Nai kembali berusaha memenuhi ucapan Nai beberapa waktu lalu nih hehehe.
.
WARNING : LittleTsundere&NerdHinata!
Disclaimer : I only own the story
.
.
.
Nerd 2
.
.
.
PLETAK!
"Ittai.."
Suara rintihan itu terdengar menggema di ruangan kecil ini. Seorang pemuda dengan rambut cokelat tengah mengelus-elus kepalanya yang menjadi korban penjitakan temannya.
"Jangan berciuman di sembarang tempat!" sergah temannya kasar.
Pemuda itu hanya mendengus pelan sementara gadis yang baru saja diciumnya terkikik geli.
"Makanya Hinata-chan, kamu cari pacar dong biar bisa berciuman." Ujar gadis itu di sela-sela tertawanya. Gadis yang dipanggil Hinata itu mendelik tajam dan semakin berkacak pinggang melihat pemuda rambut cokelat tertawa terbahak-bahak.
"Memangnya siapa yang mau dengan Hinata? Gadis tsundere yang penampilannya menyedihkan."
"Kibaaaa!" teriak Hinata kesal. Ia memungut penghapus tinta di sebelahnya dan melemparnya ke kepala Kiba. Namun sayang, Kiba bisa menangkisnya dengan baik.
Hinata menggumam kesal, memangnya apa yang salah dengan dirinya? Dia cuma seorang gadis yang hobi memakai rok panjang dan dan kaos yang ditutup jaket tebal yang warnanya pudar. Rambut indigonya dikepang dua karena ia memang merasa nyaman, kacamata minus yang bertengger di batang hidungnya membantunya melihat objek pada jarak jauh. Tidak ada yang salah kan? Mengenai sikap tsunderenya memang itu sudah bawaan lahir mau dibagaimanakan lagi coba?
Hinata melirik kedua temannya tadi, mengawasi siapa tahu mereka kembali berbuat mesum di depan matanya. Hinata tidak akan segan-segan melempar vas bunga kali ini. Namun ternyata mereka berdua telah kembali pada pekerjaannya. Matanya melirik ke arah lain, temannya yang lain juga sedang sibuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Hinata tersenyum.
Gadis itu merasa bahagia bisa mengambil kuliah yang sama dengan kedua sahabat masa kecilnya, Kiba dan Shino. Mereka bertiga selalu bersama dari jaman kuda gigit besi. Hinata adalah gadis yang selalu dibully , tetapi dua pemuda tadi selalu menjadi tamengnya dari setiap orang yang akan menyakiti. Kiba dan Shino bahkan terkadang lebih protektif dibandingkan Neji, kakak sepupunya. Karena persahabatan mereka itulah akhirnya mereka bertekad mengambil sekolah yang sama bahkan hingga bangku kuliah.
Di awal masuk perkuliahan, mereka bertemu dengan Tamaki dan mulai menjalin pertemanan. Hingga setengah tahun semenjak itu Kiba dan Tamaki mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih. Awalnya Hinata dan Shino terkejut luar biasa, mengingat kedua teman mereka itu selalu bersikap seperti anjing dan kucing kalau sudah bertemu. Atau seperti air dan minyak yang tidak pernah bisa bersatu? Ah siapa bilang? Tambahkan saja emulgator maka tegangan antarmuka kedua jenis zat cair berbeda itu akan menurun dan mereka saling menyatu.
"Ne Hinata.."
"Hn."
Jawaban singkat, padat nan tidak jelas itu membuat Tamaki mendekati Hinata.
"Kau tidak ingin punya pacar?"
"Tidak." Jawabnya lugas.
"Kenapa? Kau masih normal kan? Atau jangan-ja-"
PLETAKK!
"Ahh.. Sakit Hinata, kenapa kau suka sekali menjitak sih?"
"Itu karena kalian suka menggangguku! Sudah sana kerjakan lagi tugasnya. Ini baru konsep makalah, file ppt nya belum kita buat sama sekali. Dan satu lagi, aku ini normal Tamaki."
Tamaki hanya tertawa pelan menanggapi sikap sahabat tsunderenya. Tangannya meraih laptop yang ada di meja dan meletakkan di pangkuannya.
"Baiklaaah, aku buat file ppt nya deh. Eh Hinata, coba kau ubah gayamu, pasti banyak laki-laki yang tertarik. Secara kau ini kan cantik dan umm seksi."
Mendengar kata seksi telinga Kiba langsung berreaksi. Matanya memandang Hinata dari ujung ke ujung. Tentu saja niatnya hanya meledek, karena sebenarnya ia tahu bahwa kata-kata Tamaki itu benar adanya.
"Seksi? Gendut iya.." ucapnya sambil ngeloyor pergi ke dapur.
Hinata sudah akan meledak kalau saja ucapan datar Shino tidak menghentikan mereka.
"Kalau kalian terus bersikap seperti anak kecil, tugas kita tidak akan pernah beres. Kenapa? Itu karena-"
"Iyaaaa Shinoooooooo.."
Dan Shino pun kembali terdiam.
.
.
.
Pagi ini langkah gadis itu terasa ringan. Bagaimana tidak ringan jika seluruh tugas yang diberikan oleh dosen minggu lalu telah sepenuhnya ia selesaikan. Bagaikan anak kecil yang merasa senang setelah dibelikan permen, gadis itu berjalan dengan langkah lebar. Terkadang melompat kecil dan tertawa riang. Ia tidak perlu merasa takut ada orang lain yang melihatnya seperti itu karena di lorong perpustakaan ini hanya ada dirinya seorang. Tentu saja, memangnya siapa yang mau mengunjungi perpustakaan di jam-jam makan siang seperti saat ini?
Langkah kakinya terhenti di hadapan sebuah rak buku yang menjulang tinggi. Ia melirik papan berukuran sedang yang tertempel di bagian luar rak tersebut.
BAHASA DAN SASTRA
Ia tersenyum sebelum menenggelamkan diri di antara rak-rak kayu yang sepertinya sudah cukup tua.
Beberapa menit berlalu, gadis itu muncul kembali dengan sebuah buku sedikit tebal di genggamannya. Ia menghampiri deretan kursi dan meja panjang yang tertata rapi. Pandangannya menyipit saat ia tersenyum melihat tempat favoritnya yang berada di deretan paling pinggir, di dekat jendela. Senyumannya semakin lebar kala ia melangkahkan kakinya. Kemudian ia duduk, membetulkan letak kacamata minusnya, membuka lembaran buku yang berjudul "Legenda Musashi" dan mulai membacanya.
Entah berapa lama ia membaca hingga tanpa terasa tangannya telah mencapai bagian tengah buku tersebut. Sejenak ia melirik jam tangan di pergelangannya dan mendesah kesal. Waktu istirahat telah habis dan ia harus mengikuti kuliah membosankan. Sebenarnya bukan kuliahnya yang membosankan, tetapi dosen pengajarnya yang membuatnya malas mengikuti kuliah tersebut. Dosen tua yang berrambut putih panjang dan sangat mesum. Awalnya ia begitu mengagumi sosok dosen tersebut karena sifatnya yang "ngayomi" dan juga posisinya sebagai seorang guru besar di universitas ini. Ia bahkan sudah menjadi penulis novel yang terkenal seantero negeri. Tetapi lambat laun ia mengerti bahwa sifat "ngayomi"nya hanya ditujukan untuk mahasiswi cantik nan seksi, termasuk dirinya. Oh itu hanya awalnya saja, karena setelah tahu sifat tsundere sang gadis yang mengancam akan menghancurkan masa depannya (if you know what I mean XD), profesor tua itu tidak berani lagi mengganggunya.
Lamunan gadis itu terhenti saat ia melewati deretan bangku paling akhir. Matanya menemukan objek menarik untuk dipandang. Sebuah maha karya sempurna dari Kami-sama. Seorang pemuda berrambut kuning tengah mendongak menatap langit-langit perpustakaan yang membosankan. Mata biru jernih di balik kacamatanya menerawang seolah-olah otak sang pemuda sedang berpikir. Sebuah pena tengah berputar-putar dipermainkan jemarinya, sebentar kemudian ujung pena itu digigit pelan.
Ya Tuhan, baru memandang dari kejauhan saja jantung gadis itu serasa mau lepas dari tempatnya. Dengan terburu-buru dia tundukkan pandangannya dan berjalan cepat, sebelum tersandung kaki meja dan terjatuh.
"Ittai.." rintihnya pelan, tapi ia langsung berdiri dan berlari. Menjauh dari tempat yang bisa membahayakan kinerja jantungnya saat ini.
.
.
"Ne.. Hinata-chan, kau kenapa?"
Pertanyaan Tamaki itu bukan tanpa alasan. Setelah jam makan siang tadi Hinata terlalu banyak merenung atau melamun tepatnya. Gadis indigo itu hanya tersenyum kikuk. Matanya mendapati tiga sahabatnya yang tengah menatap curiga dirinya.
"A-aku tidak apa-apa. Ayo kita pulang!"
Walaupun masih banyak pertanyaan di kepala-kepala remaja beranjak dewasa itu, mereka tidak mengungkapkannya. Berteman cukup lama dengan Hinata membuat mereka memahami sifat gadis itu, bahwa tidak perlu memaksa Hinata untuk menceritakan apa yang ia alami, mereka hanya perlu menunggu. Karena jika memang Hinata merasa perlu menceritakan masalahnya, ia pasti akan bercerita.
Mereka berempat melangkahkan kaki keluar dari gedung kampus. Sambil berceloteh ringan dan tertawa bersama. Tepatnya hanya Kiba yang bersuara sedangkan yang lain cukup mendengarkan, bila dirasa perlu baru menanggapi. Karena hari ini adalah hari Jumat dan besok perkuliahan mereka libur, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu dan uang sebentar di taman kota.
Suasana taman kota cukup ramai meski tidak seramai hari Minggu. Kebanyakan pengunjung adalah mahasiswa seperti mereka karena letak taman kota yang tidak terlalu jauh dari kampus tempat mereka menimba ilmu. Keempat sahabat itu duduk bersandar di bawah pohon sakura tua yang tengah bermekaran. Setelah beberapa menit, Hinata bangkit berdiri. Tangannya menepuk-nepuk bagian belakang roknya.
"Aku mau mencari makanan ringan, kalian mau nitip?" tanyanya.
Setelah ketiga temannya menyebutkan jenis makanan yang mereka inginkan, Hinata mengangguk dan melangkah pergi. Saat tubuh mungilnya akan memasuki toko, matanya menangkap pemandangan yang menarik perhatiannya di balik kaca toko.
Pemuda itu, pemuda yang ia temui di perpustakaan tadi tengah berdiri di samping seorang gadis. Gadis berrambut merah muda yang terlihat modis dengan baju berwarna pink dan sangat cantik. Mereka tengah memilih-milih produk makanan ringan yang terpajang di rak kaca. Entah mengapa Hinata merasa dadanya sedikit nyeri ketika melihat senyuman pemuda bermata biru itu. Senyuman yang ditujukan untuk gadis pink di sampingnya. Kemudian ia memilih berjalan pergi, tidak jadi memasuki toko tersebut dan malah memilih toko lain yang ada di sampingnya.
.
.
Minggu ini rumah utama di mansion Hyuuga dikejutkan oleh sesuatu yang sangat mengejutkan (?). Suasana yang biasanya hening kali ini bertambah hening. Biasanya setiap waktu sarapan, Hiashi sang kepala keluarga dan Neji anak angkatnya hanya mengeluarkan tatapan datar sambil menikmati sarapan yang telah disediakan oleh maid. Sedangkan Hanabi akan menikmati makanannya sambil sesekali menguap lebar. Namun pagi ini sungguh berbeda. Ketiga makhluk tersebut di atas tengah mengeluarkan ekspresi terkejut bercampur bingung. Hanabi bahkan sempat menjatuhkan sumpit dari tangannya.
Penyebabnya adalah Hinata, si putri sulung kepala keluarga. Penampilan Hinata lebih tepatnya. Hari ini ia memakai kemeja putih polos lengan panjang yang dilipat hingga ke siku. Rok panjangnya diganti dengan celana jeans biru yang menyempit di bagian bawah. Jaket yang selalu setia menemaninya kini entah kemana. Rambut kepangnya kini tergerai dengan bebasnya hingga mencapai pinggang. Kacamata minus nan tebal telah tiada hingga memperjelas kecantikan iris seindah rembulan. Oh ya jangan lupakan bibir mungilnya yang telah terpoles lipgloss peach.
Hinata tersenyum malu saat tiga pasang iris mata yang sama dengannya menatapnya kagum. Hanabi bahkan membuka mulutnya lebar dan menutupnya kembali segera setelah sadar.
"Hi-hinata?" panggil Neji lirih.
"Iya Neji-nii?"
"Kau baik-baik saja kah?"
Secepat kilat Hanabi melompat ke arah Hinata dan menyentuh dahi kakaknya itu dengan punggung tangan.
"Tidak panas." Katanya.
Hinata mengibaskan tangan adiknya kasar dan mendengus. Kemudian melangkah pergi setelah berucap.
"Hinata pergi ke perpustakaan kota, Tou-sama, Nii-san dan Hanabi."
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, sampailah dirinya di perpustakaan kota. Hinata langsung berjalan ke arah rak buku yang menyimpan buku-buku sastra. Pandangannya beredar berusaha mencari buku yang akan digunakan sebagai referensi pengerjaan tugas. Setelah menemukan buku yang ia cari, Hinata tersenyum dan berjalan mencari tempat duduk yang kosong. Sayangnya sebagian besar tempat duduk di dekatnya sudah terisi penuh. Yah mau bagaimana lagi, perpustakaan kota ini merupakan perpustakaan favorit bukan hanya bagi mahasiswa tetapi juga para karyawan. Apalagi di hari libur seperti ini, tempat inilah satu-satunya perpustakaan yang menerima kunjungan.
Hinata berjalan pelan sambil celingak celinguk mencari tempat duduk. Saat matanya melihat beberapa tempat kosong di deretan belakang, Hinata berlari mencapainya. Ternyata dua dari tiga kursi yang ia lihat tadi sudah ada yang menempati, terbukti dari tumpukan buku dan laptop yang ada di depan meja. Hinata mendesah lega, setidaknya masih ada satu yang kosong.
"Su-sumimasen, apakah kursi i-ini kosong?" Hinata mengeluarkan suaranya yang dibuat selembut mungkin. Bagaimanapun ia sudah bertekad akan berubah menjadi gadis yang anggun.
Deg!
Jantung Hinata berdegup kencang saat seseorang yang ada di hadapannya mendongakkan kepala.
Pemuda itu
Meski sedikit terhalang kacamata yang dipakai, iris biru pemuda itu terlihat begitu indah. Bagaikan warna langit di musim panas. Hinata dengan cepat mengatur degup jantungnya agar kembali normal. Namun alisnya bertaut ketika mendapati si pemuda malah bengong melihatnya.
'Apakah aku seaneh itu hingga dia terbengong-bengong?'
"A-ano.. Anda ba-baik-baik saja?" tanya Hinata yang hanya dijawab dengan anggukan dan tundukan kepala.
Hinata menghembuskan nafas lega kemudian duduk dan mulai membaca buku yang baru saja diambilnya. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah si pemuda.
.
.
.
Jika hari Minggu adalah hari yang mencengangkan bagi keluarga Hyuuga, maka hari Senin giliran penghuni kampus Fakultas Sastra yang dibuat tak berkutik. Oh bukan hanya fakultas itu tetapi juga fakultas yang lain. Utamanya adalah tiga orang mahasiswa yang baru saja memasuki gedung kampus. Dua orang diantaranya membuka mulutnya lebar-lebar, sedangkan yang lain hanya terdiam kaku.
Perlahan kaki jenjang yang tertutup celana sebatas lutut itu melangkah mendekati mereka. Wajah sang pemilik menampilkan senyum manis yang bisa membuat laki-laki yang memandangnya jantungan. Tangan kanannya memeluk erat buku tebal sedangkan tangan kiri menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga.
"Hi-hinata?" panggil Kiba tak percaya.
"Ayo kita ke kantin, aku lapar." Jawab Hinata tidak nyambung.
Ketiga temannya hanya menurut mengekornya berjalan ke kantin.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Tamaki penasaran.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin sedikit berubah. Hehehe.."
Baiklah mungkin ini sangat aneh dan mencurigakan, tetapi mereka bertiga tidak ingin membahasnya. Yang jelas mereka senang jika Hinata akhirnya memutuskan untuk berubah. Yah walaupun sebenarnya mereka penasaran apa yang menjadikan Hinata seperti ini.
Setelah masuk ke kantin mereka mendesah kesal karena ternyata hampir semua tempat duduk sudah terisi. Kiba berinisiatif mengelilingi kantin dan mencari tempat duduk sementara yang lain diam menunggu. Lalu terdengar teriakan memekakkan telinga.
""Hoii! Tamaki, Shino, Hinata.. Kita makan disini saja!"
Hinata dan kedua temannya menyusul Kiba. Hinata terkesiap saat mendapati siapa yang ada di hadapannya saat ini. Pemuda itu dan si gadis pink cantik. Oh dan satu lagi pemuda tampan dengan rambut hitam kelam. Hinata mengamati ketiganya dengan diam-diam.
"Wah kalian dari fakultas apa?" tanya si gadis pink.
"Kami dari fakultas sastra, kalau kalian pasti dari kedokteran ya?" jawab Tamaki. Gadis pink itu mengangguk cepat.
Mata opal Hinata mengamati si pemuda berrambut kuning yang tampak tidak peduli dengan kehadiran mereka.
"Pantas saja wajah kalian serius."
Celetukan Kiba membuat dirinya menepuk jidat.
Dasar malu-maluin
Tiba-tiba si pemuda kuning mendongakkan kepalanya, tampaknya dia merasa tidak nyaman dengan ucapan Kiba barusan. Saat itulah pandangannya bersirobok dengan pemuda itu. Jantung Hinata kembali memompa lebih kencang. Terlebih saat ia menatap mata sebiru lautan itu tanpa terhalang lensa kacamata.
"Ah, ka-kau yang kemarin di perpustakaan bu-bukan? Terimakasih untuk te-tempatnya kemarin dan ha-hari ini." ujar Hinata gugup. Ya Tuhan sejak kapan dirinya jadi malu-malu seperti ini?
Gadis itu mendapati sang pemuda masih terpana menatapnya tanpa menyadari dirinya kini tengah menjadi perhatian sahabat-sahabatnya.
"Ehem.." deheman si gadis pink membuat pemuda itu terlonjak berdiri kemudian berojigi.
"A-ah i-iya. Sama-sama. Ano.. Namaku Namikaze Naruto, yoroshiku."
Hinata ikut terkejut dan spontan membalas.
"Hyu-Hyuuga Hinata desu. Yoroshiku."
Detik berikutnya lirikan mata dari sepasang sahabatnya membuatnya bergidik ngeri.
.
.
.
END
.
.
.
Ah.. tertunaikan sudah satu janji Nai. Semoga tidak mengecewakan.
Oh ya selamat tahun baru 2017 ya semuanya.
Beberapa hari ini Nai merasa sedikit jenuh, jadi jarang nongol di ffn. Pengen berhenti tapi kok susah ya hahahaha. Bagaimanapun ffn adalah tempat pelarian Nai dari pekerjaan kantor yang kadang bisa lebih membosankan.
Tapi tenang aja, kalaupun berhenti Nai pasti bereskan dulu kok fic-fic Nai yang multichapter hehehe.
RnR ya. Arigato.
