Vocaloid © Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera. I gain no commercial advantages.
Warning very cliché, possibly typo(s), plot rushed, et cetera. Kesamaan ide harap di maklumi.
Lunar
—Primarily refers to the Latin name for the Moon; Earth's only natural satellite—
Tiga hari berlalu setelah pertemuan antara Yohio dan Aria di restoran itu. Hari-hari datang dan pergi begitu saja, seperti biasa. Jarum jam bergerak tanpa pernah mau menunggu. Angin tetap berhembus dan berlalu tanpa mau kembali.
Kasus yang ditangani Yohio tetap berjalan. Kemarin, Yuuma telah mengirim email berisi informasi penyidikan yang ia ambil langsung dari lapangan.
Awalnya, Yohio merasa sanksi dengan semua laporan dari Yuuma. Pasalnya, subjek pemberi informasi yang ditemui Yuuma bukanlah para siswa Utau Academy seperti yang Yohio minta, melainkan para murid SMP yang berada di tahun terakhir.
"Bukankah sudah kubilang, aku ingin kau bertanya langsung pada siswa yang bersekolah di sana." Yohio menggerutu kepada Yuuma yang berada di ujung sambungan telepon.
"Aku tahu, Yohio. Aku tahu."
"Kautahu dan kau malah mengabaikanku?"
Yohio bisa mendengar lawan bicaranya menghela napas tak sabar. "Dengar, bukannya aku mengabaikanmu."
"Lalu?"
"Aku hanya berpendapat jika akan lebih mudah mendapat informasi bukan dari siswa Utau."
Pengacara muda itu mengernyit. "Maksudmu?"
"Maksudku, murid-murid Utau pasti tidak akan mau buka suara mengenai kekerasan atau perlakuan tidak menyenangkan—yang menurutmu— terjadi di sekolah mereka. Melihat dari banyak kasus kekerasan yang pernah terjadi, kebanyakan pelakunya adalah para senior. Dan perlu kau tahu, ancaman seorang senior kadang lebih kuat ketimbang apa pun," ucap Yuuma.
Tidak ada respon.
"Yohio?"
"Yeah?"
"Hanya memastikan kau masih ada di sana," Yuuma melanjutkan, "jadi ... seperti yang kubilang tadi, ancaman senior bagi para juniornya adalah sesuatu yang menakutkan. Mereka bisa menyuruh para junior untuk tutup mulut—jangan katakan apa pun pada guru atau orangtuamu atau kalian berurusan dengan kami— kira-kira seperti itu cara kerjanya.
"Rasa tidak berdaya membuat para junior tidak punya pilihan selain tutup mulut, tentu beberapa dari mereka akan mencoba melawan namun kekuatan senioritas jauh lebih kuat. Jika seperti itu, maka akan sulit bagiku menemukan siswa Utau yang mau bicara dan terbuka ketimbang yang memilih bungkam."
"Dan kau putus asa, makanya kau memilih bertanya pada anak SMP yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang Utau?"
Terdengar tawa geli dari ujung telepon. Yohio mengernyit. Apa dia baru saja mengatakan hal yang lucu?
"Sebenarnya, Tuan Pengacara," ucap Yuuma, "anak SMP tahu banyak isu mengenai SMA—jauh lebih banyak dari yang pernah kaukira."
Alis Yohio naik satu. Tertarik.
"Aku mendatangi sekelompok anak SMP yang kebetulan sedang duduk-duduk di sebuah restoran cepat saji—sekedar memberi tahu, aku mengaku sebagai mahasiswa semester akhir yang sedang melakukan riset untuk skripsi— dan bertanya SMA mana yang ingin mereka masuki setelah lulus nanti.
"Sebagian besar menyebut Utau—tentu saja. Tapi mereka mempertimbangkan lingkungan pergaulan dan senioritas yang—sepertinya— sudah menjadi tradisi kuat di sana."
"Dan dari situ kau mengambil kesimpulan?"
"Ya," jawab Yuuma. "Tapi aku tidak menampik bahwa kita perlu memastikan dengan bertanya langsung pada siswa Utau. Karena itu, setelah mendengar beragam isu yang beredar tentang Utau dari anak-anak tersebut, aku mulai mencari siswa Utau dan—ah! Aku hampir saja lupa. Apa kau sudah lihat foto yang kukirim bersama laporanku?"
Yohio mengunduh file yang dilampirkan dalam email dan membukanya. Bola matanya berkilat bersama dengan sebuah senyum samar yang muncul ketika file tersebut terbuka. "Ya, aku sudah melihatnya."
"Hei, Tuan Pengacara!"
Dan lamunan Yohio buyar ketika suara yang begitu familier itu merambat di telinganya. Yohio menghela napas, dia tahu suara itu pasti akan menyambutnya. Dia bahkan berani bertaruh jika, tak lama setelah ini, akan ada sesosok gadis berambut pirang nyaris putih yang duduk di kursi kosong di depannya.
Tak lama setelah sapaan tadi menghentak udara, Aria datang dengan langkah riang dan senyum cemerlang, menarik kursi kosong di hadapan Yohio, kemudian duduk di sana.
Yohio tak lagi terkejut dengan kemunculan gadis itu. Setelah pertemuan tak sengajanya dengan Aria tempo hari, dia selalu bertemu dengannya di restoran ini—tempat yang sama. Dan mereka akan duduk berhadapan di meja yang sama—seperti dua orang teman lama atau malah sepasang kekasih yang membuat janji untuk makan bersama. Yohio sebenarnya sudah agak mulai terbiasa dengan kehadiran Aria di sini.
Pengacara muda itu melirik sepiring sandwich extra pedas dan secangkir caramel macchiato yang bergeming di atas nampan yang tadi di bawa oleh Aria. Pesanan gadis bermata biru itu selalu sama tiap harinya.
"Tidak pernah bosan pesan menu yang sama setiap hari?" tanya Yohio.
"Aww! Apa Tuan Pengacara sebegitunya memperhatikan aku hingga hapal setiap menu yang kupesan di sini?" Aria nekat menggoda Yohio, membuat yang bersangkutan mendelik tak bersahabat.
"Dari mana kau menyimpulkan jika aku ini perhatian?"
Aria mengedikkan bahu. "Karena kau tahu aku selalu memesan menu ini setiap hari?"
Yohio mengeluarkan suara yang seperti campuran antara dengusan dan tertawa. "Kenyataannya, kau memang selalu memesan menu yang sama, 'kan?"
Aria kemudian tertawa, "Yah ... ini, 'kan, bisa dibilang ini menu favoritku di tempat ini. Tidak masalah, 'kan, kalau aku selalu memesannya?"
"Ya, tidak masalah."
"Bagus."
"Lagipula kau membayar tagihan pesanan menggunakan uangmu sendiri, jadi aku tidak perlu peduli."
Dahi Aria berkerut. Ujung lidahnya gatal ingin membalas ucapan pengacara muda itu, namun ia urungkan. Dia memandang Yohio yang sibuk memandang laptopnya. Seperti biasa. Dia tersenyum tipis kemudian bertanya dengan nada penasaran, "Nah, bagaimana perkembangan kasusmu, Yohio?"
Yohio sudah memberitahu garis besar kasus yang sedang ia tangani pada Aria beberapa hari yang lalu. Tentu saja dia telah menyisihkan beberapa hal pribadi yang bersifat personal bagi kliennya. Karena, bagaimanapun juga, Yohio juga memiliki kewajiban untuk merahasiakan segala sesuatu yang diketahui atau diperoleh dari kliennya.
Pengacara muda itu menaikkan sebelah alisnya. "Tumben kau memanggil namaku dengan benar."
"Kau ingin aku memanggilmu Pengacara Seksi?"
Yohio mendengus. "Tidak, terima kasih."
"Jadi ... bagaimana dengan perkembangan kasusmu?" Aria kembali bertanya, dia menatap sosok yang punya warna rambut nyaris sama dengan miliknya dengan ekspresi penasaran. "Sudah menemukan informasi yang bagus?"
"Ya," Yohio memberi jawaban seminimalis mungkin.
Aria mengerucutkan bibirnya. Jika saja Yohio bukan seorang pengacara terkenal yang sibuk mengurus kasus kliennya, dia pasti sudah menyiram wajahnya dengan saus tomat. Aria benci ketika seseorang menjawab pertanyaannya dengan singkat. Terlalu singkat. Itu memberi kesan bahwa mereka tidak ingin bicara dengan Aria.
Aria memutar kedua bola matanya dan meneguk caramel macciato-nya. "Bagus kalau begitu."
"Bagaimana denganmu?" tanya Yohio.
"Apanya?" Aria balik bertanya.
"Dari yang sering kudengar, kehidupan penulis novel itu sulit. Setiap hari pasti dikejar deadline naskah. Belum lagi resiko dapat teguran dari editor karena naskah yang kaubuat tidak bagus hingga kau dipaksa untuk menulis ulang." Yohio berhenti sejenak. Matanya beralih pada sosok Aria yang masih memegang cangkir berisi macciato.
"Tapi, melihatmu yang selalu punya waktu berkunjung ke tempat ini ... sepertinya semua yang kudengar tentang kehidupan berat novelis itu hanya omong kosong."
"Hei!" Aria memasang wajah cemberut. "Aku sudah menyelesaikan semua naskahku, tahu! Bukuku juga sudah diterbitkan—dan sudah jadi best-seller pula!— saat ini aku sedang menikmati masa liburanku."
Itu tidak sepenuhnya benar.
Aria sebenarnya sedang merancang sebuah buku baru. Buku Aria yang sebelumnya berkonsentrasi pada sang tokoh utama, seorang mahasiswa jurusan Hukum, yang sedang melakukan penelitian demi kelangsungan tugas akhirnya. Tema yang diambil adalah: Dampak Psikologis Hukuman Mati dengan para terpidana hukuman mati sebagai bahan penelitiannya.
Diceritakan, ketika penelitian berlangsung, sang tokoh utama menemukan dirinya tertarik dengan latar belakang para narapidana tersebut dan alasan mengapa mereka ada di penjara dengan tuntutan hukuman mati. Didorong rasa penasaran yang begitu kuat, dia kemudian memeriksa berita-berita sehubungan dengan kasus narapidana tersebut dan mendapati jika sebagian dari mereka melakukan tindak kejahatan karena mengalami konflik batin akibat memendam rasa kecewa pada keluarga, sahabat, dan hidupnya.
Di buku pertamanya, Aria membuktikan jika dirinya adalah ahli dalam membuat cerita bergenre campuran antara angst, tragedy, mistery, dan crime. Namun, dia akan mengubah imej itu semua di buku keduanya.
Aria merencanakan buku dengan cerita yang lebih melankolis, namun tetap memiliki konflik yang kuat. Draft awalnya sudah ia ajukan kepada Meiko, editornya. Seperti yang diduga, Aria langsung dihujani badai komentar dari gadis itu.
"Aku tidak bilang naskahmu jelek," komentar Meiko ketika ia membalik lembar demi lembar cetak naskah yang Aria beri, "hanya saja ... ini seperti bukan dirimu. Tulisanmu berbeda."
"Berbeda bagaimana maksudmu?"
Gadis itu menaikkan kedua bahunya. "Entah. Aku sendiri tidak bisa menjelaskannya."
"Tapi, 'kan, yang menulis semua itu aku. Yah, walaupun cerita dan genrenya sangat bertolakbelakang jika dibandingkan dengan karyaku yang sebelumnya—tapi aku yakin perbedaannya tidak sampai ke tahap yang signifikan."
Meiko menatap Aria dari balik bulu matanya yang lentik. Caranya menatap seperti tengah mempertimbangkan sesuatu dan—jujur saja— itu membuat Aria sedikit ngeri.
"Aku juga berharap perubahannya tidak signifikan," ucapnya sembari menaruh naskah milik Aria di atas meja. Aria bisa merasakan nada menggantung seperti kata 'tapi' di ujung kalimat Meiko dan memutuskan untuk tidak menjawab. Lebih memilih menunggu gadis itu untuk kembali bicara.
Untuk sesaat, hening menyeruak di antara mereka. Aria menunggu, sedangkan Meiko masih terdiam sambil sesekali mengerling pada naskah.
"Sebenarnya," Meiko akhirnya memecah hening, "pembaca menyukai tulisanmu karena kaubisa mencampurkan banyak unsure cerita dan membentuk sebuah konflik baru yang luar biasa. Itu tidak hanya menarik, tapi juga berkesan dan ... sejujurnya aku juga menyukainya."
Meiko memajukan tubuhnya dan Aria bimbang—dalam hati, dia ingin menari-nari dan menunjukkan rasa girangnya karena sedang disanjung, tapi dia harus diam dan menahan diri untuk mempertahankan imej low profile. Jadi orang berbakat memang susah.
"Apa kauyakin ingin keluar dari zona amanmu dan menulis sesuatu yang melankolis begini...?" tanya Meiko kemudian.
Gadis berambut panjang itu terdiam cukup lama.
Keluar dari zona aman adalah keinginan Aria sejak awal. Tapi, Aria sebenarnya tidak terlalu yakin dengan kesanggupannya. Di sisi lain, dia tak mungkin membatalkan semuanya. Dia sudah sesumbar pada Meiko dengan menyatakan bahwa dirinya sanggup keluar dari dalam zona aman. Dia juga bilang, dengan keluar atau tidaknya ia dari zona tersebut, tidak akan berpengaruh apapun dan kualitas tulisannya akan sama saja.
"Kauyakin dengan itu?" Meiko bertanya sekali lagi. "Aku malas jika menerima naskah yang kualitas tulisannya buruk."
Aria melayangkan mata ke atas. Ketahuan sekali Meiko tidak mau repot. "Naskahnya akan kubuat sebaik mungkin. Janji, deh."
"Dan harus selesai tepat waktu."
"... Yang itu ... aku tidak bisa janji." Meiko menatap Aria dengan tatapan setajam pisau bedah, membuat yang bersangkutan gelagapan hingga buru-buru menambahkan, "Ta-tapi, akan aku usahakan. Ya, aku usahakan."
Plok, tanpa banyak omong, Meiko langsung menerima naskahnya.
Namun, setelah sekian banyak hari-hari yang berlalu, Aria jadi semakin gamang dengan kelangsungan cerita itu sendiri. Saat ini dia masih berhutang chapter ketiga untuk diserahkan pada Meiko. Dan Aria baru menulis sekitar tiga paragraf dengan jumlah kata kira-kira 200 kata. Ada berita buruk, deadline-nya seminggu dari sekarang. Jika dia tidak mengirim naskahnya sampai tanggal deadline tiba, sudah dipastikan Aria akan mengonsumsi dosis mematikan berupa semprotan Meiko. Mati aku.
"Siapa yang mati?" tanya Yohio tiba-tiba. Aria mendongak lalu mengerjap kikuk saat mengetahui ia telah menyuarakan pemikirannya tanpa sadar.
Gadis bermata safir itu tertawa canggung sambil menggaruk pelipisnya. "Eh? Ha-haha…. Bu-bukan apa-apa." Pengacara itu masih mengerling ke arahnya dan Aria buru-buru mengibaskan tangan.
"Lupakan saja."
Yohio menatap Aria dengan alis yang naik satu. Dia cukup yakin Aria tidak mengatakan yang sebenarnya. Tapi dia kemudian mengedikkan bahu tak acuh dan memutuskan untuk tidak peduli. Seperti biasa.
Apa peduliku? Yohio berkata dalam hati. Nanti, kalau Aria merasa sudah perlu untuk bicara, juga pasti dia akan diberi tahu. Dan kenapa juga Yohio seperti penasaran dan mengharapkan Aria untuk berbagi cerita dengannya? Padahal gadis itu jelas bukan siapa-siapa. Sekedar orang asing yang kurang-lebih 72 jam lalu berubah status menjadi kenalan. Novelis ini ternyata jauh lebih berbahaya dari dugaannya.
Yohio mendesah dalam hati, kemudian mencoba kembali fokus dengan apapun yang ada di laptopnya. Kendalikan dirimu, Yohio. Kendalikan.
Detik demi detik bergulir dalam sunyi. Yohio berkonsentrasi pada laptop, sedangkan Aria membiarkan seluruh kesadarannya terpaku pada geliat para pejalan kaki yang melenggang di trotoar. Sunyi terus bertahan. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Dan Yohio menutup laptopnya dengan sebuah desahan risih.
Hari ini, novelis muda itu sangat diam. Berbanding terbalik dengan hari-hari yang lalu. Biasanya, Aria terus menerus mengoceh. Dia membicarakan apapun pada Yohio. Dari hal penting seperti peristiwa yang menjadi headline koran pagi dan pergerakkan indeks saham. Hingga yang tidak penting seperti keadaan cuaca yang cerah, kereta yang terlambat, pelayan cantik penjaga counter di restoran tersebut—APAPUN! Tapi sekarang? Dia risih. Sangat risih. Jauh melebihi rasa risih saat dia mendengar Aria bicara nonstop.
"Ada apa denganmu?"
Aria mengalihkan pandangannya pada Yohio. Alisnya naik satu. "Apa?"
"Kau," pengaca berkulit susu itu menunjuk gadis yang duduk di hadapannya, "terlalu diam. Tidak seperti biasanya."
Aria mengerjap. Bingung. "Eng…. Karena kau selalu menyuruhku diam ketika terlalu banyak bicara, makanya mulai hari ini aku mau jadi orang pendiam?"
Krik.
"... Jawabanmu garing, tahu."
Aria menggerutu.
"Kau jenuh berada di tempat ini?" Yohio berusaha menerka-nerka.
"Ah, ya. Jenuh," jawab Aria, mengeryit dalam hati ketika lidahnya secara otomatis berbohong. Sialnya, Yohio sepertinya mengetahui kebohongannya, karena ia kembali menatap Aria lama dengan pandangan meneliti, membuat Aria menggigit bagian dalam bibirnya.
Aria tentu saja tidak bisa menampik bahwa darah-darah di sekujur tubuhnya seperti mengalir lebih cepat dari seharusnya ketika sepasang mata merah itu menatapnya. Rasanya seperti tubuhmu dipindai oleh sinar laser yang bisa menerawang apa-apa saja yang tersembunyi dalam pikiran. Dan jika hal itu benar-benar nyata, maka Aria tidak bisa membayangkan apa yang akan Yohio lakukan terhadapnya.
"Oh, begitu."
Apa? Aria tanpa sadar mengerjap ketika pengaca muda itu menanggapi dengan nada plus muka sedatar triplek. Tanggapannya hanya seperti itu?
Ia perlahan mengerling ke arah Yohio dan mendapati pria bermata darah itu telah menutup laptopnya, matanya memandang sekitar dengan tak acuh seperti biasa. Dan Aria mendapati dirinya lega sekaligus merasa sedikit terluka atas sikapnya.
Tentu saja, ia bukan siapa-siapanya yang perlu ia khawatirkan. Ya Tuhan, Aria, kau sudah mengulangi kalimat ini berkali-kali! Lihat dirimu!
"Mau pergi ke tempat lain?"
Sang novelis mengerjap pongo. Seolah tak menduga pengacara muda itu akan menawarkan hal tersebut. "Eh?"
"Mau pergi atau tidak?" Yohio mengulang tawarannya sambil bersiap beranjak dari tempat itu. Kali ini nada suaranya nada suaranya bercampur dengan dengus tak sabar, seperti memaksa Aria untuk segera menjawab jika tidak maka dia akan melangkah pergi tanpanya.
"A-aa…. Baiklah," jawab Aria gagap. Dia kemudian buru-buru berdiri dan mengikuti Yohio yang melangkah menuju tempat parkir.
Dalam hati, Aria merasa enggan pergi bersama Yohio. Mereka, 'kan, baru saja kenal. Lagipula, Aria melirik langit yang sudah berubah sempurna menjadi hitam kelam, ini, 'kan, sudah malam. Bagaimana kalau—KALAU!— Yohio punya niat buruk padanya? Niat jahat tidak pandang profesi, 'kan?
"Tidak perlu khawatir. Aku bukan penculik, kok." Aria mengerjap ketika suara bariton Yohio memotong udara dengan kejam. Terlalu terkejut karena ucapan pria itu mengena langsung pada sasaran. Apa dia bisa membaca pikiran orang?
"Kalaupun aku penculik, aku ini tipe penculik yang gaya dan keren," Yohio menjawab dengan ganteng. Sepertinya dia berusaha melawak. Dan Aria menghargai usahanya dengan memberikan sebuah tawa garing.
Setelah mereka berdua sampai di tempat parkir, Yohio segera merogoh saku celananya mencari kunci, kemudian menekan tombol di kunci kontaknya untuk menonaktifkan alarm mobil.
"Ayo naik," ajak Yohio. Ia tersenyum samar saat melihat Aria berusaha tidak terlihat antusias melihat mobilnya. Wajar memang. Berapa banyak orang di kota ini yang memiliki Mercedes Benz SLR McLaren?
Ia membuka pintu pengemudi dan memberi isyarat pada Aria, yang masih terlihat ragu di samping mobilnya, untuk segera masuk. Begitu duduk dan memasang sabuk pengaman, Aria langsung menghela napas nyaman.
"Aku berani bertaruh, kaupasti baru pertama kali menaiki gadis cantik[1] seperti ini, eh?" Yohio berujar ketika mobilnya sudah keluar dari area parkir dan melenggang di jalan raya. Sudut bibirnya sedikit terangkat angkuh. Tukang pamer, ha.
"Uh-huh." Alih-alih menatap lawan bicaranya, Aria menjawab sambil terpaku pada geliat kota yang berkelebat cepat di sampingnya. "Beruntung sekali kau dapat memiliki gadis cantik ini. Biar kutebak, kau mengumpulkan uang jajan bertahun-tahun hanya untuk memiliki gadis ini?"
Yohio tertawa. "Ah, lihatlah dirimu. Berusaha menerka-nerka bagaimana gadis mahal sekelas Mercedes Benz ini bisa jadi milikku." Pengacara muda itu menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berkedip merah.
Dia mengerling Aria singkat, "Apakah kausudah pindah haluan menjadi wartawan yang suka bertanya macam-macam?"
Aria tertawa atas respon Yohio. Ternyata penilaiannya benar, pengacara muda itu punya fetish yang tidak sehat dengan kalimat sarkastik.
"Ngomong-ngomong," Aria mengalihkan pembicaraan, "kita mau kemana?"
"Tidak tahu," jawab Yohio minimalis.
"Eh? Kau tidak punya tujuan?"
Gedikkan bahu. Dan Aria mendapati dirinya memutar bola mata. "Punya saran?" Yohio bertanya dengan suaranya yang terdengar dalam.
"Kenapa kau malah bertanya padaku?" gerutu Aria. "Yang mengajakku pergi, 'kan, kau. Kupikir kautahu tempat yang bagus."
"Dengar, aku mengajakmu pergi karena kau kelihatan jenuh sekali berada di tempat itu."
Alis Aria naik satu kemudian memandang Yohio tertarik. Ekspresi main-main menari di wajahnya. "Nah, ternyata kau lebih perhatian dari kelihatannya. Haruskah aku merasa tersanjung?"
Yohio mengeluarkan suara yang seperti campuran antara dengusan dan tawa. "Perhatian? Aku cuma berusaha sopan," katanya. "Dan berhentilah mengalihkan pembicaraan. Kaupunya saran tempat yang bagus atau tidak?"
"Kau ini, 'kan, pengacara. Harusnya kaupunya banyak referensi tempat yang bagus untuk dikunjungi."
"Satu-satunya tempat bagus yang kutahu hanyalah hotel bintang lima." Yohio refleks menjawab. Ketika Aria mengerlingnya skeptis, dia buru-buru menambahkan, "Jangan berpikiran macam-macam! Aku bukan tipe cowok yang suka main di hotel. Lagi pula aku ke tempat itu cuma untuk bertemu klien!"
"... Di hotel?"
"Tepatnya di bagian restoran. Tidak sampai check-in." Terlalu gugup, Yohio sampai menambahkan keterangan yang tidak penting.
"Oh…." Aria mengeluarkan kata oh yang sering orang keluarkan ketika baru menabrak sebuah mobil.
Hening. Hening. Hening. Semua saling diam. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suasana mendadak canggung. Setelah beberapa lama, bibir merah itu kembali rekah. "Hei, Tuan Pengacara."
"Hm?"
"Aku sedang ingin pergi ke suatu tempat. Apa kau juga mau ke sana?"
"Tergantung," jawab Yohio. "Apa tempatnya bagus?"
"Secara teknis, ya. Tempat itu sangat bagus."
"Bukan tempat ramai seperti mall atau semacamnya, kan?" Yohio mengerling Aria cepat.
"Apa aku terlihat seperti perempuan yang suka main di mall?"
Gedikkan bahu. "Hampir semua perempuan suka tempat itu."
"Hanya mereka yang menganut paham matrealistis, Tuan Pengacara."
"Dan di mataku, semua wanita adalah matrealistis."
Aria mendongak ketika pengacara muda itu menggerutukan sesuatu. "Apa katamu?"
"Nope. Bukan apa-apa," pengacara muda itu berbohong. "Tunjukkan jalannya."
Aria tahu Yohio tengah berbohong, tapi dia tidak mendesaknya. Lebih memilih menaikkan kedua bahunya dan tersenyum menatap jalanan. Mobil itu melaju di tengah jalanan kota. Mengikuti arah yang diberikan si novelis.
to be continued
Catatan kaki:
[1] karena bentuknya, mobil sport kadang diibaratkan sebagai cewek cantik wwww
Tambahan; Another Hole in the Head, yang menjadi novel karya IA, saya ambil dari judul lagunya Nickleback – Another Hole in the Head
Yak, update juga hehe…. Tadinya saya ragu mau update atau nggak karena jumlah review maupun views untuk fic ini sedikit. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi it's okay. Seenggaknya masih ada yang mau bacalah ;D
Oke, sekian dari saja. Makasih untuk YamiRei28 dan Hikari Kengo yang udah review cerita ini.
Kritik dan saran yang membangun, amat dinanti
Salam,
nastar keju
