"Bukan salahmu…," lirihnya tertahan.
.
Feel by dilia shiraishi
All characters belong to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata.
Warning : OOC, hints sho-ai, banyak pergantian timeline, aneh, LEBAY, abal, gaje. Don't like don't read, I've warned you before.
.
Requested fic by Sapphire D. Hapsire for her birthday.
Hope you like it, Sacchan…
.
Receiver Shinryuji bernomor punggung 33 itu menghembuskan napas sambil mengepalkan erat kedua tangan, hingga buku-buku jarinya memutih demi membulatkan tekad. Meski biasanya Ikkyu selalu terlihat konyol, tapi kalau sudah menyangkut tekad ia yakin belum ada yang dapat menyaingi―yah, mungkin Monta. Tapi… untuk sekarang ini anggap saja dia tak ada dulu. Ikkyu sama sekali tak ingin merusak semua mood yang sudah capai-capai ia jaga dalam hati sejak berbulan-bulan lalu hanya karena merasa kalah tekad dengan Monta.
Ikkyu lalu beranjak perlahan, menapakkan kaki sedikit gugup walau penuh rasa optimis. Jejak sepatu menjadi pertanda ia pernah melewati tanah lembek di belakangnya, sekaligus menemani perjalanan singkat namun disengaja lama. Sebisa mungkin diperkuatnya keinginan itu, khawatir takut-takut segalanya malah runtuh di pertengahan jalan. Karena hati manusia memang aneh, sulit dibuat kuat tapi cepat rapuh. Seperti kaca porselen yang ditaruh dalam lemari reyot berdebu tebal.
Terlalu memusingkan, batin Ikkyu seraya menggelengkan kepala kuat-kuat ketika pikiran negatif kebiasaan buruk manusia muncul tiba-tiba. Diombang-ambing antara iya dan tidak. Melakukan atau batal saja.
Tapi dia sudah telanjur sampai di halaman depan klub Deimon yang bagai Casino ilegal, terletak berdiri angkuh. Tampak terlalu kokoh jika dipandang oleh orang berhati sedang kacau seperti Ikkyu. Sebab bangunan rendah itu justru terlihat seperti mengintimidasinya. Ya, imajinasi manusia memang terkadang suka berlebihan dan tidak logis. Entah karena berdasar ketakutan atau paranoid, yang jelas semua merepotkan.
Padahal untuk ukuran jenius, seharusnya Ikkyu tidak mengalami dilema picisan macam ini. Percintaan memang membuat dunianya bagai sinetron murahan dan tumpukan novel tak berisi di toko buku seberang kedai sayur Wakana Koharu, si gadis manajer Ojo.
Baru saja Ikkyu memilih memutar tubuh untuk kembali dan meminta saran pada Agon saja, tatkala seseorang yang dia cari malahan muncul di saat ia sedang ingin mengubur diri dalam-dalam ke bumi.
Anezaki Mamori.
Berdiri dengan raut agak sendu di depannya, kening mengernyit dengan mulut setengah terbuka siap melontar kata, sedang otak mungkin menggali memori tentang keberadaan nama Ikkyu dalam kamus kosakata. "Ah… Hosokawa Ikkyu-kun?" gumaman pendek yang tak sepadan dengan lamanya sel saraf berpikir mengejutkan Ikkyu. Cukup untuk membuat tubuhnya berguncang dan mata terbelalak kembali normal.
Masih dengan kekagetan luar biasa, Ikkyu coba menyetel wajah datar seperti yang biasa ia lakukan saat rona merah ingin menyeruak mewarnai kedua pipi. Desah lega ia keluarkan dengan dasar berhasil melakukan trik khas murid Shinryuji. Dari luar nampak dingin, namun dalamnya sudah berteriak-teriak kegirangan dengan muka celemongan blushing yang sudah tentu memalukan bagi pria. Tiba-tiba keinginan untuk menjadi Agon muncul lagi di benak Ikkyu.
"…y-ya. Aku Hosokawa Ikkyu. Kau… ng―Anezaki Mamori?" tak perlu bertanya sebenarnya, dia sudah hapal betul nama manajer Deimon itu. Terlalu hapal hingga susunan huruf-huruf dan kanjinya selalu bergaungan di liang telinga dan terngiang dalam kepala seperti racun berbisa. Sayang sekali ia tak punya persediaan cukup banyak vocab manakala jantungnya terasa mau meloncat dari tempat seperti ini. Jadi yang bisa ia katakan hanya kata basa-basi itu. Ia bahkan akan merasa maklum saja jika tanpa tedeng aling-aling terjerembab pasrah di tanah karena lutut melemas. Pengaruh cinta memang menyeramkan.
Mamori tersenyum sedikit, meski justru seperti orang tak ada gairah hidup. "Iya, benar. Ada perlu apa sampai kemari? Oh ya, silahkan masuk ke dalam saja." Gadis tersebut mempersilahkan Ikkyu masuk ruang klub lewat gerak-gerik. Tak mau memandang mata Ikkyu semenit lebih lama.
Terlalu formal.
Ikkyu tak dapat berbohong kalau ia jelas kecewa dengan reaksi Mamori kali ini. Dia tidak seperti biasanya, dan entah mengapa Ikkyu merasa tahu sebabnya tanpa perlu bertanya. Yang jelas kenyataan jawaban dari Mamori nanti,―jika ia tetap nekad mengeluarkan kata seperti 'kenapa'― pasti akan menyakitkan baginya. Meluluhlantakkan apa yang sudah ia pupuk dengan keseluruhan jiwa sebelum memberanikan diri menjejak hingga ke Tokyo.
Lagi, Ikkyu menggeleng kepala demi mengusir buruk sangka.
Mamori yang melihat gelengan kepala Ikkyu lantas bertanya, "Eh? Ngg―tidak mau masuk ke ruang klub ya? Apa ingin bicara di luar saja?"
Mendadak receiver jenius tersebut kehilangan kata. Padahal maksudnya tadi menggeleng bukan seperti ini, tapi Mamori sudah keburu menduga Ikkyu menolak masuk ke ruang klub Deimon. Kalau begitu… apa bicara di sini saja tidak apa-apa? Tapi apa tidak akan terlihat tidak sopan kalau mencoba menyatakan perasaan di tempat terbuka seperti ini? Dimana letak kesan romantisnya? Ah…
"Err-yah, tak apa… Terserah saja, yang penting Buddha memberkati."
Mamori mengernyit heran, tapi kemudian tersenyum lagi. Kali ini lebih memaksa. Bahkan Ikkyu sempat melihat ada sweatdrop imajiner dekat pelipis Mamori.
Inner Ikkyu segera saja berteriak penuh frustasi, sementara ia sendiri cepat-cepat berbalik hanya untuk sekedar menepuk kening dengan kencang. Apa itu tadi? Buddha… memberkati? Tak adakah kata yang lebih abnormal dibandingkan ituuu? Jangan membuat dirimu sendiri terlihat gaje, Ikkyu! Fokus! Tunjukkanlah sisi kerenmu dan bersikaplah tenang. Jangan sampai bicara mengenai sesuatu yang tak dipahami orang lain. Shishi-hakuto kalau kata Yamabushi-senpai…
"Ehm," dehamnya kemudian, "…yang tadi tidak usah dipikirkan. T-terserah Anezaki saja sebaiknya kita bicara dimana." Ia melanjutkan dengan nada dibuat sangat meyakinkan. Tatapan matanya tajam hingga menelan pandangan Mamori. Gadis itu kemudian mengangguk sambil mengajak Ikkyu untuk berjalan menuju klub.
"Kalau begitu di dalam saja, ya. Sekalian ada kue dan teh." Ujarnya ramah. Ikkyu hanya mengangguk dan mengikuti Mamori dalam diam. Penasaran juga bagaimana bentuk ruang klub Deimon yang diurusi manajer cantik tersebut.
Usai menarik kursi untuk Ikkyu, menyiapkan teh dan kue secepat yang ia bisa―Mamori sudah terbiasa soal yang ini. Mengingat Hiruma tidak tanggung-tanggung jika menyuruhnya untuk membuat laporan–ukh, kenapa harus Hiruma lagi, ngomong-ngomong?!― sambil merapikan ruang klub dengan sedikit menyapu lantainya, Mamori pun mendudukkan diri tepat pada kursi di hadapan Ikkyu. Mau tidak mau, cowok itu terkagum dengan keterampilan Mamori dalam menangani ruang klub. Ia bahkan sedikit menganga saat melihat tiada debu sedikit pun di tiap sudut―namun tentu saja ia langsung menyembunyikan wajah bengongnya yang sudah pasti sangat aneh.
Mamori, yang sudah beberapa lama menunggu Ikkyu mengeluarkan kata akhirnya memutuskan mulai duluan tatkala dilihatnya si lawan bicara tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulut. "Hmm… jadi… apa yang ingin dibicarakan Hosokawa-kun hingga sampai kemari?"
Ikkyu sedikit tersentak. Oh iya, dia hampir lupa mengapa sampai repot kemari hanya karena sibuk memperhatikan ruangan apik ini. Dia lalu berdeham sedikit, "Ng… bagaimana bilangnya ya? Errh―em… eh… ah… uh…,"
Sampai semenit berikutnya Ikkyu masih ber-ah-uh tanpa bisa mengatakan tujuan sebenarnya datang ke Deimon. Wajar saja. Sebab bagi seseorang yang tidak berpengalaman sama sekali tentang wanita, apalagi ditambah dengan bersekolah di Shinryuuji yang notabene khusus untuk pria, benar-benar sudah membuat saraf pemberaninya mati kutu. Terlebih di depan Mamori, yang ia rencanakan mendengar pengakuannya. Oh, Dewa dari segala biksu~.. Mengapa juga tadi dia sok-sok berani datang ke Deimon seperti ini?!
Lama-kelamaan arah pembicaraan Ikkyu makin tidak jelas. Ia hanya terdengar menggumam tanpa sedikit pun menuturkan inti kedatangannya. Justru semburat merah yang mati-matian ia sembunyikan sekarang merambat dengan cepat. Ia baru sadar kalau jaraknya dan Mamori hanya terpisah semeja, dan ini memungkinkannya untuk melihat rupa Mamori dari jarak dekat. Sialnya, Mamori ternyata tetap saja cant―bukan, tapi bahkan lebih lebih lebih cantik dari dekat dibandingkan jarak pandang jauh yang pernah Ikkyu bayangkan.
Ukh.
Mendadak Ikkyu memutar bangkunya secepat kilat. Membuahkan raut penuh kebingungan Mamori mengekori gerak-geriknya. Pemuda yang terkenal ahli berlari mundur itu menutup wajah dengan satu tangan. Berusaha menghilangkan rona-rona kemerahan yang membuat wajahnya terasa panas seperti terbakar.
Ia kehilangan semua ilmu tenang ajaran Shinryuuji sekarang. Ia kehilangan imej keren ajaran Agon di waktu ini. Ia kehilangan, kehilangan semua. Hanya karena berada di dekat Mamori. Oh, betapa harga dirinya sudah hancur mulai detik itu juga!
"Hosokawa-kun?"
Mamori bertanya dengan wajah khawatir, sementara Ikkyu cepat-cepat berbalik dari kegiatannya menenangkan diri, "E-eh... i-iya?"
Gadis di hadapannya menghela napas, "Tidak apa-apa, kan? Sebaiknya Hosokawa-kun tidak usah memaksakan diri, kalau memang sulit mengatakannya." Dia berkata seraya mengangkat kedua alis prihatin. Senyum tipis diulas sedikit.
Ikkyu gelagapan seketika, "Uh-benar juga… Tapi... tapi―tidak ada kesempatan lain setelah ini, Anezaki!" tanpa sadar Ikkyu panik sendiri. Dalam hati ia sibuk memilah-milah kata yang pantas untuk diucapkan pada situasi yang seperti sekarang. Sementara Mamori terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepala mengerti, meski tahu Ikkyu tidak melihat apa yang dia perbuat.
"Kalau begitu aku tunggu sampai Hosokawa-kun bisa mengatakannya, ya."
Samar-samar suara Mamori terdengar ke telinga Ikkyu, menyebabkan dia melirik Mamori yang sudah tersenyum sambil mulai memakan cream puff kesukaannya. Segera saja wajah pemuda itu memerah lagi, terasa panas seperti kepiting rebus. Jantungnya berdetak lebih cepat, hampir-hampir terasa seperti ingin meloncat keluar jika saja bisa. Tangan pun sudah gemetaran sedari tadi.
Entah kenapa kata-kata Mamori tadi seperti merefleksikan kalau dia mengetahui apa yang ingin diucapkan Ikkyu.
.
.
.
Sudah beberapa saat berlalu, namun belum juga tersuarakan perasaan itu. Ikkyu sudah bosan berkali-kali menengok ke Mamori dan kembali mengurungkan diri. Mungkin begitu juga dengan Mamori yang sekarang tengah asyik mengerjakan tugas wajibnya sebagai manajer klub Amefuto Deimon saking lama menanti. Ingin sekali Ikkyu cepat-cepat menyelesaikan semua, berlalu dengan ending bahagia. Tapi namanya angan tetaplah angan, sebab ikhtiar Ikkyu belum jua terlaksana.
"Fyuh…"
Tarikan napas mewarnai kesenyapan. Mamori menutup pulpen yang sedari tadi digunakannya sebagai pencoret kertas. Ternyata dia sudah selesai menunaikan kewajiban harian, tinggal menunggu Ikkyu saja.
Ini makin membuat pemuda itu bingung. Kegalauan menguasai pikiran lagi. Hatinya menjerit agar cepat diselesaikan, namun tangan saja bergerak tak mampu. Pandangan mata ditumpukannya ke bumi yang dipijak, menghindari kontak mata langsung dengan Mamori. Hey, itu sama saja dengan semakin membuatnya gugup, kan?
"Hosokawa-kun, mau tambah teh?" Mamori tiba-tiba bersuara, benar-benar melepaskan hening yang tadi melanda. Mengusik Ikkyu dengan kesibukannya menimbang-nimbang. Ia menuangkan teh dari teko ke cangkir Ikkyu diiringi senyum, meski tadi Ikkyu tak menjawab pertanyaannya. Dia bahkan ragu kalau Ikkyu mendengarkan dirinya.
Mamori melirik jam yang melingkar apik di pergelangan tangan, menelengkan kepala sebentar dan memutuskan untuk menunggu sedikit lama lagi. Petang memang sudah hampir menjelang, tapi tak apalah. Tampaknya yang ingin disampaikan Ikkyu sangatlah penting, begitu kira-kira dia membatin.
Dalam diam, sebetulnya tidak hanya Ikkyu yang sibuk berpikir. Mamori pun sudah sejak tadi mulai bermenung. Masalahnya selalu sama, dia masih punya perasaan pada Hiruma. Memang sudah tak sekuat dulu, tetapi tetap saja rasanya sakit.
Padahal ini pertama kalinya ia jatuh cinta sungguhan, namun Mamori malah harus terhempas begitu saja sebelum sempat melakukan apa pun demi memperjuangkan perasaannya. Ia tahu melupakan itu sulit, tapi dia tidak pernah mengira sampai sesulit ini…
Ini mungkin patah hati pertama di hidupnya.
Uh, mengapa kedengarannya sangat menyedihkan, ya?
Apa karena… dia bahkan tidak mencoba untuk menyatakan cintanya? Atau ada sebab dan faktor khusus lain?
Ya, Mamori mengakui kalau dia memang lemah. Pengecut. Pecundang. Apa pun lah yang menunjukkan pihak kalah. Sebenarnya patah hati itu biasa, malah bisa saja menjadi terhormat. Disebut terhormat, bila dia patah hati sesudah ditolak menawarkan rasa. Disebut tak elit, jika patah hati sebelum ada niatan mengungkap perasaan. Terlebih kalau tidak jadi melakukannya karena mengetahui orang yang ditaksir sudah punya idaman lain.
Hell no!
But, heaven yes.
Graaaah!! Rasanya Mamori ingin sekali mengucapkan f-words berkali-kali seperti yang sering dilakukan Hiruma, hanya untuk kepuasan tersendiri. Dia ingin menjerit, melepaskan segala beban yang membetoti otaknya sekarang. Membelot pikirannya sampai-sampai mengingkari hati nurani.
Berkali-kali ia menyangkal perasaannya pada Hiruma. Berkali-kali pula hal itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Semakin hari, dia justru mendapati hatinya makin yakin soal Hiruma. Oh, Kami-sama…
"A-ano Anezaki… ng―jadi aku ini datang kemari untuk…―eh?! Anezaki! A-ada apa?!" kalimat sarat kekagetan dari Ikkyu membuat Mamori terlonjak sendiri. Sadar dari lamunan tak terbudi. Tadi dia baru saja berpikir bagaimana cara menghancurkan hubungan orang.
Ya ampun, sungguh cinta benar-benar menyeramkan. Bisa membutakan siswi teladan untuk berlaku super tercela. Mendadak Mamori merasa jahat sekali… Tapi yang harus dipikirkan sekarang bukan itu.
Tadi mengapa Ikkyu kedengaran terkejut ketika melihatnya? Kenapa juga matanya terasa panas begini? …dan basah―…?
Lagi-lagi pandangan Ikkyu yang tampak super khawatir, mengalihkan konsentrasinya alih-alih menyeka air mata, "Anezaki? Kau tidak apa-apa?"
Pada pertanyaan ke dua itulah Mamori baru bisa menggerakkan tangan membelai permukaan kulit yang basah tersaput air mata. Dihapusnya segera tanpa memikirkan kasar-lembut, sampai-sampai menyisakan bekas jejak merah tertinggal di pipi. Ia menghela napas sebelum kemudian memaksakan senyum. Walau tahu itu lebih terlihat seperti orang sakit gigi.
"Tidak apa-apa, Hosokawa-kun...," terpotong tepukan di pipi untuk menghilangkan bayangan-bayangan indah semu, "..ng―mungkin."
Mendadak Ikkyu seperti kehilangan daya untuk membicarakan urusan utamanya.
.
TSUZUKU.
.
.
Bagaimana kelanjutan hidup Ikkyu setelah ia nekad membawa tas Agon kabur?
OMAKE
Ikkyu menapak pelan melewati jalur-jalur menuju SMU Shinryuji. Diangkatnya wajah demi melihat Patung Buddha menyambutnya. Menghela napas, dia membungkukkan badan untuk menghormati replika sang Buddha. Kemudian dengan khidmat, ia kembali melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di lapangan tempat teman-temannya biasa berlatih, ia menyadari sesuatu yang agak berbeda. Mereka semua,―para pemain Amefuto Naga― terdiam di bench. Berkumpul membentuk lingkaran seperti ketika mereka sedang membahas taktik melawan tim lain. Tidak melakukan bermacam latihan sesuai posisi layaknya biasa. Ikkyu mengernyitkan dahi. Ada apa sih?
Ia menepuk pundak Unsui, "Tidak latihan ya? Hebat!"
Kakak kembar Agon yang diajaknya bicara itu, menolehkan kepala dari kesibukan berunding entah-apa bersama yang lain. Melihat Ikkyu, segera dibelalakkannya mata, "Ini dia Ikkyu! Dialah yang sudah mencuri tas Agoon~!"
Mata Ikkyu turut mendelik, "Eh? Eh? M-maksudnya? A-aku nggak nyolong tas Agon k-kok..."
"Lalu itu apa?" Yamabushi menunjuk tas olahraga dengan jaket Agon tersampir di atasnya. Ikkyu tambah melotot mendapati hal yang ia sangkal justru memiliki bukti, "Keroyok!" teriak Yamabushi lagi. Para pemain Shinryuji pun otomatis mengikuti perintahnya, berlari menyongsong Ikkyu dengan tampang menyeramkan penuh evil grin.
"Eh? Ap-apa? J-jangan! Toloooong~!!! Kyaaa~!"
Dan nasib Ikkyu pun selesai sampai di sini, para pembaca yang budiman. Mari berdo'a saja agar di hari esok dia masih dapat melihat birunya langit dan indahnya mata Mamori. Semoga ia cepat pulih juga agar fic ini bisa kembali dilanjutkan.
OWARI.
.
Akuma-nyo! : Nyahaha, gomen~ Sebenernya saya juga nggak rela Hiruma sama Clifford, secara dia kan punya saya. -dirajam semua orang- Makasih untuk pengertiannya ya. -bows- Mungkin nanti kapan-kapan saya bakal bikin HiruMamo. Mungkin sih... '== Iya, ini udah apdet.
Cassiopeia G : W-wew... Ma-makasih banyak ya... Nggak nyangka ada yang segitu sukanya Mamori menderita di sini. XD Nggak papa kok, santai aja lah. Saya malah seneng, ripyu dari dirimu membuat semangat~ Hoho, iya udah diapdet nih. Dan makin gaje saja. Dx
.
A/N : Yeah, makin aneh, kan? Kan? Kan? Kan? '== Ah, saya udah nggak tahu musti ngomong apa lagi. Yang jelas, terima kasih banget bagi yang udah menyempatkan diri untuk meripyu chapter satu fic gaje ini. Saya harap Anda akan terus meripyunya.-dilemparin tomat- Dan... meskipun sekarang udah holiday, saya tetep harus bilang kalo chapter depannya bakal apdet super telat. Soalnya baru terketik selembar doang. TT^TT Mendadak kehilangan feel nulis. Dx
Feedback is love, peoples! Arigatou for reading by the way~
