Warning: AU, OOC (banget) Typo buat jaga-jaga. Rush.

DON'T LIKE? DON'T READ!

DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO.

.

.

.

-I Won't Let You Go-

.

.

.

"Hinata...!"

Suara seseorang dengan bariton rendah serta datar kurasakan ada di belakangku. Laju langkahku memang awalnya berhenti sebentar karena panggilan itu, berhubung aku sedang tidak ingin bertemu dengannya, lantas aku malah memacunya lagi lebih cepat dari sebelumnya.

Entah mengapa jantungku malah berdebar kencang tidak normal dari tempatnya. Apalagi saat kurasakan ia malah mengejarku, aku tahu dari suara langkah sepatu itu yang mengetuk pada jalanan aspal trotoar menuju sekolah ini, terdengar juga napas yang memburu mulai mendekat kearahku. Oh Kami... kenapa aku malah takut kalau bertemu dengannya, aku tidak bisa!

Dengan sekali gerakkan cepat ia menarik tangannku, membuat tubuh serta rambutku yang terurai menghadap sosok itu sepenuhnya. Sosok yang membuat aku terbelalak kaget—yang sejak kemarin aku hindari entah karena apa.

Mata emerald itu tidak sengaja tertatap sekarang, matanya datar seperti biasa, namun kali ini aku sedang tidak ingin memandangnya.

"Kenapa kau pulang duluan kemarin?" tanyanya datar, bisa kupastikan ia tidak pernah tahu apa yang terjadi sekarang padaku. Memang ia tidak bisa membaca pikiranku. Ia memang tidak tahu apa yang kurasakan sekarang. Bahkan aku yakin ia tidak pernah menyadari perasaanku.

"A-aku..." kali ini aku merasakan dua kali lipat tidak bisa berbicara dari sebelumnya. Kali ini suara itu bahkan tidak ingin aku perdengarkan padanya. Aku tidak tahu kata apa yang pantas sekarang aku lontarkan padanya. "Le-lepaskan tanganku," pintaku lirih. Sesaat ia masih mencengkram tanganku dalam genggaman kuatnya, aku yakin pasti semua temanku yang melihat ini sedang berpikiran yang macam-macam, apalagi sekarang kami sedang berada di pinggiran jalan.

Ia melonggarkan cengkramannya perlahan lalu melepaskannya, aku langsung menariknya kembali serta mengelus pergelangan tanganku yang terasa sakit ini. Gaara memang kasar. Yah aku tahu itu. Itulah dirinya.

"Ma-maaf aku kemarin pulang duluan, kau pasti menungguku ya?" aku menundukkan kepalaku sepenuhnya yang pasti sedang bersemu merah karena akan menangis. Air mata dalam tubuhku bisa kurasakan akan keluar sekarang.

"Alasannya?"

Gawat! Gaara selalu minta alasan yang masuk akal dan jelas setiap apa yang aku lakukan, apa ku katakan saja ya soal kemarin bahwa ada seorang gadis yang mengaku sebagai tunangannya, tapi... apa hubungannya kalau aku melontarkan pernyataan itu padanya, apa ia akan menerimanya? Aku takut...

"I-itu karena—"

Kata-kataku terpotong karena ada seseorang yang menyerukan namanya sekarang, "Gaara!"

Sontak aku dan Gaara menoleh ke samping—ke asal suara itu. Mataku membulat sempurna melihat sosok suara siapa itu yang nyatanya gadis kemarin aka Matsuri!

Aku lihat gadis itu tengah berlari tergopoh-gopoh untuk menghampiri kami sembari berujar, "Gaara sayang kau tidak menungguku pergi bersama." ia langsung menubruk tubuh Gaara, merangkul lehernya lalu mencium pipinya sekilas.

Sukses mataku lebih membulat lagi karena itu.

"Apa-apaan kau ini!" Gaara menjauhkan diri darinya—ia mendorong kepala Matsuri agar melepaskan rangkulannya.

"Kenapa sih kau ini!" Matsuri akhirnya menarik dirinya dengan disertai muka cemberut yang terlihat sangat manja.

Sekarang kejutan apalagi untukku? Aku sudah berapa kali terkejut dari kemarin, apalagi sekarang melihat gadis itu sedang memakai seragam sekolah seperti kami. Kalau saja aku punya penyakit jantung, mungkin aku sudah mati dari kemarin.

Aku lihat Gaara seperti mengelap pipinya sebentar sembari memalingkan wajahnya dari kami berdua.

Mata Matsuri melirikku, ia melempar senyuman ramah kepadaku, "Hai." mau tak mau aku pun membalas senyuman itu dengan super duper canggung. "Kau Nona yang kemarin kan?" tanyanya memastikan diriku.

"Hah? Nona?" sahut Gaara tidak percaya.

"Iya Gaara-kun, ia adalah gadis yang kutabrak kemarin," Matsuri menjelaskan pertemuan awal kami kemarin, entah dari kata yang mana aku malah merasa cemburu melihat kedekatan mereka, mungkin saja Gaara memang lebih dekat pada Matsuri daripada denganku.

"Apa? Kau tabrak?"

"Tapi katanya ia tidak apa-apa!" Matsuri melirik kearahku lagi, "kau tidak apa-apakan, Nona?" ia tersenyum ramah, Matsuri memang murah senyum dan manis, jauh sekali kalau mau dibandingkan denganku.

"Ti-tidak apa-apa," susah payah aku menjawab pertanyaannya karena masih merasakan perasaan sesak ini.

"Hei, kenapa seragammu sama seperti kami? Pulanglah sana ke sekolah jadulmu itu!" ujar Gaara dengan pandangan mengawasi seragam yang dikenakkan Matsuri. Aku pikir tadinya Gaara sudah tahu alasan Matsuri memakai seragam yang sama seperti kami, aku juga penasaran kenapa ia memakai seragam maid sekolah kami. Jangan-jangan...

"Oh sayang, maaf ya aku lupa," ujar Matsuri dengan nada yang mampu menampar pendengaranku, aku melihat sekilas Gaara mendengus, "mulai sekarang aku kan bersekolah di sini."

Aku dan Gaara refleks terkejut dan bergumam; "Apa!" mungkin bedanya keterkejutanku lebih berlipat-lipat dari Gaara.

Satu sekolah dengan Matsuri mungkin akan membuatku mati bunuh diri lama kelamaan. Ini pasti mimpi, pasti!

"Aku malah minta dengan kepala sekolah agar kita seke—"

Kata-kata Matsuri terhenti ketika Gaara berbalik meninggalkan kami berdua, perlahan ia melangkah menuju ke gerbang, "Bel sudah masuk berbunyi!"

"Ah, benarkah?" Matsuri berlari mengikuti jejak Gaara, sesaat ia melirikku yang masih berdiam di tempat, "Hinata, ayo," ajaknya dengan cengiran manisnya.

Aku baru sadar ia manis dan ceria, tidak sepertiku... apa sebaiknya aku mengalah saja dan merelakan Gaara untuknya? Ah, kenapa aku berpikiran seperti itu?

Sebaiknya aku bergegas masuk pagar sekolah sebelum waktunya di tutup.

.

.

.

"Gaara-kun, ini aku bawakan makan siang dengan kekuatan cinta!"

Dari meja belajarku aku mendengar teriakkan Matsuri yang begitu semangat di belakang tempat dudukku, sedari awal bel istirahat aku tetap di sini berhadapan dengan buku yang isinya tidak sedikit pun masuk ke dalam otakku.

Gaara... kenapa kau tidak memberitahukan ini dari awal, kalau kau memberitahukannya, aku tidak akan mengharapkanmu sedikit saja. Tapi, kenapa begini!

Tidak ada sepatah kata pun yang Gaara lontarkan untuk menjelaskan semua ini padaku! Dari masuk kelas tadi ia sedikitpun tidak berbicara padaku. Ternyata Matsuri memang tunangannya. Kandaslah hidupku.

"Wah mereka memang pasangan yang cocok ya."

"Astaga... baru tahu kalau Gaara ada tunangan."

"Jadi, selama ini Hinata siapanya ya?"

"Kasihan..."

Stooop! Tolong kunci mulut kalian yang tengah berbisik-bisik di belakangku! Siapa pun itu ku mohon! Kami-sama... apalagi sekarang, melihat keakraban Gaara dan Matsuri saja sudah membuatku muak, apalagi dengan ditambah bisik-bisik tidak bertanggung jawab seperti itu!

Aku semakin mengeratkan genggaman pada rok seragam sekolahku, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menahan emosi dan luapan hati yang semakin memanas.

"Aku bisa makan sendiri!"

Kali ini aku mendengar Gaara teriak seperti itu di belakangku, bisa kubayangkan Gaara pasti menikmati makanan darinya.

Bento yang kubawa untuk Gaara masih tersimpan rapi dalam tasku. Padahal aku kan yang selalu memberikannya bento. Dan sekarang, tidak ada lagi yang mau memakan bentonya.

Hah, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Sebenarnya aku ingin melirik ke belakang saat ini. Tapi aku takut aku akan mati duduk.

Entah mengapa keringat dingin sekarang malah merebak di dahiku, aku seperti menghadapi ruangan kosong yang banyak hantunya dengan degupan jantung tak karuan.

Baru hari pertama sudah seperti ini apalagi besok-besoknya?

"Hihihi, di pipimu ada nasi tuh."

"Kau bohong."

"Sungguh ada!"

"Tidak ada!"

"Ada!"

"Sudahlah aku sudah kenyang!"

Obrolan di belakang itu benar-benar membuatku kesulitan bernapas. Ah, sudah cukup! Aku harus kabur dari sini.

Setelah aku menaruh buku ke dalam laci dengan cepat-cepat, bergegas aku bangkit dari dudukku dan berjalan keluar.

"Nona Hinata, mau kemana?" suara Matsuri membuatku menghentikan langkahku sejenak, kalau sudah begini aku jadi salah tingkah. Entah mengapa sekarang aku merasakan telapak kakiku dingin sekali, padahal terlapiskan oleh kaos kaki tebal dan sepatu hangatku.

Aku memberanikan diri untuk menoleh dan melirik mereka. Setelah aku menoleh dengan susah payahnya, aku mendapati Gaara dan Matsuri yang duduk berdekatan dengan satu kotak bento dan dua sumpit yang berada di atas meja

Mereka terlihat seperti pasangan serasi sekali, entah mengapa disaat seperti ini aku malah memutuskan hal itu, padahal kan hatiku sudah teriris gara-gara memikirkan itu. Tangisku pilu dalam hati.

Tidak berani aku menatap mata Gaara yang nyatanya memang menatapku bosan, aku hanya menatap Matsuri, "Ma-mau ke kantin," aku memaksakan senyuman dengan sekuat tenaga.

"Kau terlihat tidak sehat, aku melihat jalanmu gemetar, apa kau belum makan?" Matsuri bangkit dari duduknya seraya melangkah mendekat ke tempatku berdiri.

Tidak ada lagi yang bisa aku jawab kecuali; "I-iya aku belum makan."

"Jauh sekali kalau mau ke kantin, makan bentoku saja, aku bawa dua loh," tawarnya tulus. Kemudian ia menarik tanganku mendekat kearah meja Gaara, sebenarnya aku mau menarik tanganku, tapi tidak bisa. Kekuatanku melemah di saat seperti ini.

Ia menarik kursi yang lain mendekat kearah meja Gaara dan menyuruhku duduk di atas sana. Aku hanya bisa pasrah oleh pergerakkan tubuhnya yang cepat tanggap itu.

Sedangkan aku masih berusaha melirik yang lain agar mataku tidak bertemu pandang pada Gaara.

Matsuri mengeluarkan kotak bento dari tas miliknya, "Ini makanlah," ujarnya sambil membukakan kotak itu padaku.

"Te-terimakasih." mau tak mau aku menarik kotak itu dan mengambil sumpit dari tangannya pula.

"Itu masakkanku loh."

"Hah! Kalau kau bawa dua bento, kenapa kita harus makan ini berdua?" Gaara yang berada di depanku protes—membuatku gugup untuk menyuapkan makanan itu ke dalam mulut.

"Ah, ini memang untuk Hinata. Kau pelit sekali!" Matsuri berkilah dengan akrabnya pada Gaara. Aku hanya bisa menunduk berusaha berkonsentrasi dalam makan. Sebenarnya tidak ada lagi nafsu untuk makan sekarang, tapi aku masih memaksakannya.

Aku malah ingin tidur di atas kasurku, berselimutkan kain tebal sambil memeluk guling. Aku ingin begitu. Cara itu adalah cara bagus untuk membuatku merasakan perasaan ganjal ini. Oh Kami...

"Sudahlah aku mau ke WC!"

Aku melirik dari ujung mataku melihat kepergian Gaara keluar yang katanya ke WC itu. Entah sudah berapa kali makanan dalam mulutku kukunyah pelan-pelan, rasanya tidak hancur-hancur sampai sekarang.

"Hinata, jangan pedulikan Gaara ya, dia memang seperti itu." aku yakin perkataan Matsuri ini berusaha menghiburku. Tapi nyatanya sedikitpun aku tidak terhibur.

"Ah, ti-tidak apa-apa." sekeras mungkin aku mencoba tersenyum lagi. Ternyata senyum itu memang susah sekali untuk menggerakkannya. Pantas saja selama ini Gaara jarang senyum.

.

.

.

Hari kedua.

"Gaara-kun, ini handukmu."

Padahal aku susah payah menghindari dari mereka berdua, tapi disaat jam pelajaran olahraga pun mereka selalu tampak di dekatku.

Aku melirik ke lapangan sepak bola yang berada tepat di lapangan voli tempat ku berdiri sekarang.

"Oi Matsuri! Pacarannya nanti saja, kita lagi main nih!" temanku berteriak dari lapangan voli pada Matsuri yang mendekat ke lapangan sepak bola itu.

"Iya sebentar lagi."

Aku mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Setelah itu aku berbicara pada temanku yang berdiri di sampingku ini, "Sakura-san, a-aku mau istirahat, sepertinya aku sedang datang bulan, tolong bilang pada Anko-sensei ya." setelah itu aku berlalu dari sana meninggalkan lapangan itu dengan muka letih seperti habis tanding gulat.

Sampai detik ini Gaara tidak bicara padaku. Dia tidak menjelaskan sedikit pun mengenai hubungannya. Padahal aku kan menunggu itu! Ayo beri aku kejelasan.

.

.

.

Hari ketiga.

"Gaara! Ya ampun! Seragammu bau! Kau tidak memakai minyak wangi kan!"

Bersama-sama kelasku yang baru bubar aku berjalan menuruni anak tangga. Padahal sudah pulang sekolah tapi Matsuri masih berteriak sebegitunya, kenapa aku harus mendengar ini walau di atas tangga!

"Kau ini cerewet saja! Siapa bilang aku bau!" lemparan suara Gaara semakin hari kian semakin mesra. Apa aku saja yang merasakan itu ya?

Bergegas aku mempercepat laju langkahku dari mereka menuruni tangga sampai ke bawah.

Aku ingin tidur sekarang!

.

.

.

Hari keempat.

"Kyaaa Gaara...!"

Anak-anak dari luar kelas berteriak seperti itu kalau Gaara sedang latihan. Ini sudah biasa dari dulu untukku. Sedikitpun aku tidak keberatan kalau Gaara banyak fans, karena Gaara saja tidak terlalu memperhatikan mereka yang suka mengumbar suara itu.

Entah mengapa aku malah senang saat melihat mereka meneriakki Gaara sekarang. Ini membuat perasaanku merasa de javu sewaktu beberapa minggu yang lalu.

Kenapa tidak dari dulu saja aku tidak usah dekat Gaara, kan jadinya seperti ini.

Namun, semua itu bukan de javu lagi ketika suara itu terdengar, suara halus seorang gadis yang ceria namun mampu menyayat hatiku.

"Kalian tidak boleh mengganggu Gaara-kun!"

Sebelum dia berteriak-teriak menghentikan semuanya, aku malah kabur duluan dari sana. Aku tidak ingin melihat keakraban mereka.

Periiih...!

Sampai detik ini Gaara tidak bicara padaku!

.

.

.

Hari kelima.

Aku menghela napas panjang saat memasukki area gerbang sekolah, padahal baru selangkah aku masuk kemari. Tapi, udara dingin membeku langsung menusuk tulang di dalam tubuhku.

Aku semakin mengeratkan jaket lebih rapat lagi pada tubuhku. Dan sekarang aku malah memikirkan jaket Gaara yang kemarin sempat kupinjam beberapa pekan. Kenapa aku mengembalikannya kemarin? Tahu begini lebih baik kusimpan atau mungkin lebih baik dibakar saja.

"Pagi Hinata," suara lembut tapi keras menyapaku dari belakang. Aku langsung menoleh dan mendapati teman sekelasku Sakura Haruno dan... err, di sampingnya ada Naruto pula.

"Pagi," sebisa mungkin aku membalas sapaannya seperti biasa. Untungnya aku tidak merasakan sakit lagi ketika melihat pemuda jabrik itu bersama-sama dengan Sakura-san.

Aku sengaja memperlambat gerak kakiku melangkah, sehingga memberi ruang gerak bagi mereka berdua untuk mendahuluiku. Aku tidak mau saja berjalan di depan mereka. Bukannya apa, aku hanya merasa seperti tembok berjalan yang menghalangi mereka.

Tapi ternyata aku memang tembok ketika ada suara lagi yang menyapaku, kali ini nada suaranya ceria tegas seperti biasa.

"Nona Hinata! Selamat pagi!" bisa kupastikan ini suara yang sering aku hindari dari beberapa hari yang lalu.

Entah mengapa tubuhku malah membalik sendiri sehingga aku melihat sepasang kekasih yang semestinya tidak kulihat. Ada Gaara-nya!

Sontak aku berbalik lagi mengahadap ke depan. Tapi tunggu dulu. Semua yang kuhadap sama saja, tidak belakang tidak depan semuanya pasanganan yang tidak aku sukai. Ok, soal Naruto dan Sakura itu sebelumnya tidak aku suka. Tapi sekarang aku benar-benar cemburu dengan mereka berempat yang bermesraan diantaraku.

Oh Kami, tahu begini aku berjalan duluan saja dari Sakura-san dan Naruto-kun tadi. Sehingga tidak seperti sekarang ini. Aku berjalan di tengah-tengah kedua pasangan ini. Diapit mereka seperti sepotong roti lapis berjalan!

.

.

.

Hari keenam.

Tidak usah ditanya kalau hari ini aku lebih buruk dari sebelumnya. Kalau biasanya badanku lemas karena jadi pesuruh orang, sekarang aku lemas karena hati yang tersuruh-suruh untuk kuat.

Bayangkan saja, dari beberapa hari yang lalu sampai sekarang Gaara tidak berbicara sepatah katapun kepadaku tentang semua ini.

Ia bahkan tampak tidak peduli, bukan, super tidak peduli padaku gara-gara kedatangan kekasihnya Matsuri!

Seandainya Gaara tahu kalau tiap malam aku tidak bisa tenang, selalu memikirkannya walau mencoba melupakannya.

Aku tidak bisa! Perasaan ini bahkan lebih dari perasaan gelisah yang paling tidak enak kurasakan. Semuanya terasa bosan… aku bisa merasakan ada sebuah pisau kecil yang tajam yang mampu menyayat hatiku dan menyumbat aliran napasku. Bahkan akhir-akhir ini aku malas mengerjakan pekerjaan rumah dan lebih memilih bermalas-malasan di kamar hanya gara-gara masalah ini.

Bodohnya aku… ternyata perasaan cinta itu seperti ini. Tidak bisa tenang dan santai. Serba salah. Dan semua perasaan itu kurasakan kuat sekali ketika aku menyendiri. Entah mengapa kalau aku di dekat temannku semua itu lebih terasa ringan.

Sepertinya aku butuh hiburan atau penenangan diri.

Aku sadar. Aku bukanlah siapa-siapanya, ia baik kepadaku kan karena aku suka ditindas saja. Selama ini ia yang menindasku, mungkin perbuatan baiknya sebulan kebelakang hanya untuk membalas kebaikkanku saja. Mungkin.

Aku segera mempercepat langkahku untuk menyimpan semua sapu-sapu yang kupegang ini—yang baru saja kugunakan beberapa saat yang lalu saat aku dan temanku piket pulang membersihkan kelas.

Kalau tidak salah lemari tempat penyimpanan sapu ini ada di bawah tangga dekat kamar mandi anak laki-laki. Semua orang kan sudah pulang dan otomatis sekolah sepi. Berarti aku harus kesana bersama perasaan takut serta perasaan gundah karena Gaara!

Aku langsung membuka pintunya ketika aku sudah berada di depan lemari itu. Selagi aku mencoba memasukkannya aku merasakan di belakangku ada yang membuka pintu WC.

Aku tersentak kaget, tiba-tiba bulu kudukku merinding. Kalau sudah begini kegiatan gerak tanganku pun berhenti, dan setelah itu apa? Keheningan yang sekarang tengah melandaku dan seseorang yang berada di belakangku. Mungkin orang, mungkin juga—

"Hinata," dari belakang bisa kurasakan suara yang menyerukan namaku dengan datarnya. Aku rasa aku mengenal suara ini. Apa mungkin aku hanya berhalusinasi disaat seperti ini?

Sempat aku bernapas lega karena bukan hantu yang berada di belakangku ini, setelah itu aku baru bisa menggerakkan tanganku—untuk memasukkan sapu-sapu yang masih berada di luar lemari.

Aku akan menoleh dan melihat siapa yang berada di belakangku, belum sempat aku menoleh seseorang itu mendorongku ke dalam lemari bersama dengan dirinya. Kurasakan ia juga menutup pintu lemari yang membuat mataku terbelalak.

Aku ingin menoleh tapi tidak bisa, aku merasakan dada bidang yang menyentuh punggungku—karena mungkin kami berdesakkan di tempat sesempit ini. Aku ingin teriak tapi ia malah mebekap mulutku dengan kuat.

Tanganku hanya bisa menekan dinding lemari agar aku tidak terlalu rapat di sana. Ukh yang anehnya jantungku malah berdetak cepat, keringatku tiba-tiba meluap keluar dari celah pori-pori di dahiku, bisa kurasakan sendiri napas panasku menerpa jempol tangannya. Aku tahu dia pasti Gaara. Lalu kenapa ia melakukan ini?

"Sssttt… diam Hinata," ia berbisik di atas puncak kepalaku. Aku yakin pasti mukaku merona sekali. Huaah, rasanya jantungku benar-benar akan melompat sekarang.

"Gaara, kau sudah selesai buang air kecilnya?"

Dari sini aku bisa mendengar suara Matsuri dari luar menyerukan nama Gaara, benar kan ini Gaara, wangi parfum-nya saja sudah kukenali sebelumnya. Lalu?

"Aku menghindar darinya," semua kebingunganku terjawab saat suara dari Gaara—yang berada di belakangku berbicara. Ia seolah sudah tahu apa yang akan kutanyakan selanjutnya.

Entah mengapa aku malah mengangguk seolah sudah mengerti semuanya, padahal sedikit pun aku belum mengerti apa-apa.

"Gaara kau lama sekali! Aku tunggu di gerbang ya."

Aku merasakan lagi suara Matsuri yang bergema di luar sana bersamaan dengan ketukkan kakinya yang semakin menjauh dari sini. Mungkin ia sudah kabur dari sini.

Perlahan Gaara melepaskan bekapan tangannya pada mulutku. Mungkin ia sudah tahu maksudku untuk minta dilepaskan sedari tadi, ia membantuku untuk berbalik menghadapnya. Dan saat itu pula aku melihat matanya yang begitu dekat dalam kegelapan lemari ini.

Tidaaak…! Kakiku benar-benar lemas sekarang, kalau soal jantung aku sudah tidak tahu lagi, jantungku sudah benar-benar ingin keluar sekarang dari tempatnya, "Ga-Gaara," aku menyerukan namanya pelan sembari meremas rokku kuat karena menahan kegugupan yang luar biasa ini.

Aku menunduk, tapi jemarinya malah menyentuh daguku—membuatku mendongak untuk menatapnya, "Aku tidak menyukai Matsuri, kau mengertikan?"

Aku hanya mengangguk kecil saja. Entah mengapa setelah ia bicara seperti itu hatiku malah tenang dan senang sekali. Jujur saja itu-lah yang ingin aku dengar dari mulutnya.

"Kenapa kau menghindar dariku? Apa gara-gara Matsuri?" ia berusaha bertanya sepelan mungkin, disaat seperti ini, suaranya yang datar sangat terdengar jelas menggema dalam lemari ini.

"K-Kau yang menghidar dariku."

Gaara terdiam sebentar, "Hm, begitu ya? Tapi aku rasa kita tidak bisa dekat karena ada dirinya." aku tahu siapa yang dimaksud Gaara dengan dirinya itu. Pasti Mastsuri. Padahal aku ingin bertanya padanya tentang alasan itu, tapi ia malah menjawabnya terlebih dahulu. "Aku dan Matsuri memang tunangan, tapi aku tidak pernah menganggapnya. Dia dan orangtuanya saja yang masih menganggapku sebagai tunangannya."

Dan sekarang, aku malah merasakan perasaan sedikit lega dan tenang karena sudah tahu penyebab Gaara tidak berbicara padaku. Yah, aku percaya dirinya. Aku yakin ia tidak akan berbohong.

Aku mencintaimu Gaara. Aku ingin berbicara seperti itu tapi aku tidak bisa. Aku sadar aku kan memang bukan siapa-siapanya.

"Hinata."

"Hm?"

"Siapa yang paling berharga bagimu sekarang?"

"Engh..." aku tidak bisa menjawab itu sekarang, karena seseorang yang paling berharga itu adalah dirinya. Aku tidak bisa. "K-Kau sendiri?"

Aku bisa melihat dia mendekatkan mukanya sambil memejamkan mata serta memiringkan kepalanya. Bisa kurasakan tangannya yang lain melingkari pinggangku. Telapak tanganku tergerak sendiri untuk meletakkan di bahunya yang bidang itu.

Aku sudah merasakan hembusan napasnya bersamaan dengan kututup kedua mataku ini. Tidak munafik aku menginginkan ini darinya, aku masih menanti sapuan lembutnya, tapi di detik berikutnya bukan bibir Gaara yang kurasakan.

BRAK!

Tapi aku merasakan ada yang membuka pintu lemari ini serta aku merasakan cahaya sore yang membuatku silau sesaat.

"KALIAN!"

Aku membuka mata dan mendapati Matsuri yang terbelalak melihat kami berdua sedang berpelukkan. Tunggu dulu, aku memang berpelukkan dengan Gaara.

"Aaah…" aku langsung menjauhkan diriku dari Gaara walaupun tidak bisa menjauh. Lagi-lagi aku terhempas di dinding lemari walau ini perbuatan diriku sendiri—untuk melepaskan pelukkannya.

"Gaara! Apa yang kalian lakukan! Cepat keluar kalian!"

Aku dan Gaara masih diam di tempat, diantara kami tidak ada yang berbicara dan tidak ada yang bergerak. Aku benar-benar terpaku dalam keadaan seperti ini. Aku lihat raut wajah garang serta kekecewaan tesirat di muka cantik Matsuri.

Aku takut, aku gugup. Jantungku. Oh jantungku sudah tidak bisa kukendalikan lagi sekarang.

"Keluar!" gadis berambut coklat itu menjerit kalap, sedetik kemudian ia menarik lengan Gaara agar keluar dari sana secara paksa. Sedangkan Gaara mau tak mau menurutinya untuk keluar dari tempat sempit ini.

Aku mulai melangkahkan kakiku menuju keluar dengan takut-takut. Perlahan aku menutup pintu lemarinya saat aku sudah menginjakkan kaki di lantai itu.

"Jelaskan padaku apa hubungan kalian!" aku yakin Matsuri saat ini sedang menahan tangis di ujung matanya, aku jadi menyesal telah melakukan itu.

"Ma-matsuri, a-aku—"

Aku akan menjawab tapi Gaara malah memotongnya lebih dulu, "Kau pasti bisa menebaknya."

Sungguh, aku terbelalak kaget dengan perkataan Gaara, apa maksudnya ia berbicara seperti itu.

"Oh, jadi begitu ya? Pantas saja kau tidak pernah mencintaiku selama ini!" kali ini aku melihat aliran air sungai yang berjalan merembes melalui pipi putihnya. Buru-buru disekanya air bening itu dari matanya.

"Mat-matsuri, aku dan Gaara hanya—"

Lagi-lagi Gaara memotong perkataanku, "Maaf Matsuri..." aku benar-benar tidak menemukan raut kesedihan atau kekecewaan pada muka Gaara walau ia meminta maaf, ia sungguh tenang dan santai saat ini. Tidak seperti diriku yang benar-benar kalang kabut seperti habis tertangkap basah karena mencuri.

Matsuri berbalik menatapku tajam, aku mundur selangkah seolah takut kalau ia akan menerjangku sekarang, "Kau!" ia menunjuk mukaku dengan ketidakpedulian yang pasti, "padahal aku sudah menganggapmu saudara, tapi nyatanya kau adalah kekasih Gaara kan!" ia berbicara dengan nada menusuk sambil terisak. Aku benar-benar terpaku di tempat seolah dipojokkan begitu saja.

Aku berusaha berdalih dengan cara menggeleng, tapi dari belakang Matsuri aku malah melihat Gaara yang menatapku tajam, seolah ia berkata; bicara jujur saja!

"Aku membencimu! Aku membenci kalian! Dan kau Hinata, kau adalah musuhku!" setelah itu Matsuri berlari sambil menangis meninggalkan kami berdua di sini.

"Matsuri!" sekuat tenaga aku memekik namanya agar ia mau berbalik, tapi tetap saja ia tidak berbalik dan tidak menghiraukan panggilanku. Aku akan mengejarnya tapi Gaara menahan pergelangan tanganku.

Sontak aku menoleh ke Gaara dan menatap dirinya, "D-Dia tunanganmu Gaara, aku tidak mau seperti ini," aku berusaha untuk memohon agar Gaara melepaskan tanganku, tapi yang ada ia semakin mengeratkan genggamannya.

"Apa harus kukatakan lagi kalau aku tidak menyukainya?"

Aku memalingkan wajahku menghadap ke depan lagi, tidak ada kata yang ingin aku dengar darinya sekarang. Sungguh, tidak ada lagi sesuatu yang ingin ku perjelas sekarang. Aku tidak ingin dan tidak ingin tahu!

"Semuanya akan baik-baik saja," ia mencoba menghiburku, tapi sayang, sedikitpun kegundahanku tidak menipis.

"Ta-Tapi dia membenciku…"

"Tapi aku tidak membencimu."

Bisa kurasakan Gaara meraih bahuku—mencoba membalikkan tubuhku perlahan menatapnya. Aku masih menunduk diam di tempat menatap nanar pada lantai yang agak kotor itu.

Sedetik kemudian aku mulai terisak karena ia menarik tubuhku perlahan ke dalam dekapannya. Aku menangis di sana menumpahkan semua keluh kesah yang selama ini kupendam begitu saja—yang selama ini bersarang dalam otakku.

Apalagi saat kurasakan ia mengusap pelan ujung kepalaku—membuatku tambah menenggelamkan kepala ke dalam dada bidangnya. Aku benar-benar menangis sekarang, aku benar-benar menumpahkan semuanya di sana sembari meremas baju depan kemeja sekolahnya.

Dan saat ini aku yakin sekali, aku yakin kalau Gaara tahu bagaimana rasa kalutku serta perasaanku sekarang. Aku yakin ia menyadari betapa aku menyayanginya, betapa aku menaruh perhatian padanya. Hanya untuk dirinya.

-End of Hinata pov-

.

.

.

-Gaara pov-

Setelah membiarkan Hinata pulang sendiri kerumahnya aku bergegas menuju rumah, gadis itu tidak berbicara sepatah katapun padaku sedari ia menangis tadi.

Baik, aku memang salah karena tidak memberitahukan lebih dulu tentang ini padanya, masalahnya pertama, aku takut ia tidak mau mendekatiku dari awal karena gadis 'cerewet' itu. Matsuri. Kedua, bukankah aku tidak menganggap pertunangannya? Jadi tidak perlu kan aku menjelaskan itu kepada Hinata. Aku yakin sekali ia mengerti diriku. Dan yang ketiga aku tidak pernah berpikiran kalau Matsuri bakal ke Konoha hanya untuk mencariku. Bukannya selama ini ia tinggal di Tokyo bersama keluarganya? Bahkan sampai detik ini aku tidak bertanya dan tidak ambil pusing Matsuri tinggal dimana sekarang. Mungkin ia menyewa sebuah apartemen di sekitar sini. Ah, tidak penting!

Ngomong-ngomong soal Matsuri, ia tadi pulang sambil menangis kan? Hm... baguslah kalau dia sakit hati padaku, setidaknya ia sudah tahu sekarang alasan ku tidak menganggapnya sebagai tunangannya. Siapa juga yang menginginkan tunangan ini. Ibuku dan saudaraku saja tidak menyukainya, apalagi aku yang korbannya?

Entahlah sampai kapan keluarga Matsuri tahan kuperlakukan seperti ini.

Kasihan?

Hm, sepertinya tidak. Bukankah mereka yang seharusnya kasihan padaku?

Berhubung aku tidak terlalu peduli dengan itu, aku tidak mau lebih dalam lagi memikirkannya.

"Aku pulang," seperti biasa aku bergumam seperti itu saat aku membuka pintu depan rumahku.

Aku langsung membuka sepatu dan menaruhnya di tempatnya berada seperti biasa. Masih beralaskan kaos kaki aku melangkah masuk rumah menuju kamarku berada di lantai dua.

Sambil menaikki satu persatu tangga aku malah berpikiran aneh, pikiranku terbang ke Hinata yang nyatanya paling tersakitkan. Sayangnya aku baru mengetahui itu. Itu-lah kebodohanku. Aku paling tidak bisa mengerti perempuan. Ku pikir ia sudah tahu kalau aku tidak menaruh hati pada si Matsuri, ternyata tidak. Dan ternyata kami sama-sama salah sangka satu sama lain. Memang bersikap transparan itu memang dibutuhkan satu sama lain. Dan sayangnya lagi, aku bukan tipe laki-laki seperti itu.

Saat aku sudah berada di depan kamar tiba-tiba aku merasakan perasaan yang tidak enak. Entah mengapa perasaan itu tertuju pada kamar ini.

Sambil menepis perasaan itu jauh-jauh aku membuka serta mendorong pintu kamarku. Sontak aku terkejut melihat seseorang yang duduk di meja belajarku di sana, "Kau!" aku melempar ke seluruh arah pada kamarku ini. Barang-barang serta tas besar terletak di samping tempat tidurku? Kasurku yang kusut sekali. Apa-apaan ini!

Orang itu—yang ternyata Matsuri menoleh kearahku dengan muka cemberutnya, sepertinya ia masih marah padaku.

"Gaara, kau sudah pulang?"

Tapi, didetik berikutnya ia menyambutku dengan cengiran ramahnya seolah tidak terjadi apa-apa beberapa menit yang lalu. "Err... aku hanya melihat kebun di belakang rumahmu dari sini. Ternyata letak kamarmu bagus sekali. Sudah kuputuskan aku tidur di sini."

Aku masih terpaku di tempat sembari menahan rasa terkejut saat ini, Matsuri sudah seperti Naruto saja yang penuh kejutan itu. "Temari-nee!" teriakku menyerukan nama kakak perempuanku satu-satunya itu.

Aku tidak butuh senyuman dan sambutannya. Aku tidak butuh dirinya saat ini. Lantas aku berbalik menuju kamar kakakku yang nyatanya berada di samping kamarku ini.

Aku mengetuk pintu kamarnya dengan tidak sabaran agar ia keluar dari sana secepatnya.

"Sabar Gaara!" dari dalam kakakku berusaha agar membuatku sabar dalam mengetuk pintunya, tapi sia-sia. Aku malah mempercepat ketukkannya dari sebelumnya.

Temari keluar dari dalam bersamaan dengan terbukanya pintu kamarnya, "Sabaaar!" ia membentakku dengan kesabaran yang tidak penuh. Aku yakin ia sedang tidak ingin diganggu. Tapi terserah aku tidak peduli. Yang aku inginkan adalah kejelasan yang pasti darinya.

"Kenapa Matsuri ada di dalam kamarku sekarang?"

Temari menggaruk sebentar kepalanya yang kuning itu sembari mengangkat sebelah alis, lalu detik keberikutnya ia menoleh kesamping—aku pun ikut menoleh dan mendapati gadis berambut coklat itu tengah berdiri di ambang pintu kamarku. Sial, padahal aku ingin mengumpatinya!

"Dia akan tinggal di sini untuk beberapa saat," akhirnya Temari menjawab pertanyaanku. "Apartemen yang ia sewa sedang dalam perbaikkan. Jadi ia mengungsi dulu kesini. Lagipula ia adalah tunanganmu." Temari akan masuk kamar tapi aku menariknya kembali untuk keluar. Aku yakin Temari pun tidak setuju atas kedatangannya.

"Jadi. Ia tidur di kamarku?" aku berusaha berbicara pelan agar gadis berambut coklat itu tidak mendengar.

"Tentu saja, memang ada kamar yang kosong?" Temari malah berbicara lantang seolah ingin mengejekku dan memojokkanku. Ia paling suka kalau melihat adiknya sedang dalam masalah. Ok, ini bukan masalah besar, tapi aku tetap menganggapnya masalah besar.

"Apa ibu tahu tentang ini?" aku menatap tajam mata Temari seperti biasa—dan tentu saja sedikitpun ia tidak pernah takut dengan tatapanku. Ia selalu bermain-main padaku. Padahal aku serius sekarang.

Temari hanya mengangguk. "Ibu-lah yang menyuruhnya kesini."

Sekarang aku akan mengancam kakakku, "Katakan padanya kalau kau mengijinkannya tinggal di dalam kamarmu."

"Tidak mau, bwek!" dengan seenak jidatnya ia berbalik, lalu masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya.

Aku menggeram dari tempatku berdiri sekarang. Sial, Temari tega sekali padaku. Awas saja dia kalau sudah keluar nanti.

"Mulai sekarang aku tinggal di rumahmu, kau tidak bisa mengusirku."

Aku menoleh cepat menatap Matsuri yang masih berdiri di ambang pintu sedari tadi. "Hah? Kau siapa memangnya berbicara seperti itu?"

"Aku tunanganmu."

"Benarkah? Sayangnya aku tidak tahu itu, Nona. Kau sudah tahu aku menyukai Hinata, tapi kenapa kau masih mendekatiku?"

Aku lihat Matsuri tersenyum hampir menyeringai, "Ternyata memang benar ya, masalahnya memang terletak pada Hinata?" Matsuri menyenderkan bahu kanannya ke dinding kamar sembari melipat lengannya di depan dada. "Kau tahu siapa yang kau sukai dulu? Kau lupa?"

"Tidak usah bahas masa lalu!"

"Tidak mau, aku mau membahasnya!" jawabnya cepat, "ok, aku memang pernah meninggalkanmu dulu, tapi kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan? Bukankah kau suka aku?" Matsuri mulai melangkah mendekat kearahku dengan tatapan lirihnya. "Aku suka kau Gaara." bisiknya dengan nada lirih tapi terkesan serius.

"Aku mau ganti baju." aku mulai menggerakkan kakiku melangkah untuk masuk kamar.

Saat aku melewatinya aku menangkap sesuatu yang keluar dari dalam mulutnya, "Aku akan membuatmu mencintaiku lagi."

Setelah itu kurasakan Matsuri pun berlalu dariku, entahlah ia melangkah kemana yang pasti ia tidak masuk ke dalam kamarku.

Karena aku tidak mau ambil pusing, aku langsung saja masuk kamar dan menutup serta menguncinya rapat-rapat. Aku ingin istirahat sekarang, siapa saja tolong jangan menggangguku!

.

.

.

-T B C-

.

.

Makasih yang udah rifyu: Shin-chan, yuuaja, Kuromaki Shana, Amamia, Simba, Merai Alixya Kudo, Illyasviel von hyuchiha, Dhens, Kingi Dawn, Dindahatake, Shaniechan, Mayra gaara, Masahiro 'Night' Seiran, Cha-Nichi Kudo Oktora, Hina bee lover, Sabaku Tema-chan, AmarilisBlossom, Vytachi W.F.

Yang muji (?) yang ngefave (emang ada) yang ngatain, yang baca aja enggak rifyu n' yang bilang keep apdet makasih ya :)

Thanks for reading.

Rifyu again? *ngarep.

Hha =D

-Fidy-

Salam coklat. Hohooh.