Undertale © Toby Fox

Do you remember me? © Apria Ling

.

"Kau tau denganku?"

"Ya... karena aku adalah temanmu dulu..."

.

.

Setelah pertarungan di jugdement hall berakhir dan Underground direset, Frisk dan Chara berteman, Asriel kembali menemui Asgore dan Toiler, dan Sans mendapatkan adiknya lagi, Papyrus. Underground kembali tenang. Lalu, Frisk dan Chara menemukan jalan untuk kembali ke dunia manusia. Maka, mereka mengajak para monster untuk pindah ke dunia manusia. Awalnya, para monster merasa ragu, lalu diyakinkan para manusia akan bersikap normal kalau mereka tidak mengeluarkan kekuatan kecuali jika sangat-sangat terdesak. Akhirnya, mereka pindah meninggalkan Underground.

Ternyata, para manusia menyambut kedatangan para monster dengan baik, walaupun ada juga yang sinis melihat mereka. Beberapa monster mencoba untuk berkerja sama dengan manusia dalam hal pekerjaan dan itu berhasil. Sekarang, manusia menganggapnya monster sebagai orang biasa. Para monster juga cepat beradaptasi dengan dunia manusia. Mereka juga sudah melupakan kejadian-kejadian suram di Underground.

Kecuali Sans dan seseorang yang banyak dikira tewas dalam pertarungan itu.

Manusia yang seusia dengan Sans.

.

"Sans! Sans! SANS, BANGUN!"

BYUR!

Kerangka kecil yang memakai T-shirt biru dan celana pendek dongker terbangun, mendapati tubuhnya basah. Kerangka lain yang tinggi, mengenakan T-shirt merah dan celana hitam, menatapnya kesal. Ditangannya ada ember. Kerangka kecil itu tau penyebab dirinya basah kuyup.

"Papyrus! Kenpa kau menyiramku?!" teriak Sans kesal.

Papyrus menyengir, "Sejak kamu masuk ke kamar senja kemarin sampai pagi ini, kamu tidur saja. Dibangunin juga susah, jadi pakai air saja." Jawabnya dengan ekpresis it's-not-my-wrong-brother.

Sans mendengus, mengibas-ngibas T-shirtnya, "Come on, bro. Mengertilah sedikit. Insomniaku kambuh lagi. Aku baru bisa tidur jam 4 pagi tadi, paps." Belanya.

"Oh, ya?" Papyrus tidak percaya begitu saja, "Lalu, apa saja yang kamu lakukan dari kemarin?"

"Menyelesaikan novel ini." Sans mengeluarkan buku novel dari balik bantalnya, lalu meletakkannya di atas meja yang ada di samping kasurnya sambil berdiri.

Papyrus ber-oh pendek, melempar handuk ke Sans. Dia tau penyakit susah tidur kakaknya yang sering kambuh, hampir setiap hari. Insomnia Sans muncul setelah pindah ke dunia manusia. Terkadang, Sans juga sering teriak-teriak histeris selama tidur. Papyrus pernah bertanya mimpi buruk apa yang membuatnya berteriak. Tapi, Sans selalu mengalih pembicaraannya dengan joke-jokenya yang mengocok perut.

Sans menerima handuk itu, berjalan menuju kamar mandi. Papyrus berjalan ke meja, melihat novel yang dibaca Sans dan bersiul.

"Sejak kapan kamu menyukai novel romance, brother?" tanya Papyrus iseng.

Kerangka kecil itu berhenti dan berbalik. Tangannya mengusap handuk ke kepalanya. Matanya menatap adiknya kesal saat kerangka tinggi itu memperlihatkan novel yang berjudul The Psychopath Love dengan penulis . Sans memang menghabiskan waktu malamnya dengan membaca kisah sepasang kekasih yang salah satu dari mereka adalah pembunuh. Dia hanya iseng. Buku itu dia dapatkan dari Chara yang bilang cocok untuknya. Dan Sans baru menyelesaikan setengah buku.

"It's problem for you, paps?" balas Sans sinis.

Papyrus kembali menyengir, meletakkan kembali novel itu ke meja, "No, Sans. Itu hal yang kebetualan. Oh, ya, Toriel memintamu menjemput Frisk dan Chara saat mereka pulang sekolah dan jangan terlambat." Lalu Papyrus keluar kamar.

Sans hanya mengangguk, masuk ke kamar mandi.

.

"Sans... terima kasih... sudah tetap tersenyum padaku..."

"Kau tidak pernah lupa denganku, my son?"

"Sans! Awas!"

"Come here, my little Sans..."

"Hai, Sans!" Frisk menarik jaket biru Sans.

Sans tergagap. Frisk tersenyum iseng, terus menarik jaket biru kerangka kecil itu. Chara tersenyum geli, hanya menonton. Sans pun sadar jaketnya ditarik Frisk. Dia menangkap tangan Frisk dan mengacak rambut coklat sebahu gadis kecil yang setinggi bahunya.

"Kau ngelamun lagi, Sans?" Chara bertanya.

Sans hanya menyengir dan menjawab asal, "Ayo pulang."

Frisk dan Chara pun mengikuti langkah Sans.

Dua gadis kecil memang seperti anak kembar, padahal usia mereka berbeda setahun. Meskipun begitu, tinggi mereka sama. Frisk senang memakai kaos lengan panjang biru bergaris pink, celana biru tua, dan sepatu coklat. Rambutnya coklat sebahu dan matanya sipit saking sipitnya, matanya terlihat tertutup. Sedangkan Chara senang memakai kaos lengan panjang hijau bergaris kuning, celana coklat, dan sepatu coklat. Rambutnya juga coklat sebahu bedanya, matanya bulat hitam dan pipinya merah merona.

Sans suka dengan Frisk yang polos dan Chara yang "berlagak" dewasa. Mereka seperti melengkapi, mengingatkannya pada seseorang itu. Dia tidak pernah mengerti. Mimpi buruknya selalu itu-itu saja, seperti kaset rekaman rusak. Dari masa kecilnya, Gaster yang mengaku ayahnya, pertarungan di Judgement Hall sampai kematian seseorang itu. Walaupun begitu, semuanya saling berhubungan dan berakhir mengerikan.

Tentang Gaster nama aslinya W.D Gaster, kerangka misterius yang merupakan ilmuwan di Underground sebelum Alpshy. Banyak yang mengira dia sudah lama mati, termasuk Sans. Wajahnya ada retakan di atas mata kanannya sampai ke belakang dan di bawah mata kirinya sampai ke dagu, saat dia muncul di Judgement Hallbersama Chara. Pakaiannya hitam dan senyumannya sangat mengerikan. Dia mnyerang Sans saat dia berhasil mengalahkan Frisk dan Chara. Tapi...

Seseorang itu melindunginya.

Dengan nyawa.

Sans menghela nafas setelah Frisk dan Chara masuk ke rumah mereka, berbalik pulang. Sebaiknya dia cepat pulang sebelum Papyrus akan membongkar kamarnya yang "sedikit" berantakan banyak "harta karun" yamg disembunyikannya. Sans berjalan melewati jalanan, berhenti di lampu lalu lintas, dan menunggu sampai lampunya hijau. Tiba-tiba, dia merasa ditatapi, jadi dia melirik sekilas ke seluruh tempat, dan berhenti di samping.

Seseorang itu... ada disampingnya...!

Sans langsung berjalan cepat begitu lampu hijau menyala. Jantungnya berdetak kencang. Dia tidak mempercayai penglihatannya. Itu tadi... seseorang yang melindunginya di Judgement Hall dulu, yang mengorbankan nyawa untuknya, yang bilang tetap tersenyum dan dia selalu tersenyum sejak itu. Nafas Sans sesak. Dia terus berjalan cepat sampai ke rumahnya. Papyrus dengan membawa sapu, kaget melihat kakaknya masuk ke rumah begitu saja.

"Sans! Jangan kamu berantakin lagi kamarmu!" teriak Papyrus mengingatkan.

Tapi, Sans hanya diam, masuk ke dalam kamarnya yang sudah rapi. Begitu menutup pintu, dia terduduk dan bersandar dibalik pintu. Sans meringkuk, memegang kepalanya. Mata api birunya menyala. Mimpi buruknya kembali berputar.

"Hahahaha..."

Dia menunduk, menahan sakit.

"Majulah, Sans..."

CRAT!

"Sans! Awas!"

CRAT!

"Halo, my little son..."

SING!

"Sans... terima kasih..."

"Hentikan..." lirih Sans, kesakitan.

"Merasa kesakitan, Sansy...?"

.

"Hhh... selesai juga..." Sans merenggangkan tubuhnya, meletakkan buku ke atas meja.

Insomnia Sans kambuh, membuatnya tidak mengantuk. Sans memilih menyelesaikan novel romance itu. Yah... lumayan seru, dan dia rasa Chara yang lebih cocok membacanya. Sans menghela nafas, melihat jam meja. Jam 12 malam. Sans belum mengantuk, jadi dia berdiri dan memakai jaket birunya. Tidak masalah dia akan memakai sendal rumah keluar, di Underground dia sering melakukannya. Sans mengangkat tangan, menjentik jari.

PLOP!

Dia menghilang dari kamar.

PLOP!

Lalu, muncul di Snowdin, Underground.

Sans kembali menghela nafas. Nafasnya menjadi uap putih. Sans tersenyum, berjalan menuju rumahnya yang sudah kosong. Dia masih merindukan suasana dingin di Snowdin. Masih tampak kiosnya, bunga-bunga musim salju bermekaran, dan rumah yang masih gagah berdiri. Dia membuka pintu rumahnya.

KREK!

Dan, dia mematung sesaat.

Ada gadis kecil berambut putih panjang dengan pita hitam menghiasinya. Gadis itu seusia dengan Sans, memakai dress putih berenda hitam yang dilapisi jaket hitam. Mata hitam gadis itu menatap Sans. Mata biru Sans menyala.

"Siapa kau?" tanya Sans dingin.

Gadis itu tersenyum tipis, berjalan kearah Sans.

SING!

Tulang-tulang muncul di depan gadis itu. Tangan Sans mengepal.

"Siapa kau?" tanyanya lagi.

Gadis itu terdiam. Tangan kiri Sans terangkat. Tulang-tulang ikut terangkat, lalu meluncur cepat ke gadis itu. Tiba-tiba, gadis itu menghilang dan serangan tulangnya hanya mengenai udara. Sans celigak-celiguk, mencari gadis itu.

"Kau... melupakanku, Sans...?" gadis itu sudah ada di samping Sans.

Sans tersentak, menoleh ke gadis yang tersenyum itu. Gadis itu berjalan ke depan Sans, masih tersenyum.

"Kau tau denganku?" tanya Sans heran.

Gadis itu mengangguk sambil memegang pundak Sans, "Ya... karena aku adalah temanmu dulu, 5N-0W, Snow." jawabnya.

Sans terdiam, menatap Snow.

"Namaku 5N-0W."

"Walaupun dunia ini tidak butuh senyumanmu, tapi aku sangat membutuhkannya. Jadi, tersenyumlah untukku..."

"Sans! Awas!"

"Sans... terima kasih... sudah tetap tersenyum padaku..."

Itu seseorang yang menlindungi Sans. Snow, teman masa kecilnya.

"Kau... masih hidup...?" Sans menatapnya tidak percaya.

Snow mengangguk, "Kamu pasti ingat semuanya."

"Tapi, bukankah..."

"Ya," Snow menghela nafas, "Aku bahkan tidak percaya masih bisa hidup."

"Bagaimana..." Sans masih terpaku dengan kembalinya Snow.

"Ada orang yang menawarkanku soul." Snow tersenyum, "Katanya aku bisa_"

Sans tiba-tiba memeluknya. Snow terdiam, merasakan setetes air jatuh ke pundaknya.

Lalu, Snow tersenyum.

.

End

Rencananya sih, cerita ini gak mau dilanjutin, tapi ada yang komen (walaupun hanya satu), jadi bersemangat melanjutkan cerita gaje ini.

More typo and bad story, maybe? Just for have fun. Thank you