Hai, everyone! Anne is here!
Chapter ke 2 sudah siap, nih. Harry dan Ginny akhirnya tahu dengan hasil seleksi Lily. Tapi rupanya mereka jadi khawatir dengan hasilnya. Bukan khawatir tentang Lily, tapi Al. Kenapa?
Diahimbarsiwi15 : Hehehe, ikuti terus sampai selesai, ya. James akan semakin menjadi di sini! Thanks, ya :)
Ninismsafitri : Aduhh, sabar ya. Memang banyak yang kejadian antara saudara merasa berbeda. Aku kadang juga ngerasa begitu. Dulu waktu sekolah (SMA) sempat takut kalau nggak bisa masuk IPA dan nggak dapat rangking, soalnya kedua kakakku pandai-pandai. Tapi syukurlah aku bisa buktiin dengan hasil yang cukup memuaskan. Ya paling enggak hitungan piala di lemari rumah lebih banyak aku daripada kakak-kakakku, hehehe. Semangat buat kamu :)
Langsung saja yuk,
Happy reading!
Langit pagi ini agak sedikit mendung. Jika hari biasanya, matahari sudah tampak meninggi walaupun udara masih terasa segar. Di sebuah rumah bergaya modern minimalis dengan halaman yang cukup luas untuk berkebun, sepasang suami istri sedang menikmati acara makan pagi mereka. Hanya berdua.
Meja makan itu terasa sepi seiring dengan kepergian ketiga buah hati mereka untuk bersekolah di Hogwarts. Harry dan Ginny memandangi tiga bangku kosong di sekeliling meja makan keluarga mereka.
"Biasanya sekarang aku sudah memisahkan James yang mengacak-acak rambut Lily dan melarang Al untuk mengambil sirup maple terlalu banyak. Ini terasa aneh..,"
Ginny memasukan potongan kecil pancake ke mulutnya. Sarapannya terasa berbeda tanpa anak-anak itu. "Yahh meja ini jadi sepi tak ada mereka. Apalagi melihat tiga kursi itu tak ada yang menduduki," sahut Harry pelan.
"Ya, ini kan baru. Kita akan mulai terbiasa saat James, Al, dan Lily semakin lama di Hogwarts. Bukankah kita serasa jadi pengantin baru lagi, sayang?" Harry mencolek dagu Ginny. Serangan rayuan Harry mulai dilancangkan.
Istrinya lantas melotot tak suka, "pengantin baru? Kita sudah menikah 15 tahun, sayang!"
"Kan SERASA. Jadi hanya rasanya saja seperti pengantin baru. Kenyataannya.. kita sudah 15— sebentar," Harry menghentikan argumentasinya, "15 tahun? Oh Merlin.. aku nggak nyangka," Harry rupanya terperanggah sendiri menyadari usia pernikahan mereka sudah lewat dari 10 tahun.
Ginny meraih tangan Harry lembut di meja, "iya, sayang. Sudah 15 tahun kita hidup bersama. Dengan tiga bocah itu juga. Apa kau tak sadar kita semakin tampak tua?" katanya sambil membelai pipi Harry.
Harry menggeleng, "aku melihatmu masih cantik sama saat kita masih bersekolah dulu,"
"Dan aku juga masih melihatmu setampan saat kita masih bersekolah dulu," balas Ginny dengan wajah bersemu merah.
Sejenak kemudian tak ada lagi kata rayuan selain lumatan hangat di bibir keduanya. Saling menyatu menyalurkan arti terdalam tentang kebersamaan yang telah mereka jalin. Keduanya tahu, tanpa harus mengatakannya.
"I know," kata Ginny di sela-sela waktu mengatur napasnya.
"I know," balas Harry dengan jawaban yang sama.
Suara burung hantu tiba-tiba datang dari jendela, merusak kemesraan keduanya seketika. "Lihat siapa yang berani-berani mengganggu acara kita berdua pagi ini," gerutu Harry melepas pagutannya dari Ginny dan melangkah menuju burung hantu berbulu coklat yang bertengger di kusen jendela.
"Hai Sav, ini tugas pertamamu mengirim surat, bukan? Kau hebat!" Harry mengelus kepala burung hantu yang sangat ia kenal, karena Harry sendirilah yang membelikannya untuk Lily beberapa minggu sebelum putrinya itu berangkat ke Hogwarts.
Dari arah meja makan, Ginny mulai ingin tahu, "siapa itu, Harry? Sav?" panggilnya.
"Yups, ternyata ada surat dari Lily." Harry menunjukkan sepucuk surat di tangannya ke arah Ginny, "Lily memang selalu bisa menghentikan acara bermesraan kita, padahal ia sendiri sedang tak ada di sini," gumam Harry pelan. Sering muncul rasa sebal saat ia bermesraan dengan sang istri lalu tiba-tiba diganggung dengan suatu hal. Dan itu biasanya datang karena ulah Lily, putri bungsunya sendiri.
"Sabarlah, sayang. Kau ini suka sekali ngambek kalau diganggu, Lily," gurau Ginny meminta Harry kembali duduk.
Harry membuka amplop suratnya pelan-pelan. "Iya, tapi dia selalu sukses buat kita ketangkap basah sedang.. aakkhh yang belum patas untuk dia lihat," katanya sebal.
"Oke.. oke.. mungkin peluang kita tak akan ketangkap basah lagi semakin sedikit karena tak ada Lily di rumah. Jadi tenanglah. Sudah.. sekarang baca suratnya,"
Kertas ukuran sedang dikeluarkan dari dalam amplop dan segera disambut dengan rentetan tulisan tangan Lily yang rapi kecil-kecil. Harry membacanya dengan seksama.
"Coba kau tebak, Lily masuk asrama mana?" tanya Harry masih membaca surat Lily sampai akhir.
"Emmm.. apa Harry, sudah katakan!"
"Lily benar-benar akan jadi penerusmu. Gryffindor!" Harry tersenyum bahagia mengatakannya. "Dan dia bilang, dirinya baik-baik saja," lanjut Harry singkat. Ia menyerahkan surat putrinya untuk Ginny bergantian membacanya.
Ginny membaca kata demi kata yang ditulis Lily dengan wajah penuh kebanggaan. Lily mengungkapkan seluruh perasaannya tentang ketakutannya diseleksi sampai rasa risinya diidolakan banyak murid di Hogwart.
"Belum apa-apa Lily sudah dikenal banyak murid di Hogwarts. Katanya dia serig malu tiap kali ia ditatap oleh banyak orang sambil tersenyum padanya. Aduhh Lily.. Lily!"
Keduanya tertawa membayangkan Lily yang pemalu langsung dikenal oleh banyak murid yang ingin mendekatinya. "Ya, setidaknya Lily jadi terkenal karena bakatnya yang istimewa," kata Harry disela tawa.
"Dan jangan lupakan dengan nama besar keluarganya. Potter selalu terdengar luar biasa di telinga penyihir, Harry." Ginny mengingatkan tentang masalah latar belakang Harry, sang kepala keluarga itu, sebagai pahlawan di dunia sihir. Sang penakluk raja kegelapan.
"Itu yang sebenarnya aku takutkan," kata Harry lirih.
Ginny terdiam. Tak paham dengan maksud 'ketakutan' Harry itu. "Lily pernah mengatakan kalau ia tak mau dipandang sebagai anak spesial hanya karena nama Potter melekat di dirinya. Jadi aku rasa Lily tak akan merasa menjadi terkenal karena nama besar orang tuanya," kata Ginny mengingat dirinya kini juga sudah menyandang nama Potter dibelakang namanya. Bukan Weasley lagi.
"Bukan untuk Lily, tapi—" Harry menghentikan kalimatnya, mengatur napas dan bersandar di bangkunya, "tapi Al," lanjut Harry singkat.
"Al?"
Harry membenarkan letak kacamatanya. "Kau tau, sayang. Lily masuk Gryffindor dan disuratnya itu juga mengatakan kalau Hugo pun masuk Gryffindor, itu artinya keluarga besar kita hanya Al yang masuk ke asrama yang berbeda. Dan itu Slytherin."
"Bukankah Al juga sudah senang dengan asramanya? Al melalui 2 tahunnya dengan sangat baik. Bahkan nilainya tak bisa dibilang rendah, Harry. Ia jadi salah satu anak terpintar di angkatannya. Ya walaupun masih di bawah Rosie," Ginny mengingat keponakannya itu memang memiliki kepintaran yang diturunkan oleh ibunya, Hermione.
"Kau sendiri kan yang menyemangati Al untuk bisa menerima asramanya dengan tangan terbuka? Kau juga tak marah saat tahu Al masuk Slytherin dan bersahabat dengan anak Malfoy,"
"Iya," Harry mengambil kembali surat dari Lily dan membolak baliknya bimbang, "tapi aku takut kalau Al kembali merasa tersingkirkan karena hasil yang didapat Lily. Baiklah kalau Al memang sudah menerima hasil seleksinya dan bertahan sampai dua tahun, tapi ingat itu masih belum ada Lily. Al merasa aman karena masih ada peluang adik atau sepupunya bisa masuk ke asrama lain selain Gryffindor."
Sarapan pagi itu selesai dengan adu argumen antara suami dan istri di meja makan. Langit di luar sana rupanya mulai bersahabat dengan penduduk yang akan beraktifitas di luar rumah. Matahari perlahan tampak dari balik awan gelap. "Benar juga, usia Al masih rawan dengan emosi yang belum terkendali. Aku takut kalau ketakutannya yang dulu kembali ia rasakan dengan situasi saat ini. Harry.. lalu bagaimana?"
"Biarkan saja dulu, semoga tak terjadi hal-hal aneh. Kita percayakan saja pada Al. Anak itu punya jiwa yang lembut. Aku yakin ia bisa mengatasinya,"
"Asalkan James dan Fred Jr. tak mengganggunya,"
"Itu yang penting!"
- tbc -
Kehawatiran orang tua kadang banyak benarnya, teman. Jadi dengarkan orang tua kalian, ya.
Lahh nggak nyambung, ya? Hehehe.. pokoknya terima ksih sudah baca chapter 2 ini. Ditunggu selanjutnya dan jangan lupa revienya ya, teman-teman!
Thanks,
Anne x
