Balasan review : Waduh gomen Rei senpai, ana masih pemula nih gak bermaksud bikin senpai dan para pembaca lain sakit mata, jadi kapok deh ngetik di HP kekekeke. Baru sadar ternyata EYD itu penting, waduuh brti selama ini ana bukan reader sejati yak hahaha
Okee kita liat chapter kedua
ENJOY IT!
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
WARNING!
Rated : M
Pairing : Sasusakusai
OOC, Typo Everywhere, AU
"Konichiwa," gadis itu memanggil dari luar. Suaranya merdu, pikir Sasuke. Ia tersenyum ramah pada gadis itu. Begitu pula Naruto dan Kiba yang duduk di sampingnya. Hal lain dibalik counternya Shikamaru, menatap curiga sambil mengkerutkan keningnya, "pesan apa?," gumamnya pendek.
"Latte macchiato, per favore, lungo e ben caldo"
Hening sejenak sementara si barista kopi menyerap pesanan itu. Walaupun si gadis memakai bahasa Italia, Shikamaru sebagai barista kopi terhormat dia hanya mengangkat bahu dan mengulurkan tangan untuk mengambil kedua saringan Gaggia, susu dengan sedikit kopi panas yang dihidangkan di dalam cangkir besar, kurang lebih itulah yang Shikamaru tangkap dari pesanan gadis itu, sementara ketiga pemudalain bersikap setampan mungkin.
Gadis itu mengabaikan ketiganya. Dia kembali sibuk dengan peta yang dibawanya sambil membandingkan dengan buku petunjuk yang baru saja ia keluarkan dari tas punggungnya, ia terlihat bingung sampai telepon genggamnya berdering, ia mengambilnya dan memulai pembicaraan.
Ketika Shikamaru akhirnya berpendapat bahwa macchiato-nya sudah panas, terjadilah perlombaan di meja bar untuk membawakannya ke meja si gadis, yang tentu saja dimenangkan dengan mudah oleh Sasuke. Ia juga mengambil cornetti kecil milik Shikamaru, menaruhnya dibaki bersama cangkir, dan menyuguhkan sambil bergumam kecil, "gratis". Tapi gadis itu terlihat sibuk dengan pembicaraannya dan sedikit senyuman manis sebagai ucapan terima kasih. Yaa setidaknya Sasuke menyadari—mata gadis itu—emerald, bening dan cerah.
Tapi hati Haruno Sakura tidak secerah kelihatannya, sampai saat ia ketahui sahabatnya—Tenten—di Konoha yang meneleponnya. Tenten lah yang menjadi salah satu alasannya datang ke Konoha.
"Sakura ini aku, kau di mana?"
"Oh hai Tenten, aku sedang bersantai di kedai kopi."
"dan tadi malam bagaimana kencanmu?"
"Ah ya, lumayan". Jelas Sakura yang secara tidak langsung menunjukkan situasi yang samasekali tidak lumayan. Dan tentu saja membuat Tenten tertarik untuk mendengarkan ceritanya lebih lanjut, karena kencan Sakura tadi malam dengan sepupu laki-lakinya.
"Dia Rock Lee, sangat ramah, dan tahu banyak tentang sejarah pahatan wajah para Hokage Konoha dan dia mengajakku ke restoran depan taman pusat Konoha."
"Apa yang kau kenakan tadi malam?"
"ehm—atasan merah bawahan hitam."
"Jaket?"
"Tanpa jaket di sini cukup hangat."
"Kau pakai sepatu sneaker ?" Tanya Tenten curiga
"Tentu saja tidak."
"Lalu?"
"Aku memesan pasta dan daging babi panggang yang enak sekali."
"Hmm, selain itu?"
"Tidak ada hanya kopi"
"Apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Tenten mulai tidak sabar.
"Ah, setelah itu kami berdua berjalan di tepi sungai, dan ketika itulah dia menerkam ku, sungguh menerkam maksudku, untuk menaruh lidahnya ditempat yang dia inginkan—tentu saja mulutku. Setelah itu dia mengajakku ketempat tidur, maksudku semak-semak tentu saja—dia masih tinggal dengan kedua orang tuanya, tidak mungkin dia mengajakku ke sana- dan kalaupun kau berkomentar tentang jaket kurasa tidak akan jauh berbeda jika saat itu aku memakai jaket." Dengus Sakura
"Kau akan bertemu dia lagi?" Tanya Tenten
"Tidak, sejujurnya Tenten terimakasih atas usahamu memperkenalkan aku dan sebagainya, tapi cukup pengalamanku dengan lelaki Konoha. Mereka benar-benar berfikir tentang seks. Rasanya saat ini aku ingin berkencan dengan lelaki asal Suna saja."
"Sakura, datang ke Konoha dan mengencani lelaki Suna sama saja dengan pergi ke Roma Italia dan memesan untuk makan siang—maksudku untuk apa jauh-jauh ke Konoha tetapi lelaki asal Suna yang kau kencani."
"Sayangnya pria yang kukencani semalam adalah sang pemerkosa yang masih tinggal dengan ibunya." Tukas Sakura
"Itu karena sampai sekarang kau masih mengencani lelaki yang salah, lihat pacarku sekarang, Neji pecinta yang luar biasa lembut, kreatif, perhatian, dan bergairah-"
"Dan sekarang kau menjelaskan tentang pacar chef mu itu?"
"Betul, dia juru masak, hebatnya lagi dia menggunakan kehebatannya menyayat dan memotong dalam memasak membuat dia tahu bagaimana menggunakan tangan mereka."
"hmm, lalu?" Sakura sedikit muram. "harus kuakui mendapatkan tangan yang cekatan cukup menyenangkan."
"Jadi Sakura, kau harus memastikan betul kencanmu itu bisa memasak sebelum kau setuju jalan denganya."
"Dan satu lagi", tukas Tenten "Neji dia senang 'mencicipi' apa yang dia 'masak', kalau kau mengerti maksudku."
Sakura tertawa mesum, "dan rasanya karena dia juru masak, sepertinya sangat tahu penggunaan waktu."
"Tentu saja, dia mau berlama-lama."
Walaupun Sakura enggan mengakui—mungkin temannya benar—orang kreatif, mengerti tentang selera dan tekstur, bagaimana mencampur bahan-bahan untuk menuju kenikmatan seksual… kalau saja ia menemui lelaki seperti itu selama di Konoha.
"Nah, jadi begitulah, tidak sulit menemukan lelaki seperti itu di Konoha yang penuh sesak dengan restoran, yang tentu saja penuh sesak juga dengan juru masaknya."
"Mungkin", ujar Sakura.
Diakhir pembicaraan mereka, Sakura setengah berjanji setengah bercanda untuk hanya mengencani lelaki yang menyandang status sebagai chef."
Sasuke memutuskan untuk mendekati gadis itu. Siapa tahu ia bisa mendengarkan tawa seperti tadi. Sesuai omongan Naruto, dia punya catatan baik dalam menaklukan turis, tubuh tegap, wajah tampan, dan rambut ravennya. Bukan berarti gadis Konoha tidak meleleh, hanya saja Sasuke engan dengan gadis Konoha yang menuntut segera melanjutkan hubungannya ke jenjang yang serius, dengan turis lebih santai.
Sasuke menunggu saat yang tepat, sebelum ia sempat berpikir kalau ia harus berangkat kerja, segera saja ia menaruh beberapa uang logam di atas meja bar dan melambai ke arah Shikamaru, menuju ke parkiran motornya di luar, dan ia berlama-lama memakai jaket sambil sembunyi-sembunyi memandangi kaki mulus sang gadis.
"Jadi tidak ada lagi lelaki Konoha, kecuali dia yang pintar memasak?" terdengar gadis itu berkata "baiklah mulai sekarang aku akan berkencan dengan lelaki yang namanya tertulis di buku Good Food Guide." Diikuti gelak tawa sang gadis
Telinga Sasuke terbuka lebar, ia tidak bisa lebih lama lagi menahan untuk menegur gadis itu
"Maaf aku menganggu pembicaraan teleponmu",sambil menepuk bahu sang gadis, " aku hanya ingin mengatakan bahwa kecantikanmu menghancurkan hati ku", sambil berlalu ke arah motornya.
Gadis itu tersenyum mendengar ucapan Sasuke, "te-terimakasih".
"Siapa itu?" Tanya tenten di seberang sana
"Entahlah", ujar Sakura
"Memuji tapi kok terdengar sinis", tukas Tenten
"Sudahlah tak apa kan? Karena mulai sekarang aku hanya mau berkencan dengan lelaki yang pandai memasak".
Uaaah lelah
Gimana? EYD nya sudah mulai ana perhatikan
Sekian dulu kalau ada yang kurang ana minta maaf, ana bukan makhluk yang sempurna begitu pula tulisan ini
Ditunggu review lainnya :D
Gomen kalau masih ada spasi yang kurang kekekeke
