TaaaDaaa.....~~~
Chapter 2... ^ ^
Thx 4 reviewnya, sangat terbantu niehh, syalalalalala~~~~
Sekali lagi kritik n saran sngt diharapkan, thx sudh membaca karya antiq ini, slmt membc!!
In the train to Port Island
"Jadi, Naoto-kun, sebenarnya kasus apa sih yang mau kau pecahkan?" tanya Rise dengan wajah penuh ingin tahu
DEG!! 'Akhirnya pertanyaan itu muncul juga', pikir Naoto. Ia tidak heran. Ia malah heran kenapa pertanyaan tersebut tak kunjung datang. 'Apakah mereka benar-benar kumpulan idiot', pikirnya sebelum ini.
"Yah, Naoto-kun, kita tidak mungkin membantu tanpa tahu kasusnya kan," ujar Yukiko.
'Terpaksa, tidak mungkin menghindar lagi, mereka pasti tahu, cepat atau lambat, sebaiknya kuberitahu saja', timbang Naoto dalam hati. "Aku…"
"Ya…?" tanya yang lain sambil mengerubungi Naoto dengan muka sangat ingin tahu, Naoto langsung sweatdrop, untung kereta ini sepi sehingga mereka tidak jadi pusat perhatian.
"Yah… Aku mencari penyebab kematian kakak (laki-laki) ku," ujar Naoto akhirnya
"KAKAKKK??!!" teriak semuanya dengan shock
Extra scene ~~Naoto's big bro is… By everyone (except Naoto) with telepathy~~
'Naoto punya kakak', teriak Kanji (dalam hati tentunya, kan telepati)
Tidak disangka, bagaimana rupanya ya?' tanya Yousuke (walaupun telepati tanda tanya di mukanya jelaaaas sekali)
'Well, karena kakak Naoto, pasti mirip Naoto dengan perbedaan tinggi badan dan ukuran tubuh', pikir Yukiko
'Oh, cute…' pikir Rise
'Dan mungkin sifatnya mirip Naoto', pikir Chie
'Wow… Lelaki dengan sifat mirip Naoto, sungguh keren', pikir Teddie, 'apakah berarti dia laki-laki yang bersifat seperti perempuan?'
Mendadak semuanya tersadar akan satu hal. Naoto adalah perempuan yang bersifat dan berpakaian seperti laki-laki, kalau kakaknya berwajah dan bersifat seperti Naoto… Langsung saja dalam pikiran mereka terbersit satu hal: Naoto bertubuh tinggi dengan tubuh cowok (karena cowok, mukanya pasti lebih kotak trus mungkin juga jenggotan), berambut panjang, bersifat feminim, memakai baju cewek melambaikan tangannya pada mereka dengan sangat feminim…
HUEKKKK!!!!!! Semuanya muntah dengan sukses di pikiran mereka masing-masing.
Warning : Everyone here have a birdbrain
Extra scene end~~ Back to the main story
"Errr… Jadi, Naoto, seperti apa kakakmu itu?" tanya Yousuke. Semuanya langsung menatap lurus-lurus ke Naoto, menunggu jawaban darinya dengan harap-harap cemas.
"Yah.. Aku sendiri tidak tahu sifatnya, tapi tingginya kurang lebih seperti Yousuke-senpai, wajah agak mirip aku dengan rambut dan mata biru."
"Kau tidak tahu sifatnya, Naoto-kun?" tanya Yukiko
"Aku dan dia terpisah selama 12 tahun," ujar Naoto datar
Walaupun semuanya ingin mengetahui lebih banyak mengenai Naoto dan kakaknya namun mereka menahan diri karena melihat wajah Naoto. Dalam sekejap gerbong kereta tersebut menjadi sangat sunyi sehinggga hanya suara serangga yang terdengar dengan jelas, padahal di kereta tersebut tidak terdapat serangga kecuali kecoak, dan bahkan si pengarang belum pernah mendengar suara kecoak.
"Wow, siapa namanya Naoto? Nama?" tanya Teddie, memecahkan keheningan.
"Mi-"
"Iwatodai. Iwatodai." Suara pemberitahuan bahwa mereka telah tiba di tempat yang dituju memotong pembicaraan Naoto. Merekapun turun dari kereta dengan tergesa-gesa. Semuanya kerepotan dengan bawaan mereka masing-masing (terutama Rise, "karena penampilan adalah hal paling penting bagi artis," katanya). Hal ini dikarenakan mereka berencana menginap selama 1 bulan di Shirogane mansion (sebenarnya Naoto kaya juga) dekat hotel di mana mereka menginap dulu, Shirakawa Boulevard.
Demi menghemat biaya, mereka pun memutuskan untuk berjalan kaki dari Iwatodai Station ke Shirogane mansion (tentu saja sambil mengeluh dalam hati, siapa sih yang suka jalan kaki, barangnya berat lagi). Akhirnya setelah berlelah-lelah, merekapun tiba di Shirogane mansion yang dituju.
Dari kejauhan, disinari oleh mentari senja Port Island sore hari, sesosok pemuda berambut abu-abu melambaikan tangan pada mereka sambil tersenyum samar.
"SOUJI/SENPAI/SENSEI," teriak semuanya dengan bersemangat sambil berlari untuk memeluk Souji, tidak peduli pada orang-orang di sekitar mereka.
"O-oi," kata Souji sambil berusaha melepaskan teman-temannya yang menempel erat bak ulat bulu, "aku tahu kalian sangat mencintai aku tapi ini terlalu…"
"Partner, kami benar-benar merindukanmu!" ujar Yousuke bersemangat sambil mengacak rambut Souji. Mendengar itu Souji hanya bisa tersenyum, cukup terharu juga walaupun mereka baru tidak bertemu selama semusim, ia pergi spring ini dan sekarang summer pada tahun yang sama.
"Aku pulang," ujar Souji, menjawab antusiasme teman-temannya, tidak peduli ini rumahnya atau bukan.
