Disclaimer: Hetalia © Himaruya Hidekazu

Warning: sedikit OOC, OC, fem! Indonesia, loosely based on real historical event.


De Negen Straatjes, Januari 1995

Butiran salju turun perlahan dari langit Amsterdam, jatuh diatas batu-batu persegi jalanan. Membuat para pejalan kaki harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset di trotoar. Sesosok pemuda berambut pirang berjalan menembus keramaian. Syal panjangnya menjuntai, dipermainkan hembusan angin dingin. Ia merapatkan mantelnya. Dengan langkah sedikit tergesa, ia segera masuk ke dalam sebuah butik.

=Klinting=

Ned mengibas sedikit salju yang tertinggal di pundaknya, sementara matanya memindai butik pakaian yang baru saja ia masuki. Salah satu pelayan toko langsung menghampiri pelanggan barunya itu. Si pelayan toko berkata dengan sopan

"Selamat datang di butik kami, adakah yang..."

"Potong basa-basinya..", ucap Ned

"Tunjukkan saja pakaian terbaik yang ada di butikmu.."

xxx

Satu jam kemudian Ned kembali berjalan menyusuri trotoar, disamping kanal setengah membeku di pusat kota Amsterdam. Sejak Beatrix memberitahu tentang prospek menghadiri ulang tahun Nesia, Ned langsung menyibukkan diri mempersiapkan kunjungannya. Ditengah cuaca seperti ini, normalnya Ned akan lebih memilih bersantai di rumah sambil menenggak bir, atau menguntit adiknya yang berlibur ke Spanyol. Tapi saat ini bukanlah waktu yang normal. Dalam 8 bulan, ia akan menghadiri ulang tahun ke-50 Nesia, sekaligus pertama kalinya ia menghadiri ulang tahun Nesia. Dua momen bersejarah sekaligus, Ned butuh penampilan yang lebih dari sekedar sempurna.

Ia berjalan melewati jembatan, ke arah barisan pertokoan di seberang kanal. Sudah beberapa hari ini Ned mondar-mandir keluar masuk berbagai toko di Amsterdam, tanpa membeli satupun barang. Ia ingin melihat koleksi terbaik semua toko pakaian se-Amsterdam, atau se-Belanda, atau kalau perlu se- Eropa. Ned tidak ingin terlalu cepat memutuskan, takut ia akan menemukan pakaian yang lebih bagus di tempat lain kalau terlalu cepat membeli. Untuk ulang tahun Nesia, semua harus sebaik mungkin.

Sebenarnya Ratu Beatrix sudah menawarkan untuk membantu Ned mempersiapkan kunjungannya, tetapi Ned menolak. Ia ingin melakukannya sendiri, terasa lebih personal. Selain itu ia memang enggan memakai berbagai fasilitas kerajaan. Walaupun dekat dengan keluarga kerajaan selama ratusan tahun, Ned lebih suka menjalani hari-harinya selayaknya warga Belanda lainnya. Tapi, tentu saja, kadang-kadang memiliki koneksi di lingkungan kerajaan sangat membantu dalam beberapa urusan.

xxx

Musim berganti, Ned menghabiskan sepanjang musim dingin untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan. Menjelang akhir musim semi, semua sudah selesai ia siapkan, bahkan sampai ke detail kecil semisal warna kaos kaki, cologne yang akan dipakai, dan celana dalam yang akan dikenakannya (putih dengan motif tulip merah).

Tinggal satu sentuhan terakhir untuk melengkapi kesempurnaan kunjungannya. Buket bunga tulip untuk dihadiahkan kepada Nesia. Ned berencana menghadiahkan buket besar berwarna merah dan putih di hari bersejarah itu, dan tidak ada tempat yang lebih baik untuk memesan tulip di seluruh dunia selain Keukenhof.

xxx

"Begitu saja meneer? Ada lagi yang meneer butuhkan?", tanya si penjaga rumah kaca.

"Tidak, itu saja..", jawab Ned sambil menggenggam pegangan pintu rumah kaca.

Pintu itu mengayun terbuka. Ned melangkah keluar dan memberikan pesan terakhirnya kepada si penjaga rumah kaca sebelum pergi

"..dan tolong pastikan tulip pesananku sempurna.."

Ned menutup kembali pintu rumah kaca dan melangkah pergi. Sepintas ia bisa melihat si pria penjaga rumah kaca tampak lega dengan kepergiannya, mungkin senang dengan perginya sumber polutan yang mencemari rumah kacanya. Ned tidak peduli. Ia sekarang berdiri dibawah hangatnya sinar mentari musim semi. Dijentikkan pipanya, dan debu-debu tembakau terbang terbawa angin. Melintasi hamparan bunga tulip sebelum menghilang ke langit. Untuk sekali ini, Ned tidak bisa menahan senyum. Mungkin karena hari ini satu dari sedikit hari cerah nan indah di tanah Belanda, atau karena dalam tiga bulan ia akan menghadiri ulang tahun Nesia.

"..semua terasa indah.."

xxx

Keukenhof, pertengahan Agustus, 1995

Pintu rumah kaca terbuka. Sesosok pemuda jabrik melangkah masuk, dan langsung disambut seorang pria dengan sopan.

"Welkom meneer, buket bunga yang anda pesan telah saya siapkan.", katanya sambil tersenyum

"Sebentar, akan saya ambilkan"

Pria itu lalu menghilang dan kembali dengan sebuah buket bunga tulip. Buket bunga besar dengan tulip berwarna merah darah dan putih tulang, disusun sesuai warna bendera Indonesia ( atau Polandia, jika Ned memegangnya terbalik). Lima puluh tulip terbungkus kain putih pucat berhiaskan renda. Diujungnya tergantung pita satin panjang. Ned mengambil buket itu untuk melihatnya lebih dekat. Menggendongnya dengan hati-hati seakan buket itu adalah bayinya yang terbuat dari kaca. Ia tersenyum kecil. Buket ini sempurna.

"Saya akan meletakkannya dalam kotak plastik, agar tidak rusak saat dibawa..", ujar si pria penjaga rumah kaca sambil mengeluarkan sebuah kotak plastik transparan berbentuk kubus.

"Tulip adalah bunga yang rapuh, apalagi jika musimnya tidak cocok.."

"Hmph, tentu saja aku tahu..", pikir Ned sambil menyerahkan buket tulipnya untuk diletakkan dalam kotak plastik. Tapi ia akan tiba di Indonesia dalam waktu kurang dari 2 hari, jadi meskipun daya tahan tulip tergolong rendah, hal itu bukan masalah.

Pria itu menyerahkan kotak plastik besar berisi buket tulip kepada Ned.

"Senang sekali bisa melayani meneer, saya harap bunga itu bisa memberikan kebahagiaan pada penerimanya..", ujarnya.

Mendengar itu, Ned tidak bisa tidak tersenyum

"Ya, pasti..."

xxx

Ned berjalan sambil memeluk kotak plastik berisi buket tulip, harta berharganya. Ia baru akan melangkah keluar gerbang utama Keukenhof ketika sebuah mobil hitam meluncur ke arahnya. Ada logo kerajaan Belanda terpasang di mobil itu. Ned berhenti dan memperhatikan. Mobil itu berhenti di depannya, dan sesosok pria bersetelan rapi keluar dari dalam mobil.

"Ah senang sekali bisa menemukan anda disini, tepat pada waktunya..", kata pria itu sambil agak membungkuk.

"Saya diperintahkan Yang Mulia Ratu untuk menjemput anda.."

"..aah apa ini? Lelucon kecil dari Beatrix?", gumam Ned. Berlebihan sekali mengirim mobil hanya untuk mengantarnya ke Schiphol. Apalagi jarak Keukenhof ke bandara itu tidak jauh. Ned mengabaikan perkataan pria tersebut.

"..sepertinya Beatrix agak berlebihan, katakan padanya aku bisa pergi sendiri dan tidak akan terlambat ke Schip.."

"..maaf tuan, tetapi..", pria itu memotong argumen Ned.

"..Yang Mulia Ratu meminta anda datang menemuinya di Istana Soestdijk, ada hal penting yang harus dibahas.."

"Eh?"

xxx

Mobil hitam itu melaju kencang menembus jalanan pedesaan Belanda. Di kursi belakang, Ned sudah mulai menghisap pipanya lagi. Memenuhi seisi mobil dengan aroma tembakau. Pelayan yang menjemputnya tidak mengatakan apa-apa tentang tujuan Beatrix memaksanya datang ke Istana Soestdijk, dan hal itu terus mengganggu pikiran Ned.

Ned melirik keluar, melewati jendela mobil yang kacanya digelapkan. Awan pekat mulai bergulung-gulung, menggantung rendah. Cuaca buruk adalah hal yang cukup wajar di Belanda, tetapi mendung kali ini membawa firasat buruk bagi Ned.

Istana Soestdijk, Ned jarang mengunjungi Soestdijk belakangan ini. Tempat itu adalah kediaman Putri Juliana dan suaminya, Pangeran Bernhard. Jika ada waktu luang, ia lebih memilih kelayapan di Amsterdam, atau Rotterdam, atau Den Haag. Soestdijk yang terletak jauh dari keramaian jadi pilihan kesekian. Itu, dan ditambah pasangan kerajaan Juliana-Bernhard yang sudah beranjak menjadi nenek dan kakek membuat Ned cepat bosan jika mengobrol dengan mereka. Bonusnya, rumah tangga kakek-nenek kerajaan ini tidak begitu akur. Jadi Soestdijk adalah tempat yang akan dikunjungi Ned saat ia butuh diceramahi kakek-nenek yang tidak akur.

Rintik-rintik hujan mulai turun perlahan, membasahi kaca jendela mobil. Suara desis pelan air hujan yang menghantam tanah mengisi keheningan perjalanan mereka. Ned tidak ambil pusing berbasa-basi dengan pelayan yang menjemputnya. Si pelayan juga hanya diam sepanjang perjalanan. Baguslah, hal terakhir yang Ned butuhkan di saat seperti ini adalah basa-basi tidak penting.

Kecuali kalau yang berbasa-basi Nesia...

Mobil mulai melambat, lalu berbelok memasuki kompleks istana. Dua orang penjaga memberi hormat sementara gerbang di depan mobil membuka secara otomatis. Mobil itu terguncang-guncang kecil saat melewati jalan berlapis kerikil, sebelum akhirnya berhenti di depan pintu utama istana. Ned menyambar kotak tulipnya. Salah satu pelayan istana,sambil membawa payung, bergegas maju untuk membukakan pintu. Tetapi Ned sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil, mengabaikan hujan yang mengguyur deras. Ia memegang kotak tulipnya dengan satu tangan dan berjalan dalam langkah besar-besar menaiki undakan putih, mengarah ke sepasang pintu ganda. Gemuruh halilintar terdengar di kejauhan.

Dua orang pelayan buru-buru membukakan pintu ganda tersebut. Ned melangkah masuk dan disambut kepala pelayan istana, yang membungkuk hormat dengan wajah tenang.

"Mana Beatrix?", kata Ned dingin, setengah membentak.

Dengan ketenangan yang luar biasa, si kepala pelayan menjawab.

"Yang Mulia Ratu telah menunggu anda. Mari saya tunjukkan jalannya..", kepala pelayan itu lalu berjalan perlahan menaiki tangga spiral. Ned mengikuti.

Ratusan tahun akrab dengan keluarga kerajaan tidak berarti Ned tahan menghadapi segala macam bentuk protokoler istana. Contohnya sekarang, kenapa pak tua di depannya ini tidak langsung memberitahunya di ruang mana Beatrix berada. Ned tidak buta istana ini, bahkan ia sudah hafal luar-dalam istana Soestdijk sebelum si tua ini bekerja disini. Tapi memaksanya memberitahu di mana lokasi Beatrix tidak akan berhasil, ia sudah pernah mencoba sebelumnya. Satu-satunya cara, sayangnya, adalah mengikuti protokoler istana yang membosankan dengan patuh.

Paling tidak sampai di depan pintu..

Kepala pelayan tua itu berhenti di depan sebuah pintu.

"Yang Mulia Ratu menunggu di...", belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Ned sudah menerjang masuk.

=BRAAAK=

Dibukanya pintu itu dengan brutal. Tiga sosok di dalam ruangan itu memandang Ned. Ned balas memandang mereka.

Ketiganya duduk mengelilingi sebuah meja pualam panjang berkaki rendah di tengah ruangan. Di atas meja ada tea-set porselen lengkap dengan sepiring kecil poffertjes. Di sebelah kiri meja, Pangeran Bernhard tersenyum melihat kedatangan Ned. Di seberang meja, tepat di depan Ned, Ratu Beatrix tersenyum kecil terlihat agak dipaksakan. Di sebelah kanan meja, Putri Juliana berhenti menatap Ned dan melanjutkan minum teh.

Ned mendekati mereka dengan gusar. Ia tidak diculik hanya untuk melihat acara minum teh keluarga yang bahagia kan?

"Sebaiknya ada penjelasan yang bagus untuk semua ini!", bentak Ned tanpa repot-repot menyembunyikan amarahnya.

Beatrix menggigit pelan bibirnya, seperti akan mengatakan sesuatu. Juliana meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. Beatrix menoleh pelan kepada ayahnya. Bernhard mengangguk kecil sebagai balasan. Ned tidak tahan melihat drama keluarga ini.

"Ned, sebenarnya..", kata Beatrix akhirnya membuka pembicaraan

Sunyi, hanya suara desis hujan terdengar

Beatrix kembali menggigit bibirnya, dan sedikit menundukkan muka. Ia melanjutkan.

"Kita... tidak jadi menghadiri ulang tahun Nesia..."

=BLAAAAAAR=

Halilintar menyambar di atas Istana Soestdijk.

~to be continued~


Catatan Penulis:

Kyahahahaha, makin lama rasanya kok makin jadi drama kerajaan ya? Chapter kali ini memperkenalkan orangtua dari Ratu Beatrix, Juliana dan Bernhard. Sekedar catatan kecil, suksesi monarki Belanda tidak harus menunggu raja atau ratu yang memerintah meninggal. Raja, atau dalam kasus ini Ratu, yang sudah tua biasanya akan memilih lengser untuk selanjutnya hidup tenang sebagai pensiunan raja atau ratu. Jadi Juliana disini bukan hantu, ok?

Oh by the way, setelah pensiun Ratu Juliana turun pangkat jadi Putri Juliana, despite dia udah jadi nenek-nenek.

And, i encourage you guys untuk googling soal tempat-tempat yang kusebutin. Keukenhof, Soestdijk, Huis ten Bosch, it'll give you some ideas tentang setting fic ini.

Once again, please let me know what do you think about this fic