dan juga menghangatkan malamnya. Dengan hati bergetar Sehun merogoh phonsel miliknya dan memotret keindahan yang Tuhan ciptakan dihadapannya ini.
Sehun berhasil mendapatkan potret photo yang menurutnya adalah seorang malaikat tanpa sayap dengan keadaan erotisnya yang menggoda, memperlihatkan bibir yang bengkak, sepanjang leher hingga tubuhnya penuh kissmark, kejantanan yang berdiri tegak dengan sedikit percum di kepala jamunya yang mungil juga memerah itu, dan jangan lupakan hole rapat mengkerut berwarna senada dengan kejantannya. Sehun tidak mampu lagi mendiskripsikan dengan kata-kata pujian untuk memuja namja cantik dibawahnya itu. Sehun menjatuhkan phonselnya begitu saja.
Sehun kemudian tergiur untuk merasakan bagaimanakah rasa hole namja cantik itu. Membayangkan kerapatan hole itu menjepit erat penisnya. Membuat libido Sehun bertambah besar. Dengan tak sabar tangan kirinya merambat ke arah hole itu. Dengan tak sabar dan tanpa pelumas sedikitpun. Sehun segera menjejalkan jari tengahnya langsung kedalam hole itu. Baru jarinya saja rasanya begitu rapat, dan terjepit kuat. Apalagi hole ini begitu hangat dan ketat melapisi jari tengahnya. Jari tengahnya ia masukkan kian dalam, kemudian ia mengaduk-aduk hole itu seraya memikirkan jika yang tertanam disana bukan jarinya. Melainkan kejantannya yang sudah nyaris tegak berdiri di dalam celananya. Sehun membayangkannya saja hingga membuat tubuhnya sedikit bergetar. Lalu ia menarik telunjukkanya itu dan menjilatnya karena ingin memastikan bahwa hole milik namja cantik itu juga manis.
"Hem ... ternyata memang benar. Rasanya manis!" Usai menjilat jari tengahnya itu iya menyeringai senang.
Dengan tak sabrannya. Sehun ikut melucuti ikat pinggang yang ia pakai. Menarik ziper celananya. Sedikit menurunkan celananya dan mengeluarkan pusakannya. Terpampang jelas di hadapan hole merah itu, sebuah benda yang menunjukkan kehidupannya sedang mengacung tegak dengan sedikit percume di ujung kepala jamurnya. Kejantanan Sehun layaknya tongkat panjang, gemuk dan keras dengan bulu-bulu pubis disekitar pangkalnya. Siap menantang dan menghujam hole siapapun untuk memanjakan pusakanya itu.
Dengan sigap Sehun menyangga kaki-kaki ramping dihadapnnya itu ke atas dengan satu kaki kanan namja itu disampirkan ke atas pundaknya. Sedangkan kaki kirinya ia sangga dengan lengan kanannya. Sedikit meludahi jari-jari tangan kirinya. Sehun tanpa sabaran melesakkan ke tiga jarinya langsung kedalam hole namja cantik itu. Sedikit gerakan memutar di dalam hole itu. Sehun menambahkan lagi jarinya untuk masuk kedalam hole itu. Efek obat bius itu memang tidak bisa mengalahkan rasa sakit yang dialami namja cantik dibawahnya. Karena seditik kemudian mata itu sedikit mengerjap-ngerjap menandakan akan terbuka. Dan kesadarannya mulai kembali. Mungkin memang Sehun tadi hanya menggunakan sedikit sekali obat bius itu. Sehingga namja cantik dibawahnya ini mulai mendapatkan kembali kesadarannya.
"Hikz.." Suara namja cantik itu.
Sehun yang mendengar suara kembali segera menelisik untuk melihat apakah namja itu akan mendapatkan kembali kesadarannya. Matanya memicing tajam ke arah wajah namja cantik itu. Dengan segera Sehun melepaskan jari-jarinya dari dalam hole namja itu. Dan segera mencari sebuah alat yang bisa digunakan sebagai pengikat. Sehun dengan gerakan cepat melepas ikat pinggangnya sendiri yang masih bertenger di celananya yang turun sebatas pahanya. Sehun segera melilitkan ikat pinggangnya tadi ke kedua tangan namja cantik itu ke posisi atas kepala. Beruntung Sehun tadi tak lupa melepas kemeja namja itu tadi saat ia mulai menggerayai tubuh mulus itu. Sedangkan kedua kaki namja cantik masih dengan keadaan yang sama dimana kedua kakinya itu dibuka selebarnya mengakang dihadapan Sehun.
Kaki kanan namja cantik itu, yang sempat ia sampirkan di atas pundaknya. Kini telah beralih di ikat pinggang milik namja itu ke atas pegangan tangan mobil. Sendangkan matanya sudah di tutup dengan sebuah dasi yang kebetulan Sehun temukan di laci mobilnya. Dasi yang beberapa lalu lupa ia bawa kerumah usai mendatangi acara resmi yang diselenggarakan oleh kampusnya. Kemudian kaki kiri Luhan disampirkan ke atas jok kursi kemudi. Menalikan kaki namja cantik itu dengan sabuk pengamannya. Sehingga namja itu langsung menyuguhkan hole yang barusaja iya lebarkan. Mata elang itu menangkap tepat pada hole merah merekah itu.
Dirasa ikatanya sudah cukup. Sehun mulai menyiapkan kejantanannya yang sudah sekeras kayu itu. Sedikit mengocoknya dan meratakan percumnya sebagai pelumas untuk lebih mudah nantinya memasuki hole sempit nan merekah itu. Diraba lagi hole itu dengan jari-jarinya. Dirasa foreplay yang dilakukannya tadi cukup untuk membuat hole itu mudah untuk dimasuki oleh kejantanannya. Sehun kembali menuntun kejantanannya ke arah pintu hole namja cantik. Dengan sedikit gerakan pelan dilakukannya untuk memasukkan kejantanannya kedalam hole namja cantik itu. Pelan-pelan Sehun mendorongnya.
"Akh.." Rintihan dari mulut ranum nam bengkak itu.
Mendengar rintihan itu, Sehun sedikit tak tega. Ia kembali menarik keluar kejantanannya sebatas kepala kejantanannya saja. Dan dengan kekuatan penuh menerobos masuk seakan ditelan bulat-bulat secara paksa masuk ke dalam hole itu.
"ARG.. APPO." Lengkingan keras terdengar dari bibir pria dibawah Sehun. Sebuah lengkingan pilu dan kesakitan.
"Tenanglah. Sebentar lagi kau juga akan menikmatinya."
Entah mengapa Sehun mengulurkan tangan kanannya menuju ke pipi kiri namja cantik itu. Membelainya dengan perasaan sayang. Sedangkan rembesan air mata tercetak jelas disela-sela dasi yang menutup mata pria itu.
.
.
.
Luhan merasakan sakit yang teramat tepat dibagian bawahnya. Seakan-akan bagian bawahnya terbelah dua dengan sesuatu yang keras nan tumpul ingin mmotongnya. Ia merasakan dibawah sana telah robek tak bersisa. Seolah disana di isi penuh oleh sesuatu yang panjang dan besar memenuhi dirinya. Air mata dengan deras mengalir tercetak jelas merembes dibalik penutu mata yang dipakaikan untuk menutupi matanya. Tak henti-hentinya leleran air mata itu mengalir hingga menembus kain dan menetes membasahi pipinya hingga melewati lengkungan lehernya dan jatuh tepat di atas jok kursi yang ia duduki.
.
.
.
Meresapi jepitan erat dari hole namja cantik dibawahnya ini. Dan jangan lupakan hangatnya hole itu menyelimuti kejantanan tegangnya. Tak lama meresapi apa yang sekarang ia rasakan. Terlihat gestur bibir pria dibawahnya menggigit kuat bibir bawahnya sendiri menahan sakit, semenjak Sehun memasukkan kejantanan tegang menantang yang lenyap habis ke dalam hole nya. Sehun tak kuasa menahan untuk segera menggempur lubang itu hingga habis tak bersisa. Satu teriakan yang sepertinya akan di suarakan oleh namja cantik dibawahnya. Dengan segera Sehun mengambil kemeja milik namja cantik itu, yang memang tergeletak tak jauh dari mereka berasa. Menjejalkannya ke arah bibir merah bengkak milik namja cantik dibawahnya hingga penuh.
Sehun meng-in-out kan kejantanannya dengan tempo sedang untuk meresapi tiap remasan kuat nan hangat di dalam sana. Sedangkan namja cantik itu tak henti-hentinya mengalirkan air mata dari pelupuk matanya yang merembes ke sela-sela penutup kain yang dipakainya itu. Tubuhnya terhentak-hentak mengikuti hentaan yang diberikan Sehun. Menghujam titik terdalamnya. Sungguh persetubuhan yang kasar. Kejantanan kecil milik namja cantik itu bahkan mengacung tegak bermandikan percum bening yang menandakan bahwa persetubuhan itu hanya dinikmati oleh orang yang sedang asik menghentak-hentakkan kejatanannya.
.
.
.
Tempo permainan yang dimainkan Sehun benar-benar membuat namja cantik itu beitu kesakitan dan kelelahan. Sudah hampir setengah jam, Sehun memegang kuasanya dalam permainan yang ia mulai. Geraman demi geraman terdengar dari balik mulut namja cantiknya yang teredam kain yang menyumpal penuh mulut manis itu. Sehun masih mencoba mencari titik kenikmatannya. Tanpa peduli jika pria yang ada dibawahnya ini benar-benar tidak menikmatinya.
Sehun akhirnya menghujam kembali hole itu. Menarik keluar hingga ujung kejantanannya saja yang masih ada di hole hangat itu. Dan dengan gerakan cepat menghujam keras nan kasar yang telak menyentuh daging lembut di dalam sana. Geraman kesakitan dari pria dibawh itu seketika berubah menjadi desahan tertahan. Sehun menusuk kian brutal kedalam sana. Tubuh namja cantik itu terlonjak-lonjak kembali akibat tempo yang Sehun berikan begitu cepat.
.
.
.
Sudah selama satu jam penuh Sehun menggepur lubang namja cantik itu tanpa ampun. Hingga dirasa sesuatu dibawah sana menunjukkan akan mencapai puncaknya. Sedangkan namja cantik itu mengeluarkan laharnya untuk kesekian kalinya yang membuat dinding hole itu kiat sempit dibawah sana. Sedangkan Sehun dengan kejantanannya yang kian membesar itu masih berusaha mencapai pelepasannya.
Dan lima tusuk terakhir dari Sehun untuk hole sempit itu. Ia menyemburkan benihnya dangan derasnya. Pria dibawahnya merasakan cairan hangat yang luar biasa masuk kedalam tubuhnya. Dan dia terpejam kehabisan tenaga. Sehun mencabut kejantanannya dan duduk bersandar ke pintu mobil tepat dibelakannya setelah melepaskan penutup mata pria dibawahnya itu. Meraup nafas dalam-dalam menyamankan tubuhnnya.
.
.
.
Setelah meredahkan deru nafasnya. Sehun rasanya masih sanggup untuk menghujam hole rapat itu sekali lagi. Ia begitu bernafsu dengan tubuh di sampingnya itu. Kemudian Sehun kembali menuntun kejantanan yang kembali keras itu ke arah hole namja cantiknnya. Sebelum itu Sehun sempat melihat leleran cairan kemerahan yang ikut keluar dari hole itu bersama percumenya hingga menetes di atas jok kursi mobilnya. Sehun sedikit terkejut tapi dengan segera ia mengganti ekspresinya menjadi tersenyum senang.
"Terimakasih telah memperbolehkan ku mengambilmu, untuk menjadi yang pertama." Ucap Sehun begitu senangnya.
Sehun kembali memposisikan kejantanannya lagi ke arah pintu hole namja cantik itu yang sudah licin tanpa perlu melakukan pelebaran. Seketika pria dibawahnya mengarahkan pandangan ke arah Sehun. Mata bak rusa itu membola ketika Sehun mendorong pellan kejantannya ke dalam hole yang telah lecet itu. Sedangkan Sehun menyeringai dibalik wajah datar dan tatapan tajamnya. Ia kembali meresapi jepitan keras yang nan hangat dari hole namja cantik itu, meskipun hanya ujung kejantanannya saja yang masuk kedalam sana.
Wajah dibawahnya begitu pucat seakan menahan kesakitan pada holenya yang kembali terkoyak dan terbaksa melebar. Dari mulut mungilnyya yang masih dengan apik tersumpal dengan kain kemeja. Membuatnya hanya bisa mengeram tertahan disela-sela kain itu. Sehun tanpa aba-aba kembali menghujam dengan keras, memompa seluruh kejantanannya itu hingga tertelan bulat-bulat hingga tak tersisa ke dalam hole itu.
Namja cantik dibawahnya dengan hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya ke kanan ke kiri sambil terus menunjukkan sorot mata kesakitan atas perbuatan namja diatasnya ini. Leleran air matanya juga tak henti keluar dari kedua pangkal mata bak rusa itu. Respon yang ditunjukkan oleh namja cantik itu seolah-olah menyiratkan permohonan agar namja yang di atasnya itu mau menghentikan perbuatannya tehadap tubuhnya. Tapi Sehun tidak sama sekali mengidahkan ekpresi yang ditunjukkan namja cantik dibawahnya. Ia malah asik menikmati setiap remasan dan kehangatan hole itu terhadap kejantanannya.
"Akh.." suara namja cantik itu.
.
.
.
Hujaman demi hujaman yang sangat keras dan kasar menghantam telak daging lembut didalam sana. Luhan, di bawah sana sudah tak kuasa menahan nyeri beserta nikmat secara bersamaan saat ia sekali lagi memuntahkan lahar hangatnya dari ujung kejantanan yang memerah tanpa sentuhan, yang mampu mengacung tegak dan keras. Luhan bahkan menyemburkan percume nya untuk kesekian kalinya, seolah dengan mudahnya dia mencapai pelepasannya hanya karena hantaman keras dan telak dibawah sana oleh seorang namja bermata elang yang sedang mengukungnya. Pandangannya mulai mengabur usai pelepasannya.
"Tung…guu aaaaaa…ku sebentar lagi…. Ahhh…Ouchhh…ahhh", rancau Namja bermata elang berkulit pucat yang tengah menusuk hole Luhan dengan membabi buta.
.
.
.
Sehun makin menambah tempo tusukannya. Tampa memperdulikan jika namja cantik dibawahnya sana sudah kembali kehilangan kesadarannya karena rasa sakit dan lelah bercampur menjadi satu. Hingga apa yang ia rasakan hanyalah mati rasa. Sedangakan Sehun menikmati perbuatannya terhadapa hole itu sambil mendongak memejamkan matanya. Dirasa ia akan mencapai puncaknya kembali karena hole disana terasa menyempit mungkin karena kejantanannya bertambah besar.
"Aahhh …. Aahhhh…sebentar lagi…!" Tak sadar kalau namja cantik dibawahnya telah kembali tak sadarkan diri.
"..." Tak ada sahutan dari namja cantik itu.
"I… wanttt…a…cum…aaaaaaaahhhhhhhhhhhhh…" Sehun mengakhiri permainanya dengan kembali menumpahkan benihnya kedalam tubuh namja itu.
Usai dirasa seluruh spermanya sudah keluar habis untuk kali orgasmenya. Sehun menarik perlahan kejantanannya yang sudah lemas itu dari dalam sana. Hole kosong itu dengan derasnya menyemburkan lahar panas Sehun yang memang tak tertampung mask sepenuhnya kedalam sana dengan darah yang lagi-lagi ikut turun mengalir ke kursi jok penumpangnya. Sehun dengan tubuh lemas dan terengah-engah masih sibuk mengatu nafasnya.
.
.
.
Dirasanya tubuh dan staminanya sudah membaik. Sehun melepaskan ikatan di kedua tangan dan kaki namja cantik itu, juga sumpalan kain dimulut namja itu. Ia membereskan sisa-sisa kegiatan panasnya. Menyapu bersih bekas leleran sperma yang entah milik siapa dengan kemeja tadi. Kembali memasang celana dan juga bajunya. Melihat namja cantik itu dengan keadaan yang mengenaskan tanpa sehelai benarng pun. Dengan sisa keringat dan cairan sperma di tubuhnya. Dan jangan lupakan, jika tubuh itu sudah tak lagi mulus seperti sebelumnya. Hati Sehun sedikit tergerak. Ia mengambil mantel tebal yang tadi ia kenakan dan sempat jatuh di jok kursi pengemudi. Memasangkan dengan rapat ke tubuh mungil penuh bercak kepemilikan itu. Usai itu ia segera berpinfah kejok kursi pengemudi dan mulai menjalankan mobilnya menuju apartemennya.
.
.
.
Sehun tidak ingin membawa Luhan dengan keadaan seperti itu kepada hyung – hyungnya. Lihatlah namja ini, wajahnya begitu damainya saat ia pingsan. Pucat dan bengakaknya bibir merah itu. Sembab kedua matanya karena tadi tak henti-hentinya ia meneteskan air matanya. Bahkan sekujur tubuh kurusnya yang sebelumnya mulus, kini telah dihiasih tanda-tanda kepemilikan yang tadi diberikan Sehun. Dan jangan lupakan, bekas leleran sperma dan darah yang masih melekat pada paha bagian dalamnya. Itulah kesimpulan yang diambil oleh Sehun ketika ia telah membawanya ke dalam apartemennya.
Memandang sejenak sekujur tubuh namja cantik itu. Setelah dia digendong ala bride style dan sebuah mantel tebal membungkus sekujur tubuhnya menuju ke lantai 117 apartemennya. Dan membawanya kedalam sebuah kamar dengan nuansa putih dan silver mendominasi ruangan itu. Meletakkan tubuh ringkih itu diatas kasurnya. Kemudian Sehun beranjak pergi ke kamar mandi yang ada di ujung kamar itu. Untuk menyiakan air hangat, dan memandikan namja cantik itu.
.
.
.
Luhan kembali mendapatkan kesadarannya. Ia membuka matanya perlahan. Mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan cahaya sambil mengosok-osok matananya. Hal yang pertama yang ia tangkap dari kedua retinanya adalah sebuah kamar dengan nuasa putih dan silver begitu rapi dan elegan secara , Ia berusaha duduk dari tempat yang ia yakini adalah dirinya berada di atas kasur empuk. Namun, Luhan tersentak karena ketika ia mencoba duduk, maka yang terasa adalah denyutan perih dan sakit di tubuh bagian bawahnya.
"Akh…!" Ringisan yang dikeluarkan dari bibir yang tak lagi mungil itu akibat bengkak yang masih ketara.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia punya. Luhan kembali berusah memposisikan tubuhnya untuk duduk dengan menggapai pingigran meja nakas dan berpegangan dengan erat. Sambil meraba-raba meja nakas disampingnya, Tak sengaja ia malah menyenggol sebuah gelas yang berada diatas sana hingga bunyi dentuman kaca yang beradu dengan laintai kramik terdengan keras. Gelas itu pech dan terurai menjadi potongan-potongan kaca yang berserakan di lantai kamar itu.
"Prak..!" Suara gelas beradu dengan kerasnya lantai kamar.
.
.
.
"Prak..!" Suara gelas beradu dengan kerasnya lantai kamar.
Sehun mendengar suara seperti benda jatuh dari arah kamarnya. Dengan segera ia menyelesaikan pekerjaannya mengisi air dan menaburkan sabun ke dalamnya. Tak lupa ia mencuci tangan dan segera mengeringkannya. Ia berjalan keluar dengan meraih sebuah sapu tangan yang masih ada disakunya, menambahkan beberapa tetes obat bius ke atasnya. Dan berjalan menuju kembali kedalam kamarnya.
.
.
.
Sehun menghampiri sumber kegaduhan tadi. Tepat di sana, di atas kasurnya. Seorang yang tadi pingsang kini telah mendapatkan kembali kesadarannya. Kedua pasang mata itu bertemu pandang. Mata elang nan tajam milik Sehun memberi tatapan membunuh ke arah mata cantik bak rusa yang membola menyiratkan akan ketakutan. Sehun terus mendekat hingga kini jarak keduanya hanya berselang satu meter, saling berhadapan.
"Kau ingin kemana sayang?" Mendekat kearah namja cantik itu.
"…" Dengan wajah ketakutan namja cantik itu mengalihkan pandangannya ke arah lantai.
Sehun malah semakin mendekat dan duduk tepat di sebelah namja cantik itu.
"Kau tak akan bisa kemana – mana karena aku tak akan membiarkanmu pergi tanpa seijin ku." Sambil mengelus pipi luhan dengan tangan kanan.
Dengan sigap Sehun membius sekali lagi namja cantik itu. Namja cantik itu berusaha melepaskan bekapan tangan Sehun pada hidung dan mulutnya. Namun sebelum berhasil untuk melepaskan diri, namja cantik itu kehilangan kesadarannya. Kedua tangannya yang tadi memberontak untuk melepaskan bekapan tangan Sehun dengan saputangan bius itu. Dengan lunglai begitu saja jatuh lemas.
Sehun membopong namja cantik itu ala bridle style menuju ke kamar mandi. Ia sudah melepaskan mantelnya yang tadi melekat pada tubuh namja cantik itu hingga kini terpampang jelas tubuh polos itu. Karena tadi ketika Sehun menyetubuhinya di mobil hanya diterangi lampu remang-remang pinggi jalan. Tapi kini semua terlihat jelas di hadapannya. Sehun meletakkan namja cantik itu untuk masuk ke dalam batub dengan air hangat yang sudah ia beri sabun dan menggosok tiap inchi tubuh namja cantik itu tanpa terkecuali holenya. Sedikit bergetar ketika ia menyentuh bibir hole lecet itu. Hingga membuat suatu dibawah sana menampakkan kehidupannya.
Sehun mencoba mereda ketegangan dibawah sana dengan menyetubuhi namja cantik itu kembali. Dengan gerakan cepat ia menyelesaikan urusannya itu. Segera usai tindakannya itu, ia memandikan tubuh namja cantik itu, menggosokkan sabun mandi ke tubuh itu lalu membilasnya hingga kumpulan busa itu tak lagi terlihat. Dengan gerakan cepat menarik namja cantik itu keluar dari bathub. Sedikit menyangganya untuk berdiri dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya cepat-cepat meraih handuk dan melilitkannya ke arah namja cantik itu.
Namja cantik itu dibawa kembali ke dalam kamar Sehun. Sekarang tubuhnya sedang di pasangkan piyama tidur milik Sehun sendiri yang terlihat sekarang adalah tubuh namja mungil yang tenggelam dalam balutan piyama tidur itu. Tak lupa tadi Sehun sempat mengoleskan salep penghilang bercak dan salep untuk hole namja mungil itu yang sempat robek dan makin robek akibat ulah Sehun di kamar mandi tadi. Oh dan jangan lupa, Sehun memberikan dosis terhadap obat bius itu karena yakinlah jika obat itu bisa bertahan hingga esok pagi.
Karena besok pagi-pagi sekali Sehun sudah harus mengantar pesanan para hyungnya, yaitu seorang slave yang seperti biasah akan dimainkan mereka berlima. Sedangkan salep yang tadi dioleskannya dalah salep yang sangat ampuh bukan untuk menghilangkan tapi lebih kepada menyamarkan bekas dari sebuah kissmark yang tadi ia buat di sekujur tubuh namja cantik itu. Usai menyamankan posisi namja itu. Sehun segera kembali ke kamar mandi dan membersihkan dirinya sendiri. Karena sedari tadi dia memang belum membersihka diri. Apalagi setelah permainan panas yang memang hanya dinikmat Sehun sendiri mampu membuat Sehun berkeringat dengan banyak. Apalagi aroma sperma yang menguar dari sisa percintaannya tadi begitu kuat menusuk.
.
.
.
Pagi itu Sehun sudah bersiap-siap membawa namja cantik itu ke sebuah rumah dengan gaya arsitektur eropa menghiasi sekelilingnya ruangnnya. Sebuah rumah yang tak begitu besar tapi terkesan elegan dan sederhana jika dilihat dari luarnya. Ia menggendong namja cantik itu kesebuah ruangan yang mirip kamar dan berada di ujung setelah lorong yang sedikit gelap. Sehun membuka kamar itu dengan sebuah kunci yang tadi memang sudah ia kantongi. Membuka ruangan itu dengan pelan. Suasana yang pasti akan membuat bulu kudu merinding karena ketika kita masuk maka akan disuguhi dengan sebuah ruangan berdinding gelap. Sebuah jendela yang sepertinya tertutup oleh tirai-tirai tinggi. Sebuah kamar yang minim penerangan karena hanya terlihat bias-bias cahaya dari sela-sela kecil tirai disana.
Sehun segera berjalan menuju ke arah saklar ruangan itu. Hingga sekarang tampak jelas kamar apakah itu. Sekeliling kamar diberi sebuah walpaper dinding berwana gelap. Terdapa sebuah ranjang yang memang dirancang khusus untuk bercinta. Atau dalam arti lain, ranjang itu biasa digunakan untuk menempatkan seorang slave yang bisa dimainkan beramai-ramai. Di sisi kanan-dan kirinya ada lemari kaca yang berjajar apik beserta isinya yang tak kala mengerikan.
Berbagai macam sex toys dengan ukuran dan jenis yang berbeda-beda terpampang dibalik kaca lemari yang membatasinya. Di dinding sana juga tergantung sebuah tali-tali dan juga cambuk dengan berbagai ukuran. Di depan jendela sana ada sebuah rantai yang terhubung keatas plafon yang biasanya digunakan untuk melakukan sex dengan berdiri dambil seorang slave di gantung disana.
Namja cantik itu kemudian dibopong ke arah ranjang tadi usai melepaskan seluruh balutan kain dari tubuh itu hingga telanjang bulat. Sehun memposisikan kedua tangan luhan ke atas kepala. Kemudian Sehun beralik ke kaki-kaki mungil itu dan mengikatnya ke samping-samping ranjang hingga sekarang namja cantik itu mengakakang lebar memperlihatkan hole yang masih seddikit membengkak itu. Sebelum Sehun beranjak pergi dari ruangan itu. Tak lupa ia memasangkan sebuah penutup mata pada namja cantik itu. Bahkan ia sempat mengelus pipi namja cantik itu dan membisikkan sebuah kata penenang untuknya. Meskipun Sehun tau namja cantik itu tidak akan pernah tau karena kesadarannya belum pulih kembali.
"Maafkan aku." Lalu Sehun beranjak keluar dari ruangan itu.
.
.
.
TBC
Note:
Annyeong reader-nim semua.
Setelah saya kemarin memutuskan untuk memperbaiki seluruh chapternya.
Saya up chapterp 1 ini setelah hampir satu minggu lebih ini saya mencoba menulis ulang ff ini.
Yang saya targetkan bakalan up akhir minggu kemarin.
Eh malah molor dan up hari ini.
Mianhae semua.
Untuk chapter yang lain masih otw proses perbaikan.
Semoga kalian semua masih mau menunggu ff saya.
Entah chapter satu ini akan dirasa seperti apa.
Tapi saya tidak bermaksud membuat chapter ini berbelit-belit.
Saya hanya mencoba untuk menulis sedetail mungkin.
Mungkin akan ada penambahan2 cerita di chapter depan.
Saya harap kalian bersedia membaca kembali ff ini.
Terimakasih.
15/02/2018
