Disclaimers: Semua karakter yang dipakai dalam fanfiksi ini bukanlah milik saya. Mereka adalah milik Masashi Kishimoto. Namun karya fanfiksi ini adalah sepenuhnya milik saya.
Setting: Alternate Universe
Rating/Genre: T — Drama/Hurt/Comfort
Relationship: SasuNaru (Sasuke/Naruto), slight GaaNaru (Gaara/Naruto), NejiGaa (Neji/Gaara)
Status: Chaptered
Words: 4k+ words
Peringatan: Fanfiksi ini bertema Boys Love, yang menampilkan cerita tentang hubungan antara pria dan pria. Possible Out Of Characters. DON'T LIKE DON'T READ!
Ringkasan cerita: Naruto tidak pernah menduga kalau liburan musim panasnya yang seharusnya di Hawaii, harus berubah arah ke pulau Bora-bora karena rencana tersembunyi dari kakaknya, Deidara. Pasrah dengan keadaan, Naruto akhirnya mencoba untuk menikmati liburan di pulau yang baru pertama kali diinjaknya itu. Hingga akhirnya, sang takdir mempertemukannya dengan Sasuke, yang akan membawanya ke dalam sebuah kisah cinta baru.
.
.
Chapter 2: Akhirnya Cinta Hadir
.
.
Setiap kali melihat Gaara, Naruto merasa paling beruntung karena bisa mendapatkan hati pria itu. Setiap kali melihat Gaara, tubuh Naruto seolah bergerak sendiri untuk memeluk tubuh itu; memeluknya erat-erat, seolah takut kehilangan.
Naruto ingat pertama kali ia bertemu dengan pria itu. Waktu seolah berhenti bergerak begitu keduanya saling bertatapan. Semua berhenti. Semua bergeming. Hanya mereka berdua yang bisa bergerak. Mungkin inilah yang sering dibilang orang-orang: dunia serasa milik berdua jika sedang jatuh cinta.
Gandengan tangan, pelukan, ciuman—semuanya terasa manis, mengebu-ebu, jika dilakukan bersama Gaara.
Saat mengetahui pria yang dicintainya itu tidak memiliki keluarga yang sempurna, Naruto berjanji akan selalu di samping pria itu. Ia tidak akan pernah membuat pria yang dicintainya itu bersedih. Dan akan selalu membuatnya tertawa. Ia juga akan selalu mendukung dan berusaha mewujudkan mimpi Gaara.
"Sejak kecil dulu aku selalu bermimpi untuk berkeliling dunia. Mengunjungi tempat-tempat wisata yang biasanya selalu kulihat di televisi dan majalah," tutur Gaara, "Pasti akan sangat menyenangkan sekali jika bisa pergi dengan orang yang kita cintai."
"Bagaimana kalau kita berdua mewujudkan hal itu?" Gaara menoleh dan menatap Naruto dengan dua alis terangkat. Terkejut. "Ini akan jadi impian kita berdua. Jadi, ayo kita wujudkan bersama-sama, Gaara." Naruto tersenyum lebar.
"Ya, ayo kita wujudkan bersama-sama, Naruto."
Langkah pertama yang direncanakan keduanya—untuk mewujudkan impian mereka—yaitu mengumpulkan uang dalam satu tabungan. Bersama-sama keduanya berusaha mencari pekerjaan—tanpa sepengetahuan orangtua mereka—sesuai dengan kemampuan mereka; dimulai dari mengajari les pada anak-anak di sebuah sekolah dasar, mengantar koran, dan bekerja part-time di sebuah cafe. Tapi, meskipun begitu, keduanya tetap tidak melupakan kewajiban sebagai mahasiswa, dan berusaha mengatur waktu.
"Aku tidak menyangka kalau uang yang kita kumpulkan bersama sudah lumayan seperti ini," kata Gaara begitu suatu hari ia melihat buku tabungan di kedua tangannya. Naruto yang duduk di sampingnya tersenyum senang.
Awalnya kerja sampingan itu terlihat lancar, namun Gaara akhirnya berhenti karena ayahnya mengetahuinya. Dari balik pintu rumah Gaara, Naruto bisa mendengar dengan jelas bagaimana ayahnya Gaara memarahi pria itu.
Dua jam kemudian, pintu rumah Gaara terbuka dari dalam, dan pria itu keluar dengan wajah tertunduk. Saat Gaara mengangkat wajahnya, Naruto bisa melihat dengan jelas raut kesedihan di wajah sang kekasih.
"Kata otousan, dia ingin aku fokus dengan kuliah, karena menurut dia untuk apa aku bekerja sampingan kalau nantinya setelah mendapat gelar sarjana nanti aku bisa mendapat pekerjaan yang tetap di sebuah perusahaan." Gaara berkata dengan suara pelan. Naruto tetap mendengarkan, meski tadi ia telah mendengarnya dari mulut ayah Gaara.
"Jika memang begitu, biar aku saja yang akan mengumpulkan uang dari kerja-kerja sampingan itu." Naruto memeluk Gaara sambil mengelus punggungnya.
"Tidak. Lebih baik kita hentikan di sini saja, Naruto. Kita bisa mendapat uang lagi nanti dengan pekerjaan tetap kita di masa depan." Gaara menggeleng.
"Meski kau menyuruhku berhenti. Aku akan tetap berusaha mewujudkan impian kita berdua. Aku ingin melihatmu bahagia, karena aku mencintaimu."
Gaara tertegun. "Aku juga mencintaimu."
Sebenarnya, Naruto bisa mendapatkan apa saja; entah itu barang atau sejumlah uang yang diinginkannya jika ia memang menginginkannya—dari kedua orangtuanya. Ayahnya adalah seorang pengusaha dari sebuah perusahaan elektronik di Jepang, sementara ibunya adalah seorang desainer terkenal di Jepang.
Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya kedua orangtuanya, namun Naruto dan kakaknya masih bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga, karena kedua orangtuanya selalu mengutamakan kedua putranya. Naruto yang berpikiran lebih dewasa dari kakaknya selalu berpikir jauh jika menggunakan uang orang tuanya, berbanding terbalik dengan Deidara.
Dan dari kerja sampingannya itulah, Naruto menyadari bahwa betapa mengumpulkan uang dengan keringat sendiri ternyata benar-benar terasa hasilnya. Hanya dengan mengingat impiannya bersama Gaara, ia jadi bersemangat melakukan pekerjaannya. Jika sesuai dengan perhitungannya, uang di dalam tabungan itu pasti akan selesai terkumpul begitu ia dan Gaara berada di semester akhir.
"Naruto, aku ingin kau berhenti melakukan pekerjaan sampingan itu begitu kita libur semester nanti."
Kedua alis Naruto terangkat. Sangat terkejut. "Kenapa?" Padahal selama ini Gaara selalu memberinya semangat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sampingan itu.
Gaara mendekatkan bibirnya di telinga Naruto, "Aku ingin kita berdua menghabiskan liburan musim panas ini bersama," bisiknya. Kedua pipi Naruto langsung diselimuti semburat merah.
"Aku kira kau ingin aku benar-benar menyerah dengan impian kita berdua," Naruto meringis. "Baiklah, aku akan berhenti dari kerja sampingan itu."
Tetapi begitu libur semester datang, Naruto tidak bisa menolak begitu kedua orangtuanya meminta ia dan kakaknya berliburan sekaligus melihat nenek mereka di Hawaii. Deidara yang mendengar hal itu langsung menjerit senang. Naruto sedikit kaget karena tidak biasanya kakaknya akan sebahagia itu karena akan melihat nenek mereka.
Dan keesokan harinya saat keberangkatannya dan kakaknya, Naruto memutuskan untuk mampir ke rumah Gaara.
Meski semalam ia telah menjelaskan lewat telepon, berharap Gaara tidak marah dan menunggunya kembali seminggu kemudian, nyatanya saat pria itu membuka pintu rumahnya—dengan wajah datar—Naruto lebih berharap melihat pria yang dicintainya itu menyemburkan amarahnya daripada berwajah datar seperti itu.
"Gaara—"
"Kau sudah berjanji akan menghabiskan liburan musim panas denganku," potong Gaara dingin.
"Aku tahu. Tapi kata okaasan-ku, nenekku yang berada di Hawaii sana merindukanku dan niisan-ku karena sudah tiga tahun lebih tidak melihat kami. Karena itu—"
"Naruto...! Pesawat yang akan membawa kita akan segera berangkat!" Deidara berteriak dari dalam mobil sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya.
"Iya, iya!" Naruto menoleh dengan wajah menahan kesal. Sudah lima kali kakaknya berteriak dengan kalimat seperti itu.
"Pergilah."
"Kau masih marah padaku?"
Gaara menggeleng. Tapi raut wajahnya jelas menunjukkan kalau ia marah. Naruto menarik napas panjang.
"Boleh aku memelukmu?"
Gaara merentangkan kedua lengannya. Naruto tersenyum dan langsung memeluk.
"Hei! Kalian terpisah hanya untuk seminggu! Jadi berhenti bertingkah seperti Romeo dan Juliet!" Setengah tarik urat, Deidara kembali berteriak dari mobil, hingga membuat Naruto dan Gaara terlonjak terkejut. Bahkan sang sopir pun sampai mengelus-elus dadanya sendiri karena terkejut mendengar teriakan Deidara.
"Sesampainya di sana aku akan langsung mengabarimu." Naruto melepas pelukannya dan berbalik menuju mobil.
Gaara tersenyum kecil sambil melambai-lambaikan tangannya. Diikutinya mobil yang membawa dua bersaudara itu hingga menghilang di pertigaan jalan.
"Yang tadi benar-benar norak. Kau tahu?" Deidara kembali mengungkit perpisahan sementara Naruto dan Gaara begitu sekarang keduanya telah duduk di ruang tunggu bandara. Naruto menoleh dan mendengus.
"Seperti Niisan tidak norak saja saat dulu kekasih Niisan pergi ke Cina," balasnya. "Bahkan menurutku Niisan lebih norak. Sampai menangis histeris seperti perempuan yang kehilangan keperawanannya."
"Hei!"
Dengan gerakan refleks, Naruto menghindar dari majalah yang akan ditimpuk Deidara. "Aku mau ke toilet," katanya sambil berlalu.
Begitu keluar dari toilet, Naruto berjalan menuju salah satu mesin penjual minuman kaleng otomatis yang berada di area bandara. Sambil menenggak minuman kaleng di tangannya, Naruto kembali berjalan menuju ruang tunggu. Namun tiba-tiba langkahnya berhenti begitu ekor matanya menangkap sosok yang familiar di matanya. Sosok itu tampak berjalan beriringan dengan seorang pria menuju antrian gate yang telah dibuka.
Mana mungkin itu Gaara, mungkin hanya perasaanku saja karena terlalu memikirkannya, batin Naruto dalam hati, sembari berjalan kembali.
"Gantian menjaga tas kita, aku mau ke toilet juga," kata Deidara begitu Naruto berjalan mendekati tempat duduk mereka. Naruto mengangguk dan menghempaskan tubuhnya di kursi yang didudukinya tadi.
Merasa tertarik dengan majalah yang ada di atas tempat duduk Deidara, Naruto meraihnya, dan mulai membukanya.
Majalah berkelas itu memang sudah jadi langganan bacaan kakaknya setiap bulan. Lalu saat halaman ketujuh terbuka, Naruto mulai tertarik membaca riwayat hidup Uchiha Fugaku, seorang CEO sebuah perusahaan dagang di Jepang.
Kedua alis Naruto terangkat begitu membuka halaman berikutnya, wajah tampan anak kedua dari Uchiha Fugaku menghiasi dua halaman dari majalah itu. Dan ternyata, pria itu, Uchiha Sasuke adalah lulusan dari Universitas Jepang... itu kan universitasnya? Jadi, Uchiha Sasuke ini—seniornya?
Dalam balutan jas formal, kharisma Uchiha Sasuke tampak terlihat secara tak kasatmata—dan Naruto mengakui hal ini.
"Naruto!" Deidara berseru. Membuat Naruto terkejut dan mendongak. "Ayo! Gate-nya sudah dibuka!"
Naruto mengangguk. Sambil meraih tas ranselnya, ia berjalan mengikuti Deidara yang telah berjalan lebih dulu.
Saat tengah berjalan sambil melihat ke luar jendela lorong yang dilewatinya bersama para penumpang lain, kedua mata Naruto kembali menangkap sosok familiar itu lagi—yang menaiki tangga pesawat. Naruto yang ingin menghentikan langkahnya sejenak untuk melihat sosok itu, tiba-tiba langsung ditarik oleh Deidara.
"Pesawat kita akan segera berangkat, bodoh!" seru Deidara sebelum Naruto mengeluarkan protes.
"Baiklah. Dan berhenti menarik-narikku seperti ini, Niisan." Naruto melepaskan tangan Deidara yang menarik tangannya. "Aku bukan anak kecil lagi!"
"Di mataku kau itu masih tetap adik kecilku~" Deidara menjulurkan lidahnya, dan terus menarik Naruto masuk ke dalam pesawat. "Memang kau ingin melihat apa tadi?" tanyanya, begitu sekarang mereka sudah duduk bersebelahan.
"Aku seperti melihat Gaara menaiki pesawat itu," tunjuk Naruto ke luar jendela pada sebuah pesawat yang telah bergerak untuk bersiap lepas landas.
Deidara mendengus kecil sambil memasang sabuk pengamannya. "Kau terlalu memikirkannya, hingga membayangkan dia menaiki pesawat itu. Bukannya tadi kalian berdua berpelukan seperti teletubis di depan rumahnya?"
"Apa maksud Niisan dengan pelukan teletubis?" Naruto mendelik. Deidara langsung menoleh ke arah lain sambil menahan tawa geli.
Pertengkaran kecil kedua kakak-adik itu usai begitu pesawat yang mereka naiki mulai terbang di atas udara. Deidara sudah tidak berisik lagi karena ia kembali membaca majalah di tangannya. Sementara Naruto, lebih memilih melihat awan-awan putih raksasa dari jendela kecil di sampingnya.
Naruto masih termenung memikirkan sosok familiar yang mirip kekasihnya di bandara tadi. Kalau memang hanya kebetulan mirip, kenapa ia sampai melihatnya dua kali? Dan kalau misalnya itu memang benar Gaara, ia mau pergi ke mana? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiran Naruto.
Naruto tidak pernah menduga bahwa tepat di hari Deidara meninggalkannya di pulau Bora-bora, ternyata Gaara juga berada di pulau yang sama—bersama Neji.
Untuk memastikan dua sosok itu benar-benar nyata ada di pulau ini, Naruto akhirnya berjalan menuju bungalow di mana kedua orang itu berada. Dan ternyata—benar. Begitu pintu bungalow di depannya ia ketuk dua kali, tak lama kemudian pintu itu terbuka dari dalam, dan menampakan sosok Gaara.
"Na-Naruto...?" kedua mata Gaara membelalak. "Kenapa kau bisa ada di sini?" Suaranya tercekat.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau bisa ada di sini—" jeda. Naruto menggeser wajahnya untuk menoleh ke belakang, menatap tajam Neji—yang berdiri tiga meter dari posisi mereka. "—bersama Neji?"
"I-Itu... Aku dan Neji—"
"Liburan berdua," Neji menyela, "Kenapa kau harus bertanya jika sudah melihatnya?" katanya sambil berjalan mendekat. Ia meraih salah satu lengan Gaara dan menyembunyikan tubuh itu di belakang punggungnya. "Jadi sekarang pergilah. Karena kau hanya menganggu waktu kami—"
Dalam waktu sepersekian detik berikutnya, Naruto langsung meraih kerah kemeja depan Neji, dan langsung melayangkan tinjunya telak di pipi kiri pria itu. Membuat Neji—yang sudah lebih dulu mendorong tubuh Gaara menjauh—langsung terjengkal mundur dan jatuh.
"Naruto! Hentikan!" Gaara langsung berdiri di depan Naruto, merentangkan kedua lengannya, menghalangi agar Naruto itu tidak melayangkan pukulannya lagi kepada Neji. "Jangan pukul dia. Jangan pukul Neji lagi!"
Dengan napas sedikit terengah, Naruto menatap Gaara dengan kedua matanya yang terlihat marah dan kecewa. "Kenapa selama ini kau menyembunyikan hubunganmu dengan dia, huh? Bahkan aku tidak menyadari dan curiga sekalipun, sebelum akhirnya diberitahu oleh Shikamaru. Kau benar-benar hebat, Gaara!"
Gaara terdiam. Ia tidak bisa menyangkal lagi karena informasi yang didapatkan Naruto memang benar adanya. Jadi ini yang dimaksud Shikamaru agar ia segera memutuskan untuk memilih antara Naruto atau Neji...
Gaara menggigit bibir bawahnya.
"Gaara..." suara Neji yang memanggil membuat sang pemilik nama sontak menoleh dan mendekatinya.
Naruto terpana. Satu-satunya kesempatan terakhir agar Gaara kembali meminta maaf padanya hilang sudah. Setelah meninju daun pintu di sampingnya dengan keras, Naruto berbalik, dan melangkah pergi. Gaara yang baru saja akan bergerak mengejar, langsung ditahan oleh Neji.
"Kalau kau pergi mengejarnya, aku tidak akan memaafkanmu."
Gaara merasa seluruh sendi tubuhnya melemas, hingga ia akhirnya jatuh terduduk di samping Neji.
.
.
Sambil berjalan di atas jembatan untuk menuju bungalow-nya, Sasuke terus memperhatikan dua sosok yang ada di layar kamera; Gaara dan Naruto. Ada hubungan apa si Dobe itu dengan Gaara? Teman? Atau—
"Sasuke?"
Sasuke mengangkat wajahnya begitu mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Langkah kakinya berhenti dan ia membelalak. "Gaara...?" Hei, dia tidak sedang berkhayal, kan? Bagaimana bisa Gaara ada di sini?
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sasuke mengedarkan pandangannya, baru sadar bahwa ia berjalan di atas jembatan kayu yang salah, bungalow-nya berada di jembatan seberang.
"Ceritanya panjang. Ayo kita bicara di dalam bungalow-ku dan Neji," ajaknya sambil menunjuk bungalow yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Sasuke—yang agak terkejut mendengar nama Neji disebut—mengangguk dan berjalan mengikuti.
Setelah meletakkan kamera Naruto—yang sejak tadi dipegangnya—di atas meja, Sasuke menyamankan duduknya di sofa. Neji yang baru keluar dari toilet sambil mengompres pipi kirinya yang lebam, terkejut begitu melihat sahabat lamanya, Uchiha Sasuke.
"Long time no see," sudut bibir Sasuke terangkat. "Kenapa pipimu lebam begitu? Habis 'bermain-main kasar' dengan dia?" Sasuke menunjuk Gaara dengan dagunya.
Neji mendengus sambil berjalan menuju tempat tidur. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Tentu saja liburan." Sasuke menopang kedua lengannya di atas sofa. "Lalu kalian berdua? Apa sedang berbulan madu? So sweet~" Sasuke menjawab sendiri pertanyaannya. Neji memutar kedua bola matanya. "Gaara, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Gaara yang sejak tadi berdiri diam, menoleh, dan menatap Sasuke dengan dua alis terangkat. Sasuke meraih kamera di depannya dan kembali menyalakannya.
"Kemari," salah satu tangan Sasuke bergerak memberi tanda agar Gaara mendekatinya. Dengan kedua kening mengerut bingung, Gaara menghampiri Sasuke. "Ada hubungan apa kau dengan pria di foto ini?" telunjuk jari Sasuke menunjuk foto Gaara dan Naruto yang saling merangkul dengan bibir mengembang senyum. Gaara termundur satu langkah tanpa sadar. Pantas saja ia merasa familiar dengan kamera yang dibawa Sasuke, ternyata itu milik Naruto.
"Kenapa kamera Naruto ada padamu? Kau mengenalinya?" Gaara balas bertanya dengan kedua mata membelalak.
"Naruto? Jadi namanya Naruto?" Satu alis Sasuke terangkat.
"Tunggu, kau baru tahu namanya Naruto? Berarti kau tidak mengenalinya? Lalu kenapa kamera Naruto ada padamu? Apa kau mencurinya?"
"Hei!" Sasuke membentak. Mulai kesal dengan pertanyaan Gaara yang membombardirnya sekaligus menuduhnya. "Untuk apa juga aku mencuri kamera yang bisa kudapatkan jika meminta pada kedua orang tuaku ini? Pria itu meninggalkannya tadi di atas pasir pantai, makanya aku mengambilnya untuk mengembalikannya."
"Kau baru mengenali Naruto tadi?"
"Sebenarnya, aku tidak mengenalinya. Tapi karena dia berani memukul pipiku hingga terjatuh di bandara Bora-bora dua hari yang lalu, aku jadi mengenalinya."
"Lebam di pipiku ini juga dipukul olehnya—" Neji akhirnya bersuara. Sasuke menoleh dengan dua alis terangkat terkejut. "—tadi. Hampir sejam yang lalu," sambungnya.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi—"
"Aku menjalin hubungan dengan Naruto...," potong Gaara. Tatapan Sasuke kembali pada Gaara. Kali ini kedua alisnya terangkat semakin tinggi, benar-benar terkejut. "Di samping aku juga menjalin hubungan dengan Neji. Dan Naruto baru mengetahui hubunganku dengan Neji sekarang begitu diberitahu oleh salah satu teman di kampus kami." Gaara berhenti sejenak untuk menarik napas. "Aku tidak tahu kenapa Naruto bisa ada di pulau Bora-bora ini. Padahal sehari sebelum dia berangkat bersama niisan-nya, dia mengatakan akan ke Hawaii untuk melihat neneknya. Tepat di hari keberangkatan Naruto itu, aku dan Neji juga berangkat ke pulau Bora-bora ini. Dan aku sangat terkejut begitu tadi dia mendatangi bungalow ini..."
Suasana dalam bungalow sontak hening setelah Gaara selesai menjelaskan. Sasuke seperti mendengar kisah masa lalunya sendiri—namun berbeda versi itu. Dalam pikirannya, Sasuke sudah bisa membayangkan bagaimana perasaan Naruto saat itu.
"Aku pikir cukup hanya aku saja yang merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kucintai," Sasuke berdiri sambil menatap Gaara dan Neji bergiliran. "Apa kau masih belum puas menyakiti perasaan orang lain, Gaara?"
"Bukan seperti itu!" Gaara mengangkat wajahnya. "Aku tidak berniat menyakiti Naruto. Aku mencintainya..."
"Tapi kau juga mencintai Neji," satu alis Sasuke terangkat sarkatis. "Lucu sekali." Sasuke mendengus, hampir tertawa.
"Jangan menghakimi Gaara. Kau tidak tahu bagaimana perasaannya—"
"Tutup mulutmu," sepasang mata tajam Sasuke langsung menyambar Neji. "Jika memang kau mencintai Gaara, kenapa kau membiarkan dia menjalin hubungan dengan orang lain? Kau melakukannya tidak sengaja? Atau memang sengaja supaya bisa melihat kejadian yang sama seperti yang kualami dulu kembali terulang lagi—tapi kali ini dengan orang yang berbeda?"
"Ya," Neji tersenyum ganjil. "Aku memang sengaja membiarkan Gaara menjalin hubungan dengan pria itu. Aku ingin memastikan sekali lagi, apa Gaara akan bertahan dengan keputusannya; tidak akan memilih siapapun, dan akhirnya ia akan memintaku untuk berdiri di sampingnya sebagai seorang sahabat yang merangkap menjadi seseorang yang special di hatinya."
Sasuke tidak tahu bagaimana tubuhnya tiba-tiba menerjang Neji—begitu pria itu selesai dengan kalimatnya—dan melayangkan pukulannya bertubi-tubi. Gaara yang melihat hal itu hanya bisa tercekat dan membeku di posisinya berdiri. Neji yang tidak menduga hal itu, tidak bisa menghindar dari pukulan Sasuke—yang seperti orang kesetanan. Pukulan-pukulan Sasuke akhirnya berhenti begitu napasnya memburu berat, dan baru sadar dengan apa yang dilakukannya.
Dengan langkah setengah diseret, Sasuke kembali menuju sofa yang tadi didudukinya, dan menghempaskan tubuhnya. Ia memejamkan kedua matanya dan kembali menstabilkan napasnya.
"Kau sudah puas?" Neji bertanya tanpa mengubah posisi tubuhnya yang terkapar di atas tempat tidur. Bagian-bagian wajahnya yang dipukuli Sasuke mulai lebam, dan ia bahkan merasa bagian dalam mulutnya terasa remuk.
"Ya..." Sasuke menjawab dengan kedua mata masih terpejam. Napasnya sudah terlihat teratur. "Tiga pukulan terakhir itu balasan karena kau telah berhasil menghancurkan hati seseorang..."
"Maksudmu Naruto?"
Sasuke menyeringai. "Yeah, rite!"
"Tch!" Neji berdecak, sembari menggerakkan kepalanya untuk mencari Gaara. "Kau kenapa?" tanyanya, begitu melihat Gaara masih bergeming seperti patung hidup.
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa saat melihat kalian berdua berkelahi..."
Neji dan Sasuke saling bertatapan. Dan sedetik berikutnya, keduanya kompak tertawa. Merasa geli karena melihat kelemahan Gaara yang tidak berubah sejak dulu begitu ia melihat pertengkaran di antara Neji dan Sasuke.
Setelah tawa itu mereda, ketiganya saling berpandangan dalam diam. Atmosfir tegang di antara mereka mulai mencair. Dan ketiganya mulai hanyut dalam pembicaraan masa lalu.
Tepat jam dua belas tengah malam, Sasuke akhirnya memutuskan mengakhiri pembicaraan mereka.
Sekali lagi, sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, Sasuke terus menggerakkan kedua kakinya untuk berjalan menuju bungalow-nya.
Dia pasti sudah tidur, lebih baik kukembalikan kameranya ini besok pagi saja, kata Sasuke dalam hati saat ia melirik bungalow Naruto yang gelap gulita.
"Tuan Muda, Anda sudah kembali?"
Sasuke nyaris menjatuhkan kamera Naruto yang dipegangnya begitu pengawalnya tiba-tiba membuka pintu bungalow dari dalam.
"Kau mengagetkanku, bodoh!" bentak Sasuke sambil melangkah masuk. Ia bahkan sengaja menabrak bahu pengawalnya karena kesal dikagetkan. "Bereskan tempat tidurku. Aku akan segera tidur setelah habis mandi."
Sang pengawal mengangguk patuh dan segera melakukan apa yang diperintahkan tuan muda-nya.
.
.
Tok! Tok! Tok!
Untuk yang kesekian kalinya, Sasuke mengetuk pintu bungalow Naruto dengan kening mengerut. Dia belum bangun? Atau memang sengaja tidak ingin membuka pintunya karena sudah tahu ini aku? Sasuke bertanya dalam hati.
"Dobe, buka pintunya. Aku ingin mengembalikan kamera milikmu!" Sasuke akhirnya berseru. Jari-jarinya mengetuk pintu kayu di depannya semakin keras. "Cepat buka sebelum aku menerobos masuk dengan cara mendobraknya!"
Tidak ada sahutan dari dalam. Hei, apa jangan-jangan terjadi hal buruk padanya di dalam?
Sasuke menoleh ke arah pengawalnya yang sejak tadi dengan setia berdiri tidak jauh di belakangnya. "Cepat dobrak pintu ini."
Pengawal itu mengangguk dan mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu. Hanya dalam satu kali terjangan, pintu di depan mereka akhirnya terbuka dengan paksa. Sasuke langsung melangkah masuk.
"Hei, Dobe?" Sambil mengedarkan pandangannya, Sasuke berteriak memanggil. "Tidak usah bersembunyi. Aku kemari hanya ingin mengembalikan kameramu."
Sasuke kembali menoleh ke arah pengawalnya, "Cari dia," perintahnya, kemudian berjalan menuju sofa untuk duduk.
Lima belas menit kemudian, sang pengawal sudah kembali di hadapan Sasuke. "Sepertinya pria yang Tuan Muda cari sudah pergi dari bungalow ini," lapornya.
"Apa?" Sasuke akhirnya berdiri dari duduknya dan memasuki kamar. Baju-baju di dalam lemari pakaian dan benda-benda—yang biasa diletakkan Naruto di atas meja kecil—tidak nampak di dalam kamar itu.
"Permisi, Tuan. Apa yang Anda lakukan di kamar ini?"
Sasuke berjalan ke luar dari kamar dan mendapati salah satu pengurus resort menatap pengawalnya dan dirinya bergiliran.
"Ke mana pria yang menempati kamar ini?" Sasuke balas bertanya.
"Penghuni kamar ini telah check-out semalam. Karena katanya dia akan kembali ke negaranya."
Kedua mata Sasuke membelalak. Dengan segera ia berlari ke luar bungalow.
"Tuan Muda, Anda mau ke mana?" tanya sang pengawal sambil berusaha mengejar lari Sasuke.
Sasuke menoleh ke belakang tanpa menghentikan laju larinya. "Cepat ambil mobil. Kau harus mengantarku ke bandara sekarang!"
.
.
Dengan langkah sedikit terhuyung, Naruto berjalan menuju salah satu bangku kayu panjang di area bandara. Untuk kesekian kalinya, ia tidak bisa mendapat pesawat yang akan terbang menuju negaranya, Jepang, dari pusat informasi yang ada di bandara. Padahal sejak semalam ia telah menunggu di bandara Bora-bora ini.
Setelah meletakkan kedua tasnya di samping tempat duduknya, Naruto menyandarkan punggungnya. Berharap ada keajaiban agar ia bisa pulang ke rumahnya. Naruto sudah tidak tahan lagi untuk berlama-lama di pulau ini. Mengingat kejadian semalam semakin membuat hatinya berdenyut sakit. Menyesakkan. Kenapa Gaara bisa melakukan hal itu padanya? Apakah ia membosankan? Apakah cinta darinya masih kurang?
Naruto tidak menoleh dan tetap memejamkan matanya begitu merasa ada seseorang yang duduk di sampingnya. Mungkin hanya orang-orang asing yang juga ikut menunggu pesawat, begitu pikirnya. Hingga...
"Sayang sekali, ya. Karena penerbangan menuju Jepang tidak ada sama sekali sampai Senin depan."
"Pergi-dari-hadapanku-Teme." Naruto menekan kalimatnya, masih dengan mata terpejam. Ekspresi wajahnya mulai berubah menjadi kesal karena Sasuke hanya menanggapinya dengan tawa.
Naruto akhirnya membuka kedua matanya dan hendak hengkang dari kursi kayu panjang itu, namun gerakannya seketika berhenti begitu Sasuke kembali bersuara.
"Kameramu ada padaku."
Naruto tersentak. Segera ia meraih tas ranselnya untuk memeriksa kamera pemberian ibunya, dan benda itu tidak ada. Naruto sontak menoleh dan menatap Sasuke.
"Kapan kau mengambil kameraku? Cepat kembalikan sekarang!"
"Apa kau ini tipe pelupa? Kemarin malam saat kau melempar pasir-pasir ke tubuhku, kau berlari pergi, dan meninggalkan kameramu itu di atas pasir."
Naruto terdiam. Ia baru ingat. Kemarin ia tidak sempat memeriksa apa kameranya sudah masuk ke dalam tasnya karena dengan kalut ia memasukkan baju-bajunya di dalam tas.
"Kembalikan! Kembalikan kameraku sekarang!"
"Akan kukembalikan, tapi dengan syarat..." Sasuke tersenyum penuh makna. "Kau harus meminta maaf dengan semua hal yang pernah kau lakukan padaku. Dan setelah itu kita berdamai."
"Aku tidak akan pernah meminta maaf padamu, karena kau juga pernah melakukan hal-hal yang membuatku marah. Dan aku juga tidak ingin berdamai dengan—" kalimat Naruto tidak sempat selesai karena Sasuke tiba-tiba membekap mulutnya dengan salah satu tangannya.
"Baiklah, kalau begitu kamera pemberian okaasan-mu itu akan kusandera sebelum syaratku terpenuhi."
Kedua mata Naruto membelalak, dan ia menepis tangan Sasuke. "Dari mana kau tahu kamera itu pemberian okaasan-ku?"
"Dari Gaara."
Naruto merasa jantungnya tiba-tiba seperti ditusuk oleh ribuan jarum lagi. "Kau... dari mana kau mengenali Gaara...?"
"Dia sahabat lamaku..." Sasuke memulai, setelah menatap Naruto selama lima detik. "Kami bertiga bersahabat; aku, Gaara dan Neji. Karena tidak ingin merusak persahabatan kami, aku menekan dalam-dalam perasaanku pada Gaara. Tapi suatu hari aku tidak bisa lagi menahan perasaanku, dan akhirnya aku menyatakan perasaanku padanya." Sasuke berhenti sejenak. Memori masa lalunya bersama Gaara kembali terputar di pikirannya. "Gaara tidak bisa memilih antara aku atau Neji. Makanya, aku menyerah. Mungkin memang lebih baik kalau kami hanya bersahabat. Tapi saat aku tidak sengaja mendapati mereka berdua berciuman, aku akhirnya tahu kalau Gaara lebih memilih untuk bersama Neji—karena mereka memang telah bersama sejak kecil. Dan saat mendengar hal itu semalam dari mereka berdua, aku tidak menyangka kalau ternyata ada orang (bodoh) yang juga menderita hal yang sama sepertiku."
Naruto terdiam. Ia juga tidak menyangka kalau Sasuke juga pernah mengalami hal yang sama dengannya. Padahal selama ini Naruto selalu tahu tentang apa saja yang menyangkut Gaara, tapi kenapa... Gaara pintar sekali menutupi masa lalunya?
"Aku minta maaf. Dan—baiklah, aku mau berdamai. Karena itu cepat kembalikan kameraku," kata Naruto pelan sambil menatap ke arah lain. Entah kenapa ia sudah tidak ingin mencari masalah lagi dengan pria di sampingnya. Apa karena Sasuke baru saja menceritakan masa lalunya itu, hingga ia seperti merasa mendapat teman senasib?
Tapi sebenarnya, di dasar hatinya, Naruto masih berharap Gaara bisa kembali padanya. Dua setengah tahun menjalin hubungan dengan pria itu, membuatnya tidak bisa melirik siapapun lagi. Bagaimana ia harus melewati hari-harinya tanpa adanya Gaara di sisinya?
"Ini," Sasuke mengulurkan sesuatu ke arah Naruto. Pria manis itu menoleh. "Kemarin malam Gaara memintaku untuk memberikannya padamu."
Naruto menatap benda yang diulurkan Sasuke dengan bola matanya yang semakin kehilangan cahaya. Buku tabungan impiannya bersama Gaara.
"Aku sudah mendengar darinya tentang impian kalian berdua yang akan berkeliling dunia dengan uang yang kalian kumpulkan bersama itu," Sasuke kembali melanjutkan. "Kenapa tidak meminta dari orangtua kalian saja untuk bisa mewujudkan impian kalian itu? Mungkin saja kan orangtua kalian akan mengabulkannya jika nanti kalian telah mendapatkan gelar sarjana dari kampus kalian?"
"Berkeliling dunia dengan uang hasil keringat kami sendiri adalah impian kami berdua. Kalau kami meminta bantuan atau memohon pada orangtua kami, itu berarti bukan impian kami berdua," Mengangkat wajahnya yang menunduk, Naruto menoleh dan menatap Sasuke tepat di kedua bola matanya. "Meski Gaara terpaksa harus berhenti bekerja karena dimarahi otousan-nya, aku tetap melanjutkan agar bisa mewujudkannya impiannya; impian kami. Karena itu, aku tidak butuh bantuan orang tuaku. Itu bukti cintaku pada Gaara*."
Sasuke tertegun. Sesuatu di dalam tubuhnya berdetak dua kali lebih cepat. Semua yang ada di sekiarnya tiba-tiba blur di matanya, dan hanya Naruto yang tampak jelas di matanya.
"Tapi, sekarang—" air mata sudah mengumpul di kedua pelupuk mata Naruto. Entah bagaimana caranya ia bisa menahan mati-matian agar air matanya tidak terjatuh. "—impian kami itu sudah tidak bisa tercapai lagi. Game over. Kau bisa menertawaiku sepuasnya sekarang, Teme—"
Tanpa terduga, Sasuke menarik tubuh di depannya ke dalam pelukan. Naruto membeku. Tanpa sadar ia menahan napas begitu Sasuke memperat pelukannya.
"Bagaimana kalau impian kalian itu, kita ubah menjadi impian kita berdua? Aku juga akan membantu mencari uang dengan hasil keringatku sendiri bersama denganmu. Ini masih belum game over. Kita masih bisa melanjutkannya. Kau setuju?" Sasuke melepas pelukannya dan menatap Naruto dengan senyuman.
Naruto terdiam cukup lama hingga akhirnya ia mengangguk dan tersenyum kecil. "Ya."
Rasa hangat menjalari hati Sasuke. Meski hanya senyum kecil, baru kali ini akhirnya Naruto tersenyum tulus padanya.
.
.
"Oh... Jadi begitu ceritanya kenapa kau bisa ada di pulau Bora-bora ini." Sasuke mengangguk-angguk mengerti begitu Naruto selesai bercerita tentang kakaknya yang sengaja meninggalkannya di pulau ini.
Keduanya terlihat berjalan beriringan di sepanjang pinggiran pantai di area resort. Pengawal Sasuke tampak berjalan lebih dulu di depan sambil menenteng kedua tas Naruto. Pesawat yang akan ke Jepang baru akan muncul di bandara Bora-bora Senin depan, maka dari itu Sasuke bersedia berbagi kamar di bungalow-nya dengan Naruto.
"Oh, ya. Bisa kau mengambil fotoku dengan kameramu itu? Sejak pertama kali datang ke resort ini aku belum pernah mengambil fotoku di tempat indah ini."
Naruto mengangguk. "Baiklah," katanya sambil tersenyum. Lalu ia menyalakan kameranya yang sejak tadi dipegangnya. Sasuke berjalan menuju bibir pantai.
"Kau berbakat jadi fotografer," puji Sasuke begitu melihat hasil fotonya di layar kamera Naruto. "Sekarang giliranmu. Biar aku yang mengambilnya."
"Tapi fotoku sudah lumayan banyak di kamera itu..."
"Tapi hanya foto setengah badan, kan? Bukan seluruh badan?" kedua alis Sasuke terangkat. Naruto mengangguk membenarkan. "Siap?" Sasuke berseru dari tempatnya berdiri. Ia menjauhkan kamera dari wajahnya begitu selesai mengambil foto Naruto.
"Ternyata kau juga berbakat jadi fotografer," puji Naruto begitu ia melihat hasil fotonya di layar kamera. Sasuke tersenyum.
"Naruto," Naruto menoleh dari kameranya. Agak terkejut begitu mendengar Sasuke memanggil namanya, bukan 'Dobe' seperti biasa. "Ayo kita foto berdua. Biar aku yang mengambil foto kita." Sasuke mengulurkan tangannya ke arah Naruto.
Naruto terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya memberikan kameranya pada Sasuke.
"Kau sudah siap?" tanyanya sambil mengalungkan satu lengannya di pundak kiri Naruto. Tangan kanannya yang memegang kamera Naruto terangkat ke atas.
Naruto mengangguk. Dan tepat sebelum jari Sasuke menekan tombol kamera—
"Naruto."
"Ya?" Naruto menoleh.
"Aku mencintaimu..."
—Sasuke mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan bibir Naruto. Bersamaan dengan jarinya yang menekan tombol kamera, hingga benda itu berhasil mengabadikan foto mereka yang berciuman dengan sempurna.
.
.
.
To Be Continued...
KET:
*Quote dari salah satu manga B-Wanted karya Kei Enue. Tapi saya ubah dan menambahkan beberapa kata agar bisa sesuai dengan plot. :)
Jeanne's notes:
Terima kasih bagi kalian yg sudah meninggalkan apresiasi (baik itu review, fave, dan follow) di chapter 1:
Ryuusuke583; heriyandi kurosaki; Sasunaru Ly; kitsunekyuubi60; intan pandini85; SNlop; uzumakinamikazehaki; Kim Seo Ji; akira; ChubbyMinland; istiartika; shin sakura 11; miszshanty05; mifta cinya; Kagaari; deClementine; Hikari No OniHime; hanazawa kay; flowboth; Himawari Wia; zadita uchiha; Cherry blosoom; zukie1157; Kucing Gendut; gici love sasunaru.
Jadi... semua pertanyaan yang kalian tanyakan di kolom review sudah terjawab di chapter 2 ini. Sasuke memang kenal Gaara (dan sempat suka) karena mereka bersahabat.
No bashing purpose untuk Neji dan Gaara. Karena begitulah peran mereka berdua di fic ini. Dengan begitu Sasuke dan Naruto bisa bersatu~~ #nyengir
Fanfiksi ini hanya akan sampai chapter 4 (seperti naskah aslinya).
Oke, sampai jumpa di chapter 3! :)
