Bad&Bad

Im Jaebum k.a. JB GOT7

Park Jinyoung k.a. Junior GOT7

And other…

GOT7 JYP • Bad&BadRin Rizawa

Kisah antara seorang yang berperilaku kasar dengan seorang yang suka bermain di belakang.

Warning! JackNior scene!

chapter2

Jinyoung menyender disofa, dengan tubuh penuh luka dan memakai baju dan celana berbahan tipis, ia melihat kearah Jaebum.

"Hampir masuk penjara lagi?"

Jaebum hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.

Jinyoung mengembungkan pipinya kesal, dia mencubit-cubit lengan Jaebum yang disebelahnya.

"Hyungie~ hyungie~"

Terus seperti itu hingga sepuluh menit, Jinyoung masih memanggilnya manja dan sang pemilik lengan harus mengorbankan lengannya yang sudah membiru itu—tapi Jaebum masih bermuka datar.

Didiamkan membuat Jinyoung kesal, berbalik membelakanginya, Jaebum hanya meliriknya, melihat wajah lucu kekasihnya dari belakang—hanya terlihat sedikit. Lalu matanya turun kepunggungnya, yang penuh luka yang ia perbuat sendiri.

Tangan Jaebum bergerak mengelus-elus punggung penuh luka Jinyoung itu, membuat Jinyoung sedikit tersentak dan melenguh.

"Sakit?" tanya Jaebum datar.

Jinyoung menggeleng dan mengangguk—karena memang dia merasakan sakit namun nikmat.

Jaebum terus mengelus-elus punggung itu pelan, membiarkan Jinyoung yang wajahnya kini sudah memerah karena dia teransang langsung dengan gerakan tangan Jaebum.

"Aku akan berusaha untuk tidak masuk penjara lagi, Junior," ucap Jaebum setelah hening diantara mereka sudah lama.

Jinyoung mengangguk pelan, tubuhnya ia berbalik hingga mereka saling berhadapan diatas sofa, muka memerah karena menahan nafsunya, dia tersenyum.

"Aku percaya, hyungie."

"Kau juga harus tidak melakukannya—"

Jinyoung mencium bibir kasar Jaebum dengan pelan, lalu melepasnya sambil tersenyum lucu, "Aku tahu Jaebumie hyung~"

-0o0-

Jaebum berjalan dikesunyian malam, lampu-lampu yang menyala dengan kecahayaan yang tidak terlalu terang menemani Jaebum. Sampai didepan sebuah gang, dia terdiam, ekspresi datar tertampang jelas di mukanya. Mata tajamnya menyelurusi dalam gang, selanjutnya Jaebum memakai topeng putihnya, yang sekilas tidak terdapat lubang—namun nyatanya ada lubang-lubang kecil ditempat mata untuk melihat.

Ia berjalan memasuki gang, tangannya mengeluarkan benda yang mengkilat ditengah kegelapan. Awalnya berjalan biasa, namun lama-kelamaan Jaebum berjalan sangat cepat.

Dibalik topeng putihnya, dia menyeringai.

Sekarang, lima meter didepan Jaebum terdapat tempat yang ramai, sekumpulan pemuda-pemudi.

Membuat sang topeng putih semakin menyeringai senang. Mangsanya banyak.

Selanjutnya adalah, tempat yang awalnya dipenuhi oleh suara kesenangan kini dipenuhi oleh suara ketakutan dan kesakitan.

Jaebum menusuk orang-orang itu dengan kesetanan, dia menusuk tanpa melihat apa yang ia tusuk, disaat ada yang mencoba melarikan diri, Jaebum akan melompat dan langsung berada didepannya, lalu akan menusuknya dengan brutal—sama seperti yang lainnya.

20 menit kemudian, tempat sepi ini dipenuh dengan bau darah—semuanya mati kehabisan darah atau bahkan mati seketika karena ditusuk tepat di organ vital.

Satu-satunya orang yang berdiri dengan topeng putih yang terdapat noda-noda darah, Jaebum, tertawa senang melihat apa hasil yang ia buat, dia langsung mengumpulkan mayat-mayat yang masih hangat itu ditumpuk rapih, tangannya merogoh saku jaketnya, mengeluarkan dua botol minyak tanah. Dilemparkannya dengan asal isi dua botol itu dimayat-mayat tertumpuk penuh darah itu. Berlanjut dengan dilemparkan api.

Jaebum menyeringai senang saat melihat mayat-mayat itu berada dikobaran api, cukup menikmati 10 menit, ia melepaskan topengnya dan melemparnya kekobaran api, melepaskan sarung tangannya dan memasukkannya kedalam saku jaket, berbalik keluar dari gang dengan wajah datarnya seakan tak terjadi apa-apa.

Itulah Im Jaebum, tak akan tenang jika belum membunuh.

-0o0-

Jinyoung terdiam didepan gedung bertingkat tinggi, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku, wajahnya tersenyum kecil, kaki kanannya ia gerakkan, menunggu lama seseorang—

"Jinyoung-ssi."

Jinyoung menoleh, dia langsung tersenyum lebar kepada orang yang menyapanya tadi.

"Dimana?" tanya Jinyoung tidak sabar.

Orang yang menyapanya tadi tersenyum tipis dan membungkuk sambil tangan kanannya menunjuk ke dalam, kepalanya ia gerakkan. Jinyoung mengerti gerakan itu, ia mengikuti orang tadi—masuk kedalam gedung bertingkat tinggi ini.

Masuk ke lobby, menaiki lift hingga kelantai 15, Jinyoung masih mengikuti orang tadi—jika Jinyoung perhatikan, usianya baru menginjak 25 tahun—

"Disini tempatnya, Jinyoung-ssi," ucap orang itu, "saya permisi dulu."

Jinyoung memandangi orang itu pergi, namun akhirnya ia memilih masuk kedalam ruangan yang didalamnya—

"Jinyoungie~"

Jinyoung tersenyum lucu, "Jekkie~"

Orang bertubuh tegap itu tertawa, "Kau selalu imut jika memanggilku seperti itu, Jinyoungie."

Jinyoung membalas tawa itu, dia berlari kecil menuju orang itu, dengan santai ia duduk dipangkuan orang itu.

"Jekki~ Jacksonie~"

"Just call me Jekki, baby~"

Orang yang bernama Jackson itu langsung mencium Jinyoung kasar, Jinyoung pula langsung mengalungkan kedua tangannya dileher Jackson, mencoba mengimbangi ciuman brutal dari sang dominan.

Jackson melepaskan ciuman itu, dia lanjut menciumi leher Jinyoung dan tangannya meremas kedua pantat Jinyoung—

"Kau tidak memakai boxer atau celana dalam mu?" tanya Jackson dengan nada rendah.

Jinyoung menggeleng imut, "Tidak, itu untuk mu, Jekki~"

Jackson kembali tertawa, dia melanjutkan menanggalkan baju Jinyoung walau mulutnya kembali menciumi leher Jinyoung dengan penuh napsu.

Jinyoung mendesah, dia bergerak diatas pangkuan Jackson, terus memeluk kuat leher Jackson untuk tidak jatuh.

"Luka mu semakin banyak, Jinyoungie~ tapi itu yang membuatmu semakin sexy dan aku ingin terus memangsa mu~" goda Jackson, mukanya ia dekatkan dengan muka Jinyoung, hidungnya menciumi harum wajah Jinyoung yang entah mengapa menjadi candu untuknya.

Jinyoung terkikik, "Luka itu sangat nikmat, kau tahu?"

"Tapi aku tidak akan melukaimu diluar—biarkan aku melukaimu didalam."

"Well, tambahkan kembali luka didalam ku Jekki~"

.

-0o0-

.

Jinyoung pulang kerumah tepat saat jam 21.57 PM, cukup cepat karena memang walau sudah semalam itu biasanya rumah ia dan Jaebum ini akan sepi. Tetapi Jinyoung langsung menuju kamar yang biasa ia dikurung oleh Jaebum, matanya tersirat kegelisahan, dia langsung membuka seluruh pakaiannya hingga bulat total dan tangannya mengambil benda-benda keras dan tumpul.

DAK

TAK

PRANG

PLAK

DAK

Suara-suara pukulan menggema diruangan itu.

Jinyoung memukul benda-benda itu ketubuhnya dengan keras, wajahnya penuh ketakutan, tidak peduli tubuhnya yang mempunyai luka yang baru saja kering itu kembali terbuka bahkan membuat luka baru yang lebih parah.

Darah menghiasi tubuhnya, namun Jinyoung terus memukul terus tubuhnya dengan benda-benda itu. Ditengah memukuli diri sendiri, Jinyoung dengan gemetar mengambil sex toy, dan memasukkannya kedalam anusnya, menekan tombol remote: mode hard.

"Maafkan aku—maafkan aku—maafkan aku—maafkan aku—maafkan aku—maafkan aku—maafkan aku—maafkan aku—Jaebumie hyung—"

.

Jaebum memasuki rumahnya saat jam menunjukkan angka satu pagi, kakinya langsung melenggang masuk kedalam kamar—bersiap untuk beristirahat dan memeluk erat protektif kekasihnya yang mungkin saja sudah tidur.

Krek.

Senyum kecil terlihat dimuka Jaebum saat ia menemukan kekasihnya sedang tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya—ia tebak pasti kekasihnya tidur dengan telanjang bulat kembali.

Melepaskan kaos dan celananya, kini Jaebum hanya memakai boxer untuk bersiap tidur. Dia duduk dipinggir kasur, memperhatikan kekasihnya yang tidur dengan nafas teratur—

Tetapi hidungnya mencium bau yang amat dia sukai.

Jaebum langsung membuka selimut yang menutupi tubuh Jinyoung, matanya berbinar saat menemukan kekasihnya—dalam keadaan penuh luka baru dan darah masih segar walau sudah berhenti pengaliran keluarnya, bahkan Jaebum melihat pantat kekasihnya bergoyang sangat keras, dia sudah sangat tau pasti 'mainan' itu tertanam dilubang kekasihnya.

Jaebum bersiul, dengan semangat ia langsung merebahkan diri, dan langsung memeluk kekasihnya protektif, mencium aroma darah yang sangat dia sukai.

"Aku benar-benar mencintai mu, my Junior~"

Setelah itu diam—lima menit selanjutnya dengkuran halus terdengar dari Jaebum. Jaebum sudah tidur.

Jinyoung membuka matanya pelan-pelan, rasa nyeri langsung terasa saat dia mencoba bergerak sedikit dipelukan erat Jaebum. Namun Jinyoung menutup matanya saat rasa nyeri itu lagi-lagi kembali datang dan mulutnya mengeluarkan suara desahan enak.

Jinyoung benar-benar sangat menyukai ini, saat rasa sakit membuat dirinya merasakan enak yang sangat luar biasa.

-0o0-

Jaebum mengendong Jinyoung ala bridal style menuju kelantai pertama, kekasihnya saat bangun tidur merengek tidak bisa menggerakkan tubuhnya, alasannya karena luka yang mengering saat itu dalam keadaan meringkuk, dan saat menegakkan tubuhnya luka itu terbuka kembali—memang sakit tapi bagi Jinyoung itu juga nikmat, tapi dia ingin bermanja dengan Jaebum makanya dia merengek.

Direbahkannya tubuh sang kekasih diatas sofa yang empuk, saat ingin menuju dapur untuk meminum segelas air, tubuh Jaebum malah tertahan karena masih ada tangan yang mengalung dilehernya, mata tajamnya melirik kekasihnya yang tersenyum lucu.

Senyum itu—membuat Jaebum ikut tersenyum kecil, dia mengacak rambut Jinyoung gemas dan melepas paksa tangan yang mengalung dilehernya—karena bagaimanapun juga dia kehausan.

Meninggalkan Jinyoung dengan wajah ngambeknya.

.

Jinyoung menggerutu tak jelas dalam perjalanan menuju tempat dia bersenang-senang nanti, sedangkan Jaebum yang disebelahnya tak berhenti menatap geli kekasihnya.

"Aku mau sendiri, sana pergi hush hush," usir Jinyoung dengan nada ngambek.

Jaebum mengacak rambut Jinyoung saking gemasnya, "Aku mengerti Junior, sampai jumpa."

Jinyoung melihat punggung Jaebum yang semakin jauh—sang kekasih dominannya itu berjalan kearah pertokoan.

Senyum kecil tercipta dibibir kecil Jinyoung.

Seaneh-anehnya mereka, mereka tetaplah manusia normal.

-0o0-

Jaebum menjambak rambutnya kuat-kuat saat dia melihat pemandangan didepannya—pemandangan orang-orang terbakar, lagi-lagi orang itu melakukannya…

Dengan lemas, dia berdiri, menatap pilu kobaran api yang membakar jasad-jasad tak bersalah.

Pantas saja dia merasakan keanehan beberapa hari ini, tersadar denga baju yang sedikit bau darah dan minyak tanah, dan memegang pisau yang dahulu dia pakai sebagai pembunuh.

Wajah Jaebum terlihat aneh—dengan setengah wajahnya menyeringai namun setengah wajahnya lagi begitu sedih.

Jaebum memilih berbalik arah, meninggalan kobaran api di ujung gang sempit ini.

.

Pukul dua siang, Jaebum sampai di rumahnya, wajahnya terlihat letih. Langkah kakinya menuju tempat istirahat terbaik, kamar tidurnya dan kekasih tercinta. Dibuang sembarang jaketnya, kini ia hanya memakai celananya, tapi dia tidak peduli. Akhirnya dia membanting tubuhnya sendiri keatas kasur dan menutup matanya.

Jaebum hanya ingin beristirahat. Itu saja.

Kini dia mengetahui mengapa akhir-akhir ini dia kehilangan kesadaran dan terbangun ditempat lain.

Sisi dirinya yang lain kembali bangkit.

Memikirkan itu, tangan kanan Jaebum langsung menutup kedua matanya, dan mulutnya bergerak mengeluarkan suara gumaman.

"Apa yang harus kulakukan…"

"Dia kembali…"

"JB…"

-0o0-

"Hyungie hyungie~"

Jinyoung terus memanggil, langkahnya ringan menuju kamar mereka. Tadi dia melihat sepatu Jaebum yang berarti dia sudah pulang, 'kan?

Tangan kanan membuka pintu kamar, senyum semakin terlihat diwajah Jinyoung, menemukan hyung tercintanya sedang tertidur di atas kasur—kan Jinyoung jadi bisa menjahilinya sedikit, kekeke.

Baru saja Jinyoung menutup pintu, Jaebum yang tadi berbaring langsung bangkit—membuat Jinyoung terkaget.

"Hyung! Aku jadi gagal mengagetkan mu!"

Namun candaan Jinyoung tidak digubris oleh Jaebum, ia masih terdiam. Jinyoung tidak bisa melihat terlalu jelas karena cahaya kamar ini memang remang-remang—cahaya yang disukai olehnya dan hyung tercintanya.

"Junior."

Suara berat memanggil, Jinyoung bergidik, tapi dia merasa tidak asing dengan suara itu—

"Ya, Jaebum—hyung?"

"Nyeongie."

Tubuh Jinyoung langsung waspada, dia tahu siapa yang memanggilnya itu.

"Kau—membunuh lagi…?"

Suara tawa itu memenuhi ruangan remang-remang ini. Dia berbalik dan membuat Jinyoung cukup bisa melihat wajahnya.

"Bukankah baik kau maupun Jaebum hyung sudah berjanji—"

"Bukan aku Nyeongie sayang," seringai yang sialnya Jinyoung suka itu tertampang dimuka hyung tercintanya, "tetapi ini atas permintaan Jaebum sendiri—untuk membunuh, kau tahu sendiri bukan tangan Jaebum itu selalu gatal untuk menikam atau memutuskan kepala makhluk hidup."

"Tidak."

Tidak, Jinyoung tidak lagi mudah terpengaruh oleh sosok didepannya ini.

"Kalian sama—tapi berbeda, aku tahu itu," ucapan datar Jinyoung malah membuat sosok didepannya itu semakin mendekat.

"Tidak Nyeongie—" sosok ini sudah sangat dekat dengan Jinyoung.

Setelah itu, hanya ada suara-suara yang memang seperti biasa menghiasi rumah ini.

-0o0-

Jackson mengeryit melihat Jinyoung lesu, tangannya ia elus-eluskan rambut Jinyoung dengan lembut.

"Jinyoungie, ada apa?"

Jinyoung menoleh, dia menatap Jackson dengan tatapan kecewa, frustasi, bingung, dan emosi yang tidak bisa dideskripsikan.

"Jekki—"

"Apa sayang?" Jackson semakin menarik kepala Jinyoung untuk mendekat—dan dia mencium pipi Jinyoung dengan mesra.

"Bisakah—bisakah—kita melakukan… sex?"

Jackson menghentikan aksinya, saat mendengar ungkapan Jinyoung yang terdengar pasrah.

"Apa maksudmu Jinyoungie? Bukankah dulu kita sudah berjanji tidak melakukan sex? Apalagi itu permintaan mu sendiri," tanya Jackson.

"Masa bodoh dengan perjanjian," Jinyoung tertawa hambar, "aku ingin kita melakukannya Jekki~ kumohon~"

Jinyoung mengeluarkan aegyo supernya, tentu saja itu sangat-sangat-sangat membuat Jackson tidak bisa melakukan apa-apa selain mengiyakan, apalagi melakukan sex dengan Jinyoung adalah impiannya sejak dulu.

Tidak ada jawaban dari Jackson—karena Jackson langsung mendorong Jinyoung hingga Jinyoung terbaring dipinggir sofa, belum sempat mengatasi keterkejutannya, perut Jinyoung langsung diduduki oleh Jackson, seringai senang tertampang diwajah itu. Kedua bibir itu langsung bertemu, saling menunjukkan mana ciuman terhebat.

"Ngahh—"

Jinyoung mendesah saat bibir bawahnya digigit kasar oleh Jackson, langsung saja lidah Jackson memasuki mulut Jinyoung, menelusuri—merasakan setiap inci mulut seseorang yang dia idam-idamkan sejak dulu.

Melepaskan ciuman, Jinyoung langsung mengambil nafas sebanyak-banyaknya, tapi kemudian dia langsung mendesah, karena Jackson mulai menulusuri lehernya, menggigit kasar atau bahkan tangan Jackson mencengkram leher Jinyoung dengan kuat.

Memadukan antara ransangan dengan luka—

Jinyoung suka ini.

|tbc;|

Hehehe, maaf lama /sembunyi/ sebenarnya Bad&Bad sudah lama sekali selesai, tapi Rin merasa ada satu hal yang kurang hingga Rin berpikir cukup lama dan mengepost nya.

Jangan lupa review sayang-sayang ku ^^

Oh ya—Rin berencana untuk mepublish FanFic yang Rin translate dari AFF, sudah dapat ijin sih hanya belum selesai saja ehehe.