Title : Still In Love
Cast(s) : Cho Kyuhyun, Kim Ryeowook, Kim Kibum, and other.
Pairing(s) : KyuWook, KiWook
Length : 2/?
Disclaimer :These boys belong to God, their parent and theirselves. I don't own anything except the plot and this story. Please respect my story. Don't bother yourself to read when you know that you only end up hating them, just leave in peace. Also, please don't reclaim or copy-paste this story of mine as yours. I know my story is bad, but I put so much time and effort to made this and I HATE it when unresponsible person just go around plagiarizing^^
Warning : Typo(s) *tell me if there are any*, EYD, BoysLove, OOC (maybe?), Flashback in this chapter!
.
.
][ [] Previous Chap [] ][
Kibum berbalik, menggeser tubuhnya untuk memberi kesempatan pacarnya dan Kyuhyun bertatap muka. Lelaki itu tak menyadari dua pasang mata yang saling membelalak terkejut saat berhasil melihat wajah yang lain.
"Nah, Kyuhyun-ah. Perkenalkan, dia namjachinguku, Kim Ryeowook."
.
EvilMagnae-EternalMagnae
.
][ [] Chapter 2 [] ][
"Tolonglah, Kyu. Aku lupa kalau aku ada janji bertemu dengan Mr. Jung sore ini dan batas waktu pengembaliannya juga hari ini," pinta Kibum tanpa mengalihkan perhatian dari buku pelajaran yang sedang dibacanya. Ia duduk menghadapap meja belajarnya, membelakangi teman sekamarnya itu.
"Oh, dan kau akhirnya menyuruhku untuk keluar di cuaca dingin seperti ini dan naik bus selama satu setengah jam demi mengembalikan buku-buku yang kau pinjam dari perpustakaan kota?" tanya Kyuhyun kesal. Cowok itu sedang tidur-tiduran di kasurnya, bergelung dengan selimut hangat dengan PSP di tangannya. "Kenapa tidak dari kemarin-kemarin kau mengembalikannya?" Ia masih meracau.
Kibum berputar di kursinya, kini menghadap Kyuhyun. "Dua hari traktiran makan siang dan software game-game terbaru, deal?"
"Mana buku-buku itu?" Kyuhyun langsung bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, meyimpan PSP nya dalam kantung sweter yang dipakainya. Kibum menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. "Kau terlalu mudah," komentar Kibum.
"Eoh, jadi tidak? Sebelum aku merubah niat baikku?" tanya Kyuhyun sambil nyengir.
"Cih, kau tidak melakukannya dengan gratis," cibir Kibum sambil meraih tas berisi buku-buku pinjaman yang sudah dipersiapkannya sejak tadi dan menyerahkannya pada Kyuhyun.
"Begitulah dunia berjalan, teman," sahut Kyuhyun sambil mengenakan sepatu dan syalnya, lalu menggendong tas yang ternyata berat sekali itu di punggungnya dengan keluhan.
"Yeah, cepat pergilah supaya aku lebih cepat mendapat ketenangan di sini." Kibum berkata, kembali pada pekerjaannya. Sementara Kyuhyun hanya mengomel tak jelas tentang bagaimana cara berterima kasih yang baik sebelum menghilang di balik pintu yang membatasi ruangan penuh kehangatan dengan cuaca dingin di luar sana.
Setelah satu setengah jam menaiki bus yang sepi penumpang dan menggigil kedinginan, Kyuhyun akhirnya sampai di bangunan perpustakaan yang ditujunya. Bergegas ia berjalan menelusuri halamannya. Ia ingin cepat-cepat sampai di pintu masuk.
"Aish, Kim Kibum! Aku tahu kau punya kapasitas penyimpanan memori di otakmu lebih banyak dari kebanyakan orang, tapi tetap saja aku tidak bisa mempercayaimu! Yang benar saja, tiga belas buku dalam dua minggu?" omel Kyuhyun dengan nada tak percaya. Ia telah menghitung keseluruhan jumlah buku yang dimasukkan Kibum dalam tasnya selama di bus tadi, lima buku sejarah, empat cerita fiksi, dan sisanya buku-buku acuan mata pelajaran kuliah. Kini ia mulai sibuk mengutuk sahabatnya itu—karena tas yang bertengger tanpa dosa di atas punggungnya itu beratnya bukan main—dan mulai mengeluh kalau imbalan yang dijanjikan padanya tidak seberapa.
BRUGKHH. Terlalu sibuk mengomel, Kyuhyun tak sadar jika dirinya telah menabrak tubuh seseorang di dekat pintu masuk.
"AH!" Reflek, Kyuhyun menyambar pinggang orang tersebut—yang ternyata seorang namja—agar tidak jatuh ke lantai dan mematahkan punggungnya. Buku-buku yang sejak tadi berada dalam pelukan namja tersebut, kini jatuh berceceran di lantai dekat kaki mereka, sementara namja tersebut aman dalam pelukannya.
Meski Kyuhyun berhasil menjaga keseimbangan mereka berdua, tas berisi buku di punggungnya mulai membebaninya dan dengan bantuan gravitasi yang tampaknya tak memiliki sedikitpun keberpihakan padanya, membuatnya—mereka—akhirnya jatuh ke lantai bersama-sama dengan posisi namja itu di atas Kyuhyun.
"Uwaa! Maafkan aku!" seru namja tersebut dengan panik, buru-buru menegakkan tubuhnya kembali, tak lupa mengulurkan tangan untuk membantu orang yang barusan tak sengaja ditindihnya untuk berdiri. Kyuhyun hanya tersenyum, lalu berlutut untuk memungut buku-buku milik namja itu, berusaha untuk memperlihatkan sikap gentleman.
"Ini," ucap Kyuhyun saat selesai memungut buku-buku tersebut dan mengembalikannya pada pemiliknya, yang menerimanya dengan senyum malu-malu. "Terima kasih."
Cantik. Hanya itu yang bisa Kyuhyun pikirkan saat mendongak untuk bertatap muka dengan namja tersebut. Namja itu hanya memiliki tinggi sebahunya, cukup pendek untuk ukuran cowok Korea Selatan apalagi tubuhnya juga kurus, bisa disalahkira sebagai perempuan juga karena wajahnya yang imut untuk mahasiswa seperti dirinya. Rambutnya sewarna karamel, lurus dan pendek dengan poni menutupi dahi—hampir kedua matanya. Jika rambut itu sedikit lebih panjang, Kyuhyun benar-benar akan mengira dirinya perempuan.
"Sekali lagi, maafkan aku," gumam namja itu sambil membungkukkan badan sedikit, lalu pergi tanpa menunggu jawaban Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum menatap punggung namja yang berlalu tersebut, sedikit merasakan jantungnya berpacu di dalam dadanya. Ia mulai berpikir, menolong—sekarang ia menyebut tindakannya itu menolong—Kibum mengembalikan semua buku itu bukanlah hal yang buruk juga.
.
.
EvilMagnae-EternalMagnae
.
Kyuhyun mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dengan tidak sabar. Di dalam hatinya, ia sudah mengucapkan serangkaian kutukan pada Kibum karena telah berani membiarkannya menunggu di caffe. Bagaimana pun, menunggu masuk dalam urutan teratas 'daftar hitamnya' tentang pekerjaan yang paling dibencinya.
DDRRRT. DRRRT.
Pria itu terlonjak saat merasakan getaran dari ponsel yang tersimpan di saku belakang celananya. "Huh, lebih baik ini dari anak itu atau rasakan saja akibatnya begitu aku sampai di asrama nanti," gumamnya seraya meraih ke dalam sakunya, mencari ponsel yang belum mau berhenti bergetar.
"Dimana kau?" serang Kyuhyun begitu memastikan bahwa telepon itu memang dari Kibum.
"Duh, sudah kuduga kau akan memarahiku," ujar suara di seberang sana dengan nada datar, tidak merasa bersalah sedikitpun. Kyuhyun diam, menunggunya untuk melanjutkan. "Mr. Jung menyanderaku lagi, dia bilang tugasku belum layak untuk dikumpulkan dan memerlukan beberapa pembenahan. Aku terpaksa harus mendengarkannya berceramah selama berjam-jam lagi sore ini," sesal Kibum, suaranya terdengar seperti lebih mengasihani dirinya sendiri.
"WHAT? Kau mencampakkanku di caffe ini demi berkencan dengan pak tua itu?" tanya Kyuhyun tidak percaya, namun juga merasa geli memikirkan istilahnya. Tak dipungkiri lagi, ia mulai ingin tertawa membayangkan nasib Kibum yang harus duduk diam sambil mendengarkan dosen mereka yang satu itu berbicara kesana kemari tanpa inti yang jelas.
"Eh? Apa kau bilang? Dasar kurang ajar!" Kibum mulai terdengar naik darah.
"Yeah, lalu bagaimana nasibku? Aku kelaparan karena seseorang yang telah berjanji menraktirku makan siang tiba-tiba membatalkan janjinya," ucap Kyuhyun dengan nada dramatis dan menyindir.
"Hey, Bung! Bukan cuma kau saja yang menderita disini," balas Kibum. "Lalu tentang makan siang itu, aku benar-benar minta maaf. Aku janji, lain kali aku pasti menraktirmu, kalau aku sudah bisa lepas dari pria tua penggerutu ini," tambahnya lagi, kali ini dengan nada menyesal yang sesungguhnya. Bagaimana pun, ia sudah merasa tak enak karena harus mengingkari janjinya pada Kyuhyun. Sementara Kyuhyun pun merasa tidak tega juga pada sahabatnya. "Okay, santai saja. Bye, Kibum." Dan percakapan itu pun berakhir.
Kyuhyun menghela nafas dan bergegas meraih tasnya karena ia berpikir tidak ada gunanya lagi ia tetap tinggal disana. Ia hendak meraih gagang pintu kaca ketika pintu tersebut sudah terlebih dulu didorong dari luar oleh seorang namja.
Otomatis Kyuhyun terlonjak, berhenti di tempatnya karena namja itu adalah namja yang sama dengan yang ditemuinya—ditabraknya—beberapa hari lalu di perpustakaan. Sementara namja tersebut juga ikut-ikutan membeku di tempatnya, dengan tangan masih berada di gagang daun pintu kaca yang terbuka ke dalam, menahannya.
"Hai. Kita bertemu lagi," sapa Kyuhyun sesaat sesudah lepas dari keterkejutannya, menyunggingkan senyum hangat. Sementara pipi namja itu tiba-tiba memerah, mungkin karena senyum tampan yang disunggingkan oleh Kyuhyun dan juga karena mengingat kejadian saat mereka bertabrakan.
"Ah, yang waktu itu...aku benar-benar ingin mint—"
"Jangan. Sudah cukup aku mendengar permintaan maafmu." Kyuhyun memotong ucapannya. "Sekarang, lupakan saja, okey? Dan menurutku, kita sebaiknya pindah dari sini sebelum orang-orang mulai komplen karena merasa akses mereka untuk masuk dan keluar caffe ini jadi terhalangi," ujar Kyuhyun, lalu meraih tangan namja itu dan menuntunnya ke dalam.
Mereka duduk di meja yang tadi di duduki Kyuhyun. "Okay, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kau mungkin berpikir aku seorang psiko atau orang tak waras karena tiba-tiba meminta hal ini, jujur aku tidak tahan..." Kyuhyun menghela nafasnya. "Bolehkah kalau aku mengetahui namamu? Juga semua tentangmu? Aku benar-benar ingin kita menjadi lebih dari sekedar dua orang asing yang tidak sengaja bertemu di perpustakaan." Saat Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya dan mendongak untuk memandang wajah lawan bicaranya, ia menyadari bahwa pipi namja itu sudah lebih merah sehingga tomat pun bisa kehilangan kepercayaan dirinya untuk bersaing tentang warna.
Kyuhyun mengerjapkan mata. "Apa? Apa aku meminta hal yang tidak mungkin? Oh, bodohnya aku. Sudah kuduga bahwa ini ide terkonyol yang pernah kula—"
"Kim Ryeowook." Namja itu memotong ucapannya dan menyunggingkan senyum manis hingga membuat Kyuhyun terpana. "Huh? Apa?" tanyanya, tidak yakin pada pendengarannya.
Namja itu tertawa kecil. "Kau bicara terlalu banyak. Aku bahkan belum menjawab permintaan pertamamu. Okey, namaku sudah kusebutkan tadi, sekarang giliranmu," jawabnya lembut.
"Aku...panggil aku Kyuhyun, Cho Kyuhyun," balas Kyuhyun, tidak mau bersusah payah untuk menyembunyikan senyum lebar yang merekah di bibirnya. Ia tidak menduga kalau dirinya bisa sebahagia ini saat impiannya untuk mengenal namja yang beberapa hari belakangan ini selalu menghantui mimpinya bisa terwujud. Dan dari situlah hubungan mereka yang berawal dari sekedar dua orang asing yang kebetulan bertemu di perpustakaan menjadi orang yang memiliki posisi istimewa di hati yang lainnya.
.
.
EvilMagnae-EternalMagnae
.
Keadaan hening, tidak ada dari kedua orang itu yang mau berbicara. Dan Kibum hanya menatap bolak-balik dari pacarnya ke sahabatnya dengan raut wajah bingung. "Hmmm...apa kalian sudah saling kenal?" tanya pria yang tidak tahu apa-apa tersebut.
"Tidak. Aku baru sekali ini bertemu dengannya." Kyuhyun akhirnya membuka suara, menjawab pertanyaan Kibum dengan nada datar. Namun, jika kau lebih teliti, ada nada dingin yang tersamar disana. Sementara Ryeowook tampak tertohok mendengarnya, ada raut kesedihan yang terpancar di matanya.
"Oh, kupikir kalian sudah pernah bertemu sebelumnya. Nah, jika demikian kasusnya, lebih baik kalian berkenalan sekarang," jawab Kibum dengan nada riang, tak menyadari penyebab sesungguhnya dari atmosfer canggung yang tiba-tiba melingkupi mereka. Ia berpikir bahwa hal itu adalah wajar karena ini kan pertemuan 'pertama' antara sahabat dan kekasihnya.
Dengan ragu-ragu, Ryeowook menyodorkan tangannya pada Kyuhyun yang sudah menatapnya dengan tatapan setajam elang dan mata yang memancarkan kemarahan beserta sejuta pertanyaan yang tak terucap, membuat Ryeowook tiba-tiba berharap dirinya masih berada di tempat kerjanya dan tidak berada disini. "Ha hallo, Kyuhyun-sshi. Aku Kim Ryeowook."
Kyuhyun meraih tangan itu dan menggenggamnya. Ryeowook tersentak karena tiba-tiba tangan tersebut terasa sedingin tatapan pemiliknya. "Hallo juga. Cho Kyuhyun. Senang bertemu denganmu," jawab pria itu akhirnya, demi menghapuskan kemungkinan Kibum akan curiga.
"Well, Ryeowook-ah, duduklah dulu. Mungkin kalian bisa berbicara lebih banyak dan saling mengenal, sementara aku akan pergi dan memesankan makanan untukmu," ujar Kibum halus, namun kata-katanya terasa bagai neraka bagi Ryeowook. Ia hanya bisa duduk pasrah tanpa berani memandang pria dihadapannya sementara pacarnya itu melenggang pergi meninggalkan mereka dengan perasaan tanpa dosa.
"Well, senang juga mengenalmu—untuk yang kedua kali," kata Kyuhyun dengan nada kemarahan yang tak berusaha ditutup-tutupinya.
Ryeowook hanya menunduk. Ia tiba-tiba merasa jadi pengecut karena menatap 'mantan pacarnya' itu pun tak berani dilakukannya.
"Apa kau merasa bersalah sekarang? Apa rasa bersalahmu begitu besar dan membebani dirimu sehingga kau bahkan tak berani memandangku?" Kyuhyun bertanya lagi dengan sinis, mengamati orang yang dulu pernah mengisi hatinya dengan kekecewaan dan rasa tak tega yang bercampur jadi satu. Ia memang merasa sakit, merasa dikhianati, namun ia juga merasa tak tega berbicara sekejam ini pada Ryeowook. Ia bingung mana yang mendominasi perasaannya saat ini, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan Ryeowook tahu apa yang dirasakannya selama dua tahun terakhir. "Dan sekarang kau muncul lagi dihadapanku dan berdiri dengan status barumu sebagai pacar sahabatku sendiri? Oh, betapa dunia ini sempit sekali."
"Kau tak pernah memberiku kesempatan menjelaskan," jawab Ryeowook lirih. Ia sudah bisa merasakan air berkumpul di sudut kedua matanya, namun ditahannya.
Kyuhyun tertawa pahit. "Untuk apa? Aku sudah tahu alasanmu. Kau hanya salah satu dari kelompok orang-orang yang tidak puas pada cinta yang diberikan oleh orang yang mencintai mereka dengan tulus. Akuilah, kau merasa tidak cukup hanya memilikiku, 'kan?" tuduhnya lagi, merasa menyesal sekali saat melihat ekspresi terluka di wajah Ryeowook, namun tak menunjukkannya.
"Hey, guys. Makanan sudah datang." Kibum mengumumkan sambil meletakkan nampan berisi makanan di meja mereka. Ryeowook cepat-cepat menyingkirkan air matanya sementara Kyuhyun mencoba mengendalikan dirinya yang hampir meledak.
"Kibum-ah, kupikir aku tak bisa menemani kalian makan," ucap Kyuhyun.
"Huh? Kenapa?" tanya Kibum dengan wajah kecewa.
Kyuhyun tersenyum dan memasang wajah menyesal. "Sungguh, aku merasa belum cukup menghabiskan waktu denganmu. Aku masih kangen padamu dan banyak yang ingin kuceritakan padamu, tapi editorku merusak keinginanku dengan panggilan mendadaknya."
Kibum mengangguk paham dan balas tersenyum. "Okay, santai saja. Kita masih bisa bertemu selama kau masih tinggal di kota ini. Beri tau aku nomor telepon barumu, supaya kita bisa mengatur janji," jawabnya seraya mengeluarkan ponselnya.
Kyuhyun pergi sesegera setelah bertukar nomor telepon dengan Kibum dan memeluknya erat, meninggalkan Ryeowook dengan sejuta ketidaknyamanan dan perasaan bersalah yang berkecamuk dihatinya.
.
.
[] T [] B [] C []
.
.
Saatnye bales review :D
- dita: iya, ni kyuwook. Dah dilnjut kok moga suka yach? Hehe..
- SparkSomnia: Udh dilanjut ko', moga suka yach? :)
- ecca augest: Ne, aq kyuwookshipper, tp suka juga shipper MinWook n HaeWook*plakk XD
- Redpurplewine: Hoho, justru wookie yg ninggalin Kyu disini XD Iya udh diupdate ko', moga suka^^
-loveedensor: KyuWook? ga tau ya? liat aja kedepannya? :P Gomawo udh review..
- Drabble Wookie: Iya donk istilah MagnaesOnTop kan para KWS wajib tau XD Ayeey, seumurann! Ne, ini udah ASAP*ga pake kabut lo ya#plakk XD
- Ridhannisa: Ini udh dilanjut yaa...moga suka^^
- Noella Marsha: Gomawo udh review. Udh dlanjt ko', moga suka :)
- Kim ha ni: Iya, mau daftar jd saeng ku y#pedegila XD Ne, udah dilanjut, moga suka ya XD
- ryeohaeme: Gomawo..ini udh lanjut, moga suka XD
.
.
Thankyu buat yang udh ngereview ff saya yg gada bagus-bagusnya ini XD
Now, haruskah ff ini dilanjut atau diberhentikan? Saya minta pendapat chingudeul yah lewat review...Ok? Gomawo~
.
.
June, 11th 2012
Regards,
Nanda NathanKim
